Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang


rumahnahdliyyin.com, Jombang - Pesantren Tebuireng kedatangan seorang tamu warga negara Jepang. Namanya Yasuko Kobayashi. Ia seorang profesor dari NanZan University Jepang dan juga seorang peneliti sosial budaya Asia.

Di NanZan University Jepang, Prof. Yasuko merupakan dosen pengampu mata kuliah Sejarah Indonesia. Karena itu, ia sangat tertarik dengan Islam dan dunia pesantren. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa Islam dan pesantren merupakan ornamen penting dalam narasi besar sejarah Indonesia.

Ia ingat betul pada tahun 1984 ketika ia untuk pertama kalinya berkunjung ke Pesantren Tebuireng. Ketika itu, santri puteri masih dilokasikan di Pesantren Al-Masruriyyah yang diasuh oleh Nyai Hj. Khodijah, puteri dari KH. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Masruroh.

Pada tahun 2009, ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng. Tepatnya yaitu ketika wafatnya Presiden RI ke-4, yakni KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kemudian ia berkunjung lagi pada tahun 2015 dengan keperluan untuk melakukan observasi Muktamar NU ke-33 yang diselenggarakan di Jombang.

Setelah melakukan observasi Muktamar NU ke-33 empat tahun yang lalu, kini ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng dengan tujuan untuk melihat perkembangan Pesantren Tebuireng. Khususnya, perkembangan santri puterinya.

“Kunjungan saya ke Indonesia kali ini dalam rangka mengantar mahasiswa ke Jogjakarta untuk mengikuti kursus Bahasa Indonesia. Saya memanfaatkan waktu ini untuk berkunjung ke Jombang. Selama saya di Jombang ini, rekan saya yang menemani,” jelas Prof. Yasuko Kobayashi pada Rabu, 7 Maret 2018 kemarin lusa, sebagaimana dilansir oleh Tebuireng Online.

Prof. Yasuko menjelaskan bahwa NanZan University Jepang mempunyai fokus studi sosial dan budaya di negara-negara Asia yang mana memiliki aneka ragam budaya dan bahasa. Dan salah satu negara Asia tersebut adalah Indonesia.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Tiap tahun, dalam proses pembelajaran mengenai kebudayaan Indonesia, NanZan University Jepang mengadakan lomba pidato Bahasa Indonesia yang dibantu oleh KBRI dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Terkadang, beberapa mahasiswa juga memainkan gamelan.

Selain meninjau perkembangan Pesantren Tebuireng, Prof. Yasuko juga ingin membuktikan bahwa para santri saling berinteraksi antar lawan jenis dalam hal positif dan juga dengan orang lain di luar pesantren.

“Jepang mengenal muslim itu sangat menakutkan. Terutama ISIS. Maka dari itu, saya sangat senang membawa mahasiswa saya ke sini untuk melihat kenyataan bahwa anak pesantren juga berani bergaul dengan teman-teman dari luar. Dan supaya saling memahami,” jelas pimpinan Departemen Studi Asia Fakultas Studi Luar Negeri Nanzan University Nagoya Jepang itu.

Akhir-akhir ini, tambah Prof Yasuko, berita dari Indonesia yang beredar di Jepang menuai pertanyaan; apakah sikap toleran mulai berkurang atau wajah moderat Islam Indonesia itu berubah? Maka dari itu, ia berinisiatif mengajak beberapa mahasiswanya untuk menjawab kekhawatiran itu.

“Jasa Gus Dur sangat besar untuk memperkenalkan wajah Islam di seluruh dunia. Saya membaca banyak karya Gus Dur dari kecil hingga besar. Lebih dari 300 buku yang saya baca. Dan saya sangat kagum. Orang-orang yang mempelajari Indonesia, cukup memahami jasa Gus Dur. Saya pun menjadi semacam GusDurian Jepang,” papar Yasuko ketika berbicara mengenai wajah Islam yang sebenarnya yang ternyata ia dapati dari Gus Dur.

Prof. Yasuko juga menyampaikan kesannya mengenai perkembangan pesantren di Indonesia selama 30 tahun terakhir ini. Ia menemukan fakta bahwa pesantren di Indonesia terus mengalami perkembangan dan memiliki banyak variasi dan tipologi.

“Dalam perkembangan itu, saya kira Tebuireng tetap menjadi satu panutan. Perkembangn pesantren merupakan salah satu bukti bahwa Islam mengikuti zaman. Dan pesantren menjadi suatu agen transformasi bagi masyarakat,” ungkap Prof. Yasuko yang juga bisa lancar dalam bahasa Indonesia. []
(Redaksi RN).


* Sumber: tebuireng.online
Read More

Gus Mus - Adil


rumahnahdliyyin.com - Adil merupakan hal yang penting. Karena itu, ia sering disebut dalam Al-Qur'an. Silakan diputar dan disimak video selengkapnya mengenai adil dibawah ini yang dijelaskan singkat oleh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Semoga tercerahkan dan bermanfaat.

Inilah videonya:


Simak juga video lainnya:


* Sumber: GusMus Channel

Read More

Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Seorang profesor dari Jepang, Hisanori Kato, tengah melakukan penelitiannya tentang Islam Nusantara. Karena yang mengusung Islam Nusantara sebagai sebuah tipologi Islam adalah NU, maka ia pun mewawancarai kiai-kiai NU. Tidak hanya itu, ia juga akan mengikuti kuliah-kuliah di Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

Pada Rabu kemarin, 7 Maret 2018, Kato mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, yaitu KH. Ahmad Ishomuddin. Bertempat di Pojok Gus Dur, lantai dasar Gedung PBNU, Jakarta, beberapa pertanyaan yang diajukan Kato adalah mengenai pengertian, ajaran, watak dan amaliyah Islam Nusantara.

Tentang pengertian Islam Nusantara, kiai Ishom menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang sebenarnya. Ibadah, kiblat, kitab suci dan yang lainnya, semua sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan penggunaan kata "Nusantara", karena mengacu terhadap letak geografis Islam di Asia Tenggara. Dan Lebih dari itu, istilah "Nusantara" itu untuk memudahkan pemahaman bagi orang yang di luar Nusantara.

Watak Islam Nusantara, lanjut kiai Ishom, adalah "tawassuth" (moderat), "ta’adul" (adil), "tawazun" (seimbang) dan "tasyawur" (bermusyawarah untuk mufakat). Sedangkan diantara amaliyahnya adalah ziarah.

Profesor dari "Faculty of Policy Studies Chuo University" itu, sebenarnya bukan untuk kali pertamanya datang di Indonesia. Sudah sejak 1991 ia menginjakkan kaki di bumi Nusantara ini. Bahkan, beberapa bukunya bertemakan tentang Indonesia. Diantaranya yaitu "Kangen Indonesia, Indonesia di Mata Orang Jepang" dan "Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur Sampai Ba'asyir."

Mengenai Islam Nusantara ini, profesor Hisanori Kato mengatakan bahwa penelitiannya ini akan disampaikan pada Konferensi Internasional di China tahun ini. Selain itu, juga akan dibukukan dalam bahasa Jepang. []




(Redaksi RN)
Read More

Berita Duka Kewafatan Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Innaa liLlaahi wainnaa ilaiHi rooji'uun. Kabar duka menyelimuti bangsa Indonesia siang ini. Salah satu perempuan terbaik negeri ini telah dipanggil ke haribaan-Nya.

Perempuan tersebut adalah Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi, puteri KH. Abdul Wahid Hasyim atau cucu dari Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

InnaaliLlaahi wainnaa ilaiHi rooji'uun, Ibu Aisyah Hamid Baidlowi meninggal dunia. Semoga, beliau husnul khotimah. Al-Fatihah... Meninggal hari ini, pukul 12.50,” terang Nely Wahid, menantu almarhumah.

Sebelumnya, kepada para pengurus Muslimat NU, Nely Wahid mengutarakan bahwa jika ada kesalahan dari almarhumah, baik yang disengaja maupun tidak, agar dimaafkan secara ikhlas.

“Bunda-bunda muslimat NU, saya mewakili mama Aisyah, mohon keikhlasan maaf apabila mama ada membuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Semoga, mama Aisyah Hamid Baidlowi binti KH. Abdul Wahid Hasyim husnul khotimah,” tutur Nely Wahid.

Sementara ini, jenazah disemayamkan di Rumah Duka, jalan Bukit Pratama Raya A.9, Pasar Jum'at, Lebak Bulus, sebelum nantinya akan dimakamkan di Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi merupakan adik kandung dari mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga kakak kandung dari KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid dan Hasyim Wahid.

Selain pernah mengemban tugas sebagai Ketua Umum PP. Muslimat NU pada periode 1995-2000, Nyai Aisyah juga pernah menjadi Ketua Kongres Wanita Indonesia (1990-1995), Anggota DPR RI selama tiga periode (1997-2009), Pengurus Dewan Pimpinan MUI (1995-2000), Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah (2000-2010) dan Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1999-2013).

Dan hari ini, Kamis siang, 8 Maret 2018, sekitar pukul 12.50 tadi di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, kita kehilangan salah satu perempuan terbaik negeri ini. Akhirnya, lahal-Fatihah... []
Read More

Program Pemerintah 1,5 Triliun Tidak Jalan, Gerakan Koin NU Harus Digalakkan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengakui bahwa pemberdayaan ekonomi warga merupakan program yang memerlukan energi besar, baik pemikiran, konsep hingga implementasinya. Meskipun sulit, PBNU menghimbau agar semua pihak yang telah melakukan program pemberdayaan ekonomi warga, tidak putus asa.

"Kita bisa melihat hasil program dibidang kesehatan, seperti pendirian rumah sakit. Kita juga bisa melihat capaian dibidang pendidikan, seperti mendirikan sekolah dan universitas. Namun, kita tidak pernah mudah melihat sejauh mana capaian program kita dibidang pemberdayaan ekonomi warga," kata Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, MA., Ketua Umum PBNU dalam memaparkan program saat rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU, Selasa siang, pada 6 Maret 2018 lusa.

Baca Juga: Rakornas NU Care Lazisnu Ketiga Di Sragen

Menurut kiai Sa'id Aqil, pemerintah pun mengalami kesulitan yang sama saat diminta untuk menunjukkan sejauh mana capaian dibidang pemberdayaan ekonomi warga. Kesulitan ini bukan karena kemalasan dan kejumudan pemerintah, namun karena kompleksitas bidang ekonomi yang melibatkan dua ratus lima puluh ribu juta warga Indonesia.

"Contoh sederhana, Pak Jokowi ingin membantu permodalan masyarakat melalui NU dengan mengucurkan dana total Rp. 1,5 Triliun. Namun, sampai saat ini, Kementerian Keuangan kesulitan mencari skema pembiayaan tersebut karena pemerintah terbentur aturannya sendiri. PBNU minta bunga yang dibebankan kepada masyarakat paling tinggi 7 persen. Tapi pemerintah belum bisa memenuhi," kata kiai Sa'id Aqil lagi.

Baca Juga:
NU Care Lazisnu Peduli Papua
NU Peduli Wabah Campak dan Gizi Buruk di Asmat

Akibatnya, imbuh kiai Sa'id Aqil, pemerintah sampai saat ini masih belum bisa merealisasikan program mulia tersebut. Padahal, jika hal ini terealisasi, maka sangat membantu untuk menggerakkan ekonomi warga masyarakat bawah.

"Bunga yang dikenakan dari dana PKBL sudah bagus, 3% pertahun. Hanya, nominalnya masih terbatas. Jika Rp.1.5 Triliun ini dikenakan bunga, tak perlu 3%, cukup 7%, maka gairah ekonomi masyarakat kecil akan tampak bergerak cepat," tutur kiai Sa'id Aqil.

Baca Juga: Kaleng Penguat Ekonomi Umat

Kesulitan gerakan ekonomi warga karena aturan ini, harus ditemukan solusinya. Diantaranya yaitu dengan cara mendorong masyarakat untuk bisa membiayai dirinya sendiri. Maka, program gerakan Koin NU harus digalakkan.

"Tahun 2017, gerakan Koin NU sudah mampu mengumpulkan modal Rp. 250 miliar. Kita perlu gerakkan lagi, hingga di tahun 2018 ini mampu membukukan hingga satu triliun rupiah," tandas kiai Sa'id Aqil dalam rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU yang membahas beberapa agenda. Termasuk persoalan internal NU dan kemasyarakatan.





(Redaksi RN)
Read More

Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur’an Kepada Muallaf


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Seorang pengusaha bernama Richard, Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, menyatakan masuk Islam di Masjid An-Nahdlah, Jakarta. Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj, membimbingnya ketika membaca syahadat disela-sela kegiatan Istighosah dan Diskusi Publik yang digelar oleh Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa.

Dalam kesempatan ini, kiai Sa'id menyampaikan bahwa beragama Islam itu mudah. Setidaknya, harus meyakini bahwa Allah SWT. adalah Tuhan dan Nabi Muhammad SAW. adalah utusan-Nya. Dalam meyakini Allah SWT. ini, juga harus meyakini sifat-sifat-Nya yang diantaranya adalah tidak beristri, tidak beranak dan tidak berbapak.

Selain itu, kiai yang mengasuh Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu, juga menjelaskan kelebihan Al-Qur’an yang notabene merupakan kitab suci umat Islam.

Meski sudah hampir 1500 tahun usianya, namun kitab suci umat Islam tersebut tetap tidak berubah walau satu titik pun. Keaslian Al-Qur’an, imbuh kiai Sa'id, dijaga oleh ratusan ribu penghafalnya.

“Al-Qur’an mudah dihafal. Enak dihafal. Siapapun. Bukan hanya orang Arab. Orang Indonesia yang gak ngerti bahasa Arab, bisa ngafalin Al-Qur’an dengan cepat,” katanya.

Baca Juga:
KH. Sa'id Aqil Tuntun Syahadat Warga Amerika
Kiai Sa'id Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

Kecepatan menghafal Al-Qur’an, belum tentu sama dengan kecepatan menghafal teks bahasa Arab lainnya.

Dari segi isi, Al-Qur’an selalu sesuai dengan temuan ilmu pengetahuan termutakhir. Misalnya, mengenai bumi yang bulat. Selain itu, kiai Sa'id juga mencontohkan tenggelamnya Fir'aun di Laut Merah yang kemudian badannya diselamatkan. Mengenai contoh yang terakhir ini, kiai lulusan Arab Saudi ini mengutip Surat At-Taubah ayat 92.

Pada ayat tersebut, Al-Qur’an membicarakan mengenai Fir'aun Ramses II yang tenggelam di Laut Merah dan badannya diselamatkan. Padahal, mumi Fir'aun baru ditemukan pada tahun 1898 M.

“Dalam suatu penelitian, badan Fir'aun disebutkan mengandung garam,” papar kiai Sa'id.

Dengan hasil penelitian yang dipimpin oleh ahli bedah Perancis, Maurice Bucaille, Fir'aun terbukti tenggelam di Laut Merah.

Setelah Richard mengucapkan dua kalimat syahadat dibawah bimbingan KH. Sa'id Aqil, kemudian dipanjatkanlah do'a yang dibawakan oleh wakil Rais 'Aam PBNU, yaitu KH. Miftahul Akhyar. Nama "Muhammad" pun kemudian diberikan kepada Richard oleh kiai Sa'id sebagai tambahan nama depan Richard. Walhasil, nama Richard pun sejak detik itu berganti menjadi Muhammad Richard.


* Sumber: nu.or.id
Read More

Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa tahun Pilpres, Pilkada dan Pileg ini sebagai proses demokrasi yang harus dihadapi secara dewasa dan dijalani dengan tenang dan damai. Demikian salah satu hasil Rapat Syuriah-Tanfidziyah yang digelar di Jakarta, Selasa siang, 6 Maret 2018.

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., mengatakan bahwa di tahun demokrasi ini, seluruh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom, harus tunduk terhadap aturan organisasi.

"Yang paling mudah tunduk kepada aturan NU itu, semua pengurus NU tidak boleh menggunakan atribut NU untuk kepentingan politik praktis. Ini aturan mutlak. Tidak boleh ditawar," tegas kiai Said Aqil.

Kiai Said menambahkan lagi bahwa sebagai warga negara, pengurus NU boleh memilih dan dipilih. Konsekuensi organisasi saat dipilih, itu ada. Begitu juga aturan saat memilih, juga ada. Etika berpolitik bagi pengurus NU itu sudah jamak diketahui oleh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom.

"Saya tidak perlu menggurui karena aturan NU sudah diketahui oleh pengurus. Karena itu, PBNU hanya menyegarkan kembali atas etika berpolitik bagi pengurus NU," imbuh pengasuh Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur tersebut.

Berkaitan dengan beberapa kader NU yang mengikuti kontestasi Pilkada, kiai Said Aqil menyerukan agar menjunjung tinggi etika berpolitik NU dan menjaga persaudaraan sesama warga bangsa. Menurut kiai Said, Pilkada tidak lebih penting daripada persaudaraan sesama anak bangsa.

"Bagi politisi, kekuasaan itu penting untuk mewujudkan idealisasinya. Tidak kalah penting lagi adalah persaudaraan untuk mewujudkan ketenangan dan ketenteraman kehidupan anak bangsa," terang kiai Said.

Rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU yang dimulai sejak siang hari dan baru selesai menjelang tengah malam itu, membahas beberapa agenda. Diantaranya yaitu tentang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan tahun politik Indonesia.




(Redaksi RN)
Read More

Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam bermedia sosial. Hal itu diungkapkannya pada Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, dalam agenda acara "Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber: Menuju Medsosul Karimah" di Masjid PBNU, Jakarta Pusat.

"Sekarang ini, yang penting bagi kita semua itu kecerdasan bermedia sosial. Agar Indonesia tetap tenang dan damai. Tidak terusik dari kekisruhan di media sosial. Kita harus lawan kebencian. Kita bangun algoritme kebersamaan," paparnya.

Pada acara ini, hadir pula Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais 'Aam PBNU), KH. Said Asrori (Syuriah PBNU), Kombes Mulya (Polri), Suwadi D. Pranoto (Wasekjen PBNU), KH. Aizzudin Abdurrahman (Ketua PBNU), Sabrang Damar Mowopanuluh (Noe Letto), KH. Atholillah Habib (Waketum Pagar Nusa) dan Hasanuddin Wahid (Sekum Pagar Nusa).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, dalam kesempatan ini mengajak warga Nahdliyyin dan semua warga Indonesia untuk cerdas dalam bermedia sosial. Beberapa negara Timur Tengah yang telah mengalami krisis dan konflik pun di sebutkan sebagai pembelajaran.

Baca Juga:
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol
Ppagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

"Kita lihat bagaimana perpecahan yang terjadi di Timur Tengah. Dari Syiria, Yaman, Libia dan beberapa negara di sekitarnya. Sebagian besar, diawali dengan perdebatan yang tak kunjung henti di media sosial. Ini harus kita sadari bersama," ungkap kiai Sa'id.

Lebih lanjut, kiai Sa'id mengajak umat muslim dan warga Indonesia untuk melawan kebencian. Sebab, jelas sekali bahwa kebencian, apalagi menebarnya, adalah suatu hal yang dilarang oleh ajaran agama.

"Sudah jelas, ajaran agama melarang kita untuk menebar kebencian. Yang harus dilakukan, yakni membagi kebahagiaan, amal sholih dan akhlaqul karimah," jelas kiai Sa'id.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi, Sabrang Damar (Noe Letto), menganalisa bagaimana berkembangnya media sosial serta tertinggalnya pemikiran warga Indonesia. Di hadapan ratusan pendekar dan jama'ah Istighotsah, Sabrang mengingatkan agar kita semua sadar diri ketika bermedia sosial.

"Sekarang ini, revolusi Industri tahapan ketiga. Kita pernah dengar bitcoin dan beberapa inovasi digital. Tapi, sekarang ini, warga Indonesia masih terpaku pada perdebatan yang riuh di media sosial," papar Sabrang.

"Kita harus lihat, bagaimana media sosial itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Media sosial dirancang hampir sama dengan narkoba, agar addict (kecanduan). Medsos dicipta sedemikian rupa, agar pengguna kecanduan. Nah, ini yang harus kita pahami," imbuh Sabrang Noe Letto agak lebih rinci.

"Jangan seperti anak kecil yang berkelahi dengan anak kecil. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pawang yang mampu memayungi perdebatan-perdebatan yang ada," ucapnya kemudian.

Baca Juga:
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Sedangkan Suwadi D. Pranoto, pakar geostrategi, menyampaikan pentingnya menganalisa skenario dibalik penciptaan media sosial.

"Jelas, bahwa kita tidak hanya melihat media sosial, semata teknis teknologi digital. Kita harus melihat lebih mendalam. Aspek filosofis dan strategis dibalik itu," kata Suwadi yang akrab disapa dengan Cak Su ini.

Pada masa khidmah kepengurusan tahun 2017-2022, Pagar Nusa dibawah komando Nabil Haroen ini mengkonsolidasi diri dengan meluaskan jaringan dan meningkatkan kualitas pendekar. Sedangkan kegiatan Istighotsah dan Kajian yang diselenggarakan secara rutin tiap bulannya di Masjid PBNU ini merupakan ajang silaturrahmi kebangsaan dan menguatkan ukhuwwah Islamiyyah. []
Read More

Pagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab


rumahnahdliyyin.com, Temanggung - Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Temanggung periode tahun 2017-2022 menyelenggarakan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018.

Muskercab yang diselengggarakan di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Tuksongo, Pringsurat, Temanggung, ini merupakan salah satu permusyawaratan tertinggi ditingkat PC. PSNU Pagar Nusa.

Baca Juga:
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Jumlah peserta yang hadir dalam Muskercab kali ini ada sebanyak 57 orang. Jumlah itu terdiri dari peserta penuh dan peserta peninjau.

Peserta penuh merupakan Pengurus Cabang PSNU Pagar Nusa Temanggung. Sedangkan Peserta peninjau terdiri dari unsur pengurus Syuriyyah dan Tanfidziyah PCNU Temanggung, Dewan Khos Pagar Nusa yang diundang resmi oleh panitia, Dewan Khos PC. Pagar Nusa, utusan Padepokan Silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa (seperti LGBR, Gasmi, Ababil dan Cimande) serta para awak media massa.

Diantara tujuan diadakannya kegiatan Muskercab PC. PSNU Pagar Nusa ini yaitu:
  1. Mengevaluasi pelaksanaan program kerja PC. PSNU serta sebagai laporan berkala kepada PCNU.
  2. Membahas dan menetapkan kerangka kerja bidang-bidang strategis sesuai dengan perkembangan Pencak Silat NU di tengah masyarakat
  3. Membahas dan menetapkan kerangka kerja penyelesaian masalah-masalah organisasi dan keanggotaan. 
Rangkaian acara ini dimulai dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh PCNU Temanggung, Dewan Khos dan PC. PSNU Pagar Nusa Temanggung, dan dilanjutkan dengan sidang pleno yang dibagi menjadi 3 komisi:
  • Komisi A, yaitu dengan agenda pembahasan dibidang advokasi dan hukum, komunikasi dan penguatan jaringan serta ketabiban.
  • Komisi B, yaitu diagendakan untuk sidang pengembangan seni bela diri, bidang wasit-juri dan bidang pasukan inti.
  • Komisi C, yaitu sidang dibidang penelitian dan pengembangan, baik pengembangan ekonomi kreatif maupun pengembangan organisasi dan keanggotaan.
Adapun beberapa hasil sidang pleno dari Muskercab kali ini yaitu:
  1. Pengurus Cabang segera merumuskan program kerja dan rencana strategis terkait dengan penguatan organisasi dan jaringan ke seluruh Anak Cabang (Kecamatan) se-Kab. Temanggung.
  2. Merekomendasikan kepada semua pangkalan dan padepokan silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa Temanggung supaya melakukan updating data keanggotaan yang selanjutnya untuk membuatkan KTA sekaligus diagendakan untuk pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) pada tahun ini.
  3. Membentuk tim ekonomi kreatif demi kelangsungan organisasi sebagai Badan Otonom NU yang mandiri dan mampu menjawab berbagai tantangan kegiatan berbasis manajemen yang profesional.
  4. Meningkatkan peran dan fungsi PSNU Pagar Nusa sebagai benteng ulama', benteng Nusa Bangsa dan Agama. Selain itu juga sebagai olah raga prestasi yang terjun di kancah Kejurkab, Kejurda dan Kejurnas, serta even-even POPDA, Kejurprov, PON, dll. 
Diakhir Muskercab, acara dilanjutkan dengan sidang paripurna untuk menetapkan hasil sidang pleno oleh ketua PC. PSNU Pagar Nusa, yaitu K. Dukut Sri Widayat, dan dilanjutkan dengan upacara penutupan pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018, sekitar pukul 15.00 Wib. []

(Eko Purwanto).
Read More

Khilafah Itu Institusi Politik, Bukan Agama


rumahnahdliyyin.com - Hanya mereka yang tidak memahami Al-Qur’an dan membaca sejarah Islam yang akan menyangkal judul di atas. Sebelum membahas dua sumber tersebut (Al-Qur’an dan sejarah Islam), perlu ditegaskan bahwa kegandrungan sebagian masyarakat muslim di Indonesia terhadap sistem Khilafah sebagai bentuk pemerintahan Islam merupakan fenomena baru.

Sejak awal, bahkan sebelum kemerdekaan, ide Khilafah itu sama sekali tidak menjadi pertimbangan kaum muslim. Dua tahun setelah Khilafah Utsmaniyyah dibubarkan pada 1924, kongres tentang Khilafah digelar di Kairo dan Jeddah, yang juga dihadiri oleh peserta dari Indonesia.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Seperti dituturkan oleh Prof. Hamka bahwa salah seorang peserta kongres tersebut adalah bapaknya sendiri. Dalam memoar mengenang orang tuanya, Prof. Hamka menulis buku yang berjudul Ajahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958).

“Peserta dari Indonesia sama sekali tidak antusias dengan sistem Khilafah,” demikian kata bapak Prof. Hamka yang ditulis dalam buku tersebut.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Peserta lain adalah Mohammad Natsir, seorang tokoh utama partai Islam Masyumi. Dalam bukunya yang berjudul Islam dan Kristen di Indonesia (1969), Natsir juga menyinggung keikutsertaannya dalam kongres Khilafah. Tapi dia tidak tertarik. Ia lebih memilih ide Negara Islam, ketimbang Khilafah.

Konsep Negara Islam yang ada dalam pikiran Natsir bukan teokrasi ala Khilafah. Ia meyakini betul bahwa Negara Islam itu tidak bertentangan dengan demokrasi. Makanya, dia mengatakan bahwa Negara Islam bukan teokrasi dan juga bukan sekuler, melainkan “Negara Demokrasi Islam”.

Baca Juga: Belajar Bernegara dari Sholat Jama'ah

Artinya, sejak awal kelahiran Republik ini, sistem Khilafah memang bukan alternatif. Baru belakangan saja kaum muslim di Indonesia telah dibodohi oleh propaganda bahwa Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Selain tidak sesuai dengan Al-Qur’an, propaganda itu juga bersifat ahistoris.

Khalifah Dalam Al-Qur’an dan Tafsir Awal

Kata khilafah berasal dari akar kata yang sama dengan khalifah, yakni kh-l-f. Dalam literatur politik Islam klasik, pemerintahan Khilafah dipimpin oleh seorang khalifah. Namun, kalau dirujuk ke dalam Al-Qur’an, kata khalifah itu tidak punya konotasi politik.

Baca Juga: Jubir HTI Dibungkam Justru Dengan Kitab Induknya

Dalam kisah penciptaan Nabi Adam AS., yang disebutkan dalam surat Al-Baqoroh, terdapat dialog antara Tuhan dengan malaikat terkait penciptaan seorang khalifah. Ketika Allah SWT. berfirman kepada malaikat: "Saya akan menciptakan seorang khalifah di atas bumi." Respons malaikat, “Akankah Engkau menciptakan di atas bumi seseorang yang akan melakukan kerusakan?” (QS. Al-Baqoroh: 30).

Jelas sekali bahwa Al-Qur’an tidak menggunakan istilah khalifah dalam pengertian pemimpin politik. Menarik untuk disimak, bagaimana kata khalifah dipahami dalam tradisi tafsir awal.

Baca Juga: Azyumardi Azra: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud

Prof. Wadad Al-Qadi dari Universitas Chicago, AS, melakukan studi mendalam tentang penafsiran khalifah di kalangan para mufassir muslim awal. Terutama pada zaman pra-Thobari (w. 310/922). Kenapa literatur tafsir yang dipilih adalah karya-karya sebelum zaman Thobari? Sebab, hidup imam Thobari cukup belakangan dalam rentang waktu penggunaan kata khalifah yang berkonotasi sebagai pemimpin politik.

Dalam sumber-sumber yang dapat dipercaya, kata khalifah disematkan kepada pemimpin politik itu baru terjadi pada zaman dinasti Umayyah, sebagaimana akan didiskusikan di bagian akhir tulisan ini.

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah HTI

Maka, fokus kajian Prof. Qadi ialah tafsir-tafsir yang ditulis atau diproduksi pada zaman dinasti Umayyah yang berkuasa antara tahun 661-750. Kesimpulan Qadi sangat menarik: betapa penggunaan kata khalifah sebagai pemimpin politik juga terdeteksi dalam sebagian tafsir yang diproduksi pada akhir pemerintahan dinasti Umayyah dan awal pemerintahan dinasti Abbasiyyah. Sementara dalam tafsir-tafsir yang lebih awal, kata khalifah dimaknai tanpa konotasi politik apa pun.

Akar kata kh-l-f bisa bermakna “menggantikan”, “orang yang datang setelah yang lain”. Para mufassir kebingungan juga bagaimana memahami kata khalifah Allah: "menggantikan Allah"? Tapi, pertanyaan yang lebih subtil ialah: Kenapa manusia begitu mulia sehingga dijadikan khalifah di atas bumi?

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Terkait pertanyaan itu, dua alternatif jawaban, yang berkorespondensi dengan kronologi penggunaan istilah khalifah secara politik, diajukan. Dalam tafsir yang ditulis pada awal masa dinasti Umayyah, ketika kata khalifah belum digunakan sebagai gelar pemimpin politik, alasan yang diajukan adalah karena manusia punya kemampuan untuk mengelola atau mengembangkan sumber daya alam. Sedangkan pada paruh akhir zaman dinasti Umayyah, manusia disebut sebagai khalifah karena kemampuannya untuk memimpin.

Khilafah Sebagai Institusi Politik

Dari penelusuran penafsiran khalifah dalam literatur tafsir awal, tampak adanya pergeseran dalam pemaknaan kata khalifah. Ini juga bukti nyata bahwa tafsir kontekstual itu tak terhindarkan. Sebab, tak ada pemahaman yang lahir di ruang hampa. Tapi, ini persoalan lain yang akan saya diskusikan dalam tulisan lain. Cukup dikatakan di sini bahwa praktik politik juga mempengaruhi corak penafsiran Al-Qur’an.

Baca Juga: Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah

Dalam buku-buku sejarah Islam, kata khalifah itu disematkan kepada pemimpin politik pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Empat khalifah pertama disebut khulafa’ rosyidun (para khalifah yang baik). Tapi, sesungguhnya kita tidak punya bukti dokumenter yang ditulis pada zaman khulafa’ rosyidun yang menunjukkan bahwa mereka memang disebut khalifah pada zamannya. Tampaknya, penyebutan mereka sebagai khulafa’ (bentuk jamak dari kata khalifah) lebih merupakan proyeksi ke belakang yang dilakukan oleh para penulis muslim ketika di zaman itu pemimpin politik sudah disebut sebagai khalifah.

Sebagaimana kita ketahui, kitab-kitab yang menyebut Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali sebagai khulafa’, itu ditulis pada zaman dinasti Abbasiyyah. Barangkali Abdul Malik bin Marwan, pemimpin kelima dari dinasti Umayyah, yang pertama kali mengklaim diri dengan sebutan sebagai khalifah. Ini terbukti dari mata uang koin yang dikeluarkan oleh Abdul Malik.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Khalifah dinasti Umayyah ini melakukan reformasi mata uang dan mencetak koin dalam beberapa versi. Dari yang semula mengadopsi mata uang Persia, hingga akhirnya mengeluarkan koin dengan gambar dirinya yang disertai dengan tulisan di bagian pinggir: Khalifah Allah.

Sebelum itu, para pemimpin kaum muslim disebut dengan amirul mu’minin (pemimpin kaum beriman). Apa yang dilakukan oleh Abdul Malik itu tidak mengagetkan dan sejalan dengan proyek “Islamisasi” dan “Arabisasi” yang gencar dilakukan di zamannya. Kontribusi khalifah Abdul Malik bagi reformasi Islam sebagaimana kita saksikan sekarang ini, sangatlah besar. Kata khalifah dan khilafah pun menjadi kosa kata politik yang terwariskan darinya hingga saat ini.

Baca Juga: Buya Syafi'i Maarif: Lawan Orang yang Memperalat Agama

Namun demikian, Khilafah Umayyah justru dianggap tidak cukup Islami oleh dinasti yang menggulingkannya, yaitu Khilafah Abbasiyyah. Revolusi Abbasiyyah melibatkan beragam intrik politik yang kotor, manipulasi dan pembodohan massal yang mungkin tak ada bandingannya dalam sejarah. Dan juga pertumpahan darah.

Namun, alih-alih mengembalikan Khilafah ke jalur yang diajarkan oleh empat khalifah pertama, para pemimpin dinasti Abbasiyyah justru mengadopsi sistem pemerintahan dari Sasanid Persia. Misalnya, dalam struktur pemerintahan diperkenalkan jabatan Wazarah, yang mungkin selevel dengan kantor Perdana Menteri.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Para teoritisi politik muslim sepakat bahwa sistem Wizarah itu baru muncul pada zaman dinasti Abbasiyyah dan dipinjam dari Persia. Maka, penulis teori politik Islam, seperti Al-Mawardi atau Abu Ya’la, mencoba merumuskan tugas-tugas wazir terkait urusan tata kelola negara supaya tidak berbenturan dengan otoritas khalifah.

Pengadopsian model pemerintahan Persia ini tidak mengagetkan. Sebab, banyak penasihat khalifah berasal dari birokrat Persia, seperti Ibnu Muqaffa atau Nizam Al-Mulk. Dan pengadopsian ini wajar saja karena Khilafah memang institusi politik. Bukan agama.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Bukan saja sistem Khilafah itu tidak termasuk rukun Islam dan rukun Iman, namun juga tidak ditemukan dalam Al-Qur’an atau praktik Nabi SAW. Sejarah juga membuktikan bahwa Khilafah itu produk politik (dan sudah terbukti gagal). Jadi, tolong jangan identikkan Khilafah dengan Islam. []


* Oleh: Mun'im Sirry, Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA.

** Tulisan ini diambil dari geotimes.co.id
Read More