Kiai Sa'id Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam


muslimpribumi.com | Jakarta - Seorang warga negara Amerika, Russel Qu, menyatakan diri memeluk agama Islam di hadapan sejumlah pengurus harian PBNU di Jalan Kramat Raya, Nomor 164, Senin sore kemarin. Tampak hadir dalam kesempatan itu yaitu Bendahara Umum PBNU (H. Bina Suhendra), Ketua PBNU (H. Robikin Emhas) dan Waskjen PBNU (H. Andi Najmi).

Ketika membaca dua kalimat syahadat, Imigran asal Indonesia ini dibimbing oleh Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj.

“Mudah-mudahan, bapak mendapat petunjuk langsung dari Allah SWT.,” kata kiai Sa'id.

Russel adalah warga negara Amerika asal Jakarta yang sejak tahun 1989 menetap tinggal di Amerika. Hampir 30 tahun ia tinggal di negeri Paman Sam itu. Kepada Russel, Kiai Said menerangkan prinsip pokok dalam agama Islam, yaitu teologi, ritual dan moral.

"Kepercayaan terhadap Yang Gaib merupakan salah satu konsep fundamental dalam teologi Islam. Kepercayaan terhadap Yang Gaib dapat membimbing perilaku hidup keseharian manusia di alam nyata ini," tutur pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini.

Kiai Said juga mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang mulia. Dengan mempercayai Yang Gaib, seseorang sudah cukup untuk menjadikannya sebagai pedoman hidup.

“Pegang satu ayat saja. Misalnya ayat yang menyatakan, 'kebaikan yang kamu lakukan, Allah pasti lihat. Kejahatan yang kamu lakukan, Allah pasti tahu.' Disinilah substansi orang beragama,” terangnya kemudian.

Selain itu, kiai yang kerap diterpa fitnah ini juga mengimbau kepada warga negara Amerika yang baru memeluk Islam supaya mempelajari dasar-dasar sholat.

Selanjutnya, kiai Sa'id mengatakan bahwa bangsa-bangsa di Timur Tengah, saat ini sedang kehilangan pegangan. Mereka hanya melestarikan teologi dan ritual Islam.

“Mereka sedang mengalami krisis akhlaq atau moral. Sehingga, konflik yang memakan korban jiwa di sana itu tidak pernah selesai,” ujar kiai Sa'id.

Ketika ditanya oleh kiai Sa'id perihal agama sebelumnya, Russel menyatakan bahwa ia tidak beragama. “Saya seorang agnostik,” papar Russel.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (Tuhan) itu tidak dapat diketahui dan tidak mungkin akan dapat diketahui.

Pensiunan salah satu bank di Amerika ini menyatakan bahwa belakangan terakhir ini, entah mengapa, ia terbesit untuk memeluk agama Islam.

“Entah kenapa saya terpikir begitu saja untuk masuk Islam. Disamping itu, saya punya banyak sahabat di Yogyakarta yang beragama muslim. Saya pelajari bahwa mereka menunjukkan etika dalam bergaul dan dalam menyikapi sesuatu,” kata Russel sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Di akhir pertemuan, Kiai Sa'id menghadiahi buku petunjuk sholat, satu mushaf Al-Qur'an dan beberapa buku terkait Ahlussunah wal-Jama'ah kepada Russel.



* Sumber: nu.or.id
Read More

Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur Yang Benar

Politik dinasti dalam sejarah Islam, dimulai setelah berakhirnya era khilafah. Yaitu 30 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Sejak mundurnya Sayyidina Hasan sebagai khalifah kelima, maka tidak ada lagi khilafah. Yang tersisa hanyalah kerajaan. Ini artinya, mengangkat seseorang menjadi pemimpin bukan berdasarkan kapasitas dan kapabilitasnya. Melainkan semata melalui jalur nasab. Dan demokrasi hadir untuk mengoreksi kesalahan sejarah tersebut.

Bagaimanakah kesalahan itu dimulai? Abul A’la Al-Maududi dalam menulis buku Al-Khilafah wa Al-Mulk (Khilafah dan Kerajaan), dengan berani dan apa adanya menganggap khilafah telah berakhir dengan naiknya Mu’awiyah yang menggantikan Sayyidina Hasan. Selanjutnya, yang ada kerajaan. Bukan lagi khilafah. Ini untuk menggambarkan bagaimana teladan Al-Khulafa' Ar-Rasyidun telah ditinggalkan. Istilahnya saja khilafah. Namun, pada hakikatnya telah berubah menjadi kerajaan.

Ulama' Pakistan itu mengutip sebuah riwayat, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash menyalami Mu’awiyah setelah ia dibai’at menjadi khalifah, ia sembari berucap: “Assalamu ’alaikum, wahai Raja.”

Mu’awiyah berkata: “Apa salahnya sekiranya Anda berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin?’"

Sa’ad menjawab: “Demi Allah, aku sungguh tidak ingin memperoleh jabatan itu dengan cara yang telah menyebabkan Anda memperolehnya.”

Bahkan, Mu’awiyah sendiri mengerti hakikat ini. Sehingga, pada suatu hari, ia berkata: “Aku adalah raja pertama.”

Demikian Maududi berkisah.

Dalam kitabnya Al-Muqaddimah, Ibn Khaldun juga menyoroti perubahan khilafah menjadi kerajaan ini. Hingga tak ada yang tersisa, kecuali namanya belaka. Sehingga, menurut ulama' besar ini, sifat pemerintahan telah menjadi kekuasaan duniawi semata. Khalifah hanya menjadi simbol belaka.

Mu’awiyah memindahkan ibu kota negara dari Kufah ke Damaskus. Sebagai Gubernur Damaskus, ia menjabat selama 20 tahun. Dan sebagai khalifah, ia juga berkuasa dalam kurun waktu yang sama.

Ketika Mu’awiyah berkuasa, ia mengangkat pejabat siapa pun yang dikehendakinya. Tanpa melalui proses seleksi yang ketat sesuai kapasitas pejabat tersebut. Kitab Tarikh Ath-Thabari melaporkan, ketika Sayyidina Hasan meninggalkan Kufah dan kembali ke Madinah sebagai rakyat biasa, Mu’awiyah mengangkat Abdullah, putra Amru bin ‘Ash, sebagai Gubernur Kufah.

Kemudian, Al-Mughirah bin Syu’bah datang dan berkata kepada Mu’awiyah: “Anda berada di dua geraham singa yang siap menerkam kekuasaan Anda. Abdullah sebagai Gubernur di Kufah, sedangkan sebelumnya, ayahnya, Amru bin ‘Ash, sudah menjabat sebagai Gubernur Mesir.”

Mu’awiyah terpengaruh ucapan Al-Mughirah ini. Maka, Abdullah langsung dicopot dari Gubernur Kufah dan digantikan oleh Al-Mughirah. Ketika Amru bin ‘Ash mengetahui anaknya telah dicopot, ia mendatangi Mu’awiyah dan berkata: “Anda berikan kekuasaan kepada Al-Mughirah? Maka, dia akan mengeruk harta kekayaan Kufah dan lantas menghilang. Taruh orang lain yang takut pada Anda.”

Mu’awiyah lantas mencopot Al-Mughirah dan menempatkannya dalam urusan ibadah.

Mu’awiyah pun mengangkat sepupunya, Marwan bin Al-Hakam, sebagai Gubernur Madinah. Dan ketika Gubernur Mesir, Amru bin ‘Ash, wafat pada tahun 43 H., Mu’awiyah mengangkat Abdullah, anak Amru bin ‘Ash, yang semula dicopot dari posisi di Kufah, menjadi penguasa Mesir.

Begitulah masalah pengangkatan pejabat. Dilakukan sesuka penguasa saat itu dan penuh dengan nepotisme. Persis seperti kerajaan.

Ciri lain dari kerajaan adalah pengganti penguasa berasal dari keluarganya sendiri. Mu’awiyah mengangkat Yazid, anaknya, sebagai penggantinya.

Menurut Ibn Khaldun, hal itu dilakukan oleh Mu’awiyah demi menjaga stabilitas negara meskipun Mu’awiyah tahu bahwa anaknya merupakan seorang yang fasik. Sejak itu, jabatan khalifah bergilir turun-temurun berdasarkan jalur nasab. Bukan memilih orang yang terbaik. Itu sebabnya, karakter khilafah telah berganti menjadi kerajaan.

