Acara Isro'-Mi'roj, Bupati Teluk Wondama Ajak Warga Hindari Penyebaran Hoax


rumahnahdliyyin.com, Wasior - Dalam sambutannya pada acara Isro'-Mi'roj di Musholla Yapis di Manggurai, Wasior, Bupati Teluk Wondama, Bernadus A. Imburi, mengajak seluruh masyarakat untuk menghindari penyebaran berita bohong (hoax) dan tidak menyebar fitnah, hasutan maupun ujaran kebencian yang bisa menimbulkan permusuhan diantara masyarakat. Demikian diberitakan oleh antaranews.com.

"Berkaitan dengan menjaga keamanan, ketenteraman dan ketenangan didalam hidup bermasyarakat, maka saya mengajak kita semua untuk hindari segala bentuk permusuhan, iri hati, dengki dan penyebaran berita bohong yang sekarang marak, baik secara langsung maupun melalui media sosial," kata Imburi pada Sabtu, 14 April 2018 itu.

Baca Juga: Isro'-Mi'roj di Wamena Tekankan Umat Islam Jaga Terus Kerukunan

Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengajak segenap umat Islam di Kabupaten Teluk Wondama untuk tetap memupuk tali silaturrahmi, baik antar sesama muslim maupun dengan pemeluk agama lainnya.

Sedangkan Wakil Ketua II Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Teluk Wondama, Abidin Ohoimas, mengingatkan umat Islam Wondama agar terus memperkuat keimanan. Dengan demikian, diharapkan agar tidak mudah terpengaruh oleh aliran sesat, termasuk penyebaran berita bohong juga.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Perayaan Isro'-Mi'roj ini dilakukan dalam bentuk Tabligh Akbar dengan menghadirkan penceramah dari Makasar. Bupati Imburi sendiri hadir dalam kesempatan ini bersama dengan Sekda Denny Simbar.[]




(Redaksi RN)
Read More

Isro'-Mi'roj di Wamena Tekankan Umat Islam Untuk Terus Jaga Kerukunan


rumahnahdliyyin.com, Wamena - Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, mengajak umat Islam di wilayah itu untuk terus menjaga kerukunan antar umat beragama sebagaimana yang sudah terbina selama ini.

Wakil Ketua Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Jayawijaya, Kuat Toyib, di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Minggu, 15 April 2018, mengatakan bahwa momentum Isro'-Mi'roj harus dimaknai sebagai upaya untuk lebih memperkuat hubungan baik dengan sesama manusia.

"Dalam Islam itu ada tiga hubungan, yaitu dengan Sang Pencipta, Allah SWT., hubungan dengan manusia dan juga alam semesta. Sehingga, Isro'-Mi'roj ini, kami ingin menggerakkan seluruh saudara kita yang ada di kota maupun di luar kota untuk menyatu," ajak Kuat sebagaimana dikutip dari antaranews.com.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Sedangkan I Made Putra, perwakilan pemerintah yang menghadiri Isro'-Mi'roj, mengharapkan supaya momentum itu dapat membentuk umat Islam menjadi umat yang lebih baik. Sebab, tanpa warga yang baik untuk mengawal pembangunan, maka Kabupaten Jayawijaya tidak akan berkembang.

"Umat muslim di Jayawijaya kiranya tetap dapat menjaga kerukunan umat beragama yang selama ini berjalan secara harmonis di tengah-tengah masyarakat," kata pria yang menjabat staf ahli bupati bidang pembangunan, perekonomian dan keuangan itu.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, Atau Sebaliknya

Selain itu, I Made Putra juga mengajak tokoh agama dan seluruh masyarakat supaya mendukung Peraturan Daerah Jayawijaya Nomor 3 Tahun 2009 tentang Larangan Peredaran Minuman Beralkohol.

"Minuman beralkohol ini merusak generasi kita. Dan tokoh agama dan masyarakat bisa mensosialisasikan dan mengarahkan umat untuk tetap menjalankan perintah-perintah agama dan juga menjauhi larangan-larangan seperti minuman keras," pungkasnya.[]




(Redaksi RN)
Read More

Gus Mus - Muhasabah


rumahnahdliyyin.com - Dalam kehidupan kita yang sibuk, yang bising, yang kadang-kadang gaduh ini, rasanya perlu kita sesekali "nyepi", menyendiri dengan diri kita sendiri. Untuk apa? Agar kita dapat melakukan perenungan. Melakukan refleksi diri, muhasabah.

Inilah video tausiyah pendek KH. A. Mustofa Bisri tentang Muhasabah. Selamat menyimak dan menikmati video selengkapnya...


Simak video tausiyah ataupun ngaji KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang lainnya di Gus Mus Channel. Jangan lupa di subsribe, ya...![]



(Redaksi RN)
Read More

Politik Jangan Dibawa ke Masjid


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Syafruddin, meminta supaya masjid tidak digunakan untuk kegiatan politik. Kendati demikian, sebagaimana diberitakan oleh detik.com, dia enggan untuk mengomentari pihak-pihak tertentu yang melakukan mobilisasi massa di masjid. Dia hanya berkomentar bahwa fungsi DMI adalah fasilitator warga dalam menggunakan masjid.

"Ya, janganlah politik, jangan dibawa ke masjid," kata Syafruddin yang juga menjabat sebagai Wakapolri itu dalam acara Forum Kewirausahaan Pemuda Islam di Perpustakaan Nasional, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu, 15 April 2018.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Penggunaan tempat ibadah untuk kegiatan kampanye itu dilarang keras. Hal tersebut termaktub dalam pasal 68 ayat (1) poin j PKPU Nomor 4/2017 tentang kampanye Pilgub, Pilbup dan Pilwalkot yang berbunyi:

Pasal 68

(1) Dalam kampanye dilarang:

j. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan
.[]



(Redaksi RN).
Read More

Khotbah Bukanlah Konsumsi Pemberitaan


rumahnahdliyyin.com,
 Jakarta - Anggota Dewan Pers, Jimmy Silalahi, mengatakan bahwa isi khotbah atau ceramah keagamaan, sebaiknya tidak langsung disajikan secara mentah oleh kalangan pers sebagai berita. Sebab, hal itu bukan untuk konsumsi pemberitaan.

"Kami dari Dewan Pers tidak menganjurkan apa yang disampaikan sebagai isi khotbah, langsung dihadirkan menjadi berita oleh teman-teman pers," ujar Jimmy seperti dilansir oleh antaranews.com saat dia menjadi pembicara dalam acara Media Gathering yang diselenggarakan oleh Bawaslu RI di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 14 April 2018.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Jimmy juga menambahkan bahwa apa pun yang terjadi, kalangan pers harus dapat menghormati substansi sebuah khotbah. Dia menilai bahwa ceramah keagamaan sudah pasti bersifat privat kendati berlangsung di tempat terbuka atau ada media serta alat pengeras suara yang membuat ceramah itu terdengar ke mana-mana.

"Kecuali kalau memang itu ceramah non-keagamaan dan disampaikan di depan publik," jelas Jimmy.

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Lebih lanjut, Jimmy juga mengatakan bahwa jika kalangan pers ingin mengutip sebuah ceramah keagamaan, maka materi atau isi ceramah keagamaan yang dianggap menarik tersebut dapat diklarifikasi kepada penceramah dengan mewawancarainya selepas ceramah usai serta mencari narasumber lain sebagai pembanding atau pelengkap.

"Prinsip jurnalistik 5W+1H harus diperdalam. Yang namanya isi khotbah, tidak pernah ada unsur 5W+1H. Makanya, kami dari Dewan Pers tidak pernah menganjurkan isi khotbah bulat-bulat dijadikan berita," jelasnya.

Baca Juga: Jangan Gunakan Nama "Muslim" Untuk Sebar Hoax

Dia pun mengingatkan bahwa khotbah selalu dipenuhi dengan pesan rohani, hubungan manusia dengan Tuhan. Seandainya ada isi khotbah yang menyangkut persoalan sosial atau politik, pasti dibungkus dalam konteks keagamaan. Sementara itu, sebuah berita tidak hanya menyangkut satu orang. Melainkan juga menyangkut orang banyak.

"Kewajiban anda mengecek, mengonfirmasi dan verifikasi dari pihak lain," tandasnya.[]

(Redaksi RN)
Read More

Terjemah Al-Qur'an Bahasa Aceh Masuk Tahap Validasi


rumahnahdliyyin.com, Banda Aceh - Penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Aceh, telah memasuki tahap validasi. Kepala Puslitbang Lektur, Dr. Muhammad Zain, mengatakan bahwa proses validasi ini dilakukan oleh para ahli untuk tukar pendapat supaya terjemahan tersebut bisa sempurna.

"Validasi terjemahan ini merupakan ruang para ahli untuk melakukan tukar pendapat agar terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Aceh nantinya memperhasil yang lebih sempurna," jelasnya di Banda Aceh pada Kamis, 12 April 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Kementerian Agama menaruh perhatian yang sangat besar pada kegiatan validasi tersebut guna mendapatkan hasil yang terbaik terhadap penterjemahan tersebut.

Menurutnya, Kementerian Agama juga akan berupaya supaya Al-Qur'an terjemahan dalam bahasa daerah tersebut selain dicetak, nantinya juga akan dibuat versi android. Sehingga dapat dimaksimalkan penggunaannya oleh generasi muda di masa mendatang.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa ada dua hal yang sangat penting dalam program penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa daerah. Pertama, untuk menguatkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam diri para generasi muda bangsa ini di masa mendatang, dan kedua, untuk melestarikan bahasa Aceh.

Penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa daerah telah dilakukan sejak tahun 2011. Dan sampai saat ini, sudah dikerjakan di 16 daerah. Diantaranya yaitu bahasa Bugis, Bali, Madura, Sunda, Palembang dan Aceh, dan sebagian lagi masih dalam tahap pengerjaan.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Ketua panitia, Dr. Abdul Rani Usman, mengatakan bahwa proses penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Aceh ini telah selesai dilaksanakan. Saat ini masuk ke dalam tahap validasi pertama yang selanjutnya akan disempurnakan sampai dilakukan validasi kedua.

Sedangkan rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Farid Wajdi Ibrahim, mengatakan bahwa bahasa menunjukkan suatu bangsa. Melalui bahasa, dapat diketahui watak masyarakatnya.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selanjutnya, Prof. Farid juga menyebutkan bahwa karakter utama dalam bahasa Aceh yaitu disingkatnya kata-katanya. Hampir 80 persen kata-kata dalam bahasa Aceh disingkat. Misalnya, "kakak" dalam bahasa Aceh adalah "a", "air" menjadi "ie", "kelapa" adalah "u".[]

(Redaksi RN)
Read More

Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama ini


rumahnahdliyyin.com,
 Banda Aceh - Sebagai daerah yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam di masa lalu, Aceh banyak menyimpan bukti-bukti kebesaran sejarah Islam yang sangat mudah ditemukan hingga kini. Namun, tidak terurus dan bahkan ditelantarkan.

Padahal, dengan memiliki sejarah adanya kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada masa lalu, Aceh terkenal keislamannya yang kental hingga saat ini. Sehingga, berbagai benda peninggalan sejarah tersebut, harus tetap dijaga dengan baik oleh generasi sekarang.

Demikianlah antara lain yang disampaikan oleh arkeolog Aceh dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Husaini Ibrahim MA., saat mengisi pengajian rutin di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu malam, 11 April 2018.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pada pengajian yang dimoderatori oleh Badaruddin S.Pd, M.Pd. (Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh) ini, juga turut dihadiri oleh Kapolresta Banda Aceh, AKBP. Trisno Riyanto.

"Karenanya, mari selamatkan peninggalan sejarah Islam tersebut. Dan ini menjadi kewajiban kita bersama," ujar Abu Husaini Ibrahim sebagaimana diberitakan oleh antaranews.com.

Baca Juga: Menulis Sejarah Secara Cermat

Dosen FKIP Unsyiah yang kini menjabat Ketua Laboratorium Sejarah ini menjelaskan bahwa sangat banyak jejak-jejak sejarah dan peradaban Islam masa lalu. Seperti makam ulama besar, batu nisan orang-orang berilmu, bahkan Kerajaan Samudera Pasai, Peureulak, Lamuri hingga Gampong Pande. Ada pula bukti batu nisan ulama-ulama yang betahunkan 1.070 Masehi.

"Selama ini, kita terkesan tidak peduli dengan jejak-jejak Islam pada benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Bukan berarti kita menkultuskan benda, tapi itu bisa menjadi pedoman untuk dipelajari lagi oleh generasi sekarang. Bahwa Aceh dulu berjaya dengan peradaban Islam, maka untuk bisa berjaya lagi sekarang, kita bisa mengikuti jejak ulama-ulama yang berilmu tinggi dahulu. Bukan malah membuang kotoran ke makam mereka," terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Abu Husaini juga menambahkan bahwa Aceh pada masa kerajaan tempo dulu itu memegang peranan sangat penting dalam menyangga atau membentengi kawasan Nusantara dari kolonialisme penjajah Eropa. Diantaranya yaitu menghalau penjajah Portugis dan Belanda.

“Tujuan Kerajaan Aceh menyerang Portugis sampai ke Melaka dan Johor adalah dalam rangka membentengi Islam di wilayah Nusantara dari kolonialisasi penjajah,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah

Disebutkan juga bahwa andai tanpa kerajaan Aceh, maka Portugis dipastikan dengan mudah dapat menguasai Nusantara pada masa itu.

"Kita tahu bahwa penjajah Barat itu mengemban misi 3G, yaitu Gold (keinginan untuk memiliki emas, hasil alam dan kekayaan), Glory (keinginan mempunyai kejayaan) dan Gospel (keinginan untuk menyebabarkan agama Nasrani). Dari semua penjajah Barat itu, Portugis adalah yang terburuk dalam mengemban misi agama,” lanjut Husaini Ibrahim.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Selain itu, peran Aceh juga sangat besar dalam upaya dakwah dan penyiaran Islam di Nusantara dan membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme.

“Barangkali, kalau Portugis sempat menguasai Aceh, maka Aceh sudah menjadi daerah non-muslim dan nama-nama orang Aceh sudah berubah menjadi Thomas dan lain-lain, serta menjadi basis pengembangan agama lain seperti Timor Timur,” katanya kemudian.

Husaini menambahkan lagi bahwa orang Aceh pada masa lampau memiliki semangat dan kekuatan jihad yang tinggi, sehingga mampu mengalahkan Portugis. Padahal, Portugis itu adalah negara hebat dan kuat.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Diterangkannya juga bahwa orang Aceh tempo dulu itu sangat serius menjalankan ajaran Islam. Dan bersatunya ulama dan umaro dalam membangun peradaban Islam, mengalami kejayaan hingga kemudian datanglah orientalis yang bernama Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dan Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang merusak peradaban Islam di Aceh.

"Dia kembangkan sekulerisme. Dia pisahkan ulama dan umaro sampai diciptakan ajaran bahwa yang mengejar dunia itu bagaikan anjing yang mengejar bangkai. Sehingga, umat Islam dan ulama tidak perlu lagi mengurus urusan dunia dan dijauhkan dari urusan politik. Ulama-ulama cukup belajar agama saja," terangnya terhadap ajaran Snouck Hurgronje.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Selain itu, lanjutnya lagi, Snouck Hurgronje yang memiliki nama Islam Abdul Ghafar itu juga menciptakan musuh-musuh dalam selimut dan pengkhianat ditengah masyarakat Aceh yang menjual Aceh kepada penjajah hingga kerajaan Aceh menjadi lemah serta melahirkan politik adu domba untuk mengacaukan kekuatan Islam yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.[]



(Redaksi RN)
Read More

Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 Dalam The Muslim 500


rumahnahdliyyin.com, Jakarta
- Survei tahunan yang mencantumkan 500 sosok tokoh muslim yang paling berpengaruh di dunia, The Muslim 500, kembali menempatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke dalamnya bersama 500 tokoh muslim lainnya sedunia.

Penyelenggara survei ini adalah The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berkedudukan di Amman, Yordania. Dalam menentukan tokoh muslim yang berpengaruh sedunia ini, digabungkan kombinasi antara matriks sosial, opini publik dan pendapat para ahli.

Baca Juga: 


Presiden Jokowi sendiri, dalam survei ini, berada diurutan ke-16. Dalam publikasinya, para editor survei ini mengutip ucapan Jokowi yang menyatakan bahwa "keberagaman selalu menjadi bagian dari DNA Indonesia. Meskipun banyak tantangan, Islam di Indonesia selalu menjadi kekuatan yang moderat".

Selain Presiden Jokowi, ada dua nama lagi dari Indonesia yang masuk dalam Top 50. Kedua tokoh tersebut yaitu Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, diperingkat ke-22 dan Habib Luthfi bin Yahya diperingkat ke-41. Selain itu, ada nama mantan Ketua PP. Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang masuk dalam Honourable Mentions.[]



(Redaksi RN)
Read More

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Tentang Santri, Ngaji, Akhlaq dan Birrul-Walidain


rumahnahdliyyin.com - Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji. Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT. Maka dari itu, kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng. Ngaji itu harus benar-benar kangelan.

Orang yang baik di dunia itu ada dua. Pertama, orang yang mulang ngaji; yang kedua, orang yang mengaji.

Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.

Kalian adalah pilihane Allah, karena kalian mau mengaji. Jangan berkecil hati. Kalian harus mensyukuri itu dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Saat liburan, yang masih sekolah di sini, kalian di pondok saja, menghafalkan pelajaran yang akan datang. Supaya ringan, saat romadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau Maknun sampai khatam. Nanti Syawal sudah enak, tinggal nglalar saja, tinggal ngaji, sudah dapat hafalannya.

Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan. Seperti mengimami tahlilan, barzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.

Jika kalian memiliki ilmu yang cukup, dimanapun berada, kalian merasa enak. Makanya, yang mempeng selagi masih di pondok.

Kalian di pondok ada ngaji, ada jama'ah, ada juga yang belajar. Kalau diluar, godaannya macam-macam. Gunakan kesempatan di pondok belajar macam- macam ilmu. Terutama situasi masyarakat, kalian pelajari. Jangan pernah buat mainan di pondok itu, daripada menyesal sendiri nantinya.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren Se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Terkadang, tujuan kita mondok 15 tahun. Akan tetapi, tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang. Kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.

Jika dari pondok tidak bisa apa-apa, nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok, pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama Islam.

Kalian kalau pulang dari pondok, akhlaqnya dijaga. Jangan pulang tidak memakai peci, celanaan. Yang benar kalau pulang seperti di pondok, memakai peci. Tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri. Itu merupakan dakwah bil-hal.

Dengan menunjukkan sikap dan akhlaq yang baik, maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren Lirboyo.

Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok. Kalian mondok, harus menunjukkan akhlaqul karimah. Memakai celana boleh, tapi yang benar. Juga pecinya, jangan dislempitkan. Tunjukkan kalian pondok pesantren. Masyarakat biar mau memondokkan anaknya. Dimanapun, tunjukkan akhlaq yang baik.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Jangan sombong. Tawadlu' itu tidak merasa. Meskipun kamu pintar, tidak merasa pintar. Meskipun kamu alim, tapi tidak merasa alim. Menghargai orang lain.

Tawadlu' itu bukan rendah. Akan tetapi, kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.

Dimanapun tempatnya, yang terpenting adalah akhlaq. Sepintar apapun jika tak berakhlaq, tidak ada harganya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Mulai keluar dari pondok, yang baik. Do’a bepergian, dibaca. Karena, di jalan banyak macam-macam kendaraan. Sampai di rumah, yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua. Meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.

Jika orang tua mengerjakan pekerjaan, kalian minta. Jangan hanya tidur saja, itu tidak baik. Orang tua sudah merawat kalian dari kandungan. Kalian dibawa kemana-mana. Kalian harus berangan-angan, kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.

Orang tua merawat anak itu dengan rohmah. Merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh-solehah. Kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja, pasti sudah merasa gak enak. Makanya, jangan sampai membantah orang tua. Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan. Jika kalian mampu, laksanakan. Jika belum mampu, kalian utarakan.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Dari pondok, kalian salaman kepada orang tua. Berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok. Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal. Kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji. Kalian harus bersyukur telah dikirimi.

Birrul-walidain itu tidak membantah dan tidak mengecewakan hati orang tua. Yang sebelum mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua, besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo). Siapapun orang yang bisa birrul-walidain, hidupnya barokah.

Kalian di pondok dididik akhlaqul karimah. Jadi, kalian harus bisa menerapkan akhlaqul-karimah dimana saja.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Nanti, ketika sudah waktunya berangkat pondok, jangan telat. Jika sudah waktunya, segeralah berangkat ke pondok. Kalian disiplin mengikuti peraturan, itu sudah terlihat memuliakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.

Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik. Orang tua kalian ingin memiliki waladun sholih-sholihah.

Di pondok, yang sungguh-sungguh, biar menjadi orang sholeh, menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.[]

(Redaksi RN)



* Diambil dari lirboyo.net dengan judul "Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan".
Read More

Belajar Bernegara Dari Sholat Jama'ah


rumahnahdliyyin.com - Cobalah cari pemimpin yang tanpa kesalahan, kealpaan. Ada, kah? Pasti tidak ada, kecuali junjungan kita RasuluLLah yang ma'shum.

Karena al-insan mahallul-khotho' wan-nisyan, maka jangankan dalam sebuah organisasi, kepemerintahan atau bernegara, sholat jama'ah saja, kalau imam salah, ada cara untuk mengingatkan.

1. Baca subhanaLLah dengan niat dzikir saja atau niat mengingatkan imam sekaligus niat dzikir. Kalau mengingatkan saja, dapat membatalkan sholat.

Mungkin saja, aturan ini dibuat agar makmum yang ingin mengingatkan imamnya tidak berorientasi nafsu, sok tahu, tapi tetap IiLLah, hanya karena Allah.

Baca Juga: Waktu Sholat Fardlu

2. Sunnah sujud syahwi bila melakukan hal-hal yang menyebabkan seseorang harus sujud syahwi. Posisi sujud syahwi ini seperti penambal prosesi sholat yang tidak sempurna. Dan saat imam sujud syahwi, semua makmum harus ikut. Kalau tidak, maka batal-lah sholatnya.

Indahnya, dalam berjama'ah, bila imam melakukan hal yang menyebabkan ia harus sujud syahwi dan ternyata ia tidak melakukannya saat sebelum salam, maka makmum dapat melakukan sujud syahwi untuk kekeliruan imam.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Gerhana

Andai saja dalam bernegara kita mencontoh aturan ini, setiap kekeliruan atau kealpaan pemimpin kita, kita ingatkan hanya karena Allah, bukan karena nafsu kekuasaan atau syahwat belaka, dan saat imam menambal kekeliruannya kita semua ikut menambal kekeliruannya (menutupi apa yang kurang dari pemimpin kita), bahkan bila pemimpin "abai" untuk memperbaiki dan menambal kekeliruannya dalam memimpin, kita mau menambalnya, menyempurnakannya sebagai rakyat, makmum para pemimpin, mungkin hidup bernegara ini bisa menjadi begitu indah. Tak ada caci maki karena mencaci pemimpin sendiri itu seperti meludahi wajah sendiri.



* Oleh: Achmad Shampton
Read More