KH. Sa'id Aqil Kuliah Umum di Uinsa


muslimpribumi.com | Surabaya - Ketua Umum PBNU yang juga Guru Besar H.C. UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengisi kuliah umum di UIN Sunan Ampel (UINSA), Surabaya, Senin kemarin. Kuliah umum yang membahas tema "Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global" ini, dihadiri oleh ratusan mahasiswa Pasca-Sarjana UINSA.

Acara ini dibuka oleh Direktur Pasca-Sarjana UINSA, Prof. DR. H. Husein Aziz, M.AG. Pada kesempatan membuka acara tersebut, ia menjelaskan alasan pengusungan tema dalam kuliah umum kali ini.

"Tema yang kita ambil adalah Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global. Tema ini kita ambil karena maraknya Radikalisme," kata Prof. Husein dalam sambutannya.

"Radikalisme yang ada di kampus itu karena kehausan ideologi. Orang haus itu akan minum apa saja yang disajikan meskipun basi. Nanti baru sadar setelahnya," lanjutnya.

Karena haus ideologi inilah, lanjut Prof. Husein Aziz, radikalisme ISIS pun akan dimasuki. Oleh karena itu, Islam Nusantara perlu kita sosialisasikan.

"Dengan adanya kuliah bertema Islam Nusantara ini, saya berharap dapat membangun paradigma kita dan masyarakat," pungkasnya.

Dalam kesempatan kuliah umum ini, KH. Said Aqil memaparkan sejarah, politik, budaya Timur Tengah dan perjuangan Rasulullah SAW. dalam menyatukan umat.

"Yang namanya umat yang dimaksud Nabi Muhammad yaitu umat secara keseluruhan. Baik muslim maupun non muslim, Rasulullah mengajak bersatu, konsolidasi. Bukan membenturkan antara umat muslim dan umat non-muslim," kata KH. Said Aqil dalam kuliah umumnya.

"Rasulullah tidak pernah mendirikan negara Islam. Yang didirikan Rasulullah adalah citizenship kewarganegaraan, yaitu Negara Madinah," lanjut kiai jebolan Ummul Qurro' ini.

“Islam Nusantara bukan madzhab. Bukan aliran. Tapi tipologi, mumayyizaat, khoshois,” terangnya.

Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. Melainkan Islam yang rohmatan lil-'alamin.

“Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlaq dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara. Mari, kita jadikan budaya sebagai infrastruktur agama. Kita jadikan Indonesia jadi kiblatnya budaya," kata kiai Said Aqil.

Ia pun memberi contoh, misalnya, sarung atau baju batik sebagai bentuk budaya. Sarung digunakan untuk sholat dan beribadah.

"Jangan dibalik. Agama untuk budaya, gamis untuk demo. Itu nggak bener," ucapnya yang disambut tawa para mahasiswa dan dosen

KH. Said Aqil menutup kuliahnya dengan mengajak para mahasiswa dan para intelektual untuk lebih mengedepankan persamaan bangsa. Selain itu, juga menyebutkan tantangan bangsa Indonesia selama ini.

"Tantangan kita ada empat: kedzoliman dalam berpolitik, kedzoliman dibidang ekonomi, kedzoliman dibidang moneter dan kedzoliman dibidang Ilmu," tutupnya. []

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *