Munas II Alumni Ploso Akan Digelar Pada 3-4 Maret 2018

muslimpribumi.com | Jombang - Kegiatan Musyawarah Akbar lima tahunan Ikatan Alumni Pondok Al-Falah, Ploso, Kediri (IMAP), akan digelar pada 3-4 Maret 2018 mendatang. Musyawarah Nasional untuk memilih ketua IMAP yang baru serta penetapan beberapa agenda, program dan kebijakan organisasi ini, akan dihelat di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang.

Penentuan tempat acara di kota Jombang, selain karena ada alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, yang kini menjadi salah satu pengasuh Pondok Pesantren di Jombang, yaitu KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), juga dikarenakan adanya keterkaitan sejarah antara Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, dengan Pondok-Pondok Pesantren yang ada di wilayah kota Jombang.

Sekadar untuk diketahui bahwa pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, yaitu KH. Djazuli Usman, dulu pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. KH. Djazuli Usman berguru kepada KH. Hasyim Asy'ari yang masyhur sebagai ahli dibidang Ilmu Hadits waktu itu.

Disisi lain, sistem belajar-mengajar dengan metode musyawarah antar santri  yang diilhami dari Pondok Pesantren Tebuireng, sampai sekarang tetap menjadi metode pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso. Metode pembelajaran ini mengutamakan diskusi keilmuan (syawir antar santri) pada setiap bidang keilmuan dimasing-masing jenjang kelas Madrasah Riyadhatul Uqul (MISRIU) yang setingkat MTs. dan MA itu.

Sejak Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, didirikan pada 1 Januari 1925, hingga saat ini telah ribuan santri yang mendalami ilmu agama dengan disiplin keilmuan agama Islam yang beragam 'ala Ahlissunnah wal-Jama'ah. Para santri ini datang dari seluruh penjuru pelosok negeri.

Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, telah mencetak ribuan santri yang tersebar hampir di seluruh kota di Nusantara ini. Dan pada Maret tahun ini, segenap santri/pengurus organisasi IMAP dan mutakharrijin (alumni) akan memadati Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Jombang, untuk menggelar MUNAS ke II.

Antusias dan semangat yang luar biasa dari para alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, sangat terasa. Hal ini dibuktikan dengan adanya konfirmasi kehadiran dari para delegasi dari masing-masing kota dan propinsi se-Indonesia yang hampir mencapai 500 orang yang sudah hampir 100 persen nama-namanya masuk ke panitia.

Hal ini sangat penting bagi panitia Munas. Terutama bagi tuan rumah. Dalam hal ini yaitu Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang, guna mempersiapkan tempat acara, penginapan dan akomodasi penting lainnya.

"Kami insya Allah sudah sangat siap menyambut teman-teman untuk ber-munas di sini," ujar Gus Salam, panggilan akrab KH. Abdussalam Shohib. []
Read More

Buletin Jum’at Risalah NU edisi 07

Buletin Jum’at Risalah Nahdlatul Ulama' edisi 07 kali ini berjudul Meneladani Sikap Waro' dan Zuhud Para Sahabat Nabi SAW.

Bagi siapa saja yang ingin menyebarkan Buletin Jum'at yang dikelola oleh Divisi Penerbitan dan Percetakan Lembaga Ta'lif wan-Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) PBNU ini, dipersilakan.

Dan untuk mendapatkan file buletinnya untuk dicetak, bisa mengunjungi link dibawah ini:
http://nahdlatululama.id/blog/2018/02/27/buletin-jumat-risalah-nu-edisi-07/

Semoga Jum'at kita esok berkah. Amin. []
Read More

Jangan Gunakan Nama "Muslim" Untuk Sebar Hoax


muslimpribumi.com | Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma'ruf Amin, mendukung penuh langkah kepolisian untuk mengungkap tuntas sindikat Muslim Cyber Army (MCA) yang menyebarkan hoax dan isu provokatif di media sosial.

"Siapa saja yang menyebarkan hoax, darimana saja, ya harus diproses. Itu menimbulkan kegaduhan. Bisa terjadi konflik. Oleh karena itu, pihak kepolisian tidak usah ragu. Dimana saja harus diproses," kata kiai Ma'ruf di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu ini.

Kiai Ma'ruf menyesalkan para pelaku penyebar hoax isu provokatif ini yang menggunakan nama "Muslim" dalam menjalankan aksinya. Padahal, tindakan dan aksi mereka jauh dari nilai-nilai Islam yang damai dan rahmatan lil-'alamin.

"Jangan menggunakan nama "muslim". Dan yang penting, jangan melakukan hoax supaya negara ini aman. Negara ini harus kita jaga dan kawal supaya keutuhan bangsa tetap terjaga," imbuh kiai Ma'ruf.

Sebagaimana telah diberitakan oleh beberapa media bahwa Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Keamanan telah mengungkap sindikat penyebar isu-isu provokatif di media sosial. Penangkapan terhadap pelaku penyebar hoax dan aksi provokasi itu telah dilakukan di beberapa tempat pada Senin lusa, 26 Februari 2018.

Adapun keempat tersangka yang ditangkap yaitu ML (di Tanjung Priok), RSD (di Pangkal Pinang), RS (di Bali) dan Yus (di Sumedang).

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen (Pol.) Fadil Imran mengatakan bahwa para pelaku tersebut tergabung dalam grup WhatsApp dengan nama "The Family Muslim Cyber Army (MCA)". Mereka menyebar informasi soal diskriminasi SARA hingga isu penganiayaan ulama'.

Di samping itu, para pelaku juga menyebarkan ujaran kebencian terhadap presiden dan beberapa tokoh di negeri ini.


* Sumber: kompas.com
Read More

Kemenag Susun Regulasi Standar dan Izin Pendirian Pesantren

muslimpribumi.com | Jakarta — Direktorat Jenderal Pendidikan Islam berencana menyusun regulasi tentang standar minimum dan izin pendirian Pondok Pesantren. Menurut Direktorat Jenderal Pendis, Kamarudin Amin, hal ini sebagai upaya kehadiran negara dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

“Kita tidak ingin seperti India, Bangladesh, Afganistan yang tidak mengkontrol diri dari ideologi ekstrem,” kata Dirjen saat orasi dalam Rapat Koordinasi Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di Jakarta, Senin malam kemarin.

Standar yang dimaksud oleh Dirjen mencakup standar minimum dari sisi kurikulum hingga sumber daya manusianya.

"Pembuatan standar ini, tentu wajib kita libatkan pesantren,” terang doktor lulusan Universitas Bonn, Jerman itu.

Selain itu, melalui leading sektor Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), Dirjen Pendis juga menegaskan bahwa regulasi izin pendirian pondok pesantren yang selama ini berada di tingkat wilayah Kabupaten/Kota, akan ditarik ke pusat.

“Selama ini, kita agak lose,” tukasnya.

Kamarudin berharap, kebijakan ini tidak dipahami sebagai langkah memperlambat mutu dan kemajuan ponpes di Indonesia. Sebaliknya, hal ini semata-mata demi kemajuan serta menjaga mutu ponpes.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD. Pontren), Ahmad Zayadi, menambahkan bahwa pihaknya mencanangkan beberapa program terkait moderasi Islam pada tahun 2018. Diantara program tersebut ialah Konggres Kebudayaan Pesantren yang akan digelar pada Hari Santri, Oktober mendatang.

“Selama ini, pesantren dikenal masyarakat hanya kitab kuningnya saja. Itu baru sisi akademis. Belum pada budaya pesantren," kata Direktur dihadapan para Kepala Bidang Pontren se-Indonesia.

Sebagaimana diketahui, sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para santri Pondok Pesantren. Indonesia tercatat banyak memiliki pahlawan yang lahir dari pesantren. Antara lain yaitu KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Wahid Hasyim. []
(Ed. Asb)


Sumber: kemenag.go.id
Read More

Rakernas dan Rakornas LP. Ma'arif NU Siapkan Generasi Emas

muslimpribumi.com | Bandung - Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj, membuka Rapat Kerja Nasional Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan Rapat Koordinasi Satuan Kominatas (Sako) LP. Ma’arif NU di Hotel Jayakarta, Bandung, Selasa ini.

Pada kesempatan itu, kiai Sa'id menegaskan bahwa tugas lembaga pendidikan NU ini adalah menjaga umat melalui pendidikan kepada siswa-siswi agar menjadi orang yang wasathan (moderat). Dan untuk menjadi umat yang moderat, dibutuhkan kecerdasan yang berlebih dibanding kalangan ekstrem kiri maupun ekstrem kanan.

Selain itu, pengasuh Pesantren Ats-Staqafah itu juga meminta agar LP Ma’arif membuahkan generasi yang berperan sebagai penentu dalam berbagai bidang. Seperti bidang budaya, kemanusiaan, ekonomi, pertanian dan bidang-bidang lainnya.

Sebagai pembuka acara itu, kiai Sa'id memukul gong dengan disaksikan oleh Ketua LP. Ma’arif NU (H. Arifin Junaidi), Ketua Panitia Rakernas dan Rakornas (Saidah Sakwan), Sekretaris LP. Ma’arif NU (Harianto Oghi), Menteri Pemuda dan Olahraga (Imam Nahrawi), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Muhadjir Effendi).

Rakernas dan Rakornas yang bertema "Outlook Indonesia 2030: Kontribusi Ma’arif NU dalam Menyiapkan Generasi Emas di 2030" itu dihadiri oleh perwakilan dari para pengurus LP. Ma’arif NU tingkat pusat dan 34 pengurus tingkat wilayah.

Kegiatan yang berlangsung hingga 1 Maret bulan depan ini merupakan upaya LP. Ma'arif NU untuk menyiapkan generasi emas pada tahun 2030 mendatang.

“Kenapa kita consern 2030? Karena saat itu, kita memasuki satu abad NU dan Ma'arif NU. Kita memiliki mandat berat. Sebab, hari ini kita memasuki era revolusi keempat, setelah revolusi industri, permesinan dan IT,” jelas Saidah Sakwan.

Menurut Saidah, saat ini sedang terjadi kegaduhan digital. Kalau NU tidak ikut gaduh, maka akan tertinggal di dunia digital society.

“Kita juga punya mandat kader Aswaja,” imbuhnya.

Mandat itu, lanjutnya, adalah bagaimana agar LP. Ma’arif NU bisa mengimplementasikan jargon "al-muhafadhotu 'ala qadimish-shalih wal-akhdu bil-jadidil-ashlah" dalam konteks pendidikan.

“Bagaimana mengembangkan roadmap kader kita ke depan? Dalam dua hari ini akan dibahas karakter bagaimana mencetak anak zaman now yang kuat Aswajanya,” tandas ketua Panitia itu. []
(Ed. Asb)


* Sumber: nu.or.id
Read More

PW. LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku dalam Satu Periode

 
rumahnahdliyyin.com, Lampung Tengah - Prestasi yang cukup membanggakan, sekaligus masuk dalam tinta emas adalah apa yang dilakukan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW. LTN NU) Lampung. Sebab, selama satu periode kepengurusan 2013-2018, PW. LTN NU ini telah menerbitkan dua buku.

M. Ikromudin Wahab, salah seorang Pengurus Cabang LTN NU Kabupaten Lampung Tengah (Divisi Penelitian dan Pengembangan atau Litbang) menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut.

“Kami mengucapkan selamat atas terbitnya karya buku PW. LTN NU Lampung. Semoga keberhasilan ini dapat berlanjut dengan karya yang lainnya,” katanya.

Selain itu, Ikrom juga berharap agar menjelang Konferensi Wilayah NU (Konferwil NU) Lampung X pada tanggal 8 hingga 10 Maret mendatang buku tersebut dapat dibedah.

“Itu juga bisa menjadi momentum silaturahim para penulis senior maupun yunior Nahdliyyin Lampung,” katanya kemudian.

“Dengan terjalinnya silaturahim penulis Lampung Nahdliyyin itu, nanti menyatukan gerak langkah berikutnya untuk berkarya dan mengembangkan LTN NU yang maju serta kehadirannya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” imbuh alumnus IAIN Kota Metro Lampung ini.

Kedua buku karya PW. LTN NU Lampung itu yaitu "NU Mengawal Perubahan Zaman" yang terbit pada tahun 2015. Buku setebal 147 halaman tersebut memuat tulisan sumbangan pemikiran sejumlah tokoh, akademisi dan budayawan NU di Lampung.

Sedangkan buku kedua yaitu "Santri dan Pendidikan Politik" yang terbit pada tahun 2017 lalu. Buku itu merupakan karya dari 27 penulis hasil seleksi dari lomba artikel Hari Santri Nasional.


* Sumber: nu.or.id
Read More

Kiai Sa'id Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam


muslimpribumi.com | Jakarta - Seorang warga negara Amerika, Russel Qu, menyatakan diri memeluk agama Islam di hadapan sejumlah pengurus harian PBNU di Jalan Kramat Raya, Nomor 164, Senin sore kemarin. Tampak hadir dalam kesempatan itu yaitu Bendahara Umum PBNU (H. Bina Suhendra), Ketua PBNU (H. Robikin Emhas) dan Waskjen PBNU (H. Andi Najmi).

Ketika membaca dua kalimat syahadat, Imigran asal Indonesia ini dibimbing oleh Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj.

“Mudah-mudahan, bapak mendapat petunjuk langsung dari Allah SWT.,” kata kiai Sa'id.

Russel adalah warga negara Amerika asal Jakarta yang sejak tahun 1989 menetap tinggal di Amerika. Hampir 30 tahun ia tinggal di negeri Paman Sam itu. Kepada Russel, Kiai Said menerangkan prinsip pokok dalam agama Islam, yaitu teologi, ritual dan moral.

"Kepercayaan terhadap Yang Gaib merupakan salah satu konsep fundamental dalam teologi Islam. Kepercayaan terhadap Yang Gaib dapat membimbing perilaku hidup keseharian manusia di alam nyata ini," tutur pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini.

Kiai Said juga mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang mulia. Dengan mempercayai Yang Gaib, seseorang sudah cukup untuk menjadikannya sebagai pedoman hidup.

“Pegang satu ayat saja. Misalnya ayat yang menyatakan, 'kebaikan yang kamu lakukan, Allah pasti lihat. Kejahatan yang kamu lakukan, Allah pasti tahu.' Disinilah substansi orang beragama,” terangnya kemudian.

Selain itu, kiai yang kerap diterpa fitnah ini juga mengimbau kepada warga negara Amerika yang baru memeluk Islam supaya mempelajari dasar-dasar sholat.

Selanjutnya, kiai Sa'id mengatakan bahwa bangsa-bangsa di Timur Tengah, saat ini sedang kehilangan pegangan. Mereka hanya melestarikan teologi dan ritual Islam.

“Mereka sedang mengalami krisis akhlaq atau moral. Sehingga, konflik yang memakan korban jiwa di sana itu tidak pernah selesai,” ujar kiai Sa'id.

Ketika ditanya oleh kiai Sa'id perihal agama sebelumnya, Russel menyatakan bahwa ia tidak beragama. “Saya seorang agnostik,” papar Russel.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (Tuhan) itu tidak dapat diketahui dan tidak mungkin akan dapat diketahui.

Pensiunan salah satu bank di Amerika ini menyatakan bahwa belakangan terakhir ini, entah mengapa, ia terbesit untuk memeluk agama Islam.

“Entah kenapa saya terpikir begitu saja untuk masuk Islam. Disamping itu, saya punya banyak sahabat di Yogyakarta yang beragama muslim. Saya pelajari bahwa mereka menunjukkan etika dalam bergaul dan dalam menyikapi sesuatu,” kata Russel sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Di akhir pertemuan, Kiai Sa'id menghadiahi buku petunjuk sholat, satu mushaf Al-Qur'an dan beberapa buku terkait Ahlussunah wal-Jama'ah kepada Russel.



* Sumber: nu.or.id
Read More

Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur Yang Benar

Politik dinasti dalam sejarah Islam, dimulai setelah berakhirnya era khilafah. Yaitu 30 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Sejak mundurnya Sayyidina Hasan sebagai khalifah kelima, maka tidak ada lagi khilafah. Yang tersisa hanyalah kerajaan. Ini artinya, mengangkat seseorang menjadi pemimpin bukan berdasarkan kapasitas dan kapabilitasnya. Melainkan semata melalui jalur nasab. Dan demokrasi hadir untuk mengoreksi kesalahan sejarah tersebut.

Bagaimanakah kesalahan itu dimulai? Abul A’la Al-Maududi dalam menulis buku Al-Khilafah wa Al-Mulk (Khilafah dan Kerajaan), dengan berani dan apa adanya menganggap khilafah telah berakhir dengan naiknya Mu’awiyah yang menggantikan Sayyidina Hasan. Selanjutnya, yang ada kerajaan. Bukan lagi khilafah. Ini untuk menggambarkan bagaimana teladan Al-Khulafa' Ar-Rasyidun telah ditinggalkan. Istilahnya saja khilafah. Namun, pada hakikatnya telah berubah menjadi kerajaan.

Ulama' Pakistan itu mengutip sebuah riwayat, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash menyalami Mu’awiyah setelah ia dibai’at menjadi khalifah, ia sembari berucap: “Assalamu ’alaikum, wahai Raja.”

Mu’awiyah berkata: “Apa salahnya sekiranya Anda berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin?’"

Sa’ad menjawab: “Demi Allah, aku sungguh tidak ingin memperoleh jabatan itu dengan cara yang telah menyebabkan Anda memperolehnya.”

Bahkan, Mu’awiyah sendiri mengerti hakikat ini. Sehingga, pada suatu hari, ia berkata: “Aku adalah raja pertama.”

Demikian Maududi berkisah.

Dalam kitabnya Al-Muqaddimah, Ibn Khaldun juga menyoroti perubahan khilafah menjadi kerajaan ini. Hingga tak ada yang tersisa, kecuali namanya belaka. Sehingga, menurut ulama' besar ini, sifat pemerintahan telah menjadi kekuasaan duniawi semata. Khalifah hanya menjadi simbol belaka.

Mu’awiyah memindahkan ibu kota negara dari Kufah ke Damaskus. Sebagai Gubernur Damaskus, ia menjabat selama 20 tahun. Dan sebagai khalifah, ia juga berkuasa dalam kurun waktu yang sama.

Ketika Mu’awiyah berkuasa, ia mengangkat pejabat siapa pun yang dikehendakinya. Tanpa melalui proses seleksi yang ketat sesuai kapasitas pejabat tersebut. Kitab Tarikh Ath-Thabari melaporkan, ketika Sayyidina Hasan meninggalkan Kufah dan kembali ke Madinah sebagai rakyat biasa, Mu’awiyah mengangkat Abdullah, putra Amru bin ‘Ash, sebagai Gubernur Kufah.

Kemudian, Al-Mughirah bin Syu’bah datang dan berkata kepada Mu’awiyah: “Anda berada di dua geraham singa yang siap menerkam kekuasaan Anda. Abdullah sebagai Gubernur di Kufah, sedangkan sebelumnya, ayahnya, Amru bin ‘Ash, sudah menjabat sebagai Gubernur Mesir.”

Mu’awiyah terpengaruh ucapan Al-Mughirah ini. Maka, Abdullah langsung dicopot dari Gubernur Kufah dan digantikan oleh Al-Mughirah. Ketika Amru bin ‘Ash mengetahui anaknya telah dicopot, ia mendatangi Mu’awiyah dan berkata: “Anda berikan kekuasaan kepada Al-Mughirah? Maka, dia akan mengeruk harta kekayaan Kufah dan lantas menghilang. Taruh orang lain yang takut pada Anda.”

Mu’awiyah lantas mencopot Al-Mughirah dan menempatkannya dalam urusan ibadah.

Mu’awiyah pun mengangkat sepupunya, Marwan bin Al-Hakam, sebagai Gubernur Madinah. Dan ketika Gubernur Mesir, Amru bin ‘Ash, wafat pada tahun 43 H., Mu’awiyah mengangkat Abdullah, anak Amru bin ‘Ash, yang semula dicopot dari posisi di Kufah, menjadi penguasa Mesir.

Begitulah masalah pengangkatan pejabat. Dilakukan sesuka penguasa saat itu dan penuh dengan nepotisme. Persis seperti kerajaan.

Ciri lain dari kerajaan adalah pengganti penguasa berasal dari keluarganya sendiri. Mu’awiyah mengangkat Yazid, anaknya, sebagai penggantinya.

Menurut Ibn Khaldun, hal itu dilakukan oleh Mu’awiyah demi menjaga stabilitas negara meskipun Mu’awiyah tahu bahwa anaknya merupakan seorang yang fasik. Sejak itu, jabatan khalifah bergilir turun-temurun berdasarkan jalur nasab. Bukan memilih orang yang terbaik. Itu sebabnya, karakter khilafah telah berganti menjadi kerajaan.

Sadar bahwa akan ada penolakan dari para sahabat Nabi SAW. yang masih hidup, Mu’awiyah datang ke Madinah dan melobi pada putra Abu Bakar dan putra 'Umar bin Khaththab. Pertama, ia mendatangi 'Abdurrahman bin Abu Bakar. Mu’awiyah mengklaim bahwa pemilihan khalifah berdasarkan penunjukan khalifah sebelumnya adalah tradisi khalifah pertama Abu Bakar yang menunjuk 'Umar sebagai penggantinya. Abdurrahman pun menjawab kalem, “Tapi, Abu Bakar tidak menunjuk anaknya, kan?”

Lantas, Mu’awiyah melobi pada 'Abdullah bin 'Umar dan 'Abdullah bin Zubair. Ketiganya menyatakan menolak memba’iat Yazid sebagai putra mahkota pengganti Mu’awiyah. Namun, yang disampaikan Mu’awiyah berbeda. Ia berkhotbah bahwa Yazid, anaknya, telah didukung oleh ketiga sahabat besar itu. Demikianlah yang dikisahkan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Tarikh Al-Khulafa' secara detail dan terang benderang.

Sejak itu, berdirilah Dinasti Umayyah selama 90 tahun (661-750). Kemudian digantikan oleh Dinasti Abbasiyyah dan lainnya. Dalam masa khilafah yang berganti wujud menjadi kerajaan itu, kesalahannya tetap sama: menjadikan khalifah sebagaimana layaknya seorang raja yang berkuasa turun temurun berdasarkan jalur nasab tanpa melibatkan aspirasi rakyat.

Ketika khilafah bubar pada tahun 1924 M., sebagian negara-negara muslim yang telah berubah menjadi negara-bangsa (nation-state) mengadopsi demokrasi. Rakyat dilibatkan memilih pemimpinnya, baik langsung maupun tidak langsung.

Proses bai’at yang natural seperti yang terjadi pada 30 tahun pertama khalifah Islam, bukan lagi berdasarkan pemaksaan seperti periode Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, melainkan dimodifikasi menjadi sistem pemilu oleh demokrasi. Proses penjaringan kandidat melalui panitia enam orang yang dibentuk Khalifah 'Umar terwakili dalam proses di parlemen sebagaimana kita lihat di sejumlah negara modern.

Kita mengenal beraneka ragam mekanisme pemilu maupun sistem parlemen di negara yang berbeda. Semuanya itu bertujuan untuk mengembalikan kekuasaan pada jalur yang hakiki. Yaitu mencari pemimpin terbaik yang dipilih oleh rakyat. Inilah tradisi khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (khilafah berdasarkan apa yang digariskan oleh ajaran Nabi Muhammad SAW.). Demokrasi telah mengembalikan umat Islam ke jalur yang benar. Demokrasi adalah bagian dari khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Untuk apa mengejar kemasan khilafah yang isinya telah berubah menjadi kerajaan? Sementara, kini kita telah memiliki kemasan demokrasi yang isinya justru lebih islami? Anda memilih minyak babi cap unta, atau minyak samin cap babi? Anda lebih suka kemasan, atau substansinya, sih? Mikirrr!


* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia–New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.
Read More

Islam Bhineka Tunggal Ika



muslimpribumi.com - NU memang tengah menjadi incaran dunia Internasional. Negara yang tengah dirundung konflik, khususnya negara-negara Islam, berharap pada NU supaya bisa menularkan role mode Islam di Nusantara ini pada mereka. Sementara bagi negara yang tengah memendam ambisi untuk mengubrak-abrik Indonesia, berharap agar NU bisa pecah kapal dan bubar. Sebab, selama NU masih ada, NKRI adalah harga yang tak bisa ditawar lagi.

Kendati demikian, NU tidak jumawa. Tidak lantas melupakan saudara sebangsa. Tetap peduli pada sesama saudara sebangsa di pelosok-pelosok Nusantara. Tak pandang ras, suku, bangsa dan agama.

Makanya, tidak berlebihan kiranya bila ada yang menyatakan bahwa NU dengan Islam Nusantara-nya adalah panggilan sejarah. Dan itu tak bisa dihindar dan/atau ditolak. Sejarah telah memanggil NU untuk peradaban manusia. Sebuah peradaban yang berlandaskan cinta dan kasih bagi sesama anak Adam atau manusia.

Meski tersekat-sekat oleh ras, suku, bangsa, agama, negara dan yang lainnya, NU dengan role mode Islam Nusantara-nya bisa melampaui itu semua. Sebab, bukankah bila sudah berbicara mengenai manusia, segala "embel-embel" yang melekat pada manusia itu harus sirna?

