KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Kontribusi HTI Untuk NKRI?


rumahnahdliyyin.com - Pertama telinga saya mendengar nama ustadz Fadlan Garamatan (UFG) berasal dari mulut seorang tokoh Islam di salah satu kampung yang seratus persen penduduknya muslim asli Papua. Waktu itu saya bersama beberapa teman silaturrahmi ke rumahnya. Meskipun saya tidak paham apa yang dimaksudkan dari ucapannya terkait UFG ketika itu, namun karena teman saya kelihatan manggut-manggut, maka saya pun tidak menanyakan apa maksud dari pria paruh baya itu kok mewanti-wanti kita agar jangan sampai seperti UFG.

Karena penasaran, selepas pertemuan dengan tokoh Islam asli Papua itu, saya pun bertanya pada teman saya, siapakah sebenarnya UFG itu? Berawal dari sinilah saya jadi sedikit tahu tentang UFG yang beberapa bulan kemudian saya ketahui juga ternyata punya julukan sebagai "Ustadz Sabun".

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa hari ini ada sebaran video UFG di grup-grup WA. Yaitu video ceramahnya yang menceritakan tentang strategi dakwahnya di pedalaman Papua dengan menggunakan sabun. Itulah mengapa ia dijuluki sebagai "Ustadz Sabun".

Kendati ada tokoh Islam Papua yang menyatakan bahwa apa yang dikatakan UFG dalam video tersebut adalah omong kosong belaka, namun ditulisan kali ini saya tidak akan mengupas tentang apa yang dikatakan UFG dalam video itu. Selain karena saat ini pengetahuan saya untuk menguak hal itu kurang memadai, juga karena saat membuka video UFG tersebut saya sangat kaget dengan adanya label bendera HTI dipojok kanan atasnya. Di sudut itulah justru fokus saya terarah selain tentu saja menyimak apa yang dikatakan oleh ustadz yang konon sudah mengislamkan ribuan orang asli Papua ini.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sebagaimana kita ketahui bersama, pengadilan HTI beberapa waktu lalu sempat ramai di medsos. Gus Guntur Romli dan kiai Ishomuddin menjadi target lontaran miring dan fitnahan selepas beliau berdua menjadi saksi di PTUN. Dan setelah kesaksian yang membungkam itu, kini ada sebaran video ceramah seorang ustadz yang ada label bendera HTI yang diakhir videonya terkesan nasionalisme banget.

Terlepas apakah UFG juga seorang HTI atau tidak, saya tidak tahu. Setahu saya, UFG selalu memakai bendera AFKN dalam kegiatannya. Yaitu nama sebuah yayasan yang dibentuknya. Dan apakah ini hanya siasat HTI supaya banyak orang tahu bahwa HTI sangat cinta Indonesia dengan bukti adanya video itu, mungkin saja iya.

Kendati andai benar keinginan HTI dalam membuat video itu semata untuk menunjukkan kecintaannya pada NKRI demi kebaikan salah satu daerah di Indonesia, maka apa yang telah dilakukannya adalah salah besar. Justru video itu ternyata telah membuat "gerah" masyarakat daerah yang berkaitan. Dengan konten seorang ustadz yang menuduh para missionaris sebagai biang kerok kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan Papua selama ini, tentu saja dapat berbenih hal yang sangat tidak baik bagi hubungan antar warga negara yang beda agama. Inikah kontribusi ormas yang cinta negaranya?

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Itu kesalahan yang pertama. Yang kedua, HTI telah keliru menjadikan UFG sebagai ikon nasionalismenya---kalau memang video itu dengan tujuan seperti itu. Sebab, integritas dan kiprah UFG dalam berdakwah di Papua selama ini ternyata tidak sedikit yang meragukan dan mempertanyakannya. Saya sendiri mendengar nama UFG untuk yang pertama kalinya saja adalah nama dengan konotasi yang buruk. Terlebih beberapa penemuan saya yang lain setelahnya yang sepertinya selaras dengan konotasi tersebut.

Diantara penemuan saya itu yaitu penyebutan terhadap salah satu kampung yang sudah muslim secara turun-temurun sejak era Kerajaan Tidore sebagai "kampung muallaf". Hal ini kayaknya sepele, tapi bagi penduduk yang disebut seperti itu, tentu tersinggung.

Diluar konten ceramahnya dalam video yang saya lihat ada benderanya HTI tersebut, saya juga menemukan video UFG lain yang mempertontonkan orang-orang asli Papua masuk Islam sembari ramai-ramai berwudlu di sungai. Dari pengakuan seorang teman saya di Sorong sini, dalam video itu ternyata adalah orang-orang asli Papua yang sudah memeluk Islam sejak lahir semua. Bukan non-muslim yang di-Islamkan oleh UFG sebagaimana narasi yang telah disebutkan dalam video itu. Bahkan, teman saya bilang bahwa dalam video tersebut ada saudaranya.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Jadi, kalau video itu adalah usaha dan upaya HTI untuk menunjukkan kepada publik bahwa HTI dengan ustadznya telah berkontribusi terhadap NKRI, sangat salah besar. Dengan gen serta karakter diluar sadarnya yang orientasinya ingin mendirikan Khilafah, sudah sewajarnya kalau pemerintah melarang keberadaan ormas tersebut. Kalau kemudian ada anggota HTI yang berdalih bahwa HTI tak pernah punya tujuan untuk mendirikan Khilafah, maka tak perlu dihiraukan orang tersebut. Sebab, dengan bertanya seperti itu, berarti dia belum/tidak paham HTI dan dengan demikian tidak layak menjadi anggota HTI. Kalau jadi anggota saja tidak layak, berarti tidak patut juga menjadi pengurus. Tidak ada pengurus, tidak akan ada organisasi.

Sebagai penutup, mari dengarkan wejangan Kanjeng Sunan Bonang yang disampaikan kepada Kanjeng Sunan Kalijogo muda, "Kalau nyuci pakaian jangan pakai air kotor." Mungkin wejangan inilah yang sepertinya tepat diarahkan pada HTI. Kalau ingin berbuat baik, pakailah cara yang baik. Kalau ingin melakukan kebajikan, gunakanlah cara yang penuh kebijakan.

Akhirnya, lantaran video yang dibuat (entah diedit) oleh HTI itu, saya dengar-dengar kini UFG menghadapi ancaman akan dihadapkan ke depan hukum besok Senin. Semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran. Juga, semoga kerukunan di Bumi Papua ini tetap terjaga kendati di pulau Cendrawasih ini perbedaannya sangat kaya.

WAllaahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Jum'at ini, 23 Maret 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bertemu dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP. Muhammadiyah) di Jakarta. Selain bersilaturrahmi, tentu saja ada banyak hal yang dibahas oleh kedua ormas terbesar di Indonesia ini.

Dikutip dari akun sosial medianya, Sekjen PBNU, Dr. Ir. Helmy Faishal Zaini mengungkapkan bahwa Ukhuwwah adalah modal besar bagi bangsa Indonesia untuk maju. NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk terus mengembangkan dakwah Islam yang sejuk, toleran dan damai. Menghargai dan menghormati keaneka ragaman suku, etnis, ras, agama dan golongan.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Bersatunya dua ormas terbesar di Indonesia ini sebenarnya cukup bisa menunjukkan bahwa tidak ada hal yang mengkhawatirkan terkait isu keagamaan dan terpecahnya NKRI sebagaimana isu yang berkembang di sosial media akhir-akhir ini. Sebab, jumlah kedua ormas ini bisa dibilang hampir seluruh muslim di Indonesia ini.

Kalaupun ada yang menebar isu Khilafah dan sentimen keagamaan yang lainnya, tentu saja pelakunya adalah golongan muslim minoritas di negeri ini. Atau bisa jadi golongan yang baru lahir di Bumi Pertiwi tercinta ini.

Baca Juga: Mengapa NU Tak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Pertemuan yang menandakan betapa harmonisnya hubungan antar organisasi Islam (ukhuwwah Islamiyyah) ini menegaskan beberapa hal sebagaimana dibawah ini:


PERNYATAAN BERSAMA PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA DAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Rasa syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah senantiasa menjaga sekaligus melindungi bangsa Indonesia. Atas berkah kasih sayang dan rahmat-Nya semata, kita semua, seluruh komponen bangsa Indonesia, masih bisa saling merasakan kedamaian hidup di Bumi Pertiwi tercinta kita: Indonesia.

Sholawat serta salam selalu kita haturkan ke hadirat Rasulullah Muhammad SAW. yang senantiasa membimbing dan memberikan teladan bagi kita semua.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Kami, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP. Muhammadiyah), sebagai bagian dari organisasi umat beragama, hari ini berkumpul tidak lain memiliki maksud dan tujuan untuk melakukan tiga hal: Pertama, terus menerus menyerukan saling tolong menolong melalui sedekah dan derma. Kedua, menegakkan kebaikan. Ketiga, mengupayakan rekonsiliasi atau perdamaian kemanusiaan.

Parameter dan ukuran sehatnya sebuah bangsa dan negara, salah satunya bisa dilihat dari tegak dan kokohnya tali persaudaraan kebangsaan, ekonomi yang tumbuh merata, akses pendidikan yang mudah, terbukanya ruang-ruang dalam menyampaikan pendapat, serta tegaknya hukum sebagai instrumen untuk meraih keadilan. Bangsa yang kuat dan sehat juga tercermin dari semakin berkualitas dan berdayanya masyarakat sipil. Berkaitan dengan hal tersebut, PBNU dan PP. Muhammadiyah menegaskan:

Pertama, NU dan Muhammadiyah akan senantiasa mengawal dan mengokohkan konsensus para pendiri bangsa bahwa Pancasila dan NKRI adalah bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah Negara yang memiliki keanekaragaman etnis, suku, golongan dan agama yang tetap harus dijaga dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Kedua, NU dan Muhammadiyah secara pro-aktif terus melakukan ikhtiar-ikhtiar bagi peningkatan taraf hidup dan kualitas hidup warga. Terutama mengembangkan pendidikan karakter yang mengedepankan akhlaqul-karimah di semua tingkatan atau jenjang pendidikan serta penguatan basis-basis ekonomi keumatan dan juga peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Ketiga, NU dan Muhammadiyah menyeru kepada pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran serta melakukan upaya-upaya yang terukur agar kesenjangan ekonomi dan sosial segera teratasi dengan baik.

Keempat, mengimbau kepada seluruh warga NU dan Muhammadiyah agar bersama-sama membangun iklim yang kondusif, suasana yang kondusif dalam kehidupan kemasyarakatan dan keberagamaan ditengah era sosial media yang membutuhkan kehatian-hatian yang lebih. Mengingat bertebarannya pelbagai macam informasi hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang berpotensi mengganggu keutuhan bangsa, NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk menghadirkan narasi yang mencerahkan melalui ikhtiar-ikhtiar dalam bentuk penguatan dan peningkatan literasi digital sehingga terwujud masyarakat informatif yang ber-akhlaqul-karimah.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Kelima, memasuki tahun 2018, dimana kita akan menghadapi apa yang diistilahkan sebagai "tahun politik", maka marilah kita bersama-sama menjadikan ajang demokrasi sebagai bagian dari cara kita sebagai bangsa untuk melakukan perubahan-perubahan yang berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hendaknya dalam demokrasi, perbedaan jangan sampai menjadi sumber perpecahan. Perbedaan harus dijadikan sebagai rahmat yang menopang harmoni kehidupan yang beraneka ragam. Karena demokrasi tidak sekedar membutuhkan kerelaan hati menerima adanya perbedaan pendapat dan perbedaan pikiran, namun demokrasi juga membutuhkan kesabaran, ketelitian dan cinta kasih antar sesama.


Jakarta, 23 Maret 2018/ 5 Rajab 1439 H.


والسّــــــــــــلام عليكم ورحمة الله وبركاته




Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. ​​
Ketua Umum PBNU


Dr. H. Haedar Nashir
Ketua Umum PP. Muhammadiyah

[]
(Redaksi RN)
Read More

Wakili Indonesia, Abdul Faqih Alhafidz Juara I Musabaqoh Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Penyelenggaraan Musabaqoh Hafalan Al-Qur'an dan Hadits (MHQH) Tingkat Asean-Pasifik ke-10 tahun 2018 ini, sudah selesai. Kegiatan tahunan yang kali ini diikuti oleh 84 orang dari negara-negara yang berada di kawasan Asean dan Pasifik ini telah menempatkan Indonesia, yaitu Muhammad Abdul Faqih sebagai juara I pada kategori hafalan 30 juz. Pemuda asal Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang ini mengaku tidak menyangka dirinya akan meraih juara I.

“Alhamdulillah, saya tidak menyangka dapat juara I pada perlombaan MHQH ini,” kata Faqih usai menerima piagam penghargaan yang diserahkan oleh Pangeran Khalid bin Sultan bin Abdul Aziz bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, di Jakarta, Kamis malam, 22 Maret 2018.

Baca Juga: Menag: Islam Damai, Tanggung Jawab Indonesia

Anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Muhamad Rifai dan Sri Purwanti ini bercerita bahwa dirinya sudah menghafal Al-Qur'an sejak berusia delapan tahun. Dan pada umur sebelas tahun, ia sudah menghafal 30 Juz.

Selain itu, Abdul Faqih juga berkisah bahwa sejak tamat Sekolah Dasar (SD), ia langsung melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah di Ponpes Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur. Dan sejak 2014 hingga sekarang, ia sedang belajar di Ma’had Aly Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta dengan mengambil jurusan Tafsir Hadits.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Torehan prestasi Alhafidz Muhammad Abdul Faqih ini, sudah mulai diukirnya sejak tahun 2015. Saat itu, Faqih mewakili Kabupaten Semarang dalam mengikuti seleksi di tingkat Propinsi Jawa Tengah dan berhasil menjadi juara I. Keberhasilan ini akhirnya membawanya mewakili Jawa Tengah pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXVI Tingkat Nasional di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juli 2016 dan berhasil merebut juara II.

Selanjutnya, pada tahun 2017 lalu, Faqih juga mewakili Kota Semarang pada ajang Musabaqah Hifdzil Qur'an (MHQ) ditingkat Internasional di Masjidil Haram yang digelar di kompleks Baitullah, Arab Saudi. Dia pun berhasil meraih juara kendati hanya juara III.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Berikut ini daftar selengkapnya nama-nama pemenang MHQH 2018 ini:

Hafalan Alquran 30 Juz
  • Juara I: Muhammad Abdul Faqih (Indonesia).
  • Juara II: Amir Sina Nuqsi (Bosnia).
  • Juara III: Ahid Abdussomad Ismail (Filipina).

Hafalan Alquran 20 Juz
  • Juara I: Muhammad Zulfikar Mahmud Zani (Malaysia).
  • Juara II: Faisal Ismail Malaku ((Filipina).
  • Juara III: Muhammad Syuqur (Filipina).

Hafalan Alquran 15 Juz
  • Juara I: Muhammad Syahid Ahmad Ismail (Filipina).
  • Juara II: Mudroni (Indonesia).
  • Juara III: Ali Mamalina Sandiqon (Filipina).

Hafalan Alquran 10 Juz
  • Juara I: Ahmad Luqman Amidzaini (Malaysia).
  • Juara II: Husaini Muhtadi (Indonesia).
  • Juara III: Muhammad Husein Efendi (Indonesia).

Hafalan Hadits
  • Juara I: Muhammad Idzhar (Indonesia)
  • Juara II: Mubarok Ibnu Ali Akbar (Indonesia).
  • Juara III: Muhammad Kamil Hakimin (Indonesia).[]



(Redaksi RN)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Kamis, 22 Maret 2018, bertempat di Istana Negara, Jakarta, Presiden Joko Widodo bersilaturrahmi dengan para peserta Musabaqoh Hafalan Al-Qur'an dan Hadits (MHQH) Pangeran Sulthan bin Abdul Aziz Alu Su'ud Tingkat Asean dan Pasifik ke-10. Lomba ini sendiri sudah berlangsung sejak tanggal 20 lusa kemarin di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Selain peserta dan dewan hakim, hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Pangeran Khaled bin Sulthan bin Abdul Aziz Alu Su’ud, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia (Syeikh Osama bin Mohammed Abdullah Al-Shuaibi), dan para Duta Besar serta perwakilan para negara sahabat.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pelaksanaan musabaqoh, menurut Presiden, hendaknya tidak hanya dipandang sebagai pelaksanaan acara biasa. Sebab, musabaqoh adalah wahana untuk memacu pengembangan tilawah, hafalan serta pendalaman isi Al-Qur'an.

"Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengingat bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada kita untuk menjadi pedoman. Pedoman yang harus kita baca, kita pahami, kita hayati dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menempuh jalan yang diridloi Allah. Jalan yang penuh cinta damai, saling tolong menolong dan penuh persatuan," kata Presiden Jokowi.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Karena itu, Presiden juga mengingatkan kepada seluruh qori'/qori'ah, hafidz/hafidzoh, mufassir/mufassiroh supaya terus mensyiarkan dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an ketika berada diluar acara ini.

"Kita semua harus membangun kemanusiaan yang adil yang beradab, tidak membentak anak yatim, peduli pada fakir miskin, cinta saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, serta menyayangi seluruh kehidupan di bumi Allah ini. Supaya seluruh Indonesia, seluruh Asia, dan seluruh dunia benar-benar melihat dan merasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil-'alamin," lanjutnya.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Menurut Presiden, Indonesia sekarang ini terus menjadi panutan banyak negara dalam mengelola kemajemukan. Indonesia memiliki 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa daerah. Kendati demikian, rakyat Indonesia tetap bisa rukun dan bersatu. Oleh karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk menularkan kerukunan yang ada di Indonesia ini ke berbagai negara di seluruh dunia.

"Kita harus menularkan pengalaman berharga umat Islam Indonesia kepada dunia dalam menjaga kerukunan, dalam menjaga persatuan, dalam menjaga perdamaian di bumi Allah SWT," demikian pesan Presiden yang dalam kesempatan ini didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara (Pratikno), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Kepala Staf Kepresidenan (Moeldoko).

Dalam penutup sambutannya, Presiden mengatakan agar setiap acara musabaqoh Al-Qur'an dan Hadits ini ada jejak dan manfaatnya dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Selain itu, Presiden juga berpesan agar umat Islam tidak mudah terjebak fitnah dan hasutan kebencian.[]
(Redaksi RN)

* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Isi Kepala Pemeluk Agama


rumahnahdliyyin.com - Pagi tadi, ada salah seorang teman di Jawa yang bertanya melalui WA mengenai berita tentang sikap Gereja di Jayapura terkait pembangunan menara masjid Al-Aqsha di Sentani. Setelah mengirimi saya gambar surat yang berkop Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Jayapura (PGGJ), ia menanyakan kebenarannya. Secara spontan, saya mengatakan bahwa saya tidak tahu. Sebaliknya, saya justru menyuruhnya agar bertanya mengenai kebenaran itu pada yang mengiriminya gambar itu.

Sengaja memang saya menjawab demikian. Saya sendiri sebenarnya sudah mengetahuinya sejak Sabtu lalu pada dini hari. Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mau hal ini akan menjadi sesuatu yang heboh kemudian. Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, perkembangan di jagad maya kita akhir-akhir ini sungguh melelahkan karena isu-isu sentimen keagamaan. Dan hal ini sungguh menggoncang persatuan bangsa ini yang kaya akan agama beserta sektenya. Jadi, saya memutuskan untuk memilih diam dalam soal-soal yang beginian.

Baca Juga:
Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua
Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua

Sekarang, mending kita lihat poto ini. Poto ini saya peroleh dari seseorang di Sorong sini. Katanya, lokasinya berada di pulau Kasim, Distrik Seget, Kabupaten Sorong sini, Papua Barat. Dan janjinya yang berkali-kali akan mengajak saya pergi kesana, belum ditepatinya juga. Terlebih kalau mengamati kesibukannya akhir-akhir ini, sepertinya janji itu akan menguap begitu saja.

Melihat gambar dalam potret ini, apa yang secara spontan terlintas di pikiran kita? Kalau saya sendiri, biasa saja. Tak ada yang mengherankan. Sebab, selama masih di pesantren dulu, pondok saya sendiri berada persis di depan rumah seorang pendeta. Memang hanya rumah, bukan gereja. Namun, tidak jarang di rumah itu ada kegiatan Gerejawi yang entah apa namanya. Seperti ada menyanyi-nyanyi rohani kalau didengarkan dengan seksama.

Baca Juga:
Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq
Imam Sibawaih-nya Papua

Jadi, melihat bangunan Gereja yang hampir berdempetan dengan masjid seperti dalam poto di atas, bukanlah sesuatu yang mengherankan bagi saya. Terlebih, di waktu yang berbarengan dengan itu, saya terkadang sharing dengan teman non-muslim saya. Yaitu salah seorang teman SMA yang kebetulan tempat duduknya ada dibelakang saya ketika di kelas satu dulu. Bahkan sampai sempat-sempatnya saya dibawakan Al-Kitab ke sekolah dan diperlihatkannya. Kita pun tetap rukun dan masih berteman hingga sekarang.

Sewaktu di Jayapura, waktu itu sedang perjalanan ke Asmat sebenarnya, tempat saya bermalam adalah hotel milik seorang non-muslim. Hampir seminggu disana, gratis. Tak sepeserpun uang keluar lantaran si empunya hotel sangat menghormati Almaghfurlah Gus Dur.

Baca Juga:
Jubir HTI Bungkam
UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI
Dan menariknya lagi di hotel ini, yaitu waktu saya ngobrol dengan salah seorang karyawannya. Kira-kira jam dua siang waktu itu, kami ngobrol sangat akrab kendati baru saja saling mengenal. Ia menceritakan bagaimana pengalamannya sewaktu liburan ke Jawa. Keceriaannya ketika bercerita tidak bisa disembunyikan.

"Saya senang itu kalau naik bis," ceritanya. "Ada pengamen yang menghibur kita. Disini kan trada," lanjutnya.

Beberapa saat kemudian, ia pun berkata, "Oh, sudah waktunya ibadah ini. Silakan ibadah dulu," katanya ketika mendengar kumandang adzan sholat 'Ashar.

Kalimatnya terakhir barusan inilah yang bagi saya sangat menarik. Sebagai pria asli Papua yang non-muslim, ia mempersilakan pada saya yang Jawa-muslim untuk beribadah ketika waktu sholat tiba.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Dan ada satu pengalaman lagi yang mungkin patut saya ceritakan di kesempatan ini. Kali ini sewaktu di Asmat. Di kota rawa ini saya punya kenalan yang cukup akrab yang kebetulan seorang non-muslim asli Papua. Setelah beberapa hari tidak bertemu, begitu bertemu dengan saya, ia pun langsung memberi tahu pada saya bahwa puteranya telah meninggal dunia. Saya pun menyampaikan keturut-dukaan saya padanya.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba dia kembali ke soal kematian anaknya dengan bertanya pada saya, "bapak tahu tidak, kenapa saya punya anak meninggal?"

"Mungkin infeksi kakinya itu," respon saya demikian karena sebelumnya memang anaknya ini terkena pecahan kaca di telapak kakinya.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

"Ah...bukan. Dia itu kena suwanggi."

Suwanggi adalah sejenis santet kalau di Jawa. Bisa juga untuk penyebutan pada hantu. Dari teman saya yang asli Papua inilah saya pertama kali mendengar dan mengetahui istilah ini.

Dia pun bercerita lebih lanjut bahwa sebenarnya yang dituju suwanggi bukanlah anaknya, melainkan dia. Tapi tak tahu mengapa malah yang terkena anaknya. Dan ketika menyampaikan hal ini, teman saya ini pun menyatakan masih merasa takut bila sewaktu-waktu suwanggi mendatanginya.

Menanggapi hal ini, lantas saya pun mencoba menghiburnya. Saya katakan padanya bahwa saya punya ilmu agar dia bisa terhindar dari suwanggi tersebut. Dengan penuh semangat, ia pun ingin mempelajari ilmu itu. Tapi saya sampaikan lagi kalau dirinya tidak akan mampu. Karena sangat berat syaratnya. Tidak mungkin dia bisa.

Baca Juga: Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam

Kendati demikian, ia pun masih tetap ngotot mendesak saya agar mengajarinya. Dengan sedikit becanda, saya pun mengatakan bahwa ia harus mengucapkan "laa ilaaha illaLlaah , Muhammadur-rosuuluLlaah" bila ingin mempelajari ilmu itu.

"Ah... bapak ini. Itukan kalimat umat muslim," katanya yang diikuti dengan tawa. Kita pun akhirnya tertawa bersama. Tak ada rasa tersinggung. Apalagi marah.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kalau tadi adalah cerita tentang penganut Nasrani, kini saya akan bercerita tentang tokoh agamanya.

Baru-baru ini, kebetulan saya bertemu dengan salah satu tokoh Nasrani. Namanya tak tahu. Begitu melihat rombongan saya, dengan arogannya ia mencecar banyak pertanyaan. Termasuk tujuan datang, sudah ijin atau belum, dan banyak lagi. Padahal, masyarakat yang saya kunjungi sangat welcome. Dan ia sendiri bukanlah masyarakat situ. Hanya tokoh agama di situ meskipun pada waktu itu ia tidak mengakuinya pada rombongan saya.

Dari bisik-bisik orang, belakangan saya baru tahu kalau karakternya memang demikian. Bahkan, ada yang becanda mungkin ia takut kalau "domba-domba"nya hilang.

Baca Juga: Asmat; Kota Terapi Syukur

Beda lagi dengan tokoh agama Nasrani yang lain. Sekarang ini, ada NU di salah satu daerah di Papua ini yang sudah punya lahan. Kendati demikian, belum mampu untuk memulai pembangunan. Rencananya, diatas lahan itu mau didirikan Asrama.

Kok, asrama? Ya, asrama. Awalnya memang mau didirikan Pondok Pesantren. Karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka dirubahlah rencana dari Pondok Pesantren ke Asrama. Walau asrama, tak apa. Dalam kenyataan yang terjadi nanti, bisa dijalankan sistem Pondok Pesantren.

Tahukah siapa yang mengusulkan, bahkan mendorong, berdirinya asrama ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu tokoh agama Nasrani setempat.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari beberapa cerita nyata ini, saya kira kita semua jadi teringat terhadap pepatah yang mengatakan, "beda kepala, beda isi."

Tak usah ke agama sebelah, di agama kita saja banyak yang isi kepalanya berbeda. Ada yang hobi demo, ada yang hobi ngaji. Ada yang suka main pedang-pedangan, ada juga yang lebih suka ngopi bareng. Ada yang senang teriak-teriak takbir, ada juga yang lebih demen sholawatan. Dan banyak lagi.

Jadi, soal PGGJ dan menara masjid Al-Aqsha di Sentani itu, menurut saya yang kebetulan sempat bersentuhan dengan Nashoro di Papua ini, tak lebih hanya soal beda isi kepala sebagaimana berbedanya isi kepala di agama Islam kita. Jadi, jangan lantas digebyah-uyah kalau semua Nasrani di Papua ini kepalanya berisi sama. WAllahu a'lam.

Akhirnya, semoga teman saya yang berjanji akan mengajak saya main ke daerah dimana poto ini diambil, tidak lupa janjinya. Dan semoga terlaksana. Amin.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq


rumahnahdliyyin.com - Zaman dahulu, ulama sering "bertengkar". Yang ahli Tasawwuf, menilai ulama Fiqh jauh dari Tuhan. Karena hanya mempelari “kulit” dan mencampakkan "isi", sibuk dengan prosedur ibadah dan lupa dengan tujuannya, dan seterusnya.

Sementara ulama Fiqh, menyebut kaum sufi sesat. Karena terkesan "menyepelekan" tata-cara ibadah. Cara beribadah mereka dinilai jauh dari tuntunan agama.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Pertengkaran kedua kelompok ini, keras sekali. Kadang satu kelompok meminjam tangan kekuasaan untuk “memenangkan” pandangan mereka. Seperti Al-Hallaj, yang dihukum mati khalifah atas saran ulama ahli Fiqh karena dinilai sesat. Atau kitab Ihya’ Ulumuddin yang dibakar penguasa karena dianggap mengajarkan kesesatan.

Perbedaan atau “pertengkaran” intelektual, sebenarnya hal biasa. Akan terus terjadi dan sudah berulang kali terjadi sejak dulu kala. Perdebatan itu akan menjadi rahmat jika didasari sikap saling menghormati, seperti yang ditunjukkan oleh empat Imam Madzhab. Tapi, akan menjadi tragedi saat dilandasi sifat iri dengki. Apalagi jika melibatkan instrumen kekerasan.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Perbedaan pendapat yang tajam tapi terbingkai dengab akhlaq indah, telah diperagakan oleh almarhum al-maghfurlah KH. Misbah Mustofa (adik KH. Bisri Mustofa), paman KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), yang tinggal di Bangilan, Tuban. Beliau mengkritik keras kebijakan Ketua Umum PBNU waktu itu, yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menetapkan Khittah NU di Muktamar Situbondo 1984. Kiai Misbah tidak setuju NU keluar dari partai politik. Bagi beliau, NU harus tetap di PPP.

Tak hanya itu, Mbah Misbah juga menolak program NU yang ingin mendirikan perbankan. Penolakan itu tentu saja didasari argumentasi fiqh dan argumentasi-argumentasi lainnya. Namun, ketika Gus Dur “dikuyo-kuyo” oleh pemerintah Orde Baru pada Muktamar Cipasung 1994, kiai Misbah membelanya.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Gus Mus, sang keponakan, karena keheranan pun bertanya, mengapa pamannya yang langganan mengkritik Gus Dur itu tiba-tiba tampil membelanya.

Dengan nada khas, beliau menjawab, ”Koen iku gak ngerti urusan (kamu itu tak tahu persoalan). Kalau aku berbeda pendapat itu, kan boleh-boleh saja. Tapi kalau dia (Gus Dur) diganggu, ya harus dibela. Karena dia pimpinan NU.”

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Cerita ini mengingatkan saya pada kisah empat Imam Madzhab yang keras berbeda pendapat tapi saling tawadlu’. Juga kisah Soekarno yang selalu “berseteru” dengan Buya Hamka tapi berwasiat agar jika dia mati kelak, Buya yang diminta menyolati.

Untuk beliau berdua, Mbah Misbah dan Gus Dur, lahumal-Fatihah...[]


* Oleh: Abdul Arif.
Read More

Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks


rumahnahdliyyin.com - Pada tahun 1978, atau sekitar tahun itu, beredar kabar bohong alias hoax di Solo bahwa KH. Ahmad Umar bin Abdul Mannan telah membid’ahkan penggunaan bedug di masjid. Isu itu juga disertai pernyataan bahwa bagi siapa saja yang tidak mempercayainya dipersilakan datang ke Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan untuk membuktikan kebenarannya.

Di Masjid Al-Muayyad, sejak awal didirikan, memang tidak ada bedug. Yang ada hanyalah sebuah kenthongan. Kenthongan itulah yang digunakan untuk menandai telah tibanya waktu sholat Fardhu, atau iqomah yang akan segera dilakukan. Hal ini berbeda dengan di Masjid Tegalsari Surakarta yang dijadikan sebagai masjid Jami’ dan di Masjid Agung Surakarta. Selain terdapat kenthongan, dikedua masjid tersebut juga ada bedug. Ketiadaan bedug di Mangkuyudan inilah yang ternyata dijadikan dalil oleh penyebar hoax bahwa Mbah kiai Umar tidak kerso dengan bedug lantaran bid’ah.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Mendengar isu itu, Mbah kiai Umar tidak mengundang wartawan untuk Konferensi Pers, atau melakukan press release ke berbagai media, atau pula melakukan sumpah di depan publik untuk melakukan penyangkalan. Hal yang segera dilakukan oleh Mbah kiai Umar adalah melakukan tindakan nyata dengan membeli sebuah bedug yang berukuran cukup besar yang kemudian ditempatkan di masjid.

Sejak itu, setiap hari, suara bedug terdengar menggelegar di mana-mana di sekitar Pondok Pesantren Al-Muayyad yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Pondok Mangkuyudan. Keberadaan bedug beserta suaranya yang cukup keras itu merupakan jawaban empiris dari Mbah kiai Umar atas hoax yang menimpa beliau.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur, Perintis Pondok Pesantren Langitan

Dengan jawaban empiris berupa bedug di masjid tersebut, Mbah kiai Umar berharap supaya masyarakat bisa kritis dalam menyikapi hoax atau isu bid'ah dengan cara meragukannya dan bukan langsung mempercayainya, kemudian membuktikan hal yang sebenarnya guna memperoleh kebenaran yang meyakinkan bahwa Mbah kiai Umar tidak membid’ahkan bedug.

Cara Mbah kiai Umar dalam merespon hoax seperti itu sejalan dengan metode keraguan (syak minhaji) yang telah diperkenalkan oleh Imam Al-Ghazali sebagaimana dapat ditemukan dalam risalah beliau yang berjudul Al-Munqidz minadl-Dlolal (Pembebas dari Kesesatan) yang telah ditulis pada sekitar tahun 1097 M.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Metode keraguan Imam Al-Ghazali dalam risalah itu, pada intinya yaitu merekomendasikan agar kita bersikap ragu, tidak membenarkan dan meyakini begitu saja anggapan-anggapan, dugaan-dugaan, atau bahkan apa yang telah ditangkap oleh indera. Contohnya seperti ketika kita mendengar suatu berita atau melihat sesuatu sebelum kita melakukan pembuktian. Tentu saja metode ini berkaitan dengan hal-hal diluar masalah keimanan.

Bagaimanapun, meragukan adalah sikap tengah-tengah atau moderat. Ia berada diantara dua sikap yang saling bertolak belakang, yakni antara percaya dan mengingkarinya. Karena posisinya ditengah, maka tidak sulit untuk beralih ke posisi mempercayai atau mengingkari setelah ada dalil-dalil atau bukti-bukti yang valid.

Untuk beliau, KH. Ahmad Umar bin Abdul Mannan, Al-Fatihah... []


* Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
Read More

Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Setelah kepengurusan PCNU di Kabupaten Paniai terbentuk secara resmi, pada awalnya, kepengurusan ini belum bisa berjalan dengan baik. Banyak kegiatan-kegiatan yang sifatnya keagamaan dan rapat-rapat, selalu menggandeng pengurus masjid setempat. Bukan apa-apa. Sebab, PCNU yang masih bau kencur ini belum mempunyai tempat Sekretariat dan gedung sendiri. Selain itu, para pengurus NU juga masih banyak yang belum mengetahui tentang NU secara mendalam.

Pada tahun 2014, setelah kepengurusan berjalan kira-kira empat bulanan, pengurus NU pun mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah ini, pengurus NU membahas keinginannya yang kuat untuk mencari dan membeli tanah yang nantinya akan dijadikan sebagai Sekretariat sekaligus lokasi pendidikannya.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua

Mengingat pendidikan yang dikelola oleh pengurus NU selama ini (Madin dan TPQ) masih meminjam serambi Masjid Al-Mubarok, dengan alasan tersebut, akhirnya disepakatilah untuk mencari informasi tanah yang dijual sembari mempersiapkan dananya.

Dalam kesempatan ini pula, PCNU mendiskusikan keinginannya untuk melebarkan sayapnya agar NU di Paniai bisa berkembang. Dan salah satu strategi yang disepakati adalah melalui jalur pendidikan. Walhasil, dibentuklah LP. Ma’arif dan BP2 Ma’arif. Dan Madrasah Diniyyah yang sedari awal namanya Al-Mubarok, pun akhirnya dirubah menjadi Madrasah Diniyyah Ma’arif NU.

Diujung tahun 2014, PCNU yang masih sangat muda ini pun berkesempatan untuk pertama kalinya memenuhi undangan dalam Muktamar NU di Jombang. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan. Sebelum acara Muktamar, mereka mengagendakan untuk bersilaturrahmi sekaligus meminta do’a restu kepada PBNU di Jakarta agar PCNU Paniai dapat mengemban tugasnya dengan lancar serta mampu mewujudkan cita-citanya saat itu, yaitu memiliki Sekretariat dan gedung pendidikan.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Lambat laun, dengan perjuangan dan kerja keras serta do’a dari pengurus NU, guru Madrasah serta santri yang belajar, ditambah lagi dukungan dari para tokoh dan wali santri, akhirnya pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Shofar 1437 H., PCNU mendapatkan angin segar. Yaitu ada seseorang yang menawarkan tanah kepada pengurus NU.

Mengingat membeli tanah di Paniai sangatlah tidak mudah, peluang dan kesempatan tersebut akhirnya ditindak lanjuti dengan serius. Dengan mengadakan musyawarah dan masukan dari para tokoh setempat, dibahaslah soal pembelian tanah tersebut. Dengan bermodal dana kas yang pas-pasan, akhirnya kekurangan tersebut bisa terlunasi dengan penggalangan dana. AlhamduliLlâh, akhirnya tanah tersebut berhasil dimiliki oleh PCNU yang lokasinya sekarang ini berada di Kampung Nunubado, Distrik Eikaitadi, Paniai Timur.

Hingga saat ini, dilokasi tanah tersebut pun sudah berdiri dua bangunan gedung yang difungsikan sebagai tempat pendidikan Madrasah Diniyyah, TPQ dan Madrasah Ibtidaiyyah Ma’arif NU Paniai.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di jawa

Kepengurusan PCNU Paniai pun saat ini sudah berjalan dengan cukup baik. Diantara kegiatannya yang rutin setiap bulannya yaitu Khotmil Qur'an bin-Nadhor yang bertempat di Madrasah Ma'arif NU Paniai. Tentu saja ada juga diskusi dalam kegiatan ini yang membahas tentang perkembangan umat Islam terkini dan ke-NU-an. Selain itu, ditiap hari-hari besar Islam pun, semisal Maulid Nabi SAW., PCNU Paniai juga tak pernah ketinggalan untuk memperingatinya.

Dengan adanya PCNU di Kabupaten Paniai ini, semoga akan membawa manfaat bagi warga Paniai pada umumnya dan bagi umat Islam pada khususnya. Serta Syiar Islam pun semoga bisa semakin berkembang mengingat organisasi ini yang senantiasa mencerminkan Islam yang ramah bagi siapa dan apa saja (rohmatan lil'alamin).

Meskipun saat ini kepengurusan PCNU Paniai sudah berjalan dengan cukup baik, kendati demikian, sebagai Ormas yang tergolong masih baru, tentu saja masih membutuhkan bimbingan dan arahan dari kepengurusan yang berada ditingkat atasnya, dalam hal ini yaitu PWNU Papua ataupun PBNU. Dan semoga semua pengurus PCNU Kab. Paniai ini senantiasa diberikan kesehatan dan keistiqomahan. Amin.[]


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU Paniai
Read More

Menag: Islam Damai Tanggung Jawab Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Senin, 19 Maret 2018, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, bertemu dengan 21 Duta Besar negara anggota Uni Eropa di Intiland Tower, Jakarta. Pertemuan yang dipimpin oleh Vincent Guerend ini berlangsung selama dua jam dengan hangat. Banyak isu yang dibahas. Diantaranya adalah rencana Pemerintah Indonesia yang ingin mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

"Kenapa Indonesia saat ini sangat konsen mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), perguruan tinggi berskala dunia?" kata Lukman Hakim mengawali penjelasannya itu.

Baca Juga: Di Depan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

"Karena sebagai wujud tangung jawab dan kepedulian kami, bagaimana agar Islam yang berkembang di dunia haruslah Islam yang senantiasa menebarkan kedamaian," tuturnya.

"Dimana dengan agama, orang bisa hidup saling menyayangi satu dengan yang lain. Dan bukan dengan agama, kita hidup berpisah-pisah. Pemahaman inilah yang harus ditumbuhkan lewat perguruan tinggi," jelas Lukman Hakim.

Baca Juga: Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam

Menurut Menag, dalam rencananya, UIII akan diisi oleh para guru besar terbaik di dunia. Dan sebagian besar atau 75 persen mahasiswanya berasal dari negara di seluruh penjuru dunia.

"Perguruan tinggi ini hanya S2 dan jumlah mahasiswa WNI tidak lebih dari 25 persen. Harapan kami, setelah menyelesaikan program doktoralnya, mereka bisa kembali ke negara masing-masing untuk menebarkan Islam yang moderat," sambung Menag.

Ditambahkan Menag, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (87%), Indonesia merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara nilai-nilai Islam yang betul-betul memanusiakan manusia.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

"Makanya, kami di Kementerian Agama selalu mengusung moderasi agama, yaitu lawan dari ekstrim. Ekstrim itu yang memahami agama dengan tekstualis. Juga ada yang begitu bebas menggunakan nalar akar pikiran sehingga mengabaikan teks," tegas Menag.

Dalam pertemuan dialog dengan para duta besar negara Uni Eropa ini dibantu oleh Sworn Translator Mariana Warokka.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More