Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Jum'at ini, 23 Maret 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bertemu dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP. Muhammadiyah) di Jakarta. Selain bersilaturrahmi, tentu saja ada banyak hal yang dibahas oleh kedua ormas terbesar di Indonesia ini.

Dikutip dari akun sosial medianya, Sekjen PBNU, Dr. Ir. Helmy Faishal Zaini mengungkapkan bahwa Ukhuwwah adalah modal besar bagi bangsa Indonesia untuk maju. NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk terus mengembangkan dakwah Islam yang sejuk, toleran dan damai. Menghargai dan menghormati keaneka ragaman suku, etnis, ras, agama dan golongan.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Bersatunya dua ormas terbesar di Indonesia ini sebenarnya cukup bisa menunjukkan bahwa tidak ada hal yang mengkhawatirkan terkait isu keagamaan dan terpecahnya NKRI sebagaimana isu yang berkembang di sosial media akhir-akhir ini. Sebab, jumlah kedua ormas ini bisa dibilang hampir seluruh muslim di Indonesia ini.

Kalaupun ada yang menebar isu Khilafah dan sentimen keagamaan yang lainnya, tentu saja pelakunya adalah golongan muslim minoritas di negeri ini. Atau bisa jadi golongan yang baru lahir di Bumi Pertiwi tercinta ini.

Baca Juga: Mengapa NU Tak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Pertemuan yang menandakan betapa harmonisnya hubungan antar organisasi Islam (ukhuwwah Islamiyyah) ini menegaskan beberapa hal sebagaimana dibawah ini:


PERNYATAAN BERSAMA PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA DAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Rasa syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah senantiasa menjaga sekaligus melindungi bangsa Indonesia. Atas berkah kasih sayang dan rahmat-Nya semata, kita semua, seluruh komponen bangsa Indonesia, masih bisa saling merasakan kedamaian hidup di Bumi Pertiwi tercinta kita: Indonesia.

Sholawat serta salam selalu kita haturkan ke hadirat Rasulullah Muhammad SAW. yang senantiasa membimbing dan memberikan teladan bagi kita semua.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Kami, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP. Muhammadiyah), sebagai bagian dari organisasi umat beragama, hari ini berkumpul tidak lain memiliki maksud dan tujuan untuk melakukan tiga hal: Pertama, terus menerus menyerukan saling tolong menolong melalui sedekah dan derma. Kedua, menegakkan kebaikan. Ketiga, mengupayakan rekonsiliasi atau perdamaian kemanusiaan.

Parameter dan ukuran sehatnya sebuah bangsa dan negara, salah satunya bisa dilihat dari tegak dan kokohnya tali persaudaraan kebangsaan, ekonomi yang tumbuh merata, akses pendidikan yang mudah, terbukanya ruang-ruang dalam menyampaikan pendapat, serta tegaknya hukum sebagai instrumen untuk meraih keadilan. Bangsa yang kuat dan sehat juga tercermin dari semakin berkualitas dan berdayanya masyarakat sipil. Berkaitan dengan hal tersebut, PBNU dan PP. Muhammadiyah menegaskan:

Pertama, NU dan Muhammadiyah akan senantiasa mengawal dan mengokohkan konsensus para pendiri bangsa bahwa Pancasila dan NKRI adalah bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah Negara yang memiliki keanekaragaman etnis, suku, golongan dan agama yang tetap harus dijaga dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Kedua, NU dan Muhammadiyah secara pro-aktif terus melakukan ikhtiar-ikhtiar bagi peningkatan taraf hidup dan kualitas hidup warga. Terutama mengembangkan pendidikan karakter yang mengedepankan akhlaqul-karimah di semua tingkatan atau jenjang pendidikan serta penguatan basis-basis ekonomi keumatan dan juga peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Ketiga, NU dan Muhammadiyah menyeru kepada pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran serta melakukan upaya-upaya yang terukur agar kesenjangan ekonomi dan sosial segera teratasi dengan baik.

Keempat, mengimbau kepada seluruh warga NU dan Muhammadiyah agar bersama-sama membangun iklim yang kondusif, suasana yang kondusif dalam kehidupan kemasyarakatan dan keberagamaan ditengah era sosial media yang membutuhkan kehatian-hatian yang lebih. Mengingat bertebarannya pelbagai macam informasi hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang berpotensi mengganggu keutuhan bangsa, NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk menghadirkan narasi yang mencerahkan melalui ikhtiar-ikhtiar dalam bentuk penguatan dan peningkatan literasi digital sehingga terwujud masyarakat informatif yang ber-akhlaqul-karimah.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Kelima, memasuki tahun 2018, dimana kita akan menghadapi apa yang diistilahkan sebagai "tahun politik", maka marilah kita bersama-sama menjadikan ajang demokrasi sebagai bagian dari cara kita sebagai bangsa untuk melakukan perubahan-perubahan yang berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hendaknya dalam demokrasi, perbedaan jangan sampai menjadi sumber perpecahan. Perbedaan harus dijadikan sebagai rahmat yang menopang harmoni kehidupan yang beraneka ragam. Karena demokrasi tidak sekedar membutuhkan kerelaan hati menerima adanya perbedaan pendapat dan perbedaan pikiran, namun demokrasi juga membutuhkan kesabaran, ketelitian dan cinta kasih antar sesama.


Jakarta, 23 Maret 2018/ 5 Rajab 1439 H.


والسّــــــــــــلام عليكم ورحمة الله وبركاته




Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. ​​
Ketua Umum PBNU


Dr. H. Haedar Nashir
Ketua Umum PP. Muhammadiyah

[]
(Redaksi RN)
Read More

Wakili Indonesia, Abdul Faqih Alhafidz Juara I Musabaqoh Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Penyelenggaraan Musabaqoh Hafalan Al-Qur'an dan Hadits (MHQH) Tingkat Asean-Pasifik ke-10 tahun 2018 ini, sudah selesai. Kegiatan tahunan yang kali ini diikuti oleh 84 orang dari negara-negara yang berada di kawasan Asean dan Pasifik ini telah menempatkan Indonesia, yaitu Muhammad Abdul Faqih sebagai juara I pada kategori hafalan 30 juz. Pemuda asal Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang ini mengaku tidak menyangka dirinya akan meraih juara I.

“Alhamdulillah, saya tidak menyangka dapat juara I pada perlombaan MHQH ini,” kata Faqih usai menerima piagam penghargaan yang diserahkan oleh Pangeran Khalid bin Sultan bin Abdul Aziz bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, di Jakarta, Kamis malam, 22 Maret 2018.

Baca Juga: Menag: Islam Damai, Tanggung Jawab Indonesia

Anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Muhamad Rifai dan Sri Purwanti ini bercerita bahwa dirinya sudah menghafal Al-Qur'an sejak berusia delapan tahun. Dan pada umur sebelas tahun, ia sudah menghafal 30 Juz.

Selain itu, Abdul Faqih juga berkisah bahwa sejak tamat Sekolah Dasar (SD), ia langsung melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah di Ponpes Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur. Dan sejak 2014 hingga sekarang, ia sedang belajar di Ma’had Aly Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta dengan mengambil jurusan Tafsir Hadits.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Torehan prestasi Alhafidz Muhammad Abdul Faqih ini, sudah mulai diukirnya sejak tahun 2015. Saat itu, Faqih mewakili Kabupaten Semarang dalam mengikuti seleksi di tingkat Propinsi Jawa Tengah dan berhasil menjadi juara I. Keberhasilan ini akhirnya membawanya mewakili Jawa Tengah pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXVI Tingkat Nasional di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juli 2016 dan berhasil merebut juara II.

Selanjutnya, pada tahun 2017 lalu, Faqih juga mewakili Kota Semarang pada ajang Musabaqah Hifdzil Qur'an (MHQ) ditingkat Internasional di Masjidil Haram yang digelar di kompleks Baitullah, Arab Saudi. Dia pun berhasil meraih juara kendati hanya juara III.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Berikut ini daftar selengkapnya nama-nama pemenang MHQH 2018 ini:

Hafalan Alquran 30 Juz
  • Juara I: Muhammad Abdul Faqih (Indonesia).
  • Juara II: Amir Sina Nuqsi (Bosnia).
  • Juara III: Ahid Abdussomad Ismail (Filipina).

Hafalan Alquran 20 Juz
  • Juara I: Muhammad Zulfikar Mahmud Zani (Malaysia).
  • Juara II: Faisal Ismail Malaku ((Filipina).
  • Juara III: Muhammad Syuqur (Filipina).

Hafalan Alquran 15 Juz
  • Juara I: Muhammad Syahid Ahmad Ismail (Filipina).
  • Juara II: Mudroni (Indonesia).
  • Juara III: Ali Mamalina Sandiqon (Filipina).

Hafalan Alquran 10 Juz
  • Juara I: Ahmad Luqman Amidzaini (Malaysia).
  • Juara II: Husaini Muhtadi (Indonesia).
  • Juara III: Muhammad Husein Efendi (Indonesia).

Hafalan Hadits
  • Juara I: Muhammad Idzhar (Indonesia)
  • Juara II: Mubarok Ibnu Ali Akbar (Indonesia).
  • Juara III: Muhammad Kamil Hakimin (Indonesia).[]



(Redaksi RN)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Kamis, 22 Maret 2018, bertempat di Istana Negara, Jakarta, Presiden Joko Widodo bersilaturrahmi dengan para peserta Musabaqoh Hafalan Al-Qur'an dan Hadits (MHQH) Pangeran Sulthan bin Abdul Aziz Alu Su'ud Tingkat Asean dan Pasifik ke-10. Lomba ini sendiri sudah berlangsung sejak tanggal 20 lusa kemarin di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Selain peserta dan dewan hakim, hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Pangeran Khaled bin Sulthan bin Abdul Aziz Alu Su’ud, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia (Syeikh Osama bin Mohammed Abdullah Al-Shuaibi), dan para Duta Besar serta perwakilan para negara sahabat.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pelaksanaan musabaqoh, menurut Presiden, hendaknya tidak hanya dipandang sebagai pelaksanaan acara biasa. Sebab, musabaqoh adalah wahana untuk memacu pengembangan tilawah, hafalan serta pendalaman isi Al-Qur'an.

"Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengingat bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada kita untuk menjadi pedoman. Pedoman yang harus kita baca, kita pahami, kita hayati dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menempuh jalan yang diridloi Allah. Jalan yang penuh cinta damai, saling tolong menolong dan penuh persatuan," kata Presiden Jokowi.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Karena itu, Presiden juga mengingatkan kepada seluruh qori'/qori'ah, hafidz/hafidzoh, mufassir/mufassiroh supaya terus mensyiarkan dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an ketika berada diluar acara ini.

"Kita semua harus membangun kemanusiaan yang adil yang beradab, tidak membentak anak yatim, peduli pada fakir miskin, cinta saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, serta menyayangi seluruh kehidupan di bumi Allah ini. Supaya seluruh Indonesia, seluruh Asia, dan seluruh dunia benar-benar melihat dan merasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil-'alamin," lanjutnya.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Menurut Presiden, Indonesia sekarang ini terus menjadi panutan banyak negara dalam mengelola kemajemukan. Indonesia memiliki 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa daerah. Kendati demikian, rakyat Indonesia tetap bisa rukun dan bersatu. Oleh karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk menularkan kerukunan yang ada di Indonesia ini ke berbagai negara di seluruh dunia.

"Kita harus menularkan pengalaman berharga umat Islam Indonesia kepada dunia dalam menjaga kerukunan, dalam menjaga persatuan, dalam menjaga perdamaian di bumi Allah SWT," demikian pesan Presiden yang dalam kesempatan ini didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara (Pratikno), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Kepala Staf Kepresidenan (Moeldoko).

Dalam penutup sambutannya, Presiden mengatakan agar setiap acara musabaqoh Al-Qur'an dan Hadits ini ada jejak dan manfaatnya dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Selain itu, Presiden juga berpesan agar umat Islam tidak mudah terjebak fitnah dan hasutan kebencian.[]
(Redaksi RN)

* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Isi Kepala Pemeluk Agama


rumahnahdliyyin.com - Pagi tadi, ada salah seorang teman di Jawa yang bertanya melalui WA mengenai berita tentang sikap Gereja di Jayapura terkait pembangunan menara masjid Al-Aqsha di Sentani. Setelah mengirimi saya gambar surat yang berkop Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Jayapura (PGGJ), ia menanyakan kebenarannya. Secara spontan, saya mengatakan bahwa saya tidak tahu. Sebaliknya, saya justru menyuruhnya agar bertanya mengenai kebenaran itu pada yang mengiriminya gambar itu.

Sengaja memang saya menjawab demikian. Saya sendiri sebenarnya sudah mengetahuinya sejak Sabtu lalu pada dini hari. Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mau hal ini akan menjadi sesuatu yang heboh kemudian. Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, perkembangan di jagad maya kita akhir-akhir ini sungguh melelahkan karena isu-isu sentimen keagamaan. Dan hal ini sungguh menggoncang persatuan bangsa ini yang kaya akan agama beserta sektenya. Jadi, saya memutuskan untuk memilih diam dalam soal-soal yang beginian.

Baca Juga:
Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua
Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua

Sekarang, mending kita lihat poto ini. Poto ini saya peroleh dari seseorang di Sorong sini. Katanya, lokasinya berada di pulau Kasim, Distrik Seget, Kabupaten Sorong sini, Papua Barat. Dan janjinya yang berkali-kali akan mengajak saya pergi kesana, belum ditepatinya juga. Terlebih kalau mengamati kesibukannya akhir-akhir ini, sepertinya janji itu akan menguap begitu saja.

Melihat gambar dalam potret ini, apa yang secara spontan terlintas di pikiran kita? Kalau saya sendiri, biasa saja. Tak ada yang mengherankan. Sebab, selama masih di pesantren dulu, pondok saya sendiri berada persis di depan rumah seorang pendeta. Memang hanya rumah, bukan gereja. Namun, tidak jarang di rumah itu ada kegiatan Gerejawi yang entah apa namanya. Seperti ada menyanyi-nyanyi rohani kalau didengarkan dengan seksama.

Baca Juga:
Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq
Imam Sibawaih-nya Papua

Jadi, melihat bangunan Gereja yang hampir berdempetan dengan masjid seperti dalam poto di atas, bukanlah sesuatu yang mengherankan bagi saya. Terlebih, di waktu yang berbarengan dengan itu, saya terkadang sharing dengan teman non-muslim saya. Yaitu salah seorang teman SMA yang kebetulan tempat duduknya ada dibelakang saya ketika di kelas satu dulu. Bahkan sampai sempat-sempatnya saya dibawakan Al-Kitab ke sekolah dan diperlihatkannya. Kita pun tetap rukun dan masih berteman hingga sekarang.

Sewaktu di Jayapura, waktu itu sedang perjalanan ke Asmat sebenarnya, tempat saya bermalam adalah hotel milik seorang non-muslim. Hampir seminggu disana, gratis. Tak sepeserpun uang keluar lantaran si empunya hotel sangat menghormati Almaghfurlah Gus Dur.

Baca Juga:
Jubir HTI Bungkam
UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI
Dan menariknya lagi di hotel ini, yaitu waktu saya ngobrol dengan salah seorang karyawannya. Kira-kira jam dua siang waktu itu, kami ngobrol sangat akrab kendati baru saja saling mengenal. Ia menceritakan bagaimana pengalamannya sewaktu liburan ke Jawa. Keceriaannya ketika bercerita tidak bisa disembunyikan.

"Saya senang itu kalau naik bis," ceritanya. "Ada pengamen yang menghibur kita. Disini kan trada," lanjutnya.

Beberapa saat kemudian, ia pun berkata, "Oh, sudah waktunya ibadah ini. Silakan ibadah dulu," katanya ketika mendengar kumandang adzan sholat 'Ashar.

Kalimatnya terakhir barusan inilah yang bagi saya sangat menarik. Sebagai pria asli Papua yang non-muslim, ia mempersilakan pada saya yang Jawa-muslim untuk beribadah ketika waktu sholat tiba.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Dan ada satu pengalaman lagi yang mungkin patut saya ceritakan di kesempatan ini. Kali ini sewaktu di Asmat. Di kota rawa ini saya punya kenalan yang cukup akrab yang kebetulan seorang non-muslim asli Papua. Setelah beberapa hari tidak bertemu, begitu bertemu dengan saya, ia pun langsung memberi tahu pada saya bahwa puteranya telah meninggal dunia. Saya pun menyampaikan keturut-dukaan saya padanya.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba dia kembali ke soal kematian anaknya dengan bertanya pada saya, "bapak tahu tidak, kenapa saya punya anak meninggal?"

