NU-Muhammadiyah Memanggil di Universitas Brawijaya Malang


rumahnahdliyyin.com | Malang – Badan Intelejen Negara (BIN) mencatat bahwa ada sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang terserang virus radikalisme. Dari hasil penelitian ini, BIN pun memberikan perhatian khusus terhadap tiga kampus yang dianggap menjadi basis penyebaran paham radikal itu.

Selain penemuan itu, penelitian BIN juga mengungkapkan bahwa ada 24 persen mahasiswa yang sepakat dengan wajibnya berjihad demi tegaknya negara Islam. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, jelas mengancam keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

Dari data inilah, akhirnnya intelektual muda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Universitas Brawijaya tergugah untuk membuat sebuah kolaborasi gerakan. Wajah Islam moderat yang dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus tampil di Perguruan Tinggi.

Bersamaan dengan momen Daftar Ulang SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya tahun 2018, para mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di lingkungan Universitas Brawijaya itu bersatu padu membuat sebuah gerakan “Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah Memanggil”.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Dengan tema “Milenial Berkarya, Milenial Berbudaya, Milenial Berkemajuan”, mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Universitas Brawijaya itu membuat stand dan acara pembukaan pun dilakukan bersama di depan Gedung Samantha Krida untuk menyambut mahasiswa baru hasil penjaringan SNMPTN.

Selain itu, mereka juga hadir untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, budaya yang baik dan semangat nasionalisme. Gerakan yang diselenggarakan pada Selasa (08/05/2018) ini, juga diikuti oleh para mahasiswa Universitas Brawijaya pada umumnya.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Nilai Agama

Pembukaan stand bersama ini dilakukan mulai pagi hari hingga selesainya kegiatan daftar ulang SNMPTN bagi mahasiswa baru. Stand dari kedua ormas yang digelar berdampingan, sangat menunjukkan adanya sinergitas gerakan dalam setiap ranah dakwah di lingkungan Universitas Brawijaya.

Mahasiswa Nahdlatul Ulama kelihatan aktif membagikan brosur-brosur informasi mengenai organisasi Nahdlatul Ulama kepada khalayak. Tampak pula mahasiswa lain yang notabene juga santri, membagikan informasi Pondok Pesantren area Kota Malang kepada mahasiswa baru. Selain itu, stand yang digelar itu juga melayani pendampingan untuk mahasiswa baru, baik itu informasi akademik, jurusan/fakultas, maupun informasi lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Komunitas mahasiswa yang terafiliasi kedalam Nahdlatul Ulama dari unsur KMNU, PKPT, IPNU-IPPNU, PMII, MATAN dan mahasiswa NU pada umumnya, turut hadir dalam memeriahkan gerakan bersama yang disebut dengan Gerakan Sambut Maba NU-Muhammadiyah itu.

Koordinator pelaksana dari Nahdlatul Ulama, M. Syafiq Afif Adani, menyebutkan bahwa gerakan ini adalah tindak lanjut dari sinergitas yang telah lebih dahulu dibangun oleh NU-Muhammadiyah di tingkat pusat.

“Beberapa waktu lalu, para orangtua kita di PBNU dan PP. Muhammdiyah melakukan silaturrahmi untuk membahas persoalan kebangsaan. Mengapa tidak, kita di wilayah mahasiswa melakukan kegiatan yang sama?" ungkap Syafiq, begitu sapaan akrabnya.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Sementara itu, koordinator pelaksana dari Muhammadiyah, Azhar Syahida, menyampaikan pernyataan yang senada pula. Menurutnya, gerakan ini sangat baik, sehingga ke depannya harus terus dijalankan secara berkelanjutan.

Perlu diketahui bersama bahwa Mahasiswa Nahdlatul Ulama di Universitas Brawijaya adalah forum silaturrahmi antarmahasiswa di lingkungan Universitas Brawijaya, baik yang ada di organisasi struktural NU maupun kultural. Sangat banyak aktivitas ke-NU-an yang telah dilakukan di kampus. Diantaranya yaitu mengaji kitab kuning, diskusi Aswaja, sharing keilmuan dan prestasi mahasiswa, Majelis Ta’lim dan Sholawat, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta program pendampingan intensif dibidang akademik maupun non-akademik.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Gerakan bersama antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ini tidak lain adalah untuk membentengi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri agar terhindar dari virus radikalisme dan terorisme, menyerukan wajah Islam yang ramah dan moderat, menyebarkan nilai-nilai toleransi dan semangat Hubbul-Wathon minal-Iman, serta lebih jauh lagi adalah membentuk generasi muda bangsa Indonesia menjadi milenial yang berkarya, berbudaya dan berkemajuan.[]
(Mohammad Ainurrofiqin)
Read More

PBNU Luncurkan BBM Serentak


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan aksi Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah pada Minggu, 13 Mei 2018, secara serentak di seluruh musholla dan masjid se-Indonesia. Aksi serentak ini akan diluncurkan pada besok hari Rabu, 9 Mei 2018, di Gedung PBNU, Jakarta.

“Tujuan BBM Berkah ini adalah untuk mendorong masjid ikut berperan mewujudkan situasi nasional yang bersih dari kotoran lahir-batin menyongsong bulan suci Romadlon sekaligus untuk berpartisipasi mewujudkan situasi bangsa yang aman dan tentram,” jelas Ali Sobirin, Koordinator Nasional acara ini.

Baca Juga: Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Peluncuran yang akan diisi dengan acara Deklarasi ini akan dihadiri oleh para Penggerak Masjid Seluruh Indonesia, para Koord. BBM Kabupaten/Kota, para Ta'mir Masjid dan Marbot se-Jabodetabek dan pengurus PBNU.[]




(Redaksi RN)
Read More

Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir


rumahnahdliyyin.com - Ditinjau dari sisi bahasa Arab, kata khalifah (خليفة) adalah bentuk kata benda tunggal yang berarti orang yang mengatur urusan-urusan kaum muslim. Sedangkan bentuk jama' atau pluralnya adalah kholaif (خلائف).

Adapun kata khulafa' (خلفاء) merupakan bentuk jama' atau plural dari kata kholif (خليف), tanpa huruf ha' (الهاء) karena kata ini bermakna al-fa'il (kata benda yang menunjukkan pelaku suatu perbuatan). Kata kholif ini adalah asal kata dari kholifah (خليفة). Penambahan huruf ha' (الهاء) padanya adalah mubalaghoh (bentuk pernyataan yang dilebihkan/pleonastic) sehingga menjadi sifat spesifik bagi orang tertentu. (Muhammad Ibrahim Al-Khafnawi, Mu'jam Ghorib Al-Fiqh wal-Ushul: Kairo, Darul-Hadits, 1430/2009, hal. 233).

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Menurut Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi (1283 H./1866 M. - 1332 H./1914 M.), seorang ulama besar dari Syam (Syiria), menuliskan dalam tafsirnya bahwa firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30:

وإذ قال ربّك للملائكة إنّى جاعل فى الأرض خليفة أي قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن كماقال تعالى وهو الذى جعلكم خلائف الأرض

"Dan (ingatlah) ketika Tuhan Pemelihara kamu berfirman kepada para malaikat: 'sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah.' Maksudnya (menjadikan) suatu kaum menggantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, satu generasi sesudah generasi sebelumnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dan Dia-lah yang menjadikan kamu para khalifah (di) bumi." (QS. Al-An'am: 165).

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Menurut Al-Imam Al-Qurthubi, kata kholifah itu bermakna fa'il (pelaku pekerjaan), yaitu:

يخلف من كان قبله من الملائكة فى الأرض أو من كان قبله من غير الملائكة على ما روي

"Yang menggantikan orang yang sebelumnya berupa malaikat yang menetap di bumi atau orang yang sebelumnya (yang tinggal di bumi) dari selain malaikat atas dasar suatu riwayat."

Baca Juga: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud

Makna kholifah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 ini, menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas dan seluruh pakar tafsir adalah Nabi Adam AS. Demikian dikeluarkan oleh Al-Imam Ath-Thobari dalam tafsirnya. (Ath-Thobari, Jilid I, hal. 479-480).

Nabi Adam AS. adalah kholifatuLlah dalam melaksanakan hukum-hukumNya dan perintah-perintahNya karena ia adalah awwalu rosulin (orang yang mula-mula diutus oleh Allah SWT.) ke bumi. (Abi 'Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an wal-Mubayyin li Ma Tadlommanahu minas-Sunnah wa Ayyil-Furqon, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1427/2006, Cet. 1, Jil. 1, hal. 394-395).

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah Ala HTI

الرابعة :هذه الأية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع لتجتمع به الكلمة وتنفذ به أحكام الخليفة ولاخلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ماروي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه و مذهبه قال:إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك وإن الأمة متى أقاموا حجهم وجهادهم وتناصفوا فيما بينهم وبذلوا الحق من أنفسهم وقسموا الغنائم والفيء والصدقات على أهلها وأقاموا الحدود على من وجبت عليه أجزأهم ذلك ولايجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك! ودليلنا قول الله تعالى: إني جاعل في الأرض خليفة وقوله تعالى: يادوود انا جعلناك خليفة في الأرض(ص: ٢٦) وقال: وعد الله الذين ءامنوا وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض (النور :٥٥) أي: يجعل منهم خلفاء إلى غير ذلك من الأي.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU


"Keempat: ayat ini (yakni penggalan firman Allah QS. Al-Baqoroh ayat 30) adalah landasan (dalil) dalam pengangkatan imam dan khalifah yang karenanya ia didengar dan ditaati, yang dengannya supaya sepakat dalam satu kata dan dengannya hukum-hukum dari khalifah dilaksanakan. Tidak ada perbedaan terkait kewajiban itu (mengangkat pemimpin) diantara umat dan para imam, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Al-Asham (yaitu ‘Abdurrahman bin Kaisan, Syaikh Al-Mu’tazilah, wafat tahun 201 H.) dimana ia tuli dari syari’ah, demikian juga setiap orang yang menyatakan mengikuti pendapatnya dan madzhabnya. Ia (Al-Asham) berkata: 'Sesungguhnya (mengangkat) khalifah itu bukan kewajiban dalam agama, yang demikian itu hanyalah merupakan kebolehan. Sesungguhnya apabila umat telah menunaikan haji, jihad dan saling bersikap adil diantara mereka, memberikan hak dari diri mereka, mereka membagikan ghonimah (harta rampasan perang), fay’ dan sedekah kepada yang pantas menerimanya, mereka menegakkan al-hudud (sanksi pidana yang ditentukan oleh teks Al-Qur’an) kepada orang yang wajib menanggungnya, maka yang demikian itu sudah cukup dan tidak wajib bagi mereka untuk mengangkat imam (pemimpin) untuk menangani semua itu.' Adapun dalil kami adalah firman Allah: 'Sesungguhnya Aku hendak menciptakan satu khalifah di bumi.' Firman Allah: 'Wahai Daud! Sesungguhnya Kami telah
menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi,' (QS. Shod: 26). Dan firman Allah: 'Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka penguasa di bumi…' (Qs. al-Nur: 55), maknanya: Allah akan menjadikan diantara mereka khulafa’ (para khalifah)."

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mencermati penafsiran diatas, sangat jelas bahwa firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 menyebut kata kholifah bukan dalam pengertian dan tidak pula berkonotasi atau memberikan petunjuk yang jelas untuk menciptakan pemimpin politik (khalifah), sistem pemerintahan atau bentuk Negara dalam Islam.

QS. Al-Baqoroh ayat 30 diatas dan QS. Shod ayat 26, yakni firman Allah yang artinya, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” adalah dua ayat yang paling sering dipakai untuk melegitimasi sistem politik dalam Islam sebagaimana dilakukan HTI dan para pegiat khilafah lainnya.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Padahal, QS. Al-Baqoroh ayat 30 yang menyebut kata kholifah bermakna sebagai kholifatullah (pengganti Allah) dalam memakmurkan bumi melalui peran manusia dengan berbagai kesempurnaan yang melekat padanya. Sedangkan QS. Shod ayat 26 bermakna lebih menunjukkan kepada tugas untuk memberikan keputusan hukum diantara manusia secara benar dan adil dimana hal ini ditujukan kepada Nabi Daud AS. Jadi, kedua ayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan makna kholifah sebagai entitas kepemimpinan politik untuk menegakkan sistem khilafah islam yang bersifat internasional (al-khilafah al-islamiyyah al-‘alamiyyah) sebagaimana ditafsirkan oleh HTI.

Hanya HTI saja yang mewajibkan penegakan sistem khilafah dengan kewajiban mengangkat satu orang khalifah (‘Abd al-Qadim Zallum, Nidhomul-Hukmi fil-Islam, Beirut-Lebanon: Dar al-Ummat, 2002/1422, halaman 43. Menurut ‘Abd al-Qadim Zallum, ia seorang pimpinan tertinggi Hizbut Tahrir saat ini, bahwa hanya wajib mengangkat satu orang khalifah saja berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abi Sa’id al-Khudlri dari Rasulullah SAW., beliau bersabda: 'Apabila dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang lain (salah satu) dari keduanya') dan di dunia ini hanya boleh ada satu kekhilafahan saja.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Dalam hal ini, sebuah buku berbahasa Arab berjudul Ajhizat Daulah Al-Khilafah fil-Hukmi wal-Idaroh, Beirut-Lebanon: Dar Al-Ummat, 2005/1426), halaman 37, menjelaskan sebagai berikut:

يجب أن يكون المسلمون جميعا في دولة واحدة وأن يكون لهم خليفة واحد لا غير ويحرم شرعا أن يكون للمسلمين في العالم أكثر من دولة واحدة وأكثر من خليفة واحد

“Semua orang muslim wajib berada didalam satu negara dan (wajib) hanya memiliki satu khalifah, tidak ada yang selainnya. Menurut syara’, haram bagi orang-orang muslim memiliki lebih banyak dari satu negara di dunia ini dan (haram) memiliki lebih dari satu khalifah.”

Baca Juga: Jihad dalam Konteks Negara-Bangsa di Era Modern

Padahal, tidak ada seorang pun dari ulama madzhab Sunni dalam kitab-kitab mereka yang mewajibkan hanya ada satu negara yang sah di dunia yang sangat luas ini yang wajib berada dalam genggaman kekuasaan satu orang khalifah.

Kitab-kitab fikih empat madzhab hanyalah mewajibkan pengangkatan pemimpin (nashb al-imam) sebagaimana kewajiban tersebut berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan Al-Ijma’ (konsensus ulama).

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila

Tidak ada satupun teks-teks fikih klasik itu menyebut kata khilafah sebagaimana yang dimaksudkan oleh HTI. Bahkan, tidak ada satu pun dalil nash (teks Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang secara shorih (jelas dan nyata) menyatakan wajib mendirikan khilafah sebagaimana yang dimaksudkan oleh HTI.

Dalam hal ini, HTI telah melakukan pengalihan makna kata kholifah yang disebut dalam Al-Qur’an dan yang tercantum dalam kitab-kitab fikih klasik kepada makna khilafah sebagai sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara Islami yang bersifat internasional (al-khilafah al-islamiyyah al-‘alamiyyah), suatu makna yang sedikitpun tidak dimaksudkan oleh para ulama pada masa lalu itu, lebih-lebih untuk konteks saat ini dimana seluruh dunia telah terbagi-bagi menjadi negara bangsa (nation state).

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Dengan demikian, cukup jelas bahwa HTI sengaja mengutip teks-teks, baik berupa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata kholifah dan derivasinya, mengutip penjelasan para mufassir terkait ayat tersebut dan juga mengutip pendapat para ahli fikih tentang hukum nasb al-imam (pengangkatan pemimpin), adalah sekedar klaim pembenar sepihak dan (seluruh kutipan itu) pada hakikatnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan upaya penegakan kembali khilafah sebagaimana yang dimaksudkan dan diperjuangkan oleh HTI, yakni dalam makna sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara.



* Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Tulisan ini diambil dari tulisan KH. Ahmad Ishomuddin yang berjudul Gerakan Politik HTI Berbalut Dakwah Menuju Khilafah Islamiyyah yang dipresentasikan beliau ketika menjadi Saksi Ahli pada tanggal 15 Maret 2018 dihadapan Majelis Hakim PTUN dalam perkara gugatan TUN yang diajukan oleh ex-HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) terhadap Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-0028.60.10 Tahun 2014 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum HTI.
Read More

Bully Zaman Mbah Bisri


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah kisah tentang gasak-gasakan (atau bahasa sekarang bully) antar kiai di zaman Mbah Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus. Kisah ini dikisahkan oleh Gus Mus pagi ini saat kami sarapan di hotel di Gimpo, sebuah kota kecil di luar Seoul, Korea Selatan.

Zaman dulu, di kota Rembang masih ada penjual daging babi yang membawa pikulan dan berkeliling dari kampung ke kampung. Suatu saat, penjual ini lewat di depan rumah Pak Hamyah, seorang dukun sunat dan sekaligus teman akrab Mbah Bisri. Pak Hamyah pun langsung memanggil penjual daging babi itu.

"Lek..! Coba kamu ke rumah Mbah Bisri di Leteh sana. Dia kemaren sepertinya pengen daging babi."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Penjual itu pun langsung pergi ke rumah Mbah Bisri. Sampai di sana, "Mbah Bisri, katanya butuh daging babi. Monggo lho... "

"Siapa yang bilang?" tanya Mbah Bisri.

"Kata Pak Hamyah, tadi."

"Weee, Hamyah gemblung!" kata Mbah Bisri agak jengkel.

Dua sahabat ini memang sudah sering saling gasak-gasakan. Mbah Bisri lalu mencari akal bagaimana membalas bully-an sahabat karibnya ini. Dapatlah beliau ide untuk membalas.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Suatu hari, Mbah Bisri punya "gawe" di rumahnya. Beliau mengundang banyak tamu, termasuk sahabatnya, Pak Hamyah. Mbah Bisri sudah pesan sejak awal kepada santri ndalem, agar menyediakan satu cangkir kosong yang tertutup. Cangkir itu, pesan Mbah Bisri, agar disuguhkan ke Pak Hamyah.

Terjadilah senario yang sudah direncanakan Mbah Bisri. Santri ndalem menyuguhkan kopi ke semua tamu. Tiba giliran cangkir kosong yang sudah disediakan khusus untuk Pak Hamyah, santri itupun segera meletakkan cangkir tertutup itu di depan sahabat Mbah Bisri itu.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Setelah itu, santri itu kemudian berlalu sambil memendam tawa kecil didalam hatinya, "Kiai ya kayak awak dhewe ya, padha gasak-gasakan juga."

"Monggo kopinipun dipun unjuk, para sedherek," kata Mbah Bisri seraya mempersilahkan tamu-tamunya untuk meminum kopi.

Dengan tanpa curiga sedikitpun, Pak Hamyah segera mengambil cangkir, membuka tutupnya, dan melihat cangkir itu kosong, "Asemik, aku diwales Bisri rupanya."

Baca Juga: KH. Kholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk menutup rasa malu, pak Hamyah tetap mengangkat cangkir itu dan mendekatkannya ke mulut sambil mengeluarkan suara khas, "Slurrrrrp, haaaaaah..." Pak Hamyah pura-pura menikmati kopi itu dengan penuh perasaan.

"Piye kopine, Hamyah?" tanya Mbah Bisri dengan meledek.

Pak Hamyah hanya bisa tersenyum kecut. Mungkin, dia sedang memikirkan trik bully yang lain untuk Mbah Bisri.[]




* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla
Read More

KH. Ahmad Rifai dan Batik Rifaiyah


rumahnahdliyyin.com, Batang - Miftakhutin, perempuan berusia 40 tahun yang perajin batik tulis di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bercerita panjang lebar mengenai sejarah batik tulis khas daerah itu yang hingga kini masih bertahan. Sebagaimana ditulis pada laman antaranews.com, hal tersebut disampaikan Miftakhutin saat berdiskusi dengan sejumlah wartawan pada kegiatan kunjungan media yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di galeri, workshop, sekaligus sentra batik Rifaiyah di Jalan Mataram III, RT. 02/RW. 02, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, pada Rabu (02/05/2018).

Selain dikenal dengan batik Rifaiyah dan Multikultur, batik tulis yang digeluti oleh Utin, demikian Miftakhutin lebih akrab disapa, dikenal juga dengan sebutan "Batik Tiga Negeri". Tiga negeri yang dimaksud itu adalah daerah Lasem yang terkenal batiknya dengan warna merah, Pekalongan dengan warna biru dan Solo dengan warna cokelat. Perpaduan tiga warna itulah yang membuat batik khas daerah Batang itu disebut dengan "batik tiga negeri".

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Meski masih bertahan hingga kini, Utin mengutarakan kekhawatirannya yang serius terhadap masa depan batik Rifaiyah yang perajinnya kian berkurang. Ia mengungkap lagi bahwa saat ini perajin batik Rifaiyah itu rata-rata diatas usia 35 tahun. Ada lebih dari 100 perajin, namun yang aktif ada 87 orang.

"Anak-anak muda perempuan tidak lagi tertarik untuk membatik. Ada yang berusia 18 tahun, satu orang saja," kata Utin yang merupakan generasi kelima dari keluarganya yang meneruskan tradisi membatik hingga saat ini.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Secara umum, perajin batik Rifaiyah adalah komunitas yang mengambil spirit dari ajaran KH. Ahmad Rifai atau yang lebih dikenal dengan kiai Rifai. Atau sebuah komunitas yang merupakan santri yang mengikuti ajaran kiai Rifai yang kemudian meneruskan tradisi membatiknya. Karena itu pula, maka nama batik ini dinisbatkan kepada nama kiai tersebut, yakni batik Rifaiyah.

Berdasarkan rujukan sejarah, kiai Ahmad Rifa'i merupakan salah satu ulama besar yang lahir di Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, pada 9 Muharram 1200 H./1786 M. Sikapnya yang kritis membuat Belanda membuangnya ke daerah Ambon dan diasingkan ke Manado hingga akhirnya wafat pada tahun 1876 M. di Sulawesi Utara.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Kiprah dan perjuangan kiai Rifai melawan penjajahan kolonial Belanda itulah yang akhirnya membuat negara ini menganugerahinya gelar sebagai pahlawan nasional sebagaimana berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 086/TK/2004, pada saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai generasi penerus membatik, dengan spirit Rifaiyah, Utin mengingat ajaran-ajaran kiai Rifai. Diantaranya yaitu berupa syair-syair yang ditulis dalam bahasa Arab Pegon yang selalu disenandungkan ketika membatik. Selain untuk mengingat kembali ajaran kiai Rifai, hal itu dilakukan karena untuk "meramaikan" suasana. Sebab sebelumnya, perajin yang serius dan fokus membatik akan membuat suasana menjadi hening.

"Dengan syair-syair yang diajarkan dan mengandung nilai religi, membuat suasana lebih meneduhkan jiwa," tambahnya.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Motif batik Rifaiyah, pada umumnya menggambarkan tumbuhan. Sangat jarang ada motif hewan. Hal itu karena dalam ajaran Islam memang ada sebagian ulama yang melarang menggambar makhluk hidup. Secara keseluruhan, setidaknya ada 24 motif dalam batik Rifaiyah.

Corak tersebut yaitu pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawungndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrio, ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin, romo gendong, jerukno'i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Motif-motif inipun ada yang mengandung makna spiritualitas. Misalnya motif pelo ati (ampela dan hati ayam) yang menggambarkan ajaran sufisme bahwa hati mengandung sifat-sifat terpuji.

Baca Juga: Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Menurut kitab Tarujumah, susunan kiai Rifai, dalam hati manusia itu terdapat delapan sifat kebaikan, yaitu zuhud (tidak mementingkan keduniawian), qona'at (merasa cukup atas karuniaNya), sabar, tawakal (berserah diri kepadaNya), mujahadah (bersungguh-sungguh), ridlo (rela), syukur dan ikhlas. Semua sifat inipun mengandung makna khouf, mahabbah dan ma'rifat.

Ampela menggambarkan sebagai tempat kotoran. Yaitu sifat-sifat buruk manusia sebagaimana terdapat dalam kitab Tarajumah, yaitu hubbud-dunya (mencintai dunia yang disangka mulia namun di akhirat sia-sia), thoma' (rakus), itba' al-hawa (mengikuti hawa nafsu),'ujub (suka mengagumi diri sendiri), riya' (suka dipuji), takabbur (sombong), hasud (dengki) dan sum'ah (suka membicarakan amal kebajikannya pada orang). Dan semua sifat tercela dan kotor ini harus dibuang jauh-jauh.[]




(Redaksi RN)
Read More

Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Bogor - Islam merupakan agama minoritas di Italia. Umumnya, pemeluk Islam di Italia adalah orang-orang keturunan negara-negara Afrika. Pada 2017, diperkirakan ada sekitar 1.5 juta populasi umat Islam dari total 59 juta jiwa populasi seluruh penduduk Italia.

Kendati merupakan kelompok minoritas, Yahya Sergio Yahe Pallavicini, Ketua Komunitas Islam Italia, mengatakan bahwa Islam telah hadir diberbagai sektor dalam kehidupan masyarakat Italia. Hal ini merupakan hasil upaya dari masyarakat muslim di negara itu sendiri yang menghadirkan Islam di Italia tanpa harus bersikap fanatik.

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila

Sementara itu, terkait tingginya Islamphobia di Eropa, Pallavicini tidak menampiknya. Ia pun menambahkan bahwa harus ada sharing lintas dimensi untuk menguranginya.

“Setiap orang yang menyerang suatu agama, sama dengan menyerang setiap lapisan masyarakat. Untuk mengurangi Islamphobia, harus ada sharing lintas dimensi untuk membantu menemukan identitas dan mengkaitkan dari tradisi ke modernitas,” kata Pallavicini sebagaimana dikutip dari tempo.co, disela-sela forum High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatyyat Islam, pada Rabu (02/05/2018).

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Bagi Manusia

Hidup sebagai minoritas di Italia, membuat Pallavicini "iri" dengan Indonesia. Ia menilai bahwa pengajaran agama Islam di Indonesia sangat berkembang. Hal ini sangat mengejutkan mengingat 80 persen umat Islam di Indonesia bukanlah berdarah Arab, dimana selama ini Islam selalu identik dengan negara-negar Timur Tengah.

Berkaca pada hal ini, Pallavicini pun ingin menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi masyarakat Italia. Indonesia yang terdiri dari beragam suku-bahasa, ternyata bisa hidup dalam harmoni sehingga menginspirasi negara lain.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam


rumahnahdliyyin.com, Bogor - Pertemuan seluruh Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia dalam Konsultasi Tingkat Tinggi tentang Islam Wasathiyah (Islam Moderat), yang berakhir hari Kamis ini (03/05/2018), menyepakati dan mendukung poin-poin yang ada dalam Bogor Message atau Pesan Bogor.

"Seluruh ulama menyetujuinya. Dan ada beberapa tambahan yang akan disusun dalam Pesan Bogor," kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsudin, sebagaimana dilansir antaranews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Din Syamsudin menyebutkan bahwa Pesan Bogor ini disusun dengan ringkas dan hanya ada tiga butir konsideran (pertimbangan) yang kemudian diletakkan didalam komitmen yang bersifat praktis. Terutama lewat Poros Wasathiyah Islam Dunia yang disepakati untuk didirikan dan berada di Indonesia.

"Ini sejalan dengan pesan Presiden Joko Widodo pada pembukaan. Nanti lewat poros ini, semua program akan kita rancang. Termasuk untuk diadakannya pertemuan tahunan," sambung Din Syamsudin.

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila

Adapun isi pertimbangan Pesan Bogor tersebut, yaitu:
  1. Para Cendekiawan Muslim Dunia yang bersidang di KTT Cendekiawan Muslim Dunia tentang Wasathiyah Islam ini mengakui adanya realitas peradaan modern yang menunjukkan kekacauan global, ketidak pastian dan akumulasi kerusakan global yang diperparah oleh kemiskinan, buta huruf, ketidak adilan, diskriminasi dan berbagai bentuk kekerasan, baik di tingkat nasional maupun global.
  2. Percaya pada Islam sebagai agama damai dan rahmat (din as-salam wal-hadloroh) yang prinsip dan ajaran dasarnya mengajarkan cinta, rahmat, harmoni, persatuan, kesetaraan, perdamaian dan kesopanan.
  3. Mengakui bahwa paradigma Wasathiyah Islam sebagai ajaran utama Islam, telah dipraktekkan dalam perjalanan sejarah sejak era Nabi Muhammad SAW., khalifah yang dibimbing dengan benar (Al-Kholifah Ar-Rosyidah), ke periode modern dan kontemporer, diberbagai negara di seluruh dunia, serta menegaskan kembali peran cendekiawan muslim untuk memastikan dan memeliharan generasi masa depan untuk membangun peradaban Ummatan Wasathon.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Sementara itu, isi Pesan Bogor sendiri ada empat, yaitu:
  1. Mengaktifkan kembali paradigma Wasathiyah Islam sebagai ajaran Islam yang meliputi tujuh nilai utama. Tujuh nilai utama tersebut yakni Tawassuth, I'tidal, Tasamuh, Syuro, Ishlah, Qudwah dan Muwathonah.
  2. Menjunjung tinggi nilai-nilai paradigma Wasathiyah Islam sebagai budaya hidup secara individual dan kolektif dengan melambangkan semangat dan eksemplar dari sejarah peradaban Islam.
  3. Memperkuat tekad untuk membuktikan kepada dunia bahwa umat Islam sedang mengamati paradigma Wasathiyah Islam dalam semua aspek kehidupan.
  4. Mendorong negara-negara muslim dan komunitas untuk mengambil inisiatif untuk mempromosikan paradigma Wasathiyah Islam melalui Fulcrum (poros) of Wasathiyah Islam dalam rangka membangun Ummatan Wasathon, sebuah masyarakat yang adil, makmur, damai, inklusif, harmonis, berdasarkan pada ajaran Islam dan moralitas.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Pimpinan Dewan Masyarakat Muslim Dunia, Prof. Mustafa Cheric, menilai isi Pesan Bogor ini sangat penting dan berharga. Dan tidak hanya dibahas hari ini saja, tetapi ada kelanjutannya di pertemuan lainnya. Ia punya dua usulan tambahan untuk isi Pesan Bogor ini, seperti komitmen bekerja sama seluruh ulama dan cendekiawan muslim dunia untuk menjadikan KTT seperti ini sebagai investasi penting para ulama.

"Karena kita memiliki generasi muda, oleh karena itu, saya rekomendasikan Indonesia mengumumkan kompetisi antar umat muda muslim untuk melakukan penelitian atau kajian atas tujuh nilai utama wasathiyah dalam Pesan Bogor ini," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Bagi Manusia

Charlic juga berpesan bahwa Pesan Bogor ini tidak hanya ditujukan bagi negara-negara Islam. Melainkan juga mengakomodir negara-negara non-muslim, sehingga konsep wasathiyah Islam sebagai agama penengah, bisa dipahami secara luas.[]



(Redaksi RN)

Read More

Sambutan MTQ Ke-27, Bupati Nabire Himbau Umat Islam Untuk Mengamalkan Al-Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Nabire - Rabu (02/05/2018), pukul 20.00 WIT., Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua secara resmi dibuka oleh Plt. gubernur Provinsi Papua, yaitu Jend. Purn. Soedarmo, beserta Ketua LPTQ dan Bupati Nabire, Saias Douw. Pembukaan MTQ yang ke-27 kali ini bertempat di halaman Masjid Agung Al-Falah dan Islamic Center yang berada di jalan Merdeka, Nabire, Papua.

Kegiatan MTQ ini terselenggara berkat kerjasama antara LPTQ, Kanwil Kemenag dan Pemerintah Daerah maupun Provinsi Papua dengan tujuan untuk mengembangkan dakwah sekaligus sebagai sarana untuk memajukan syiar agama Islam di tanah Papua ini. Kendati acaranya bernuansa Islami, namun dari panitia dan masyarakat non-muslim juga turut membantu demi suksesnya acara ini.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi

Adapun cabang perlombaan yang dihelat dalam MTQ ini diantaranya yaitu Tilawah Qur'an, Hifdhil Qur'an, Syahril Qur'an, Fahmil Qur'an, Menulis Makalah Qur'an, Kaligrafi, Cerdas Cermat Al-Qur'an, dengan kategori anak-anak, dewasa dan putra-putri ditiap cabangnya.

Rangkaian acara pembukaan MTQ ini diawali dengan penyerahan Piala Lomba oleh Ketua MTQ sebelumnya yang diselenggarakan di Jayapura kepada Ketua Panitia MTQ yang sekarang, yakni Mote. Dalam penyerahan tersebut, selain mengucapkan rasa terimaksihnya, Ketua Panitia yang sekarang dan sekaligus tuan rumah itu juga menyampaikan akan berusaha semaksimal mungkin demi suksesnya perheletan MTQ kali ini.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia Bentuk HAPPI

Sedangkan bapak Bupati Nabire, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa dengan adanya MTQ ini, umat Islam supaya senantiasa membaca kitab sucinya untuk dijadikan pegangan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ia sendiri penganut agama Kristen, namun ia juga menambahkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan tidak keras.

Lebih lanjut, ia menghimbau dan mengajak semua tokoh adat, agama dan masyarakat supaya senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama, tidak saling fitnah dan mencintai toleransi.

"Mari kita ciptakan kerukunan dan kedamaian di tanah Papua ini," ujarnya yang disambut gemuruh tepuk tangan oleh hadirin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Acara pembukaan MTQ Ke-27 pun secara resmi dinyatakan telah dibuka setelah acara pemukulan bedug yang dilakukan oleh Plt. gubernur Papua.

Setelah hiburan, rebana dan tari-tarian Islami yang dilakukan oleh anak-anak tuan rumah Nabire, acara pembukaan pun ditutup dengan do'a.

Tampak hadir dalam acara ini yaitu Pemkab Nabire, Forkopinda, Kanwil, Ketua MUI Nabire, ormas Islam, tokoh adat dan agama Nabire, bupati Jayapura dan seluruh peserta lomba dan masyarakat Nabire dan sekitarnya.[]



(M. Taha)
Read More

Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak hanya dikagumi oleh ulama-ulama Nusantara, melainkan juga oleh ulama-ulama negara lain. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, misalnya. Grand Syaikh Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai ulama paling berpengaruh di dunia oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre ini memberikan pujian terhadap Pancasila sekaligus kepada Presiden Soekarno yang notabene sebagai pencetusnya.

“Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, prinsip musyawarah dan keadilan adalah intisari ajaran Islam,” ujar Grand Syaikh Al-Azhar itu sebagaimana dikutip oleh laman arrahmahnews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa rumusan Pancasila bukan hanya sekedar sejalan dengan Islam. Lebih dari itu, dalam tiap butir Pancasila merupakan esensi ajaran Islam itu sendiri yang harus diperjuangkan. Dalam keterangannya ini, Grand Syaikh juga menyatakan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam.

Ulama yang juga tokoh terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam itu menambahkan lagi bahwa pemikiran Bung Karno telah berhasil membangun hubungan diplomasi antara Indonesia dengan Mesir dan memberikan inspirasi kepada dunia Internasional, terutama semangat Bung Karno yang anti kolonialismenya.

“Konferesi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno berhasil menggelorakan semangat kepada negara-negara di Asia dan Afrika yang mayoritas masih terjajah untuk merdeka dan berdaulat,” terang Syaikh Ahmad Ath-Thayyeb.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Secara eksplisit, pernyataan ulama nomor wahid di dunia tersebut menunjukkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang ideal untuk Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat yang beragam.

Selain itu, pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar itu juga menunjukkan bahwa Pancasila dan Islam itu sama sekali tidak bertentangan sebagaimana yang akhir-akhir ini mulai dihembuskan oleh kelompok-kelompok tertentu. Sebab, jelas sekali bahwa didalam butir-butir Pancasila itu terdapat esensi ajaran Islam itu sendiri.[]



(Redaksi RN)
Read More

Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, mengimbau kepada umat Islam untuk tidak mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar sembari menganggap pasti salah kelompok-kelompok diluar dirinya.

Menurutnya, monopoli kebenaran bukanlah tindakan yang tepat. Islam melarang penganutnya untuk memvonis kafir sesama kelompok ahli qiblat (sesama umat Islam).

"Tidak boleh mengatakan 'hanya saya yang paling benar, sementara yang lain tidak'," tuturnya saat berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu malam (2/5/2018).

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Kedatangan Grand Syaikh Al-Azhar di Kantor PBNU ini disambut hangat oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj. Di hadapan ratusan hadirin, keduanya berdiskusi dengan tema "Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia."

Syaikh Ath-Thayyeb menekankan kaum muslimin supaya fokus pada titik persamaan daripada mencari-cari titik perbedaan dikalangan umat Islam, baik kelompok Sufi, Wahabi, Ahlussunnah, Syi'ah dan lainnya.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini juga menyampaikan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW. itu sebagai rahmat untuk semua, bukan terbatas untuk umat Islam semata.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sebelumnya, KH. Said Aqil Siroj menjelaskan profil singkat Nahdlatul Ulama dan mengenalkan pula kepada Syaikh Ath-Thayyeb tentang Islam Nusantara sebagai Islam yang menjunjung tinggi moderatisme (wasathiyah).

"Islam Nusantara bukan mazhab baru. Melainkan karakter khas keberislaman di bumi Nusantara yang ramah terhadap budaya, harmoni dengan kebhinekaan," jelasnya.

Grand Syaikh Al-Azhar mengakui bahwa kedatangannya di Indonesia adalah bagian dari agenda untuk memperkuat Islam moderat. Ia optimis bahwa hal ini merupakan langkah awal bagi perdamaian dunia secara umum.[]




(Redaksi RN)
Read More