Isi Kepala Pemeluk Agama


rumahnahdliyyin.com - Pagi tadi, ada salah seorang teman di Jawa yang bertanya melalui WA mengenai berita tentang sikap Gereja di Jayapura terkait pembangunan menara masjid Al-Aqsha di Sentani. Setelah mengirimi saya gambar surat yang berkop Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Jayapura (PGGJ), ia menanyakan kebenarannya. Secara spontan, saya mengatakan bahwa saya tidak tahu. Sebaliknya, saya justru menyuruhnya agar bertanya mengenai kebenaran itu pada yang mengiriminya gambar itu.

Sengaja memang saya menjawab demikian. Saya sendiri sebenarnya sudah mengetahuinya sejak Sabtu lalu pada dini hari. Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mau hal ini akan menjadi sesuatu yang heboh kemudian. Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, perkembangan di jagad maya kita akhir-akhir ini sungguh melelahkan karena isu-isu sentimen keagamaan. Dan hal ini sungguh menggoncang persatuan bangsa ini yang kaya akan agama beserta sektenya. Jadi, saya memutuskan untuk memilih diam dalam soal-soal yang beginian.

Baca Juga:
Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua
Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua

Sekarang, mending kita lihat poto ini. Poto ini saya peroleh dari seseorang di Sorong sini. Katanya, lokasinya berada di pulau Kasim, Distrik Seget, Kabupaten Sorong sini, Papua Barat. Dan janjinya yang berkali-kali akan mengajak saya pergi kesana, belum ditepatinya juga. Terlebih kalau mengamati kesibukannya akhir-akhir ini, sepertinya janji itu akan menguap begitu saja.

Melihat gambar dalam potret ini, apa yang secara spontan terlintas di pikiran kita? Kalau saya sendiri, biasa saja. Tak ada yang mengherankan. Sebab, selama masih di pesantren dulu, pondok saya sendiri berada persis di depan rumah seorang pendeta. Memang hanya rumah, bukan gereja. Namun, tidak jarang di rumah itu ada kegiatan Gerejawi yang entah apa namanya. Seperti ada menyanyi-nyanyi rohani kalau didengarkan dengan seksama.

Baca Juga:
Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq
Imam Sibawaih-nya Papua

Jadi, melihat bangunan Gereja yang hampir berdempetan dengan masjid seperti dalam poto di atas, bukanlah sesuatu yang mengherankan bagi saya. Terlebih, di waktu yang berbarengan dengan itu, saya terkadang sharing dengan teman non-muslim saya. Yaitu salah seorang teman SMA yang kebetulan tempat duduknya ada dibelakang saya ketika di kelas satu dulu. Bahkan sampai sempat-sempatnya saya dibawakan Al-Kitab ke sekolah dan diperlihatkannya. Kita pun tetap rukun dan masih berteman hingga sekarang.

Sewaktu di Jayapura, waktu itu sedang perjalanan ke Asmat sebenarnya, tempat saya bermalam adalah hotel milik seorang non-muslim. Hampir seminggu disana, gratis. Tak sepeserpun uang keluar lantaran si empunya hotel sangat menghormati Almaghfurlah Gus Dur.

Baca Juga:
Jubir HTI Bungkam
UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI
Dan menariknya lagi di hotel ini, yaitu waktu saya ngobrol dengan salah seorang karyawannya. Kira-kira jam dua siang waktu itu, kami ngobrol sangat akrab kendati baru saja saling mengenal. Ia menceritakan bagaimana pengalamannya sewaktu liburan ke Jawa. Keceriaannya ketika bercerita tidak bisa disembunyikan.

"Saya senang itu kalau naik bis," ceritanya. "Ada pengamen yang menghibur kita. Disini kan trada," lanjutnya.

Beberapa saat kemudian, ia pun berkata, "Oh, sudah waktunya ibadah ini. Silakan ibadah dulu," katanya ketika mendengar kumandang adzan sholat 'Ashar.

Kalimatnya terakhir barusan inilah yang bagi saya sangat menarik. Sebagai pria asli Papua yang non-muslim, ia mempersilakan pada saya yang Jawa-muslim untuk beribadah ketika waktu sholat tiba.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Dan ada satu pengalaman lagi yang mungkin patut saya ceritakan di kesempatan ini. Kali ini sewaktu di Asmat. Di kota rawa ini saya punya kenalan yang cukup akrab yang kebetulan seorang non-muslim asli Papua. Setelah beberapa hari tidak bertemu, begitu bertemu dengan saya, ia pun langsung memberi tahu pada saya bahwa puteranya telah meninggal dunia. Saya pun menyampaikan keturut-dukaan saya padanya.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba dia kembali ke soal kematian anaknya dengan bertanya pada saya, "bapak tahu tidak, kenapa saya punya anak meninggal?"

"Mungkin infeksi kakinya itu," respon saya demikian karena sebelumnya memang anaknya ini terkena pecahan kaca di telapak kakinya.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

"Ah...bukan. Dia itu kena suwanggi."

Suwanggi adalah sejenis santet kalau di Jawa. Bisa juga untuk penyebutan pada hantu. Dari teman saya yang asli Papua inilah saya pertama kali mendengar dan mengetahui istilah ini.

Dia pun bercerita lebih lanjut bahwa sebenarnya yang dituju suwanggi bukanlah anaknya, melainkan dia. Tapi tak tahu mengapa malah yang terkena anaknya. Dan ketika menyampaikan hal ini, teman saya ini pun menyatakan masih merasa takut bila sewaktu-waktu suwanggi mendatanginya.

Menanggapi hal ini, lantas saya pun mencoba menghiburnya. Saya katakan padanya bahwa saya punya ilmu agar dia bisa terhindar dari suwanggi tersebut. Dengan penuh semangat, ia pun ingin mempelajari ilmu itu. Tapi saya sampaikan lagi kalau dirinya tidak akan mampu. Karena sangat berat syaratnya. Tidak mungkin dia bisa.

Baca Juga: Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam

Kendati demikian, ia pun masih tetap ngotot mendesak saya agar mengajarinya. Dengan sedikit becanda, saya pun mengatakan bahwa ia harus mengucapkan "laa ilaaha illaLlaah , Muhammadur-rosuuluLlaah" bila ingin mempelajari ilmu itu.

"Ah... bapak ini. Itukan kalimat umat muslim," katanya yang diikuti dengan tawa. Kita pun akhirnya tertawa bersama. Tak ada rasa tersinggung. Apalagi marah.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kalau tadi adalah cerita tentang penganut Nasrani, kini saya akan bercerita tentang tokoh agamanya.

Baru-baru ini, kebetulan saya bertemu dengan salah satu tokoh Nasrani. Namanya tak tahu. Begitu melihat rombongan saya, dengan arogannya ia mencecar banyak pertanyaan. Termasuk tujuan datang, sudah ijin atau belum, dan banyak lagi. Padahal, masyarakat yang saya kunjungi sangat welcome. Dan ia sendiri bukanlah masyarakat situ. Hanya tokoh agama di situ meskipun pada waktu itu ia tidak mengakuinya pada rombongan saya.

Dari bisik-bisik orang, belakangan saya baru tahu kalau karakternya memang demikian. Bahkan, ada yang becanda mungkin ia takut kalau "domba-domba"nya hilang.

Baca Juga: Asmat; Kota Terapi Syukur

Beda lagi dengan tokoh agama Nasrani yang lain. Sekarang ini, ada NU di salah satu daerah di Papua ini yang sudah punya lahan. Kendati demikian, belum mampu untuk memulai pembangunan. Rencananya, diatas lahan itu mau didirikan Asrama.

Kok, asrama? Ya, asrama. Awalnya memang mau didirikan Pondok Pesantren. Karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka dirubahlah rencana dari Pondok Pesantren ke Asrama. Walau asrama, tak apa. Dalam kenyataan yang terjadi nanti, bisa dijalankan sistem Pondok Pesantren.

Tahukah siapa yang mengusulkan, bahkan mendorong, berdirinya asrama ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu tokoh agama Nasrani setempat.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari beberapa cerita nyata ini, saya kira kita semua jadi teringat terhadap pepatah yang mengatakan, "beda kepala, beda isi."

Tak usah ke agama sebelah, di agama kita saja banyak yang isi kepalanya berbeda. Ada yang hobi demo, ada yang hobi ngaji. Ada yang suka main pedang-pedangan, ada juga yang lebih suka ngopi bareng. Ada yang senang teriak-teriak takbir, ada juga yang lebih demen sholawatan. Dan banyak lagi.

Jadi, soal PGGJ dan menara masjid Al-Aqsha di Sentani itu, menurut saya yang kebetulan sempat bersentuhan dengan Nashoro di Papua ini, tak lebih hanya soal beda isi kepala sebagaimana berbedanya isi kepala di agama Islam kita. Jadi, jangan lantas digebyah-uyah kalau semua Nasrani di Papua ini kepalanya berisi sama. WAllahu a'lam.

Akhirnya, semoga teman saya yang berjanji akan mengajak saya main ke daerah dimana poto ini diambil, tidak lupa janjinya. Dan semoga terlaksana. Amin.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *