Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


rumahnahdliyyin.com - Ketika transit di Timika, dari Sorong hendak ke Asmat dua minggu-an lalu, ada dua kardus besar dan satu plastik besar dari seseorang yang dititipkan pada saya. Isinya berupa pakaian baru dan beberapa pakaian layak pakai.

"Walau ini yang bisa diberikan, semoga bermanfaat," ucap seseorang itu.
Karena kebanyakan pakaiannya adalah pakaian muslim anak-anak, maka saya mengusulkan bagaimana jika saya salurkan di masyarakat Kokoda di Sorong saja yang notabene, menurut saya, lebih membutuhkan. Beliaupun tidak keberatan. Bukan apa-apa. Sebab, selama saya berada di distrik Agats, Asmat, dua tahun yang lalu, saya tahu bahwa kebanyakan anak-anak muslim di distrik tujuan saya kali ini adalah anak-anak pendatang yang bisa dikatakan lahir dari para orang tua yang taraf ekonominya tergolong menengah ke atas.

Ada memang kaum muslim di Asmat yang kondisinya tak jauh beda dengan kaum muslim Kokoda di Sorong. Namun, untuk mencapai ke tempat mereka tinggal, harus menyewa longboat atau speed. Dan itu tidaklah murah.

Syukur alhamduliLlâh, Allah Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak membiarkan pakaian-pakaian yang sedari awal memang ingin diberikan pada anak-anak Asmat ini beralih ke yang lain. Berawal dari silaturrahmi saya di suatu sore dikediaman sekretaris PCNU Kab. Asmat, ustadz Hafidz, akhirnya pagi tadi saya bisa menyalurkan pakaian-pakaian itu ke anak-anak muslim Asmat.

Kampung Peer, itulah nama kampung yang saya tuju. Meski masih termasuk distrik Agats, namun untuk menuju kampung ini saya harus menempuhnya dengan longboat kuranglebih 30 menitan. Begitu sandar di pinggir, rombongan saya langsung diarahkan ke Jew (rumah bujang). Sebuah bangunan memanjang sebagai tempat berkumpulnya masyarakat. Juga dipakai untuk tidur pula.

Di kampung Peer ini, ada puluhan muslim. Termasuk pak Sholeh yang pernah bertemu dan ngobrol dengan saya di kampung Syuru beberapa waktu lalu. Kendati banyak muslim, namun belum ada bangunan musholla maupun masjid di sini.

Suatu ketika, pernah di kampung ini ada muslim yang meninggal dunia. Beberapa warga pun datang ke Agats (kotanya maksudnya). Mereka bertanya, "bagaimana caranya mengurus orang muslim yang meninggal?" Demikianlah salah satu cerita yang saya dapat pagi ini mengenai kondisi saudara muslim kita di kampung Peer ini.

Berbeda dengan masyarakat suku Kokoda di Sorong, suku Asmat yang muslim di kampung Peer ini tidaklah muslim semenjak lahir. Bahkan, tidak sedikit yang dalam satu keluarga, agamanya berbeda karena baru memeluk Islam. Satu muslim, yang lain non-muslim. Satu non-muslim, yang lain muslim. Kendati demikian, mereka tetap guyub rukun. Inilah Indonesia.

Kendati demikian, sangat miris menyaksikan langsung kondisi beragama yang semacam ini. Dan hal ini menambah panjang catatan saya mengenai daerah-daerah di Papua yang sangat urgent untuk segera ditanami seorang pengajar agama.

Untuk itu, dalam suasana hati yang demikian, saya mengajak para santri dan alumni pesantren untuk tidak berpangku tangan. Terutama, dalam hal ini, tentu saja pihak Kementerian Agama. Dan akhirnya, semoga ada yang tergerak hatinya.

Dan bagi yang ingin menyisihkan penghasilannya untuk turut meluaskan dan membesarkan program pengiriman santri ke Papua, bisa lewat nomor rekening 070.00.0664.8054 Bank Mandiri a/n. Yayasan Dakwah Islam Aswaja dan mohon ditambahi angka "99" (misal. 100.099) serta konfirmasi pengiriman/transfer donasi ke nomor HP/WA 0815.2609.0074 (Ust. Dodik Ariyanto ).

Akhirnya, semoga kepedulian kita semua kepada sesama ini diberi imbalan yang lebih baik dan lebih banyak oleh Gusti Allah SWT., baik selama di dunia ini maupun di akhirat kelak. Amin.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *