Soal Islam Nusantara, Gus Yahya: Orang Eropa Saja Tidak Bingung


rumahnahdliyyin.com | Surabaya - Memperingati datangnya bulan Muharrom, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, menggelar acara Gebyar Muharrom. Kegiatan yang ditutup dengan pengajian umum ini menghadirkan KH. Yahya Cholil Staquf, Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akhir pekan lalu, di Karang Menjangan, Gubeng, Surabaya.

Dengan mengambil tema "Islam Nusantara di Era milenial", panitia berharap bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang istilah "Islam Nusantara" yang saat ini kembali menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh ketua panitia acara, Ustadz Zainul Muttaqin.

"Harapannya, masyarakat bisa lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Sementara itu, Gus Yahya, sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf, menjelaskan maksud dari Islam Nusantara yang menjadi tema Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Menurutnya, jika ada orang Indonesia yang bingung dengan Islam Nusantara, orang itu mungkin hanya pura-pura bingung saja.

"Jadi, kalau ada orang Indonesia yang katanya bingung tentang Islam Nusantara, itu pura-pura aja, saya kira. Sebetulnya tidak bingung. Kalau bingung, biar dipikir-pikir sendiri. Lah wong orang Eropa saja tidak bingung, kok. Masa orang Karang Menjangan bingung, kan aneh toh? Saya kira begitu," jelas pengasuh Pondok Pesantren Leteh, Rembang, ini.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Seluruh dunia, imbuh beliau, menyambut Islam Nusantara dengan gegap gempita sewaktu penetapan Islam Nusantara sebagai tema muktamar. Sudah lebih dari 48 negara datang ke PBNU untuk belajar tentang Islam Nusantara. Dan puluhan negara mengundang PBNU untuk datang, untuk datang dan berbagi tentang Islam Nusantara di negara itu. Bahkan ada harapan, dengan Islam Nusantara ini, Nahdlatul Ulama bisa memberikan sumbangan untuk perdamaian dunia.

"Salah satu media di Arab, yaitu Al-Arab, sampai membuat tulisan editorial. Bahwa Islam Nusantara merupakan jalan masuk menuju masa depan dunia Islam. Masa depan yang diwarnai dengan kedamaian dan harmoni," terang Gus Yahya.

Menurut beliau lagi, Islam Nusantara itu adalah yang seperti dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada kesehariannya.

Baca Juga: Khitah Islam Nusantara

"Sebab, Islam Nusantara itu mudah. Islam Nusantara, ya, kalian itu. Sampeyan Islam mboten? Islam nggeh? Karang Menjangan itu bagian Nusantara mboten? Ya, itulah Islam Nusantara," jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya membeberkan alasan pemberian nama khusus, Islam Nusantara. Alasannya adalah karena ada perbedaan.

"Kenapa diberikan nama yang khusus, Islam Nusantara? Kok tidak Islam saja? Kok pakai Islam Nusantara? Sebab memang ada perbedaan. Bedanya gimana? Acara seperti ini contohnya. Coba kalian cari model pengajian umum seperti ini di tempat lain," imbuhnya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

"Apakah Islam Nusantara membuat madzhab baru? Tidak. Wudlunya, ya, sama dengan wudlunya Imam Syafi'i, rukunnya enam. Apa ada kiai mencontohkan dengan sebelas? Tidak ada," tambahnya lagi.

Pengajian seperti ini, menurut salah seorang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini, merupakan bentuk konsolidasi sosial untuk memperkuat kohesi, keguyuban dan kerukunan masyarakat. Di samping itu , juga sebagai media penanda arah, sehingga masyarakat bisa mendapat inspirasi ke mana arah yang bisa diperjuangkan bersama.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

"Sebetulnya pengajian umum seperti ini lebih ke arah media untuk konsolidasi sosial. Kalau pendidikan, itu yang dilakukan oleh kiai-kiai ini sehari-hari. Kiai-kiai ini yang melakukan pendidikan ke generasi muda untuk memperbaiki akhlaknya, untuk mempersiapkan kekuatan lahir batinnya untuk menghadapi masa depan," tandas Gus Yahya.[]



nu.or.id
Read More

Sembilan Kalam Hikmah Abuya KH. Ma'ruf Amin


rumahnahdliyyin.com - Pada momentum Tasyakuran yang dihadiri oleh Relawan Lintas Iman dan Barisan Milenial, Abuya KH. Ma'ruf Amin berpidato cukup panjang. Berikut ini adalah butir-butir hikmah yang sempat saya catat dikala dengan khidmat menyimak tausiyah dan irsyadat dari beliau, yang secara umum berisi tentang peran ulama', kebangsaan, arus baru ekonomi Indonesia dan pesan-pesan terhadap generasi milenial:

1. Ulama itu harus faqih, munadhdhom dan muharriq. Faqih artinya 'alim secara keilmuan, juga secara amaliyah. Munadhdhom adalah organisatoris, yang artinya ulama' juga harus bisa menjalankan roda organisasi. Dan yang terpenting adalah muharriq yang artinya penggerak. Sebab, kalau bukan penggerak, maka ulama' akan digerakkan.

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

2. Pada pundak mereka, ulama' mengemban dua tanggung jawab. Pertama mas'ûliyyah ummatiyyah, tanggung jawab keummatan. Dan yang kedua mas'ûliyyah wathoniyyah, tanggung jawab kebangsaan. Maka, mengurus umat sama halnya dengan mengurus bangsa.

3. Indonesia adalah dârul mîtsâq, rumah kesepakatan. Orang sering menyebutnya dârul 'ahdi. Namun, didalam Al-Qur'an ada istilah mîtsâqon Gholîdhon, yang artinya ikatan yang kuat.

4. Pancasila adalah kalimatun sawâ/common platform. Dan UUD 1945 adalah 'ittifâqôt akhowiyyah dan ittifâqôt wathoniyyah, perjanjian dua saudara dan perjanjian antar anak bangsa. Yang dimaksud perjanjian dua saudara adalah saudara muslim dengan saudara non-muslim untuk hidup rukun dan berdampingan.

(NB: Istilah dârul mîtsâq dan ittifâqôt akhowiyyah adalah istilah yang geniune yang datang dari Abuya KH. Ma'ruf Amin sendiri).

Baca Juga: Jangan Gunakan Nama Muslim untuk Sebar Hoax

5. Kalau ada yang bilang, kenapa ulama' bicara politik, maka jawabannya, dari dulu memang ulama' bicara politik. Dan terlibat dalam proses-proses politik. Politik ulama' adalah politik kebangsaan dan politik keummatan. Bukan politik dalam pengertian sempit untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan saja.

6. Konflik ideologi harus kita benahi. Supaya anak bangsa bisa fokus belajar, bekerja dan berkarya. Kita tidak menutup pintu kritik, tapi kritik yang beretika. Bukan dalam rangka mengganggu dan menggoyang-goyang kepemimpinan yang sah.

7. Arus baru ekonomi Indonesia adalah sebuah paradigma ekonomi yang berarti menguatkan yang lemah, dengan tidak melemahkan yang kuat. Artinya, semua sama sama saling menguatkan.

Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat dari Pesantren

8. Generasi milenial harus berakhlak, berkarakter dan punya fighting spirit yang kuat. Perolehan medali kita di ASIAN GAMES kemarin adalah bukti bahwa kita bangsa yang kuat dan petarung.

9. Generasi milenial kalau dilempar ke laut, jadilah pulau. Kalau dilempar ke darat, jadilah gunung. Artinya, dimanapun kalian berada, kalian harus muncul dan menonjol diantara yang lain.

Demikianlah sembilan butir-butir hikmah yang saya rangkum dari tausiyah Abuya KH. Ma'ruf Amin. Semoga bisa menjadi semacam oase di tengah kerontangnya sahara politik dan situasi kebangsaan kita.[]



* Oleh: Khairi Fuady, Konsolidator Relawan Lintas Iman Kiai Ma'ruf.

Sumber: libertynesia.id.
Read More

Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia


rumahnahdliyyin.com - Krisis politik dan kemanusiaan yang bermula sejak 2011 telah meluluhlantakkan banyak negara Timur Tengah, seperti Libya, Tunisia, Yaman dan Suriah. Gerakan propaganda kelompok radikal yang mengatasnamakan revolusi (thaurah) ini sudah berkepanjangan dan gagal memenuhi janji-janji manisnya berupa keadilan dan kesejahteraan.

Gerakan yang dimotori kelompok-kelompok pro-kekerasan ini memang awalnya memikat, karena dibungkus dan disembunyikan di balik kedok-kedok retorik. Media Barat sampai menyebut gerakan mereka sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring/al-Rabi' al-'Arabi), digambarkan sebagai proses demokratisasi, berlawanan dengan kenyataan yang kemudian tampak, yaitu Islamisasi versi Khilafah atau Khilafatisasi. Berdirilah kemudian khilafah di Suriah, Irak dan Libya. Ikhwanul Muslimin saat itu memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia.

Baca Juga: Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah

Demi kepentingan sesaat dan ketika sudah terdesak, mereka memang gemar menggunakan slogan-slogan demokrasi. Semisal, mereka akan mengerek tinggi-tinggi panji kebebasan, ketika perbuatan melanggar hukum mereka ditindak, karena yang sedang dilakukan oleh mereka sejatinya adalah membajak demokrasi. Sejak awal mereka meyakini bahwa demokrasi adalah produk kafir. Maka kapan saja ada waktu, mereka akan menggerusnya.

Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain. Jejaring mereka semakin aktif di Asia, Eropa, Afrika, Amerika sampai Australia, berusaha memperluas kekacauan ke berbagai wilayah, dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi.

Baca Juga: Sembilan Rekomendasi Silatnas ke-VI Alsyami

Wacana Syrianisasi kemudian sampai ke Indonesia, semakin ramai disuarakan pada tahun-tahun belakangan, paling tidak mulai 2016. Banyak pihak mensinyalir ada gerakan-gerakan yang berusaha menjadikan Indonesia jatuh ke dalam krisis sebagaimana menimpa Suriah.

Fakta-fakta kemudian bermunculan; banyak pola krisis Suriah yang disalin oleh kelompok radikal menjadi sebuah gerakan-gerakan di Indonesia. Jaringan-jaringan kelompok radikal di Indonesia juga semakin terang terkoneksi dengan aktor-aktor krisis Suriah. Sebagai contoh, Indonesian Humanitarian Relief (IHR), lembaga kemanusiaan yang dipimpin seorang ustadz berinisial BN, yang logistiknya digunakan untuk mendukung Jaysh al-Islam, salah satu kelompok teroris di Suriah.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Pola men-Suriah-kan Indonesia setidaknya tampak dalam beberapa pergerakan berikut; Pertama, politisasi agama. Indikasi menguatnya penggunaan kedok agama demi kepentingan kekuasaan, sebagaimana pernah dilakukan di Suriah, terlihat dalam banyak hal. Diantaranya adalah penggunaan masjid sebagai markas keberangkatan demonstran. Jika di Damaskus masjid besarnya Jami' Umawi, maka di Jakarta Masjid Istiqlal.

Adakah yang pernah menghitung, berapa kali Masjid Istiqlal diduduki pelaku berangkat demonstrasi? Pelaksanaannya pun kebanyakan di hari Jum'at seusai waktu Sholat Jum'at, didahului dengan hujatan politik di mimbar khotbah, sehingga mengelabuhi pandangan masyarakat terhadap agama yang sakral dan politik yang profan. Persis dengan apa yang pernah terjadi di Suriah menjelang krisis. Masjid pun berubah menjadi tempat yang tidak nyaman, gerah dan tidak lagi menjadi tempat 'berteduh'.

Baca Juga: Hentikan Pengajaran Islam Dangkal

Hari Jum'at, yang semestinya menjadi hari ibadah mulia, berubah menjadi hari-hari politik dan kecemasan atas kekhawatiran akan terjadinya chaos. Muncul kemudian istilah "Jum'at Kemarahan" sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jum'at--bukankah itu hanya terjemahan dari "Jum'at al-Ghodlob" yang pernah menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan oleh Yusuf Al-Qardhawi, tokoh Ikhwanul Muslimin?

Kedua, menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah. Dilakukan dengan terus-menerus menebar fitnah murahan terhadap pemerintah. Sesekali presiden Suriah, Basyar al-Assad, dituduh Syiah, sesekali dituduh kafir dan pembantai Sunni. Kelompok makar bahkan menghembuskan isu bahwa al-Assad mengaku Tuhan dan disebarkanlah foto bergambar poster al-Assad dengan beberapa orang sujud di atasnya.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Dalam konteks Indonesia, Anda bisa mengingat-ingat sendiri, presiden Indonesia pernah difitnah apa saja, mulai dari Kristen, Cina, Komunis, anti-Islam, mengkriminalisasi ulama dan sederet fitnah lainnya. Tidak usah heran dengan fitnah-fitnah tersebut, yang muncul dari kelompok yang merasa paling 'Islam'. Karena bagi mereka barangkali fitnah adalah bagian dari jihad yang misinya mulia. Dan ciri universal pengikut Khawarij adalah mengkafirkan pemerintah.

Ketiga, pembunuhan karakter ulama'. Dalam proses menghadapi krisis, ulama' yang benar-benar ulama' tidak lepas dari panah fitnah, bahkan yang sekaliber Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi--yang pengajiannya bertebaran di berbagai saluran televisi Timur Tengah, kitabnya mengisi rak-rak perpustakaan kampus-kampus dunia Islam dan fatwa-fatwanya menjadi rujukan.

Baca Juga: Sekutu Iblis

Begitu berseberangan pandangan politik dengan mereka, seketika Syeikh al-Buthi dituduh sebagai penjilat istana dan Syi'ah (padahal beliau adalah pejuang Aswaja yang getol), hingga berujung pada syahidnya beliau bersama sekitar 45 muridnya di masjid al-Iman Damaskus, saat pengajian tafsir. Beliau dibom karena pandangan politik kebangsaannya yang tidak sama dengan kelompok pembom bunuh diri.

Jika demikian yang terjadi di Suriah, kira-kira Anda paham, kan, dengan apa yang terjadi di Indonesia, kenapa Buya Syafi'i Ma'arif dianggap liberal, KH. Mustofa Bisri juga dianggap liberal, Prof. Quraish Syihab dituduh Syi'ah, Prof. Said Aqil Siraj juga dituduh Syi'ah, bahkan KH. Ma'ruf Amin atau TGB. Zainul Majdi yang pernah dijunjung-junjung oleh mereka, kini harus menanggung hujaman-hujaman fitnah dari kelompok yang sama, ketika propaganda politiknya tidak dituruti?

Baca Juga: Ulama' Otoriter dan Ulama' Otoritatif

Setelah ulama' yang hakiki yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup mereka bunuh karakternya, maka mereka memunculkan ustadz-ustadzah dadakan yang punya kapasitas entertainer yang hanya mampu berakting layaknya ulama'.

Keempat, meruntuhkan sistem dan pelaksana sistem negara. Misi utama kelompok radikal adalah meruntuhkan sistem yang ada dan menggantinya dengan sistem yang ideal menurut mereka, yaitu khilafah atau negara yang secara formalitas syari'ah, meski substansinya tidak menyentuh syari'ah sama sekali.

Baca Juga: Menolak Ide Khilafah

Khilafah bagi mereka layaknya 'lampu ajaib' yang bisa memberi apa saja dan menyelesaikan masalah apa saja. Tidak sadar bahwa berbagai kelompok saling membunuh dan berperang di Timur Tengah karena sedang berebut mendirikan khilafah dan ujungnya adalah kebinasaan.

Saat kelompok makar di Suriah berusaha meruntuhkan sistem dan pelaksana negara, mereka mengkampanyekan slogan al-sha'b yurid isqat al-nizam (rakyat menghendaki rezim turun) dan irhal ya Basyar (turunlah Presiden Basyar). Slogan dengan fungsi yang sama di copy-paste oleh jaringan mereka di Indonesia, jadilah gerakan dan tagar "2019 Ganti Presiden!"

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Syrianisasi sedang digulirkan di negara kita. Pola-pola yang sama ketika kelompok radikal menghancurkan Suriah sedang disalin untuk menghancurkan negara kita. Bedanya, Suriah sudah merasakan penyesalan dan ingin rekonsiliasi, merambah jalan panjang membangun kembali negara mereka. Sedangkan kita, baru saja memulai. Jika kita tidak berusaha keras menghadang upaya mereka, maka arah jalan Indonesia menjadi Suriah kedua hanya persoalan waktu. Semoga itu tidak pernah terjadi.[]



* Oleh: M. Najih Arromadoni, Alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus dan Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami). Diambil dari detik.com.
Read More

Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika


rumahnahdliyyin.com - Alkisah, suatu malam yang hening di sebuah sanggar Hindu, di sisi utara Pulau Bali yang indah, tiga orang sahabat lintas-iman, dengan balutan rasa hormat dan ikatan persahabatan yang erat, berdiskusi tentang konsep wali atau santo atau orang suci.

Diskusi itu mengantarkan ketiganya pada sebuah titik pertemuan spiritualitas tertinggi, rasa keagamaan yang mendalam. Ketiga orang itu adalah Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka dan Romo Mangun Wijaya.

Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Kedalaman peristiwa itu terekam jelas dalam tulisan Gus Dur yang mengisahkan peristiwa tersebut.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

“Baik agama Hindu, Katolik maupun Islam, memandang orang suci memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain, ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan, ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia. Persamaan pandangan inilah yang membuat kami saling menghormati dengan sepenuh hati. Saya tidak pernah memikirkan perbedaan, melainkan justru persamaan yang selalu kami jadikan sebagai titik pandang untuk melakukan pengabdian kemanusiaan.” (Abdurrahman Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 83-84).

Kisah di atas bisa menjadi jendela penting dalam memahami pandangan Gus Dur tentang kebhinnekaan (pluralisme) dan persahabatan serta kerja sama lintas-agama. Bagi Gus Dur, kemajemukan harus diterima tanpa syarat. Karena kemajemukan adalah sebuah keniscayaan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.

Akan tetapi, mengakui fakta kemajemukan saja tidak cukup. Mengakui adanya keragaman tanpa memiliki komitmen atasnya, tidak memiliki arti apa-apa. Pluralisme adalah sebuah sikap positif terhadap keragaman. Termasuk didalamnya adalah menjaga secara aktif hak-hak keyakinan orang lain, saling memahami dan saling peduli.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Dalam seluruh sejarah hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang terus-menerus membela kelompok-kelompok lemah yang disingkirkan hanya karena alasan perbedaan.

Bagi Gus Dur, harga kemanusiaan mengatasi segalanya. Nilai-nilai kemanusiaan-lah yang sanggup mengatasi seluruh perbedaan. Bahkan, salah satu wasiat Gus Dur kepada keluarganya adalah kelak ketika meninggal dunia, hendaknya di nisan makamnya ditulis “here lies a humanist”.

Beranjak dari penghormatannya yang kuat terhadap martabat manusia, Gus Dur terus-menerus mendorong terciptanya kerja sama lintas-agama. Sebegitu kuatnya keyakinannya pada kerja sama ini, hingga dia memandang bahwa dialog lintas-agama adalah sebuah keniscayaan.

Baginya, dialog lintas-agama adalah sebuah kewajiban sosial yang harus dijalani oleh para pemeluk agama. Jika dialog adalah prasyarat bagi terciptanya toleransi, kerja sama dan perdamaian, maka dialog antar-agama adalah keniscayaan yang harus dilalui.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

“Perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerja sama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Penerimaan Islam akan kerja sama itu tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama…. Kerja sama tidak akan terlaksana tanpa dialog. Oleh karena itu, dialog antar agama juga menjadi kewajiban.” (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, 2006: 133-134).

Pandangan Gus Dur ini, bisa dikatakan sama dengan pendapat Hans Kung yang menyatakan bahwa, “There will be no peace among the people of this world without peace among the world religions.”

Gus Dur memandang bahwa inti dari setiap agama adalah cinta kasih kepada sesama. Salah satu statemen Gus Dur yang sangat terkenal adalah “Tuhan Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Berkuasa tidak perlu dibela; Yang memerlukan pembelaan adalah manusia yang ditindas dan dianiaya.”

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Muara dari seluruh ajaran agama adalah cinta kasih kepada sesama manusia. Di sini, seakan Gus Dur hendak mengatakan bahwa untuk apa beragama (membela Tuhan mati-matian), jika dengan itu, martabat kemanusiaan diinjak-injak dan dinistakan.

Diatas cara pandang inilah Gus Dur menolak ekstremisme dalam agama. Baginya, agama mengajarkan perdamaian. Sedang ekstremisme mengajarkan permusuhan dan kekerasan. Ekstremisme dalam agama tidak memiliki hasil apapun kecuali menebar teror dengan memanipulasi ajaran suci agama yang penuh damai. Gus Dur pernah menyatakan, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai. Dan ekstremis memutarbalikkannya”.

Baca Juga: Tionghoa dan Kran Pembuka Eksklusivitasnya

Suatu ketika, Gus Dur pernah berkata kepada salah seorang kepercayaannya yang non-Muslim. “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Sebagai seorang non-Muslim, si orang tersebut tidak pernah menyangka jika seorang Gus Dur, tokoh Nahdlatul Ulama, membuka lebar pintu bagi dirinya.

Gus Dur menunjukkan bahwa tempat asal kita bukanlah sebuah masalah. Bahkan, bukan sebuah masalah pula siapa orang tua atau leluhur kita. Dia berkata bahwa hanya amal baiklah yang akan membawa kita pada kebaikan.

Pandangan-pandangan inilah yang selalu disuarakan Gus Dur sebagai Guru Bangsa. Dia mencintai NKRI sebagaimana adanya. Dia membela bangsa Indonesia yang berbhinneka. Dia membela Pancasila, karena baginya, Pancasila-lah yang bisa menyatukan kita sebagai sebuah bangsa. Saat hampir semua organisasi keislaman gamang dan ragu menerima Pancasila sebagai azaz tunggal, dia dengan lantang menyatakan bahwa Indonesia tanpa Pancasila akan bubar.

Baca Juga: Islam Bhinneka Tunggal Ika

Ketika beberapa kalangan dalam Islam meributkan hubungan antara keislaman dan keindonesiaan, sambil terus-menerus memperjuangkan Indonesia yang Islam (baik menjadi negara Islam atau dominasi Islam atas agama-agama lain di Indonesia), Gus Dur dengan tegas menyatakan, “Keindonesiaan adalah ketika agama-agama atau keyakinan yang hidup di Indonesia berdiri sejajar dan memiliki kontribusi yang sama terhadap negeri.”

Baginya, esensi kesejarahan kita sebagai bangsa Indonesia adalah memastikan bahwa kita bisa hidup bersama dalam damai. “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi kesejarahan kita yang tidak boleh kita lupakan sama sekali!,” tegasnya.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Dari mana mata air pandangan-pandangan Gus Dur sehingga mengarus pikiran-pikiran bening itu?

Pertanyaan ini perlu dilontarkan, karena banyak yang mengira bahwa pandangan Gus Dur sepenuhnya adalah sekuler. Bahkan, di kalangan umat Islam, banyak yang menuduh bahwa pikiran-pikiran Gus Dur tidak sesuai dengan Islam. Bahkan, bertendensi menghancurkan Islam.

Yang perlu diingat, Gus Dur adalah cucu KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, KH. A. Wahid Hasyim, yang kemudian dibimbing oleh kiai-kiai ternama hingga akhirnya dia melanjutkan studinya ke Mesir dan Irak.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Saat ini, jasadnya terbaring berdekatan dengan jasad kakek dan ayahnya di lokasi pemakaman Pesantren Tebuireng, Jombang. Adalah tidak masuk akal memisahkan pandangan Gus Dur dari keyakinan agamanya, sekalipun caranya memahami agama pasti diperkaya oleh berbagai ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.

Dalam hal kebhinnekaan, Allah SWT. telah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa Dia sendirilah yang menciptakan manusia yang beraneka ragam. Surah Al-Hujurat, ayat 13, barangkali adalah salah satu ayat yang paling banyak dihafal. Disini, Allah SWT. secara tegas berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai, manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah SWT. ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

Allah SWT. sendirilah yang menciptakan kebhinnekaan ini. Dia sendirilah yang menghendakinya. Fakta keragaman manusia bukan karena Allah SWT. tak mampu membuatnya menjadi satu. Namun begitulah yang dikehendaki-Nya. Apakah Allah SWT. tidak sanggup membuat seluruh hamba-Nya beriman kepada-Nya? Allah SWT. tegas menjawabnya dalam surah Yunus, ayat 99:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama

Senada dengan ayat diatas, dibagian lain, Allah SWT. juga menyatakan bahwa setiap kaum memiliki jalan dan caranya sendiri-sendiri. Seluruh perbedaan yang ada ini diciptakan bukan tanpa tujuan. Tapi justru menjadi sarana untuk mencapai kebaikan. Sebagaimana firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah SWT. menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah SWT. hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Jelaslah bahwa Allah SWT. menjadikan keragaman ini sebagai washilah bagi umat manusia untuk meraih kebaikan. Kebaikan tidak bisa diraih dengan cara mengolok dan merendahkan orang lain. Kebaikan hanya mungkin dicapai jika kita mengakui keberadaan orang lain dengan capaian-capaiannya.

Inilah yang dikehendaki Allah SWT. dengan mencipta keragaman. Tapi, betapa seringnya capaian atau prestasi orang lain tidak membuat kita tertantang untuk fastabiqûl-khoirôt (berlomba-lomba berbuat kebajikan), namun justru melahirkan kedengkian yang kemudian mendorong kita melakukan perendahan, penghinaan, bahkan penghancuran kelompok lain.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Ironisnya, tindakan-tindakan rendah ini tidak jarang justru dibalut dengan simbol-simbol agama, seakan Allah-lah yang menyuruh seluruh tindakan kekerasan dan penghancuran ini. Padahal, dalam surat Al-Hujurat, Allah SWT. telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ -

“Wahai, orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. (Karena) boleh jadi, mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain. (Karena) boleh jadi, perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurat: 11).

Baca Juga: Islam Melarang Umatnya Merusak Rumah Ibadah Umat Lain

Bahkan, ketika Allah SWT. menggaransi bahwa hanya Islam-lah agama yang diakui oleh-Nya, Dia tetap mewanti-wanti agar keyakinan mutlak kita terhadap Islam ini tidak menggelincirkan kita untuk melakukan tindakan pemaksaan keyakinan terhadap orang lain. Kredo kebebasan beragama telah dinyatakan secara jelas oleh Allah SWT. dalam surah Al-Baqoroh, ayat 256:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.” (Al-Baqoroh, 256).

Jadi, jelaslah bahwa yang diinginkan Allah SWT. terhadap umat Islam adalah menciptakan sebuah kehidupan yang penuh kedamaian di muka bumi. Kebhinnekaan yang ada di dunia, termasuk kebhinnekaan dalam keyakinan, adalah sunnatuLlah yang tidak bisa diingkari.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Agama, seyakin apapun kita dan sekuat apapun kita memeluknya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghinakan dan berbaku hantam. Sebaliknya, agama seharusnya menjadi energi positif dalam membangun peradaban bumi, dimana setiap orang atau kelompok hidup bersama dalam damai (peacefull coexistence).

Adalah mustahil bagi orang seperti Gus Dur tidak memahami ayat-ayat ini. Sebagai seorang muslim, Gus Dur percaya bahwa Islam adalah agama perdamaian sebagaimana makna generik dari kata al-Islam itu sendiri. Dengan makna seperti ini, Islam kaffah (Islam paripurna) berarti sebuah perdamaian total. Prinsip nir-kekerasan menjadi fondasi Gus dur dalam membangun hubungan dengan orang atau kelompok lain.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Dari sinilah lahir berbagai tindakan Gus Dur yang mendamaikan. Misalnya, dialog antar-pemeluk agama, rekonsiliasi dan toleransi. Dimata Gus Dur, tindakan-tindakan ini tidak hanya merupakan kewajiban sosial. Tapi juga misi keagamaan terdalam yang wajib ditunaikan.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Gus Dur yang sangat menginspirasi: “Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri dan keluarga, mengenal rasa takut. Meskipun takut, kita jalan terus. Berani melompati pagar batas ketakutan tadi. Mungkin, disitu harga kita ditetapkan.”[]



* Oleh: Ahmad Zainul Hamdi, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Sumber: santrinews.com
Read More

Kekecualian Nahdlatul Ulama


rumahnahdliyyin.com - Bagi yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama, dinamika yang terjadi selama Muktamar ke-33 di Jombang, yang dipicu oleh kontroversi sistem pemilihan Rais 'Aam melalui ahlul halli wal aqdli (AHWA), bukanlah suatu drama yang mengejutkan. Alasannya sederhana: NU adalah "drama" itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Itu sebabnya, selalu ada element of surprise, baik kejutan kecil maupun besar, yang mewarnai perjalanan panjang NU.

NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama' atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "kekecualian" atau exceptionalism. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal. Relasi NU dengan negara, misalnya, tidak pernah ajek. Pada masa Orde Lama, NU begitu mesra dengan Soekarno dan menganugerahinya gelar "waliyul amri dloruri bissyaukah".

Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Ia tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah. Nakamura (1981), dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-an melawan arus dari kecenderungan umum relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru. Saat Soeharto mendekati kelompok Islam (modernis), NU dibawah Gus Dur emoh menyambutnya.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU untuk Kepentingan Politik Praktis

Dan NU selalu punya alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzagnya. Pengamat yang tidak paham NU gampang mengobral tuduhan bahwa NU memiliki karakter oportunistik dan terjangkit short-termism, sebuah perilaku yang memuliakan tujuan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Tapi bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan itu. Apa yang disebut pihak lain sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU, sebenarnya punya akar dari tradisi Sunni yang disebut political quietism (pasif) yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar'u al-mafâsid muqoddam 'alâ jalb al-mashôlih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Tertib sosial menempati posisi penting dalam pengambilan keputusan di NU.

Baca Juga: Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren di Era Milenial

Karakter politik NU yang liat dan elastis ini berbeda 180 derajat dengan watak politik Islam modernis yang menekankan pada kepastian, konsistensi dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah Islam modernis di Indonesia selalu mudah ditebak, tidak sedinamis Islam tradisionalis. Gaya politik Masyumi, misalnya, terlalu mudah dibaca.

Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. NU bebas berinteraksi dengan negara tanpa harus membuat komitmen permanen yang justru membelenggu dirinya. Inilah mekanisme pertahanan (defense mechanism) ala NU yang membuat ormas ini bertahan hidup dan berkembang menjadi jama'ah Islam dengan pengikut terbesar se-Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Baca Juga: Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah

Bahkan, dalam metode penentuan awal dan akhir Romadlon, NU berpatokan pada metode yang "tak pasti". Berbeda dengan Muhammadiyah yang mengunggulkan kepastian melalui metode hisab, NU setia pada ru'yat. Melalui hisab, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mematok kapan puasa dimulai dan kapan Idul Fitri. NU sebaliknya, merayakan ketidakpastian melalui ru'yat. Bagi NU, peristiwa agama selalu punya dimensi. Klimaks-antiklimaks dan momentum menjadi penting dalam dramaturgi politik keagamaan NU.

Dalam dramaturgi NU, hasil akhir menjadi susah ditebak. Siapa yang menebak KH. Mustofa Bisri, yang terpilih sebagai Rais 'Aam, tiba-tiba menyatakan tak bersedia, kemudian digantikan KH. Ma'ruf Amien.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS. Berharap pada NU

Menganalisis NU secara temporal bisa terperangkap dalam jebakan target yang selalu bergerak. Siapa yang membayangkan NU yang pada sidang-sidang Konstituante 1950-an menjadi pihak paling keras menyuarakan formalisasi syari'ah Islam dan menuntut pelembagaan ulama' dalam negara, justru sekarang menjadi penjaga gawang Islam tanpa campur tangan negara. Siapa pun pihak yang berupaya mengubah konstitusi Indonesia dengan memaksakan Piagam Jakarta, misalnya, harus melangkahi mayat NU lebih dulu. Metamorfosis NU membuat kebhinnekaan kita seperti mendapat jaminan. Inilah amal jariyah terbesar NU bagi bangsa yang majemuk.

Kekecualian NU yang sulit ditandingi ormas lain adalah secara statistik responden yang mengaku sebagai warga NU mencapai 45 persen dari seluruh populasi muslim di Indonesia. Hasil ini diperoleh berdasarkan data cross-sectional yang dihimpun dari survei-survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia sejak 2003 hingga 2015. Jumlahnya membengkak jika ditanyakan kedekatan secara kultural. Ada 60 persen responden yang mengaku dekat secara kultural keagamaan dengan NU. Proporsi besar warga Nahdliyyin ini akan selalu membuat NU punya data tarik elektoral di mata politikus.

Baca Juga: KH. Saifuddin Amsir Ajak Mencintai NU

Survei juga menemukan bahwa warga yang mengaku secara kultural dan emosional dekat dengan tradisi NU tidak pernah berkurang. Berbeda dengan warga ormas lain yang banyak melepaskan identitas partikularnya sebagai bagian dari ormas tertentu seiring dengan maraknya new Islamic movement, seperti gerakan Tarbiyah atau Hizbut Tahrir sejak dekade 1980, jemaah NU tampak memiliki basis pertahanan kultural yang tangguh. Ritual NU, seperti tahlilan, barzanji dan manaqiban, berhasil membentengi umat dari pengaruh gerakan Islam trans-nasional dan menjaga identitas ke-Nahdliyyin-an mereka.

Mujani (2003) menemukan bahwa ritual Nahdliyyin inilah yang menjadi modal sosial demokrasi di Indonesia. Karena, ibadah jenis ini memiliki dimensi kolektivisme-sosial yang menjadi intisari demokrasi yang partisipatif. Sekali lagi, inilah kekecualian NU. Warga NU yang aktif dalam ritual Nahdliyyin cenderung mendukung demokrasi dan terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di PKK, karang taruna dan sejenisnya.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa

Meski bukan organisasi pluralis, karena anggotanya terbatas bagi yang beragama muslim saja, NU tidak diciptakan untuk memusuhi agama lain. Tingkat toleransi warga NU yang relatif tinggi ini bisa bermata dua. Di satu sisi, warga NU menjadi eksemplar Islam yang ramah. Tapi toleransi ini, juga membuat mereka cenderung nrimo ing pandum atas ketidakmampuan pemerintah atau pengurus NU dalam meningkatkan kesejahteraan jama'ah.

Tugas utama NU sekarang adalah tidak sekadar mengandalkan keunggulan massa, tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya jama'ahnya. Dalam istilah KH. Mustofa Bisri, NU jangan sekadar bertumpu pada "jama'ah" (isi), tapi juga bisa menjadi "jam'iyyah" (sistem, wadah). Sejauh ini, NU belum berhasil menjadikan dirinya sebagai "jam'iyyah", atau meminjam istilah Cak Nur, "Muhammadiyah punya katalog, tapi tidak punya kitab; NU punya banyak kitab, tapi tidak punya katalog."

Baca Juga: NU Dimata Romo Benny

Dengan menjadi jam'iyyah yang kuat, NU tak lagi dilihat sebagai kerumunan, tapi barisan; bukan sekadar buih, tapi gelombang. Peran sosial NU dalam menyediakan jasa schooling (pendidikan), feeding (kesejahteraan sosial) dan healing (pengobatan, rumah sakit) harus ditingkatkan.

Sebelum beranjak jauh, tentu saja residu pasca-Muktamar harus dihilangkan. Jangan sampai faksionalisasi dalam arena Muktamar berlarut-larut. Kalau itu yang terjadi, bukan hanya NU yang rugi, bangsa Indonesia juga ikut menangisi.[]



* Oleh: Burhanuddin Muhtadi, Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.
Read More

Saat Gempa Bumi, Sholat Dibatalkan atau Diteruskan?


rumahnahdliyyin.com - Sudah tersebar video sholat berjama'ah saat gempa bumi di Lombok. Ada yang lari membatalkan sholat dan Imam sholat tetap bertahan dalam sholatnya. Bagaimana cara yang tepat?

Cara yang dijelaskan oleh para ulama' kita adalah menyelamatkan diri dari gempa tanpa membatalkan sholat; lari ke tempat yang aman kemudian melanjutkan sholat.

Baca Juga: Waktu-Waktu Sholat Fardlu

Imam Ibnu Hajar menyampaikan dalil hadits dalam kitabnya Bulughul Marom:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﻳﻘﻄﻊ اﻟﺼﻼﺓ ﺷﻲء ﻭاﺩﺭﺃ ﻣﺎ اﺳﺘﻄﻌﺖ». ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﻭﻓﻲ ﺳﻨﺪﻩ ﺿﻌﻒ

Dari Abu Sa'id Al-Khudlri RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Tidak ada suatu apapun yang bisa memutuskan (membatalkan) sholat. Maka, pertahankan sholat semampumu," (HR. Abu Dawud, dalam sanadnya ada perawi dlo'if).

Hadits diatas adalah dalil larangan membatalkan sholat tanpa sebab.

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Dan sudah maklum bahwa dalam sholat tidak boleh melakukan gerakan banyak, memukul, melompat, lari dan lainnya. Sebab, hal itu dapat membatalkan sholat. Namun, ada pengecualian, sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi:

ﻫﺬا ﻛﻠﻪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺻﻼﺓ ﺷﺪﺓ اﻟﺨﻮﻑ ﺃﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻴﺤﺘﻤﻞ اﻟﻀﺮﺏ ﻭاﻟﺮﻛﺾ ﻭاﻟﻌﺪﻭ ﻟﻠﺤﺎﺟﺔ 

Semua hukum yang membatalkan sholat karena gerakan yang banyak adalah di selain sholat karena ketakutan. Jika dalam sholat karena ketakutan (khouf), maka diperbolehkan memukul, berjalan cepat dan lari karena terdesak. (Al-Majmu', 4/95).

Baca Juga: Tatacara Sholat Gerhana

Bagaimana dengan gempa? Memang sejauh ini saya belum menemukan secara teks lari dari gempa tetap tidak membatalkan sholat. Namun, Imam An-Nawawi memberikan contoh yang hampir mirip, yaitu:

(ﻭﻟﻪ ﺫا اﻟﻨﻮﻉ) ﺃﻱ ﺻﻼﺓ ﺷﺪﺓ اﻟﺨﻮﻑ (ﻓﻲ ﻛﻞ ﻗﺘﺎﻝ ﻭﻫﺰﻳﻤﺔ ﻣﺒﺎﺣﻴﻦ ﻭﻫﺮﺏ ﻣﻦ ﺣﺮﻳﻖ ﻭﺳﻴﻞ ﻭﺳﺒﻊ)

"Diantara bentuk sholat khouf (sangat ketakutan) adalah dalam peperangan dan pelarian yang diperbolehkan. Juga menyelamatkan diri dari kebakaran, banjir dan hewan buas". (Minhajut Tholibin dan Qulyubi, 1/348).

Baca Juga: Muslim di Yaman Sholat Tarowih hingga Seratus Roka'at

Diantara dalil yang disampaikan oleh para ulama' kita, di saat ketakutan namun tetap tidak membatalkan sholat, adalah hadits berikut:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «اﻗﺘﻠﻮا اﻷﺳﻮﺩﻳﻦ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ: اﻟﺤﻴﺔ ﻭاﻟﻌﻘﺮﺏ». ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻷﺭﺑﻌﺔ ﻭﺻﺤﺤﻪ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ

Dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Bunuhlah dua hewan hitam saat kalian dalam sholat, ular dan kalajengking." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah. Dinilai shohih oleh Ibnu Hibban).[]



* Oleh: Ustadz Ma'ruf Khozin, Pemateri kajian kitab hadis Bulughul Marom di Masjid Al-Akbar, Surabaya.
Read More

Apakah Ustadz Harus Faham Agama Islam?


rumahnahdliyyin.com - Dunia semakin lucu. Semakin semarak dengan munculnya orang-orang yang dipanggil "ustadz" atau "ustadzah", padahal tidak memiliki riwayat keilmuan yang jelas. Tidak diketahui pula runutan jalur keguruannya hingga Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Mereka tetap bersikeras untuk berdakwah, padahal sebenarnya maqomnya hanyalah orang awam. Malah, kemudian menantang balik. Mempertanyakan dalil dan atau aturan baku bahwa seorang baru bisa dianggap sebagai ustadz atau ulama' kalau sudah mondok di pesantren.

Baca Juga: Inilah Jawaban Terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi SAW. Pernah Sesat

Ada juga yang sambil ngamuk-ngamuk, mempertanyakan apakah ada dalilnya seorang ustadz harus bisa baca kitab kuning.

Yang lebih asik lagi, ada yang dengan tegas mengatakan bahwa gurunya ialah Rosulullah SAW. dan para Shohabat Nabi RA. Padahal, kita bakal langsung skakmat dia; Kapan ketemu Kanjeng Nabi SAW. dan para Shohabat?

Jangankan dalam disiplin ilmu agama sebesar Islam. Dalam urusan duniawi saja, ada aturannya. Ada sebagian yang dibakukan, ada sebagian yang sama-sama tahu saja. Tapi, intinya sama, yakni legitimasi dan kepercayaan masyarakat.

Baca Juga: Benarkah Nabi Muhammad SAW. itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Sebagai contoh, saya tidak pernah sekolah kedokteran, hanya baca buku terjemahan cara membedah jantung manusia. Setelah saya baca, saya praktekkan, dan belum tentu orang yang saya bedah jantungnya itu celaka.

Disisi lain, ada yang sekolah kedokteran, kemudian mengambil spesialisasi bedah jantung. Ketika membedah jantung, pasien belum tentu orangnya selamat.

Namun, jika masyarakat masih dalam kondisi waras, disaat ada pasien yang harus mendapatkan penanganan bedah jantung, maka secara otomatis hendaknya mereka memilih dokter spesialis bedah jantung. Bukan memilih saya.

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Demikian juga dalam urusan agama. Orang awam yang cuma baca buku agama terjemahan, kemudian pandai merangkai kata-kata menarik dan memukau, ketika mengeluarkan pendapat dan fatwa, belum tentu salah.

Sedangkan seorang kiai yang nyantri puluhan tahun, lalu mengasuh pondok pesantren selama puluhan tahun dengan referensi ratusan kitab kuning, ketika berpendapat atau berfatwa, belum tentu pasti benar.

Namun, umat yang waras tentu saja akan tetap memilih kiai yang berpengalaman di bidangnya, ketimbang ustadz hasil didikan kilat dan baca buku terjemahan.

Baca Juga: Bahaya Berdalil Tanpa Ilmu

Semoga kita semua senantiasa terjaga dalam kewarasan dalam memahami agama Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dan diteruskan oleh para Shohabat, Tabi'in, Tabi'it Tabi'in, hingga segenasi Ulama' Sholih masa kini.

Kita tidak ketemu Kanjeng Nabi SAW., jadi tidak pantas ngaku-ngaku berguru kepada Kanjeng Nabi SAW. Bahkan, para Imam Muhadditsin sekalipun butuh para ulama' yang bukan 4 generasi awal Islam untuk memahami sebuah teks suci. Agar sanadnya nyambung kepada Kanjeng Nabi SAW.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah Taubat

Lalu, siapalah kita, kok, bisa-bisanya merasa langsung berguru dengan Kanjeng Nabi SAW. dan para shohabat, serta mengabaikan sandaran keilmuan yang dibawa ulama' setelah itu?[]



* Oleh : Shuniyya Ruhama, Pengajar Ponpes Tahfidzul Qur'an Al-Istiqomah, Weleri, Kendal.
Read More

Benarkah Nabi Muhammad SAW. itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?


rumahnahdliyyin.com - Beredar luas ceramah seorang ustadz, yang tengah naik daun di kalangan anak muda, yang mengatakan bahwa Maulid Nabi Muhammad SAW. itu seolah memperingati sesatnya Nabi Muhammad SAW. Karena, menurutnya, Nabi Muhammad SAW. dilahirkan dalam keadaan sesat.

Ustadz yang pernah mengaku tidak lulus pesantren, dan pernah di penjara, lantas kemudian hijrah itu, berpendapat bahwa hal itu mengacu pada QS. Adl-Dlûha, ayat 7, yang berbunyi:

‎وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Baca Juga: Inilah Jawaban Terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat

Kata dlôllan dalam ayat tersebut diartikan sebagai "sesat" oleh sang ustadz. Dengan bertanya pada seorang ustadz lain yang ada disampingnya, ayat tersebut diterjemahkan menjadi “ketika Allah SWT. mendapatimu dalam keadaan sesat, lalu Allah SWT. memberimu petunjuk”.

Terjemah semacam ini berbeda dengan terjemahan Kemenag; “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk."

Menerjemahkan kata dloll dalam konteks surat ini sebagai "sesat", amat sangat berbahaya. Bagaimana kalau kita lihat kitab Tafsir?

Baca Juga: Hukum bagi Pengucap "Nabi Tak Bisa Wujudkan Rohmatan lil-'Alamin"

Tafsir At-Thobari mengutip penjelasan As-Suddi yang mengatakan:

وقال السدي في ذلك ما حدثنا ابن حميد ، قال : ثنا مهران ، عن السدي ( { ووجدك ضالا } ) قال : كان على أمر قومه أربعين عاما . وقيل : عني بذلك : ووجدك في قوم ضلال فهداك 

Jadi, kebingungan atau “kesesatan” itu berkenaan dengan kaum Jahiliyah, dimana Nabi SAW. tinggal bersama mereka selama 40 tahun sebelum mendapatkan wahyu. Dengan demikian, yang sesat itu mereka, bukan Nabi SAW.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Nabi SAW. dalam kondisi galau atau kebingungan menghadapi kaumnya itu. Sampai kemudian diberi petunjuk berupa wahyu oleh Allah SWT.

Kalau Nabi SAW. juga sesat saat itu, lha apa bedanya sama kaum Jahiliyah? Bahaya banget, kan, penjelasan ustadz yang terkenal dengan sebutan gapleh ini (gaul tapi soleh)!?

Janganlah menyamakan kondisi pribadi sang ustadz sebelum dia hijrah dengan kondisi Muhammad bin Abdullah sebelum menerima wahyu.

Baca Juga: Bid'ah

Sayid Quthb, dalam kitab tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an, menjelaskan lebih jauh: “Dulu kamu dibesarkan di lingkungan Jahiliyah dengan pandangan hidup mereka dan kepercayaan mereka yang kacau balau, beserta perilaku dan tata kehidupan yang menyimpang dari jalur kebenaran. Kemudian Allah SWT. memberikan petunjuk kepadamu dengan wahyu yang diturunkan-Nya kepadamu dan dengan manhaj yang kamu bisa berhubungan dengan-Nya. Petunjuk dari kebingungan akan aqidah dan kesesatan kelompok tersebut merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah SWT.”

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar atas Hadits Khilafah ala Hizbut Tahrir

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

‎وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ [إِنَّ] الْمُرَادَ بِهَذَا أَنَّهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، ضَلَّ فِي شِعَابِ مَكَّةَ وَهُوَ صَغِيرٌ، ثُمَّ رَجَعَ. وَقِيلَ: إِنَّهُ ضَلَّ وَهُوَ مَعَ عَمِّهِ فِي طَرِيقِ الشَّامِ، وَكَانَ رَاكِبًا نَاقَةً فِي اللَّيْلِ، فَجَاءَ إِبْلِيسُ يَعْدِلُ بِهَا عَنِ الطَّرِيقِ، فَجَاءَ جِبْرِيلُ، فَنَفَخَ إِبْلِيسَ نَفْخَةً ذَهَبَ مِنْهَا إِلَى الْحَبَشَةِ، ثُمَّ عَدَلَ بالراحلة إلى الطريق. حكاهما البغوي

“Diantara ulama' ada yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesungguhnya Nabi SAW. pernah tersesat di lereng-lereng pegunungan Mekah saat ia masih kecil, kemudian ia dapat pulang kembali ke rumahnya. Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya ia pernah tersesat bersama pamannya di tengah jalan menuju ke negeri Syam. Saat itu Nabi SAW. mengendarai unta di malam yang gelap, lalu datanglah iblis yang menyesatkannya dari jalur jalannya. Maka datanglah Malaikat Jibril yang langsung meniup iblis hingga terpental jauh sampai ke negeri Habsyah. Kemudian Jibril meluruskan kembali kendaraan Nabi SAW. ke jalur yang dituju. Kedua kisah ini diriwayatkan dari Al-Bahgawi.”

Baca Juga: Perbedaan Ulama' Tentang Niat Puasa Romadlon

Ibn Katsir menerangkan kata dloll itu dalam konteks "nyasar" atau "tersesat dalam perjalanan". Bukan "tersesat" dalam arti tauhid ataupun kesalahan lainnya.

Biar komplit saya kutip di bawah ini dari Imam Mawardi dalam kitab tafsirnya an-Nukat wal ‘Uyun:

‎{ وَوَجَدَكَ ضالاًّ فَهَدَى { فيه تسعة تأويلات
‎أحدها: وجدك لا تعرف الحق فهداك إليه، قاله ابن عيسى
‎الثاني: ووجدك ضالاً عن النبوة فهداك إليها، قاله الطبري
‎الثالث: ووجد قومك في ضلال فهداك إلى إرشادهم، وهذا معنى قول السدي
‎الرابع: ووجدك ضالاً عن الهجرة فهداك إليها
‎الخامس: ووجدك ناسياً فأذكرك، كما قال تعالى: { أن تَضِل إحداهما
‎السادس: ووجدك طالباً القبلة فهداك إليها، ويكون الضلال بمعنى الطلب، لأن الضال طالب
‎السابع: ووجدك متحيراً في بيان من نزل عليك فهداك إليه، فيكون الضلال بمعنى التحير، لأن الضال متحير
‎الثامن: ووجدك ضائعاً في قومك فهداك إليه، ويكون الضلال بمعنى الضياع، لأن الضال ضائع
‎التاسع: ووجدك محباً للهداية فهداك إليها، ويكون الضلال بمعنى المحبة، ومنه قوله تعالى: { قالوا تاللَّه إنك لفي ضلالك القديم } أي في محبتك

Beliau menjelaskan ada sembilan makna ayat ini, yaitu dalam konteks ketidakmengertian akan al-haq (kebenaran), masalah kenabian, kaum jahiliyah, hijrah, lupa, mencari qiblat, ayat yang diturunkan, kesempitan/kehilangan urusan umat, bahkan ada pula yang memaknainya dengan menyenangi petunjuk, maka diberilah petunjuk.

Baca Juga: Maulid

Dari penjelasan diatas, tidak ada ulama' yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. itu lahir dalam keadaan sesat. Tidak ada pula ulama' yang mengatakan bahwa beliau sesat sebelum diangkat menjadi Nabi. Justru sekian banyak riwayat mengatakan bahwa sejak kecil beliau dijaga Allah SWT. untuk tidak pernah menyembah berhala.

Pertanyaannya: kalau kaum jahiliyah di sekitar beliau saat itu menyembah berhala, lantas apa yang dilakukan oleh beliau sebelum diangkat sebagai Rasul?

Imam Alusi, dalam kitab Tafsir Ruh Al-Ma’ani, menjelaskan bahwa sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad bin Abdullah mengikuti agama yang hanif, yang berasal dari ajaran Nabi Ibrahim AS.

Baca Juga: Ahlussunnah wal-Jama'ah

Begitu pula Ibn Hajar, dalam kitab Fathul Bari, saat menjelaskan riwayat “Aku diutus dengan agama yang hanif dan samhah”, beliau menulis:

‎قال رسول الله صلي الله عليه و سلم : بعثت بالحنيفية السمحة, الحنيفية :أي ملة ابراهيمية, والحنيف المائل عن الباطل وسمي ابراهيم عليه السلام حنيفا لأنه مال عن عبادة الأوثان. السمحة: السهلة والملة السمحة هي الملة التي لا حرج فيها ولا تضييق علي الناس وهي الملة الاسلام ,جمع بين حنيفية و كونها سمحة فهي حنيفية في التوحيد سهلة في العمل. انتهي الوجيز في قواعد الفقه الكلية د. طلعت عبد الغفار حجاج جامعة الأزهر كلية الدراسات الاسلامية والعربية للبنات

Al-Hanifiyah yaitu Millah Ibrahim, dan Hanif (lurus) yang menyimpang dari kebatilan dan Ibrahim AS. dinamakan sebagai seorang yang Hanif karena beliau tidak menyembah berhala. As-samhah yaitu mudah dan jalan (agama) yang mudah. Maknanya jalan (agama) yang tiada kepayahan padanya dan tiada kesempitan pula kepada manusia untuk mengamalkannya dan itu adalah millah (agama) Islam, dihimpunkan diantara hanifiyah dan samhah karena lurus pada Tauhid dan mudah dalam hal pengamalan.”

Baca Juga: Berhukum dengan Selain Hukum Allah SWT.

Jadi, jelaslah bahwa Muhammad bin Abdullah itu bukan orang sesat dan tidak mengikuti kepercayaan kaum jahiliyah saat beliau belum menjadi Nabi.

Lantas, apakah Nabi Muhammad SAW. itu pernah melakukan dosa saat sebelum diangkat menjadi Nabi?

Mari kita simak penjelasan kitab Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:

‎وَالأَْنْبِيَاءُ مَحْفُوظُونَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ مِنَ الذُّنُوبِ الظَّاهِرَةِ كَالْكَذِبِ وَنَحْوِهِ، وَالذُّنُوبِ الْبَاطِنَةِ، كَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

Setelah diangkat menjadi Nabi, para Nabi itu terjaga dari dosa yang lahiriah, seperti berbohong dan sejenisnya, maupun dosa batiniah, seperti dengki, sombong, riya’ dan lainnya.

Baca Juga: Trans-Gender dalam Pandangan Syari'at Islam

‎أَمَّا عِصْمَتُهُمْ قَبْل النُّبُوَّةِ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا، فَمَنَعَهَا قَوْمٌ، وَجَوَّزَهَا آخَرُونَ، وَالصَّحِيحُ تَنْزِيهُهُمْ مِنْ كُل عَيْبٍ؛

“Adapun kema’shuman sebelum kenabian, maka terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama'; ada sebagian yang menolaknya dan ada pula yang membolehkannya. Yang benar itu adalah mereka (maksudnya para Nabi sebelum menjadi Nabi) itu dibersihkan dari semua aib/cela.”

Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW. sejak mudanya sudah dikenal dengan sebutan Al-Amin (orang yang terpercaya) karena track recordnya sebagai pribadi yang jujur dan mulia dikenal luas saat itu.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Karena memahami QS. Adl-Dluhâ hanya lewat arti harfiah terjemahan saja, tanpa menyempatkan diri membuka kitab tafsir dan literatur lainnya, sang ustadz semakin parah membangun narasinya dengan menyerang perayaan maulid, dengan gaya sinisnya. Seolah dia memakai logika; kalau saat lahir Muhammad SAW. itu dalam keadaan sesat, mengapa kelahirannya itu hendak diperingati? Apanya yang mau diperingati?

Narasi yang coba dibangunnya menjadi berantakan karena asumsinya sudah keliru. Ayat yang dia kutip ternyata menurut para ulama' tafsir tidak mengatakan bahwa Muhammad  SAW. itu sesat. Kalau Muhammad SAW. itu sebelumnya sesat, nanti ada yang bertanya; orang sesat, kok, jadi Nabi? Piye, to jal? Mikirrrr.

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Dulu ada yang mengatakan bahwa Nabi SAW. gagal mewujudkan Islam yang rohmatan lil 'alamin semasa hidupnya, hanya karena ingin membangun narasi mendukung khilafah. Sekarang, sejak lahirnNabi SAW. dibilang sesat, hanya karena hendak menyerang peringatan maulid.

Duh, Gusti…..
Kenapa justru para ustadz mencela Nabi-Mu….
Mohon Engkau mengampuni kami semua.
NastaghfiruLlâh wa natûbu ilaik.

Tabik.
[]



* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia–New Zealand
dan Dosen Senior Monash Law School.
Read More

Sengsara Membawa Nikmat


rumahnahdliyyin.com - Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menyelipkan kisah yang beliau alami ketika mengulas QS. Al-Insyiroh, khususnya pada ayat 5 dan 6, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ketika pertama kali dipenjara oleh rezim Bung Karno, pada 27 Januari 1964, beliau gelisah. Akhirnya, Buya Hamka membuka mushaf. Membaca Al-Qur’an.

Lima hari penahanan pertama, Al-Qur’an telah dia khatamkan tiga kali. Kemudian beliau mengatur waktu untuk membaca dan menulis tafsir Al-Qur’an. Hingga saat beliau dibebaskan pada Mei 1966, ulama' Minangkabau ini sudah lebih dari 155 kali mengkhatamkan Al-Qur’an dalam durasi dua tahun. Luar biasa!

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Ini diantara hikmah dari penahanan, Buya Hamka bisa dengan lancar menyelesaikan karyanya. Tak hanya itu, berkat royalti Tafsir Al-Azhar yang diterima, pada tahun 1968, beliau bisa naik haji bersama keluarga. Inilah diantara contoh apabila setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

QS. Al-Insyiroh atau yang masyhur dengan sebutan Surat Alam Nasyroh adalah Surat Makkiyah yang terdiri dari 8 Ayat. "Asy-Syarh" bermakna lapang dan luas. Dikatakan orang itu lapang dada, maksudnya berjiwa terbuka dan riang. Sifat seperti ini menjadi kebanggaan bagi orang Arab dan mereka mengekspresikan dalam bentuk puji-pujian.

Baca Juga: Inflasi Ulama'

Demikian pentingnya sikap lapang dada ini, hingga Allah SWT. mengabadikan do'a Nabi Musa AS. dalam QS. Thoha ayat 25-28; “Robbisyrohlî shodrî wa yassirlî amrî wahlul ‘uqdatam-millisânî yafqohû qoulî.” (Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.).

"Al-Wizru" berarti beban yang berat. Karena itu, menurut Prof. Quraish Shihab, dalam tafsirnya, ada istilah wazir (menteri) karena memikul beban tanggung jawab yang berat. Demikian pula al-wizr yang berarti dosa, karena yang berdosa merasakan beban berat dalam jiwanya. Disamping itu, dosa menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul oleh pelakunya di kemudian hari.

Baca Juga: Madzhab Gantung Kaki

Turunnya surat ini mengindikasikan ada sesuatu beban berat yang dipikul oleh Rasulullah SAW. Beban ini, menurut para ulama', antara lain:
  1. Wafatnya istri beliau, Khadijah RA., dan paman beliau, Abu Thalib.
  2. Beratnya wahyu Al-Qur’an yang beliau terima, sebagaimana termuat dalam QS. Al-Hasyr: 21 (terj. “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah SWT.").
  3. Keadaan masyarakat pada masa jahiliyyah. Pendapat terakhir ini dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Prof. Quraish Shihab, yang menganggap apabila beban berat terletak pada sisi psikologisnya, yaitu tentangan dan permusuhan kaum musyrikin kepada Rasulullah SAW.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Ayat keempat, warofa’nâ laka dzikroka, “Dan kami tinggikan sebutanmu”. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah SWT. senantiasa menyertakan nama Rasulullah SAW. setelah nama Allah SWT. Misalnya dalam syahadat, adzan, iqomah dan seterusnya. Bahkan, Allah SWT. memerintahkan bersholawat kepada Rasulullah SAW. setelah Allah SWT. memberikan contoh dalam QS. Al-Ahzab ayat 56.

Buya Hamka, dalam tafsirnya Al-Azhar, ketika menafsirkan ayat ketiga ini, mengutip riwayat Abu Dhahhak dan Ibnu Abbas bahwa “Apabila disebut nama-Ku, namamu pun turut disebut dalam adzan, iqomah dan syahadat. Di hari Jum’at di atas mimbar, di hari raya Idul Fitri, Idul Adlha, Hari Tasyriq di Mina dan Wukuf di Arafah, di hari melontar jumroh ke-tiga-nya, diantara bukit Shafa dan Marwah, bahkan sampai pada khutbah nikah, namamu dijajarkan menyebutnya dengan nama-Ku, sampai ke timur hingga ke barat. Malahan, jika ada seseorang beribadah kepada Allah SWT. Yang Maha Kuasa, seraya mengakui adanya surga dan neraka dan segala yang patut diakui, tetapi dia tidak mengakui bahwa engkau adalah Rasulullah SAW., maka tidaklah ada manfaatnya segala pengakuannya itu. Malahan dia kafir.” Demikian salah satu tafsiran dari Sayyidina Abdullah ibn Abbas RA.

