Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama ini


rumahnahdliyyin.com,
 Banda Aceh - Sebagai daerah yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam di masa lalu, Aceh banyak menyimpan bukti-bukti kebesaran sejarah Islam yang sangat mudah ditemukan hingga kini. Namun, tidak terurus dan bahkan ditelantarkan.

Padahal, dengan memiliki sejarah adanya kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada masa lalu, Aceh terkenal keislamannya yang kental hingga saat ini. Sehingga, berbagai benda peninggalan sejarah tersebut, harus tetap dijaga dengan baik oleh generasi sekarang.

Demikianlah antara lain yang disampaikan oleh arkeolog Aceh dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Husaini Ibrahim MA., saat mengisi pengajian rutin di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu malam, 11 April 2018.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pada pengajian yang dimoderatori oleh Badaruddin S.Pd, M.Pd. (Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh) ini, juga turut dihadiri oleh Kapolresta Banda Aceh, AKBP. Trisno Riyanto.

"Karenanya, mari selamatkan peninggalan sejarah Islam tersebut. Dan ini menjadi kewajiban kita bersama," ujar Abu Husaini Ibrahim sebagaimana diberitakan oleh antaranews.com.

Baca Juga: Menulis Sejarah Secara Cermat

Dosen FKIP Unsyiah yang kini menjabat Ketua Laboratorium Sejarah ini menjelaskan bahwa sangat banyak jejak-jejak sejarah dan peradaban Islam masa lalu. Seperti makam ulama besar, batu nisan orang-orang berilmu, bahkan Kerajaan Samudera Pasai, Peureulak, Lamuri hingga Gampong Pande. Ada pula bukti batu nisan ulama-ulama yang betahunkan 1.070 Masehi.

"Selama ini, kita terkesan tidak peduli dengan jejak-jejak Islam pada benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Bukan berarti kita menkultuskan benda, tapi itu bisa menjadi pedoman untuk dipelajari lagi oleh generasi sekarang. Bahwa Aceh dulu berjaya dengan peradaban Islam, maka untuk bisa berjaya lagi sekarang, kita bisa mengikuti jejak ulama-ulama yang berilmu tinggi dahulu. Bukan malah membuang kotoran ke makam mereka," terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Abu Husaini juga menambahkan bahwa Aceh pada masa kerajaan tempo dulu itu memegang peranan sangat penting dalam menyangga atau membentengi kawasan Nusantara dari kolonialisme penjajah Eropa. Diantaranya yaitu menghalau penjajah Portugis dan Belanda.

“Tujuan Kerajaan Aceh menyerang Portugis sampai ke Melaka dan Johor adalah dalam rangka membentengi Islam di wilayah Nusantara dari kolonialisasi penjajah,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah

Disebutkan juga bahwa andai tanpa kerajaan Aceh, maka Portugis dipastikan dengan mudah dapat menguasai Nusantara pada masa itu.

"Kita tahu bahwa penjajah Barat itu mengemban misi 3G, yaitu Gold (keinginan untuk memiliki emas, hasil alam dan kekayaan), Glory (keinginan mempunyai kejayaan) dan Gospel (keinginan untuk menyebabarkan agama Nasrani). Dari semua penjajah Barat itu, Portugis adalah yang terburuk dalam mengemban misi agama,” lanjut Husaini Ibrahim.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Selain itu, peran Aceh juga sangat besar dalam upaya dakwah dan penyiaran Islam di Nusantara dan membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme.

“Barangkali, kalau Portugis sempat menguasai Aceh, maka Aceh sudah menjadi daerah non-muslim dan nama-nama orang Aceh sudah berubah menjadi Thomas dan lain-lain, serta menjadi basis pengembangan agama lain seperti Timor Timur,” katanya kemudian.

Husaini menambahkan lagi bahwa orang Aceh pada masa lampau memiliki semangat dan kekuatan jihad yang tinggi, sehingga mampu mengalahkan Portugis. Padahal, Portugis itu adalah negara hebat dan kuat.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Diterangkannya juga bahwa orang Aceh tempo dulu itu sangat serius menjalankan ajaran Islam. Dan bersatunya ulama dan umaro dalam membangun peradaban Islam, mengalami kejayaan hingga kemudian datanglah orientalis yang bernama Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dan Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang merusak peradaban Islam di Aceh.

"Dia kembangkan sekulerisme. Dia pisahkan ulama dan umaro sampai diciptakan ajaran bahwa yang mengejar dunia itu bagaikan anjing yang mengejar bangkai. Sehingga, umat Islam dan ulama tidak perlu lagi mengurus urusan dunia dan dijauhkan dari urusan politik. Ulama-ulama cukup belajar agama saja," terangnya terhadap ajaran Snouck Hurgronje.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Selain itu, lanjutnya lagi, Snouck Hurgronje yang memiliki nama Islam Abdul Ghafar itu juga menciptakan musuh-musuh dalam selimut dan pengkhianat ditengah masyarakat Aceh yang menjual Aceh kepada penjajah hingga kerajaan Aceh menjadi lemah serta melahirkan politik adu domba untuk mengacaukan kekuatan Islam yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.[]



(Redaksi RN)

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *