Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana


muslimpribumi.com | Surabaya - Halaman luas gedung Twin Towers Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, kemarin malam, 5 Maret 2018, ditumpahi oleh ribuan masyarakat Surabaya dan para mahasiswa. Dengan antusias, mereka mengikuti acara yang digelar oleh Kementerian Agama dalam program terbarunya, yaitu Mengaji Indonesia.

Seperti diberitakan oleh kemenag.go.id, yang menjadi host dalam acara ini adalah Menteri Agama sendiri, yaitu Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Sedangkan diantara narasumbernya adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus.

Diawal-awal ketika ditanya oleh bapak Menteri Agama terkait Indonesia tempo dulu dan sekarang, Gus Mus menjelaskan bahwa Indonesia ini lemah lembut, maka harus dijaga dan dirawat. Gus Mus juga mengatakan bahwa tidak bisa kita menyelesaikan masalah hanya dengan satu atau tiga hari. Menurutnya, sumber masalah adalah karena banyaknya diantara kita yang lebih mencintai dunia.

“Selama 32 tahun (masa orde baru) itu, kita dididik mencintai dunia berlebihan,” tuturnya.

Gus Mus mengungkapkan juga bahwasanya kalau kita tidak bisa zuhud seperti pendahulu kita, minimal kita hidup sederhana. Minimal itu yang kita gaungkan.

Ia pun berkisah saat masih belajar di Al-Azhar, Mesir, dan menggunakan peci hitam. Banyak yang ingin peci itu. Dan ia pun bangga karena punya tanda ke-Indonesia-an.

Indonesia dikenal dunia sebagai masyarakat ramah. Ia pun menceritakan bahwa dahulu, di Mesir, ada pasukan penjaga perdamaian yang namanya Garuda yang dikenal ramah. Dan masyarakat Mesir mengingat keramah tamahan pasukan Garuda penjaga perdamaian tersebut.

Selain Gus Mus, narasumber lainnya dalam acara ini yaitu Rosianna Silalahi (presenter senior) dan Abdul A'la (rektor UIN Surabaya). []
(Ed. Asb)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


rumahnahdliyyin.com - Ketika transit di Timika, dari Sorong hendak ke Asmat dua minggu-an lalu, ada dua kardus besar dan satu plastik besar dari seseorang yang dititipkan pada saya. Isinya berupa pakaian baru dan beberapa pakaian layak pakai.

"Walau ini yang bisa diberikan, semoga bermanfaat," ucap seseorang itu.
Karena kebanyakan pakaiannya adalah pakaian muslim anak-anak, maka saya mengusulkan bagaimana jika saya salurkan di masyarakat Kokoda di Sorong saja yang notabene, menurut saya, lebih membutuhkan. Beliaupun tidak keberatan. Bukan apa-apa. Sebab, selama saya berada di distrik Agats, Asmat, dua tahun yang lalu, saya tahu bahwa kebanyakan anak-anak muslim di distrik tujuan saya kali ini adalah anak-anak pendatang yang bisa dikatakan lahir dari para orang tua yang taraf ekonominya tergolong menengah ke atas.

Ada memang kaum muslim di Asmat yang kondisinya tak jauh beda dengan kaum muslim Kokoda di Sorong. Namun, untuk mencapai ke tempat mereka tinggal, harus menyewa longboat atau speed. Dan itu tidaklah murah.

Syukur alhamduliLlâh, Allah Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak membiarkan pakaian-pakaian yang sedari awal memang ingin diberikan pada anak-anak Asmat ini beralih ke yang lain. Berawal dari silaturrahmi saya di suatu sore dikediaman sekretaris PCNU Kab. Asmat, ustadz Hafidz, akhirnya pagi tadi saya bisa menyalurkan pakaian-pakaian itu ke anak-anak muslim Asmat.

Kampung Peer, itulah nama kampung yang saya tuju. Meski masih termasuk distrik Agats, namun untuk menuju kampung ini saya harus menempuhnya dengan longboat kuranglebih 30 menitan. Begitu sandar di pinggir, rombongan saya langsung diarahkan ke Jew (rumah bujang). Sebuah bangunan memanjang sebagai tempat berkumpulnya masyarakat. Juga dipakai untuk tidur pula.

Di kampung Peer ini, ada puluhan muslim. Termasuk pak Sholeh yang pernah bertemu dan ngobrol dengan saya di kampung Syuru beberapa waktu lalu. Kendati banyak muslim, namun belum ada bangunan musholla maupun masjid di sini.

Suatu ketika, pernah di kampung ini ada muslim yang meninggal dunia. Beberapa warga pun datang ke Agats (kotanya maksudnya). Mereka bertanya, "bagaimana caranya mengurus orang muslim yang meninggal?" Demikianlah salah satu cerita yang saya dapat pagi ini mengenai kondisi saudara muslim kita di kampung Peer ini.

Berbeda dengan masyarakat suku Kokoda di Sorong, suku Asmat yang muslim di kampung Peer ini tidaklah muslim semenjak lahir. Bahkan, tidak sedikit yang dalam satu keluarga, agamanya berbeda karena baru memeluk Islam. Satu muslim, yang lain non-muslim. Satu non-muslim, yang lain muslim. Kendati demikian, mereka tetap guyub rukun. Inilah Indonesia.

Kendati demikian, sangat miris menyaksikan langsung kondisi beragama yang semacam ini. Dan hal ini menambah panjang catatan saya mengenai daerah-daerah di Papua yang sangat urgent untuk segera ditanami seorang pengajar agama.

Untuk itu, dalam suasana hati yang demikian, saya mengajak para santri dan alumni pesantren untuk tidak berpangku tangan. Terutama, dalam hal ini, tentu saja pihak Kementerian Agama. Dan akhirnya, semoga ada yang tergerak hatinya.

Dan bagi yang ingin menyisihkan penghasilannya untuk turut meluaskan dan membesarkan program pengiriman santri ke Papua, bisa lewat nomor rekening 070.00.0664.8054 Bank Mandiri a/n. Yayasan Dakwah Islam Aswaja dan mohon ditambahi angka "99" (misal. 100.099) serta konfirmasi pengiriman/transfer donasi ke nomor HP/WA 0815.2609.0074 (Ust. Dodik Ariyanto ).

Akhirnya, semoga kepedulian kita semua kepada sesama ini diberi imbalan yang lebih baik dan lebih banyak oleh Gusti Allah SWT., baik selama di dunia ini maupun di akhirat kelak. Amin.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Silaturrahim Kiai Sa'id di Ponpes Nurul Cholil Bangkalan


muslimpribumi.com | Bangkalan - Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj, melakukan kunjungan silaturrahmi ke Ponpes Nurul Cholil, Bangkalan, Madura. Selain mengisi pengajian, kedatangan beliau juga untuk memberikan penguatan NU Madura.

Sebagai tanda dimulainya acara, Musytasyar PBNU, cicit Syaichona Cholil Bangkalan, KH. Zubair Muntasor, membuka acara tersebut dengan membacakan surah Al-Fatihah. Dan mewakili tuan rumah, KH. Ahmad Faqod Zubair, menyampaikan sambutannya.

"Saya mewakili keluarga besar Nurul Cholil dan PCNU Bangkalan mengucapkan terima kasih kepada para hadirin, khususnya kepada Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj. Saya yakin, ini bukan pertemuan yang terakhir. Tapi kita akan ada pertemuan selanjutnya. Kedatangan ini memang yang pertamakalinya. Tapi akan ada pertemuan selanjutnya," katanya.

Beliau juga menyatakan bahwa PCNU Bangkalan siap menjalankan dan menerima keputusan PBNU untuk kemaslahatan Madura.

"NU Madura masih solid dan loyal pada hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang. Mendukung kepemimpinan kiai Sa'id dan kiai Ma'ruf Amin. Kami siap menerima dan mengawal keputusan PBNU," tambahnya.

"Meminta untuk sering hadir ke Madura dan kami siap mengawal dan mengamankan kehadirannya di Madura," pungkasnya

Sementara itu, usai memberikan tausiyyah  tentang Kebangsaan dan Islam Nusantara, kiai Sa'id menyampaikan kepada wartawan terkait keberadaan Madura dalam peranannya mengawal NU dan NKRI.

"Bangkalan Madura masih kita andalkan dalam membela Ahlussunah wal Jama'ah dan NKRI," kata kiai Sa'id saat diwawancarai wartawan.

"Jangan khawatir. NU Bangkalan Madura masih punya prinsip tawassuth dan tasamuh, moderat dan toleran," sambungnya.

Dalam menghadapi tahun politik dimana sebentar lagi akan ada pemilihan Gubernur Jawa Timur, kiai Sa'id berpesan supaya tetap menjaga persatuan dan jangan ada permusuhan

"Kita memasuki tahun politik. Mari kita sukseskan, baik itu pilkada, pilpres dan khususnya pilgub Jawa Timur ini. Jangan sampai kita terpecah belah. Kita jaga persatuan demi keamanan. Karena perpecahan, yang rugi adalah kita sendiri," pungkasnya. []
Read More

KH. Sa'id Aqil Kuliah Umum di Uinsa


muslimpribumi.com | Surabaya - Ketua Umum PBNU yang juga Guru Besar H.C. UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengisi kuliah umum di UIN Sunan Ampel (UINSA), Surabaya, Senin kemarin. Kuliah umum yang membahas tema "Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global" ini, dihadiri oleh ratusan mahasiswa Pasca-Sarjana UINSA.

Acara ini dibuka oleh Direktur Pasca-Sarjana UINSA, Prof. DR. H. Husein Aziz, M.AG. Pada kesempatan membuka acara tersebut, ia menjelaskan alasan pengusungan tema dalam kuliah umum kali ini.

"Tema yang kita ambil adalah Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global. Tema ini kita ambil karena maraknya Radikalisme," kata Prof. Husein dalam sambutannya.

"Radikalisme yang ada di kampus itu karena kehausan ideologi. Orang haus itu akan minum apa saja yang disajikan meskipun basi. Nanti baru sadar setelahnya," lanjutnya.

Karena haus ideologi inilah, lanjut Prof. Husein Aziz, radikalisme ISIS pun akan dimasuki. Oleh karena itu, Islam Nusantara perlu kita sosialisasikan.

"Dengan adanya kuliah bertema Islam Nusantara ini, saya berharap dapat membangun paradigma kita dan masyarakat," pungkasnya.

Dalam kesempatan kuliah umum ini, KH. Said Aqil memaparkan sejarah, politik, budaya Timur Tengah dan perjuangan Rasulullah SAW. dalam menyatukan umat.

"Yang namanya umat yang dimaksud Nabi Muhammad yaitu umat secara keseluruhan. Baik muslim maupun non muslim, Rasulullah mengajak bersatu, konsolidasi. Bukan membenturkan antara umat muslim dan umat non-muslim," kata KH. Said Aqil dalam kuliah umumnya.

"Rasulullah tidak pernah mendirikan negara Islam. Yang didirikan Rasulullah adalah citizenship kewarganegaraan, yaitu Negara Madinah," lanjut kiai jebolan Ummul Qurro' ini.

“Islam Nusantara bukan madzhab. Bukan aliran. Tapi tipologi, mumayyizaat, khoshois,” terangnya.

Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. Melainkan Islam yang rohmatan lil-'alamin.

“Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlaq dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara. Mari, kita jadikan budaya sebagai infrastruktur agama. Kita jadikan Indonesia jadi kiblatnya budaya," kata kiai Said Aqil.

Ia pun memberi contoh, misalnya, sarung atau baju batik sebagai bentuk budaya. Sarung digunakan untuk sholat dan beribadah.

"Jangan dibalik. Agama untuk budaya, gamis untuk demo. Itu nggak bener," ucapnya yang disambut tawa para mahasiswa dan dosen

KH. Said Aqil menutup kuliahnya dengan mengajak para mahasiswa dan para intelektual untuk lebih mengedepankan persamaan bangsa. Selain itu, juga menyebutkan tantangan bangsa Indonesia selama ini.

"Tantangan kita ada empat: kedzoliman dalam berpolitik, kedzoliman dibidang ekonomi, kedzoliman dibidang moneter dan kedzoliman dibidang Ilmu," tutupnya. []
Read More

LTN NU dan Lazisnu Lombok Tengah Terbentuk


Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lombok Tengah, resmi membentuk dua lembaga baru dibawah kepengurusan PCNU Lombok Tengah, yaitu Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Lombok Tengah dan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Lombok Tengah.

Bertempat di Kantor PCNU Lombok Tengah, pada Jum'at lalu (3 Maret 2018), PCNU memandatkan pada Ahmad Jumaili, S. Pd.I dan Lalu M. Syamsul Arifin, S. Pd.I sebagai Ketua dan Sekretaris LTN NU Lombok Tengah dan pada Hamdan El-Haq, S. Pd.I, M. P.d.I bersama Muhammad Fahmi, M. Pd sebagai Ketua dan Sekretaris Lazisnu Lombok Tengah periode Kepengurusan 2016-2021. Sedangkan untuk bendahara, LTN NU dipegang oleh Ahmad Pahrurrozi, S. Sos.I dan Lazisnu dipegang oleh Mukminah, M. Pd.

Ketua PCNU Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri, S.Ip, yang juga Wakil Bupati Lombok Tengah, berpesan supaya para pengurus yang telah dimandati untuk mengurusi kedua lembaga ini segera bekerja cepat untuk membentuk divisi-divisi yang dibutuhkan serta menyusun program kerja yang realistis dan mampu dikerjakan.

"LTN NU akan segera memprogramkan pembuatan website informasi untuk PCNU dan penerbitan-penerbitan di Lombok Tengah. Begitu juga Lazisnu, akan segera bikin perwakilan Lazisnu di masing-masing MWC. Bangun komunikasi dan koordinasi dengan ulama'-ulama' kita di masing-masing MWC. Kalian sowan ke semua tokoh NU," ungkapnya saat koordinasi dengan dua lembaga ini disela-sela Rapat Panitia Perayaan Hari Lahir (HARLAH) NU Yang ke-92 di Praya, Sabtu lalu di Praya.

Lanjutnya, kedepan, semua database warga NU Lombok Tengah bisa dikelola dengan Baik. LTN NU dan Lazisnu bisa bekerja sama untuk membuat program pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat yang lain, seperti pelatihan-pelatihan IT dan penulisan, penggalangan dana sosial bencana, kematian dan pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh di Lombok Tengah.

"Saya ingin semua warga NU punya Kartu NU (Kartanu). Dengan Kartanu ini, kita akan punya database besar yang dikelola oleh LTN sehingga pengelolaan apapun bisa kita kontrol," imbuhnya.

Dengan database seperti ini, tambahnya, setiap warga Nahdliyyin yang meninggal, akan dapat diberikan santunan kematian oleh warga NU sendiri. Begitu juga santunan yatim, tua jompo dan penyandang disabilitas.

"Setiap kematian, misalnya per-orang warga Nahdliyyin donasi atau sedekah sepuluh ribu atau lima ribu saja, dikalikan dengan jumlah Nahdliyyin yang ada di Lombok Tengah, wah, itu akan sangat dahsyat hasilnya" tandasnya.

Karenanya, Fathul sangat berharap, pengurus didua lembaga yang baru dibentuk ini, dapat bekerja secara maksimal dan ikhlas untuk perjuangan Nadlatul Ulama.

"Insya Allah, setiap perjuangan kita di Nahdlatul Ulama ini, betapapun kecilnya, akan mendapatkan berkah dari Allah. Alasannya cuma satu, karena kita mengurusi organisasi para ulama'," pungkasnya. []
Read More

Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat


rumahnahdliyyin.com - Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) baru saja menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 21-23 Februari 2018 lalu.

Acara yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo itu mengangkat tema “Memperkokoh Komitmen Islam Kebangsaan Menuju Orde Nasional”. Isu penting yang menjadi bahasan Rakernas I MDHW antara lain yaitu soal radikalisme.

Gerakan radikalisme yang berujung pada terorisme merupakan momok mengerikan. Sebab, telah membuat citra Islam lekat dengan agama teror yang menyukai jalan kekerasan. Celakanya, eskalasi gerakan ini bukan semakin surut. Namun, justru kian meningkat.

Hasil survei Wahid Institute pada 2017 lalu menyebutkan bahwa sebanyak 0,4 persen atau 600.000 penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen atau 11 juta orang berpotensi bertindak radikal.

Tak hanya itu, survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2017 pula menyebutkan bahwa ada sebanyak 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia yang terindikasi tertarik pada paham radikal. Data ini menunjukkan bahwa radikalisme merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian khusus.

Isu berikutnya adalah soal ekonomi umat. Isu ini penting. Karena jika merujuk data World Bank (2015), Indonesia merupakan negara ranking ketiga tertimpang setelah Rusia dan Thailand.

Gini rasio mencapai 0,39% dan indeks gini penguasaan tanah mencapai 0,64%. Sedangkan 1% orang terkaya menguasai 50,3% kekayaan nasional dan 0,1% pemilik rekening menguasai 55,7% simpanan uang di bank.

Fakta ini sungguh menyedihkan. Sebab, kekayaan Indonesia dimonopoli oleh segelintir orang yang menguasai lahan, jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan ataupun obligasi pemerintah. Tentu persoalan ketimpangan bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan nasional.

Islam Kebangsaan

Karena itu, dalam konteks mengatasi gerakan radikalisme, pemahaman ihwal pentingnya memperkokoh komitmen Islam kebangsaan perlu dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Islam kebangsaan merupakan Islam yang memiliki semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Sejarah mencatat, Islam kebangsaan telah menjadi kekuatan fundamental dalam upaya melawan kolonialisme. Islam kebangsaan mempererat tali persaudaraan sebangsa (ukhuwah wathoniyah).

Dalam bahasa Prof. DR. (HC.) KH. Ma’ruf Amin, Islam kebangsaan adalah Islam yang menerima kemajemukan. Bingkai kemajemukan yang dimaksud di sini harus bersifat politis-yuridis dan teologis.
Bingkai politis-yuridis adalah kebijakan tentang bentuk negara Indonesia. Yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila sebagai falsafah bangsa, dan UUD 1945 sebagai konstitusi negaranya. Ini berarti, keputusan politik para pendiri bangsa merupakan konsensus nasional.

Sedangkan bingkai teologis adalah untuk mewujudkan integrasi nasional yang kokoh. Bingkai teologis ini menjadi perekat sekaligus pemahaman kepada seluruh elemen masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga integrasi bangsa ini secara bersama-sama dalam upaya menjaga keutuhan dan kesatuan nasional. Baik kaitannya dengan NKRI maupun Pancasila.

Ekonomi Umat

Sementara itu, dalam konteks memperkuat ekonomi umat, kita perlu mendorong umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia tidak hanya menjadi penonton dan konsumen. Namun, harus mampu bergeser menjadi aktor utama dan produsen dalam setiap jengkal denyut nadi perekonomian Indonesia.

Karena itu, perlu misalnya dilakukan penataan aktivitas perekonomian secara bottom up. Atau yang oleh pemerintah dikenal dengan istilah ultra-mikro.

Pasalnya, ketimpangan ekonomi akan makin tajam bila tak ada upaya serius untuk mengatasinya. Di saat yang sama, persoalan lapangan pekerjaan juga akan menjadi bom waktu bila tak segera diantisipasi.

Hal ini mengingat jumlah usia produktif yang ditandai dengan bonus demografi di Indonesia makin meningkat dari tahun ke tahun. Bila tak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi tidak akan mendatangkan “berkah”, namun justru “musibah”.

Itulah mengapa dalam menancapkan visi organisasinya, MDHW memiliki empat pilar gerakan. Yaitu dzikir, halaqoh, gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.

Konsep dzikir yang dimaksud di sini tidak sekadar dzikir wirid sebagaimana umumnya. Namun, dzikir secara universal yang berangkat dari konsep dasar “Fas’aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun.” (maka, tanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui).

Sedangkan halaqoh merupakan konsep silaturrahim, konsolidasi, musyawarah, baik itu dengan para ulama' maupun elemen bangsa yang lain. Konsep halaqoh yang dimaksud yaitu sebagai jembatan mencari problem solver dari berbagai permasalahan kebangsaan yang ada.

Adapun gerakan sosial menekankan bahwa kehidupan sosial (berkelompok, berbangsa, bernegara) harus dibangun atas nilai-nilai persaudaraan dan persatuan serta gotong-royong dengan mengedepankan kasih sayang (rahmah), perdamaian (salam) dan toleransi (tasamuh).

Secara konkret, gerakan ini akan merespons berbagai problem dan dinamika sosial yang ada. Mulai dari bencana alam, renovasi tempat pendidikan dan tempat ibadah atau pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu.

Sementara yang dimaksud dengan pemberdayaan ekonomi umat adalah upaya untuk mengatasi ketimpangan dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Akhirnya, Islam sebagai agama rahmat semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) harus menjadi spirit dalam berbangsa dan bernegara. Dan umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia harus menjadi pionir mewujudkan tananan nasional (orde nasional) yang lebih baik. []


Oleh: Hery Haryanto Azumi, Sekjen Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) serta Wasekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Read More

Bahaya Berjihad Demi Syahwat


muslimpribumi.com - Nafsu adalah bagian dari hiasan yang diberikan Allah SWT. kepada manusia. Ada beberapa jenis nafsu dalam diri manusia. Diantaranya yaitu ada nafsu amarah, lawwamah dan muthmainnah. Ada juga yang membagi nafsu ini menjadi tujuh jenis, bahkan ada yang 10 jenis.

Dari berbagai jenis nafsu ini, ada nafsu yang mengarahkan manusia pada tindakan jahat, merusak dan bejat yg disebut dengan nafsu amarah atau syahwat. Sedangkan nafsu pengendali yang mengarahkan manusia pada kebaikan, disebut dengan nafsu muthmainnah.

Adanya berbagai jenis nafsu ini menunjukkan bahwa dalam diri manusia sebenarnya merupakan medan pertarungan nafsu yang terjadi secara terus menerus. Jika pertarungan dimenangkan oleh nafsu amarah yang penuh syahwat, maka manusia akan menjadi jahat. Demikian sebaliknya, jika nafsu muthmainnah yang menang dan berhasil mengendalikan nafsu amarah atau syahwat, maka manusia akan menjadi baik dan beradab.

Untuk mengendalikan pertarungan antar nafsu yang ada dalam diri manusia, Allah SWT. memberikan akal pada manusia. Melalui akal ini, manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk serta mengenali berbagai nilai-nilai, etika dan norma yang ada dalam kehidupan. Melalui akal ini, manusia dipandu untuk bisa mengendalikan nafsu amarah yang penuh syahwat duniawi dan biologis.

Di dalam Al-Qur'an disebutkan, ada beberapa hal yang bisa memancing tumbuhnya nafsu syahwat, yaitu lawan jenis, anak dan harta benda. Disebutkan: dihiasi manusia dengan cinta "syahwat" terhadap perempuan (lawan jenis), anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda-kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik (QS. Ali Imran; 14).

Nabi Muhammad SAW. beberapa kali mengingatkan bahayanya nafsu syahwat. Sebab, manusia yg sudah dikuasai syahwat akan kehilangan sifat kemanusiaannya. Dia akan bersikap seperti hewan karena kehilangan akal sehat. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Ghozali: idza qaama dzakuruhu dzahabat nishfu aqluhu (ketika dzakar lelaki sudah berdiri, maka hilanglah sebagian akalnya).

Meski hanya menyebut berdirinya dzakar, namun peringatan Imam Al-Ghozali ini bisa dimaknai bahwa nafsu yang penuh dengan gejolak syahwat bisa menjebak manusia pada kehilangan akal. Sehingga, apa saja demi untuk memenuhi nafsu birahi dan syahwat, akan rela dilakukan. Jika sudah demikian, maka ajaran agama dilupakan dan larangan Tuhan diabaikan. Bahkan, Tuhanpun dipersekutukan.

Fenomena ini terlihat jelas pada orang-orang yang tega membunuh sesamanya, menebar teror dan ketakutan, mencaci maki dengan penuh kebencian, bahkan rela bunuh diri agar bisa secepatnya bertemu dengan bidadari supaya bisa segera untuk melampiaskan syahwatnya. Karena kehilangan akal, maka tanpa sadar, mereka sebenarnya telah mengabaikan Allah SWT. karena telah melalukan tindakan brutal yang merusak kehidupan demi surga dan bidadari.

Nafsu syahwat yang telah menutup akal dan nurani, membuat mereka tidak mampu menangkap cahaya kasih Allah SWT. yang penuh dengan rahmat dan welas asih pada sesama. Alih-alih menjadikan jihad sebagai upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil-'alamin, menyebarkan Islam dengan hikmah dan akhlakul karimah, mereka justru menjadikan jihad sebagai jalan pintas untuk melampiaskan hasrat biologis menikmati keindahan surga dan agar bisa secepatnya menumpahkan birahi dan syahwat mereka kepada 72 bidadari yang cantik-cantik.

Selain terhadap lawan jenis, bahaya nafsu syahwat juga terjadi terhadap harta dan kekuasaan. Manusia yang sudah dihinggapi syahwat berkuasa dan nafsu terhadap harta, akan gelap mata dan kehilangan akal sehat. Mereka akan melakukan apa saja demi harta dan kekuasaan. Mereka tega memanipulasi ayat, mengatas namakan Tuhan, bahkan menjual agama demi kuasa dan harta.

Pengertian menjual agama disini bukan saja bersikap murtad, keluar dari Islam, setelah mendapat sembako sebagaimana yang dituduhkan terhadap orang-orang miskin. Menggunakan simbol agama dan ayat-ayat suci untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan harta, sebenarnya juga merupakan bentuk menjual agama. Dan ini, biasanya justru dilakukan oleh mereka yang berpenampilan agamis dengan meneriakkan agama yang keras dan nyaring.

Memang tidak semua yang berpenampilan agamis dan berteriak lantang adalah orang yang menggunakan agama untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan nafsu serakah. Tapi, hampir bisa dipastikan orang-orang yang punya syahwat kekuasaan dan harta, tidak segan-segan menggunakan simbol agama untuk memenuhi nafsunya dengan berpenampilan agamis dan berteriak lantang tentang agama.

Jelas disini terlihat bahayanya nafsu syahwat, baik syahwat terhadap lawan jenis (terutama perempuan cantik dan bidadari) maupun kekuasaan dan harta. Nafsu syahwat bisa merubah manusia dari makhluk religius dan beradab menjadi makhluk biadab dengan daya rusak yang tinggi. Agama yang mestinya menjadi tuntunan dalam menegakkan nilai kemanusiaan dan pentunjuk dalam mengabdi pada Tuhan, oleh orang-orang yang sudah dikuasai syahwat, justru dijadikan sebagai alat perusak untuk sekedar memenuhi syahwat bersenggama dengan bidadari atau sekedar alat untuk memperoleh kekuasaan atau menumpuk harta.

Ketika jihad sudah dipakai untuk mengejar hasrat untuk memenuhi syahwat (biologis, kekuasaan dan harta) hingga menghilangkan akal sehat, maka sebenarnya inilah pelecehan dan penistaan terhadap agama yang sebenarnya. Ini sangat berbahaya. Sebab, ini sama saja dengan menjadikan agama sebagai racun dunia.

Agama tanpa akal sehat, kepekaan nurani dan spiritualitas yang penuh kearifan, maka akan bisa menjadi alat perusak dan pembunuh. Na'udzubiLlaah.


* Oleh: Al-Zastrouw Ngatawi.
Read More

Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari Untuk NU


Dalam salah satu maqolahnya, Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa “Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta keluarganya”.

Hal ini semestinya menjadi penyemangat kaum muslimin untuk menghidupkan dan memajukan NU. Salah satu diantara ikhtiar untuk memajukan NU adalah berdo'a demi kebaikan NU kedepan.

Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari mengijazahkan do'a sebagai berikut:

 دُعَاءُ حَضْرَةِ الشَّيْخِ كِيَاهِي حَاجِي مُحَمَّدْ هَاشِمْ أَشْعَرِي رَحِمَهُ الله

اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَا
اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧٧)”. وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)

أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Artinya : “Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama' dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan. Dan tuntunlah mereka ke jalan petunjuk-Mu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah jam’iyyah kami, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendak-Mu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧) ، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم:  ٣٧٧

“Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97). “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rizqi mereka berupa buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS Ibrahim: 37). Dan karuniakanlah mereka rizqi (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedholiman, ketidak-senonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa.”

Demikianlah doa ijazah dari Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang bisa diamalkan oleh segenap kaum muslim demi kemajuan NU. Semoga bermanfa'at.

* Dari KH. Khotib Umar, dari ayahnya (KH. Umar), dari KH. As’ad Syamsul Arifin, dari Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Read More

Ma’had Aly TBS Kudus Menerima Pendaftaran Santri Baru


Ma’had Aly merupakan perguruan tinggi keislaman yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab salaf.

Kemenag RI, selama dua tahun ini, telah meresmikan puluhan Ma’had Aly di seluruh Indonesia dengan tingkat Strata Satu (S1) dari berbagai macam program studi. Lulusan Ma’had Aly yang diakui Pemerintah setara dengan lulusan lembaga pendidikan tinggi agama dan umum dalam sistem pendidikan nasional, baik dalam pengakuan maupun status.

Bersamaan diresmikannya PAUD TBS pada acara harlah TBS Kudus yang ke 92, juga akan dibuka penerimaan santri baru Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, tahun akademik 2018/ 2019.

Ma’had Aly TBS Kudus menyelenggarakan satu Program Studi, yaitu Ilmu Falak. Sebab, Ma’had Aly di Indonesia belum ada yang menyelenggarakannya. Sementara itu, Madrasah TBS telah melahirkan maestro ilmu falak yang terkenal di Indonesia, seperti KH. Abdul Jalil, KH. Turaichan Adjhuri, KH. Noor Ahmad dan lain-lain.

Adapun Pendaftarannya, akan dibuka pada tanggal 01 Rajab–20 Syawal 1439 Hijriyah. Atau bertepatan dengan tanggal 19 Maret–04 Juli 2018 dalam penanggalan Masehi. Pendaftaran bisa dilakukan di kantor Ma’had Aly TBS, Gedung Madrasah TBS Selatan, Jl. KH. Turaichan Adjhuri, No. 23, pada jam 08.00–13.20 WIB.

Kontak person panitia penerimaan santri baru:
082324252051 (Kholilur Rohman).
087839280030 (Noor Aflah).


* Sumber: santrimenara.com
Read More

PCNU Mimika Donasi Buku di SDNU Limau Asri


muslimpribumi.com | Mimika - Derai hujan, tak mengurangi sedikitpun semangat murid-murid Sekolah Dasar NU Limau Asri, Mimika, Papua, untuk mensukseskan acara silaturrahim PCNU Mimika di sekolah mereka.

Dalam pembukaan, murid-murid melantunan Sholawat An-Nahdliyyah. Suara emas vokalis putri yang melantunkan sholawat itu, membuat suasana khidmat.

Wakil Kepala SDNU tersebut, ustadzah Waqiah, menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas kesediaan PCNU Mimika untuk mengunjungi sekolahnya.

“Semoga, ke depan, silaturrahim ini bisa istiqomah dilakukan,” harap Waqiah.

Acara yang sudah berlangsung pekan lalu itu, diawali dengan perkenalan para guru dan para pengurus PCNU yang kemudian dilanjutkan dengan informasi terkini tentang PCNU Mimika.

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, mengakui bahwa komunikasi dan silaturrahmi ini baru sekali dilakukan.

"Terus terang, ke sekolah ini ya baru sekarang ini. Namun, ini saya harap bukan yang terakhir. Tapi awal yang dilanjutkan dengan jadwal pertemuan rutinan," terangnya.

Menurutnya, saat ini orang Mimika takut menyatakan ke-NU-annya dan lebih memilih untuk tidak ber-NU-NU-an. Mereka berdalih, yang penting Islam. Namun, justru pilihan ini membuat kelompok baru yang bernama "tidak NU-NU-an".

"Sebagai manusia, jelas tidak bisa tidak berkelompok. Sadar atau tidak, namun kita pilih kelompoknya para wali. Para ulama' yang sanadnya hingga Rasulullah SAW. Dan itu ada di NU," jelasnya.

Salah seorang pengajar, ustadz Hasyim, mengajak untuk mengikuti Rasulullah SAW. agar selamat dengan melalui sahabat, tabi'in, tabiut-tabi'in, murid murid tabiut-tabi'in hingga para ulama'nya NU.

"NU itu sudah jelas siapa sopirnya. Yakni KH. Hasyim Asy'ari," ungkap ustadz Hasyim.

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan donasi buku dari PCNU Mimika untuk SDNU tersebut. Buku-buku tersebut tediri dari buku-buku keislaman, sejarah, tajwid, Al-Qur'an dan lain-lain. Selain itu, PCNU Mimika juga memberikan apresiasi kepada para guru atas dedikasinya selama ini.


* Sumber: nu.or.id
Read More