Baca Juga: Inilah Jawaban Terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat

Ayat ke-tujuh dan ke-delapan, yaitu faidzâ faroghta fanshob (Terj. Versi Depag, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”), mengindikasikan apabila makna istirahat itu bukan rehat, mengaso, maupun bersantai-santai setelah usai mengerjakan sesuatu. Melainkan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain dengan prinsip ar-rohah fi tabadulil a’mal (istirahat itu ada pada pergantian pekerjaan).

Sedangkan ayat terakhir, Wa ilâ Robbika Farghob, “….dan hanya kepada Tuhanmu, hendaklah engkau berharap,” menunjukkan pentingnya terminal akhir, yaitu Allah SWT. sebagai landasan setiap aktivitas. Dua ayat terakhir ini sekaligus menjelaskan mengenai mekanisme kerja kaum mukminin, yaitu keseimbangan antara ikhtiyar dan tawakkal. Berusaha saja tanpa berdo'a, itu sombong. Dan do'a saja tanpa usaha, itu malas.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Dalam kajian keilmuan, para ulama' besar, di masa mudanya, telah kenyang melalui berbagai kesulitan. Mengenai kesabaran, ketabahan dan semangat para ulama' dalam menuntut ilmu ini diulas oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Shofahat min Shobr Al-Ulama' ala Syada’id Al-‘Ilm wat-Tahsil.

Meminjam judul sinetron tahun 1990-an; “Sengsara Membawa Nikmat”, demikian pula perjalanan menuntut ilmu. Yang kita lihat dari keberhasilan para ulama' bukan dari “hasil akhirnya”, melainkan pada proses dirinya membentuk karakteristik keilmuannya.

WAllâhu a'lam bisshowâb.
[]



* Oleh: Rijal Mumazziq, Beberapa poin ini disampaikan dalam Kajian Tafsir Rutinan di Ponpes Mabdaul Ma'arif, Desa/Kec. Jombang, Kab. Jember, Selasa malam, 18 Dzulqo'dah 1439 H./ 31 Juli 2018.
Read More

Inilah Jawaban Terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat


rumahnahdliyyin.com - Benarkah Nabi Dulu Pernah Sesat? Na'ûdzu biLlâh, semoga kita dijauhkan dari keyakinan seperti itu.

"Ustadz Hijrah" (sudah minta maaf) ini bukan yang pertama kali menyatakan demikian. Di video yang tersebar, dia sempat menanyakan kepada ustadz di sebelahnya yang menegaskan bahwa makna Dlôllan adalah sesat, berarti Nabi SAW. pernah menjadi sesat. Dan jauh sebelumnya, sudah ada Ustadz Mahrus Ali (yang mengaku Mantan Kiai NU), juga menulis di salah satu bukunya yang menggugat Amaliah NU bahwa Nabi SAW. dulunya juga sesat.

Baca Juga: Berhukum dengan Selain Hukum Allah SWT.

Ada dua dalil yang disampaikan oleh mereka. Dalil pertama: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (Adl-Dluhâ: 7).

Dalil kedua: "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy-Shûrô: 52).

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Jawaban Dalil pertama:

- Penafsiran Sahabat yang digelari Turjuman (interpretator) Al-Qur'an, Ibnu Abbas:

ﻭﺃﺧﺮﺝ اﺑﻦ ﻣﺮﺩﻭﻳﻪ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ: {ﻭﻭﺟﺪﻙ ﺿﺎﻻ ﻓﻬﺪﻯ}

"Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA., ketika menafsirkan firman Allah SWT. yang artinya: 'Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk'." (Adl-Dluhâ: 7).

ﻗﺎﻝ: ﻭﺟﺪﻙ ﺑﻴﻦ ﺿﺎﻟﻴﻦ ﻓﺎﺳﺘﻨﻘﺬﻙ ﻣﻦ ﺿﻼﻟﺘﻬﻢ

"Ibnu Abbas berkata: 'Allah SWT. menemukanmu diantara orang-orang yang sesat (Jahiliyah), lalu Allah SWT. menyelamatkanmu dari kesesatan mereka'." (Al-Hafidz As-Suyuthi, Ad-Durr Al-Mantsur, 8/544).

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut hingga Beliau Wafat

- Penafsiran Ulama' Ahli Tafsir:

ﻭﻗﺎﻝ ﻗﻮﻡ: ﻭﻭﺟﺪﻙ ﺿﺎﻻ ﺃﻱ ﻓﻲ ﻗﻮﻡ ﺿﻼﻝ، ﻓﻬﺪاﻫﻢ اﻟﻠﻪ ﺑﻚ. ﻫﺬا ﻗﻮﻝ اﻟﻜﻠﺒﻲ ﻭاﻟﻔﺮاء. ﻭﻋﻦ اﻟﺴﺪﻱ ﻧﺤﻮﻩ، ﺃﻱ ﻭﻭﺟﺪ ﻗﻮﻣﻚ ﻓﻲ ﺿﻼﻝ، ﻓﻬﺪاﻙ ﺇﻟﻰ ﺇﺭﺷﺎﺩﻫﻢ.

"Sebagian ulama' berkata: 'Yang dimaksud adalah Allah SWT. menemukanmu diantara umat yang tersesat, lalu Allah SWT. memberi petunjuk kepada mereka denganmu'. Ini adalah pendapat Al-Kulabi, Al-Farra' dan As-Suddi. Yakni Allah SWT. menemukan kaummu dalam kesesatan, lalu memberi petunjuk kepadamu agar membimbing mereka'." (Tafsir Al-Qurthubi, 20/97).

Baca Juga: Menjernihkan Makna "Nas" dalam Hadits untuk Memerangi Musyrikin

Jawaban untuk dalil kedua:

ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ اﻟﺪﻻﺋﻞ ﻭاﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﻴﻞ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﻫﻞ ﻋﺒﺪﺕ ﻭﺛﻨﺎ ﻗﻂ ﻗﺎﻝ: ﻻ ﻗﺎﻟﻮا: ﻓﻬﻞ ﺷﺮﺑﺖ ﺧﻤﺮا ﻗﻂ ﻗﺎﻝ: ﻻ ﻭﻣﺎ ﺯﻟﺖ ﺃﻋﺮﻑ اﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻔﺮ (ﻭﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺃﺩﺭﻱ ﻣﺎ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﻻ اﻹﻳﻤﺎﻥ) ﻭﺑﺬﻟﻚ ﻧﺰﻝ اﻟﻘﺮﺁﻥ (ﻣﺎ ﻛﻨﺖ ﺗﺪﺭﻱ ﻣﺎ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﻻ اﻹﻳﻤﺎﻥ)

"Abu Nuaim meriwayatkan dalam kitab Ad-Dalail dan Ibnu Asakir dari Ali RA. bahwa Nabi SAW. pernah ditanya: 'Apakah engkau pernah menyembah berhala?' Nabi SAW. menjawab: 'Tidak'. Mereka bertanya: 'Pernahkah engkau minum khamr?' Nabi SAW. menjawab: "Tidak. Aku tidak pernah tahu (ikut) tentang kekufuran yang mereka lakukan. Dan aku belum tahu apa kitab dan iman'. Lalu turun ayat: 'Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu'." [Asy-Syûrô 52] (Tafsir Ad-Durr Al-Mantsur, 7/367).

Baca Juga: Sholawat

Mufti Al-Azhar, Mesir, menegaskan:

ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻠﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻟﺸﺮﻙ ﻣﺴﺘﺤﻴﻞ ﻋﻠﻰ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﻗﺒﻞ اﻟﺒﻌﺜﺔ ﻭﺑﻌﺪﻫﺎ، ﻓﻼ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻘﺼﻮﺩا ﻣﻦ اﻵﻳﺔ

"Semua pengikut agama telah sepakat bahwa kesyirikan adalah mustahil bagi para Nabi, sebelum diangkat menjadi Nabi atau sesudahnya. Maka tidak benar jika "sesat" adalah tafsiran dari ayat ini (Adl-Dluhâ 7)." (Fatawa Al-Azhar, 8/197).

Penutup:
Sebenarnya ada dua tema yang akan diserang oleh ustadz ini, yaitu melarang Maulid Nabi SAW. sekaligus meyakini Nabi SAW. pernah sesat sebelum menjadi Nabi. Namun sayang, dalilnya dusta semua.

Baca Juga: Hukum bagi Pengucap "Nabi Tak Bisa Wujudkan Rohmatan lil-'Alamin"

Saya tidak pernah mencegah dakwah para ustadz hasil produk kilat "hijrah" ini. Tapi, tolong jangan pernah bicara dalil dan istinbath dari dalil, karena belum cukup umur.[]




* Oleh: Ustadz Ma'ruf Khozin, Pengasuh Rubrik Kajian Aswaja Majalah NU Aula.
Read More