Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus


rumahnahdliyyin.com - Kitab berjudul Al-Muna fi Tarjamah Nadhm Al-Asma’ Al-Husna, karya KH. Ahmad Mustofa Bisri, Rembang, merupakan kitab terjemah Jawa Pegon atas nadhom Asmaul Husna, yang terkenal dengan sebutan Nailul Muna.

Nadhom Nailul Muna, yang dijadikan obyek terjemah dan syarah di dalam kitab Al-Muna, merupakan salah satu wirid (bacaan dzikir yang dilanggengkan) yang disukai oleh KH. Ali Ma’shum, Krapyak, Yogyakarta.

Dahulu, KH. Ahmad Mustofa Bisri pernah mendapatkan ijazah wirid Nailul Muna tersebut langsung dari KH. Ali Ma’shum, sebagaimana yang diceritakan dalam muqoddimah kitab Al-Muna.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Berikut adalah cuplikan nadhom Nailul Muna:

بِسْمِ الْإِلَهِ وَبِهِ بَدَأْنَا :: وَلَوْ عَبَدْنَا غَيْرَهُ لَشَقَيْنَا
يَا حَبَّذَا رَبًّا وَحَبَّ دِيْنَا :: وَحَبَّذَا مُحَمَّدًا هَادِيْنَا
لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا :: لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا
اَللهُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا :: وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا :: وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَقَيْنَا
نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ :: نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ 

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Biasanya, pada waktu dulu, santri-santri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, me-wirid-kan nadhom berbahasa Arab Asmaul Husna Nailul Muna tersebut pada setiap ba'da Shubuh ketika hendak mengaji kepada KH. Ali Ma’shum. Bukan hanya di Pesantren Krapyak saja, di pesantren-pesantren lain di Indonesia, Nailul Muna acapkali dijadikan wirid harian para santri dibeberapa pesantren yang ada di bumi Nusantara ini.

Seperti halnya di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an yang didirikan oleh KH. Muhammad Arwani Amin, Kudus, yang juga pernah mondok di Pesantren Krapyak dibawah asuhan KH. Muhammad Munawwir, Nailul Muna juga dijadikan wirid harian para santrinya. Biasanya dibaca secara rutin setelah mendirikan sholat Tahajjud.

Baca Juga: Dapat Yap Thiam Hien Award, Gus Mus: Saya Tidak Mengerti HAM

Ada beberapa pendapat mengenai siapakah yang menyusun syair-syair indah Asmaul Husna Nailul Muna tersebut. KH. Nu’man Thohir, Kajen, Pengasuh Pondok Pesantren Kulon Banon, Kajen, pernah mendapatkan cerita langsung dari KH. Ali Ma’shum bahwa kumpulan nadhom Asmaul Husna Nailul Muna ini digubah oleh Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, ulama besar abad ke-19 dan alumnus Al-Azhar yang juga menulis kitab Sa’adat Ad-Darain fi Ash-Shalawat ‘ala Sayyid Al-Kaunain. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menciptakan mandhumat Nailul Muna ini adalah kiai-kiai Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Mengenai siapa yang menggubah mandhumat Nailul Muna, di dalam kitab Al-Muna karya KH. Ahmad Mustofa Bisri ini tidak disebutkan secara jelas. Pun, di dalam mandhumat Nailul Muna yang tersebar dan dipergunakan di pondok-pondok juga tidak dijelaskan siapakah penulisnya.

Agaknya, penyusun Nailul Muna mungkin lebih suka menyembunyikan identitasnya untuk menjaga rasa ikhlas dihadapan Allah Sang Maha Welas. Sebab, untuk menjaga keikhlasan, sebagian ulama ada yang berprinsip, “Yang penting kitabnya bermanfaat, meskipun pengarangnya tidak diingat-ingat.”

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Masyarakat pesantren percaya bahwa Asmaul Husna, sama halnya dengan wirid-wirid yang lain, memiliki beragam khasiat dan keistimewaan. Apalagi, dalam Al-Qur'an, surat Al-A’raf ayat 180, Allah SWT. menyatakan bahwa Dia memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang Maha Baik. Dan Dia memerintahkan para hamba-Nya agar berdoa memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Baha Baik itu. Perintah Allah SWT. untuk berdoa dengan menggunakan Asmaul Husna itulah yang menjadi landasan munculnya beragam bacaan dzikir Asmaul Husna yang dibalut dengan doa-doa semacam Nailul Muna.

Secara garis besar, kumpulan nadhom Nailul Muna berisi tentang macam-macam tawassul dengan Asmaul Husna yang memuat berbagai macam pujian, doa-doa dan permohonan seorang hamba. Mulai dari keselamatan agama, perlindungan dari musuh, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat.

Baca Juga: Gus Mus: Smangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Nailul Muna yang digubah dalam bentuk mandhumat (kumpulan nadhom) indah berbahasa Arab ini, bagi masyarakat muslim Nusantara yang masih awam, tentu akan sulit dipahami maknanya. Pada umumnya, syair-syair berbahasa Arab yang digubah menjadi nadhom atau qoshidah, adalah bentuk-bentuk ungkapan yang dalam bahasa Ilmu Balaghoh disebut dengan ijaz, yakni sebuah kalimat yang kata-katanya sedikit, namun mengandung makna banyak.

Untuk memahami bentuk kalimat ijaz, tentu dibutuhkan perangkat ilmu ke-bahasa-Arab-an yang beragam, yang pada umumnya tidak dimiliki oleh kalangan awam. Oleh karena itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri tergerak untuk menulis kitab Al-Muna yang merupakan terjemahan Jawa Pegon dari kumpulan nadhom Nailul Muna karya Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, dengan tujuan supaya umat Islam Indonesia yang tidak memahami bahasa Arab bisa mengetahui maknanya.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Ketika seorang hamba membaca wirid atau doa, dan ia paham betul tentang makna yang terkandung didalamnya, maka akan sangat mudah baginya untuk menghayati, meresapi dan merasakan kandungannya. Dawuh beliau, KH. Ahmad Mustofa Bisri:

كُوْلَا تَطَفُّلْ، نٓرْجٓمَاهَاكٓنْ دَاتٓڠْ بَهَاسَا جَاوِيْ كَانْطِيْ ڤٓڠَاجٓڠْ-ڠَاجٓڠْ سَاڮٓدَا ڤَارَا سٓدَيْرَيْكْ قَوْمْ مُسْلِمِيْنْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ مٓڠُوَاسَاهِيْ لُغَةْ عَرَبِيَّةْ، سَاڮٓدْ فَهَمْ أَرْطَاسِيْڤُوْنْ. سٓلَاجٓڠِيْڤُوْنْ، كَانْطِيْ مٓمَاهَامِيْ أَرْطَوْسِيْڤُوْنْ، دُعَاءْ إِڠْكَڠْ دِيْڤُوْنْ وَاهَوْسْ سَاڮٓدْ دِيْڤُوْنْ رَاهَوْسَاكٓنْ وَوْنْتٓنْ إِڠْ مَانَاهْ

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Kitab Al-Muna karya KH. Ahmad Mustofa Bisri ini menggunakan teknik penerjemahan "makna gandul" atau terjemah "jenggotan" (bearded translation) yang dilengkapi dengan syarah atau penjelasan serta catatan-catatan pada setiap nadhom yang diterjemahkan. Dengan begitu, sehingga memudahkan orang-orang awam untuk memahami secara mendalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang diterjemahkan.

Selain itu, dalam penulisan kitab Al-Muna yang menggunakan aksara Arab Pegon tersebut, KH. Ahmad Mustofa Bisri juga mengenalkan beberapa kosakata Arab yang dimasukkan (baca: diserap) ke dalam tulisan Pegon, seperti tathafful (تَطَفُّلْ) yang memiliki arti: merenungkan, atau memikirkan. Pengenalan beberapa istilah Arab dalam tulisan Pegon oleh para ulama Nusantara yang dilakukan “secara halus” kepada para pembaca ini, mengandung unsur pengajaran yang gradual untuk memahami kosakata-kosakata Arab secara bertahap.

Baca Juga: Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila

Kenyataan bahwa ada banyak istilah Arab yang dimasukkan ke dalam tulisan Pegon, semakin menguatkan bahwa aksara Arab Pegon menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang pernah ditulis dengan menggunakan aksara Arab Pegon. Diantara kosakata Arab yang sudah masuk dan diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa melalui gerbang aksara Arab Pegon adalah: Sholat (صلاة), Zakat (زكاة), Haji (حجّ), Iman (إيمان), Islam (إسلام), Masjid (مسجد), Musholla (مصلّى) dan lain-lain.

Istilah-istilah Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara, ketika ditulis dalam aksara Pegon tetap ditulis seperti aslinya. Tidak ada perubahan sama sekali. Oleh karenanya, keberadaan aksara Pegon ini tidak pernah merusak tatanan bahasa Arab dengan adanya penulisan istilah Arab yang tidak sesuai pakemnya itu. Juatru, Aksara Pegon menjadi pelengkap bahasa Arab yang sistem tulisannya tidak mampu menampung sistem bunyi atau fonologi bahasa-bahasa non-Arab. Dengan adanya aksara Pegon, bahasa Arab akan mudah membumi dan menyatu dengan bunyi-bunyian bahasa non-Arab serta berdialektika langsung dengan masyarakat ‘ajam tempat dimana ia menyebar.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadhm Al-Asma’ Al-Husna ini selesai ditulis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin, Leteh, Rembang, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, di Rembang. Tepatnya yaitu pada hari Senin, tanggal 22 Juli 1996 M./06 Rabi’ul Awwal 1417 H. dan diterbitkan oleh Penerbit Al-Miftah Surabaya dengan ketebalan 31 halaman.


* Oleh: Sahal Japara, Kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati dan Pemerhati Aksara Pegon.
Read More

Kemenag: Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri


rumahnahdliyyin.com, Yogyakarta - Mengawali penyampaiannya pada Halaqoh Santri Nusantara yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu, 28 Maret 2018, Menag Lukman Hakim Saifuddin bertanya kepada para santri dan mahasiswa yang hadir tentang siapa tokoh idolanya selain Nabi Muhammad SAW.

Seketika, berhamburan nama-nama tokoh idola yang mereka sampaikan. Ada sosok mantan Presiden RI Gus Dur, kiai dan juga budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Pahlawan Nasional Agus Salim, hingga KH. Imam Zarkasyi yang merupakan salah satu pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Kemudian, Lukman Hakim pun bercerita bahwa pagi tadi dirinya sempat memposting di twitternya sebuah ungkapan, "Hidup itu dijalani dengan 2 cara, bersyukur dan/atau bersabar. Kalau tak bisa bersyukur, bersabarlah. Kalau tak bisa bersabar bersyukurlah. Kalau tak bisa keduanya, terus mau hidup dengan cara apa?"

Unggahan atau postingan tersebut, kata Menag, mengajak kita semua untuk bersyukur dengan apa yang kita alami yang jauh lebih baik dibanding era generasi dahulu kita.

Baca Juga: Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren di Era Milenial

Menag mengajak untuk mengedepankan rasa syukur terhadap eksistensi kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

"Kita menjadi Indonesia bukan kemauan kita. Mengapa bukan bagian dari negara lain, kok Indonesia, ini bukan pilihan kita. Tapi takdir Tuhan. Jadi, kita ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi bagian bangsa Indonesia," jelas Menag pada kesempatan itu yang dihadiri oleh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga.

"Saya ingin katakan, betapa bangsa ini begitu religius. Inilah kita. Dan ini sejak ratusan tahun lalu. Dan Tuhan mentakdirkan kita menjadi bagian dari bangsa religius ini," lanjutnya.

“Oleh karenanya, diawal pertemuan ini, saya ingin mengajak dan mengawali dengan syukur menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang agamis dan majemuk. Dua hal, religiusitas dan keberagamannya. Dan sebenarnya (religiusitas dan keberagaman), miniaturnya ada di Pondok Pesantren,” ucap Menag.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Menag menyampaikan, ciri lain santri adalah memiliki kecintaan luar biasa kepada Tahah Air. Menurutnya, ini adalah hasil tempaan para pendahulu kita.

“Santri bagian inti dari bagaimana menjaga ke-Indonesia-an kita. Bangsa yang tidak bisa dipisahkan dari nilai agama dalam menjalani kehidupannya,” tuturnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Disampaikannya juga, santri diharapkan mampu mengusung moderasi agama, yaitu Islam yang moderat. Bukan yang ekstrim. Dan ini semakin relevan dengan kondisi saat ini.

Santri-lah yang punya tradisi hidup dalam kemajemukan. Kemajemukan adalah cara Tuhan menurunkan keberkahan untuk saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Ini harus dipahami para santri dan mahawasiswa tentang Islam moderat.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

“Inilah menurut hemat saya yang harus jadi pegangan kita. Dan bersyukur pemerintah berkomitmen menempatkan santri pada posisinya untuk bagaimana menjaga eksistensi bangsa. Hari Santri ditetapkan dengan harapan santri mampu berkontribusi bagi masa depan bangsa,” ucapnya.

Penetapan Hari Santri merupakan wujud pemberian tanggung jawab bagi kalangan santri untuk menentukan nasib bangsa ini ke depan. Jadi, bukan sekedar pengakuan. Tapi harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam kesempatan ini, Menag juga menyerahkan secara simbolis Bantuan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Tahun 2018 dan dilanjutkan dengan Deklarasi Ngayogyakarta Dari Santri Untuk NKRI.

Hadir dalam acara ini yaitu Dirjen Pendidikan Islam (Kamaruddin Amin), Rektor UIN Yogyakarta (Yudian Wahyudi), Staf Khusus Menag (Hadirrahman), Direktur PD. Pontren (Ahmad Zayadi), Kepala Biro Humas, Data dan Informasi (Mastuki), Kakanwil Kemenag Yogyakarta (M. Lutfi Ahmad) serta civitas akademika UIN Yogyakarta.


Editor    : Redaksi RN
Sumber : kemenag.go.id
Read More

Ketua LTN PBNU: Konsolidasi Potensi NU Untuk Membangun Peradaban Teknologi


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (Infokom dan Publikasi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hari Usmayadi, pada kesempatan Ngaji Teknologi yang digelar pada Rabu, 28 Maret 2018, di ruang Perpustakaan PBNU, di gedung PBNU lantai 2, Jakarta, menyebutkan bahwa Indonesia sedang banjir startup.

Banyaknya aplikasi yang memenuhi dunia digital Indonesia, membuat masyarakat terkena dampak dari teknologi tersebut. Sekitar 50 persen dari 250 juta lebih bangsa Indonesia ini adalah pengakses internet. Namun masih sangat sedikit yang berperan sebagai produsen, penyedia ataupun pengembang dari teknologi itu.

“Tapi sekali lagi, kita lebih banyak sebagai konsumennya,” tegasnya.

Baca Juga: Ngaji Teknologi LTN-Lakpesdam Akan Gelar Olimpiade Teknologi Terapan

Menurut Cak Usma, demikian sapaan akrab ketua LTN PBNU itu, NU sebagai ormas terbesar di negeri ini, pasti juga terkena imbas dari teknologi itu juga. Karena itu, NU harus terlibat dalam kemajuan teknologi itu. Tidak saja sebagai pengguna atau konsumen saja, tetapi juga harus aktif sebagai pencipta.

“NU secara kultural jangan hanya sebagai konsumen, dan bagaimana struktural itu mengarahkan,” ujarnya.

Baca Juga: Sosialisasi LTN NU di Papua Barat

Secara teknis, harus dibuat tim khusus untuk meneliti supaya ditemukan langkah-langkah konkret dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi ini. Meskipun demikian, NU tidak boleh terjebak dalam prosesnya, sehingga tidak meninggalkan masalah lainnya.

Artinya, selain NU harus menindaklanjuti ketertinggalan yang sudah sedemikian jauh itu, NU juga harus tetap mengawal anak-anak bangsa yang masih kerap kali mengambil sisi-sisi negatif dari perkembangan teknologi.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

NU harus memberikan informasi ketertinggalan melalui media-media secara periodi, yang disebut Cak Usma sebagai "warning". Lalu, membuat gerakan baru supaya ditindaklanjuti.

“Perlu dibuat bola salju berikutnya yang nantinya kita tindaklanjuti,” ungkapnya.

Melihat hal tersebut, dengan demikian, salah satu tantangan NU ke depan adalah mengonsolidasi potensi NU untuk membangun peradaban teknologi sebagai energi untuk peradaban berikutnya.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain Cak Usma, hadir pula dalam acara ini yaitu Wakil Sekretaris Lembaga4 Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Mahbub Ma’afi, Sejarahwan Yul Amrozy dan Praktisi Teknologi Elwin Andririanto.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : nu.or.id
Read More

Ngaji Teknologi LTN-Lakpesdam Akan Gelar Olimpiade Teknologi Terapan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN)  PBNU bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU menginisiasi gelaran Olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan bagi kader Nahdlatul Ulama. Wacana itu disampaikan dalam acara Ngaji Teknologi yang digelar di Perpustakaan PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu, 28 Maret 2018. 

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan yang cukup besar dalam bidang ekonomi. Pasar teknologi di Indonesia juga cukup pesat perkembangannya. Kader NU yang bergerak dibisnis startup juga tak sedikit. Banyak potensi yang perlu didorong agar lebih berkembang. Agar bisa setara dengan unicorp asing semacam Ali Baba dan sebagainya, “ papar Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ia mencontohkan sejumlah sektor yang saat ini sedang digarap. Diantaranya yaitu sektor industri pariwisata, khususnya wisata religius, pelatihan, kursus dan pendidikan berbasis teknologi komunikasi, hingga industri kreatif yang perlu diarahkan untuk masuk ke ranah bisnis online.

Senada dengan Cak Usma, demikian Ketua LTN PBNU itu akrab disapa, hal ini juga disampaikan oleh Praktisi Teknologi ITS, Elwin Andirianto. Menurut Elwin, agar NU tetap relevan, harus menyiapkan kader tangguh dibidang teknologi.

“Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya mengadakan olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan. Kalau yang menggerakkan NU, saya yakin dampaknya berbeda. Akan terasa bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Elwin.

Baca Juga: Di Papua Barat, LTN PBNU Sosialisasikan Pentingnya Media

Usulan tersebut disambut para pengurus Lembaga NU yang hadir. Yakni Ketua LTN PBNU, Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Daniel Zuchron, dan Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Mahbub Ma'afi.

Menurut Daniel, Olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan perlu digelar dengan menggandeng berbagai Lembaga di PBNU.

“Ngaji Teknologi ini merupakan pijakan awal untuk gelaran olimpiade Teknologi Terapan. Setiap bulan, semua Lembaga PBNU dan berbagai stakeholder di Indonesia akan kita undang untuk membahas isu terkini berkaitan dengan kelembagaan NU. Sekaligus mematangkan rencana olimpiade tersebut. Ini perlu, agar semua lembaga di NU berjalan sinergis dalam pengabdian terhadap umat,” tandasnya.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

“Ini selaras dengan semangat yang digelorakan oleh Rais 'Aam kita bahwa hal yang paling penting untuk dilakukan NU adalah terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan. Sebab, permasalahan manusia terus berkembang. Rais 'Aam juga sering menyatakan perlunya sinergi antar Lembaga dan Banom NU. Agar saling mendukung dan tak bergerak sendiri-sendiri. Apalagi bergerak secara personal” ungkap Mahbub Ma'afi yang mengamini rencana tersebut.[]




(Redaksi RN)
Read More

Cegah Radikalisme, Polres Pekalongan Gelar Pengajian Rutin


rumahnahdliyyin.com, Pekalongan - Polres Pekalongan Kota, dalam mencegah radikalisme pada generasi muda, mengadakan pengajian untuk anak-anak setiap malamnya. Pengajian ini dibina langsung oleh anggota Sabhara Bripda Lukman mulai pukul 18.30 WIB. di Masjid Nur Hidayah, Polres Pekalongan Kota, Jl. Diponegoro, Pekalongan, Jawa Tengah.

Pengajian yang diikuti oleh 25 orang anak dari umur 8 hingga 12 tahun ini, diinisiatifi oleh Bripda Lukman.

"Awal-muasal saya 8 bulan lalu, waktu saya masih status bintara remaja. Saat saya bermain bola voli, ada anak-anak yang main di samping masjid. Saya tanya mereka, sholat nggak? ngaji nggak? kata mereka, ngaji, tapi jarang. Kebetulan saat itu masjid ini sepi dan jarang yang ke sini. Mulai dari situ, saya ajak anak-anak ngaji di sini," tutur Lukman sebagaimana dilansir oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Lukman mengatakan, ia tidak hanya mengajar ngaji saja. Melainkan juga mengajarkan bagaimana caranya sholat serta memberikan sedikit ilmu pengetahuan tentang agama.

Jadwal mengaji anak-anak ini setiap hari. Akan tetapi, khusus malam Selasa, Lukman mengajarkan tata cara sholat. Sedangkan khusus malam Jumat, diadakan tahlilan, yaitu mengaji bersama-sama antara anak-anak pengajian dengan para polisi Polsek Pekalongan Kota.

"Alhamdulillah, Polres Pekalongan juga mendukung kalau malam Jumat itu mereka datang dan memberikan snack juga. Jadi anak-anak senang," tutur Lukman.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Sementara itu, untuk mencegah masuknya paham radikalisme di sekitar Pekalongan, Lukman mengatakan selalu memberi pemahaman kepada anak-anak mengenai persatuan Indonesia yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam.

"Jadi, disini nggak cuma dari NU, ada juga dari Muhammadiyah. Di Pekalongan kalau ada yang ngajak demo tentang paham radikalisme, saya ajarkan mereka untuk tidak ikut. Saya juga ajarkan arti ngaji dimana mereka jangan melakukan kegiatan yang tidak penting. Setiap hari saya berikan motivasi kepada adik-adik yang menurut saya itu tidak pantas dilakukan. Dari situ saya ajarkan," jelas dia.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Diketahui, Bripda Lukman juga salah satu lulusan dengan nomor registrasi pokok termuda di Sekolah Polisi Negara. Lukman juga pernah masuk nominasi Police Award dengan kategori kerohanian.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

IPNU-IPPNU Klaten Deklarasikan Anti Money Politik


rumahnahdliyyin.com, Klaten - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC. IPNU-IPPNU) Klaten bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Klaten mengadakan Pendidikan Demokrasi Pelajar dan Sosialisasi Pemilih Pemula pada Minggu kemarin, 25 Maret 2018. Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor PCNU Klaten itu dihadiri oleh Pengurus PC. IPNU-IPPNU serta pengurus harian Anak Cabang se-Kabupaten Klaten.

Dalam sambutannya, Ketua PC. IPNU Klaten, rekan Muchtar, mengatakan bahwa IPNU hari ini adalah pemimpin masa depan. Pembekalan tentang ilmu sosial seperti demokrasi adalah barang wajib yang harus dilakukan. Jadi segala aspek, baik religius, akademik maupun sosial, IPNU-IPPNU harus memilikinya untuk menjadi modal sebagai pemimpin dikemudian hari kelak.


Ditambahkan pula oleh rekanita Fitroh Nahdliyah yang selaku Ketua PC. IPPNU Klaten dalam sambutannya bahwa hari ini apatisnya masyarakat, terutama pemuda dan pelajar, terhadap demokrasi Indonesia menjadi keprihatinan bersama. Maka dengan kegiatan ini, diharapkan menjadi awal yang baik bahwa pemuda dan pelajar hadir sebagai penggerak untuk kemajuan bangsa dengan ikhtiar pendidikan semacam ini. 

Acara yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB. hingga pukul 11.30 WIB. itu diikuti oleh para peserta dengan antusias. Sebab, banyak para peserta yang pada Pilgub Jawa Tengah pada Juni nanti akan menjadi kali pertamanya bagi mereka untuk memilih Gubernurnya secara langsung.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Selanjutnya, H. Mujiburrohman S.IP, ketua PCNU Klaten, menyampaikan dalam sambutan dan penggarahannya, mengajak para kader muda NU ini untuk terus berupaya merawat ke-Indonesia-an dengan baik. Bersama-sama membentengi generasi muda dari paham intoleran guna mempersiapkan pemimpin harapan di masa depan. Penguatan hubbul-wathon minal-iman dan demokrasi untuk pelajar yang berkaitan dengan kaidah agama, juga dibahas.

Sedangkan Komisaris KPU Klaten, Muhammad Ansori S.Pd.I, menekankan dalam materinya tentang arti pentingnya demokrasi dan kenapa harus memilih dalam kontestasi Pemilihan Gubernur nanti. Selain itu, beliau juga mengajak para peserta untuk menolak money politic atau politik uang dengan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan kelompoknya hingga sampai tingkatan teratas. Beliau menggambarkan bagaimana bahayanya dan langkah apa saja jika melihat hal tersebut.


"Anti Money Politic" yang merupakan jargon KPU Klaten, diakhir acara kemudian langsung disikapi oleh IPNU-IPPNU dengan mendeklarasikan diri bersama KPU bahwa IPNU-IPPNU Klaten menolak money politic, Politisasi SARA dan akan berperan aktif menjaga kondusifitas diajang pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun 2018 ini. Selanjutnya, IPNU-IPPNU Klaten juga mendeklarasikan diri bersama Kepolisian bahwa IPNU-IPPNU Klaten menolak hoax dan akan bersinergi untuk melawan hoax tidak hanya dalam suasana Pilgub ini, namun dalam keseharian. []

(Redaksi RN)
Read More

Sekutu Iblis


rumahnahdliyyin.com - Benar kiranya bila ada yang mengatakan bahwa pioner hoax adalah Iblis. Iblis yang karena angkuhnya tak mau memenuhi perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam AS., ternyata telah membawanya pada obsesi untuk melakukan hoax. Yaitu dengan membisiki suatu kedustaan pada pasangan pertama manusia itu tentang buah Khuldi.

Tak hanya membisiki, makhluk paling banyak strategi dan siasat dalam menggoda manusia inipun memprovokatori pula. Sebagai akibatnya, diusirlah kedua kakek-nenek moyang kita itu dari surga dan tingggal di bumi ini sebagai khalifahNya serta beranak pinak hingga era penuh hoax ini.

Baca Juga:
Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks
Jangan Gunakan Nama Muslim Untuk Sebar Hoax

Hoax, sejatinya bukanlah tujuan dari para pelakunya. Sebagaimana bila kita pernah menyimak kisah Iblis, hoax yang dilakukannya tidaklah lebih dari ekspresi penyaluran sakit hatinya. Lantaran membangkang perintah Dzat Yang Maha Segalanya, ia pun diusir lebih dulu dari surga. Sakit hati inilah yang mendorong Iblis untuk melakukan hoax yang ternyata sudah ditiru dan didaur ulang oleh para manusia.

Celakanya, para manusia yang telah meniru dan meneladani Iblis dalam berhoax ria itu tidak menggunakannya untuk melawan balik terhadap Iblis. Seolah bersekutu dengan para Iblis, para manusia pelaku hoax itu justru melakukannya terhadap saudaranya sesama manusia. Sungguh ironis. Bahkan ada yang mengaku bahwa semua itu dilakukannya demi agama dan Tuhannya.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Kiai Said: MCA Memalukan

Harus diakui bahwa fakta sejarah hoax yang sudah ada sejak era Mbah Adam AS. itu, alih-alih kita sudah mampu untuk memberangusnya, justru kita manusia-lah yang sudah dan tengah nguri-nguri untuk menghidupkan dan merawat perilaku Iblis tersebut. Dari era ke era, dari masa ke masa, dengan demikian, benarkah manusia itu lebih suka bersekutu dengan Iblis?

Dan untuk kita sekarang ini yang hidup di era thuthul, apabila kita memang betul-betul enggan, tersinggung, atau bahkan marah bila dikatakan suka bersekutu dengan Iblis, caranya sangat mudah; jangan rumat perilaku Iblis yang diantaranya adalah pembuat, pembisik, penggoda dan provokator hoax.

Selain itu, ada satu lagi perilaku Iblis yang wajib kita hindari dan jauhi, yaitu sikap dan laku rasis. Bukankah pembangkangan Iblis kepada Tuhannya karena rasisnya? WAllahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazahan Pagar Nusa


rumahnahdliyyin.com - Hari Ahad kemarin (25 Maret 2018), saya diundang oleh PC. Pagar Nusa Pamekasan dalam agenda “Ijazahan Pendekar”. Efek dari Ijazah Kubro yang diselenggarakan oleh PP. Pagar Nusa tempo hari di Cirebon, ternyata telah merambah ke berbagai daerah yang juga ingin menggelar acara serupa.

PC. Pagar Nusa Pamekasan mengundang dua kiai besar sebagai mujiznya, yaitu KH. R. Mudatsir Badruddin (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur) dan KH. Badrul Huda Zainal Abidin atau yang akrab disapa dengan Gus Bidin (Dewan Khos PP. Pagar Nusa/Pengasuh PP. Lirboyo, Kediri).

Baca Juga: Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Acara ijazahan kali ini, luar biasa. Banyak sekali hal-hal yang membuat saya sendiri maupun hadirin berdecak kagum. Antusias para peserta juga tidak kalah dahsyatnya. Dari ijazah kit yang disiapkan oleh panitia sejumlah 700 paket, ludes. Bahkan, pendaftar tercatat mencapai 1500 orang. Dan panitia harus menyusulkan 800 paket sisanya bagi mereka yang belum mendapatkan.

Ketua Pagar Nusa, baik tingkat Cabang dan Wilayah, menunjukkan etika yang luar biasa. Keduanya tidak menyampaikan sambutan diatas podium, tapi dibawah, menyatu dengan para pendekar. Keduanya merasa tidak pantas tampil diatas podium karena itu adalah tempat bagi para kiai, maqom bagi ulama. Ini sungguh membuat saya berbangga bahwa pimpinan Pagar Nusa tahu diri dan tahu posisi. Kami hanyalah pesuruh para kiai, yang harus siap setiap saat untuk diperintah dan menjalankan amanat.

Baca Juga: Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan

Kekaguman berikutnya membuat kami semakin yakin bahwa kedua mujiz (kiai yang memberikan ijazah) memang layak menjadi panutan kami. Dalam susunan acara, kiai Mudatsir tertulis sebagai mujiz pertama, baru kemudian Gus Bidin. Namun karena sikap tawadlu’, kiai Mudatsir meminta kepada pembawa acara untuk meminta kepada Gus Bidin yang terlebih dahulu menyampaikan ijazah.

Setelah pembawa acara mengundang Gus Bidin untuk naik ke panggung, Gus Bidin lantas memegang mikrofon dan berkata, “Saya memohon dengan hormat kepada kiai Mudatsir untuk lebih dahulu menyampaikan ijazah, baru kemudian saya. Karena beliau jauh lebih ‘alim.”

Baca Juga: Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan

Lantas, mikrofon diserahkan kepada kiai Mudatsir. Beliau berkata, “Mohon maaf, saya tidak berani menyampaikan ijazah terlebih dahulu. Karena materi ijazah Gus Bidin ada materi yang berasal dari almarhum kiai Mahrus Aly (Lirboyo). Terlebih, Gus Bidin ini adalah penerus almarhum Gus Maksum yang bisa terbang itu. Oleh karenanya, saya memohon, Gus Bidin yang sudah selayaknya menyampaikan ijazah, baru nanti saya sisanya saja.”

Setelah itu, Gus Bidin tetap tidak berkenan menyampaikan ijazah terlebih dahulu. “Sekali lagi, mohon maaf kiai Mudatsir. Kami yang muda ini sangat berharap ijazah panjenengan terlebih dahulu. Kami mohon dengan sangat,” pinta Gus Bidin.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Sejurus kemudian, mikrofon kembali berpindah kepada kiai Mudatsir. “Baiklah, saya akan memberi pengantar saja. Saya minta semuanya dalam keadaan suci. Yang belum atau sudah batal wudlu'nya, silakan mengambil air wudlu,” perintah kiai Mudatsir kepada hadirin.

Sambil menunggu peserta berwudlu', kiai Mudatsir mengisahkan soal wirid, amalan dan lain sebagainya, dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Beliau juga menceritakan bahwa sejak dahulu sudah ada pendekar wanita yang juga sahabat Rasulullah SAW., namanua Khaulah binti Ja’far. Setelah semuanya berwudlu', ijazahan pun dimulai oleh Gus Bidin.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Saat selesai memberikan penjelasan tentang materi ijazah, tibalah saatnya “akad ijazah” yang ditandai dengan memegang ujung sorban oleh Gus Bidin dan ujung sorban oleh para peserta. Nampak kiai Mudatsir juga ikut menerima ijazah.

“Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya,” ucap Gus Bidin.

Ribuan peserta menjawab dengan lantang, “Qabiltu!” Selesailah proses ijazah bagian pertama.

Baca Juga: Gus Mus: Akhlaq Sebagai Inti Islam

Berikutnya, giliran kiai Mudatsir yang memberikan penjelasan materi ijazah dengan lengkap. Beliau juga menceritakan kisah-kisah kiai terdahulu yang sholih.

Setelah penjelasan paripurna, kiai Mudatsir pun berkata, “Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya.”

Serentak, semua peserta menjawab, “Qabiltu!”

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Dan saya juga menyaksikan bahwa Gus Bidin juga turut serta menerima ijazah dengan memegang ujung sorban, tepat disamping saya. Saat kiai Mudatsir menyampaikan penjelasan, Gus Bidin juga dengan seksama mengikuti dan mendengarkan perintah mujiz.

Sungguh, malam ini kami ditunjukkan, dipertontonkan pertunjukan etika. akhlaqul karimah tingkat tinggi oleh dua kiai kami. Belum lagi, melihat sosok Gus Bidin yang sangat tawadlu’. Tidak hanya kepada kiai, tapi kepada semuanya. Dengan sabar beliau meladeni permintaan hadirin satu persatu.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Tulisan ini hanyalah menceritakan kepingan kecil peristiwa besar ijazahan di Pamekasan. Masih banyak kisah luar biasa yang disaksikan langsung oleh ribuan peserta ijazahan.

Sebagai bagian dari saksi hidup saat itu, saya merasa berkewajiban menceritakan ini sebagai bagian dari tahadduts binni’mah (cerita atas nikmat yang Allah berikan) kepada kami. Semoga ini menjadi jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir nanti.

Jakarta, 26 Maret 2018


* Oleh: M. Nabil Haroen, Ketum PP. Pencak Silat NU Pagar Nusa
Read More

KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Kontribusi HTI Untuk NKRI?


rumahnahdliyyin.com - Pertama telinga saya mendengar nama ustadz Fadlan Garamatan (UFG) berasal dari mulut seorang tokoh Islam di salah satu kampung yang seratus persen penduduknya muslim asli Papua. Waktu itu saya bersama beberapa teman silaturrahmi ke rumahnya. Meskipun saya tidak paham apa yang dimaksudkan dari ucapannya terkait UFG ketika itu, namun karena teman saya kelihatan manggut-manggut, maka saya pun tidak menanyakan apa maksud dari pria paruh baya itu kok mewanti-wanti kita agar jangan sampai seperti UFG.

Karena penasaran, selepas pertemuan dengan tokoh Islam asli Papua itu, saya pun bertanya pada teman saya, siapakah sebenarnya UFG itu? Berawal dari sinilah saya jadi sedikit tahu tentang UFG yang beberapa bulan kemudian saya ketahui juga ternyata punya julukan sebagai "Ustadz Sabun".

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa hari ini ada sebaran video UFG di grup-grup WA. Yaitu video ceramahnya yang menceritakan tentang strategi dakwahnya di pedalaman Papua dengan menggunakan sabun. Itulah mengapa ia dijuluki sebagai "Ustadz Sabun".

Kendati ada tokoh Islam Papua yang menyatakan bahwa apa yang dikatakan UFG dalam video tersebut adalah omong kosong belaka, namun ditulisan kali ini saya tidak akan mengupas tentang apa yang dikatakan UFG dalam video itu. Selain karena saat ini pengetahuan saya untuk menguak hal itu kurang memadai, juga karena saat membuka video UFG tersebut saya sangat kaget dengan adanya label bendera HTI dipojok kanan atasnya. Di sudut itulah justru fokus saya terarah selain tentu saja menyimak apa yang dikatakan oleh ustadz yang konon sudah mengislamkan ribuan orang asli Papua ini.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sebagaimana kita ketahui bersama, pengadilan HTI beberapa waktu lalu sempat ramai di medsos. Gus Guntur Romli dan kiai Ishomuddin menjadi target lontaran miring dan fitnahan selepas beliau berdua menjadi saksi di PTUN. Dan setelah kesaksian yang membungkam itu, kini ada sebaran video ceramah seorang ustadz yang ada label bendera HTI yang diakhir videonya terkesan nasionalisme banget.

Terlepas apakah UFG juga seorang HTI atau tidak, saya tidak tahu. Setahu saya, UFG selalu memakai bendera AFKN dalam kegiatannya. Yaitu nama sebuah yayasan yang dibentuknya. Dan apakah ini hanya siasat HTI supaya banyak orang tahu bahwa HTI sangat cinta Indonesia dengan bukti adanya video itu, mungkin saja iya.

Kendati andai benar keinginan HTI dalam membuat video itu semata untuk menunjukkan kecintaannya pada NKRI demi kebaikan salah satu daerah di Indonesia, maka apa yang telah dilakukannya adalah salah besar. Justru video itu ternyata telah membuat "gerah" masyarakat daerah yang berkaitan. Dengan konten seorang ustadz yang menuduh para missionaris sebagai biang kerok kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan Papua selama ini, tentu saja dapat berbenih hal yang sangat tidak baik bagi hubungan antar warga negara yang beda agama. Inikah kontribusi ormas yang cinta negaranya?

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Itu kesalahan yang pertama. Yang kedua, HTI telah keliru menjadikan UFG sebagai ikon nasionalismenya---kalau memang video itu dengan tujuan seperti itu. Sebab, integritas dan kiprah UFG dalam berdakwah di Papua selama ini ternyata tidak sedikit yang meragukan dan mempertanyakannya. Saya sendiri mendengar nama UFG untuk yang pertama kalinya saja adalah nama dengan konotasi yang buruk. Terlebih beberapa penemuan saya yang lain setelahnya yang sepertinya selaras dengan konotasi tersebut.

Diantara penemuan saya itu yaitu penyebutan terhadap salah satu kampung yang sudah muslim secara turun-temurun sejak era Kerajaan Tidore sebagai "kampung muallaf". Hal ini kayaknya sepele, tapi bagi penduduk yang disebut seperti itu, tentu tersinggung.

Diluar konten ceramahnya dalam video yang saya lihat ada benderanya HTI tersebut, saya juga menemukan video UFG lain yang mempertontonkan orang-orang asli Papua masuk Islam sembari ramai-ramai berwudlu di sungai. Dari pengakuan seorang teman saya di Sorong sini, dalam video itu ternyata adalah orang-orang asli Papua yang sudah memeluk Islam sejak lahir semua. Bukan non-muslim yang di-Islamkan oleh UFG sebagaimana narasi yang telah disebutkan dalam video itu. Bahkan, teman saya bilang bahwa dalam video tersebut ada saudaranya.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Jadi, kalau video itu adalah usaha dan upaya HTI untuk menunjukkan kepada publik bahwa HTI dengan ustadznya telah berkontribusi terhadap NKRI, sangat salah besar. Dengan gen serta karakter diluar sadarnya yang orientasinya ingin mendirikan Khilafah, sudah sewajarnya kalau pemerintah melarang keberadaan ormas tersebut. Kalau kemudian ada anggota HTI yang berdalih bahwa HTI tak pernah punya tujuan untuk mendirikan Khilafah, maka tak perlu dihiraukan orang tersebut. Sebab, dengan bertanya seperti itu, berarti dia belum/tidak paham HTI dan dengan demikian tidak layak menjadi anggota HTI. Kalau jadi anggota saja tidak layak, berarti tidak patut juga menjadi pengurus. Tidak ada pengurus, tidak akan ada organisasi.

Sebagai penutup, mari dengarkan wejangan Kanjeng Sunan Bonang yang disampaikan kepada Kanjeng Sunan Kalijogo muda, "Kalau nyuci pakaian jangan pakai air kotor." Mungkin wejangan inilah yang sepertinya tepat diarahkan pada HTI. Kalau ingin berbuat baik, pakailah cara yang baik. Kalau ingin melakukan kebajikan, gunakanlah cara yang penuh kebijakan.

Akhirnya, lantaran video yang dibuat (entah diedit) oleh HTI itu, saya dengar-dengar kini UFG menghadapi ancaman akan dihadapkan ke depan hukum besok Senin. Semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran. Juga, semoga kerukunan di Bumi Papua ini tetap terjaga kendati di pulau Cendrawasih ini perbedaannya sangat kaya.

WAllaahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More