Sadar bahwa akan ada penolakan dari para sahabat Nabi SAW. yang masih hidup, Mu’awiyah datang ke Madinah dan melobi pada putra Abu Bakar dan putra 'Umar bin Khaththab. Pertama, ia mendatangi 'Abdurrahman bin Abu Bakar. Mu’awiyah mengklaim bahwa pemilihan khalifah berdasarkan penunjukan khalifah sebelumnya adalah tradisi khalifah pertama Abu Bakar yang menunjuk 'Umar sebagai penggantinya. Abdurrahman pun menjawab kalem, “Tapi, Abu Bakar tidak menunjuk anaknya, kan?”

Lantas, Mu’awiyah melobi pada 'Abdullah bin 'Umar dan 'Abdullah bin Zubair. Ketiganya menyatakan menolak memba’iat Yazid sebagai putra mahkota pengganti Mu’awiyah. Namun, yang disampaikan Mu’awiyah berbeda. Ia berkhotbah bahwa Yazid, anaknya, telah didukung oleh ketiga sahabat besar itu. Demikianlah yang dikisahkan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Tarikh Al-Khulafa' secara detail dan terang benderang.

Sejak itu, berdirilah Dinasti Umayyah selama 90 tahun (661-750). Kemudian digantikan oleh Dinasti Abbasiyyah dan lainnya. Dalam masa khilafah yang berganti wujud menjadi kerajaan itu, kesalahannya tetap sama: menjadikan khalifah sebagaimana layaknya seorang raja yang berkuasa turun temurun berdasarkan jalur nasab tanpa melibatkan aspirasi rakyat.

Ketika khilafah bubar pada tahun 1924 M., sebagian negara-negara muslim yang telah berubah menjadi negara-bangsa (nation-state) mengadopsi demokrasi. Rakyat dilibatkan memilih pemimpinnya, baik langsung maupun tidak langsung.

Proses bai’at yang natural seperti yang terjadi pada 30 tahun pertama khalifah Islam, bukan lagi berdasarkan pemaksaan seperti periode Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, melainkan dimodifikasi menjadi sistem pemilu oleh demokrasi. Proses penjaringan kandidat melalui panitia enam orang yang dibentuk Khalifah 'Umar terwakili dalam proses di parlemen sebagaimana kita lihat di sejumlah negara modern.

Kita mengenal beraneka ragam mekanisme pemilu maupun sistem parlemen di negara yang berbeda. Semuanya itu bertujuan untuk mengembalikan kekuasaan pada jalur yang hakiki. Yaitu mencari pemimpin terbaik yang dipilih oleh rakyat. Inilah tradisi khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (khilafah berdasarkan apa yang digariskan oleh ajaran Nabi Muhammad SAW.). Demokrasi telah mengembalikan umat Islam ke jalur yang benar. Demokrasi adalah bagian dari khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Untuk apa mengejar kemasan khilafah yang isinya telah berubah menjadi kerajaan? Sementara, kini kita telah memiliki kemasan demokrasi yang isinya justru lebih islami? Anda memilih minyak babi cap unta, atau minyak samin cap babi? Anda lebih suka kemasan, atau substansinya, sih? Mikirrr!


* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia–New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.
Read More

Islam Bhineka Tunggal Ika



muslimpribumi.com - NU memang tengah menjadi incaran dunia Internasional. Negara yang tengah dirundung konflik, khususnya negara-negara Islam, berharap pada NU supaya bisa menularkan role mode Islam di Nusantara ini pada mereka. Sementara bagi negara yang tengah memendam ambisi untuk mengubrak-abrik Indonesia, berharap agar NU bisa pecah kapal dan bubar. Sebab, selama NU masih ada, NKRI adalah harga yang tak bisa ditawar lagi.

Kendati demikian, NU tidak jumawa. Tidak lantas melupakan saudara sebangsa. Tetap peduli pada sesama saudara sebangsa di pelosok-pelosok Nusantara. Tak pandang ras, suku, bangsa dan agama.

Makanya, tidak berlebihan kiranya bila ada yang menyatakan bahwa NU dengan Islam Nusantara-nya adalah panggilan sejarah. Dan itu tak bisa dihindar dan/atau ditolak. Sejarah telah memanggil NU untuk peradaban manusia. Sebuah peradaban yang berlandaskan cinta dan kasih bagi sesama anak Adam atau manusia.

Meski tersekat-sekat oleh ras, suku, bangsa, agama, negara dan yang lainnya, NU dengan role mode Islam Nusantara-nya bisa melampaui itu semua. Sebab, bukankah bila sudah berbicara mengenai manusia, segala "embel-embel" yang melekat pada manusia itu harus sirna?

Itulah Islam yang rohmatan lil-'alamin. Corak Islam yang seharusnya dan yang selaras dengan Bhineka Tunggal Ika.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU Papua.
Read More

Ciri Khowârij



Cikal bakal Khowarij berasal dari seorang lelaki pemrotes Nabi SAW. Sepulang dari fathu Makkah, Nabi SAW. dan pasukannya mengepung kabilah Hawazin dan terlibat perang di lembah Hunain. Nabi SAW. mendapat rampasan perang yang banyak: 4.000 ons perak, 24.000 ekor unta dan 40.000 ekor kambing. Dan Nabi SAW. transit di lembah Ji’ranah dan membagikan sebagian perak yang disimpan Bilal.

Tiba-tiba, datang seorang lelaki dan menegur Nabi SAW.: “Hai Muhammad, berlakulah adil!”

Nabi murka dan menjawab: “Celaka. Kalau saya saja tidak adil, lantas siapa yang adil!? Seandainya saya tidak adil, niscaya kamu buntung dan rugi!”

Mendengar itu, Sayyidina 'Umar marah dan minta izin untuk membunuh lelaki itu. Tapi Nabi SAW. menolak dan berkata: “Aku berlindung kepada Allah SWT. dari perkataan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Orang ini dan pengikutnya, kelak membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti lepasnya anak panah dari buruannya.”

Cerita ini berasal dari hadits shohih riwayat Imam Muslim. Di dalam Kitâb Az-Zakât, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari berbagai jalur dan perbedaan matan (Shohîh Muslim bi Syarh An-Nawâwî, Vol. 7, Beirut: Ad-Dâr Ats-Tsaqâfiyah Al-Arabiyah, 1929, h. 157-160).

Siapa sesungguhnya lelaki pemrotes itu? Dari riwayat ini, belum jelas. Tapi, peristiwanya terjadi pada tahun 8 H.

Kronologi serupa diceritakan oleh Ibn Hisyam dalam Sîrah-nya. Redaksi yang digunakan Ibn Hisyam adalah “kelak dari jenis laki-laki ini lahir sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam agama sehingga keluar dari agama."

.(يتعمقون فى الدين حتى يخرجوا منه)

(Ibn Hisyâm, As-Sîrah An-Nabawiyyah, Beirût: Dâr Ibn Hazm, 2001, h. 590-91).

Dalam riwayat lain, Nabi SAW. membagikan emas mentah yang dikirim oleh Sayyidina Ali dari Yaman. Emas itu dibagikan kepada empat orang, yaitu Uyaynah ibn Badr, Aqro’ ibn Hâbis, Zaid Al-Khail dan Alqamah ibn ‘Ulatsah atau Amir ibn Thufail. Lalu, salah seorang sahabat memprotes: “Kami lebih pantas menerimanya ketimbang mereka.”

Ucapan ini, sampai kepada Nabi SAW. dan beliau berkata: “Apa kalian tidak mempercayaiku, padahal aku ini kepercayaan langit yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”

Kemudian berdiri seorang laki-laki yang cekung matanya, menonjol pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya, yang berkata: “Hai Rasulullah, takutlah kepada Allah SWT.”

Nabi SAW. menjawab: “Celaka! Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah SWT.?”

Begitu lelaki itu berpaling, Khalid ibn Walid berkata: ”Wahai Rasulullah, izinkan aku menikam lehernya.”

Nabi SAW. menjawab: “Jangan! Barangkali dia sholat.”

Khalid menukas: “Banyak sekali orang yang sholat yang mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan hatinya.”

Nabi SAW. berkata: “Sungguh, aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia dan membedah isi perutnya.”

Nabi SAW. kemudian menatap lelaki yang menyingkir itu dan berkata: “Sungguh, akan keluar dari jenis lelaki ini suatu kaum yang lancar membaca Kitabullâh, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti keluarnya anak panah dari busurnya.”

Abu Said Al-Khudlri mendengar samar-samar Rasulullah SAW. berkata: “Jika aku jumpai mereka, akan aku perangi mereka seperti kaum Tsamud.”

Riwayat ini, muttafaqun ‘alaih. Tercantum dalam Shohih Bukhôrî (Kitâbul Maghôzî) dan Shohîh Muslim (Kitâbuz Zakât).

Siapa lelaki pemrotes itu? Namanya belum tersebut. Tapi, ciri-cirinya digambarkan lebih rinci dan peristiwanya terjadi pada tahun 9 Hijriyah setelah peristiwa Hunain dan menjelang pelaksanaan Haji Wada’.

Kendati demikian, nama lelaki itu muncul dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi:

عن أبي سعيد قال بينا النبي صلى اللّه عليه وسلم يقسم جاء عبد اللَّه بن ذي الخويصرة التميمي فقال « اعدل يا رسول اللّه » فقال « ويلك ومن يعدل إذا لم أعدل » قال عمر بن الخطّاب « دعني أضرب عنقه » قال « دعه فإنّ له أصحابا يحقِر أحدكم صلاته مع صلاته وصيامه مع صيامه يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة ينظر في قذذه فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في نصله فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في رصافه فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في نضيّه فلا يوجد فيه شيء قد سبق الفرث والدم آيتهم رجل إحدى يديه أو قال ثدييه مثل ثدي المرأة أو قال مثل البضعة تدردر يخرجون على حين فرْقة من النّاس » قال أبو سعيد « أشهَد سمعت من النّبيّ صلى اللّه عليه وسلم وأشهد أنّ عليّا قتلهم وأنا معه جيء بالرجل على النعت الّذي نعته النبيّ صلّى اللّه عليه وسلم » قال فنزلت فيه ومنهم من يلمِزك في الصّدقات.  متفق عليه

Dari Abu Sa'id, ia berkata: “Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW. yang tengah membagi-bagikan (ghonîmah), datanglah 'Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah At-Tamimi dan berkata: “Wahai Rasulullah, berlakulah adil!”

Rasulullah SAW. menjawab: “Celaka! Siapa yang bisa adil kalau saya saja tidak adil!?”

Kemudian ‘Umar ibn Khattab berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya memenggal lehernya!”

Nabi SAW. menjawab: “Biarkan dia. Kelak dia akan punya banyak pengikut yang sholat kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengab sholat mereka. Puasa kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Maka, ketika diperiksa ujung panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diteliti batang panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diselidiki bulu anak panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Anak panah itu menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah lelaki yang salah satu lengan atasnya atau dadanya bagaikan payudara wanita atau terdapat segumpal daging kenyal yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul saat terjadinya perpecahan manusia.”

Abu Sa’id berkata: “Saya bersaksi bahwa saya mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW. Dan saya bersaksi bahwa ‘Ali ibn Abu Thalib memerangi mereka dan saya bersamanya saat didatangkan seorang laki-laki yang disebutkan ciri-cirinya oleh Rasulullah SAW.”

Kemudian turunlah ayat: ”Dan diantara mereka ada yang mencelamu dalam pembagian zakat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits ini tercantum dalam Shohîh Bukhôri (Kitâb Istitâbatil Murtaddin wal Mu’ânidîn) dan Shohîh Muslim (Kitâbuz Zakât).

Ibn Hajar Al-Asqolâni memastikan bahwa dua peristiwa protes—dengan latar belakang ghonîmah Hunain dan emas kiriman sayyidna 'Ali dari Yaman—adalah dua peristiwa berbeda yang boleh jadi melibatkan aktor yang sama (Ibn Hajar Al-Asqolâni, Fathul Bârî, Vol. 12, Beirut: Dâr Ihyâ-it Turâts Al-Araby, 1988, h. 244; Vol. 8, h. 55).

Lelaki pemrotes itu, yang diramalkan oleh Nabi SAW. di tahun 8-9 H., belakangan menjadi Khowarij yang muncul sebagai firqoh agama dan politik pada tahun 37 H. selepas Perang Shiffin. Yaitu Mereka yang protes terhadap keputusan Sayyidina 'Ali yang bersedia menerima arbitrase (tahkîm). Mereka menggemakan kalimat lâ hukma illa lillâh dan keluar dari barisan Sayyidina 'Ali. Semua pihak yang terlibat dalam tahkîm, baik dari kubu Sayyidina 'Ali maupun Mu’awiyah, dicap oleh Khowarij ini sebagai kafir dan halal darahnya.

Tiga tahun setelah itu, Sayyidina 'Ali ibn Thalib ditikam dan wafat oleh 'Abdurrahman ibn Muljam, anggota Khowârij. Mereka juga mengincar Mu’awiyah, tetapi gagal melakukan eksekusi.

Khowârij dan Ciri-cirinya

'Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah, nama lainnya adalah Hurqûsh ibn Zuhair As-Sa’dy, digambarkan sebagai lelaki sholeh. Berbagai riwayat shohih menggambarkan lelaki Bani Tamim ini satu klan dengan Muhammad ibn Abdul Wahab At-Tamimi—pendiri Wahabi, dengan sejumlah ciri fisik: cekung matanya, menonjol tulang pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya.

Dari jenis lelaki ini, kelak lahir para ahli ibadah yang membasahi bibirnya dengan bacaan Al-Qur’an hingga dikenal sebagai Al-Qurra’. Ibadah mereka tekun. Tangannya kapalan. Diantara dua matanya terdapat tanda bekas sujud. Rasulullah SAW. berkata, “Bacaan kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan bacaan mereka. Sholat kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan sholat mereka. Puasa kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengab puasa mereka.”

Namun, kesholehan itu sirna karena mereka merasa paling sholeh. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka Al-Qur’an hujjah bagi mereka. Padahal, Al-Qur'an menjadi hujjah terhadap mereka. Kata Ibn 'Umar, mereka adalag seburuk-buruknya makhluk Allah SWT.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW. pernah menyuruh para sahabat utamanya, yaitu Abu Bakar, 'Umar bin Khaththab dan 'Ali bin Abi Tholib untuk membunuh seorang laki-laki yang kondang ibadah tetapi ujub dengan ibadahnya. Mereka juga merasa paling benar dan mengukuhi pendapat sendiri. Yang tidak sejalan dengan mereka, dituding sesat dan kafir. Pengikutnya berasal dari anak-anak muda belia yang cekak akalnya. Mereka mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, tetapi tidak menyelami maknanya. Sabda Nabi SAW.:

‏‏سيخرج في آخر الزّمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البريّة يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإِنّ في قتلهم أجرًا لمن قتلهم عند اللَّه يوم القيامة. رواه مسلم

“Akan muncul di akhir zaman sekelompok anak-anak muda belia yang cekak akalnya dan mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Jika kalian menjumpai mereka, perangilah mereka. Karena memerangi mereka ada pahala di sisi Allah SWT. di hari kiamat.” (HR. Muslim).

Ciri lain Khowârij adalah memberontak terhadap pemimpin. Kata Ibn Hajar, mereka disebut Khowârij karena keluar dari ketaatan kepada pemimpin dan kemudian meninggalkannya dan jama'ahnya. Awalnya adalah protes terhadap kebijakan pemimpin seperti yang dilakukan oleh Dzil Khuwaishirah kepada Nabi SAW. Giliran berikutnya lalu memberontak terhadap pemimpin seperti yang dilakukan oleh 'Abdullah ibn Al-Kawwa’ dan gerombolannya kepada Sayyidna 'Ali. Mereka meninggalkan Sayyidina 'Ali dan menuju lembah yang dinamakan Harûrâ.

Apa alasan pemberontakan itu? Sayyidina 'Ali sebagai Ulil Amri dituduh telah meninggalkan hukum Allah SWT. berdasarkan pengertian mereka yang sempit. Dulu, Dzul Khuwaishirah menuduh Nabi SAW. tidak adil. Dan penerusnya, lalu menuduh menantu Nabi SAW. ('Ali bin Abi Tholib) telah mencampakkan Kitabullâh karena menerima tahkîm.

Ciri Khowârij berikutnya adalah gemar memakai ayat Al-Qur'an yang turunnya sebetulnya diperuntukkan bagi orang kafir, digunakan untuk “memukul” orang mu'min. Mereka, misalnya, menggunakan ayat 44, 45, 47, surat Al-Maidah:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون والظالمون والفاسقون.

untuk mengafirkan Sqyyidina 'Ali karena telah menerima tahkîm.

Sayyidina 'Ali, dengan enteng pun menjawab:
كلمة حق يراد بها الباطل 

(kalimat benar, maksud kalimatnya yang salah).

Mereka menjustifikasi Al-Qur’an untuk makar terhadap Ulil Amri yang tidak sejalan dengan mereka.

Memberontak terhadap kekuasaan yang sah, yang tidak nyata tiran dan maksiat, merupakan ciri khas Khowârij. Jadi, Khowârij memang tercatat dalam sejarah Islam. Cikal bakalnya telah ditandai Nabi SAW. pada tahun 8-9 H. Tetapi, wujudnya baru menjelma pada tahun 37 H.

Sebagai entitas sejarah, Khowâij telah lenyap. Tetapi ciri dan karakternya, bisa ditemukan di sepanjang zaman. Mereka adalah sekelompok ahli ibadah yang berlebihan dalam agama. Sehingga malah kehilangan inti agama.

Pendahulu Khowârij, Dzul Khuwaishirah, digambarkan berjenggot tebal, bercelana congklang dan berdahi hitam—tanda-tanda kesholehan bagi anggapan sebagian orang. Namun, Nabi SAW. justru melaknatnya sebagai pendahulu seburuk-buruknya makhluk.

Sedangkan penerus Dzul Khuwaishirah digambarkan sebagai sekumpulan ahli ibadah. Bacaan Al-Qur’an, sholat dan puasa mereka tidak ada bandingannya. Tetapi Nabi SAW. justru memerintahkan kita untuk memerangi mereka. Kenapa? Karena mereka membajak Islam untuk membela nafsu mereka dalam memonopoli kebenaran.

Khowârij adalah penduhulu kelompok takfîri. Hukum Allah SWT. diringkus dalam tafsir mereka yang sempit. Siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT. dalam pengertian mereka—dicap sesat, kafir dan boleh diperangi.

Doktrin mereka subversif. Ulil Amri yang tidak menerapkan hukum Allah SWT. menurut tafsir mereka yang sempit itu, boleh dirongrong dan digulingkan. Selain pendahulu kelompok takfîri, Khowârij adalah pendahulu tradisi bughot dalam sejarah Islam. Padahal, Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk taat kepada Allah SWT., taat kepada Rasulullah SAW. dan Ulil Amri (An-Nisa’/4: 59).

Taat kepada Ulil Amri bersifat muqayyad, artinya tidak sama dengan membeo dan menjilat. Kritik perlu, tetapi kritik tidak sama dengan makar. Oposisi loyal penting, tetapi bughot tidak dibenarkan dalam Islam.

Apakah kita temukan ciri-ciri Khowârij di zaman now? Tengoklah kanan-kiri dan periksalah diri kita sendiri. Mudah-mudahan, kami, kalian dan kita semua tidak termasuk golongan yang dilaknat Nabi SAW. sebagai seburuk-buruk makhluk itu. Wal-‘iyâdhu biLlâh.


* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP. ISNU).
Read More

Al-Biruni; Antropolog Pertama?


muslimpribumi.com - Sebagian besar umat Islam, apalagi non-muslim, menganggap bahwa para sarjana muslim di Abad Pertengahan hanya belajar tentang “ilmu-ilmu keislaman”. Seperti fiqih, hadits, ushul fiqih dan sejenisnya. Padahal, faktanya tidak demikian. Mereka mempelajari banyak disiplin ilmu pengetahuan. Bukan hanya “ilmu-ilmu keislaman” saja. Sengaja saya memakai tanda kutip karena dulu belum ada pembedaan atau kategorisasi antara “ilmu-ilmu keagamaan” dan “ilmu-ilmu sekuler”.

Kala itu, spirit para sarjana dan murid-murid muslim hanya mempelajari ilmu pengetahuan tanpa ada embel-embel “ilmu sekuler” atau “ilmu agama”. Oleh karena itu, mereka belajar subyek atau disiplin apa saja: hukum Islam, tafsir, hadits, sejarah, filsafat, tasawuf, teologi, politik-pemerintahan, kedokteran, astronomi, geografi, matematika, fisika, kimia dan sebagainya. Karena mempelajari banyak disiplin ilmu itulah, makanya tidak mengherankan jika mereka kemudian menjadi “sarjana polymath” yang menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Salah satu sarjana muslim di Abad Pertengahan yang menarik perhatian saya adalah Abu Raihan Al-Biruni (973-1048). Ia lahir di Khwarazm (kini wilayah Uzbekistan), Asia Tengah.

Al-Biruni merupakan salah satu ilmuwan polymath cemerlang dan penulis prolifik yang menulis ratusan karya ilmiah diberbagai bidang. Ia terus menulis meskipun usianya sudah udzur. Ia juga menulis indeks yang berisi daftar karya-karya akademiknya.

Menurut catatan George Saliba di Encyclopedia Britannica, ada sekitar 146 judul yang telah ditulis oleh Al-Biruni. Sayangnya, tidak semua karya Al-Biruni itu bisa diselamatkan dan diterbitkan.

Mayoritas umat Islam, mengenal Al-Biruni sebagai ahli matematika dan astronomi. Sebab, memang hampir separuh dari karya-karyanya berisi masalah ini. Tetapi, saya tertarik dengannya bukan karena ia ahli matematika dan astronomi. Melainkan lantaran ia ahli kajian kebudayaan. Hal itu tentu saja karena saya seorang antropolog budaya. Bukan seorang astronomer atau ahli matematika.

Pertama kali saya mengetahui Al-Biruni sebagai ahli kajian kebudayaan masyarakat, baik klasik maupun kontemporer (tentu saja di zamannya), ketika saya menulis makalah tentang “antropologi Islam” waktu mengambil studi doktoral di Boston University. Makalah itu adalah salah satu dari enam topik ujian komprehensif yang harus saya kerjakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar doktor dibidang antropologi.

Waktu itu, saya mensurvei berbagai literatur dari berbagai sarjana tentang tema ini. Dan diantara literatur yang saya teliti itu, saya menemukan tulisan pendek dari Akbar Ahmed, seorang antropolog Pakistan-Amerika dan Ibn Khaldun Chair of Islamic Studies di American University, Washington, D.C., berjudul Al-Beruni: The First Anthropologist.

Dengan percaya diri, Profesor Akbar Ahmed mengatakan bahwa Al-Biruni adalah antropolog pertama di dunia yang menginisiasi kajian-kajian antropologi jauh berabad-abad sebelum lahirnya para pionir antropologi dari kawasan Eropa dan Amerika.

Karena penasaran, saya pun kemudian menelisik sejumlah karya Al-Biruni yang dijadikan sebagai basis argumen bahwa ia adalah antropolog budaya. Setidaknya ada dua karya ilmiah Al-Biruni yang membicarakan tentang kebudayaan manusia dan mungkin bisa diklaim sebagai “karya antropologi” (atau cultural studies), khususnya antropologi budaya.

Yang pertama adalah Al-Atsar Al-Baqiyah 'an Al-Qurun Al-Khaliyyah, yaitu sebuah studi perbandingan (semacam etnologi) tentang peradaban dan kebudayaan umat manusia terdahulu. Termasuk penjelasan tentang sistem penanggalan dan sejumlah sekte Kristen. Buku ini semacam karya para armchair anthropologists. Yaitu para antropolog atau etnolog abad ke-19 yang menulis berbagai kebudayaan masyarakat, tapi tanpa melakukan penelitian langsung di masyarakat yang ditulisnya.

Yang kedua, dan ini yang paling menarik, adalah sebuah kitab yang kemudian dikenal dengan nama Kitab Al-Hind atau Indica alias Buku India (judul aslinya Tahqiq Ma lil Hind min Maqulah Ma’qulah fi Al-Aql am Mardzulah).

Buku ini pernah diterjemahkan oleh Edward Sachau (1845-1930), seorang orientalis Jerman, ke dalam Bahasa Jerman pada tahun 1887 yang setahun kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi dua jilid. Buku ini diberi judul cukup panjang: Alberuni’s India: an Account of the Religion, Philosophy, Literature, Geography, Chronology, Astronomy, Customs, Laws and Astrology of India.

Dalam buku ini, Edward Sachau memberi kata pengantar cukup panjang dan rinci menguraikan tentang sosok Al-Biruni beserta karya-karyanya serta penilaiannya terhadap buku Kitab Al-Hind tersebut.

Yang menarik adalah Al-Biruni memberi judul bukunya yang mengisyaratkan adanya upaya investigasi, verifikasi atau kajian ilmiah (tahqiq) tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang India mengenai tradisi dan kebudayaan mereka: apakah bisa dikategorikan sebagai ilmiah, logis dan masuk akal atau tidak (maksudnya hanya sebuah mitos atau legenda).

Meskipun buku ini berisi koleksi aneka ragam informasi tentang masyarakat India, khususnya umat Hindu, lebih khususnya kalangan Brahmin dan Yogi, yang paling menarik adalah catatannya tentang praktik ritual, festival, sistem kata, ritus, adat-istiadat, struktur masyarakat dan stratafikasi sosial umat Hindu.

Meski sejumlah ilmuwan sosial, sejarawan dan antropolog (misalnya Richard Tapper) keberatan menyebut Al-Biruni sebagai antropolog, namun teori, metode riset, teknik penulisan dan data-data yang disajikan di Kitab Al-Hind itu sangat menarik dan kiranya cukup untuk menunjukkan bahwa Al-Biruni adalah seorang antropolog par excellence.

Pertama, Al-Biruni menggunakan metode induktif dengan mengungkap fakta-fakta empiris. Bukan deduktif sebagaimana yang mendominasi para sarjana dan ilmuwan kala itu. Al-Biruni menerapkan metode induktif ini jauh sebelum sarjana Tunisia, Ibnu Khaldun (1332-1406), menulis kitab Al-‘Ibar yang dianggap sebagai “buku klasik” dibidang sosiologi dan sejarah.

Kedua, kitab Al-Hind itu ditulis setelah Al-Biruni melakukan penelitian lapangan. Lebih khusus lagi ethnographic fieldwork selama kurang lebih 13 tahun (1017-1031) dengan menggunakan metode atau teknik riset yang umumnya digunakan oleh para antropolog seperti particiant observation, wawancara dan konversasi dengan para informan.

Durasi riset lapangan yang lama itu, kurang lebih sama dengan penelitian disertasi yang dilakukan oleh antropolog Ann Dunham Soetoro (1942-1995), ibunda mantan presiden Barack Obama, di Indonesia yang juga memakan waktu kurang lebih 13/14 tahun.

Seperti layaknya antropolog, Al-Biruni juga mempelajari bahasa lokal agar bisa menangkap pesan-pesan informan dengan baik. Selama riset di India, Al-Biruni juga mempelajari Bahasa Sansekerta agar bisa membaca dan memahami teks-teks suci dan ritual umat Hindu.

Jadi, Al-Biruni sudah melakukan penelitian etnografi hampir 10 abad sebelum Bronislaw Malinowski (1884-1942), yang di dunia akademik Barat dianggap sebagai “Bapak Etnografi” karena buku-bukunya seperti Argonauts of the Western Pacific dianggap sebagai pionir dibidang penelitian etnografi. Atau Franz Boas (1858-1942), Bapak pendiri antropologi di Amerika, yang melakukan penelitian etnografi atas komunitas Inuit (Eskimo) di Kanada.

Ketiga, dalam penulisan dan penggambaran masyarakat India di dalam Kitab Al-Hind itu, Al-Biruni menggunakan persepektif emik sebagaimana umumnya para antropolog. Yakni pandangan-pandangan yang berdasarkan informasi dari informan atau masyarakat yang diteliti.

Dalam pengantar buku Kitab Al-Hind yang diterjemahkannya, Profesor Sachau menulis: In general it is the method of our author not to speak himself, but to let the Hindus speak, giving extensive quotations from their classical authors. He presents a picture of Indian civilisation as painted by the Hindus themselves (1910: xxiv).

Ketiga alasan diatas, ditambah karya-karya Al-Biruni yang lain, khususnya Al-Atsar Al-Baqiyyah, kiranya sudah cukup bisa dijadikan sebagai basis argumen bahwa Al-Biruni bisa dikatakan sebagai seorang antropolog, etnografer dan etnolog.

Harus diakui, teori, metode riset dan teknik penulisan yang Al-Biruni lakukan pada waktu itu, sudah sangat maju, ilmiah dan jauh berbeda dengan para sarjana dan ilmuman muslim sebelum, pada saat, atau bahkan setelah era dirinya.

Oleh sejumlah sarjana Barat, seperti Bruce Lawrence, D.J. Boilet, George Saliba, C. Edmund Bosworth dan masih banyak lagi, Kitab Al-Hind dianggap sebagai karya orisinal karena menggunakan teori, pendekatan dan data-data yang orisinal.

Terlepas dari masalah Al-Biruni itu seorang antropolog atau bukan, yang jelas, Al-Biruni telah membuka mata kepada dunia bahwa ilmu-ilmu sosial sangat berakar kuat dalam sejarah dan tradisi Islam. Al-Biruni juga berjasa dalam mengembangkan studi perbandingan agama karena minatnya yang begitu kuat untuk mempelajari aneka tradisi, kebudayaan, spiritualitas, mistisisme, adat-istiadat dan ritual-keagamaan non-muslim: Hindu, Kristen, Yahudi dan lainnya.

Al-Biruni mempelajari agama-agama dan struktur masyarakat non-muslim bukan untuk mencari kelemahan mereka. Tetapi untuk mengetahui makna beragama dan keragaman ekspresi spiritualitas umat beragama. Sebuah upaya yang tentunya patut ditiru oleh generasi muslim masa kini.

Ditengah iklim intoleransi agama yang semakin menguat di masyarakat Indonesia, spirit Al-Biruni yang toleran dan menjunjung tinggi keadaban dan keragaman, kiranya perlu dihidupkan dan dibangkitkan kembali.[]



* Oleh: Sumanto Al-Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi.
Read More

Antara Agama, Manusia dan Tuhan


muslimpribumi.com - Belum lama ini, saya memosting di akun Facebook saya tentang relasi agama, manusia dan Tuhan. Dalam postingan itu, saya mengajukan pertanyaan tentang asal-usul agama: apakah ia diciptakan oleh Tuhan untuk manusia, diciptakan oleh manusia untuk Tuhan, diciptakan oleh manusia untuk manusia, atau diciptakan oleh Tuhan untuk Tuhan?

Di luar dugaan, ada ribuan pembaca Facebook Indonesia yang membalas postingan itu dengan jawaban yang beraneka ragam dengan beragam perspektif dan argumen. Ada yang menjawab dari sudut-pandang agama (Islam, Kristen, Budha dan lainnya), sekuler-filosofis atau ilmu-ilmu sosial.

Ada tanggapan yang bersifat idealistik, tapi ada pula yang bersifat realistik berdasarkan fakta-fakta sosial-kesejarahan masyarakat pemeluk agama. Sangat menarik dan memperkaya diskusi tentang korelasi antara agama, manusia dan Tuhan.

Meskipun jawaban dari pembaca Facebook beraneka ragam tentang hal ini, namun saya perhatikan, mayoritas dari mereka menjawab bahwa agama itu diciptakan oleh manusia untuk manusia. Menurut mereka, Tuhan tidak membutuhkan agama (dan kemungkinan juga tak beragama). Manusialah yang membutuhkan agama. Maka dari itu, mereka menciptakannya.

“Agama itu produk budaya, diciptakan (oleh manusia) supaya penganutnya mengenal Tuhannya,” tulis Rina Kamim. Hal yang kurang lebih sama juga dikatakan oleh Laksmi Hartayanie: “Agama diciptakan manusia untuk berdialog dengan Tuhan." Ada lagi yang berargumen bahwa agama itu berasal dari akar kata "a" yang berarti "tidak" dan kata "gama" yang artinya "kacau". Jadi, agama itu diciptakan oleh manusia agar kehidupan menjadi tertib, alias tidak kacau.

Praktik Beragama di Masyarakat

Dalam realitasnya, masyarakat atau umat beragama—baik masyarakat suku maupun non-suku, masyarakat tradisional maupun modern—memang warna-warni dalam memahami, menafsiri, meyakini, mengekspresikan dan mempraktikkan makna agama, ajaran, doktrin dan norma-normanya.

Selain pandangan bahwa agama itu diciptakan oleh manusia untuk manusia seperti disebutkan diatas, ada yang juga menganggap dan meyakini bahwa agama itu diciptakan oleh Tuhan untuk umat manusia agar mereka hidup dijalan yang benar. Mereka percaya bahwa Tuhanlah sang pencipta agama beserta ajaran-ajaran normatif dan teks-teks sakralnya sebagai pedoman hidup bagi manusia. Agar mereka tidak tersesat selama menjalani kehidupan di dunia.

Ada pula yang memandang bahwa agama itu sebetulnya diciptakan oleh manusia untuk Tuhan mereka. Maksudnya, agama memang diciptakan oleh manusia, tetapi dimaksudkan untuk “menyuap” dan “merayu” Tuhan (atau apa pun nama-Nya) dengan ibadah-ibadah ritual (sembahyang dan sejenisnya) dan aneka sesaji, sajen, atau “sesembahan” (atau persembahan) agar Dia terus mengasihi manusia dan tidak menurunkan musibah, malapetaka atau bencana. Jadi, ritual dan sesaji adalah sejenis “medium rayuan dan penyuapan” kepada Tuhan Sang Supranatural.

Ada juga yang mengandaikan bahwa agama itu sengaja diciptakan oleh Tuhan—melalui perantara malaikat, nabi, rasul atau orang-orang suci—sebagai medium untuk mengenal eksistensi-Nya. Umat beragama yang sibuk memikirkan urusan Tuhan dan alam akhirat, sementara melupakan urusan kemanusiaan di dunia nyata ini, pada hakikatnya juga menganggap bahwa muara agama adalah Tuhan atau untuk mengurus masalah ketuhanan.

Tafsir Kata Agama

Kata “agama” sendiri yang dipakai dalam Bahasa Indonesia (dan Melayu), sebetulnya berasal dari Bahasa Sansekerta (Sanskrit) atau Pali “agama” (jamak: agamas) dan berakar dalam tradisi agama-agama kuno India seperti Hinduisme (Hindu), Buddhisme (Buddha) dan Jainisme (Jain).

Di ketiga agama kuno India ini, kata “agama” dimaknai sebagai “kitab suci” (scripture). Dalam konteks Buddha, agama adalah kumpulan kitab-kitab suci dari berbagai madzhab awal Buddhisme (Tripitaka: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidamma Pitaka). Dalam Jainisme, agama adalah kumpulan teks suci berdasarkan wacana-wacana tirthankara. Sementara dalam Hinduisme, agama merujuk pada kumpulan kitab suci di sejumlah aliran atau madzhab dalam Hindu.

Meskipun akar kata “agama” berasal dari Bahasa Sansekerta atau Pali, tetapi penggunaan kata "agama" dalam Bahasa Indonesia itu lebih ke terjemahan dari kata “religion” dalam Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Sansekerta atau Pali. Yaitu seperangkat dogma yang berisi tentang aturan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan atau tentang kepercayaan manusia atas sesuatu (Dzat) yang dianggap sakral, mutlak dan supranatural (baca, Tuhan).

Berikut ini sejumlah definisi mengenai kata “religion”. Misalnya “the belief in and worship of a superhuman controlling power, especially a personal God or gods” (oxforddictionaries.com). Atau a set of beliefs concerning the cause, nature, and purpose of the universe, especially when considered as the creation of a superhuman agency or agencies, usually involving devotional and ritual observances, and often containing a moral code governing the conduct of human affairs (dictionary.com).

Ada pula yang mendefinisikan kata “religion” sebagai “human beings" relation to that which they regard as holy, sacred, absolute, spiritual, divine, or worthy of especial reverence” (Encyclopaedia Britannica).

Sementara itu, orang Jawa biasanya mengartikan kata "agama" dari akar kata “ageman” atau semacam pedoman atau pegangan hidup yang berisi norma-norma tertentu yang harus ditaati.

Bukan hanya itu, dalam implementasinya, masyarakat juga sering menggunakan kata "agama" (baik sengaja dan serius maupun sekadar gurauan) untuk subyek-subyek lain. Misalnya, warga Amerka sering bilang bahwa “American football” itu adalah “agama” bagi mereka. Sepak bola (football/soccer) adalah "agama" bagi warga Brazil. Hockey adalah “agama” buat warga Kanada. Atau rugby adalah “agama” buat warga Salandia Baru. Juga sering kita dengar ungkapan: “'agama' orang itu adalah uang”.

Ungkapan-ungkapan itu merefleksikan atau mengandaikan bahwa agama itu merujuk pada entitas apa pun yang dianggap sakral dan fundamental dalam kehidupan sehari-hari.

Agama Menurut Antropologi

Antropologi—atau ilmu-ilmu sosial secara umum—memahami makna agama sangat kompleks. Tidak ada definisi, tafsir dan pengertian tunggal mengenai “agama”. Tidak ada teori antropologi baku mengenai agama. Dan tidak ada metodologi yang seragam mengenai studi sistem kepercayaan dan ritual.

Hal itu tersirat dan tersurat dari penjelasan berbagai ilmuwan sosial dan para antropolog yang konsen dengan studi agama: Max Muller, W. Robertson Smith, Edward B. Taylor, Sir James Frazer, Max Weber, Emile Durkheim, Evans-Pritchard, Raymond Firth, Clifford Geertz, Talal Asad dan masih banyak lagi.

Saya sendiri, menganggap agama sebagai sebuah sistem spiritual berdimensi sosial yang terorganisir yang berisi kumpulan norma, ritual, ajaran, doktrin, tradisi dan aneka nilai (baik tertulis dalam teks maupun tidak tertulis, tersimpan dalam memori dan tradisi lisan masyarakat) yang mengikat bagi pemeluknya.

Sebagai sebuah produk kebudayaan manusia, agama bukan hanya dimaksudkan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Dzat yang dianggap, diandaikan, dipersepsikan atau diimajinasikan Supranatural. Melainkan juga sebagai medium “perekat sosial” dan “identitas kelompok”. Melalui agama dan institusi-institusi keagamaanlah, antara lain, manusia membangun jejaring sosial dan komunikasi serta menegaskan identitas primordial sebuah suku, etnik dan kelompok masyarakat tertentu.

Berbeda dengan anggapan umum yang mengatakan bahwa kelahiran agama itu mendahului politik maupun ekonomi, saya berpendapat bahwa agama lahir belakangan beriringan dengan politik.

Jika mengkaji sejarah, asal-usul dan perkembangan agama di masyarakat suku (misalnya berbagai masyarakat suku di Afrika), maka kita akan mengetahui bahwa setelah manusia menemukan sumber-sumber ekonomi untuk kehidupan, maka mereka kemudian menciptakan sistem politik-pemerintahan, organisasi-organisasi sosial-kemasyarakatan (kesukuan) dan kemudian sistem spiritual-keagamaan. Semua itu, pada mulanya, dimaksudkan untuk merawat dan memproteksi sumber-sumber ekonomi itu.

Ekonomi (bukan agama, politik atau tradisi) adalah hal yang paling penting dan mendasar bagi umat manusia di mana pun mereka berada. Sebab, manusia masih bisa hidup tanpa agama, politik, maupun adat dan tradisi. Tetapi siapa yang bisa hidup tanpa sumber-sumber ekonomi? Dari situlah agama itu sebetulnya diciptakan sangat erat kaitannya dengan masalah perekonomian.

Hanya saja, dalam perkembangannya, manusia tidak bisa menghindari dari kematian, penyakit dan ancaman dari kelompok lain. Karena itu, mereka juga menggunakan dan mengembangkan agama menjadi ritual-ritual yang bersifat atau bernuansa spiritual, magis, transendental dan “dunia lain” (keakhiratan) karena keterbatasan mereka dalam mengatasi masalah kematian, penyakit dan ancaman kelompok lain itu.

Dari situlah kemudian agama berkembang bukan hanya untuk mengatasi hal-ihwal yang bersifat “alam nyata”. Tetapi juga “alam gaib”.

Namun, apa pun pemahaman, praktik dan ekspresi manusia atas agama, yang jelas manusia memiliki kemampuan adaptasi dan bertahan hidup yang sangat baik dan unik yang berbeda dengan makhluk lain (hewan, misalnya). Agama adalah bagian dari mekanisme atau cara umat manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan dan bertahan hidup dari gempuran berbagai rintangan kehidupan yang membentang: kelaparan, kematian, penyakit serta ancaman dari orang-orang jahat. []


* Oleh: Sumanto Al Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi.
Read More

PCNU Bogor Sambut Antusias Festival Sholawat Nusantara

muslimpribumi.com | Bogor - Pembukaan Festival Sholawat Nusantara (FSN) digelar hari ini, Sabtu 24 Februari 2018. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya cuaca yang sering hujan, akhirnya perhelatan akbar ini dilaksanakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bogor menyambut antusias perhelatan ini. Menurut Ketua PCNU Bogor, KH. Romdoni, hal ini menjadi momen untuk terus menggaungkan dan menjaga tradisi shalawat ditengah masyarakat.

“Saya mengapresiasi acara ini. Semoga dengan adanya kegiatan FSN ini, masyarakat semakin gemar bershalawat,” harap pria yang akrab disapa Kang Doni ini.

Kang Doni juga menggaris bawahi tentang pentingnya karakter sholawat yang menyejukkan dan menebarkan perdamaian. Hal ini penting mengingat sebentar lagi masuk tahun politik yang biasanya meninggikan tensi hubungan sosial-kemasyarakatan.

“Dengan masyarakat gemar bersholawat, semoga tradisi dan budaya Nusantara ini terus terjaga. Membawa berkah, menyejukkan untuk masyarakat Bogor dan seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, cita-cita luhur bangsa ini tercapai,” lanjutnya.

Acara ini dikomandoi oleh Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (RMI-NU) dengan rangkaian Festival Sholawat Nusantara yang akan digelar secara Nasional. Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan hadir dalam pembukaan kegiatan ini.

Sementara itu, acara lombanya sendiri akan dimulai di seluruh Indonesia pada awal Maret 2018. Sedangkan acara penutupannya akan digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta. []
(Ed. Asb)

* Sumber: arrahmah.co.id
Read More

Tionghoa dan Kran Pembuka Eksklusivitasnya


rumahnahdliyyin.com - Saat ini, orang-orang Tionghoa di Indonesia seolah menjadi sasaran kebencian. Narasi kebencian sedemikian dahsyat menjadi gelombang yang mengepung kehidupan mereka.

Gelombang kebencian ini semakin dahsyat pada proses Pilkada DKI Jakarta 2017, ketika Ahok—nama sapaan dari Basuki Tjahaja Purnama—beradu kekuatan dengan Anies Baswedan dalam kontestasi politik.

Citra diri Ahok—representasi Tionghoa dan non-muslim—beradu melawan Anies Baswedan dengan citra pemimpin muslim dan keturunan Arab. Isu pribumi dan non-pribumi yang berhembus pada masa kampanye seolah menjadi isu yang salah sasaran.

Isu tersebut mempengaruhi persepsi publik dengan menggiring kinerja kepemimpinan dan kredibilitas personal kepada kontestasi isu etnisitas dan agama.

Isu etnis menjadi perdebatan panjang di media sosial serta menjadi vibrasi isu di kedai-kedai kopi, masjid dan sekolah. Bahkan, vibrasi isunya tidak hanya di Ibu Kota. Tetapi juga melampaui ruang menuju lintas kawasan di negeri ini.

Seusai Pilkada DKI Jakarta, ternyata kebencian terhadap Tionghoa tidak menyurut. Dari perbincangan dengan teman-teman di beberapa daerah, betapa ketionghoaan dan label non-muslim menjadi penghalang untuk membangun jembatan komunikasi. Mereka yang Tionghoa sering dicap kafir dan diekslusi dari ruang interaksi lintas kelompok.

Kebencian terhadap kelompok Tionghoa merentang panjang dalam sejarah negeri ini. Narasi kebencian ini membentang dari masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga Orde Baru.

Pada 1740, misalnya, sekitar sepuluh ribu orang Tionghoa dibantai di Batavia. Secara kejam, Jenderal Adriaan Valckenier membantai orang-orang Tionghoa dari kulminasi beberapa kasus. Salah satunya pada 9 Oktober 1740, ketika terjadi huru-hara di dalam tembok Batavia. Beberapa ratus orang China yang menjadi tahanan di Stadhuis—Balai Kota Batavia yang sekarang adalah Museum Sejarah Jakarta—dihabisi di halaman gedung itu.

Peristiwa tersebut meluas ke beberapa kawasan di Jawa. Antara lain di Cirebon, Semarang dan Lasem. Drama gelap ini kemudian dikenal sebagai "Geger Pacinan" yang diulas secara mendalam dalam riset Daradjadi (2013).

Kebencian terhadap Tionghoa berlanjut pada masa Perang Jawa (1825-1830). Yaitu ketika orang Tionghoa difitnah sebagai "pembawa sial" dalam barisan prajurit Diponegoro. Lalu, ditengah tragedi 1965, orang-orang Tionghoa dikaitkan dengan komunisme dan dianggap mendukung PKI. Framing ini menjadi senjata politik untuk mendiskriminasi orang Tionghoa diruang publik.

Pada masa Orde Baru berkuasa, kebencian terhadap Tionghoa tidak kalah kejamnya. Soeharto menjadikan orang Tionghoa sebagai sapi perah ekonomi untuk menarik sebanyak mungkin keuntungan dalam bisnis.

Dan barulah ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden, kebijakan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa dicabut. Melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden terbitan Soeharto pada 1967 yang membatasi ruang gerak dan ekspresi kebudayaan orang Tionghoa.

Sejarah panjang kebencian terhadap orang Tionghoa ternyata membekas dalam. Kebencian ini mudah dibangkitkan, baik dengan narasi-narasi politik yang dibungkus isu agama maupun kecemasan terhadap kelompok etnis.

Dari Survei Wahid Foundation (2017), muncul data betapa etnis Tionghoa menjadi kelompok yang dibenci. Survei ini merilis bahwa Tinghoa menjadi kelompok yang dibenci bersama non-muslim, komunis, LGBT dan kelompok Yahudi. Melibatkan 1.520 responden, 59,9 persen responden survei tersebut memiliki kelompok yang dibenci.

Bahkan, dari 59,9 persen pihak yang menguatkan kebencian, 92,2 persen di antaranya tidak setuju bila anggota kelompok yang dibenci menjadi pejabat pemerintah di negeri ini. Lalu, 82,4 persen dari responden yang menyimpan kebencian itu menyatakan tidak rela jika anggota kelompok yang dibenci menjadi tetangga.

Terlihat, kebencian telah merasuki urat nadi dan pemikiran personal serta lingkungan keluarga. Sehingga tidak membuka ruang bagi perbedaan di kehidupan sosial mereka. Kebencian telah menutup pintu gerbang dialog untuk sama-sama saling memahami.

Kebencian ini tentu saja sangat berbahaya jika terus direproduksi dan diwariskan. Apalagi sebagai kepentingan politik. Padahal, pada awal kemerdekaan Indonesia, para pejuang dan pendiri bangsa telah sepakat membangun negeri ini bagi semua golongan dan etnis. Soekarno menegaskan bahwa Indonesia dibangun bukan hanya milik satu etnis.

Pada pidato di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, Soekarno mengungkapkan bahwa negeri ini didirikan bagi semua golongan dan lintas etnis.

“Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat... Kita hendak mendirikan suatu negara. Semua buat semua. Bukan buat satu orang. Bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya. Tetapi, semua buat semua,” tegas Bung Karno di situ.

Di hadapan sidang tersebut, Bung Karno mengungkap bahwa kebangsaan kita tidak hanya untuk satu etnis.

“Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa. Bukan kebangsaan Sumatera. Bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain. Tetapi kebangsaan Indonesia. Yang bersama-sama menjadi dasar suatu nationale staat”.

Bagaimana cara mengubur kebencian-kebencian terhadap orang Tionghoa atau kelompok etnis lain bagi masa depan negeri ini?

Kita perlu mewariskan cinta, bukan kebencian. Dalam sebuah esai, Gus Dur pernah mengulas argumentasinya membela Tionghoa.

Lewat esai berjudul "Beri Jalan Orang Tionghoa" (Majalah Editor, edisi 21 April 1990) tersebut, Gus Dur mengajak kita untuk memberi ruang bagi orang-orang Tionghoa. Agar mereka ikut memberi sumbangsih bagi Indonesia yang tidak hanya di bidang bisnis.

Gus Dur mengurai bahwa betapa orang-orang Tionghoa dalam sejarah panjangnya dari masa VOC hingga Orde Baru hanya diperas kekayaannya untuk kepentingan penguasa. Selain itu, Gus Dur juga mengajak kita untuk mengurangi persepsi negatif terhadap kelompok etnis ini.

“... persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa dibuktikan bersalah. Melainkan bagaimana mereka ditarik ke dalam alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan. Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap mereka seperti itu akan memperkokoh ‘posisi kolektif’ mereka dalam kehidupan berbangsa. Karena hal-hal seperti itu, dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka,” tulis Gus Dur.

