Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan


muslimpribumi.com , Sumsel - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, sangat menyayangkan tindakan penyerangan Gereja St. Lidwina Sleman dan penganiayaan terhadap pastor serta jemaat gereja. Pada Minggu pagi tadi, 11 Februari 2018, Gereja St. Lidwina Dk. Jambon, Trihanggo, Kec. Gambing, Kab. Sleman, Yogyakarta, diserang seorang lelaki bersenjata tajam. Penyerang melukai pastor dan beberapa jemaat. Selain itu, penyerang juga melukai seorang polisi yang berusaha mengamankan pelaku.

Menanggapi penyerangan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menyeru gerakan intoleran tidak bisa dibiarkan lagi. "Saya sangat menyayangkan penyerangan yang terjadi di Gereja St. Lidwina, Sleman. Beberapa waktu lalu, terjadi penyerangan kiai di Cicalengka, Jawa Barat. Kalau penyerangan ini terus dibiarkan, akan memecah belah dan berdampak buruk bagi bangsa ini," ungkap Nabil dalam Silaturahmi Pagar Nusa se-Sumatera Selatan, di Tuga Jaya, Ogan Komering Ilir, Sumsel, hari ini.

Nabil Haroen mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 dan 2019, yang dianggap sebagai tahun politik, konsolidasi dan silaturahmi antar elemen warga harus ditingkatkan. "Kemarin kiai yang dibacok, sekarang pastor yang diserang. Ini semacam rangkaian kekerasan yang harus diputus. Tidak sekedar mencari dan menemukan pelaku, tapi memutus jaringan kekerasan ini. Jangan sampai Indonesia kita dibuat keruh oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab," terang Nabil.

Nabil Haroen mengajak warga Nahdliyyin, santri dan bersama warga lintas agama, serta Polri dan TNI, untuk saling menjaga situasi agar tetap kondusif. "Kita jangan sampai kalah dengan kekerasan. Harus ada gerakan bersama untuk memutus mata rantai kekerasan ini. Pagar Nusa sudah menginstruksikan jaringan pendekar untuk merapatkan barisan, konsolidasi dengan warga lintas agama serta simpul-simpulnya untuk saling bekerjasama. Kami juga terus berkomunikasi intensif dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk bersama-sama menciptakan situasi kondusif," jelas Nabil Haroen yang didampingi Emi Sumirta, Ketua PW. Pagar Nusa Sumatera Selatan, Ki Cokro, M. Aziz, Muamarullah dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

"Jangan sampai, situasi politik pada masa menjelang Pilkada, Pilleg, dan Pemilihan Presiden, pada tahun 2018 dan 2019 ini, menjadi turbulensi sehingga dimanfaatkan kelompok yang tidak bertanggungjawab," ungkap Nabil dihadapan ratusan pendekar Pagar Nusa dan antar Perguruan Silat di Ogan Kemiring Ilir.

Nabil Haroen mengajak pada tokoh-tokoh lintas agama untuk saling silaturahmi, untuk menyamakan persepsi menjaga bangsa. "Silaturahmi lintas agama harus diintensifkan antara tokoh maupun antar warganya. Ini penting agar umat antar agama saling bersilaturrahmi. Mari kita tingkatkan ukhuwwah basyariyyah, persaudaraan kemanusiaan kita, untuk menjaga situasi tetap damai. Kalau ukhuwwah ini terjaga, tujuan pelaku kekerasan untuk mencipta situasi chaos, tidak akan tercapai," harap Nabil Haroen.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa akan  menyelenggarakan Silaturrahmi antara ulama, santri dan pemuka lintas agama di beberapa kawasan, untuk keamanan dan persaudaraan kebangsaan. Agenda ini merupakan satu rangkaian dengan Ijazah Kubro Pagar Nusa pada Januari 2018 lalu di Cirebon, Jawa Barat (*).
Read More

Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"


Istilah "taubat", akhir-akhir ini sering digunakan secara salah kaprah dan kurang tepat. Seseorang yang sedang mengalami evolusi pikiran dari satu tahap ke tahap lain, disebut bertaubat. Ini jelas tidak tepat.

Istilah "taubat", bagi saya, jelas tak tepat dipakai dalam konteks evolusi gagasan. Taubat hanya tepat dalam konteks tindakan maksiat. Gagasan bukanlah tindakan maksiat. Gagasan bisa mengalami evolusi dan perkembangan. Itu menandakan bahwa gagasan tersebut dinamis. Gagasan yang tak berkembang adalah gagasan yang jumud. Apakah saat Imam Syafi'i berkembang idenya dari qaul qadim ke qaul jadid, beliau sedang bertaubat?

Apakah ketika Imam Asy'ari berubah pikiran, meninggalkan kubu Mu'tazilah dan bergabung dengan kubu Sunni, beliau bertaubat? Imam Asy'ari menggambarkan perubahan sikapnya itu bukan sebagai taubat. Para ulama' Asy'ariyyah juga tak ada satupun yang menggambarkan perubahan posisi teologis Imam Asy'ari sebagai taubat.

Saya tambahkan lagi: ketika diujung hidupnya Imam Ghazali menempuh jalan sufi, dan meninggalkan jalan-jalan pencarian kebenaran yang lain (yaitu jalan para teolog dan filosof) yang pernah beliau cobai; apakah Imam Ghazali melakukan pertaubatan? Tidak sama sekali. Tak ada yang menggambarkan fase mistik Imam Ghazali diujung hidupnya sebagai fase taubat.

Jika Anda dulu menjadi begal, maling, atau koruptor, lalu menyesali tindakan itu semua dan menempuh hidup baru yang lebih bermoral dan meninggalkan kebiasaan sebelumnya, itu bisa disebut taubat.

Tetapi jika Anda adalah seorang pemikir, lalu pemikiran Anda mengalami evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, itu bukanlah pertaubatan. Pikiran, dimanapun, berkembang. Evolusi pemikiran menandakan bahwa yang bersangkutan berproses, tidak jumud. Tetapi evolusi pemikiran bukanlah pertaubatan.

Ketika seorang saintis mengubah teorinya karena data-data yang baru menyanggah hipotesa dia yang awal, dia tak bisa disebut bertaubat. Dia mengoreksi teorinya, tetapi dia tidak sedang bertaubat.

Ketika Prof. Harun Nasution, diujung karir intelektualnya, menggeluti kajian tasawuf, kita tak bisa menyebut beliau bertaubat. Paling jauh kita hanya mengatakan, Prof. Harun memperluas cakrawala intelektualnya dengan memasuki bidang yang baru. Ketika beliau masuk ke kajian tasawwuf, bukan berarti gagasan-gagasan beliau sebelumnya ditinggalkan. Sama sekali tidak.

Oleh karena itu, saya heran ketika ada yang menyebut bahwa saya sedang bertaubat ketika saya membaca kitab Ihya'. Istilah ini mengandaikan bahwa dengan membaca Ihya', saya meninggalkan gagasan-gagasan saya sebelumnya. Istilah "taubat" secara implisit menyarankan bahwa fikiran-fikiran saya sebelum mengaji kitab Ihya' keliru semua, dan telah saya tinggalkan.

Anggapan ini jelas keliru sama sekali. Saya tak meninggalkan sedikitpun gagasan-gagasan saya selama ini. Saya masih berpegang pada gagasan pokok yang saya "perjuangkan" selama ini: bahwa teks-teks Islam harus terus direkontekstualisasi dan dibaca secara baru sesuai dengan semangat zaman yang terus berubah.

Jika ada hal yang "berubah" pada diri saya, maka hanya dalam perkara berikut ini:

Kaum "pembaharu" yang melakukan kritik atas tradisi dalam Islam harus memiliki dimensi spiritualitas, atau "hikmah" dalam bahasa Qur'an. Inti hikmah adalah "humility" atau sikap rendah hati, "andap asor". Dalam membaca ulang tradisi, sebaiknya kita memiliki sikap "humility" ini. Sikap kritis terhadap tradisi tetap penting. Tetapi kritik itu perlu dilakukan dengan sikap yang "andap asor", tawadlu'. Inilah makna spiritualitas bagi saya. Tanpa sikap semacam ini, kita bisa terjebak pada sikap arogansi. Kadang malah bermusuhan terhadap tradisi secara kurang proporsional.

Jujur saja, saya pernah mengalami fase "arogansi" semacam ini, sebagian besar karena pengaruh munculnya tendensi-tendensi pemikiran keagamaan yang radikal dan cenderung fundamentalistik yang membuat saya marah dan jengkel. Fase arogansi yang pernah menjangkiti saya ini mungkin dipengaruhi juga oleh semacam "youth enthusiasm", semangat kemudaan yang menggebu-gebu---fase yang alamiah dalam perkembangan psikologi seseorang.

Di mata saya, melakukan kritik dan penafsiran ulang atas tradisi tidak mesti dipertentangkan dengan spiritualitas. Keduanya bisa jalan bersamaan. Spiritualitas adalah semangat yang seharusnya melandasi seluruh tindakan kita sehari-hari, dalam bidang apapun.

Bagi saya, bukan tindakan yang hikmah dan "spiritual" saat kita melakukan "konfrontasi intelektual" terus-menerus dengan umat, sehingga konfrontasi itu terkesan seolah-olah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Konfrontasi pada satu fase mungkin diperlukan, tetapi dia haruslah melayani tujuan lebih besar, yaitu transformasi kesadaran umat. Bukan mengalienasikan mereka.

Sekali lagi, saya memaknai spiritualitas sebagai "hikmah", kebijaksanaan yang muncul karena kesadaran yang akut dan mendalam pada diri kita bahwa kita adalah makhluk yang dhaif, lemah, "fallible", bisa berbuat salah; dan hanya Tuhan lah tempatnya segala kesempurnaan.

Kesadaran ini tidak langsung memupus usaha kita sebagai manusia. Kita tetap berusaha, mendayagunakan rasio dan intelek kita untuk mengeksplorasi horison kebenaran hingga batas-batas yang terjauh. Tapi usaha ini tetap harus disertai oleh sikap tawadlu', kerendah-hatian.

Salah satu inti spiritualitas adalah kemampuan untuk menggembosi gelembung ego kita yang bisa membesar, tanpa kontrol, hingga akhirnya merusak diri kita sendiri.

Berpikir rasional dan bersikap spiritual bukanlah dua hal yang bertentangan.

Apakah ini pertaubatan? Menurut saya tidak. Ini adalah evolusi pemikiran ke arah yang (semoga saya tak sedang "sombong" ketika mengatakan ini) lebih matang.

Sekian.

Catatan tambahan:

Saya keliru ketika menyebut bahwa Imam Asy'ari, saat meninggalkan posisi Mu'tazilah, tindakan beliau itu tidak digambarkan oleh para penulis klasik sebagai tindakan "taubat".

Banyak para penulis thabaqat (kamus biografi) menggambarkan perubahan pandangan Imam Asy'ari sebagai pertaubatan.Tetapi contoh-contoh saya yang lain tetap relevan.


* Oleh: Ulil Abshar Abdalla, pemikir atau cendekiawan muslim Indonesia.
Read More

Menulis Sejarah Secara Cermat


muslimpribumi.com - Belum lama ini, KH. Hairuman Nadjib (Gus Heru), cucu KH. Wahab Chasbullah, menghubungi saya untuk mengonfirmasi kebenaran tulisan anonim yang menjelaskan tentang lahirnya lambang NU.

Beliau mengonfirmasi kepada saya karena tulisan itu berbeda dengan tulisan sejarah lambang NU yang saya tulis dalam buku Fragmen Sejarah NU. Dalam buku saya tersebut, penggagas lambang NU adalah KH. Hasyim Asy'ari. Dari sumber KH. Sholahuddin Azmi, dari KH. Mujib Ridwan, dari KH. Ridwan Abdullah.

Sementara dalam tulisan ini, penggagasnya adalah KH. Wahab Chasbullah. Dengan sumber KH. Ridwan dan KH. Mujib. Ini yang saya sarankan agar Gus Heru menyelidiki kesahihannya.

Di situ juga ada kekeliruan, bahwa pidato Bung Karno tentang kecintaan kepada NU itu bukan disampaikan dalam Muktamar NU di Purwokerto pada tahun 1946. Melainkan disampaikan Bung Karno pada saat Muktamar NU di Solo pada tahun 1962.

Ketika masih dalam pengecekan, tulisan itu ternyata sudah menyebar di berbagai grup Whatsapp (WA) dan media sosial lainnya. Hal ini bisa menimbulkan khilaf berkepanjangan.

Sejarah adalah sumber informasi dalam mengambil sikap dan tindakan. Karena itu, para pimpinan NU dan penulis sejarah NU harus cermat dalam menulis. Sebab, kita telah beberapa kali melakukan ketidakcermatan, diantaranya:

Pertama, saat NU menggunakan foto Haji Hasan Gipo yang kemudian diprotes oleh keluarga karena foto tersebut ternyata foto Kiai Mas Manshur.

Kedua, NU memasang foto KH. Cholil Bangkalan yang ternyata itu bukan foto pendiri NU. Karena saat ini keluarga sedang mencari foto yang sesungguhnya.

Ketiga, gambar KH. Hasyim Asy'ari yang muncul belakangan dengan serban hijau serta berjenggot. Ternyata belum ada di antara sembilan kiai sepuh santri Mbah Hasyim yang menerima kebenaran gambar tersebut. Mereka semua menegaskan bahwa wajah Mbah Hasyim Asy'ari persis seperti gambar yang lama.

Mengingat terjadinya penyimpangan sejarah seperti itu, maka kembali kita dituntut untuk lebih cermat dalam menulis sejarah NU dan pesantren untuk menjaga integritas dan martabat organisasi.


* Oleh: Abdul Mun'im DZ, Peminat Sejarah NU.
Read More

Toilet Sebagai Jalan Keluar


Gus Mus diundang mengisi ceramah pengajian yang istimewa. Judul acaranya: "Nada dan Dakwah bersama Gus Mus dan --sebut saja:-- Sri". Sri, bukan nama sebenarnya, adalah seorang penyanyi ndangndut perempuan yang sedang naik daun waktu itu.

Banyak tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan ikut hadir. Mereka ditempatkan di deretan tempat duduk terdepan, tepat didepan panggung, sebelah-menyebelah dengan Gus Mus sendiri.

Usai ceramah pengajian, Gus Mus kembali ke kursinya dan acara dilanjutkan dengan hiburan lagu-lagu Islami oleh Si Sri.

"Saya sangat bangga dan berdebar-debar mendapatkan kesempatan menyanyi di sini", Sri membuka penampilan dengan sepatah-dua patah kata, "Apalagi dihadapan seorang ulama' yang sangat saya kagumi dan menjadi idola saya... Guus Muuus! Mana tepuk tangannyaaa? Tepuk tangan buat Guuus Muuuusss...!"

Dan musik pun mulai mengedut. Namanya ndangndut, walaupun Islami tetap saja menyondol-nyondol pinggang untuk bergoyang. Buat Sri sendiri, itu sudah naluri. Ditahan-tahan juga percuma. Ketika sudah masyuk dalam irama, ia pun melangkah turun panggung. Mendekati seorang pejabat di deretan depan, menggamit lengannya, dan membuat pejabat itu tak punya pilihan--atau tak ingin memilih--selain gabung berjoget bersama Sri.

Sementara itu, Gus Mus berkutat menahan gelisah. Entah seperti apa raut mukanya selama memaksa-maksakan diri untuk tersenyum-senyum waktu itu. Belakangan, jelas sekali ia tampak lega ketika seorang panitia mendekat menyuguhkan minuman. Gus Mus menggamit si panitia, "Dik, toilet dimana?"

"Oh, mari saya antarkan, Pak Kyai".

"Nggak usah. Tunjukkan saja tempatnya, biar saya kesana sendiri".

Panitia menunjuk pintu keluar gedung, "Dari situ terus kearah kiri, Pak Kyai".

Sambil mengangguk kanan-kiri, Gus Mus bergegas kearah pintu itu. Dari situ, ia langsung menuju tempat parkir mencari mobilnya, lalu menyuruh sopir cepat membawanya kabur.

Sopirnya pun heran, "Kok tergesa-gesa, 'Yai?"

"Aku takut diajak njoget".


* Oleh: KH. Yahya Cholil Tsquf
Read More

Hari Akhir


muslimpribumi.com - Hari akhir adalah hari dimana manusia dibangkitkan dari alam qubur dan dikumpulkan pada sebuah tanah lapang untuk dihisab. Pada hari akhir inilah nasib seluruh manusia ditentukan antara memperoleh keni'matan surga atau adzab neraka.

Selaku umat Islam, kita wajib mengimani hari akhir dan segala sesuatu yang ada dan akan terjadi di dalamnya. Firman Allah SWT. dalam surat An-Nisaa', ayat 136,

ومن يكفر بالله وملئكته وكتبه ورسله واليوم الأخر فقد ضلّ  ضللا بعيدا (النّساء : ١٣٦

“Dan barang siapa ingkar terhadap Allah SWT., malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir, maka sungguh ia telah sesat sangat jauh.

Hari dimana manusia menerima catatan perbuatannya dengan tangan kiri atau dengan tangan kanan ini disebut dengan “hari akhir”, karena tidak akan ada hari lagi setelah hari ini. Dan hari akhir inilah yang biasa kita kenal dengan hari qiyamat.

Kendati hari qiyamat pasti akan tiba, namun mengenai kapan waktu datangnya tidaklah ada seorangpun yang bisa mengetahuinya. Termasuk para malaikat maupun para nabi dan para rasul.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda mengenai perjumpaan beliau dengan Nabi Ibrahim AS., Nabi Musa AS. dan Nabi Isa AS. sewaktu menjalani peristiwa Isro'-Miroj. Dalam perjumpaan itu, para nabi itu tengah berbincang-bincang tentang hari qiyamat.

“Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang hari qiyamat,” kata Nabi Ibrohim AS. ketika perbincangan itu dilemparkan kepada beliau.

“Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang hari qiyamat,” kata Nabi Musa AS. ketika perbincangan dilemparkan kepada beliau setelah sebelumnya kepada Nabi Ibrohim AS.

Dan ketika perbincangan dilemparkan kepada Nabi Isa AS., beliau berkata, “mengenai waktu terjadinya hari qiyamat, tidaklah ada seorang pun yang mengetahuinya. Hanya Allah SWT. sajalah yang mengetahuinya.”

Dalam Al-Qur'an surat Al-A'roof, ayat 187, Allah SWT. berfirman,

يسئلونك عن السّاعة أيّان مرسها، قل إنّما علمهاعند ربّى، لايجلّيها لوقتها إلّاهو (ألأعراف: ١٨٧

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad SAW.) tentang hari qiyamat, kapan terjadinya? Katakanlah (Muhammad SAW.): sungguh, pengetahuan tentang itu berada di sisi Tuhanku, yang tiada seorangpun mampu menjelaskan waktu terjadinya kecuali hanya Dia (Allah SWT.).”

Dalam kitab Tafsir Jalaalain yang dikarang oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi diterangkan bahwa mereka yang bertanya perihal waktu datangnya hari qiyamat dalam ayat ini yaitu para penduduk Makkah. Pendapat ini juga diamini oleh Ibnu Katsir yang mengatakan bahwa Kafir Quraisy yang sering bertanya tentang waktu datangnya hari qiyamat ini, mengiringi pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW. ini dengan nada tidak mempercayai dan mendustakan akan datangnya hari akhir ini.

Dari ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang telah disebutkan diatas, kiranya kita selaku umat Islam jangan sampai ikut-ikutan mempercayai ramalan-ramalan maupun prediksi-prediksi mengenai kapan waktu pastinya terjadi hari qiyamat. Contohnya, ramalan suku Maya di Amerika yang telah terbukti salah dan memang pasti salah yang telah meramalkan bahwa qiyamat akan terjadi pada tanggal 12, bulan 12 dan tahun 2012 yang sudah lewat .

Untuk tidak mempercayai ramalan-ramalan semacam itu, kita dengan mudah bisa menggunakan logika berpikir sederhana seperti ini: kalau sekelas para nabi yang notabene orang yang dekat dengan Allah SWT. saja tidak mengetahui kapan datangnya hari qiyamat dan menyatakan bahwa hanya Allah SWT. sajalah yang mengetahui soal itu, bagaimana mungkin seorang tukang ramal mampu mengetahui kapan datangnya qiyamat?

Kendati waktu datangnya hari qiyamat yang mengetahui secara pasti hanyalah Allah SWT., namun tanda-tanda akan kedatangannya telah diberitahukan Allah SWT. kepada Rasulullah SAW. Diantaranya yaitu:
  1. Dicabutnya ilmu dengan cara diwafatkan para ulama.
  2. Tampaknya kebodohan.
  3. Sedikitnya jumlah lelaki.
  4. Banyaknya perempuan hingga bila dibandingkan dengan jumlah lelaki mencapai 50 banding 1.
  5. Merajalelanya perzinaan.
  6. Merebaknya minuman keras.
  7. Tidak ada nya seorang pun yang mau menerima sedekah karena semua manusia kaya.
  8. Tidak mengucapkan salam kecuali hanya kepada orang yang dikenal saja.
  9. Saling berbangga-bangganya manusia dalam membangun masjid.
  10. Islam hanya tinggal namanya.
  11. Al-Quran hanya tinggal tulisannya.
  12. Tidak ada lagi orang yang menyebut nama Allah SWT., dan yang lainnya.

Seorang badui (orang Arab pedesaan) pernah datang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya: “kapankah hari akhir itu terjadi?”

Mendengar pertanyaan ini, Nabi Muhammad SAW. tidak menjawabnya. Beliau justru bertanya balik kepadanya: “bekal apakah yang sudah kau siapkan untuk menghadapi kedatangannya?”

“Tidak ada,” jawab lelaki badui itu. “Kecuali aku mencintai Allah SWT. dan rasul-Nya,” sambungnya.

“Kalau begitu, kau akan berkumpul dengan orang yang kau cintai,” jawab Rasulullah SAW.

Menurut para ahli Hadits, dialog antara Nabi Muhammad SAW. dan seorang Badui di atas ini mengandung pengertian bahwa ketika Rasulullah SAW. ditanya tentang suatu hal yang tidak perlu untuk diketahui, maka beliau mengarahkan sekaligus memberikan petunjuk kepada hal lainnya yang lebih penting. Dan hal yang tidak perlu kita ketahui karena memang tidak mungkin untuk kita ketahui adalah waktu pastinya datangnya hari qiyamat. Karena itu, alangkah lebih baik dan lebih penting bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kedatangannya.

Akhirnya, demikianlah sekelumit uraian mengenai hari akhir atau hari qiyamat yang wajib kita imani itu. Semoga bisa dimengerti, dipahami dan bermanfaat untuk kita semua. Amin.
WaLlaahu a'lam. []


Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Majalah Risalah Terima Anugerah


muslimpribumi.com - Presiden Joko Widodo, Jum'at hari ini menghadiri Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2018 yang dihelat di Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatera Barat. Presiden mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh insan media atas dedikasi dan torehan tinta emasnya selama ini dalam ikut serta membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta.

"Selamat dan sukses kepada pers di manapun berada," ujar Presiden Jokowi.

Presiden juga memberikan apresiasinya terhadap semua unsur media, termasuk kepada Majalah Risalah NU.

Sebagaimana diketahui bersama, Majalah Risalah NU adalah media yang bergerak dibawah Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (LTN PBNU). Dalam kesempatan ini, Majalah ini memperoleh penghargaan dalam kategori Media Kepeloporan di Bidang Media Dakwah yang konsisten dalam perjuangan NKRI.

Penghargaan yang berupa trofi dan sertifikat ini diberikan oleh Menteri Kominfo Rudiantara dan diterima langsung oleh Pimpinan Redaksi Majalah Risalah NU, H. Musthafa Helmy.

Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU), Hari Usmayadi, bersyukur atas penghargaan untuk Majalah Risalah NU ini. Ia mengapresiasi Dewan Pers atas penghargaan yang diberikan kepada Majalah Risalah NU ini serta berterima kasih kepada para kiai dan tokoh NU atas bimbingannya.

“Kami atas nama LTN bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada para kiai, pini sepuh yang mendukung keberadaan Majalah Risalah NU ini untuk terbit secara istiqamah sehingga mendapat penghargaan dari Dewan Pers yang disampaikan oleh Presiden RI, bapak Jokowi,” ujar pria yang lebih akrab disapa dengan Cak Usma ini.

Menurutnya, penghargaan ini merupakan anugerah sekaligus momentum penting bagi Majalah Risalah NU yang keberadaannya sebagai majalah NU telah diakui secara nasional, dan bahkan internasional.

Yang terpenting lagi, penghargaan ini bukan saja berkah untuk Majalah Risalah NU, melainkan keberkahan untuk warga NU karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-92. “Jadi, bukan hanya internal pengurus NU yang bangga, akan tetapi seluruh warga NU,” ungkapnya.

Atas penghargaan tersebut, Cak Usma berharap semoga Majalah Risalah NU tetap istiqamah dan semakin berkembang lebih baik serta menjadi majalah kebanggaan Muslim dunia.


Sumber: nu.or.id
Read More

Tak Perlu Menanggapi Berita Provokatif


muslimpribumi.com - Mungkin diantara kita ada yang bertanya, kenapa kita tidak pernah menjumpai bait-bait syair yang mencaci maki Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya?

Apakah memang penyair-penyair Quraisy itu tidak pernah menghina dan mencaci Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya?

Jawabnya, Tentu saja mereka sering membuat syair-syair cacian untuk Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya.
Tapi kenapa syair-syair cacian dan celaan tersebut tidak ada yang kita ketahui sekarang?

Jawabnya adalah karena para sahabat tidak ada yang mempedulikannya. Tidak ada yang membicarakannya. Apalagi menyebarluaskannya. Sehingga seiring waktu, hilanglah syair-syair celaan dan hinaan tersebut ditelan masa.

Perilaku para sahabat ini sangat baik sekali jika kita tiru di medsos, yaitu dengan tidak menanggapi berita yang provokatif, tidak membicarakannya, apalagi menyebarluaskannya. Pasti berita tersebut akan segera hilang. Biarkan saja lewat di beranda kita tanpa tanggapan.

Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar RA. pernah berkata:

أميتوا الباطل بالسكوت عنه، ولا تثرثروا فيه، فينتبه الشامتون

"Matikanlah kebatilan dengan mendiamkannya. Janganlah kalian meributkannya sehingga didengar oleh orang yang (senang dengan bencana orang lain)."

Semoga kita termasuk golongan yang ada dalam pernyataan Sayyidina Umar RA. yang tertulis dalam kitab Hilyah Auliya':

إنَّ لله عبادًا يُميتون الباطل بهجره، ويحيون الحقَّ بذكره

"Sesungguhnya Allah SWT. memiliki hamba yang mematikan kebatilan dengan cara meninggalkannya. Dan menghidupkan kebenaran dengan cara menyebutkannya".


* Oleh : M.Afifuddin Dimyati, Jombang, 8 Februari 2018.
Read More

Asmat, Saya Belum Teruji

Jew (Rumah Bujang) di Distrik Agats, Asmat, Papua

muslimpribumi.com - Hari-hari ini, hampir di semua media sosial tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Bejibun komen sanjungan hingga seloroh kata "goblag-goblog" bersahut-sahutan di setiap kolom komentar.

Tapi, izinkanlah saya bicara soal Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat.

Akhir Januari tahun ini, saya tergabung dalam tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat. Tim ini adalah bagian dari PBNU yang kali ini terdiri dari Dokter Makky dari Lembaga Kesehatan (LK PBNU), M. Wahib dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI PBNU), dan saya sendiri mewakili NU Care-LAZISNU.

Tak pernah terbayangkan bahwa saya dapat turut andil mengemban tugas ini. Hal yang tergambar di benak saya adalah bagaimana susahnya menuju Asmat. Lebih-lebih ancaman penyakit malaria maupun campak yang saya dengar sebelumnya membuat bulu kuduk saya berdesir setiap kali membayangkannya.

Kamis, 25 Januari, dengan bermodal nekad dan tawakal serta mengingat bahwa ini adalah tugas mulia dari NU, saya siapkan mental dan segala keperluan.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya dan tim yang akan diberangkatkan ke Asmat harus menjalani vaksin campak dan minum obat antimalaria—obat ini masih harus diminum sampai sekarang—supaya tubuh kita kebal.

Kami berangkat naik pesawat dari Jakarta menuju Surabaya-Makassar-Timika. Dari Timika menuju Asmat kami harus mengendarai pesawat kecil seperti capung. Itu pun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

Beruntung, Tim NU Lokal Timika dengan segala upaya berhasil membantu kami untuk mendapatkan tiket keberangkatan pada keesokan harinya. Di jadwal awal, kami berangkat jam lima pagi. Namun tiba di bandara subuh-subuh, seperti belum ada tanda-tanda ‘kehidupan’.

Hujan deras menemani waktu fajar kami hingga petugas bandara menyampaikan bahwa keberangkatan pesawat diundur menjadi jam 10 pagi.

Perjalanan Timika-Asmat, kami tempuh dengan durasi 45 menit. Setiba di bandara Ewer, Kabupaten Asmat, kami disambut oleh PCNU Kabupaten Asmat dan beberapa tokoh masyarakat. Untuk menuju lokasi KLB, kami naik speedboat. Itu pun kita tak disediakan pelampung. Ketika ombak datang menghantam kapal, seketika itu pula jantung saya berdentum.

Perasaan saya sedikit lega ketika speedboat tiba di Distrik Agats. Distrik adalah kecamatan bila kita di Jawa. Di sini kami beruntung karena salah satu pengurus NU setempat adalah salah satu tetua adat di kampungnya. Ia bernama Leo Rahamtulloh Piripas. Pak Leo juga merupakan Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam).

Kehadiran beliau membuat kami bisa disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu kami pusingkan.

Untuk meninjau bagaimana kondisi anak-anak Asmat, Pak Leo mengajak kami untuk silaturahmi terlebih dahulu dengan tetua adat di Kampung Syuru. Kami diterima oleh para tetua di rumah adat. Mereka menyebut itu Jew. Di tempat inilah kami mengutarakan kedatangan kami.

Pak Leo sudah otomatis jadi penyambung lidah di antara kami. Perbincangan berlangsung semakin gayeng (akrab) dan akhirnya forum tetua adat mempersilahkan kami untuk menjalankan program di Kampung Syuru.

Di sepanjang jalan kami menyusuri rumah-rumah. Banyak sekali anak-anak Asmat yang ingin di foto dengan segala tingkah lucu mereka. Saya mengira tampaknya mereka pun merasa sangat bahagia atas kedatangan kami.

Hanya saja ada sedikit pemandangan yang ganjil menurut saya. Anak-anak balita di sini seringkali makan buah kedondong dengan dicampur micin dan juga penyedap rasa lainnya. Kata ibu-ibu mereka, makanan itu sudah menjadi cemilan anak-anak.

Hal ganjil lainnya yang saya lihat adalah ingus anak-anak seolah tak pernah berhenti keluar dari hidung mereka. Kemudian saya tahu, itu disebabkan karena setiap hari mereka minum air mentah. Ketersedaiaan air bersih di Asmat hanya mengandalkan turunnya air hujan.

Keesokan harinya, kami bersama Tim Lokal mengumpulkan anak-anak untuk diikutkan pada screening. Ada sekitar 300 anak yang menjalani screening dan sekitar 14 anak terindikasi kekurangan gizi. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah karena ini baru screening yang dilakukan hanya di satu kampung.

Salah satu anak yang masuk dalam daftar kami adalah Susana. Umurnya 1,5 tahun. Namun, Susana hanya memiliki berat badan 4 kilogram. Dalam sehari Susana hanya makan nasi atau sagu dua kali. Di waktu pagi, ia hanya minum teh atau kopi. Waktu kami beri susu dan biscuit, tangan Susana gemetar. Kata dokter ia sangat kekurangan protein.

Untuk memonitor anak-anak ini, NU Peduli Kemanusiaan bersama tim lokal berinisiatif mendirikan rumah gizi. Dalam bahasa lokal mereka sebut Cem Gizi. Cem Gizi ini akan menjadi tempat anak-anak diberikan asupan gizi. Setiap minggu dalam 4 kali mereka akan datang di Cem Gizi untuk diberikan asupan makanan bergizi.

Cem Gizi akan menjadi rumah bagi anak-anak Asmat supaya tetap bisa sehat seperti anak-anak di wilayah Indonesia lainnya. Oleh karena itu, NU Care-LAZISNU juga melakukan penggalangan dana untuk anak-anak Asmat melalui NU Peduli Asmat.

Banyak cerita yang belum bisa saya tuliskan tentang pengalaman berharga di Asmat. Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di tanah Asmat yang kenangan dan kesannya akan terus tertancap dalam lembaran hidup saya.

Orang bilang Asmat adalah penyingkatan dari Asal Mau Tahan. Sepertinya saya belum teruji sepenuhnya untuk menjadi Asmat.


* Oleh: Agus Fuad, Ketua BEM FIB UI 2016, bergiat di PMII, staf NU Care-LAZISNU, dan anggota Tim NU Peduli Kemanusiaan.
Read More

Nahdliyyin Mimika Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Antusiasme Warga NU Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, dalam memperingati Harlah NU ke-92, dibuktikan dengan diadakannya kegiatan di tiga titik pada waktu yang berurutan dengan melaksanakan Istighotsah Maraton.

Bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Wanagon, peringatan Harlah NU ke-92, menampilkan remaja masjid dengan sholawat "Assalamu'alaika ya Rasulullah" dan "Qamarun" untuk membuka acara. Antusiasme mereka dalam persiapan sebelum tampil, luar biasa.

Acara dilanjutkan dengan lantunan istighotsah dan ceramah oleh Ustadz Hasyim yang dikemudian dilanjut dengan acara kilas balik sejarah berdirinya NU oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso.

Shahibul bait, Ustadz Fadlan, mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya supaya giat mengaji. "Mari kita didik dan dukung anak-anak kita mempelajari agama agar bisa meneruskan perjuangan para muassis dan kiai-kiai NU dalam menyebarkan Islam santun dan damai," urai ustadz Fadlan.

Pada pagi ba’da shubuh, hari Ahad di tanggal 4 Februari, istighotsah juga digelar di masjid Al-Fattah yang terletak di Trans lama SP3 Kampung Karang Senang. Acara diawali dengan syair istighotsah. Siraman rohani oleh Ustadz Hasyim dan kilas balik sejarah berdirinya NU oleh wakil ketua PCNU Mimika, Sugiarso. Acara ditutup dengan sholat Dluha berjama'ah oleh H. Ali Ma'ruf.

Pada malam harinya, ba’da isya' di hari yang sama, di masjid Nurul Hikmah, Kampung Mwuare, KM. 14, harlah NU ini diisi juga dengan istighotsah. Syair istighotsah mengawali acara dan dilanjutkan ceramah oleh Ustadz Hasyim.

Lantunan shalawat An-Nahdliyyah mengawali peringatan Harlah NU ke-92. Ustadz Hasan dan Ustadz Mukhid selaku tuan rumah telah menyiapkan tumpeng yang luar biasa yang ditancapkan bendera NU di tengahnya.

Dalam ceramah di tiga lokasi, Ustadz Hasyim mengajak jama'ah untuk menggapai kesejahteraan; lima di dunia dan lima di akhirat. "Bagaimana cara kita menggapainya?" tanya Ustadz Hasyim kepada jama'ah.

"Caranya kita harus berjama'ah dalam kebaikan. Kita duduk di majelis yang didalamnya kita sebut nama Allah SWT., istighfar, sholawat, tahlil, takbir, maka diampuni dosa kita dan mendapatkan rahmat. Walaupun datang ke acara sudah mau selesai dan ngowoh saja, tetap dapat ampunan dan rahmat," urai Ust. Hasyim

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, dalam peringatan kilas balik sejarah berdirinya NU menyebutkan bahwa Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar adalah tiga pilar utama cikal bakal berdirinya NU berkat usaha KH. Wahab Chasbullah.

"NU yang andil mendirikan negara. Tidak mungkin NU merobohkannya dengan mengutak-atik PBNU (Pancasila, Bhinneka tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Tugas kita sekarang adalah merealisasikan tiga pilar NU ini zaman now dengan penguatan ekonomi, pendidikan dan agama, dan kebangsaan," terangnya.

Acara ditutup dengan kirim doa untuk para muassis dan kiai NU. Bendera NU yang ditancapkan pada tumpeng menjadi simbol pelajaran sejarah dan rasa syukur NU yang tetap menjadi pedoman beragama, berbangsa dan bernegara.


Sumber: nu.or.id
Read More

Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina


rumahnahdliyyin.com - Pada 1982, di tengah gelanggang politik Indonesia yang dicengkeram rezim Orde Baru, Gus Dur—Abdurrahman Wahid—membuat manuver untuk perdamaian internasional. Ketika itu, Gus Dur mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Gus Dur bersama beberapa seniman, merancang beberapa program untuk kesenian dan sastra, untuk menguatkan kebudayaan.

Sebagai Ketua DKJ, Gus Dur mendapat banyak kritik. Terlebih lagi, ketika itu Gus Dur juga menjadi pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Langkah Gus Dur, sebagai pemimpin kaum seniman, ditentang para kiai. Argumentasi kritik yang mengalir, “Ketua Nahdlatul Ulama kok ndalang?”

Kritik ini bukan tanpa sebab. Sebagian besar kiai belum akrab dengan seniman dan sastrawan. Hanya sedikit kiai memahami alur pemikiran Gus Dur. Hanya sedikit pula, kiai-kiai yang srawung dengan seniman.

Di tengah hujan kritik, Gus Dur terus melaju. Ia bersama beberapa sastrawan, mencetuskan ide untuk menyelenggarakan Malam Perdamaian untuk Palestina. Sastrawan-sastrawan Ibu Kota tampil turut berpartisipasi, antara lain Sutardji Calzoum Bahri, Subagyo Sastrowardoyo, dan beberapa penyair lain.

Ketika itu, Gus Dur, mengundang sahabatnya, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) membaca puisi bersanding dengan beberapa penyair. Sontak saja, Gus Mus bingung sekaligus kaget. Ia belum pernah sekalipun tampil sebagai penyair, apalagi bersamaan dengan beberapa sastrawan yang telah dikenal publik.

Oleh Gus Dur, Gus Mus diminta membaca puisi-puisi karya sastrawan Palestina. Inilah momentum yang menjadikan Gus Mus sebagai sastrawan, sebagai budayawan.

Ketika silaturahmi ke ndalem Gus Mus, saya beberapa kali mendapatkan kisah-kisah itu dalam perbicangan di hadapan beberapa tamu. Juga, kisah-kisah menarik tentang persahabatan beliau dengan Gus Dur serta pandangannya terhadap isu Israel-Palestina.

Singkat cerita, peristiwa pada 1982 itu yang mempromosikan Gus Mus menjadi ‘penyair’.

Setelah 35 tahun berlalu, Gus Mus mengulang kembali jejak Gus Dur dengan menggelar malam puisi Doa untuk Palestina, pada akhir Agustus 2017.
Agenda yang diinisiasi Gus Mus ini dihadiri beberapa sastrawan dan cendekiawan Tanah Air, seperti Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Jamal D Rahman, Butet Kertaredjasa, Prof Dr Mahfud MD, dan Ulil Abshar Abdalla. Tampil juga Prof Quraish Shibah dan putrinya, Najwa Shihab.

Pada agenda ini, Gus Mus membacakan puisi "Orang Palestina, Begitulah Namaku", anggitan Harun Hashim al-Rashid. Gus Mus berdampingan dengan Slamet Rahardjo Djarot, yang membacakan puisi itu secara bilingual—Arab dan Indonesia.

Jalan cinta ditempuh Gus Mus untuk menyuarakan diplomasi perdamaian dalam konflik Israel-Palestina. Gus Mus, selama ini dikenal sebagai tokoh Muslim Indonesia yang menyuarakan moderatisme Islam dan perdamaian. Dalam beberapa kesempatan, Gus Mus berkunjung ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk mengkampanyekan pentingnya agama yang ramah dan toleran.

Kisah-kisah Islam di Indonesia dan nilai-nilai agama yang diwariskan oleh ulama, menjadi pesan perdamaian yang dibawakan Gus Mus. Diplomasi damai inilah yang selama ini dipraktikkan oleh Gus Mus dan Gus Dur.

Konflik kebencian

Manuver-manuver Gus Dur sering disalahpahami oleh publik di negeri ini. Strategi diplomasi Gus Dur dalam isu perdamaian Israel-Palestina sering dianggap sebagai lelucon.

Langkah Gus Dur yang bersahabat dengan tokoh-tokoh Israel menuai gelombang kritik. Terlebih lagi, Gus Dur juga pernah menjadi anggota The Peres Center for Peace and Innovation, yayasan perdamaian yang didirikan mantan Presiden Israel Simon Peres.

Gus Dur juga berkawan dengan tokoh-tokoh politik dan agama di Israel. Ia bersahabat dengan Presiden Yitzak Rabin. Pada 1994, Gus Dur diundang Rabin untuk melihat prosesi penandatanganan nota perdamaian Israel-Yordania. Gus Dur juga melakukan dialog dengan beberapa pemimpin agama di Israel, untuk mengupayakan perdamaian.

Ketika menjadi presiden, pernyataan perdana yang disampaikan Gus Dur dalam konteks politik luar negeri adalah membuka hubungan dagang dengan Israel. Pernyataan Gus Dur ini disampaikan pada agenda ‘Indonesia Next’ di Jimbaran, Bali, pada Oktober 1999.

Langkah tersebut membuat publik terhenyak, apalagi Gus Dur juga melihat bahwa China dan India perlu dijadikan partner ekonomi dan politik Indonesia, sebagai negara Asia yang berkembang pesat.

Lalu, mengapa harus Israel? Strategi politik ini, menurut Gus Dur berdampak signifikan bagi diplomasi politik Indonesia, baik dalam ranah regional maupun internasional.

Gus Dur berupaya membenamkan musuh-musuh imajiner bangsa Indonesia, tentang profil Israel yang selama ini dicitrakan demikian negatif di ruang publik.

“Gus Dur percaya untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner itu dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan dan dialog,” tulis Greg Barton dalam Biografi Gus Dur yang dilansir pada 2003.

Langkah-langkah Gus Dur sering disalahpahami. Gus Dur tidak semata melobi Israel, tetapi juga merangkul Palestina. Ia bersahabat pula dengan pemimpin dan tokoh Palestina.

Ada sebuah kisah tentang Gus Dur yang sangat perhatian dengan Palestina. Pada awal 1990-an, Gus Dur sering menyuruh keponakannya, Muhaimin Iskandar, untuk membayar rekening listrik Kedubes Palestina.

Ketika itu, Gus Dur menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama serta malang melintang sebagai cendekiawan, aktivis, dan pejuang isu-isu hak asasi manusia (HAM). Muhaimin masih nyantrik kepada Gus Dur, sebagai sekretaris pribadi.

Pada saat itu, Palestina juga belum diakui dunia internasional sebagai negara yang merdeka. Gus Dur memikirkan diplomasi Palestina di tingkat internasional, sekaligus memikirkan hal teknis untuk menopang kedaulatannya. Gus Dur tidak menginginkan perang berlarut-larut antara Israel dan Palestina.

Langkah-langkah Gus Dur sering tidak dipahami oleh orang-orang yang selama ini berteriak kencang terkait isu Israel-Palestina. Gus Dur tidak setuju dengan strategi mengirimkan relawan ke Palestina, karena tidak akan menyelesaikan masalah.

Justru, menurut Gus Dur, diplomasi dan dukungan konkret di bidang politik dan kebudayaan akan lebih berdampak signifikan.

Langkah Gus Dur melakukan manuver-manuver politik untuk diplomasi perdamaian perlu dibaca dalam bingkai yang utuh. Dukungan Gus Dur terhadap Palestina dengan jalan sastra dan politik perlu menjadi pelajaran penting.

Langkah tersebut diteruskan Gus Mus untuk mengupayakan perdamaian Israel-Palestina, melalui media cinta yang berdentum universal, yaitu puisi. Saat ini, kita menunggu diplomasi cinta untuk perdamaian di negeri-negeri Timur Tengah dan dunia internasional.

Indonesia memiliki peluang dalam ruang diplomasi perdamaian ini, melalui jalur cinta, jalan kemanusiaan.


* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, penulis buku "Merawat Kebinekaan."
Read More