"Mungkin infeksi kakinya itu," respon saya demikian karena sebelumnya memang anaknya ini terkena pecahan kaca di telapak kakinya.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

"Ah...bukan. Dia itu kena suwanggi."

Suwanggi adalah sejenis santet kalau di Jawa. Bisa juga untuk penyebutan pada hantu. Dari teman saya yang asli Papua inilah saya pertama kali mendengar dan mengetahui istilah ini.

Dia pun bercerita lebih lanjut bahwa sebenarnya yang dituju suwanggi bukanlah anaknya, melainkan dia. Tapi tak tahu mengapa malah yang terkena anaknya. Dan ketika menyampaikan hal ini, teman saya ini pun menyatakan masih merasa takut bila sewaktu-waktu suwanggi mendatanginya.

Menanggapi hal ini, lantas saya pun mencoba menghiburnya. Saya katakan padanya bahwa saya punya ilmu agar dia bisa terhindar dari suwanggi tersebut. Dengan penuh semangat, ia pun ingin mempelajari ilmu itu. Tapi saya sampaikan lagi kalau dirinya tidak akan mampu. Karena sangat berat syaratnya. Tidak mungkin dia bisa.

Baca Juga: Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam

Kendati demikian, ia pun masih tetap ngotot mendesak saya agar mengajarinya. Dengan sedikit becanda, saya pun mengatakan bahwa ia harus mengucapkan "laa ilaaha illaLlaah , Muhammadur-rosuuluLlaah" bila ingin mempelajari ilmu itu.

"Ah... bapak ini. Itukan kalimat umat muslim," katanya yang diikuti dengan tawa. Kita pun akhirnya tertawa bersama. Tak ada rasa tersinggung. Apalagi marah.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kalau tadi adalah cerita tentang penganut Nasrani, kini saya akan bercerita tentang tokoh agamanya.

Baru-baru ini, kebetulan saya bertemu dengan salah satu tokoh Nasrani. Namanya tak tahu. Begitu melihat rombongan saya, dengan arogannya ia mencecar banyak pertanyaan. Termasuk tujuan datang, sudah ijin atau belum, dan banyak lagi. Padahal, masyarakat yang saya kunjungi sangat welcome. Dan ia sendiri bukanlah masyarakat situ. Hanya tokoh agama di situ meskipun pada waktu itu ia tidak mengakuinya pada rombongan saya.

Dari bisik-bisik orang, belakangan saya baru tahu kalau karakternya memang demikian. Bahkan, ada yang becanda mungkin ia takut kalau "domba-domba"nya hilang.

Baca Juga: Asmat; Kota Terapi Syukur

Beda lagi dengan tokoh agama Nasrani yang lain. Sekarang ini, ada NU di salah satu daerah di Papua ini yang sudah punya lahan. Kendati demikian, belum mampu untuk memulai pembangunan. Rencananya, diatas lahan itu mau didirikan Asrama.

Kok, asrama? Ya, asrama. Awalnya memang mau didirikan Pondok Pesantren. Karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka dirubahlah rencana dari Pondok Pesantren ke Asrama. Walau asrama, tak apa. Dalam kenyataan yang terjadi nanti, bisa dijalankan sistem Pondok Pesantren.

Tahukah siapa yang mengusulkan, bahkan mendorong, berdirinya asrama ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu tokoh agama Nasrani setempat.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari beberapa cerita nyata ini, saya kira kita semua jadi teringat terhadap pepatah yang mengatakan, "beda kepala, beda isi."

Tak usah ke agama sebelah, di agama kita saja banyak yang isi kepalanya berbeda. Ada yang hobi demo, ada yang hobi ngaji. Ada yang suka main pedang-pedangan, ada juga yang lebih suka ngopi bareng. Ada yang senang teriak-teriak takbir, ada juga yang lebih demen sholawatan. Dan banyak lagi.

Jadi, soal PGGJ dan menara masjid Al-Aqsha di Sentani itu, menurut saya yang kebetulan sempat bersentuhan dengan Nashoro di Papua ini, tak lebih hanya soal beda isi kepala sebagaimana berbedanya isi kepala di agama Islam kita. Jadi, jangan lantas digebyah-uyah kalau semua Nasrani di Papua ini kepalanya berisi sama. WAllahu a'lam.

Akhirnya, semoga teman saya yang berjanji akan mengajak saya main ke daerah dimana poto ini diambil, tidak lupa janjinya. Dan semoga terlaksana. Amin.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq


rumahnahdliyyin.com - Zaman dahulu, ulama sering "bertengkar". Yang ahli Tasawwuf, menilai ulama Fiqh jauh dari Tuhan. Karena hanya mempelari “kulit” dan mencampakkan "isi", sibuk dengan prosedur ibadah dan lupa dengan tujuannya, dan seterusnya.

Sementara ulama Fiqh, menyebut kaum sufi sesat. Karena terkesan "menyepelekan" tata-cara ibadah. Cara beribadah mereka dinilai jauh dari tuntunan agama.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Pertengkaran kedua kelompok ini, keras sekali. Kadang satu kelompok meminjam tangan kekuasaan untuk “memenangkan” pandangan mereka. Seperti Al-Hallaj, yang dihukum mati khalifah atas saran ulama ahli Fiqh karena dinilai sesat. Atau kitab Ihya’ Ulumuddin yang dibakar penguasa karena dianggap mengajarkan kesesatan.

Perbedaan atau “pertengkaran” intelektual, sebenarnya hal biasa. Akan terus terjadi dan sudah berulang kali terjadi sejak dulu kala. Perdebatan itu akan menjadi rahmat jika didasari sikap saling menghormati, seperti yang ditunjukkan oleh empat Imam Madzhab. Tapi, akan menjadi tragedi saat dilandasi sifat iri dengki. Apalagi jika melibatkan instrumen kekerasan.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Perbedaan pendapat yang tajam tapi terbingkai dengab akhlaq indah, telah diperagakan oleh almarhum al-maghfurlah KH. Misbah Mustofa (adik KH. Bisri Mustofa), paman KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), yang tinggal di Bangilan, Tuban. Beliau mengkritik keras kebijakan Ketua Umum PBNU waktu itu, yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menetapkan Khittah NU di Muktamar Situbondo 1984. Kiai Misbah tidak setuju NU keluar dari partai politik. Bagi beliau, NU harus tetap di PPP.

Tak hanya itu, Mbah Misbah juga menolak program NU yang ingin mendirikan perbankan. Penolakan itu tentu saja didasari argumentasi fiqh dan argumentasi-argumentasi lainnya. Namun, ketika Gus Dur “dikuyo-kuyo” oleh pemerintah Orde Baru pada Muktamar Cipasung 1994, kiai Misbah membelanya.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Gus Mus, sang keponakan, karena keheranan pun bertanya, mengapa pamannya yang langganan mengkritik Gus Dur itu tiba-tiba tampil membelanya.

Dengan nada khas, beliau menjawab, ”Koen iku gak ngerti urusan (kamu itu tak tahu persoalan). Kalau aku berbeda pendapat itu, kan boleh-boleh saja. Tapi kalau dia (Gus Dur) diganggu, ya harus dibela. Karena dia pimpinan NU.”

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Cerita ini mengingatkan saya pada kisah empat Imam Madzhab yang keras berbeda pendapat tapi saling tawadlu’. Juga kisah Soekarno yang selalu “berseteru” dengan Buya Hamka tapi berwasiat agar jika dia mati kelak, Buya yang diminta menyolati.

Untuk beliau berdua, Mbah Misbah dan Gus Dur, lahumal-Fatihah...[]


* Oleh: Abdul Arif.
Read More

Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks


rumahnahdliyyin.com - Pada tahun 1978, atau sekitar tahun itu, beredar kabar bohong alias hoax di Solo bahwa KH. Ahmad Umar bin Abdul Mannan telah membid’ahkan penggunaan bedug di masjid. Isu itu juga disertai pernyataan bahwa bagi siapa saja yang tidak mempercayainya dipersilakan datang ke Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan untuk membuktikan kebenarannya.

Di Masjid Al-Muayyad, sejak awal didirikan, memang tidak ada bedug. Yang ada hanyalah sebuah kenthongan. Kenthongan itulah yang digunakan untuk menandai telah tibanya waktu sholat Fardhu, atau iqomah yang akan segera dilakukan. Hal ini berbeda dengan di Masjid Tegalsari Surakarta yang dijadikan sebagai masjid Jami’ dan di Masjid Agung Surakarta. Selain terdapat kenthongan, dikedua masjid tersebut juga ada bedug. Ketiadaan bedug di Mangkuyudan inilah yang ternyata dijadikan dalil oleh penyebar hoax bahwa Mbah kiai Umar tidak kerso dengan bedug lantaran bid’ah.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Mendengar isu itu, Mbah kiai Umar tidak mengundang wartawan untuk Konferensi Pers, atau melakukan press release ke berbagai media, atau pula melakukan sumpah di depan publik untuk melakukan penyangkalan. Hal yang segera dilakukan oleh Mbah kiai Umar adalah melakukan tindakan nyata dengan membeli sebuah bedug yang berukuran cukup besar yang kemudian ditempatkan di masjid.

Sejak itu, setiap hari, suara bedug terdengar menggelegar di mana-mana di sekitar Pondok Pesantren Al-Muayyad yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Pondok Mangkuyudan. Keberadaan bedug beserta suaranya yang cukup keras itu merupakan jawaban empiris dari Mbah kiai Umar atas hoax yang menimpa beliau.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur, Perintis Pondok Pesantren Langitan

Dengan jawaban empiris berupa bedug di masjid tersebut, Mbah kiai Umar berharap supaya masyarakat bisa kritis dalam menyikapi hoax atau isu bid'ah dengan cara meragukannya dan bukan langsung mempercayainya, kemudian membuktikan hal yang sebenarnya guna memperoleh kebenaran yang meyakinkan bahwa Mbah kiai Umar tidak membid’ahkan bedug.

Cara Mbah kiai Umar dalam merespon hoax seperti itu sejalan dengan metode keraguan (syak minhaji) yang telah diperkenalkan oleh Imam Al-Ghazali sebagaimana dapat ditemukan dalam risalah beliau yang berjudul Al-Munqidz minadl-Dlolal (Pembebas dari Kesesatan) yang telah ditulis pada sekitar tahun 1097 M.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Metode keraguan Imam Al-Ghazali dalam risalah itu, pada intinya yaitu merekomendasikan agar kita bersikap ragu, tidak membenarkan dan meyakini begitu saja anggapan-anggapan, dugaan-dugaan, atau bahkan apa yang telah ditangkap oleh indera. Contohnya seperti ketika kita mendengar suatu berita atau melihat sesuatu sebelum kita melakukan pembuktian. Tentu saja metode ini berkaitan dengan hal-hal diluar masalah keimanan.

Bagaimanapun, meragukan adalah sikap tengah-tengah atau moderat. Ia berada diantara dua sikap yang saling bertolak belakang, yakni antara percaya dan mengingkarinya. Karena posisinya ditengah, maka tidak sulit untuk beralih ke posisi mempercayai atau mengingkari setelah ada dalil-dalil atau bukti-bukti yang valid.

Untuk beliau, KH. Ahmad Umar bin Abdul Mannan, Al-Fatihah... []


* Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
Read More

Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Setelah kepengurusan PCNU di Kabupaten Paniai terbentuk secara resmi, pada awalnya, kepengurusan ini belum bisa berjalan dengan baik. Banyak kegiatan-kegiatan yang sifatnya keagamaan dan rapat-rapat, selalu menggandeng pengurus masjid setempat. Bukan apa-apa. Sebab, PCNU yang masih bau kencur ini belum mempunyai tempat Sekretariat dan gedung sendiri. Selain itu, para pengurus NU juga masih banyak yang belum mengetahui tentang NU secara mendalam.

Pada tahun 2014, setelah kepengurusan berjalan kira-kira empat bulanan, pengurus NU pun mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah ini, pengurus NU membahas keinginannya yang kuat untuk mencari dan membeli tanah yang nantinya akan dijadikan sebagai Sekretariat sekaligus lokasi pendidikannya.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua

Mengingat pendidikan yang dikelola oleh pengurus NU selama ini (Madin dan TPQ) masih meminjam serambi Masjid Al-Mubarok, dengan alasan tersebut, akhirnya disepakatilah untuk mencari informasi tanah yang dijual sembari mempersiapkan dananya.

Dalam kesempatan ini pula, PCNU mendiskusikan keinginannya untuk melebarkan sayapnya agar NU di Paniai bisa berkembang. Dan salah satu strategi yang disepakati adalah melalui jalur pendidikan. Walhasil, dibentuklah LP. Ma’arif dan BP2 Ma’arif. Dan Madrasah Diniyyah yang sedari awal namanya Al-Mubarok, pun akhirnya dirubah menjadi Madrasah Diniyyah Ma’arif NU.

Diujung tahun 2014, PCNU yang masih sangat muda ini pun berkesempatan untuk pertama kalinya memenuhi undangan dalam Muktamar NU di Jombang. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan. Sebelum acara Muktamar, mereka mengagendakan untuk bersilaturrahmi sekaligus meminta do’a restu kepada PBNU di Jakarta agar PCNU Paniai dapat mengemban tugasnya dengan lancar serta mampu mewujudkan cita-citanya saat itu, yaitu memiliki Sekretariat dan gedung pendidikan.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Lambat laun, dengan perjuangan dan kerja keras serta do’a dari pengurus NU, guru Madrasah serta santri yang belajar, ditambah lagi dukungan dari para tokoh dan wali santri, akhirnya pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Shofar 1437 H., PCNU mendapatkan angin segar. Yaitu ada seseorang yang menawarkan tanah kepada pengurus NU.

Mengingat membeli tanah di Paniai sangatlah tidak mudah, peluang dan kesempatan tersebut akhirnya ditindak lanjuti dengan serius. Dengan mengadakan musyawarah dan masukan dari para tokoh setempat, dibahaslah soal pembelian tanah tersebut. Dengan bermodal dana kas yang pas-pasan, akhirnya kekurangan tersebut bisa terlunasi dengan penggalangan dana. AlhamduliLlâh, akhirnya tanah tersebut berhasil dimiliki oleh PCNU yang lokasinya sekarang ini berada di Kampung Nunubado, Distrik Eikaitadi, Paniai Timur.

Hingga saat ini, dilokasi tanah tersebut pun sudah berdiri dua bangunan gedung yang difungsikan sebagai tempat pendidikan Madrasah Diniyyah, TPQ dan Madrasah Ibtidaiyyah Ma’arif NU Paniai.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di jawa

Kepengurusan PCNU Paniai pun saat ini sudah berjalan dengan cukup baik. Diantara kegiatannya yang rutin setiap bulannya yaitu Khotmil Qur'an bin-Nadhor yang bertempat di Madrasah Ma'arif NU Paniai. Tentu saja ada juga diskusi dalam kegiatan ini yang membahas tentang perkembangan umat Islam terkini dan ke-NU-an. Selain itu, ditiap hari-hari besar Islam pun, semisal Maulid Nabi SAW., PCNU Paniai juga tak pernah ketinggalan untuk memperingatinya.

Dengan adanya PCNU di Kabupaten Paniai ini, semoga akan membawa manfaat bagi warga Paniai pada umumnya dan bagi umat Islam pada khususnya. Serta Syiar Islam pun semoga bisa semakin berkembang mengingat organisasi ini yang senantiasa mencerminkan Islam yang ramah bagi siapa dan apa saja (rohmatan lil'alamin).

Meskipun saat ini kepengurusan PCNU Paniai sudah berjalan dengan cukup baik, kendati demikian, sebagai Ormas yang tergolong masih baru, tentu saja masih membutuhkan bimbingan dan arahan dari kepengurusan yang berada ditingkat atasnya, dalam hal ini yaitu PWNU Papua ataupun PBNU. Dan semoga semua pengurus PCNU Kab. Paniai ini senantiasa diberikan kesehatan dan keistiqomahan. Amin.[]


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU Paniai
Read More

Menag: Islam Damai Tanggung Jawab Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Senin, 19 Maret 2018, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, bertemu dengan 21 Duta Besar negara anggota Uni Eropa di Intiland Tower, Jakarta. Pertemuan yang dipimpin oleh Vincent Guerend ini berlangsung selama dua jam dengan hangat. Banyak isu yang dibahas. Diantaranya adalah rencana Pemerintah Indonesia yang ingin mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

"Kenapa Indonesia saat ini sangat konsen mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), perguruan tinggi berskala dunia?" kata Lukman Hakim mengawali penjelasannya itu.

Baca Juga: Di Depan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

"Karena sebagai wujud tangung jawab dan kepedulian kami, bagaimana agar Islam yang berkembang di dunia haruslah Islam yang senantiasa menebarkan kedamaian," tuturnya.

"Dimana dengan agama, orang bisa hidup saling menyayangi satu dengan yang lain. Dan bukan dengan agama, kita hidup berpisah-pisah. Pemahaman inilah yang harus ditumbuhkan lewat perguruan tinggi," jelas Lukman Hakim.

Baca Juga: Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam

Menurut Menag, dalam rencananya, UIII akan diisi oleh para guru besar terbaik di dunia. Dan sebagian besar atau 75 persen mahasiswanya berasal dari negara di seluruh penjuru dunia.

"Perguruan tinggi ini hanya S2 dan jumlah mahasiswa WNI tidak lebih dari 25 persen. Harapan kami, setelah menyelesaikan program doktoralnya, mereka bisa kembali ke negara masing-masing untuk menebarkan Islam yang moderat," sambung Menag.

Ditambahkan Menag, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (87%), Indonesia merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara nilai-nilai Islam yang betul-betul memanusiakan manusia.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

"Makanya, kami di Kementerian Agama selalu mengusung moderasi agama, yaitu lawan dari ekstrim. Ekstrim itu yang memahami agama dengan tekstualis. Juga ada yang begitu bebas menggunakan nalar akar pikiran sehingga mengabaikan teks," tegas Menag.

Dalam pertemuan dialog dengan para duta besar negara Uni Eropa ini dibantu oleh Sworn Translator Mariana Warokka.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

Di Depan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia



rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Senin, 19 Maret 2018, bertemu dengan 21 Duta Besar negara anggota Uni Eropa di Intiland Tower, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung hangat selama dua jam ini mendiskusikan berbagai isu di Indonesia. Silih berganti, para Dubes ini mengajukan pertanyaan kepada Menag. Mulai dari Dubes Belgia, Italia, Jerman, Portugal, Belanda, Rumania, Hongaria, Rusia, hingga Finlandia.

Dipimpin Vincent Guerend, silih berganti para Dubes ini menanyakan peran Kementerian Agama, Pancasila, kerukunan umat beragama, perlindungan anak dan perempuan, cadar, politik pilkada DKI, wacana pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), hingga hukum Syari'at di Propinsi Aceh.

"Saya merasa bersyukur dan terhormat menerima undangan dari Duta Besar Uni Eropa untuk bisa hadir di sini dan berdialog. Terima kasih atas kehormatan ini," kata Lukman Hakim ketika memulai pertemuan.

Baca Juga:
Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Menag juga menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang cukup unik. Indonesia bukan negara agama layaknya Saudi Arabia, Pakistan dan Vatikan, dimana antara agama dan negara menjadi satu. Namun demikian, Indonesia juga bukan negara sekuler yang secara tegas memisahkan relasi antara negara dan agama.

"Indonesia meletakan agama pada posisi yang begitu istimewa dan khusus. Karena nilai-nilai agama tidak dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia yang religius dan agamis," ujar Menag.

Ditambahkan Menag, Indonesia yang saat ini menduduki ranking keempat jumlah populasi terbesar di dunia dengan keragaman dan kemajemukannya, disatukan tidak hanya oleh nilai-nilai kebangsaan, namun juga oleh nilai agama.

Baca Juga:
Pancasila dan Piagam Jakarta Pemersatu Indonesia
Jubir HTI Bungkam

"Itulah kenapa Kementerian Agama hadir tidak sampai lima bulan sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Itu adalah untuk menjamin kemerdekaan rakyatnya memeluk agama dan menjalankan ajaran agama bagi pemeluknya. Sebab, agama menduduki posisi yang sangat penting," tegas Menag.

Menurut Menag, misi utama Kementerian Agama adalah untuk memfasilitasi dan menyediakan kebutuhan setiap warga negara dalam menjalankan ajaran agama. Sehingga, umat beragama tetap bisa hidup penuh toleransi dan kerukunan umat beragama tetap terjaga dan terpelihara.

Dialog dengan para duta besar negara Uni Eropa ini dibantu oleh Sworn Translator Mariana Warokka.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Sebelum melangkah lebih jauh tentang NU di Paniai, penulis ingin sedikit memberikan deskripsi singkat tentang kondisi geografi dan corak masyarakat di Kabupaten Paniai.

Begini, Kabupaten Paniai merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Papua yang berada di pegunungan tengah Papua. Atau, tepatnya di pedalaman Papua yang berjarak sekitar 300 km. dari daerah Nabire.

Dalam hal beragama, penduduk Kabupaten Paniai memeluk agama yang beragam, mulai dari Kristen, Katolik, Islam, Hindu dan agama yang lainnya. Begitu pula untuk suku, ras dan budaya. Ada Papua, Jawa, Buton, Batak, Bugis dan lainnya.

Adapun agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat asli Paniai sendiri adalah agama Kristen dan Katolik. Meskipun Islam merupakan agama yang minoritas di Paniai, akan tetapi sudah menjadi kewajiban umat Islam ketika berinteraksi antar agama harus mengedepankan prinsip Islam, yaitu ta'awun, tawasuth, tasamuh, tawazun dan lainnya demi kemaslahatan antar umat beragama.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Latar Belakang Berdirinya NU

Keberadaan umat Islam di Kabupaten Paniai, dari tahun ke tahun, cukup mengalami perkembangan. Menurut data Baznas, dua tahun terakhir ini, yaitu pada tahun 2016 dan 2017, jumlah pemeluk Islam ada sekitar 5.000 jiwa.

Jumlah umat Islam tersebut rata-rata berasal dari kaum pendatang. Artinya, tidak penduduk asli Papua. Dan para pendatang tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Diantaranya dari Bugis, Makassar, Buton, Maluku, Batak, Jawa dan lainnya. Dalam aktivitas kesehariannya, masyarakat muslim pendatang ini berprofesi sebagai pedagang, guru, dokter, PNS, aparat keamanan dan berbagai jenis profesi lainnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Dalam menjalankan ajaran Islam, dari jumlah data 5.000 jiwa umat Islam tersebut, ternyata 2.000 jiwa diantaranya adalah pengamal Islam Aslussunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyyah. Karena umat Islam yang ada di sini merupakan kaum pendatang dan bermacam-macam latar belakangnya, baik dari segi pendidikan maupun pengetahuan agamanya yang sangat minim sekali, maka terkadang ada umat Islam di Paniai yang tidak tahu dalil-dalil ibadah yang bertanya: "Mengapa umat Islam itu cara berfikir dan beribadahnya seperi itu?"

Di samping itu, di Paniai sendiri terkadang kedatangan kelompok Islam dengan wajah yang berbeda-beda yang kemudian sering menimbulkan pertanyaan: "Sebenarnya ajaran Islam itu yang bagaimana?"

Mengingat kuantitas umat Islam yang semakin bertambah, akan terasa ganjal apabila semua problematika umat hanya didengarkan saja tanpa diberikan solusi serta jawaban yang jelas.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari sinilah akhirnya para guru yang ada di Madrasah Diniyyah memerankan fungsinya sebagai penerang dan rujukan umat. Dari sini pula, kemudian muncul gagasan untuk mendirikan sebuah Organisasi Masyarakat yang bernama Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan adanya ormas NU ini, disamping sebagai wadah bagi umat Islam di Kabupaten Paniai, juga difungsikan sebagai jalan dakwah dan syiar Islam serta penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam yang berfaham Aswaja An-Nahdliyyah.

Sejarah Awal Berdirinya NU

Awal berdirinya NU di Kabupaten Paniai tidak bisa lepas dari campur tangan serta sentuhan para guru yang mengajar di Madrasah Diniyyah Al-Ma’arif NU yang berdiri pada Juni 2013. Para guru yang mengajar di madrasah yang sebelumnya bernama Al-Mubarok ini merupakan alumni pesantren. Dengan pertemuan setiap mengajar dan diskusi ringan serta seringnya bermusyawarah, maka muncullah ide dari para guru ini untuk mendirikan Ormas NU.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Setelah bertekad dan sepakat untuk mendirikan Jam’iyyah NU, dari forum guru sendiri mendapatkan kendala, yaitu bagaimana proses tata cara untuk mendirikan PCNU. Beberapa guru, akhirnya bertanya kepada teman-temannya yang aktif di NU di Jawa.

Setelah mendapat informasi yang cukup memadai, kemudian dikomunikasikanlah hal itu kepada para tokoh agama serta orang tua yang sudah lama tinggal di Paniai ini sekaligus memohon saran. Sebab, jangan sampai adanya PCNU ini, nanti akan berdampak perselisihan antar umat Islam.

Dan alhamduliLlâh, dari golongan orang-orang tua tersebut menyetujui dan sepakat. Dukungan pun datang dari Ketua MUI Paniai, yakni H. Joko Suprayetno serta Kemenag Paniai Seksi Pendis dan Bimas Islam, yaitu H. Dahlan Kader.

Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua

Langkah selanjutnya, pada tanggal 20 Agustus 2014, diadakanlah musyawarah di serambi Masjid Al-Mubarok, Enarotali, Paniai. Diantara yang hadir waktu itu adalah Kepala Madin (Ahmad Muslih), para guru Madin (Shodikin, Sumadi Rohmat dan Nur Khoironi) dan dari pengurus Masjid (Sabri dan Darmawan Arif). Musyawarah ini membahas tentang struktur kepengurusan dan program yang akan datang.

Dan alhamduliLlâh, pada tanggal 24 Agustus 2014, struktur kepengurusan PCNU Paniai ditetapkan. Adapun struktur PCNU masa khidmat 2014-2019 ini yaitu H. Dahlan Kader sebagai Syuriah dan Sodikin sebagai Ketua Tanfidziyyah. Sedangkan untuk sekretaris dipegang oleh Sumadi Rahmat dan Nurkhoironi. Dan untuk bendahara dipegang oleh Wahyu dan Eli Sitorus.

Dan alhamduliLlâh lagi, pada bulan Desember 2014, atau bertepatan dengan tanggal 9 Robi'ul Awwal 1439 H., struktur kepengurusan PCNU Paniai ini disahkan melalui SK oleh PBNU.


* Oleh: M. Taha, aktivis Muda NU di Paniai.
Read More