Kemudian ia melanjutkan, “...semua itu harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak milik mereka. Bukan dengan cara paksaan atau keroyokan. Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka. Tanpa pembatasan apa pun,” jelas Gus Dur.

Namun, harus diakui, muncul keresahan di ruang publik terkait ketimpangan sosial yang terjadi. Ketimpangan itu mengarah pada jarak ekonomi yang terlalu jauh antara pengusaha Tionghoa dan warga di sekitarnya. Ini terjadi dalam skala yang berbeda. Mulai dari ranah nasional hingga kabupaten.

Perlu ada komitmen untuk mendapati cara agar komunitas Tionghoa membuka diri bagi komunitas-komunitas yang lain. Membuka ruang interaksi ini tidak hanya pada level selebrasi dan ritual keagamaan. Tetapi juga dalam komunikasi keseharian. Terutama, bagi generasi-generasi muda lintas etnis dan agama.

Silaturahim antar-komunitas serta interaksi lintas etnis dan agama niscaya akan membuka ruang publik yang lebih luas. Kita harus melampaui energi kebencian dengan membangun interaksi yang sehat dan saling percaya. Kita perlu melampauinya dengan menebar cinta.

Kita harus melampaui energi kebencian dengan saling mengenal, berinteraksi serta mencipta ruang publik yang bisa mempertemukan pemuda—generasi milenial lintas etnis dan agama—untuk saling belajar. Inilah tantangan bagi masa depan ke-Indonesia-an kita.


* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, penulis buku Merawat Kebinekaan.
Read More

Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim


muslimpribumi.com | Jakarta - Koordinator Peneliti Center for the Study of Religion and Culture (CSRC), Chaider S., Bamualim mengatakan bahwa kaum muda muslim zaman sekarang sedang mengalami fenomena yang disebut dengan hibridasi identitas. Yaitu identitas keagamaan yang merupakan hasil dinamika dan interaksi sosial politik yang mereka alami dengan lingkungannya.

"Hibridasi identitas, dalam banyak hal memiliki kecenderungan moderat dan toleran dalam sikap dan perilaku," ujar Chaider dalam diskusi di Jakarta, Jumat kemarin.

Dalam fenomena tersebut, para pemuda muslim masuk dalam proses pencarian pandangan keagamaan dari pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, mereka bersikap akomodatif yang justru rentan disusupi oleh pengaruh radikal.

"Dia berada dalam ancaman godaan radikalisme dan ekstremisme karena memiliki ciri khas yang tak pernah 'ajek' (diam)," imbuh Chaider.

Dalam memahami dinamika sosial, politik dan keagamaan, seringkali merangsang kaum muda muslim untuk mencari pijakan keamanan yang lebih kokoh. Proses pencarian inilah yang biasanya membuat sebagian kaum muda muslim mengalami hibridasi identitas yang kompleks.

Oleh karena itu, Chaider meminta agar kaum muda tidak cuek dengan gejala di masyarakat. Sebab, kelompok ekstremis bisa dengan mudah mencari celah dan masuk menguasai pemuda yang moderat seperti itu.

Penelitian CSRC dilakukan terhadap 935 aktivis muda muslim dengan rentang usia 15-24 tahun. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan FGD di 18 kabupaten/kota.

Secara spesifik, tema-tema yang diajukan mencakupi pemahaman keagamaan dan pengalaman keberagaman, pendidikan dan pembelajaran keagamaan, keragaman dan toleransi, kebebasan individu dan HAM, wawasan kebangsaan serta radikalisme dan ekstremisme.

Hasil penelitian yang dilakukan secara kualitatif terhadap aktivis muda muslim yang punya afiliasi terhadap organisasi di kampus maupun luar kampus ini menunjukkan bahwa sejumlah anak muda muslim terpapar perilaku radikal dan ekstremis kendati jumlahnya tergolong kecil.

"Kalaupun ada yang ekstremis, sikap seperti itu dianut oleh mereka yang bergabung dengan kelompok jihadis," ujar Chaider dalam sosialisasi hasil penelitian arah dan corak keberagaman kaum muda muslim di Jakarta, Jumat kemarin.

Kendati demikian, sebagian besar aktivis muda muslim yang diwawancarai menyatakan mendukung penuh Pancasila sebagai dasar negara. Alasannya, Pancasila dapat menjaga persatuan karena keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

Chaider menambahkan bahwa proses radikalisasi dipengaruhi oleh tiga faktor. Yaitu krisis identitas, keluarga dan pertemanan, serta peristiwa politik di dunia Islam.

Dan proses radikalisme itu sendiri melahirkan respon yang berbeda-beda terhadap gerakan dan aktivisme Islam yang terbagi atas tiga varian yang di ketiga varian itu, semua penganutnya bersikap intoleran dan revolusioner; mereka ingin mengubah tatanan sosial.

Yang membedakan antar varian tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Untuk varian garis keras, mereka pro-kekerasan. Tapi tidak antinegara dan tidak mendukung terorisme.
2. Untuk varian radikalisme, mereka anti kekerasan dan terorisme. Namun anti pada negara. Mereka memiliki cita-cita untuk mendirikan suatu kepemimpinan Islam maupun kekhalifahan.
3. Untuk varian ekstremisme, mereka memenuhi aspek pro-kekerasan, pro-terorisme dan mendorong perubahan tatanan negara. []
(Ed. Asb)


* Sumber: kompas.com
Read More

Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen


muslimpribumi.com | Rembang - Pada Selasa, 20 Februari kemarin, keluarga besar Gus Dur bersilaturrahmi ke kediaman KH. Maimoen Zubair di Sarang, Rembang. Sebulan sebelumnya, keluarga besar KH. Maimoen Zubair juga bersilaturrahim ke Ciganjur, Jakarta Selatan, dimana kediaman keluarga Gus Dur berada.

Pertemuan dua keluarga besar almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan keluarga besar KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, ini berlangsung guyub dan penuh kekeluargaan.

Menurut Ibu Sinta Nuriyah Wahid, kunjungan dirinya bersama putrinya Anita Wahid ke kediaman Mbah Moen kali ini merupakan kunjungan balasan setelah pada sebulan sebelumnya, Mbah Moen bersama keluarga besar telah berkunjung ke kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan.

"Sebenarnya saya sudah lama berencana untuk datang kemari (Sarang-red). Tapi, kebetulan selalu berbenturan dengan jadwal Mbah Moen yang sering bepergian. Nah, kemarin tiba-tiba malah Mbah Moen yang datang ke rumah. Makanya, ini merupakan balasan silaturrahmi saya," ungkap istri tercinta Gus Dur itu disela-sela pertemuan.

Sementara itu, menurut Wakil Ketua Umum DPP. PPP, Arwani Thomafi (Gus Aang), yang turut serta dalam pertemuan tersebut menyatakan, dalam pertemuan tersebut menunjukkan bahwasanya kedekatan hubungan antar keluarga besar itu terajut cukup lama.

"Tadi, Mbah Moen cerita soal sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang. Tak lupa, Mbah Moen juga mengenang Gus Dur sebelum kuliah ke Mesir sempat ikut pengajian sorogan dengan mengaji kitab Al-Adzkar An-Nawawi," kata Arwani.

Masih menurut Gus Aang, pertemuan antara kedua keluarga besar tersebut menunjukkan betapa luhurnya akhlaq kedua keluarga besar dari kalangan pesantren tersebut. Tradisi saling berkunjung merupakan tradisi dikalangan santri.

"Pertemuan ini murni kekeluargaan. Tidak ada tema politik," imbuh A'wan PCNU Lasem tersebut.

Selain berkunjung ke kediaman Mbah Moen, Ibu Sinta juga menggelar diskusi dengan civitas akademika STAI Al-Anwar, Sarang, dan para santri. Dalam dialog yang mengangkat tema Santri Putri Ideal Indonesia itu, Ibu Sinta mengajak para santri dan mahasiswa untuk meneladani perjuangan Gus Dur yang selalu menemani orang yang menderita dan tersisih.

Di akhir pertemuan, Ibu Sinta memimpin bacaan syair yang populer di kalangan pesantren. Yaitu Syair Al-I'tiraf karangan Abu Nawas sebanyak tiga kali yang diikuti serentak oleh para santri dan civitas akademika STAI Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.


* Sumber: nu.or.id
Read More