Terjemah Al-Qur'an Bahasa Aceh Masuk Tahap Validasi


rumahnahdliyyin.com, Banda Aceh - Penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Aceh, telah memasuki tahap validasi. Kepala Puslitbang Lektur, Dr. Muhammad Zain, mengatakan bahwa proses validasi ini dilakukan oleh para ahli untuk tukar pendapat supaya terjemahan tersebut bisa sempurna.

"Validasi terjemahan ini merupakan ruang para ahli untuk melakukan tukar pendapat agar terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Aceh nantinya memperhasil yang lebih sempurna," jelasnya di Banda Aceh pada Kamis, 12 April 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Kementerian Agama menaruh perhatian yang sangat besar pada kegiatan validasi tersebut guna mendapatkan hasil yang terbaik terhadap penterjemahan tersebut.

Menurutnya, Kementerian Agama juga akan berupaya supaya Al-Qur'an terjemahan dalam bahasa daerah tersebut selain dicetak, nantinya juga akan dibuat versi android. Sehingga dapat dimaksimalkan penggunaannya oleh generasi muda di masa mendatang.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa ada dua hal yang sangat penting dalam program penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa daerah. Pertama, untuk menguatkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam diri para generasi muda bangsa ini di masa mendatang, dan kedua, untuk melestarikan bahasa Aceh.

Penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa daerah telah dilakukan sejak tahun 2011. Dan sampai saat ini, sudah dikerjakan di 16 daerah. Diantaranya yaitu bahasa Bugis, Bali, Madura, Sunda, Palembang dan Aceh, dan sebagian lagi masih dalam tahap pengerjaan.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Ketua panitia, Dr. Abdul Rani Usman, mengatakan bahwa proses penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Aceh ini telah selesai dilaksanakan. Saat ini masuk ke dalam tahap validasi pertama yang selanjutnya akan disempurnakan sampai dilakukan validasi kedua.

Sedangkan rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Farid Wajdi Ibrahim, mengatakan bahwa bahasa menunjukkan suatu bangsa. Melalui bahasa, dapat diketahui watak masyarakatnya.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selanjutnya, Prof. Farid juga menyebutkan bahwa karakter utama dalam bahasa Aceh yaitu disingkatnya kata-katanya. Hampir 80 persen kata-kata dalam bahasa Aceh disingkat. Misalnya, "kakak" dalam bahasa Aceh adalah "a", "air" menjadi "ie", "kelapa" adalah "u".[]

(Redaksi RN)

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *