Mbah Abdul Djalil Hamid


rumahnahdliyyin.com, Kudus - Mendengar nama KH. Abdul Djalil Hamid, bagi generasi sekarang mungkin kurang familiar. Tetapi bagi kalangan santri dan kiai di Kudus dan Pati, khususnya di Tayu, nama tersebut tidaklah asing. Keilmuan dan kiprah sosialnya tidak sekadar di level nasional, tetapi internasional.

Lahir dari pasangan KH. Abdul Hamid dan Nyai Syamsiyah di Bulumanis Kidul, Margoyoso, Tayu, Pati, Mbah Djalil -demikian sang kiai biasa disebut- merupakan maestro (ahli) falak yang tidak diragukan kemampuannya.

”Mbah Djalil diambil menantu KH. Nur Chudlrin, pendiri TBS. Beliau juga merupakan salah satu guru di madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) generasi pertama,” terang KH. Choirozyad.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Menurut KH. Choirozyad, Mbah Djalil mengajar di TBS antara lain semasa dengan KH. Arwani Amin dan KH. Turaichan Adjhuri. KH. Turaichan Adjhuri tak lain adalah ayahanda dari KH. Choirozyad, salah satu sesepuh madrasah TBS saat ini.

”Kalau secara usia, Mbah Djalil lebih senior dari KH. Turaichan Adjhuri. Sedang untuk bidang ilmu falak, kepakaran Mbah Djalil sangat diakui,” terang KH. Choirozyad menambahkan.

Pendidikan dan Kiprahnya

Perjalanan intelektual KH. Abdul Djalil Hamid, cukup berliku. Dia belajar di berbagai pesantren di tanah air dan tidak sebentar waktu yang dihabiskannya untuk belajar di Makkah.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Dimulai dengan pendidikan yang diberikan langsung oleh sang ayah hingga 1919, selanjutnya Abdul Djalil belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, asuhan KH. Idris (1919–1920), lalu meneruskan belajar lagi ke Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dimyati (1920-1921), dan kemudian di Pondok Pesantren Kasingan, Rembang, asuhan KH. Kholil Harun (1921-1924).

Selanjutnya, pada 1924-1926, Abdul Djalil muda mukim dan belajar di Makkah Al-Mukarramah. Setelah itu, lalu melanjutkan belajar lagi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dibawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ari (1926-1927), dan kemudian kembali lagi ke Makkah pada 1927-1930.

Tak berselang lama dari pengembaraan intelektualnya yang cukup panjang, ia kemudian mengajar di Madrasah TBS. Di Madrasah TBS, KH. Abdul Djalil Hamid tercatat menjadi guru kepala pada 1932-1935.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Selain di TBS, berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain menjadi anggota Raad Agama Islam di Kudus (1934-1945), Ketua Pengadilan Agama Kudus (1950-an), Pembantu Khusus Wakil Perdana Menteri RI (1951-1958), hingga anggota DPR/MPR mewakili alim ulama di Fraksi NU (1958-1967).

Untuk dibidang sosial, KH. Abdul Djalil Hamid diantaranya tercatat ikut mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah (1927-1930), anggota pembina PBNU (1930 -1974), Ketua NU Cabang Kudus (1932-1934), Rois Syuriyah NU Jawa Tengah (1967- 1974), Katib Syuriyah PBNU (1954-1967), Ketua Tim Penentu Arah Qiblat Masjid Baiturrahman Semarang (1968), Penyusun Almanak NU (1930-1974) dan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sekaligus merangkap Lajnah Falakiyah Departemen Agama RI (1969-1973).

Hj. Roihanah, menantu KH. Abdul Djalil Hamid yang ditemui di kediamannya disamping Masjid Alhamidiyyah, Mlati, menceritakan bahwa dalam perjalanannya, ayah mertuanya juga sempat di penjara.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Berdasarkan data yang disimpan pihak keluarga, KH. Abdul Djalil Hamid yang menjadi Komandan Gerilya melawan Belanda di Gunung Muria (1948-1949) itu ditahan Belanda di penjara Kudus pada 1949. Data itu juga menyebutkan, Mbah Djalil pernah ditahan di era pemerintahan Orde Lama di Salatiga pada 1952-1954.

Gemar Menulis

Perhatian KH. Abdul Djalil Hamid terhadap dunia keilmuan yang demikian tinggi, khususnya ilmu-ilmu agama, ditengah kesibukannya yang luar biasa, bisa dilihat dari berbagai karya (kitab) yang ditulisnya.

Berbagai karya Mbah Djalil, diantaranya yaitu Fathur-Rouf Al-Mannan, Rubu’ Mujayyab (Quadrant), Jadwal Rubu’, Dalil Al-Minhaj, Tawajjuh, Tuhfah Asy-Asyfiya’, Ahkam Al-Fuqoha’ dan Takkalam bil-Lughoh Al-Arobiyyah.

‘’Keseharian Bapak, dulu sukanya membaca kitab, membaca buku dan menulis. Dulu juga sering mengajar ngaji di masjid ini (Masjid Al-Hamidiyah–red.). Dulu, masjidnya masih sangat sederhana,’’ terang Hj. Roihanah yang didampingi putrinya, Nur Uswati, itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

KH. Abdul Djalil Hamid meninggal dunia di Makkah Al-Mukarramah pada 16 Dzulqo’dah 1394 H. atau bertepatan dengan 30 November 1974.

”Yang membantu mengurusi pemakaman Mbah Djalil di Makkah waktu itu adalah Prof. Dr. KH. Maghfur Usman,” lanjutnya menambahkan.

Prof. Maghfur Usman merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Cepu, Blora, yang pernah belajar di Madrasah TBS Kudus dan tercatat sebagai Mustasyar PBNU periode 2010-2015.

‘’Dulu, kalau Prof. Maghfur Usman berkesempatan hadir saat haul Mbah Djalil, beliau yang selalu membaca riwayat hidup Mbah Djalil,’’ tutur Hj. Roihanah.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

KH. Abdul Djalil Hamid merupakan keturunan ke-8 dari KH. Mutamakkin Kajen, Pati. Ia menikah dengan istri pertama Siti Siryati Binti KH. Adnan Bulumanis Kidul dan dikaruniai seorang putri bernama Roudloh.

Sepeninggal istri pertama, Mbah Djalil menikah dengan Hj. Aminah Noor Binti KH. Noor Khudlrin, Baletengahan. Pernikahan dengan Hj. Aminah Noor ini, Mbah Djalil dikaruniai seorang putra, yaitu H. Hamdan Abdul Djalil.[]
(adb/ros)
Read More

Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI


rumahnahdliyyin.com, Sorong - Bertempat di kompleks Pondok Pesantren Minhajuth Tholibin, Malawele, Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, para alumni Pondok Pesantren se-Indonesia yang mukim di Kabupaten Sorong mengadakan ngopi bareng pada Sabtu malam, 7 April 2018. Kegiatan yang penyelenggaraannya secara spontan itu ternyata mendapat respon positif dari para alumni dengan bukti kehadiran mereka pada malam itu kendati udara terasa dingin karena selepas hujan.

Diantara mereka yang hadir ada yang alumnus dari Pondok Pesantren yang ada di Kediri, Tulungagung, Banyuwangi, Blitar, Magetan, Purwodadi, Rembang dan lainnya. Tidak lebih dari 25 orang dari berbagai Pondok Pesantren yang kesemuanya berasal dari Jawa itu membahas agenda yang memang sudah ditetapkan sebelumnya. Yakni Usaha membumikan Pondok Pesantren di Kabupaten Sorong.

"Kita berkumpul di sini itu untuk membahas bagaimana supaya apa yang telah kita peroleh selama di Pondok Pesantren dulu bisa tetap dilestarikan di sini. Kita semua memang beda-beda asal Pondoknya. Tapi setidaknya kita punya kesamaan," jelas ustadz M. Munawwir Ghozali yang merupakan inisiator kegiatan ini dalam sambutannya.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Papua Butuh Pembina Agama

Lebih lanjut, ustadz Ali, sapaan akrab ustadz M. Munawwir Ghozali itu, dengan adanya forum seperti ini, diharapkan bisa menjadi wadah untuk silaturrahmi dan ukhuwwah. Terlebih, para alumnus Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Sorong ini sebagian besar punya tanggung jawab Pondok Pesantren, Madrasah Diniyyah maupun Taman Pendidikan Al-Qur'an di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Karena itu, sangat bagus sekali apabila nantinya bisa saling bahu-membahu demi terwujudnya Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh para guru kita sewaktu kita semua masih di Pondok Pesantren jaman dulu.

Selain ustadz Ali yang alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri itu, kiai Ahmad Misri yang alumnus Pondok Pesantren Raudlatut Tholabah, Banyuwangi, juga mengharapkan hal yang kurang lebih sama. Menurutnya, bagaimanapun juga, peran alumni santri di Kabupaten Sorong ini belum terlihat signifikan. Karenanya, dengan adanya forum seperti ini, semoga tujuan mulia dan luhur ini bisa berjalan lancar dan berkah.

"Ini merupakan gagasan yang sangat bagus. Semoga diberi kelancaran dan keberkahan," tutur kiai Ahmad Misri dalam sambutannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Acara ngopi bareng yang selesai hingga menjelang dini hari ini, akhirnya disepakati bahwa forum ini diberi nama Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia (HAPPI). Untuk kepengurusan, ustadz M. Munawwir Ghozali diamanahi sebagai ketua, ustadz M. Ihsanuddin sebagai sekretaris dan ustadz Surahman sebagai bendahara.

Sedangkan untuk program kerja, setelah melalui diskusi yang lumayan panjang, ditetapkanlah tiga program kerja, yaitu mengaji tiap hari Jum'at Legi sekaligus istighotsah atau mujahadah, bahtsul masail, dan pengabdian kepada masyarakat.[]
(Redaksi RN)
Read More

Ansor-Banser Temanggung Deklarasikan Posko Sahabat Pemilu


rumahnahdliyyin.com, Temanggung - Dua ribuan kader Ansor-Banser Temanggung, hari ini tumpah ruah di lapangan Joho, Temanggung. Apel Kebangsaan dalam rangka memperingati Harlah Ansor yang ke-84 itu mengambil tajuk "Mengawal Temanggung yang Damai dan Toleran".

Banyak tokoh lokal maupun nasional yang hadir dalam acara ini. Diantaranya yaitu H. Alfa Isnaeni (Kasatkornas), Mujiburohman (Ketua PP. Ansor), KH. Yacub Mubarok (Rois Syuriah PCNU), KH Maftuch Anyudi, KH. Haedar Muhaiminan G., KH. Isa Bahri, Jajaran PCNU Temanggung, FKPD dan tokoh Temanggung lainnya.

Baca Juga: Ansor Rembang Launching Angkringan di Tiap Kecamatan

Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser, H. Alfa Isnaeni, dalam kesempatan ini berpesan supaya jajarannya senantiasa bisa satu komando dan taat kepada titah pimpinan Ansor maupun NU.

“Ansor Banser harus tetap dalam satu komando dan selalu taat kepada titah pimpinan. Banser harus taat dan patuh kepada Pimpinan Ansor,” kata Alfa.

Dihadapan dua ribu lebih peserta Apel itu, ia kembali mengingatkan bahwa peran Banser adalah sebagai benteng NKRI dan Ulama.

“Tugas sahabat adalah mendakwah dan melindungi Ahlusunnah wal-Jamaah An-Nahdliyyah. Bila masih saja ada yang membid’ahkan amaliyah kita, kita tidak usah banyak memakai dalil untuk menghadapi orang tersebut. Tangkap dan hadapkan dia kepada kiai kita biar dia berdebat dengan kiai kita,” kata Alfa.

Baca Juga: Pagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

Pada kesempatan itu, Ansor Temanggung juga mendeklarasikan "Posko Sahabat Pemilu". Selain difungsikan sebagai media komunikasi dan koordinasi terkait Pemilu tahun 2018, Posko ini juga bisa dimanfaatkan sebagai media untuk menerima keluhan dan aduan. Misalnya aduan adanya ujaran kebencian, politik uang atau kecurangan lainnya. Dari aduan tersebut, nantinya akan ditindak lanjuti sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Tak hanya itu, Posko ini juga akan mengambil peran untuk pendampingan sebagaimana mestinya.

“Bila ada masyarakat yang merasa kurang mendapatkan haknya sebagai warga dalam masalah Pemilu, silahkan bisa hubungi Posko kami,” terang Sukron.

Sebagaimana diketahui bersama, Pemilu adalah agenda rutin dalam rangka untuk memilih pimpinan dalam proses demokrasi di negara kita. Karena itu, pemilu harus berjalan lancar dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan pada proses pemilu tersebut.

“Posko ini sengaja dibentuk untuk mendukung suksesnya Pemilu 2018,” tutup Sukron.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Untuk mempertajam peran Posko tersebut, Ansor Temanggung mengeluarkan tiga poin komitmen, yaitu:
  1. Mendukung dan siap turut serta dalam suksesnya Pemilu 2018.
  2. Menolak dengan tegas segala bentuk kecurangan dan Politik Uang serta mengecam terjadinya ujaran kebencian, diskriminasi dan sara.
  3. Siap siaga membantu TNI/Polri menjaga kondisi masyarakat yang aman, damai dan toleran.[]
(Tim Cyber Ansor Temanggung).
Read More

Kapolda Papua Barat Berencana Bangun Gereja-Masjid Bersebelahan


rumahnahdliyyin.com, Manokwari - Kapolda Papua Barat, Brigjen. Pol. Rudolf Alberth Rodja, akan membangun masjid, gereja dan pura di Mapolda.

“Gereja dan masjid dibangun bersebelahan. Sedangkan pura di kaki bukit,” ujar Kapolda yang didampingi sejumlah PJU dalam kunjungannya ke Kantor Klasis, Manokwari, Kamis kemarin, 5 April 2018, seperti yang beritakan oleh papuakini.co.

Baca Juga: Taat Pada Hukum Jadi Titik Cerah Nasib Menara Masjid Al-Aqsha Sentani

Kapolda juga mengatakan bahwa pembangunan gereja dan masjid yang bersebelahan itu tidak akan menimbulkan gesekan. Sebaliknya, menurutnya, hal tersebut justru akan menunjukkan keharmonisan. Sebab, kamtibmas di Manokwari saat ini cukuplah aman.

"Kita akan tunjukkan bahwa ini tidak akan ada masalah,” tambah kemudian.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Selain itu, Kapolda juga menyampaikan terimakasih atas kerjasama yang sudah dilakukan pihak gereja bersama Polri.

“Saya akan sering-sering ke sini. Mari kita siarkan hal-hal yang baik kepada masyarakat, sehingga apa yang kita cita-citakan bisa terwujud untuk keamanan masyarakat,” tandasnya.[]
(Redaksi RN)
Read More

Fatayat Merauke Bumikan Sholawat Lewat Festival


rumahnahdliyyin.comMerauke - Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Merauke, Minggu lalu, 1 April 2018, menggelar Festival Diba’iyyah antar remaja masjid dan Festival Al-Barzanji antar majelis taklim yang dipusatkan di gedung Kanol Sai.

Kegiatan dalam rangka memperingati Harlah Fatayat NU ke-68 itu bertemakan ”Meningkatkan Ukhuwwah Islamiyyah Dalam Mewujudkan Perempuan Merauke yang Berbudaya dan Berkualitas." Selain untuk memperkuat silaturrahmi, tujuan festival ini adalah memasyarakatkan sholawat, khususnya untuk warga Nahdliyyin yang ada di Kabupaten Merauke.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Para remaja masjid maupun pimpinan ranting yang ada distrik-distrik sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Pesertanya pun cukup banyak dan berasal dari beberapa kawasan. Seperti dari Kurik, Tanah Miring, Semangga dan Distrik Merauke.

“Khusus untuk Diba’iyyah, pesertanya dari remaja masjid dan pimpinan ranting yang ada di distrik-distrik dengan jumlah 17 peserta. Sedangkan untuk Al-Barzanji, dari majelis taklim dengan jumlah 31 peserta,” terang Aminatun Rumaday, ketua panitia seperti yang dilanssir oleh pasificpos.com.

Festival seperti ini akan dijadwalkan rutin setiap peringatan Harlah di tahun-tahun berikutnya. Tujuannya yaitu untuk semakin menumbuhkan sholawat dilingkup warga Nahdliyyin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Jumlah peserta pada tahun ini meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk Diba’iyyah saja, tahun lalu hanya ada 6 peserta. Namun sekarang ini meningkat menjadi 17 peserta. Untuk Al-Barjanji yang tahun lalu hanya 29 peserta, tahun ini bertambah sedikit jadi 31 peserta.

Para pemenang festival ini mendapatkan hadiah berupa piala bergilir, uang pembinaan dan souvenir. Selain kedua festival ini, pihak panitia juga telah menggelar lomba Mars Fatayat pada Minggu lalu dengan jumlah yang juga semakin meningkat.

“Jika tahun lalu hanya ada 7 peserta, maka tahun ini meningkat menjadi 14 peserta. Puncak Harlah sendiri akan berlangsung pada 28 April mendatang yang direncanakan bertempat di Kampung Wasur,” pungkas Aminatun.[]

(Redaksi RN)
Read More

Azyumardi Azra: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Dalam lanjutan sidang gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Kamis, 5 April 2018, kali ini kuasa hukum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) menghadirkan Azyumardi Azra sebagai saksi ahli terkait pembubaran organisasi tersebut.

Dalam kesaksiannya, mantan rektor Universitas Islam Negeri Jakarta itu menyatakan bahwa pembubaran HTI merupakan reaksi pemerintah terhadap ancaman dari organisasi yang ingin menerapkan ajaran Islam di Indonesia. Dengan konsep khilafah, HTI berbahaya bagi eksistensi Pancasila dan kesatuan republik ini.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Dengan mengutip penemuan sejumlah penelitian pusat kajian masyarakat, Azyumardi mengatakan bahwa konsep khilafah HTI sebagai entitas politik untuk menggantikan NKRI, Pancasila dan UUD 1945, bukanlah berorientasi pada ajaran agama.

Menurut Azyumardi, pada masa pemerintahan Soeharto, HTI tidak menunjukkan dirinya secara jelas. Setelah Soeharto pun, pemerintah tidak menganggap HTI sebagai ancaman serius dan membiarkannya bergerak bebas. Baru di era Joko Widodo inilah pemerintah mengambil langkah drastis dalam menghadapi HTI. Meskipun pemerintah tidak secara langsung membuat aturan pembubaran HTI, namun pemerintah membuat aturan untuk pembubaran ormas yang dianggap bertindak tidak sesuai Pancasila dan UUD 1945.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Azyumardi juga menambahkan bahwa dengan membubarkan HTI tidak berarti pemikiran organisasi tersebut lantas mati. Sebab, kelompok yang ingin mendirikan negara Islam akan selalu ada.

"Itu akan selalu ada karena ini bagian dari realitas yang dihadapi pemikiran Islam," ujarnya seperti diberitakan oleh tempo.co

Kendati demikian, Azyumardi juga menyatakan bahwa peluang terbentuknya Negara Islam di Indonesia ini tidak mungkin terwujud. Sebab, mayoritas umat Islam di Indonesia berkomitmen kepada NKRI dan Pancasila. Contohnya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang merupakan perwakilan kelompok Islam terbesar di Indonesia ini sudah dengan tegas menyatakan mendukung langkah pemerintah.

Selain itu, Azyumardi juga mengingatkan tentang sejarah penggodokan Pancasila pada masa kemerdekaan dulu serta dasar negara ini yang notabene dibuat berdasarkan musyawarah para pemimpin dan pemuka agama Islam waktu itu.[]
(Redaksi RN)
Read More

Habib Jindan dan Kemenag; Sinergi Ulama dan Umaro


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Habib Jindan bin Novel, Kamis, 5 April 2018, bertemu di Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Keduanya mendiskusikan pentingnya penguatan Islam wasathiyah atau moderat di Indonesia.

Dalam diskusi tersebut, keduanya merencanakan kerjasama dalam pembinaan para da'i dan ustadz agar turut mengembangkan Islam Moderat.

Menurut Habib Jindan, ada empat ribu-an da'i dan ustadz yang mengadakan pertemuan berkala yang membahas perkembangan dakwah dan tugas-tugas ke depan. Menurut Habib Jindan, para ulama, da’i, ustadz, harus kembali kepada fungsi semestinya.

Baca Juga: Menag: Islam Damai Tanggung Jawab Indonesia

“Dan kita ingin bekerjasama dengan Kemenag untuk menjalankan misi ini. Sehingga, kita para ulama, dapat bekerja sama dengan umaro di wilayah masing-masing,” tutur Habib Jindan seperti yang diberitakan oleh kemenag.go.id

Menag Lukman Hakim pun menyambut baik dan mendukung ide Habib Jindan itu.

“Cocok sekali dengan apa yang dikembangkan oleh Kementerian Agama. Prinsipnya, kita di Kementerian Agama sangat mendukung,” ungkap Menag.

Baca Juga: Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam

Senada dengan hal tersebut, Menag juga menjelaskan bahwa Kementerian Agama juga tengah mengembangkan Ma’had Aly. Lembaga pendidikan keagamaan tinggi Islam ini mengembangkan program studi khusus keagamaan. Misalnya, Tafsir, Hadits dan lainnya. Dari Ma'had Aly ini, diharapkan lahirlah para ulama dan kiai yang menguasai secara mendalam khazanah keislaman yang spesifik.

"(jika tidak demikian) kita khawatir, ke depan, kita akan kehabisan ulama seperti antum,” kata Menag kepada Habib Jindan.[]
(Redaksi RN)
Read More

Ulama Otoriter dan Ulama Otoritatif


rumahnahdliyyin.com - Kisah ulama dan politik, bukan hal baru. Dalam sejarah Islam, para penguasa kerap menggunakan ulama sebagai stempel dalam kebijakan-kebijakan politiknya. Bahkan, madzhab-madzhab yang eksis sampai sekarang, ditengarai merupakan hasil pergulatan ulama dengan politik pada zamannya.

Imam Al-Ghazali mempunyai pandangan yang menarik tentang relasi antara agama dan kekuasaan. Agama dan kekuasaan adalah ibarat saudara kembar. Agama adalah asal-muasal, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya.

Baca Juga: Inflasi Ulama

Pandangan Al-Ghazali yang populer ini, barangkali menjadi dalil kenapa ulama kepincut dengan politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, ada sebagian ulama yang hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan malang-melintang dalam dunia politik. Ada yang menjadi “juru doa” dalam ajang perhelatan politik. Tapi, ada juga yang mempunyai tugas ganda. Disatu sisi sebagai ulama, tapi di sisi lain juga sebagai politisi.

Kenapa seorang ulama bisa tertarik pada politik? Bukankah menjadi ulama sebagai pewaris para Nabi adalah kedudukan yang mulia? Kenapa harus memainkan peran ganda sebagai ulama sekaligus politisi?

Baca Juga: Kriminalisasi Ulama Dimasa Khilafah

Belakangan, fenomena ulama menjadi politisi seolah menjadi sebuah pemandangan yang lumrah. Bahkan, ada kecenderungan sangat kuat dalam alam bawah sadar dalam sistem demokrasi yang melibatkan langsung warga, ulama menggunakan sebagai momentum untuk terlibat aktif dalam politik praktis. Biasanya, klaim dan dalih yang digunakan adalah membela agama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali diatas bahwa agama dan kekuasaan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan.

Pada poin ini, sebenarnya tidak ada yang aneh dan perlu dikritisi. Karena ulama terlibat aktif dalam politik bertujuan untuk membela agama. Siapa pun berhak untuk membela agama. Namun pertanyaannya, apa makna membela agama? Apakah membela agama harus dengan merebut kekuasaan? Apakah membela agama cukup dengan menegakkan nilai-nilai agama, seperti keadilan, kedamaian, musyawarah dan keragaman?

Baca Juga: Politiknya Kiai

Pada titik ini, kita harus kritis terhadap terma membela agama. Belajar dari pengalaman Khowarij dimasa lalu, mereka kerap menggunakan klaim “kedaulatan Tuhan” . Mereka melaksanakan misinya seolah-olah membela Tuhan. Lalu Imam Ali krw. mengkritik Khowarij dengan lugas bahwa kata-kata membela Tuhan itu seolah-olah sebuah frase kebenaran, tapi hakikatnya mempunyai makna kebatilan. Pasalnya, klaim “kedaulatan Tuhan” digunakan sebagai dalih untuk meraih kekuasaan dengan melegalkan kekerasan.

Maka dari itu, Gus Dur al-maghfurlah mempunyai kata-kata pamungkas, “Tuhan tidak perlu dibela.” Tuhan Maha Agung, karenanya tak perlu dibela. Yang harus dibela adalah mereka yang terpinggirkan dan ditindas. Mereka yang lemah karena membutuhkan uluran tangan untuk bangkit dan hidup layak.

Baca Juga: Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

Belakangan ini, bertaburan klaim membela agama dan membela ulama. Kedengarannya terlihat mulia dan luhur. Tapi dalam realitasnya, penuh hiruk-pikuk. Kata-kata itu ibarat mantra. Tapi politik tidak mereda, bahkan makin membara. Agama kehilangan auranya sebagai instrumen yang membawa pencerahan dan kesejukan. Moderasi Islam yang menjadi ciri khas Indonesia pun kian tenggelam.

Pada titik ini, keterlibatan ulama dalam pusaran politik harus mendapatkan perhatian. Bahkan, diperlukan kritik serius dalam rangka mengembalikan ulama kepada khiththohnya dan menjadikan agama sebagai sumber inspirasi, bukan disintegrasi.

Baca Juga: 

Sikap kritis Imam Ali krw. kepada Khowarij, patut digaungkan kembali. Klaim membela agama dan membela ulama sebaiknya tidak menjadi jargon politik yang hampa makna. Membela agama dan ulama, pada hakikatnya adalah meneguhkan kembali esensi agama. Dan ulama sebagai sumber pencerahan, pembebasan dan persatuan.

Maka, ulama sejatinya tidak terlibat dalam politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ulama harus menjadi teladan dan pewaris para Nabi yang membangun harmoni diantara umat, bukan justru sebaliknya mendorong disharmoni.

Baca Juga: Ciri Khowarij

Pada ranah ini, Adonis dalam bukunya, Ats-Tsabit wal-Mutahawwil, menyampaikan pandangan kritis terhadap integrasi agama dan kekuasaan sebagaimana diungkapkan Imam Al-Ghazali diatas. Islam mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan; sastra, sains dan peradaban lainnya, karena para ulama terlalu jauh masuk dalam pusaran politik. Intinya, politik kekuasaan telah memporak-porandakan peradaban Islam yang pernah jaya.

Dalam politik Islam kontemporer, kelompok-kelompok Islamis atau mereka yang mempunyai agenda Negara Islam, kerap menggunakan ulama sebagai tameng politik mereka. Bahkan, mereka dengan mudah mentransformasi seseorang yang sebenarnya bukan ulama, tetapi didaulat menjadi ulama untuk memenuhi ambisi politik. Lihat Abu Bakar Al-Baghdadi yang didaulat sebagai khalifah Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang hakikatnya bukan ulama, tetapi didaulat menjadi ulama. Pada akhirnya, kita mempunyai begitu banyak psedo-ulama yang dapat mendegradasi keluhuran martabat ulama.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Dalam hal ini, Khaled Abiou El-Fadl, dalam And God Knows the Soldiers: The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourse (2001) menyampaikan solusi menarik perihal pentingnya memahami otoritas keulamaan. Ia membagi dua model ulama: ulama otoriter dan ulama otoritatif. Ulama otoriter akan selalu menganggap pandangannya sebagai kebenaran absolut. Padahal, pandangannya menerabas prinsip-prinsip yang biasa dipedomani dalam tradisi hukum Islam. Bukan hanya itu, ulama otoriter akan mengindahkan moralitas yang menjadi fundamen dari setiap pandangan keagamaan.

Sebaliknya, ulama otoritatif akan menggunakan pandangan yang mencerminkan objektivitas, rasionalitas dan mengedepankan kemaslahatan umum. Ulama otoritatif akan sangat hati-hati dalam mengeluarkan pandangannya. Terutama pandangan keagamaan yang mempunyai dampak yang lebih besar kepada publik.

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Dalam suasana hiruk-pikuk politik, kita melihat betapa pandangan keagamaan yang mengemuka lebih terlihat sebagai pandangan yang otoriter daripada pandangan yang otoritatif. Hal ini menjadi masalah serius yang dapat menggerus martabat ulama dan kompetensi keulamaan.

Semestinya, dalam kondisi seperti ini, kita memerlukan ulama yang bisa menjaga jarak dengan kepentingan politik praktis sembari mengedepankan pandangan-pandangan keagamaan yang mencerahkan dan membebaskan.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dalam konteks kebangsaan, pandangan keulamaan yang otoritatif amat diperlukan. Terutama pandangan yang dapat memperkuat solidaritas kebangsaan. Begitu pula dalam konteks kemanusiaan, pandangan keulamaan yang otoritatif akan mendorong tegaknya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat meningkatkan toleransi dan harmoni antar sesama.

Maka dari itu, masuknya ulama dalam pusaran politik mesti terus dikritisi agar ulama menjalankan fungsinya sebagai pewaris para Nabi, mewujudkan kedamaian, dan memperkuat keindonesiaan. Kita beruntung, Indonesia masih punya ulama-ulama yang menjaga jarak dengan politik dan terus menjadi lentera bagi bangsa. KH. Ahmad Mustofa Bisri dan Buya Syafi'i Ma'arif merupakan ulama-ulama yang terus menjadi lentera bagi bangsa ini.[]



* Oleh: Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society, Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia.

** Pernah dimuat di geotimes.co.id dengan judul Ulama Dalam Pusaran Politik

*** Editor: Redaksi RN
Read More

Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas


rumahnahdliyyin.com, Rembang – Lembaga Bimbingan Belajar untuk para santri yang ingin melanjutkan studi pada jenjang pendidikan tinggi, Santriversitas, diluncurkan secara Nasional pada Selasa siang kemarin, 3 April 2018, di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Yayasan MataAir Indonesia dan Gerakan Pemuda Ansor pun tampak mendukung acara Launching Nasional Santriversitas tahun 2018 itu.

Terpantau hadir dalam acara tersebut yaitu Ketua Umum Santriversitas (Chumaedi), Ketua Yayasan MataAir Indonesia (Achmad Solechan) dan Koordinator Wilayah Jawa Tengah Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (Mujiburrachman).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selain itu, tampak hadir pula para tamu undangan. Diantaranya yaitu Bupati Rembang (Abdul Hafidz), Kapolres Rembang (AKBP. Pungky Bhuana Santoso) dan kiai Chatib Mabrur (pengasuh Pondok Pesantren Al-Abidin, Pondok Pesantren yang menjadi tempat pelaksanaan Santriversitas di Rembang).

Launching ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan MataAir Indonesia yang kemudian diserahkannya kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri yang selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan MataAir Indonesia.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Tahun ini, Santriversitas hadir di 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang meliputi Rembang, Demak, Cirebon, Sleman, Bantul, Magelang, Depok, Serang, Ambon, Jakarta Barat, Blora, Semarang dan Malang.

“Santriversitas ini untuk mengantarkan santri supaya bisa mendapatkan hak belajar ke jenjang yang lebih tinggi, universitas,” kata Ketua Umum Santriversitas, Chumaedi, sebagaimana dilansir pada laman radio lokal di Rembang, mataairradio.com

Di Rembang sendiri, Santriversitas akan digelar mulai 15 April hingga 5 Mei mendatang.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab disapa dengan Gus Mus, ketika memberikan taushiyyah selepas acara potong tumpeng, meminta kepada para pemangku di Santriversitas agar menanamkan niat secara benar.

“Saya minta pertama kali, yang harus Anda tanamkan adalah niat. Niat ini yang akan membimbing kita,” pesan Gus Mus.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Gus Mus, dahulu, santri zaman old, ketika berangkat ke pesantren itu niatnya sederhana, yakni menghilangkan kebodohan. Padahal, kebodohan itu tidak bisa hilang. Karena itu, harapannya, santri di Santriversitas meniatkan yang sama.

“Semakin pandai, Anda merasa bodoh. Anda boleh tidak sekolah, tapi tidak boleh berhenti belajar. Banyak yang berhenti belajar karena merasa pandai,” tutur Gus Mus kemudian.

Baca Juga: Gus Mus: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Gus Mus juga mengingatkan bahwa apabila yang diniatkan hanya duniawi, maka mungkin dunia didapat. Tetapi urusan akhirat, bisa keteteran.

“Orang Islam sekarang, karena niatnya salah, kalau bicara soal masa depan, selalu berhenti pada usia tua. Padahal menurut Islam, masa depan itu adalah hari akhir,” tutur Gus Mus kemudian.[]
(Redaksi RN)
Read More

Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan


rumahnahdliyyin.com - Syaikh Muhammad Mahfudz At-Turmusy adalah salah satu kejora semesta. Cahaya ilmunya sedemikian benderang nan abadi sepanjang zaman. Akhlaqnya serupa akhlaq Rasulullah Muhammad SAW., kekasihnya. Tak heran jika puja dan puji terus mengalir dari orang-orang yang mengetahui peran besarnya dalam mengentaskan umat dari lembah kebodohan dan menuntun pada keelokan akhlaq Rasulullah Muhammad SAW.

Mungkin tidak ada yang mengira jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz, yang digelari sebagai al-‘alim, al-faqih, al-ushuli, al-muhaddits, al-muqri’, adalah sosok yang lahir di Indonesia. Terlebih, orang mungkin tidak menduga jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz lahir di sebuah daerah yang cukup terpencil.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Hadlrotusy Syaikh Mahfudz lahir pada tanggal 12 Jumadal Ula 1285 H. di desa Tremas, Pacitan. Pada masa kelahirannya, Pacitan masih termasuk dalam wilayah Solo. Ketika dilahirkan, Hadlrotusy Syaikh Abdullah, ayahnya, sedang berada di Makkah Al-Mukarromah.

Pada usia enam tahun, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz diajak sang ayah untuk ke Makkah Al-Mukarromah. Di tempat kelahiran Rasulullah SAW., Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mendapatkan ragam pelajaran dari para cerdek cendekia (ulama) Hijaz dan Nusantara yang berada di Makkah. Hadlrotusy Syaikh Abdullah, sang ayah, pun merupakan ulama’ yang cukup disegani di Nusantara dan Hijaz.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Beberapa tahun berada di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Abdullah dan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun kembali lagi ke Nusantara. Di tanah kelahirannya, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz mengambil sanad keilmuan sang kakek yang merupakan salah satu tokoh besar tanah Jawa, yakni Hadlrotusy Syaikh Abdul Manan. Kecerdasan, kemuliaan pekerti, keseriusan, ketelatenan dan keuletan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz membuat sang kakek demikian menyayanginya.

Setelah sekian tahun menyerap ilmu sang kakek dan sang ayah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz tergerak untuk mengembara dan berguru pada tokoh-tokoh istimewa di Nusantara.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

“Ananda bisa berguru kepada kiai Sholeh di Darat, Semarang. Kiai Sholeh masih sahabatku semasih belajar di tanah Hijaz,” jawab Hadlrotusy Syaikh Abdullah ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mengutarakan minatnya untuk mengembara sekaligus meminta petunjuk kepada siapa dia berguru.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Hadlrotusy Syaikh Abdullah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun bersama adik-adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi, berangkat ke Semarang.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sesampai di Semarang, tiga kejora Tremas itu segera menemui Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat. Hati ulama agung Semarang itu demikian berbunga-bunga mengetahui yang datang adalah putra-putra dari sahabatnya. Dengan penuh cinta dan kasih, ketiganya di terima oleh Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat.

Kepada Hadlrotusy Syaikh Sholeh bin Umar ini, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz belajar berbagai macam kitab dan mengkhatamkan beragam kitab. Ketekunan dan kecerdasan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz cukup memikat hati sang guru. Dalam pandangan Hadlrotusy Syaikh Sholeh, ada beragam keistimewaan dan pancaran keelokan yang membuatnya demikian terpukau. Selama di Darat, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz memang dikenal sebagai santri yang visioner, inspiratif dan berbudi mulia.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Mengamati perkembangan sang santri yang demikian mengagumkan, terbersit keinginan dalam hati Hadlrotusy Syaikh Sholeh untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih, dimasa lalu, antara Hadlrotusy Syaikh Sholeh dan Hadlrotusy Syaikh Abdullah sempat terbersit keinginan untuk berbesanan. Namun, entah mengapa niat itu tak segera diutarakan dan dinyatakan. Mungkin, Hadlrotusy Syaikh Sholeh menunggu saat yang tepat. Terlebih, saat itu Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sedang semangat belajar. Meski demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh demikian kentara dalam mencurahkan perhatian dan cinta kasih kepada Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pamit boyong dari Darat, Semarang, cucuran air mata Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak dapat lagi terbendung. Ada rasa kehilangan yang menusuk-nusuk qolbunya. Dengan penuh cinta dan pengharapan, dia peluk santri kinasih sekaligus santri yang digadang-gadang menjadi menantunya itu.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Sekembali dari Darat, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz kembali menyerap ilmu keluarganya. Setelah sekian lama di Tremas, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz termotivasi untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya. Tanah Hijaz adalah impiannya. Beruntung impiannya ini mendapatkan dukungan dari keluarga.

Berangkatlah Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ke Makkah Al-Mukarromah dengan iringan derai air mata keluarga. Palu godam pun seketika menghantam palung jiwa Hadlrotusy Syaikh Sholeh ketika mendengar santri kinasihnya itu berangkat ke Makkah.

“Aku semakin jauh dari calon menantuku,” bisik benak Hadlrotusy Syaikh Sholeh.

Baca Juga: Al-Biruni, Antropolog Pertama?

Pun demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak kehilangan cara untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian dan keinginan menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantu. Berbagai macam hadiah dititipkan untuk Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ketika ada orang Jawa yang melaksanakan ibadah haji atau pergi ke tanah Hijaz.

Hadiah demi hadiah yang terus diterima Hadlrotusy Syaikh Mahfudz dari sang guru, membuatnya berfikir, “Apa maksud kiai Sholeh selalu mengirimkan hadiah kepadaku ?” Sebuah kewajaran jika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz bertanya-tanya dengan curahan hadiah dari sang guru.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Namun, rasa penasaran itu tak berlangsung lama. Ghirohnya dalam belajar membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz larut dalam samudra ilmu. Hadiah demi hadiah yang dikirim Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun lebih banyak dinikmati oleh kedua adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi.

Menyadari pancingan demi pancingan tak mendapatkan respon dari Hadlrotusy Syaikh Mahfudz, mau tidak mau Hadlrotusy Syaikh Sholeh tergerak untuk mengutarakan maksudnya secara langsung. Ditulislah surat “sakti” yang berisi keinginannya menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantunya. Surat dititipkan kepada santri Hadlrotusy Syaikh Sholeh yang berangkat ke tanah Haram.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Surat yang dikirimkan Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun segera sampai ke tangan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Jiwa Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun berkecamuk merasakan ketulusan sang guru. Bulir-bulir bening air mata membasahi pipi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Baginya, permintaan guru adalah sabda yang tak bisa ditolak. Kepatuhan seorang santri pada kiai adalah sebuah keniscayaan. Sebuah cela jika santri tak patuh perintah kiai selama permintaan itu bukanlah maksiat. Permintaan yang demikian mudah bagi orang biasa itu menjadi sulit bagi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Lambaran kesulitan itu salah satunya berkait dengan keinginan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk menghabiskan sisa-sisa usianya di Makkah. Sejak kembali menginjakkan kaki di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz telah “bersumpah” untuk tinggal selamanya di tanah kelahiran Rasulullah SAW. itu.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Istikhoroh pun dilakukan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah SWT. Setelah berkali-kali istikhoroh, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mendapatkan isyarat untuk tinggal di Makkah. Kemantapan yang diperoleh melalui istikhoroh itu membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz memutar otak untuk menghindari permintaan sang guru.

Tak mungkin Hadlrotusy Syaikh Mahfudz menolak keinginan sang guru tanpa alasan yang bisa diterima. Lebih menyakitkan lagi jika sampai sang guru terlukai perasaannya. Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mencari strategi terbaik agar sang guru tidak terlukai perasaannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Bersamaan dengan itu, masuklah selarik ilham untuk mengirimkan Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, sang adik, sebagai pengganti dirinya. Setelah yakin dengan keputusannya, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz segera menulis surat balasan untuk Hadlrotusy Syaikh Sholeh. Beberapa waktu berlalu, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi diminta untuk kembali ke Tremas. Terkhusus Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, ada pesan istimewa yang diamanatkan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

“Sesampai di Tremas, lekaslah engkau pergi ke Semarang. Temui kiai Sholeh. Sampaikan surat ini kepadanya. Mengabdilah kepadanya dan apa pun perintahnya, kamu harus taat dan patuh.”

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Singkat cerita, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan pun menjadi menantu Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat menggantikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.[]


* Oleh: Imam Muhtar
Read More