Dari berbagai jenis nafsu ini, ada nafsu yang mengarahkan manusia pada tindakan jahat, merusak dan bejat yg disebut dengan nafsu amarah atau syahwat. Sedangkan nafsu pengendali yang mengarahkan manusia pada kebaikan, disebut dengan nafsu muthmainnah.
Adanya berbagai jenis nafsu ini menunjukkan bahwa dalam diri manusia sebenarnya merupakan medan pertarungan nafsu yang terjadi secara terus menerus. Jika pertarungan dimenangkan oleh nafsu amarah yang penuh syahwat, maka manusia akan menjadi jahat. Demikian sebaliknya, jika nafsu muthmainnah yang menang dan berhasil mengendalikan nafsu amarah atau syahwat, maka manusia akan menjadi baik dan beradab.
Untuk mengendalikan pertarungan antar nafsu yang ada dalam diri manusia, Allah SWT. memberikan akal pada manusia. Melalui akal ini, manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk serta mengenali berbagai nilai-nilai, etika dan norma yang ada dalam kehidupan. Melalui akal ini, manusia dipandu untuk bisa mengendalikan nafsu amarah yang penuh syahwat duniawi dan biologis.
Di dalam Al-Qur'an disebutkan, ada beberapa hal yang bisa memancing tumbuhnya nafsu syahwat, yaitu lawan jenis, anak dan harta benda. Disebutkan: dihiasi manusia dengan cinta "syahwat" terhadap perempuan (lawan jenis), anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda-kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik (QS. Ali Imran; 14).
Nabi Muhammad SAW. beberapa kali mengingatkan bahayanya nafsu syahwat. Sebab, manusia yg sudah dikuasai syahwat akan kehilangan sifat kemanusiaannya. Dia akan bersikap seperti hewan karena kehilangan akal sehat. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Ghozali: idza qaama dzakuruhu dzahabat nishfu aqluhu (ketika dzakar lelaki sudah berdiri, maka hilanglah sebagian akalnya).
Meski hanya menyebut berdirinya dzakar, namun peringatan Imam Al-Ghozali ini bisa dimaknai bahwa nafsu yang penuh dengan gejolak syahwat bisa menjebak manusia pada kehilangan akal. Sehingga, apa saja demi untuk memenuhi nafsu birahi dan syahwat, akan rela dilakukan. Jika sudah demikian, maka ajaran agama dilupakan dan larangan Tuhan diabaikan. Bahkan, Tuhanpun dipersekutukan.
Fenomena ini terlihat jelas pada orang-orang yang tega membunuh sesamanya, menebar teror dan ketakutan, mencaci maki dengan penuh kebencian, bahkan rela bunuh diri agar bisa secepatnya bertemu dengan bidadari supaya bisa segera untuk melampiaskan syahwatnya. Karena kehilangan akal, maka tanpa sadar, mereka sebenarnya telah mengabaikan Allah SWT. karena telah melalukan tindakan brutal yang merusak kehidupan demi surga dan bidadari.
Nafsu syahwat yang telah menutup akal dan nurani, membuat mereka tidak mampu menangkap cahaya kasih Allah SWT. yang penuh dengan rahmat dan welas asih pada sesama. Alih-alih menjadikan jihad sebagai upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil-'alamin, menyebarkan Islam dengan hikmah dan akhlakul karimah, mereka justru menjadikan jihad sebagai jalan pintas untuk melampiaskan hasrat biologis menikmati keindahan surga dan agar bisa secepatnya menumpahkan birahi dan syahwat mereka kepada 72 bidadari yang cantik-cantik.
Selain terhadap lawan jenis, bahaya nafsu syahwat juga terjadi terhadap harta dan kekuasaan. Manusia yang sudah dihinggapi syahwat berkuasa dan nafsu terhadap harta, akan gelap mata dan kehilangan akal sehat. Mereka akan melakukan apa saja demi harta dan kekuasaan. Mereka tega memanipulasi ayat, mengatas namakan Tuhan, bahkan menjual agama demi kuasa dan harta.
Pengertian menjual agama disini bukan saja bersikap murtad, keluar dari Islam, setelah mendapat sembako sebagaimana yang dituduhkan terhadap orang-orang miskin. Menggunakan simbol agama dan ayat-ayat suci untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan harta, sebenarnya juga merupakan bentuk menjual agama. Dan ini, biasanya justru dilakukan oleh mereka yang berpenampilan agamis dengan meneriakkan agama yang keras dan nyaring.
Memang tidak semua yang berpenampilan agamis dan berteriak lantang adalah orang yang menggunakan agama untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan nafsu serakah. Tapi, hampir bisa dipastikan orang-orang yang punya syahwat kekuasaan dan harta, tidak segan-segan menggunakan simbol agama untuk memenuhi nafsunya dengan berpenampilan agamis dan berteriak lantang tentang agama.
Jelas disini terlihat bahayanya nafsu syahwat, baik syahwat terhadap lawan jenis (terutama perempuan cantik dan bidadari) maupun kekuasaan dan harta. Nafsu syahwat bisa merubah manusia dari makhluk religius dan beradab menjadi makhluk biadab dengan daya rusak yang tinggi. Agama yang mestinya menjadi tuntunan dalam menegakkan nilai kemanusiaan dan pentunjuk dalam mengabdi pada Tuhan, oleh orang-orang yang sudah dikuasai syahwat, justru dijadikan sebagai alat perusak untuk sekedar memenuhi syahwat bersenggama dengan bidadari atau sekedar alat untuk memperoleh kekuasaan atau menumpuk harta.
Ketika jihad sudah dipakai untuk mengejar hasrat untuk memenuhi syahwat (biologis, kekuasaan dan harta) hingga menghilangkan akal sehat, maka sebenarnya inilah pelecehan dan penistaan terhadap agama yang sebenarnya. Ini sangat berbahaya. Sebab, ini sama saja dengan menjadikan agama sebagai racun dunia.
Agama tanpa akal sehat, kepekaan nurani dan spiritualitas yang penuh kearifan, maka akan bisa menjadi alat perusak dan pembunuh. Na'udzubiLlaah.
* Oleh: Al-Zastrouw Ngatawi.
