PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya


rumahnahdliyyin.com - Menjelang datangnya bulan suci Romadlon 1439 H., kita dikejutkan dengan aksi narapidana Terorisme di Mako Brimob serta yang terbaru, ledakan bom di tiga Gererja di Surabaya, Ahad (13/05/2018). Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa radikalisme, apalagi yang mengatasnamakan agama, sungguh sangat memprihatinkan dan mengiris hati kita semua.

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Oleh sebab itu, menyaksikan dan mencermati dengan seksama rangkaian peristiwa diatas, khususnya peristiwa bom di tiga Gereja di Surabaya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rohmatan lil-'alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

Baca Juga: Belajar dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

2. Menyampaikam rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

Baca Juga: Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme, segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan, sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
أدع إلي سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan al-hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).


5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikruLlah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Lakukan Intoleransi dan Perpecahan

6. Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme dan terorisme tidak bisa ditolerir, apalagi dibenarkan. Sebab, ia mencederai kemanusiaan.



Jakarta, 13 Mei 2018

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum


DR. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal

[]

(Redaksi RN)
Read More

Perbedaan Ulama Tentang Metode Penetapan Awal Romadlon


rumahnahdliyyin.com - Setiap menjelang bulan Romadlon, kita senantiasa disuguhi fenomena perbedaan pendapat terkait penetapan awal puasa. Ironisnya, perbedaan ini tidak jarang menimbulkan konflik ditengah masyarakat, berupa saling ejek dan saling klaim bahwa kelompoknya yang benar, sedangkan kelompok yang lain salah. Bulan yang seharusnya dijadikan sebagai momen peningkatan ibadah dan amal sholih itu, justu dinodai oleh saling cemooh antarkelompok di masyarakat.

Kementerian Agama sebagai lembaga yang punya otoritas dalam penetapan awal puasa, telah berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut dengan menggelar sidang itsbat yang dihadiri oleh para ulama, ilmuwan, pakar hisab-ru'yat dan perwakilan dari berbagai organisasi massa yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Hanya saja, terkadang ada kelompok yang tidak mengikuti hasil sidang itsbat tersebut dengan alasan mereka telah memiliki metode penetapan sendiri. Karenanya, menjadi sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui metode-metode yang digunakan oleh para ulama dalam menetapkan awal bulan Romadlon.

Dalam menetapkan awal bulan Romadlon, ulama berbeda pendapat. Pertama, mayoritas ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa awal bulan Romadlon hanya bisa ditetapkan dengan menggunakan metode ru'yat (observasi/mengamati hilal) atau istikmal (menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Mereka ini berpegangan pada firman Allah SWT. dan Hadits Nabi SAW.

Baca Juga: Fardlu Wudlu'

Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 185:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 

“Maka barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan, maka hendaklah ia berpuasa (pada) nya.”

RasuluLlah SAW. bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhori, No. 1776).

Baca Juga: Inilah Ahlussunnah wal-Jama'ah atau Aswaja

Pada ayat dan hadits diatas, Allah SWT. dan Rasul-Nya mengaitkan kewajiban berpuasa dengan melihat hilal. Artinya, kewajiban berpuasa hanya bisa ditetapkan dengan melihat hilal atau menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. (Lihat: Muhammad Ali Ash-Shobuni, Rowa’il-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an, Damaskus: Maktabah Al-Ghozali, Juz 1980, hal. 210).

Kedua, sebagian ulama, meliputi Ibnu Suraij, Taqiyyuddin As-Subki, Mutharrif bin Abdullah dan Muhammad bin Muqatil, menyatakan bahwa awal puasa dapat ditetapkan dengan metode hisab (perhitungan untuk menentukan posisi hilal). Mereka ini berpedoman pada firman Allah SWT. dan hadits Nabi SAW.

Baca Juga: Bid'ah

Allah SWT. berfirman dalam surat Yunus ayat 5:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).”

RasuluLlah SAW. bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal (hilal Romadlon), maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal), maka berbukalah. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka perkirakanlah ia.”

Baca Juga: Inilah yang Membatalkan Wudlu'

Ayat diatas menerangkan bahwa tujuan penciptaan sinar matahari dan cahaya bulan serta penetapan tempat orbit keduanya adalah agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Artinya, Allah SWT. mensyariatkan kepada manusia agar menggunakan hisab dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriyyah. Sedangkan poin utama dari hadits diatas adalah kata Faqduruu lah. Menurut mereka, arti kata tersebut adalah perkirakanlah dengan menggunakan hitungan (hisab).

Dari kedua pendapat diatas, tampaknya pendapat kelompok pertama yang menyatakan bahwa awal Romadlon hanya bisa ditetapkan dengan ru'yat dan istikmal merupakan pendapat yang sangat kuat karena dalil-dalil yang mereka kemukakan sangat jelas dan tegas menyatakan hal tersebut. (Lihat: Mahmud Ahmad Abu Samrah, dkk., Al-Ahillah Baina Al-Falaq wa Al-Fiqh, Jurnal Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, Volume 12, Nomor 2, Halaman 241).

Baca Juga: Menjernihkan Hukum Tahun Baru Masehi

Akan tetapi, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang ilmu astronomi, peran hisab sangatlah urgent dalam mendukung hasil ru'yat. Apalagi, hisab yang didukung dengan alat modern memiliki akurasi yang sangat tinggi.

Dalam konteks negara Indonesia, terdapat beberapa kriteria penetapan awal Romadlon. Diantaranya, Pertama, imkanur ru'yat (visibilitas hilal). Imkanur Ru'yat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Kriteria ini mengharuskan hilal berada minimal 2 derajat diatas ufuk, sehingga memungkinkan untuk dilihat. Akan tetapi, adanya hilal belum teranggap, sampai hilal tersebut dapat dilihat dengan mata. Kriteria ini digunakan oleh NU sebagai pendukung proses pelaksanaan ru'yat yang berkualitas.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Kedua, wujudul hilal. Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan Romadlon dengan menggunakan dua prinsip: Ijtima' (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam, dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Jika kedua kriteria tersebut terpenuhi, maka pada petang hari tersebut dapat dinyatakan sebagai awal bulan. Kriteria ini digunakan oleh Muhammadiyah.

Ketiga, imkanur ru'yat MABIMS. Yaitu penentuan awal bulan Romadlon yang ditetapkan berdasarkan musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS). Menurut kriteria ini, awal bulan Hijriyyah terjadi jika saat matahari terbenam, ketinggian bulan diatas horison tidak kurang dari 2 derajat dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat. Dan ketika terbenam, usia bulan tidak kurang dari 8 jam setelah ijtima'/konjungsi.

Baca Juga: Hari Akhir

Keempat, Ru'yat Global. Yaitu kriteria penentuan awal bulan Romadlon yang menganut prinsip bahwa jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa. Kriteria ini digunakan sebagian muslim Indonesia dengan merujuk langsung pada negara Arab Saudi atau menggunakan hasil terlihatnya hilal dari negara lain.

Dengan adanya metode dan kriteria penetapan awal Romadlon yang sangat variatif ini, tidak mengherankan jika kemudian terjadi perbedaan dalam memulai puasa Romadlon. Hanya saja, penting kiranya untuk berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut mengingat bahwa amaliyah di bulan Romadlon dan lebaran di bulan Syawal merupakan syi’ar Islam dan momen kebahagiaan yang layaknya dilaksanakan dan dinikmati bersama-sama.

Baca Juga: Trans Gender Dalam Pandangan Syari'at Islam

Pemerintah melalui Kementerian Agama memiliki peran sentral dalam menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut, yaitu dengan menyelenggarakan sidang itsbat awal Romadlon yang didasarkan pada ru'yat, dan hisab sebagai pendukung. Keputusan itsbat bersifat mengikat dan berlaku bagi umat Islam secara nasional, sebagaimana kaidah fiqih:

حُكْمُ الحَاكِمِ يَرْفَعُ الخِلَافَ

“Keputusan hakim (Pemerintah) dapat menghilangkan perselisihan.”

Hanya saja, jika perbedaan penetapan awal Romadlon masih saja terjadi, maka prinsip toleransi sepatutnya tetap dikedepankan. Sebab, menjaga persatuan dan kerukunan umat merupakan perintah Allah SWT. yang wajib dilaksanakan. WaLlahu a’lam.[]




* Oleh: Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang. Tulisan ini berasal dari NU Online.
Read More

Pengajian Tiap Pekan, Tafsir Al-Ibriz Khatam Tujuh Belas Tahun


rumahnahdliyyin.com, Rembang - Setiap hari Jum'at, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, ada pengajian tafsir Al-Qur'an. Pengajian yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri itu membawakan salah satu kitab tafsir yang notabene merupakan karangan dari pendiri pondok pesantren tersebut, yaitu KH. Bisri Mustofa, yang berjudul Tafsir Al-Ibriz.

Pada Jum'at kemarin (11/05/2018), pengajian itu khatam setelah rutin digelar sepekan sekali selama 17 tahun berjalan. Khataman itu pun merupakan untuk yang kali keduanya selepas kewafatan sang penulisnya pada tahun 1977. Kiai Mustofa Bisri atau yang akrab disapa dengan Gus Mus yang notabene merupakan salah satu putra kiai Bisri Mustofa itupun mengampu pengajian kitab Tafsir Al-Ibriz ini sejak tahun 1978.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Selain pengampu pengajian, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hadir pula dalam kesempatan ini para masyayikh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan para kiai lainnya. Terlihat di bagian depan ada KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Syarofuddin Ismail Qoimas, KH. Makin Shoimuri, KH. Chazim Mabrur, KH. Chatib Mabrur, kiai Najib, serta para kiai lainnya.

Dalam khataman ini, ribuan orang dari berbagai daerah yang biasa turut mengaji setiap hari Jum'at itu tampak memadati area pondok pesantren. Selain itu, tampak hadir juga beberapa pejabat daerah seperti Kapolres Rembang, AKBP. Pungky Bhuana Santoso.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Ketua Panitia Khataman Kitab Al-Ibriz ini, Suyoto Zuhdi, mengatakan bahwa jama'ah yang mengikuti khataman ini diluar perkiraan.

“Membludak ini. Kita estimasikan tiga ribu hadirin, ternyata lebih,” katanya sebagaimana ditulis dilaman mataairradio.com.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Menurut Suyoto, selama 17 tahun mengaji kitab Al-Ibriz ini, terkadang sang pengampu, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, berhalangan juga.

“Kalau berhalangan, biasanya badal (wakil) ke kiai Syarof (KH. Syarofuddin Ismail Qoimas),” terangnya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk membaca do'a, para kiai pun silih berganti yang kemudian ditutup oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri. Dalam khataman ini, setiap jama'ah mendapat kenang-kenangan berupa buku yang berisi keutamaan dan adab membaca Al-Qur'an serta sejumlah amalan.

Setelah khataman ini, Suyoto mengaku belum mengetahui kapan kitab ini mulai dikaji kembali.

“Bila ngajinya sudah khatam, biasanya diulang dari awal,” ujarnya.[]


(Redaksi RN)
Read More

Masjid Jawa di Thailand


rumahnahdliyyin.com, Bangkok - Ketua Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis, dalam lawatannya ke negara-negara ASEAN mengatakan bahwa di Bangkok, Thailand, terdapat Masjid Jawa (Jawa Mosque) yang menjadi sarana syiar Islam bagi umat muslim setempat.

Seperti dikutip dari laman nu.or.id, pada Jum'at (11/05/2018), kawasan di sekitar Masjid Jawa itu dikenal dengan nama Soi Charoen Rat. Sedangkan letak persisnya berada di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok, Thailand. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh masyarakat Melayu dan keturunan orang Jawa yang merantau di sana.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Masjid Jawa didirikan diatas tanah Muhammad Saleh, seorang perantauan asal Rembang, Jawa Tengah, pada 1906. Mulanya, tanah tersebut merupakan tempat pengajian dan Yasinan yang kemudian diwaqofkan menjadi masjid dan tempat pendidikan.

Lebih lanjut, kiai Cholil menerangkan bahwa Masjid Jawa itu memiliki madrasah dengan jumlah siswa mencapai 200-an orang. Di masjid itu pula, pengajian Al-Qur’an digelar selama seminggu dengan jadwal untuk anak-anak pada hari Senin-Jum'at dan untuk dewasa tiap hari Minggu.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dalam kesempatan itu, kiai Cholil Nafis juga sempat bertemu dan berbincang dengan Zuhrah (putri H. Muhammad Saleh, pendiri Masjid Jawa) dan Ma’rifah (cucu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah) yang merupakan keturunan Jawa yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

Dengan mengutip hasil perbincangannya dengan Ma’rifah, kiai Cholil menceritakan bahwa bahasa Indonesia ternyata diajarkan secara rutin di Madrasah Masjid Jawa itu. Tujuannya yaitu untuk terus memelihara rasa cinta terhadap Indonesia. Kendati demikian, untuk pengantar pembelajarannya, bahasa yang digunakan acap kali campur antara bahasa Thailand, Indonesia dan Jawa.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, lanjut kiai Cholil, pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Masjid Jawa itu juga banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Disamping, tentu saja tetap memakai bahasa Thailand pula.

Selain arsitekturnya khas Jawa dengan warna bangunan hijau muda dan atap limasan berundak tiga, jika dilihat sepintas, Masjid Jawa itu seperti Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini.

“Tradisi khas Nusantara seperti beduk, pengajian dan sholawatan, bahkan juga tahlilan, juga ada di Masjid Jawa ini. Terlihat suasana masyarakat sekitar masjid seperti budaya Jawa,” jelas kiai Cholil.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Bangunan utama Masjid Jawa itu berbentuk segi empat dengan ukuran 12 x 12 meter dan dilengkapi dengan empat pilar ditengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, pada tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

“Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa,” cerita kiai Cholil.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Diluar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di bagian depan (mihrob), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi dengan tangga serta dua buah jam lonceng yang terbuat dari kayu di kanan dan kirinya.

Ada dua bangunan utama, yaitu masjid dan madrasah yang berbentuk rumah panggung dengan aneka deretan kursi dan meja dikolong rumah. Di seberang masjid, ada pemakaman Islam. Sedangkan di samping kiri masjid, terdapat prasasti peresmian masjid yang menggunakan bahasa Thailand.[]




(Redaksi RN)
Read More

KH. Sholih Qosim Dipanggil Kehadirat Allah SWT


rumahnahdliyyin.com - Innaa liLlaahi wainnaa ilaihi rooji'uun. Telah dipanggil kehadirat Allah SWT., KH. Sholih Qosim, pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Al-Islami, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur. Kiai kharismatik berusia 88 tahun ini dipanggil sekitar pukul 19.00 WIB. (10/05/2018) tadi dan insya Allah akan dikebumikan esok hari, yaitu Jum'at (11/05/2018) ba’da Sholat Jum'at.

Baca Juga: Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazah Pagar Nusa

Semua orang merasa terkejut atas kepergian kiai kelahiran Sidoarjo, tahun 1930 ini. Selain kegiatan sehari-hari beliau berjalan lancar, tidak ada keluhan dari beliau, bahkan beberapa hari lalu beliau masih kelihatan sehat dan energik ketika menghadiri acara Haul Sunan Ampel.

“Tidak ada keluhan sama sekali. Beliau tampak sehat, tidak gerah (sakit). Kegiatan beliau juga berjalan normal. Seperti yang kita saksikan, saat haul Mbah Sunan Ampel, beliau tampak energik bersama Mbah Maimun Zubair,” jelas Muhammad Bagus, santri kiai Sholih yang juga pegawai Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, sebagaimana dikutip dari duta.co, Kamis (10/5/2018).

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Ketua PCNU Batu, H. Achmad Budiono, juga hampir tak percaya mendengar kabar wafatnya kiai yang dikenal konsisten terhadap Khittah NU dan keteguhannya dalam membela dan menegakkan NKRI ini.

Innaa liLlaah! SubhaanaLlaah! Selesai acara Haul Mbah Sunan Ampel, beliau masih mendatangi pengajian di Malang bersama saya. Bahkan, ketika saya mohon perkenannya untuk menginap di Batu bersama Cak Anam (Drs. Choirul Anam, red.) beliau memilih pulang karena ada acara esoknya,” jelasnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai yang juga veteran perang ini sempat viral di media sosial. Penyebabnya yaitu ketika Presiden RI, Joko Widodo, mencium tangan beliau pada HUT ke-72 TNI. Kendati demikian, kiai Sholih dikenal "angker" dalam menerima bantuan pemerintah. Itulah yang membuat pejabat segan dengannya.

Diantara petuah beliau yang tampaknya perlu diketahui oleh umat Islam terkait hubungan antar agama dengan negara yang akhir-akhir menyedihkan yaitu “Kekuatan tentara adalah cermin dari kekuatan rakyat. Karena itu, umat Islam dengan TNI adalah satu napas, satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.”

Baca Juga: Politiknya Kiai

Akhirnya, semoga kita semua yang ditinggalkan pergi oleh kiai yang memiliki suara khas, intonasi dan aksentuasi suara yang begitu indah itu, mampu meneruskan perjuangan beliau. Untuk beliau, Al-Fatihah... []



(Redaksi RN)
Read More

Penutupan MTQ Papua Tekankan Pengamalan Islam Ramah Sesuai Al-Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Nabire - Senin malam (07/05/2018), pukul 20.00 WIT., halaman Masjid Al-Falah di Nabire sudah penuh oleh manusia. Mereka adalah para peserta Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua dan masyarakat sekitar, baik muslim maupun non-muslim, yang memang berkunjung untuk melihat.

Kali ini, MTQ memasuki acara puncak atau terakhir dari rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan oleh panitia. Sebagai pembukaan, acara diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba serta hasil Raker dan penetapan tuan rumah untuk penyelenggaraan MTQ tahun 2020 mendatang.

Dalam pengumuman lomba, tersebutlah tuan rumah, yakni Kabupaten Nabire, sebagai juara umum MTQ 2018 kali ini.


Baca Juga: Sambutan MTQ ke-27, Bupati Nabire Himbau Umat Islam Untuk Amalkan Al-Qur'an

Dalam sambutanya, ketua LPTQ Papua, M. Musa'ad, menyampaikan bahwa hakikat perlombaan LPTQ ini bukanlah soal juara saja. Namun, bagaimana setiap peserta lomba dan LPTQ daerah mengamalkan nilai-nilai yg terkandung dalam Al-Qur'an dan meyebarkan Islam yang rohmatan lil-'alamin, Islam yang moderat, ramah dan santun, serta senantiasa menjaga toleransi beragama di daerahnya masing masing.

"Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadi penyejuk ditengah-tengah lingkungan masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi

Sekda Provinsi Papua, Hery Dosinaen, yang juga memberikan sambutan, mengajak masyarakat muslim, non-muslim, tokoh adat, ormas dan tokoh agama di tanah Papua untuk saling bergandengan tangan demi kemajuan, perdamaian dan persatuan di tanah Papua.

"Kalo kita melihat di Papua, berbagai suku, ras dan agama, ada semua. Dan ini adalah kekuatan kita untuk terus kita jaga," ucapnya.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Lebih lanjut, Hery Dosinaen juga menyatakan bahwa contoh konkret hidup penuh toleransi adalah kehidupan di Papua. Maraknya aksi intoleransi akhir-akhir ini, kehidupan di Papua patut dicontoh oleh daerah lain.

"Disaat daerah lain lagi maraknya isu intoleransi yang berbau SARA, kita di Papua kalau mau melihat toleransi yg sebenarnya, lihatlah Papua. Dan dari tanah Papua, untuk Indonesia," tambahnya lagi.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


Dalam kesempatan ini, Pemerintah Provinsi Papua juga memberikan penganugerahan kepada Bupati Nabire, yaitu Isaias Douw, sebagai tokoh pluralisme di Papua. Penganugerahan ini diberikan karena Bupati Nabire dinilai telah berhasil mengayomi semua lapisan masyarakat yang majemuk dan beraneka ragam suku, ras dan agama yang berada di Kabupaten Nabire. Sekda pun mengajak seluruh kepala daerah untuk mengikuti torehan Isaias Douw ini.

MTQ yang telah berlangsung dari tanggal 2 hingga 7 April ini, dalam acara penutupannya ini dihadiri oleh Pemkab Nabire, Forkopinda, Ketua Ormas, Ketua Adat, pejabat Pemprov dan jajaran aparat keamanan dari Polri dan TNI.[]



(M. Taha)
Read More

NU-Muhammadiyah Memanggil di Universitas Brawijaya Malang


rumahnahdliyyin.com | Malang – Badan Intelejen Negara (BIN) mencatat bahwa ada sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang terserang virus radikalisme. Dari hasil penelitian ini, BIN pun memberikan perhatian khusus terhadap tiga kampus yang dianggap menjadi basis penyebaran paham radikal itu.

Selain penemuan itu, penelitian BIN juga mengungkapkan bahwa ada 24 persen mahasiswa yang sepakat dengan wajibnya berjihad demi tegaknya negara Islam. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, jelas mengancam keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

Dari data inilah, akhirnnya intelektual muda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Universitas Brawijaya tergugah untuk membuat sebuah kolaborasi gerakan. Wajah Islam moderat yang dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus tampil di Perguruan Tinggi.

Bersamaan dengan momen Daftar Ulang SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya tahun 2018, para mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di lingkungan Universitas Brawijaya itu bersatu padu membuat sebuah gerakan “Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah Memanggil”.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Dengan tema “Milenial Berkarya, Milenial Berbudaya, Milenial Berkemajuan”, mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Universitas Brawijaya itu membuat stand dan acara pembukaan pun dilakukan bersama di depan Gedung Samantha Krida untuk menyambut mahasiswa baru hasil penjaringan SNMPTN.

Selain itu, mereka juga hadir untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, budaya yang baik dan semangat nasionalisme. Gerakan yang diselenggarakan pada Selasa (08/05/2018) ini, juga diikuti oleh para mahasiswa Universitas Brawijaya pada umumnya.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Nilai Agama

Pembukaan stand bersama ini dilakukan mulai pagi hari hingga selesainya kegiatan daftar ulang SNMPTN bagi mahasiswa baru. Stand dari kedua ormas yang digelar berdampingan, sangat menunjukkan adanya sinergitas gerakan dalam setiap ranah dakwah di lingkungan Universitas Brawijaya.

Mahasiswa Nahdlatul Ulama kelihatan aktif membagikan brosur-brosur informasi mengenai organisasi Nahdlatul Ulama kepada khalayak. Tampak pula mahasiswa lain yang notabene juga santri, membagikan informasi Pondok Pesantren area Kota Malang kepada mahasiswa baru. Selain itu, stand yang digelar itu juga melayani pendampingan untuk mahasiswa baru, baik itu informasi akademik, jurusan/fakultas, maupun informasi lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Komunitas mahasiswa yang terafiliasi kedalam Nahdlatul Ulama dari unsur KMNU, PKPT, IPNU-IPPNU, PMII, MATAN dan mahasiswa NU pada umumnya, turut hadir dalam memeriahkan gerakan bersama yang disebut dengan Gerakan Sambut Maba NU-Muhammadiyah itu.

Koordinator pelaksana dari Nahdlatul Ulama, M. Syafiq Afif Adani, menyebutkan bahwa gerakan ini adalah tindak lanjut dari sinergitas yang telah lebih dahulu dibangun oleh NU-Muhammadiyah di tingkat pusat.

“Beberapa waktu lalu, para orangtua kita di PBNU dan PP. Muhammdiyah melakukan silaturrahmi untuk membahas persoalan kebangsaan. Mengapa tidak, kita di wilayah mahasiswa melakukan kegiatan yang sama?" ungkap Syafiq, begitu sapaan akrabnya.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Sementara itu, koordinator pelaksana dari Muhammadiyah, Azhar Syahida, menyampaikan pernyataan yang senada pula. Menurutnya, gerakan ini sangat baik, sehingga ke depannya harus terus dijalankan secara berkelanjutan.

Perlu diketahui bersama bahwa Mahasiswa Nahdlatul Ulama di Universitas Brawijaya adalah forum silaturrahmi antarmahasiswa di lingkungan Universitas Brawijaya, baik yang ada di organisasi struktural NU maupun kultural. Sangat banyak aktivitas ke-NU-an yang telah dilakukan di kampus. Diantaranya yaitu mengaji kitab kuning, diskusi Aswaja, sharing keilmuan dan prestasi mahasiswa, Majelis Ta’lim dan Sholawat, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta program pendampingan intensif dibidang akademik maupun non-akademik.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Gerakan bersama antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ini tidak lain adalah untuk membentengi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri agar terhindar dari virus radikalisme dan terorisme, menyerukan wajah Islam yang ramah dan moderat, menyebarkan nilai-nilai toleransi dan semangat Hubbul-Wathon minal-Iman, serta lebih jauh lagi adalah membentuk generasi muda bangsa Indonesia menjadi milenial yang berkarya, berbudaya dan berkemajuan.[]
(Mohammad Ainurrofiqin)
Read More

PBNU Luncurkan BBM Serentak


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan aksi Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah pada Minggu, 13 Mei 2018, secara serentak di seluruh musholla dan masjid se-Indonesia. Aksi serentak ini akan diluncurkan pada besok hari Rabu, 9 Mei 2018, di Gedung PBNU, Jakarta.

“Tujuan BBM Berkah ini adalah untuk mendorong masjid ikut berperan mewujudkan situasi nasional yang bersih dari kotoran lahir-batin menyongsong bulan suci Romadlon sekaligus untuk berpartisipasi mewujudkan situasi bangsa yang aman dan tentram,” jelas Ali Sobirin, Koordinator Nasional acara ini.

Baca Juga: Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Peluncuran yang akan diisi dengan acara Deklarasi ini akan dihadiri oleh para Penggerak Masjid Seluruh Indonesia, para Koord. BBM Kabupaten/Kota, para Ta'mir Masjid dan Marbot se-Jabodetabek dan pengurus PBNU.[]




(Redaksi RN)
Read More

Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir


rumahnahdliyyin.com - Ditinjau dari sisi bahasa Arab, kata khalifah (خليفة) adalah bentuk kata benda tunggal yang berarti orang yang mengatur urusan-urusan kaum muslim. Sedangkan bentuk jama' atau pluralnya adalah kholaif (خلائف).

Adapun kata khulafa' (خلفاء) merupakan bentuk jama' atau plural dari kata kholif (خليف), tanpa huruf ha' (الهاء) karena kata ini bermakna al-fa'il (kata benda yang menunjukkan pelaku suatu perbuatan). Kata kholif ini adalah asal kata dari kholifah (خليفة). Penambahan huruf ha' (الهاء) padanya adalah mubalaghoh (bentuk pernyataan yang dilebihkan/pleonastic) sehingga menjadi sifat spesifik bagi orang tertentu. (Muhammad Ibrahim Al-Khafnawi, Mu'jam Ghorib Al-Fiqh wal-Ushul: Kairo, Darul-Hadits, 1430/2009, hal. 233).

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Menurut Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi (1283 H./1866 M. - 1332 H./1914 M.), seorang ulama besar dari Syam (Syiria), menuliskan dalam tafsirnya bahwa firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30:

وإذ قال ربّك للملائكة إنّى جاعل فى الأرض خليفة أي قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن كماقال تعالى وهو الذى جعلكم خلائف الأرض

"Dan (ingatlah) ketika Tuhan Pemelihara kamu berfirman kepada para malaikat: 'sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah.' Maksudnya (menjadikan) suatu kaum menggantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, satu generasi sesudah generasi sebelumnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dan Dia-lah yang menjadikan kamu para khalifah (di) bumi." (QS. Al-An'am: 165).

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Menurut Al-Imam Al-Qurthubi, kata kholifah itu bermakna fa'il (pelaku pekerjaan), yaitu:

يخلف من كان قبله من الملائكة فى الأرض أو من كان قبله من غير الملائكة على ما روي

"Yang menggantikan orang yang sebelumnya berupa malaikat yang menetap di bumi atau orang yang sebelumnya (yang tinggal di bumi) dari selain malaikat atas dasar suatu riwayat."

Baca Juga: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud

Makna kholifah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 ini, menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas dan seluruh pakar tafsir adalah Nabi Adam AS. Demikian dikeluarkan oleh Al-Imam Ath-Thobari dalam tafsirnya. (Ath-Thobari, Jilid I, hal. 479-480).

Nabi Adam AS. adalah kholifatuLlah dalam melaksanakan hukum-hukumNya dan perintah-perintahNya karena ia adalah awwalu rosulin (orang yang mula-mula diutus oleh Allah SWT.) ke bumi. (Abi 'Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an wal-Mubayyin li Ma Tadlommanahu minas-Sunnah wa Ayyil-Furqon, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1427/2006, Cet. 1, Jil. 1, hal. 394-395).

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah Ala HTI

الرابعة :هذه الأية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع لتجتمع به الكلمة وتنفذ به أحكام الخليفة ولاخلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ماروي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه و مذهبه قال:إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك وإن الأمة متى أقاموا حجهم وجهادهم وتناصفوا فيما بينهم وبذلوا الحق من أنفسهم وقسموا الغنائم والفيء والصدقات على أهلها وأقاموا الحدود على من وجبت عليه أجزأهم ذلك ولايجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك! ودليلنا قول الله تعالى: إني جاعل في الأرض خليفة وقوله تعالى: يادوود انا جعلناك خليفة في الأرض(ص: ٢٦) وقال: وعد الله الذين ءامنوا وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض (النور :٥٥) أي: يجعل منهم خلفاء إلى غير ذلك من الأي.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU


"Keempat: ayat ini (yakni penggalan firman Allah QS. Al-Baqoroh ayat 30) adalah landasan (dalil) dalam pengangkatan imam dan khalifah yang karenanya ia didengar dan ditaati, yang dengannya supaya sepakat dalam satu kata dan dengannya hukum-hukum dari khalifah dilaksanakan. Tidak ada perbedaan terkait kewajiban itu (mengangkat pemimpin) diantara umat dan para imam, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Al-Asham (yaitu ‘Abdurrahman bin Kaisan, Syaikh Al-Mu’tazilah, wafat tahun 201 H.) dimana ia tuli dari syari’ah, demikian juga setiap orang yang menyatakan mengikuti pendapatnya dan madzhabnya. Ia (Al-Asham) berkata: 'Sesungguhnya (mengangkat) khalifah itu bukan kewajiban dalam agama, yang demikian itu hanyalah merupakan kebolehan. Sesungguhnya apabila umat telah menunaikan haji, jihad dan saling bersikap adil diantara mereka, memberikan hak dari diri mereka, mereka membagikan ghonimah (harta rampasan perang), fay’ dan sedekah kepada yang pantas menerimanya, mereka menegakkan al-hudud (sanksi pidana yang ditentukan oleh teks Al-Qur’an) kepada orang yang wajib menanggungnya, maka yang demikian itu sudah cukup dan tidak wajib bagi mereka untuk mengangkat imam (pemimpin) untuk menangani semua itu.' Adapun dalil kami adalah firman Allah: 'Sesungguhnya Aku hendak menciptakan satu khalifah di bumi.' Firman Allah: 'Wahai Daud! Sesungguhnya Kami telah
menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi,' (QS. Shod: 26). Dan firman Allah: 'Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka penguasa di bumi…' (Qs. al-Nur: 55), maknanya: Allah akan menjadikan diantara mereka khulafa’ (para khalifah)."

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mencermati penafsiran diatas, sangat jelas bahwa firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 menyebut kata kholifah bukan dalam pengertian dan tidak pula berkonotasi atau memberikan petunjuk yang jelas untuk menciptakan pemimpin politik (khalifah), sistem pemerintahan atau bentuk Negara dalam Islam.

QS. Al-Baqoroh ayat 30 diatas dan QS. Shod ayat 26, yakni firman Allah yang artinya, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” adalah dua ayat yang paling sering dipakai untuk melegitimasi sistem politik dalam Islam sebagaimana dilakukan HTI dan para pegiat khilafah lainnya.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Padahal, QS. Al-Baqoroh ayat 30 yang menyebut kata kholifah bermakna sebagai kholifatullah (pengganti Allah) dalam memakmurkan bumi melalui peran manusia dengan berbagai kesempurnaan yang melekat padanya. Sedangkan QS. Shod ayat 26 bermakna lebih menunjukkan kepada tugas untuk memberikan keputusan hukum diantara manusia secara benar dan adil dimana hal ini ditujukan kepada Nabi Daud AS. Jadi, kedua ayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan makna kholifah sebagai entitas kepemimpinan politik untuk menegakkan sistem khilafah islam yang bersifat internasional (al-khilafah al-islamiyyah al-‘alamiyyah) sebagaimana ditafsirkan oleh HTI.

Hanya HTI saja yang mewajibkan penegakan sistem khilafah dengan kewajiban mengangkat satu orang khalifah (‘Abd al-Qadim Zallum, Nidhomul-Hukmi fil-Islam, Beirut-Lebanon: Dar al-Ummat, 2002/1422, halaman 43. Menurut ‘Abd al-Qadim Zallum, ia seorang pimpinan tertinggi Hizbut Tahrir saat ini, bahwa hanya wajib mengangkat satu orang khalifah saja berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abi Sa’id al-Khudlri dari Rasulullah SAW., beliau bersabda: 'Apabila dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang lain (salah satu) dari keduanya') dan di dunia ini hanya boleh ada satu kekhilafahan saja.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Dalam hal ini, sebuah buku berbahasa Arab berjudul Ajhizat Daulah Al-Khilafah fil-Hukmi wal-Idaroh, Beirut-Lebanon: Dar Al-Ummat, 2005/1426), halaman 37, menjelaskan sebagai berikut:

يجب أن يكون المسلمون جميعا في دولة واحدة وأن يكون لهم خليفة واحد لا غير ويحرم شرعا أن يكون للمسلمين في العالم أكثر من دولة واحدة وأكثر من خليفة واحد

“Semua orang muslim wajib berada didalam satu negara dan (wajib) hanya memiliki satu khalifah, tidak ada yang selainnya. Menurut syara’, haram bagi orang-orang muslim memiliki lebih banyak dari satu negara di dunia ini dan (haram) memiliki lebih dari satu khalifah.”

Baca Juga: Jihad dalam Konteks Negara-Bangsa di Era Modern

Padahal, tidak ada seorang pun dari ulama madzhab Sunni dalam kitab-kitab mereka yang mewajibkan hanya ada satu negara yang sah di dunia yang sangat luas ini yang wajib berada dalam genggaman kekuasaan satu orang khalifah.

Kitab-kitab fikih empat madzhab hanyalah mewajibkan pengangkatan pemimpin (nashb al-imam) sebagaimana kewajiban tersebut berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan Al-Ijma’ (konsensus ulama).

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila

Tidak ada satupun teks-teks fikih klasik itu menyebut kata khilafah sebagaimana yang dimaksudkan oleh HTI. Bahkan, tidak ada satu pun dalil nash (teks Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang secara shorih (jelas dan nyata) menyatakan wajib mendirikan khilafah sebagaimana yang dimaksudkan oleh HTI.

Dalam hal ini, HTI telah melakukan pengalihan makna kata kholifah yang disebut dalam Al-Qur’an dan yang tercantum dalam kitab-kitab fikih klasik kepada makna khilafah sebagai sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara Islami yang bersifat internasional (al-khilafah al-islamiyyah al-‘alamiyyah), suatu makna yang sedikitpun tidak dimaksudkan oleh para ulama pada masa lalu itu, lebih-lebih untuk konteks saat ini dimana seluruh dunia telah terbagi-bagi menjadi negara bangsa (nation state).

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Dengan demikian, cukup jelas bahwa HTI sengaja mengutip teks-teks, baik berupa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata kholifah dan derivasinya, mengutip penjelasan para mufassir terkait ayat tersebut dan juga mengutip pendapat para ahli fikih tentang hukum nasb al-imam (pengangkatan pemimpin), adalah sekedar klaim pembenar sepihak dan (seluruh kutipan itu) pada hakikatnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan upaya penegakan kembali khilafah sebagaimana yang dimaksudkan dan diperjuangkan oleh HTI, yakni dalam makna sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara.



* Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Tulisan ini diambil dari tulisan KH. Ahmad Ishomuddin yang berjudul Gerakan Politik HTI Berbalut Dakwah Menuju Khilafah Islamiyyah yang dipresentasikan beliau ketika menjadi Saksi Ahli pada tanggal 15 Maret 2018 dihadapan Majelis Hakim PTUN dalam perkara gugatan TUN yang diajukan oleh ex-HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) terhadap Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-0028.60.10 Tahun 2014 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum HTI.
Read More

Bully Zaman Mbah Bisri


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah kisah tentang gasak-gasakan (atau bahasa sekarang bully) antar kiai di zaman Mbah Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus. Kisah ini dikisahkan oleh Gus Mus pagi ini saat kami sarapan di hotel di Gimpo, sebuah kota kecil di luar Seoul, Korea Selatan.

Zaman dulu, di kota Rembang masih ada penjual daging babi yang membawa pikulan dan berkeliling dari kampung ke kampung. Suatu saat, penjual ini lewat di depan rumah Pak Hamyah, seorang dukun sunat dan sekaligus teman akrab Mbah Bisri. Pak Hamyah pun langsung memanggil penjual daging babi itu.

"Lek..! Coba kamu ke rumah Mbah Bisri di Leteh sana. Dia kemaren sepertinya pengen daging babi."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Penjual itu pun langsung pergi ke rumah Mbah Bisri. Sampai di sana, "Mbah Bisri, katanya butuh daging babi. Monggo lho... "

"Siapa yang bilang?" tanya Mbah Bisri.

"Kata Pak Hamyah, tadi."

"Weee, Hamyah gemblung!" kata Mbah Bisri agak jengkel.

Dua sahabat ini memang sudah sering saling gasak-gasakan. Mbah Bisri lalu mencari akal bagaimana membalas bully-an sahabat karibnya ini. Dapatlah beliau ide untuk membalas.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Suatu hari, Mbah Bisri punya "gawe" di rumahnya. Beliau mengundang banyak tamu, termasuk sahabatnya, Pak Hamyah. Mbah Bisri sudah pesan sejak awal kepada santri ndalem, agar menyediakan satu cangkir kosong yang tertutup. Cangkir itu, pesan Mbah Bisri, agar disuguhkan ke Pak Hamyah.

Terjadilah senario yang sudah direncanakan Mbah Bisri. Santri ndalem menyuguhkan kopi ke semua tamu. Tiba giliran cangkir kosong yang sudah disediakan khusus untuk Pak Hamyah, santri itupun segera meletakkan cangkir tertutup itu di depan sahabat Mbah Bisri itu.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Setelah itu, santri itu kemudian berlalu sambil memendam tawa kecil didalam hatinya, "Kiai ya kayak awak dhewe ya, padha gasak-gasakan juga."

"Monggo kopinipun dipun unjuk, para sedherek," kata Mbah Bisri seraya mempersilahkan tamu-tamunya untuk meminum kopi.

Dengan tanpa curiga sedikitpun, Pak Hamyah segera mengambil cangkir, membuka tutupnya, dan melihat cangkir itu kosong, "Asemik, aku diwales Bisri rupanya."

Baca Juga: KH. Kholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk menutup rasa malu, pak Hamyah tetap mengangkat cangkir itu dan mendekatkannya ke mulut sambil mengeluarkan suara khas, "Slurrrrrp, haaaaaah..." Pak Hamyah pura-pura menikmati kopi itu dengan penuh perasaan.

"Piye kopine, Hamyah?" tanya Mbah Bisri dengan meledek.

Pak Hamyah hanya bisa tersenyum kecut. Mungkin, dia sedang memikirkan trik bully yang lain untuk Mbah Bisri.[]




* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla
Read More