Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam bermedia sosial. Hal itu diungkapkannya pada Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, dalam agenda acara "Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber: Menuju Medsosul Karimah" di Masjid PBNU, Jakarta Pusat.

"Sekarang ini, yang penting bagi kita semua itu kecerdasan bermedia sosial. Agar Indonesia tetap tenang dan damai. Tidak terusik dari kekisruhan di media sosial. Kita harus lawan kebencian. Kita bangun algoritme kebersamaan," paparnya.

Pada acara ini, hadir pula Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais 'Aam PBNU), KH. Said Asrori (Syuriah PBNU), Kombes Mulya (Polri), Suwadi D. Pranoto (Wasekjen PBNU), KH. Aizzudin Abdurrahman (Ketua PBNU), Sabrang Damar Mowopanuluh (Noe Letto), KH. Atholillah Habib (Waketum Pagar Nusa) dan Hasanuddin Wahid (Sekum Pagar Nusa).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, dalam kesempatan ini mengajak warga Nahdliyyin dan semua warga Indonesia untuk cerdas dalam bermedia sosial. Beberapa negara Timur Tengah yang telah mengalami krisis dan konflik pun di sebutkan sebagai pembelajaran.

Baca Juga:
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol
Ppagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

"Kita lihat bagaimana perpecahan yang terjadi di Timur Tengah. Dari Syiria, Yaman, Libia dan beberapa negara di sekitarnya. Sebagian besar, diawali dengan perdebatan yang tak kunjung henti di media sosial. Ini harus kita sadari bersama," ungkap kiai Sa'id.

Lebih lanjut, kiai Sa'id mengajak umat muslim dan warga Indonesia untuk melawan kebencian. Sebab, jelas sekali bahwa kebencian, apalagi menebarnya, adalah suatu hal yang dilarang oleh ajaran agama.

"Sudah jelas, ajaran agama melarang kita untuk menebar kebencian. Yang harus dilakukan, yakni membagi kebahagiaan, amal sholih dan akhlaqul karimah," jelas kiai Sa'id.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi, Sabrang Damar (Noe Letto), menganalisa bagaimana berkembangnya media sosial serta tertinggalnya pemikiran warga Indonesia. Di hadapan ratusan pendekar dan jama'ah Istighotsah, Sabrang mengingatkan agar kita semua sadar diri ketika bermedia sosial.

"Sekarang ini, revolusi Industri tahapan ketiga. Kita pernah dengar bitcoin dan beberapa inovasi digital. Tapi, sekarang ini, warga Indonesia masih terpaku pada perdebatan yang riuh di media sosial," papar Sabrang.

"Kita harus lihat, bagaimana media sosial itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Media sosial dirancang hampir sama dengan narkoba, agar addict (kecanduan). Medsos dicipta sedemikian rupa, agar pengguna kecanduan. Nah, ini yang harus kita pahami," imbuh Sabrang Noe Letto agak lebih rinci.

"Jangan seperti anak kecil yang berkelahi dengan anak kecil. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pawang yang mampu memayungi perdebatan-perdebatan yang ada," ucapnya kemudian.

Baca Juga:
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Sedangkan Suwadi D. Pranoto, pakar geostrategi, menyampaikan pentingnya menganalisa skenario dibalik penciptaan media sosial.

"Jelas, bahwa kita tidak hanya melihat media sosial, semata teknis teknologi digital. Kita harus melihat lebih mendalam. Aspek filosofis dan strategis dibalik itu," kata Suwadi yang akrab disapa dengan Cak Su ini.

Pada masa khidmah kepengurusan tahun 2017-2022, Pagar Nusa dibawah komando Nabil Haroen ini mengkonsolidasi diri dengan meluaskan jaringan dan meningkatkan kualitas pendekar. Sedangkan kegiatan Istighotsah dan Kajian yang diselenggarakan secara rutin tiap bulannya di Masjid PBNU ini merupakan ajang silaturrahmi kebangsaan dan menguatkan ukhuwwah Islamiyyah. []
Read More

Pagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab


rumahnahdliyyin.com, Temanggung - Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Temanggung periode tahun 2017-2022 menyelenggarakan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018.

Muskercab yang diselengggarakan di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Tuksongo, Pringsurat, Temanggung, ini merupakan salah satu permusyawaratan tertinggi ditingkat PC. PSNU Pagar Nusa.

Baca Juga:
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Jumlah peserta yang hadir dalam Muskercab kali ini ada sebanyak 57 orang. Jumlah itu terdiri dari peserta penuh dan peserta peninjau.

Peserta penuh merupakan Pengurus Cabang PSNU Pagar Nusa Temanggung. Sedangkan Peserta peninjau terdiri dari unsur pengurus Syuriyyah dan Tanfidziyah PCNU Temanggung, Dewan Khos Pagar Nusa yang diundang resmi oleh panitia, Dewan Khos PC. Pagar Nusa, utusan Padepokan Silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa (seperti LGBR, Gasmi, Ababil dan Cimande) serta para awak media massa.

Diantara tujuan diadakannya kegiatan Muskercab PC. PSNU Pagar Nusa ini yaitu:
  1. Mengevaluasi pelaksanaan program kerja PC. PSNU serta sebagai laporan berkala kepada PCNU.
  2. Membahas dan menetapkan kerangka kerja bidang-bidang strategis sesuai dengan perkembangan Pencak Silat NU di tengah masyarakat
  3. Membahas dan menetapkan kerangka kerja penyelesaian masalah-masalah organisasi dan keanggotaan. 
Rangkaian acara ini dimulai dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh PCNU Temanggung, Dewan Khos dan PC. PSNU Pagar Nusa Temanggung, dan dilanjutkan dengan sidang pleno yang dibagi menjadi 3 komisi:
  • Komisi A, yaitu dengan agenda pembahasan dibidang advokasi dan hukum, komunikasi dan penguatan jaringan serta ketabiban.
  • Komisi B, yaitu diagendakan untuk sidang pengembangan seni bela diri, bidang wasit-juri dan bidang pasukan inti.
  • Komisi C, yaitu sidang dibidang penelitian dan pengembangan, baik pengembangan ekonomi kreatif maupun pengembangan organisasi dan keanggotaan.
Adapun beberapa hasil sidang pleno dari Muskercab kali ini yaitu:
  1. Pengurus Cabang segera merumuskan program kerja dan rencana strategis terkait dengan penguatan organisasi dan jaringan ke seluruh Anak Cabang (Kecamatan) se-Kab. Temanggung.
  2. Merekomendasikan kepada semua pangkalan dan padepokan silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa Temanggung supaya melakukan updating data keanggotaan yang selanjutnya untuk membuatkan KTA sekaligus diagendakan untuk pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) pada tahun ini.
  3. Membentuk tim ekonomi kreatif demi kelangsungan organisasi sebagai Badan Otonom NU yang mandiri dan mampu menjawab berbagai tantangan kegiatan berbasis manajemen yang profesional.
  4. Meningkatkan peran dan fungsi PSNU Pagar Nusa sebagai benteng ulama', benteng Nusa Bangsa dan Agama. Selain itu juga sebagai olah raga prestasi yang terjun di kancah Kejurkab, Kejurda dan Kejurnas, serta even-even POPDA, Kejurprov, PON, dll. 
Diakhir Muskercab, acara dilanjutkan dengan sidang paripurna untuk menetapkan hasil sidang pleno oleh ketua PC. PSNU Pagar Nusa, yaitu K. Dukut Sri Widayat, dan dilanjutkan dengan upacara penutupan pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018, sekitar pukul 15.00 Wib. []

(Eko Purwanto).
Read More

Khilafah Itu Institusi Politik, Bukan Agama


rumahnahdliyyin.com - Hanya mereka yang tidak memahami Al-Qur’an dan membaca sejarah Islam yang akan menyangkal judul di atas. Sebelum membahas dua sumber tersebut (Al-Qur’an dan sejarah Islam), perlu ditegaskan bahwa kegandrungan sebagian masyarakat muslim di Indonesia terhadap sistem Khilafah sebagai bentuk pemerintahan Islam merupakan fenomena baru.

Sejak awal, bahkan sebelum kemerdekaan, ide Khilafah itu sama sekali tidak menjadi pertimbangan kaum muslim. Dua tahun setelah Khilafah Utsmaniyyah dibubarkan pada 1924, kongres tentang Khilafah digelar di Kairo dan Jeddah, yang juga dihadiri oleh peserta dari Indonesia.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Seperti dituturkan oleh Prof. Hamka bahwa salah seorang peserta kongres tersebut adalah bapaknya sendiri. Dalam memoar mengenang orang tuanya, Prof. Hamka menulis buku yang berjudul Ajahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958).

“Peserta dari Indonesia sama sekali tidak antusias dengan sistem Khilafah,” demikian kata bapak Prof. Hamka yang ditulis dalam buku tersebut.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Peserta lain adalah Mohammad Natsir, seorang tokoh utama partai Islam Masyumi. Dalam bukunya yang berjudul Islam dan Kristen di Indonesia (1969), Natsir juga menyinggung keikutsertaannya dalam kongres Khilafah. Tapi dia tidak tertarik. Ia lebih memilih ide Negara Islam, ketimbang Khilafah.

Konsep Negara Islam yang ada dalam pikiran Natsir bukan teokrasi ala Khilafah. Ia meyakini betul bahwa Negara Islam itu tidak bertentangan dengan demokrasi. Makanya, dia mengatakan bahwa Negara Islam bukan teokrasi dan juga bukan sekuler, melainkan “Negara Demokrasi Islam”.

Baca Juga: Belajar Bernegara dari Sholat Jama'ah

Artinya, sejak awal kelahiran Republik ini, sistem Khilafah memang bukan alternatif. Baru belakangan saja kaum muslim di Indonesia telah dibodohi oleh propaganda bahwa Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Selain tidak sesuai dengan Al-Qur’an, propaganda itu juga bersifat ahistoris.

Khalifah Dalam Al-Qur’an dan Tafsir Awal

Kata khilafah berasal dari akar kata yang sama dengan khalifah, yakni kh-l-f. Dalam literatur politik Islam klasik, pemerintahan Khilafah dipimpin oleh seorang khalifah. Namun, kalau dirujuk ke dalam Al-Qur’an, kata khalifah itu tidak punya konotasi politik.

Baca Juga: Jubir HTI Dibungkam Justru Dengan Kitab Induknya

Dalam kisah penciptaan Nabi Adam AS., yang disebutkan dalam surat Al-Baqoroh, terdapat dialog antara Tuhan dengan malaikat terkait penciptaan seorang khalifah. Ketika Allah SWT. berfirman kepada malaikat: "Saya akan menciptakan seorang khalifah di atas bumi." Respons malaikat, “Akankah Engkau menciptakan di atas bumi seseorang yang akan melakukan kerusakan?” (QS. Al-Baqoroh: 30).

Jelas sekali bahwa Al-Qur’an tidak menggunakan istilah khalifah dalam pengertian pemimpin politik. Menarik untuk disimak, bagaimana kata khalifah dipahami dalam tradisi tafsir awal.

Baca Juga: Azyumardi Azra: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud

Prof. Wadad Al-Qadi dari Universitas Chicago, AS, melakukan studi mendalam tentang penafsiran khalifah di kalangan para mufassir muslim awal. Terutama pada zaman pra-Thobari (w. 310/922). Kenapa literatur tafsir yang dipilih adalah karya-karya sebelum zaman Thobari? Sebab, hidup imam Thobari cukup belakangan dalam rentang waktu penggunaan kata khalifah yang berkonotasi sebagai pemimpin politik.

Dalam sumber-sumber yang dapat dipercaya, kata khalifah disematkan kepada pemimpin politik itu baru terjadi pada zaman dinasti Umayyah, sebagaimana akan didiskusikan di bagian akhir tulisan ini.

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah HTI

Maka, fokus kajian Prof. Qadi ialah tafsir-tafsir yang ditulis atau diproduksi pada zaman dinasti Umayyah yang berkuasa antara tahun 661-750. Kesimpulan Qadi sangat menarik: betapa penggunaan kata khalifah sebagai pemimpin politik juga terdeteksi dalam sebagian tafsir yang diproduksi pada akhir pemerintahan dinasti Umayyah dan awal pemerintahan dinasti Abbasiyyah. Sementara dalam tafsir-tafsir yang lebih awal, kata khalifah dimaknai tanpa konotasi politik apa pun.

Akar kata kh-l-f bisa bermakna “menggantikan”, “orang yang datang setelah yang lain”. Para mufassir kebingungan juga bagaimana memahami kata khalifah Allah: "menggantikan Allah"? Tapi, pertanyaan yang lebih subtil ialah: Kenapa manusia begitu mulia sehingga dijadikan khalifah di atas bumi?

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Terkait pertanyaan itu, dua alternatif jawaban, yang berkorespondensi dengan kronologi penggunaan istilah khalifah secara politik, diajukan. Dalam tafsir yang ditulis pada awal masa dinasti Umayyah, ketika kata khalifah belum digunakan sebagai gelar pemimpin politik, alasan yang diajukan adalah karena manusia punya kemampuan untuk mengelola atau mengembangkan sumber daya alam. Sedangkan pada paruh akhir zaman dinasti Umayyah, manusia disebut sebagai khalifah karena kemampuannya untuk memimpin.

Khilafah Sebagai Institusi Politik

Dari penelusuran penafsiran khalifah dalam literatur tafsir awal, tampak adanya pergeseran dalam pemaknaan kata khalifah. Ini juga bukti nyata bahwa tafsir kontekstual itu tak terhindarkan. Sebab, tak ada pemahaman yang lahir di ruang hampa. Tapi, ini persoalan lain yang akan saya diskusikan dalam tulisan lain. Cukup dikatakan di sini bahwa praktik politik juga mempengaruhi corak penafsiran Al-Qur’an.

Baca Juga: Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah

Dalam buku-buku sejarah Islam, kata khalifah itu disematkan kepada pemimpin politik pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Empat khalifah pertama disebut khulafa’ rosyidun (para khalifah yang baik). Tapi, sesungguhnya kita tidak punya bukti dokumenter yang ditulis pada zaman khulafa’ rosyidun yang menunjukkan bahwa mereka memang disebut khalifah pada zamannya. Tampaknya, penyebutan mereka sebagai khulafa’ (bentuk jamak dari kata khalifah) lebih merupakan proyeksi ke belakang yang dilakukan oleh para penulis muslim ketika di zaman itu pemimpin politik sudah disebut sebagai khalifah.

Sebagaimana kita ketahui, kitab-kitab yang menyebut Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali sebagai khulafa’, itu ditulis pada zaman dinasti Abbasiyyah. Barangkali Abdul Malik bin Marwan, pemimpin kelima dari dinasti Umayyah, yang pertama kali mengklaim diri dengan sebutan sebagai khalifah. Ini terbukti dari mata uang koin yang dikeluarkan oleh Abdul Malik.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Khalifah dinasti Umayyah ini melakukan reformasi mata uang dan mencetak koin dalam beberapa versi. Dari yang semula mengadopsi mata uang Persia, hingga akhirnya mengeluarkan koin dengan gambar dirinya yang disertai dengan tulisan di bagian pinggir: Khalifah Allah.

Sebelum itu, para pemimpin kaum muslim disebut dengan amirul mu’minin (pemimpin kaum beriman). Apa yang dilakukan oleh Abdul Malik itu tidak mengagetkan dan sejalan dengan proyek “Islamisasi” dan “Arabisasi” yang gencar dilakukan di zamannya. Kontribusi khalifah Abdul Malik bagi reformasi Islam sebagaimana kita saksikan sekarang ini, sangatlah besar. Kata khalifah dan khilafah pun menjadi kosa kata politik yang terwariskan darinya hingga saat ini.

Baca Juga: Buya Syafi'i Maarif: Lawan Orang yang Memperalat Agama

Namun demikian, Khilafah Umayyah justru dianggap tidak cukup Islami oleh dinasti yang menggulingkannya, yaitu Khilafah Abbasiyyah. Revolusi Abbasiyyah melibatkan beragam intrik politik yang kotor, manipulasi dan pembodohan massal yang mungkin tak ada bandingannya dalam sejarah. Dan juga pertumpahan darah.

Namun, alih-alih mengembalikan Khilafah ke jalur yang diajarkan oleh empat khalifah pertama, para pemimpin dinasti Abbasiyyah justru mengadopsi sistem pemerintahan dari Sasanid Persia. Misalnya, dalam struktur pemerintahan diperkenalkan jabatan Wazarah, yang mungkin selevel dengan kantor Perdana Menteri.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Para teoritisi politik muslim sepakat bahwa sistem Wizarah itu baru muncul pada zaman dinasti Abbasiyyah dan dipinjam dari Persia. Maka, penulis teori politik Islam, seperti Al-Mawardi atau Abu Ya’la, mencoba merumuskan tugas-tugas wazir terkait urusan tata kelola negara supaya tidak berbenturan dengan otoritas khalifah.

Pengadopsian model pemerintahan Persia ini tidak mengagetkan. Sebab, banyak penasihat khalifah berasal dari birokrat Persia, seperti Ibnu Muqaffa atau Nizam Al-Mulk. Dan pengadopsian ini wajar saja karena Khilafah memang institusi politik. Bukan agama.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Bukan saja sistem Khilafah itu tidak termasuk rukun Islam dan rukun Iman, namun juga tidak ditemukan dalam Al-Qur’an atau praktik Nabi SAW. Sejarah juga membuktikan bahwa Khilafah itu produk politik (dan sudah terbukti gagal). Jadi, tolong jangan identikkan Khilafah dengan Islam. []


* Oleh: Mun'im Sirry, Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA.

** Tulisan ini diambil dari geotimes.co.id
Read More

Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya


muslimpribumi.com | Surabaya - Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH. Ahmad Mustofa Bisri, Senin malam kemarin, 5 Maret 2018, didaulat menjadi salah satu narasumber dalam program Kemenag terbaru dan yang tampil perdana di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Dalam acara yang bertajuk Mengaji Indonesia, kiai yang akrab dengan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini menyatakan bahwa orang beragama dengan semangat yang berlebihan, namun tanpa mengaji itu, akan menjadi masalah. Jadi, apapun harus mengaji.

“Semangat berlebihan dalam agama yang tanpa diimbangi pemahaman mendalam terhadap agama, akan jadi masalah,” ujar Gus Mus pada ribuan hadirin malam kemarin itu.

Baca Juga:
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW., Gus Mus mengingatkan bahwa mengaji itu dimulai semenjak dari lahir hingga liang lahat. Dan boleh berhenti sekolah, tapi tidak boleh berhenti belajar.

Selain itu, kiai yang juga dikenal sebagai budayawan ini juga menyampaikan kritiknya yang kerap digaungkannya dimana-mana bahwa sejauh ini kita tidak mendidik, tapi hanya mengajar.

Dalam acara yang dipandu oleh Menteri Agama sendiri itu, Gus Mus menjadi narasumber bersama dengan Rosianna Silalahi (presenter senio) dan Abdul A'la (rektor UIN Sunan Ampel Surabaya). [] (Ed. Asb)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Berbagi Tugas Menjaga Indonesia


muslimpribumi.com | Surabaya - Ribuan masyarakat Kota Surabaya dan para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya, tumpah ruah di halaman kampus untuk mengikuti dan menyimak Mengaji Indonesia atau Mengasah Jati Diri Indonesia.

Mengaji Indonesia merupakan salah satu program terbaru Kemenag yang untuk kali perdananya digelar di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Tampil sebagai host yaitu Menteri Agama sendiri, Lukman Hakim Saifuddin. Hadir juga dalam acara ini yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Rosianna Silalahi (presenter senior) dan Abdul A'la (rektor UIN Surabaya).