Itulah Islam yang rohmatan lil-'alamin. Corak Islam yang seharusnya dan yang selaras dengan Bhineka Tunggal Ika.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU Papua.
Read More

Ciri Khowârij



Cikal bakal Khowarij berasal dari seorang lelaki pemrotes Nabi SAW. Sepulang dari fathu Makkah, Nabi SAW. dan pasukannya mengepung kabilah Hawazin dan terlibat perang di lembah Hunain. Nabi SAW. mendapat rampasan perang yang banyak: 4.000 ons perak, 24.000 ekor unta dan 40.000 ekor kambing. Dan Nabi SAW. transit di lembah Ji’ranah dan membagikan sebagian perak yang disimpan Bilal.

Tiba-tiba, datang seorang lelaki dan menegur Nabi SAW.: “Hai Muhammad, berlakulah adil!”

Nabi murka dan menjawab: “Celaka. Kalau saya saja tidak adil, lantas siapa yang adil!? Seandainya saya tidak adil, niscaya kamu buntung dan rugi!”

Mendengar itu, Sayyidina 'Umar marah dan minta izin untuk membunuh lelaki itu. Tapi Nabi SAW. menolak dan berkata: “Aku berlindung kepada Allah SWT. dari perkataan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Orang ini dan pengikutnya, kelak membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti lepasnya anak panah dari buruannya.”

Cerita ini berasal dari hadits shohih riwayat Imam Muslim. Di dalam Kitâb Az-Zakât, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari berbagai jalur dan perbedaan matan (Shohîh Muslim bi Syarh An-Nawâwî, Vol. 7, Beirut: Ad-Dâr Ats-Tsaqâfiyah Al-Arabiyah, 1929, h. 157-160).

Siapa sesungguhnya lelaki pemrotes itu? Dari riwayat ini, belum jelas. Tapi, peristiwanya terjadi pada tahun 8 H.

Kronologi serupa diceritakan oleh Ibn Hisyam dalam Sîrah-nya. Redaksi yang digunakan Ibn Hisyam adalah “kelak dari jenis laki-laki ini lahir sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam agama sehingga keluar dari agama."

.(يتعمقون فى الدين حتى يخرجوا منه)

(Ibn Hisyâm, As-Sîrah An-Nabawiyyah, Beirût: Dâr Ibn Hazm, 2001, h. 590-91).

Dalam riwayat lain, Nabi SAW. membagikan emas mentah yang dikirim oleh Sayyidina Ali dari Yaman. Emas itu dibagikan kepada empat orang, yaitu Uyaynah ibn Badr, Aqro’ ibn Hâbis, Zaid Al-Khail dan Alqamah ibn ‘Ulatsah atau Amir ibn Thufail. Lalu, salah seorang sahabat memprotes: “Kami lebih pantas menerimanya ketimbang mereka.”

Ucapan ini, sampai kepada Nabi SAW. dan beliau berkata: “Apa kalian tidak mempercayaiku, padahal aku ini kepercayaan langit yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”

Kemudian berdiri seorang laki-laki yang cekung matanya, menonjol pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya, yang berkata: “Hai Rasulullah, takutlah kepada Allah SWT.”

Nabi SAW. menjawab: “Celaka! Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah SWT.?”

Begitu lelaki itu berpaling, Khalid ibn Walid berkata: ”Wahai Rasulullah, izinkan aku menikam lehernya.”

Nabi SAW. menjawab: “Jangan! Barangkali dia sholat.”

Khalid menukas: “Banyak sekali orang yang sholat yang mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan hatinya.”

Nabi SAW. berkata: “Sungguh, aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia dan membedah isi perutnya.”

Nabi SAW. kemudian menatap lelaki yang menyingkir itu dan berkata: “Sungguh, akan keluar dari jenis lelaki ini suatu kaum yang lancar membaca Kitabullâh, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti keluarnya anak panah dari busurnya.”

Abu Said Al-Khudlri mendengar samar-samar Rasulullah SAW. berkata: “Jika aku jumpai mereka, akan aku perangi mereka seperti kaum Tsamud.”

Riwayat ini, muttafaqun ‘alaih. Tercantum dalam Shohih Bukhôrî (Kitâbul Maghôzî) dan Shohîh Muslim (Kitâbuz Zakât).

Siapa lelaki pemrotes itu? Namanya belum tersebut. Tapi, ciri-cirinya digambarkan lebih rinci dan peristiwanya terjadi pada tahun 9 Hijriyah setelah peristiwa Hunain dan menjelang pelaksanaan Haji Wada’.

Kendati demikian, nama lelaki itu muncul dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi:

عن أبي سعيد قال بينا النبي صلى اللّه عليه وسلم يقسم جاء عبد اللَّه بن ذي الخويصرة التميمي فقال « اعدل يا رسول اللّه » فقال « ويلك ومن يعدل إذا لم أعدل » قال عمر بن الخطّاب « دعني أضرب عنقه » قال « دعه فإنّ له أصحابا يحقِر أحدكم صلاته مع صلاته وصيامه مع صيامه يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة ينظر في قذذه فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في نصله فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في رصافه فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في نضيّه فلا يوجد فيه شيء قد سبق الفرث والدم آيتهم رجل إحدى يديه أو قال ثدييه مثل ثدي المرأة أو قال مثل البضعة تدردر يخرجون على حين فرْقة من النّاس » قال أبو سعيد « أشهَد سمعت من النّبيّ صلى اللّه عليه وسلم وأشهد أنّ عليّا قتلهم وأنا معه جيء بالرجل على النعت الّذي نعته النبيّ صلّى اللّه عليه وسلم » قال فنزلت فيه ومنهم من يلمِزك في الصّدقات.  متفق عليه

Dari Abu Sa'id, ia berkata: “Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW. yang tengah membagi-bagikan (ghonîmah), datanglah 'Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah At-Tamimi dan berkata: “Wahai Rasulullah, berlakulah adil!”

Rasulullah SAW. menjawab: “Celaka! Siapa yang bisa adil kalau saya saja tidak adil!?”

Kemudian ‘Umar ibn Khattab berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya memenggal lehernya!”

Nabi SAW. menjawab: “Biarkan dia. Kelak dia akan punya banyak pengikut yang sholat kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengab sholat mereka. Puasa kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Maka, ketika diperiksa ujung panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diteliti batang panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diselidiki bulu anak panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Anak panah itu menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah lelaki yang salah satu lengan atasnya atau dadanya bagaikan payudara wanita atau terdapat segumpal daging kenyal yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul saat terjadinya perpecahan manusia.”

Abu Sa’id berkata: “Saya bersaksi bahwa saya mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW. Dan saya bersaksi bahwa ‘Ali ibn Abu Thalib memerangi mereka dan saya bersamanya saat didatangkan seorang laki-laki yang disebutkan ciri-cirinya oleh Rasulullah SAW.”

Kemudian turunlah ayat: ”Dan diantara mereka ada yang mencelamu dalam pembagian zakat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits ini tercantum dalam Shohîh Bukhôri (Kitâb Istitâbatil Murtaddin wal Mu’ânidîn) dan Shohîh Muslim (Kitâbuz Zakât).

Ibn Hajar Al-Asqolâni memastikan bahwa dua peristiwa protes—dengan latar belakang ghonîmah Hunain dan emas kiriman sayyidna 'Ali dari Yaman—adalah dua peristiwa berbeda yang boleh jadi melibatkan aktor yang sama (Ibn Hajar Al-Asqolâni, Fathul Bârî, Vol. 12, Beirut: Dâr Ihyâ-it Turâts Al-Araby, 1988, h. 244; Vol. 8, h. 55).

Lelaki pemrotes itu, yang diramalkan oleh Nabi SAW. di tahun 8-9 H., belakangan menjadi Khowarij yang muncul sebagai firqoh agama dan politik pada tahun 37 H. selepas Perang Shiffin. Yaitu Mereka yang protes terhadap keputusan Sayyidina 'Ali yang bersedia menerima arbitrase (tahkîm). Mereka menggemakan kalimat lâ hukma illa lillâh dan keluar dari barisan Sayyidina 'Ali. Semua pihak yang terlibat dalam tahkîm, baik dari kubu Sayyidina 'Ali maupun Mu’awiyah, dicap oleh Khowarij ini sebagai kafir dan halal darahnya.

Tiga tahun setelah itu, Sayyidina 'Ali ibn Thalib ditikam dan wafat oleh 'Abdurrahman ibn Muljam, anggota Khowârij. Mereka juga mengincar Mu’awiyah, tetapi gagal melakukan eksekusi.

Khowârij dan Ciri-cirinya

'Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah, nama lainnya adalah Hurqûsh ibn Zuhair As-Sa’dy, digambarkan sebagai lelaki sholeh. Berbagai riwayat shohih menggambarkan lelaki Bani Tamim ini satu klan dengan Muhammad ibn Abdul Wahab At-Tamimi—pendiri Wahabi, dengan sejumlah ciri fisik: cekung matanya, menonjol tulang pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya.

Dari jenis lelaki ini, kelak lahir para ahli ibadah yang membasahi bibirnya dengan bacaan Al-Qur’an hingga dikenal sebagai Al-Qurra’. Ibadah mereka tekun. Tangannya kapalan. Diantara dua matanya terdapat tanda bekas sujud. Rasulullah SAW. berkata, “Bacaan kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan bacaan mereka. Sholat kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan sholat mereka. Puasa kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengab puasa mereka.”

Namun, kesholehan itu sirna karena mereka merasa paling sholeh. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka Al-Qur’an hujjah bagi mereka. Padahal, Al-Qur'an menjadi hujjah terhadap mereka. Kata Ibn 'Umar, mereka adalag seburuk-buruknya makhluk Allah SWT.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW. pernah menyuruh para sahabat utamanya, yaitu Abu Bakar, 'Umar bin Khaththab dan 'Ali bin Abi Tholib untuk membunuh seorang laki-laki yang kondang ibadah tetapi ujub dengan ibadahnya. Mereka juga merasa paling benar dan mengukuhi pendapat sendiri. Yang tidak sejalan dengan mereka, dituding sesat dan kafir. Pengikutnya berasal dari anak-anak muda belia yang cekak akalnya. Mereka mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, tetapi tidak menyelami maknanya. Sabda Nabi SAW.:

‏‏سيخرج في آخر الزّمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البريّة يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإِنّ في قتلهم أجرًا لمن قتلهم عند اللَّه يوم القيامة. رواه مسلم

“Akan muncul di akhir zaman sekelompok anak-anak muda belia yang cekak akalnya dan mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Jika kalian menjumpai mereka, perangilah mereka. Karena memerangi mereka ada pahala di sisi Allah SWT. di hari kiamat.” (HR. Muslim).

Ciri lain Khowârij adalah memberontak terhadap pemimpin. Kata Ibn Hajar, mereka disebut Khowârij karena keluar dari ketaatan kepada pemimpin dan kemudian meninggalkannya dan jama'ahnya. Awalnya adalah protes terhadap kebijakan pemimpin seperti yang dilakukan oleh Dzil Khuwaishirah kepada Nabi SAW. Giliran berikutnya lalu memberontak terhadap pemimpin seperti yang dilakukan oleh 'Abdullah ibn Al-Kawwa’ dan gerombolannya kepada Sayyidna 'Ali. Mereka meninggalkan Sayyidina 'Ali dan menuju lembah yang dinamakan Harûrâ.

Apa alasan pemberontakan itu? Sayyidina 'Ali sebagai Ulil Amri dituduh telah meninggalkan hukum Allah SWT. berdasarkan pengertian mereka yang sempit. Dulu, Dzul Khuwaishirah menuduh Nabi SAW. tidak adil. Dan penerusnya, lalu menuduh menantu Nabi SAW. ('Ali bin Abi Tholib) telah mencampakkan Kitabullâh karena menerima tahkîm.

Ciri Khowârij berikutnya adalah gemar memakai ayat Al-Qur'an yang turunnya sebetulnya diperuntukkan bagi orang kafir, digunakan untuk “memukul” orang mu'min. Mereka, misalnya, menggunakan ayat 44, 45, 47, surat Al-Maidah:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون والظالمون والفاسقون.

untuk mengafirkan Sqyyidina 'Ali karena telah menerima tahkîm.

Sayyidina 'Ali, dengan enteng pun menjawab:
كلمة حق يراد بها الباطل 

(kalimat benar, maksud kalimatnya yang salah).

Mereka menjustifikasi Al-Qur’an untuk makar terhadap Ulil Amri yang tidak sejalan dengan mereka.

Memberontak terhadap kekuasaan yang sah, yang tidak nyata tiran dan maksiat, merupakan ciri khas Khowârij. Jadi, Khowârij memang tercatat dalam sejarah Islam. Cikal bakalnya telah ditandai Nabi SAW. pada tahun 8-9 H. Tetapi, wujudnya baru menjelma pada tahun 37 H.

Sebagai entitas sejarah, Khowâij telah lenyap. Tetapi ciri dan karakternya, bisa ditemukan di sepanjang zaman. Mereka adalah sekelompok ahli ibadah yang berlebihan dalam agama. Sehingga malah kehilangan inti agama.

Pendahulu Khowârij, Dzul Khuwaishirah, digambarkan berjenggot tebal, bercelana congklang dan berdahi hitam—tanda-tanda kesholehan bagi anggapan sebagian orang. Namun, Nabi SAW. justru melaknatnya sebagai pendahulu seburuk-buruknya makhluk.

Sedangkan penerus Dzul Khuwaishirah digambarkan sebagai sekumpulan ahli ibadah. Bacaan Al-Qur’an, sholat dan puasa mereka tidak ada bandingannya. Tetapi Nabi SAW. justru memerintahkan kita untuk memerangi mereka. Kenapa? Karena mereka membajak Islam untuk membela nafsu mereka dalam memonopoli kebenaran.

Khowârij adalah penduhulu kelompok takfîri. Hukum Allah SWT. diringkus dalam tafsir mereka yang sempit. Siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT. dalam pengertian mereka—dicap sesat, kafir dan boleh diperangi.

Doktrin mereka subversif. Ulil Amri yang tidak menerapkan hukum Allah SWT. menurut tafsir mereka yang sempit itu, boleh dirongrong dan digulingkan. Selain pendahulu kelompok takfîri, Khowârij adalah pendahulu tradisi bughot dalam sejarah Islam. Padahal, Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk taat kepada Allah SWT., taat kepada Rasulullah SAW. dan Ulil Amri (An-Nisa’/4: 59).

Taat kepada Ulil Amri bersifat muqayyad, artinya tidak sama dengan membeo dan menjilat. Kritik perlu, tetapi kritik tidak sama dengan makar. Oposisi loyal penting, tetapi bughot tidak dibenarkan dalam Islam.

Apakah kita temukan ciri-ciri Khowârij di zaman now? Tengoklah kanan-kiri dan periksalah diri kita sendiri. Mudah-mudahan, kami, kalian dan kita semua tidak termasuk golongan yang dilaknat Nabi SAW. sebagai seburuk-buruk makhluk itu. Wal-‘iyâdhu biLlâh.


* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP. ISNU).
Read More