Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon


rumahnahdliyyin.com, Pacitan - Selama bulan suci Romadlon 1439 H. ini, Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, kembali menerjunkan para santrinya untuk berdakwah di tempat-tempat terpencil yang masih minus pengetahuan agamanya. Sebanyak 137 santri yang terjun ini melaksanakan tugas wajib program "Dakwah Bilhal" dengan satu santri menempati satu masjid atau musholla.

Menurut pengurus Pesantren Tremas, Ali Muhadaini, program ini diikuti oleh para santri lulusan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu'adalah yang baru diwisuda pada 7 Mei lalu.

"Para santri kita terjunkan ke tiap desa di seluruh wilayah Kecamatan di Pacitan dan beberapa daerah di Wonogiri, seperti Giritontro, Ngadirojo, Pracimantoro, Paranggupito, Baturetno, Batuwarno, Jatisrono. Ada pula daerah Rongkop Gunung Kidul dan Karanganyar," jelas Ali pada Jum'at (18/05/2018), sebagaimana diberitakan di laman NU Online.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Ali mengatakan bahwa program "Dakwah Bilhal" ini dimulai pada tanggal 28 Sya’ban dan akan berakhir hingga tanggal 2 Syawwal 1439 H. nanti. Selama di tempat dakwah, para santri akan menjalankan tugas yang antara lain yaitu menjadi imam sholat lima waktu, tarawih, memberikan ceramah dan pengajian, mengajar TPQ, mengurus pelaksanaan zakat fitrah, menjadi khotib Idul Fitri dan bersosialisasi dengan masyarakat.

"Dengan berbekal keilmuan yang telah dimiliki, Insya Allah mereka mampu mengemban tugas mulia ini," tambahnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Program wajib "Dakwah Bilhal" ini telah dilakukan oleh Pesantren Tremas semenjak awal tahun 2000. Melalui program "Dakwah Bilhal" ini para santri membawa dua buah misi dari Pesantren Tremas, yaitu misi belajar bermasyarakat dan misi mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, Ali mengatakan bahwa "Dakwah Bilhal" ini bekerjasama dengan jajaran perangkat desa setempat serta Muspika di wilayah Kecamatan. Tiap tahun sasaran dakwah terus mengalami perluasan. Hal ini seiring dengan kebutuhan dai di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Pentingnya Niat Dalam Launching Santriversitas

"Respon masyarakat terhadap program ini juga cukup besar. Terbukti, kami sampai kuwalahan memenuhi permintaan dari masyarakat," terangnya. []

(Redaksi RN)
Read More

Islam Melarang Umatnya Merusak Rumah Ibadah Umat Lain


rumahnahdliyyin.com - Dalam kitab Ath-Tobaqot, karya Ibnu Sa’d, dikisahkan bahwa ketika datang utusan Kristen dari Najran yang berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi SAW., Nabi SAW. menyambut mereka di masjid Nabawi. Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid. Sementara itu, para sahabat berusaha untuk melarang mereka. Namun, Nabi SAW. memerintahkan: da’uuhum (biarkanlah mereka).

Melalui perintah ini, sahabat memahami bahwa Nabi SAW. mempersilakan mereka untuk menggunakan masjid Nabawi sebagai tempat kebaktian sementara. Mereka melakukan kebaktian dengan menghadap ke timur sebagai arah qiblat mereka.

Baca Juga: Keras Melawan Terorisme

Peristiwa bersejarah yang menunjukkan sikap toleransi Nabi SAW. ini, terjadi di hari minggu setelah 'Ashar tahun 10 H. Peristiwa ini juga terekam dengan sangat baik dalam beberapa babon kitab sejarah seperti Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk, Siroh Ibnu Hisyam, Siroh Ibnu Ishak dan lain-lain.

Sebagian ahli tafsir modern, mengaitkan hadits ini dengan Al-Quran surat Al-Baqoroh, ayat 114, yang bunyi terjemahannya kira-kira demikian:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ الله أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Lalu, siapakah yang tepat dianggap lebih dzalim daripada orang-orang yang berusaha melarang dan menghalang-halangi disebutnya nama Tuhan di tempat-tempat peribadatan serta berusaha menghancurkan tempat-tempat tersebut. Padahal, mereka tidak berhak memasukinya kecuali dalam keadaan takut kepada Tuhan. Kelak, mereka (yang menghancurkan tempat-tempat peribadatan) akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan siksaan yang berat di akhirat”.

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Muhammad Asad, misalnya, dalam The Message of The Quran, menerjemahkan kata masajid dalam ayat diatas sebagai houses of worship (tempat-tempat peribadatan). Hal senada juga dikemukakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Mannar yang menerjemahkan masajid dalam ayat diatas sebagai ma’abid (tempat-tempat peribadatan), bukan sekedar peribadatan umat Islam.

Penerjemahan masajid sebagai "tempat peribadatan" secara umum dan bukan sebagai "tempat peribadatan Islam" secara khusus pada ayat diatas, jelas merupakan terjemahan yang merujuk kepada makna generik dari masjid itu sendiri.

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Masjid sendiri berasal dari kata sajada-yasjudu-sujud-masjid, yang arti secara harfiahnya ialah tempat bersujud, dan itu artinya tempat menyembah, apapun sesembahannya. Yang jelas, menurut Abduh, masih dalam koridor ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani dan ahli semi-kitab (penganut agama yang memiliki pegangan yang mirip kitab suci), seperti Majusi, Buddha, Hindu, Konghucu dan lain-lain.

Dalam perkembangan selanjutnya, masjid sendiri sering diidentikkan sebagai tempat peribadatan umat Islam dan ketika disebut masjid, benak kita akan segera tertuju kepada masjid yang Islam ini. Konsekwensinya, kalau kita gunakan secara konsisten pengertian masjid dalam artian yang Islami ini, jelas akan susah memahami Al-Qur'an dan beberapa hadits Nabi SAW. Karena ketika menelusuri lebih jauh penggunaan kata masjid/masajid dalam Al-Qur'an, kita akan menemukan bahwa kata masjid tidak selalu merujuk kepada "tempat peribadatan Islam", melainkan bisa merujuk kepada sinagog, amalan ritual, tempat konspirasi dan lain-lain.

Baca Juga: Berhukum Dengan Selain Hukum Allah SWT

Sebagai misal masjid dalam arti tempat peribadatan Yahudi atau sinagog, dapat pula kita temukan dengan mudah pada penggunaan kata Masjid Al-Aqsho pada QS. Al-Isro': 1 dan penggunaan kata masjid pada QS. Al-Isro': 7. Sedangkan masjid dalam pengertian sebagai amalan ritual terdapat pada QS. Al-A’rof: 31. Masjid dalam pengertian sebagai tempat konspirasi orang-orang munafik dengan Abu Amir Ar-Rahib dan kaum musyrik Quraish untuk menghancurkan umat Islam dari dalam terdapat dalam QS. At-Taubah: 107. Masjid yang difungsikan sama dengan sinagog, gereja dan biara (yakni sebagai tempat untuk menyembah Tuhan) terdapat QS. Al-Hajj: 40.

Dengan pemaknaan yang lebih luas terhadap bentuk plural dari kata masjid pada ayat ini, Asad menjelaskan, bahwa salah satu prinsip yang paling fundamental dalam Islam ialah prinsip bahwa setiap agama yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai ajaran utamanya harus dihormati dan dihargai meski dilihat secara keyakinan sangat bertentangan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Karena itu, menurut Asad, setiap muslim diwajibkan menghormati dan menjaga tempat peribadatan agama apapun yang diperuntukkan untuk menyembah Tuhan, baik itu masjid, gereja atau sinagog. Dan karena itu pula, segala usaha untuk mencegah dan menghalang-halangi para penganut agama lain untuk menyembah Tuhan menurut keyakinannya, sangat dilarang dan bahkan dikutuk oleh Al-Qur'an sebagai sebuah kedzaliman, bahkan dianggap sebagai bentuk kedzaliman yang paling besar.

At-Thobari, dalam Jami' Al-Bayan fi Tafsir Ayat Min Ayil Qur'an, menafsirkan ayat diatas sebagai "Siapa lagi orang yang lebih ingkar kepada Allah SWT. dan menyalahi segala aturannya selain dari orang yang menghalang-halangi disebutnya nama-Nya di tempat-tempat peribadatan dan berusaha menghancurkannya."

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Melalui pandangan ini, jelaslah bahwa At-Thobari mengkategorikan orang-orang yang tidak menghargai tempat peribadatan sebagai orang yang paling ingkar terhadap eksistensi Allah SWT.

Kisah yang dikutip dari kitab At-Thobaqot karya Ibnu Sa’ad diatas dan kaitanya dengan QS. Al-Baqoroh: 114 menunjukkan bahwa Nabi SAW. menerjemahkan secara langsung semangat Al-Qur'an untuk menghormati segala bentuk tempat peribadatan dalam praksis nyata.

Baca Juga: Penyimpangan Kata Khalifah Oleh Hizbut Tahrir

Hal demikian juga semakin dipertegas dengan kenyataan bahwa beliau selalu memerintahkan para sahabat untuk tidak merusak tempat-tempat peribadatan dalam peperangan. Ini artinya, Nabi SAW. sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat peribadatan agama lain meski secara keimanan sangat berbeda secara amat mendasar. Bahkan, pasca perang Hunain, ketika menemukan lembaran kitab Taurat disela-sela harta rampasan perang, Nabi SAW. memerintahkan untuk mengembalikan lembaran kitab tersebut kepada kaum Yahudi.

Dalam kisah diatas, meski meyakini Yesus sebagai “Anak Tuhan” dan Bunda Maria sebagai “Ibu Tuhan” yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar Islam, utusan Kristen Najran tetap diberi kebebasan oleh Nabi SAW. untuk memasuki Masjid Nabawi dan melakukan kebaktian di dalamnya. Nabi SAW. tidak melarang mereka. Dan menariknya, jika dilihat secara keseluruhan cerita saat itu, Nabi SAW. berdebat dengan para tokoh Kristen Najran ini dan sangat tidak menyetujui keyakinan mereka tersebut.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Namun, kendati berbeda secara keyakinan, Nabi SAW. tetap menghormati dan menghargai keyakinan mereka. Inilah yang dibuktikan dengan tindakan Nabi SAW. yang mengizinkan mereka melakukan kebaktian di Masjid Nabawi yang tidak mesti diartikan setuju dengan ajaran mereka. Sebuah sikap yang langka dan jarang ditemukan dalam tokoh-tokoh lainnya sepanjang sejarah.

Namun sayangnya, ajaran Nabi SAW. ini diselewengkan oleh oknum tertentu demi tujuan dan hasrat politik. Beberapa kelompok umat Islam yang ekstrim salah memahami semangat Nabi SAW. yang inklusif ini. Diantara mereka ada yang membakar, membom, meruntuhkan bangunan peribadatan seperti gereja, sinagog dan lain-lain dengan dalih agama. Membakar, membom dan aksi-aksi kejahatan lainnya yang ditujukan untuk menghancurkan tempat-tempat peribadatan tersebut, jelas merupakan tindakan yang menurut Al-Qur'an sebagai adhlam (yang paling dzalim/yang paling ingkar dst).

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

Dengan demikian, teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri di gereja atau melakukan pemboman terhadap gereja (bahkan masjid, seperti yang pernah terjadi di Cirebon beberapa tahun lalu), dianggap sebagai bukan orang yang taat beragama, bahkan ia ingkar terhadap eksistensi Tuhan dan tidak beradab.

Dengan meminjam bahasa Al-Qur'an untuk Ahli Kitab yang telah menyelewengkan ajaran Taurat dan Injil, muslim yang merusak gereja, sinagog atau bahkan masjid sendiri dengan dalih agama, sama-sama dianggap telah yuharrifuna al-kalima ‘an mawadi’ihi (telah menyelewengkan ajaran asli dari Nabi SAW.).

Baca Juga: Azyumardi Azra: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud

Karena itu, sebagai agama yang terbuka, Islam mengutuk segala jenis tindakan umatnya yang bertentangan dengan misi utamanya di muka bumi ini, yaitu misi untuk menyebarkan kasih sayang bagi semesta alam (rohmatan lil-'alamin).[]



* Oleh: Abdul Aziz, Alumni Darus-Sunnah, Peneliti di el-Bukhari Institute. Tulisan ini diambil dari islami.co
Read More

Belajar Kemanusiaan dari Papua


rumahnahdliyyin.com - Pada siang yang dihiasi hujan tadi, Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) dan IKKS berkunjung untuk menyalurkan bantuan ke Usili. Seperti pernah saya tuliskan jauh-jauh sebelumnya, Usili merupakan satu dari sekian kompleks di Kabupaten Sorong ini yang dihuni oleh masyarakat suku Kokoda. Berbeda dengan Maibo dan Kurwato yang mana penghuninya muslim seluruhnya, di Usili terdapat dua agama yang dianut oleh para penduduknya. Yakni Islam dan Nasrani.

Kendati demikian, perbedaan itu tak pernah menyulutkan api konflik diantara mereka. Apalagi saling teror dan baku bunuh. Bahkan, mereka sangat guyub-rukun tanpa sedikitpun ada sekat ketika tengah bersosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Pernah suatu sore, tanpa sengaja saya bertemu dengan tokoh Usili di pasar setempat, yaitu pak Nimrod. Beliau yang non-muslim tiba-tiba mengeluhkan nasib pendidikan agama anak-anak muslim di sana setelah sebelumnya kita hanya saling bertukar kabar saja. Kepada saya ia mengungkapkan bahwa ia merasa sangat prihatin lantaran anak-anak di sana tidak pernah lagi mengaji lantaran tidak pernah ada yang mengajar lagi.

Mendengar dan menyaksikan dengan mata dan telinga sendiri, hal yang demikian ini terkadang membuat saya merenung: apakah Papua yang notabene sering dikatakan "terbelakang" itu hanya "mitos"? Apakah Papua yang kerap disebut "bodoh" itu hanya "khayalan"?

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama

Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mengerti apakah benar orang "terbelakang" itu mampu punya kesadaran untuk memikirkan nasib generasi mereka ke depan meskipun beda keyakinan? Apakah benar orang "bodoh" bisa mencapai pemikiran hingga mencapai ke tingkat universal kemanusiaan?

Dan terjadinya peledakan bom di Surabaya tadi pagi, pikiran saya jadi ikut bergolak dan bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang "terbelakang" dan "bodoh"? Mereka yang ada di Jawa? Atau mereka yang ada di Papua?

Mari merenung bersama. Salam.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Keras Melawan Terorisme


rumahnahdliyyin.com - Sudah lama NU dan orang-orangnya dituding sebagai kelompok yang “bersikap keras terhadap umat Islam dan berlaku lemah lembut terhadap orang-orang kafir.” Belakangan, tudingannya lebih seram: Anshârut Thâgût, pembela Thagut. Kata mereka: “Banser lebih rajin jaga Gereja, ketimbang pengajian.”

Orang-orang NU tidak perlu berkecil hati. Sebenarnya, NU menjaga Islam dari orang-orang yang merusak, yaitu sekelompok orang yang menggunakan Islam untuk berbuat jahat. Ada yang menyangkal keberadaan mereka. Abu Bakar Al-Baghdadi, konco-konconya dan yang sealiran dengannya, kurang bukti apa!?

Baca Juga: PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

Mereka syahadat dan takbir, tetapi menggorok orang, bahkan sesama ahlul qiblat. Dan terhadap mereka yang menggunakan Islam untuk berbut jahat, sikap kita kadang harus lebih keras ketimbang terhadap non-Muslim.

Ibnu Hajar Al-'Asqolani, dalam Fathul Bârî syarah Shôhîh Bukhôrî, Juz 12, h. 253, mengutip pendapat Ibnu Hubairah terkait Khowarij, yaitu pendahulu kelompok takfiri yang kerap menggunakan kekerasan dan menghalalkan darah sesama umat Islam:

أن قتال الخوارج أولى من قتال المشركين. والحكمة فيه أن قتالهم حفظ رأس مال الإسلام، وفي قتال أهل الشرك طلب الربح. وحفظ رأس المال أولى

“Sungguh memerangi Khowarij lebih utama ketimbang memerangi orang-orang musyrik. Hikmahnya adalah bahwa dalam memerangi Khowarij, terpelihara modal pokok Islam. Sementara memerangi orang musyrik, dapat laba. Menjaga modal pokok, lebih utama ketimbang mencari laba.”

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Modal pokok Islam, sesuai dengan namanya, adalah agama damai dan mengupayakan perdamaian. Sekarang ada sekelompok orang Islam, karena keyakinan tertentu, bekerja untuk mengubahnya menjadi agama teror dan kekerasan.

Terorisme lahir dari cita-cita politik, bukan agama, yaitu menegakkan pemerintahan Islam yang tidak jelas bentuknya. Orang-orang yang bercita-cita menegakkan pemerintahan Islam, dengan cara-cara tidak Islami, menganggap NKRI sebagai Thogut, bercita-cita memberontak terhadap kekuasaan yang sah yang dihasilkan dari proses syûrâ yang diakui dalam Islam, harus disikapi dengan tegas dan keras karena mereka justru menggerogoti Islam itu sendiri. Kemuliaan Islam dan ajarannya defisit justru ditangan mereka.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Islam bukan agama teror dan kekerasan. NKRI dan negara-negara lain di dunia adalah produk mu’âhadah wathoniyyah, konsensus yang sah. Karena itu, umat Islam di seluruh dunia harus taat dan patuh kepada pemimpinnya selagi tidak dihalangi untuk menjalankan sholat berjama'ah, menggemakan adzan, membangun masjid/tempat ibadah, menyuruh maksiat atau melakukan kedholiman yang nyata.

Nation-state di seluruh dunia, sah. Karena itu, umat Islam dimanapun tidak perlu berpikir membangun imperium Islam dunia dengan cara-cara yang tidak Islami. Orang-orang Islam harus berhenti bercita-cita bughot atau mengadakan konsensus diatas konsensus. NKRI yang pluralistik adalah konsensus yang dibentuk oleh para hakam (juru runding) yang bekerja dalam BPUPKI/PPKI.

Baca Juga: Penyimpangan Kata Khalifah Oleh Hizbut Tahrir

Al-Qur’an (QS. An-Nisâ’/4: 35) membolehkan dan mengakui keberadaan hakam untuk menghindari perpecahan. Jika hakam saja boleh dalam urusan domestik, apalagi dalam urusan publik yang menentukan nasib banyak orang.

Saya meyakini terorisme dalam Islam lahir dari cita-cita politik, bukan agama. Terorisme harus disikapi keras dan tegas. Tidak ada toleransi terhadap terorisme dan teroris. Adapun satu tingkat di bawahnya, yaitu orang Islam eksklusif, yang meyakini kebenaran mutlak Islam sembari menafikan hak orang lain meyakini kebenaran ajaran agamanya, harus diupayakan dialog tanpa letih dan pengajaran Islam yang benar, yaitu Islam yang mempromosikan keadilan, perdamaian dan toleransi: Islam yang berwawasan kebangsaan.

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Setelah insiden Mako Brimob dan teror di Gereja Surabaya hari ini, kita harus sehati dan sepikiran bahwa tidak ada tempat bagi terorisme di sini, di sana dan di mana saja. Tidak perlu menutup-nutupi dan membela aksi terorisme dengan alasan apa pun.

Kalau misalnya tidak puas dengan kinerja pemerintahan, jadilah oposisi loyal. Kritiklah, kalau perlu keras, tetapi jangan asbun. Himpun kekuatan dan rebutlah kekuasaan dengan cara konstitusional, dengan program-program alternatif, tanpa perlu berternak kebencian.

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama

Setiap negara di dunia pasti punya masalah keadilan dan distribusi kesejahteraan. Hanya negeri surga yang bebas dari kerakusan manusia. Tetapi, kalau pun sekarang kita menghadapi masalah ketimpangan, tidak berarti membenarkan terorisme, pun dengan cara tersamar.

Apa maksud pembenaran tersamar? Menutup-nutupi aksi terorisme, mengembangkan teori konspirasi, menyebutnya rekayasa, menggunakan dalih reaksi atas ketidakadilan. Itu semua adalah bentuk pembenaran tersamar. Selagi kita, umat Islam, tidak mau jujur kepada diri sendiri, kita tidak akan bisa melenyapkan terorisme!
[]



* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal PP. ISNU. Tulisan ini diambil dari NU Online
Read More

PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya


rumahnahdliyyin.com - Menjelang datangnya bulan suci Romadlon 1439 H., kita dikejutkan dengan aksi narapidana Terorisme di Mako Brimob serta yang terbaru, ledakan bom di tiga Gererja di Surabaya, Ahad (13/05/2018). Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa radikalisme, apalagi yang mengatasnamakan agama, sungguh sangat memprihatinkan dan mengiris hati kita semua.

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Oleh sebab itu, menyaksikan dan mencermati dengan seksama rangkaian peristiwa diatas, khususnya peristiwa bom di tiga Gereja di Surabaya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rohmatan lil-'alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

Baca Juga: Belajar dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

2. Menyampaikam rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

Baca Juga: Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme, segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan, sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
أدع إلي سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan al-hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).


5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikruLlah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Lakukan Intoleransi dan Perpecahan

6. Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme dan terorisme tidak bisa ditolerir, apalagi dibenarkan. Sebab, ia mencederai kemanusiaan.



Jakarta, 13 Mei 2018

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum


DR. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal

[]

(Redaksi RN)
Read More

Perbedaan Ulama Tentang Metode Penetapan Awal Romadlon


rumahnahdliyyin.com - Setiap menjelang bulan Romadlon, kita senantiasa disuguhi fenomena perbedaan pendapat terkait penetapan awal puasa. Ironisnya, perbedaan ini tidak jarang menimbulkan konflik ditengah masyarakat, berupa saling ejek dan saling klaim bahwa kelompoknya yang benar, sedangkan kelompok yang lain salah. Bulan yang seharusnya dijadikan sebagai momen peningkatan ibadah dan amal sholih itu, justu dinodai oleh saling cemooh antarkelompok di masyarakat.

Kementerian Agama sebagai lembaga yang punya otoritas dalam penetapan awal puasa, telah berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut dengan menggelar sidang itsbat yang dihadiri oleh para ulama, ilmuwan, pakar hisab-ru'yat dan perwakilan dari berbagai organisasi massa yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Hanya saja, terkadang ada kelompok yang tidak mengikuti hasil sidang itsbat tersebut dengan alasan mereka telah memiliki metode penetapan sendiri. Karenanya, menjadi sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui metode-metode yang digunakan oleh para ulama dalam menetapkan awal bulan Romadlon.

Dalam menetapkan awal bulan Romadlon, ulama berbeda pendapat. Pertama, mayoritas ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa awal bulan Romadlon hanya bisa ditetapkan dengan menggunakan metode ru'yat (observasi/mengamati hilal) atau istikmal (menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Mereka ini berpegangan pada firman Allah SWT. dan Hadits Nabi SAW.

Baca Juga: Fardlu Wudlu'

Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 185:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 

“Maka barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan, maka hendaklah ia berpuasa (pada) nya.”

RasuluLlah SAW. bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhori, No. 1776).

Baca Juga: Inilah Ahlussunnah wal-Jama'ah atau Aswaja

Pada ayat dan hadits diatas, Allah SWT. dan Rasul-Nya mengaitkan kewajiban berpuasa dengan melihat hilal. Artinya, kewajiban berpuasa hanya bisa ditetapkan dengan melihat hilal atau menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. (Lihat: Muhammad Ali Ash-Shobuni, Rowa’il-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an, Damaskus: Maktabah Al-Ghozali, Juz 1980, hal. 210).

Kedua, sebagian ulama, meliputi Ibnu Suraij, Taqiyyuddin As-Subki, Mutharrif bin Abdullah dan Muhammad bin Muqatil, menyatakan bahwa awal puasa dapat ditetapkan dengan metode hisab (perhitungan untuk menentukan posisi hilal). Mereka ini berpedoman pada firman Allah SWT. dan hadits Nabi SAW.

Baca Juga: Bid'ah

Allah SWT. berfirman dalam surat Yunus ayat 5:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).”

RasuluLlah SAW. bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal (hilal Romadlon), maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal), maka berbukalah. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka perkirakanlah ia.”

Baca Juga: Inilah yang Membatalkan Wudlu'

Ayat diatas menerangkan bahwa tujuan penciptaan sinar matahari dan cahaya bulan serta penetapan tempat orbit keduanya adalah agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Artinya, Allah SWT. mensyariatkan kepada manusia agar menggunakan hisab dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriyyah. Sedangkan poin utama dari hadits diatas adalah kata Faqduruu lah. Menurut mereka, arti kata tersebut adalah perkirakanlah dengan menggunakan hitungan (hisab).

Dari kedua pendapat diatas, tampaknya pendapat kelompok pertama yang menyatakan bahwa awal Romadlon hanya bisa ditetapkan dengan ru'yat dan istikmal merupakan pendapat yang sangat kuat karena dalil-dalil yang mereka kemukakan sangat jelas dan tegas menyatakan hal tersebut. (Lihat: Mahmud Ahmad Abu Samrah, dkk., Al-Ahillah Baina Al-Falaq wa Al-Fiqh, Jurnal Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, Volume 12, Nomor 2, Halaman 241).

Baca Juga: Menjernihkan Hukum Tahun Baru Masehi

Akan tetapi, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang ilmu astronomi, peran hisab sangatlah urgent dalam mendukung hasil ru'yat. Apalagi, hisab yang didukung dengan alat modern memiliki akurasi yang sangat tinggi.

Dalam konteks negara Indonesia, terdapat beberapa kriteria penetapan awal Romadlon. Diantaranya, Pertama, imkanur ru'yat (visibilitas hilal). Imkanur Ru'yat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Kriteria ini mengharuskan hilal berada minimal 2 derajat diatas ufuk, sehingga memungkinkan untuk dilihat. Akan tetapi, adanya hilal belum teranggap, sampai hilal tersebut dapat dilihat dengan mata. Kriteria ini digunakan oleh NU sebagai pendukung proses pelaksanaan ru'yat yang berkualitas.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Kedua, wujudul hilal. Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan Romadlon dengan menggunakan dua prinsip: Ijtima' (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam, dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Jika kedua kriteria tersebut terpenuhi, maka pada petang hari tersebut dapat dinyatakan sebagai awal bulan. Kriteria ini digunakan oleh Muhammadiyah.

Ketiga, imkanur ru'yat MABIMS. Yaitu penentuan awal bulan Romadlon yang ditetapkan berdasarkan musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS). Menurut kriteria ini, awal bulan Hijriyyah terjadi jika saat matahari terbenam, ketinggian bulan diatas horison tidak kurang dari 2 derajat dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat. Dan ketika terbenam, usia bulan tidak kurang dari 8 jam setelah ijtima'/konjungsi.

Baca Juga: Hari Akhir

Keempat, Ru'yat Global. Yaitu kriteria penentuan awal bulan Romadlon yang menganut prinsip bahwa jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa. Kriteria ini digunakan sebagian muslim Indonesia dengan merujuk langsung pada negara Arab Saudi atau menggunakan hasil terlihatnya hilal dari negara lain.

Dengan adanya metode dan kriteria penetapan awal Romadlon yang sangat variatif ini, tidak mengherankan jika kemudian terjadi perbedaan dalam memulai puasa Romadlon. Hanya saja, penting kiranya untuk berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut mengingat bahwa amaliyah di bulan Romadlon dan lebaran di bulan Syawal merupakan syi’ar Islam dan momen kebahagiaan yang layaknya dilaksanakan dan dinikmati bersama-sama.

Baca Juga: Trans Gender Dalam Pandangan Syari'at Islam

Pemerintah melalui Kementerian Agama memiliki peran sentral dalam menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut, yaitu dengan menyelenggarakan sidang itsbat awal Romadlon yang didasarkan pada ru'yat, dan hisab sebagai pendukung. Keputusan itsbat bersifat mengikat dan berlaku bagi umat Islam secara nasional, sebagaimana kaidah fiqih:

حُكْمُ الحَاكِمِ يَرْفَعُ الخِلَافَ

“Keputusan hakim (Pemerintah) dapat menghilangkan perselisihan.”

Hanya saja, jika perbedaan penetapan awal Romadlon masih saja terjadi, maka prinsip toleransi sepatutnya tetap dikedepankan. Sebab, menjaga persatuan dan kerukunan umat merupakan perintah Allah SWT. yang wajib dilaksanakan. WaLlahu a’lam.[]




* Oleh: Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang. Tulisan ini berasal dari NU Online.
Read More

Pengajian Tiap Pekan, Tafsir Al-Ibriz Khatam Tujuh Belas Tahun


rumahnahdliyyin.com, Rembang - Setiap hari Jum'at, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, ada pengajian tafsir Al-Qur'an. Pengajian yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri itu membawakan salah satu kitab tafsir yang notabene merupakan karangan dari pendiri pondok pesantren tersebut, yaitu KH. Bisri Mustofa, yang berjudul Tafsir Al-Ibriz.

Pada Jum'at kemarin (11/05/2018), pengajian itu khatam setelah rutin digelar sepekan sekali selama 17 tahun berjalan. Khataman itu pun merupakan untuk yang kali keduanya selepas kewafatan sang penulisnya pada tahun 1977. Kiai Mustofa Bisri atau yang akrab disapa dengan Gus Mus yang notabene merupakan salah satu putra kiai Bisri Mustofa itupun mengampu pengajian kitab Tafsir Al-Ibriz ini sejak tahun 1978.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Selain pengampu pengajian, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hadir pula dalam kesempatan ini para masyayikh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan para kiai lainnya. Terlihat di bagian depan ada KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Syarofuddin Ismail Qoimas, KH. Makin Shoimuri, KH. Chazim Mabrur, KH. Chatib Mabrur, kiai Najib, serta para kiai lainnya.

Dalam khataman ini, ribuan orang dari berbagai daerah yang biasa turut mengaji setiap hari Jum'at itu tampak memadati area pondok pesantren. Selain itu, tampak hadir juga beberapa pejabat daerah seperti Kapolres Rembang, AKBP. Pungky Bhuana Santoso.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Ketua Panitia Khataman Kitab Al-Ibriz ini, Suyoto Zuhdi, mengatakan bahwa jama'ah yang mengikuti khataman ini diluar perkiraan.

“Membludak ini. Kita estimasikan tiga ribu hadirin, ternyata lebih,” katanya sebagaimana ditulis dilaman mataairradio.com.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Menurut Suyoto, selama 17 tahun mengaji kitab Al-Ibriz ini, terkadang sang pengampu, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, berhalangan juga.

“Kalau berhalangan, biasanya badal (wakil) ke kiai Syarof (KH. Syarofuddin Ismail Qoimas),” terangnya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk membaca do'a, para kiai pun silih berganti yang kemudian ditutup oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri. Dalam khataman ini, setiap jama'ah mendapat kenang-kenangan berupa buku yang berisi keutamaan dan adab membaca Al-Qur'an serta sejumlah amalan.

Setelah khataman ini, Suyoto mengaku belum mengetahui kapan kitab ini mulai dikaji kembali.

“Bila ngajinya sudah khatam, biasanya diulang dari awal,” ujarnya.[]


(Redaksi RN)
Read More

Masjid Jawa di Thailand


rumahnahdliyyin.com, Bangkok - Ketua Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis, dalam lawatannya ke negara-negara ASEAN mengatakan bahwa di Bangkok, Thailand, terdapat Masjid Jawa (Jawa Mosque) yang menjadi sarana syiar Islam bagi umat muslim setempat.

Seperti dikutip dari laman nu.or.id, pada Jum'at (11/05/2018), kawasan di sekitar Masjid Jawa itu dikenal dengan nama Soi Charoen Rat. Sedangkan letak persisnya berada di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok, Thailand. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh masyarakat Melayu dan keturunan orang Jawa yang merantau di sana.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Masjid Jawa didirikan diatas tanah Muhammad Saleh, seorang perantauan asal Rembang, Jawa Tengah, pada 1906. Mulanya, tanah tersebut merupakan tempat pengajian dan Yasinan yang kemudian diwaqofkan menjadi masjid dan tempat pendidikan.

Lebih lanjut, kiai Cholil menerangkan bahwa Masjid Jawa itu memiliki madrasah dengan jumlah siswa mencapai 200-an orang. Di masjid itu pula, pengajian Al-Qur’an digelar selama seminggu dengan jadwal untuk anak-anak pada hari Senin-Jum'at dan untuk dewasa tiap hari Minggu.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dalam kesempatan itu, kiai Cholil Nafis juga sempat bertemu dan berbincang dengan Zuhrah (putri H. Muhammad Saleh, pendiri Masjid Jawa) dan Ma’rifah (cucu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah) yang merupakan keturunan Jawa yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

Dengan mengutip hasil perbincangannya dengan Ma’rifah, kiai Cholil menceritakan bahwa bahasa Indonesia ternyata diajarkan secara rutin di Madrasah Masjid Jawa itu. Tujuannya yaitu untuk terus memelihara rasa cinta terhadap Indonesia. Kendati demikian, untuk pengantar pembelajarannya, bahasa yang digunakan acap kali campur antara bahasa Thailand, Indonesia dan Jawa.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, lanjut kiai Cholil, pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Masjid Jawa itu juga banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Disamping, tentu saja tetap memakai bahasa Thailand pula.

Selain arsitekturnya khas Jawa dengan warna bangunan hijau muda dan atap limasan berundak tiga, jika dilihat sepintas, Masjid Jawa itu seperti Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini.

“Tradisi khas Nusantara seperti beduk, pengajian dan sholawatan, bahkan juga tahlilan, juga ada di Masjid Jawa ini. Terlihat suasana masyarakat sekitar masjid seperti budaya Jawa,” jelas kiai Cholil.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Bangunan utama Masjid Jawa itu berbentuk segi empat dengan ukuran 12 x 12 meter dan dilengkapi dengan empat pilar ditengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, pada tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

“Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa,” cerita kiai Cholil.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Diluar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di bagian depan (mihrob), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi dengan tangga serta dua buah jam lonceng yang terbuat dari kayu di kanan dan kirinya.

Ada dua bangunan utama, yaitu masjid dan madrasah yang berbentuk rumah panggung dengan aneka deretan kursi dan meja dikolong rumah. Di seberang masjid, ada pemakaman Islam. Sedangkan di samping kiri masjid, terdapat prasasti peresmian masjid yang menggunakan bahasa Thailand.[]




(Redaksi RN)
Read More

KH. Sholih Qosim Dipanggil Kehadirat Allah SWT


rumahnahdliyyin.com - Innaa liLlaahi wainnaa ilaihi rooji'uun. Telah dipanggil kehadirat Allah SWT., KH. Sholih Qosim, pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Al-Islami, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur. Kiai kharismatik berusia 88 tahun ini dipanggil sekitar pukul 19.00 WIB. (10/05/2018) tadi dan insya Allah akan dikebumikan esok hari, yaitu Jum'at (11/05/2018) ba’da Sholat Jum'at.

Baca Juga: Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazah Pagar Nusa

Semua orang merasa terkejut atas kepergian kiai kelahiran Sidoarjo, tahun 1930 ini. Selain kegiatan sehari-hari beliau berjalan lancar, tidak ada keluhan dari beliau, bahkan beberapa hari lalu beliau masih kelihatan sehat dan energik ketika menghadiri acara Haul Sunan Ampel.

“Tidak ada keluhan sama sekali. Beliau tampak sehat, tidak gerah (sakit). Kegiatan beliau juga berjalan normal. Seperti yang kita saksikan, saat haul Mbah Sunan Ampel, beliau tampak energik bersama Mbah Maimun Zubair,” jelas Muhammad Bagus, santri kiai Sholih yang juga pegawai Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, sebagaimana dikutip dari duta.co, Kamis (10/5/2018).

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Ketua PCNU Batu, H. Achmad Budiono, juga hampir tak percaya mendengar kabar wafatnya kiai yang dikenal konsisten terhadap Khittah NU dan keteguhannya dalam membela dan menegakkan NKRI ini.

Innaa liLlaah! SubhaanaLlaah! Selesai acara Haul Mbah Sunan Ampel, beliau masih mendatangi pengajian di Malang bersama saya. Bahkan, ketika saya mohon perkenannya untuk menginap di Batu bersama Cak Anam (Drs. Choirul Anam, red.) beliau memilih pulang karena ada acara esoknya,” jelasnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai yang juga veteran perang ini sempat viral di media sosial. Penyebabnya yaitu ketika Presiden RI, Joko Widodo, mencium tangan beliau pada HUT ke-72 TNI. Kendati demikian, kiai Sholih dikenal "angker" dalam menerima bantuan pemerintah. Itulah yang membuat pejabat segan dengannya.

Diantara petuah beliau yang tampaknya perlu diketahui oleh umat Islam terkait hubungan antar agama dengan negara yang akhir-akhir menyedihkan yaitu “Kekuatan tentara adalah cermin dari kekuatan rakyat. Karena itu, umat Islam dengan TNI adalah satu napas, satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.”

Baca Juga: Politiknya Kiai

Akhirnya, semoga kita semua yang ditinggalkan pergi oleh kiai yang memiliki suara khas, intonasi dan aksentuasi suara yang begitu indah itu, mampu meneruskan perjuangan beliau. Untuk beliau, Al-Fatihah... []



(Redaksi RN)
Read More

Penutupan MTQ Papua Tekankan Pengamalan Islam Ramah Sesuai Al-Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Nabire - Senin malam (07/05/2018), pukul 20.00 WIT., halaman Masjid Al-Falah di Nabire sudah penuh oleh manusia. Mereka adalah para peserta Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua dan masyarakat sekitar, baik muslim maupun non-muslim, yang memang berkunjung untuk melihat.

Kali ini, MTQ memasuki acara puncak atau terakhir dari rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan oleh panitia. Sebagai pembukaan, acara diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba serta hasil Raker dan penetapan tuan rumah untuk penyelenggaraan MTQ tahun 2020 mendatang.

Dalam pengumuman lomba, tersebutlah tuan rumah, yakni Kabupaten Nabire, sebagai juara umum MTQ 2018 kali ini.


Baca Juga: Sambutan MTQ ke-27, Bupati Nabire Himbau Umat Islam Untuk Amalkan Al-Qur'an

Dalam sambutanya, ketua LPTQ Papua, M. Musa'ad, menyampaikan bahwa hakikat perlombaan LPTQ ini bukanlah soal juara saja. Namun, bagaimana setiap peserta lomba dan LPTQ daerah mengamalkan nilai-nilai yg terkandung dalam Al-Qur'an dan meyebarkan Islam yang rohmatan lil-'alamin, Islam yang moderat, ramah dan santun, serta senantiasa menjaga toleransi beragama di daerahnya masing masing.

"Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadi penyejuk ditengah-tengah lingkungan masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi

Sekda Provinsi Papua, Hery Dosinaen, yang juga memberikan sambutan, mengajak masyarakat muslim, non-muslim, tokoh adat, ormas dan tokoh agama di tanah Papua untuk saling bergandengan tangan demi kemajuan, perdamaian dan persatuan di tanah Papua.

"Kalo kita melihat di Papua, berbagai suku, ras dan agama, ada semua. Dan ini adalah kekuatan kita untuk terus kita jaga," ucapnya.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Lebih lanjut, Hery Dosinaen juga menyatakan bahwa contoh konkret hidup penuh toleransi adalah kehidupan di Papua. Maraknya aksi intoleransi akhir-akhir ini, kehidupan di Papua patut dicontoh oleh daerah lain.

"Disaat daerah lain lagi maraknya isu intoleransi yang berbau SARA, kita di Papua kalau mau melihat toleransi yg sebenarnya, lihatlah Papua. Dan dari tanah Papua, untuk Indonesia," tambahnya lagi.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


Dalam kesempatan ini, Pemerintah Provinsi Papua juga memberikan penganugerahan kepada Bupati Nabire, yaitu Isaias Douw, sebagai tokoh pluralisme di Papua. Penganugerahan ini diberikan karena Bupati Nabire dinilai telah berhasil mengayomi semua lapisan masyarakat yang majemuk dan beraneka ragam suku, ras dan agama yang berada di Kabupaten Nabire. Sekda pun mengajak seluruh kepala daerah untuk mengikuti torehan Isaias Douw ini.

MTQ yang telah berlangsung dari tanggal 2 hingga 7 April ini, dalam acara penutupannya ini dihadiri oleh Pemkab Nabire, Forkopinda, Ketua Ormas, Ketua Adat, pejabat Pemprov dan jajaran aparat keamanan dari Polri dan TNI.[]



(M. Taha)
Read More