muslimpribumi.com | Jakarta - Koordinator Peneliti Center for the Study of Religion and Culture (CSRC), Chaider S., Bamualim mengatakan bahwa kaum muda muslim zaman sekarang sedang mengalami fenomena yang disebut dengan hibridasi identitas. Yaitu identitas keagamaan yang merupakan hasil dinamika dan interaksi sosial politik yang mereka alami dengan lingkungannya.
"Hibridasi identitas, dalam banyak hal memiliki kecenderungan moderat dan toleran dalam sikap dan perilaku," ujar Chaider dalam diskusi di Jakarta, Jumat kemarin.
Dalam fenomena tersebut, para pemuda muslim masuk dalam proses pencarian pandangan keagamaan dari pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, mereka bersikap akomodatif yang justru rentan disusupi oleh pengaruh radikal.
"Dia berada dalam ancaman godaan radikalisme dan ekstremisme karena memiliki ciri khas yang tak pernah 'ajek' (diam)," imbuh Chaider.
Dalam memahami dinamika sosial, politik dan keagamaan, seringkali merangsang kaum muda muslim untuk mencari pijakan keamanan yang lebih kokoh. Proses pencarian inilah yang biasanya membuat sebagian kaum muda muslim mengalami hibridasi identitas yang kompleks.
Oleh karena itu, Chaider meminta agar kaum muda tidak cuek dengan gejala di masyarakat. Sebab, kelompok ekstremis bisa dengan mudah mencari celah dan masuk menguasai pemuda yang moderat seperti itu.
Penelitian CSRC dilakukan terhadap 935 aktivis muda muslim dengan rentang usia 15-24 tahun. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan FGD di 18 kabupaten/kota.
Secara spesifik, tema-tema yang diajukan mencakupi pemahaman keagamaan dan pengalaman keberagaman, pendidikan dan pembelajaran keagamaan, keragaman dan toleransi, kebebasan individu dan HAM, wawasan kebangsaan serta radikalisme dan ekstremisme.
Hasil penelitian yang dilakukan secara kualitatif terhadap aktivis muda muslim yang punya afiliasi terhadap organisasi di kampus maupun luar kampus ini menunjukkan bahwa sejumlah anak muda muslim terpapar perilaku radikal dan ekstremis kendati jumlahnya tergolong kecil.
"Kalaupun ada yang ekstremis, sikap seperti itu dianut oleh mereka yang bergabung dengan kelompok jihadis," ujar Chaider dalam sosialisasi hasil penelitian arah dan corak keberagaman kaum muda muslim di Jakarta, Jumat kemarin.
Kendati demikian, sebagian besar aktivis muda muslim yang diwawancarai menyatakan mendukung penuh Pancasila sebagai dasar negara. Alasannya, Pancasila dapat menjaga persatuan karena keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.
Chaider menambahkan bahwa proses radikalisasi dipengaruhi oleh tiga faktor. Yaitu krisis identitas, keluarga dan pertemanan, serta peristiwa politik di dunia Islam.
Dan proses radikalisme itu sendiri melahirkan respon yang berbeda-beda terhadap gerakan dan aktivisme Islam yang terbagi atas tiga varian yang di ketiga varian itu, semua penganutnya bersikap intoleran dan revolusioner; mereka ingin mengubah tatanan sosial.
Yang membedakan antar varian tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Untuk varian garis keras, mereka pro-kekerasan. Tapi tidak antinegara dan tidak mendukung terorisme.
2. Untuk varian radikalisme, mereka anti kekerasan dan terorisme. Namun anti pada negara. Mereka memiliki cita-cita untuk mendirikan suatu kepemimpinan Islam maupun kekhalifahan.
3. Untuk varian ekstremisme, mereka memenuhi aspek pro-kekerasan, pro-terorisme dan mendorong perubahan tatanan negara. []
(Ed. Asb)
* Sumber: kompas.com