Tema Mengaji Indonesia perdana ini mengusung tema "Islam Indonesia: Penebar Kedamaian". Dengan diiringi lantunan sholawat dari tim UIN Sunan Ampel, Surabaya, Mengaji Indonesia diawali dengan deru ribuan hadirin yang ikut bersholawat.

Acara yang digelar lesehan ini merupakan salah satu program utama Kemenag terkait mempromosikan Islam yang damai dan moderat.

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, juga didapuk menjadi nara sumber. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, ini menyampaikan bahwa kita itu dari berbagai manusia yang mempunyai kedudukan berbeda-beda. Permasalahan-permasalahan tentang menjaga ke-Indonesia-an yang bermacam, menjaganya juga berbeda-beda.

“Ada persoalan-persoalan di masyarakat kita, paling saya hanya mampu ngomong atau menulis. Pemerintah berbeda, atau lain dengan saya. Kalau saya menghimbau, itu pantas. Tapi kalau pemerintah menghimbau, itu kurang pantas. (pemerintah) bisa melaksanakan, mempunyai wewenang,” jelas Gus Mus.

“(menangani ) persoalan-persoalan ini, pemerintah harus di depan. Karena yang mempunyai tanggung jawab melayani umat ini, hanya pemerintah. Jadi, soal halal haram, diskriminasi dan lainnya, kalau sekedar pak rektor, apalagi saya, itu tidak bisa,” lanjut Gus Mus kemudian.

Menurut Gus Mus, pemerintah harus tegas. Karena ini negara hukum, maka harus taat hukum, siapapun harus taat hukum.

“Jadi, harus ada yang langsung melakukan eksekusi karena memiliki wewenang. Ada yang mengimbau. Dan semuanya bareng-bareng mendandani rumah kita,” tambah Gus Mus lagi.

Dengan demikian, lanjut Gus Mus, kita saling mendukung untuk kepentingan Indonesia ini. Dalam rumah ini, tentu saja berbeda-beda, isinya macam-macam. Intinya sudah diajarkan agama, yaitu dengan rohmatan atau kasih sayang.

“Asal kita mendahulukan kasih sayang, kita tidak hanya akan masuk surga, tapi kita sudah di surga itu sendiri,” tandas Gus Mus. []
(Ed. Asb)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana


muslimpribumi.com | Surabaya - Halaman luas gedung Twin Towers Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, kemarin malam, 5 Maret 2018, ditumpahi oleh ribuan masyarakat Surabaya dan para mahasiswa. Dengan antusias, mereka mengikuti acara yang digelar oleh Kementerian Agama dalam program terbarunya, yaitu Mengaji Indonesia.

Seperti diberitakan oleh kemenag.go.id, yang menjadi host dalam acara ini adalah Menteri Agama sendiri, yaitu Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Sedangkan diantara narasumbernya adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus.

Diawal-awal ketika ditanya oleh bapak Menteri Agama terkait Indonesia tempo dulu dan sekarang, Gus Mus menjelaskan bahwa Indonesia ini lemah lembut, maka harus dijaga dan dirawat. Gus Mus juga mengatakan bahwa tidak bisa kita menyelesaikan masalah hanya dengan satu atau tiga hari. Menurutnya, sumber masalah adalah karena banyaknya diantara kita yang lebih mencintai dunia.

“Selama 32 tahun (masa orde baru) itu, kita dididik mencintai dunia berlebihan,” tuturnya.

Gus Mus mengungkapkan juga bahwasanya kalau kita tidak bisa zuhud seperti pendahulu kita, minimal kita hidup sederhana. Minimal itu yang kita gaungkan.

Ia pun berkisah saat masih belajar di Al-Azhar, Mesir, dan menggunakan peci hitam. Banyak yang ingin peci itu. Dan ia pun bangga karena punya tanda ke-Indonesia-an.

Indonesia dikenal dunia sebagai masyarakat ramah. Ia pun menceritakan bahwa dahulu, di Mesir, ada pasukan penjaga perdamaian yang namanya Garuda yang dikenal ramah. Dan masyarakat Mesir mengingat keramah tamahan pasukan Garuda penjaga perdamaian tersebut.

Selain Gus Mus, narasumber lainnya dalam acara ini yaitu Rosianna Silalahi (presenter senior) dan Abdul A'la (rektor UIN Surabaya). []
(Ed. Asb)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


rumahnahdliyyin.com - Ketika transit di Timika, dari Sorong hendak ke Asmat dua minggu-an lalu, ada dua kardus besar dan satu plastik besar dari seseorang yang dititipkan pada saya. Isinya berupa pakaian baru dan beberapa pakaian layak pakai.

"Walau ini yang bisa diberikan, semoga bermanfaat," ucap seseorang itu.
Karena kebanyakan pakaiannya adalah pakaian muslim anak-anak, maka saya mengusulkan bagaimana jika saya salurkan di masyarakat Kokoda di Sorong saja yang notabene, menurut saya, lebih membutuhkan. Beliaupun tidak keberatan. Bukan apa-apa. Sebab, selama saya berada di distrik Agats, Asmat, dua tahun yang lalu, saya tahu bahwa kebanyakan anak-anak muslim di distrik tujuan saya kali ini adalah anak-anak pendatang yang bisa dikatakan lahir dari para orang tua yang taraf ekonominya tergolong menengah ke atas.

Ada memang kaum muslim di Asmat yang kondisinya tak jauh beda dengan kaum muslim Kokoda di Sorong. Namun, untuk mencapai ke tempat mereka tinggal, harus menyewa longboat atau speed. Dan itu tidaklah murah.

Syukur alhamduliLlâh, Allah Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak membiarkan pakaian-pakaian yang sedari awal memang ingin diberikan pada anak-anak Asmat ini beralih ke yang lain. Berawal dari silaturrahmi saya di suatu sore dikediaman sekretaris PCNU Kab. Asmat, ustadz Hafidz, akhirnya pagi tadi saya bisa menyalurkan pakaian-pakaian itu ke anak-anak muslim Asmat.

Kampung Peer, itulah nama kampung yang saya tuju. Meski masih termasuk distrik Agats, namun untuk menuju kampung ini saya harus menempuhnya dengan longboat kuranglebih 30 menitan. Begitu sandar di pinggir, rombongan saya langsung diarahkan ke Jew (rumah bujang). Sebuah bangunan memanjang sebagai tempat berkumpulnya masyarakat. Juga dipakai untuk tidur pula.

Di kampung Peer ini, ada puluhan muslim. Termasuk pak Sholeh yang pernah bertemu dan ngobrol dengan saya di kampung Syuru beberapa waktu lalu. Kendati banyak muslim, namun belum ada bangunan musholla maupun masjid di sini.

Suatu ketika, pernah di kampung ini ada muslim yang meninggal dunia. Beberapa warga pun datang ke Agats (kotanya maksudnya). Mereka bertanya, "bagaimana caranya mengurus orang muslim yang meninggal?" Demikianlah salah satu cerita yang saya dapat pagi ini mengenai kondisi saudara muslim kita di kampung Peer ini.

Berbeda dengan masyarakat suku Kokoda di Sorong, suku Asmat yang muslim di kampung Peer ini tidaklah muslim semenjak lahir. Bahkan, tidak sedikit yang dalam satu keluarga, agamanya berbeda karena baru memeluk Islam. Satu muslim, yang lain non-muslim. Satu non-muslim, yang lain muslim. Kendati demikian, mereka tetap guyub rukun. Inilah Indonesia.

Kendati demikian, sangat miris menyaksikan langsung kondisi beragama yang semacam ini. Dan hal ini menambah panjang catatan saya mengenai daerah-daerah di Papua yang sangat urgent untuk segera ditanami seorang pengajar agama.

Untuk itu, dalam suasana hati yang demikian, saya mengajak para santri dan alumni pesantren untuk tidak berpangku tangan. Terutama, dalam hal ini, tentu saja pihak Kementerian Agama. Dan akhirnya, semoga ada yang tergerak hatinya.

Dan bagi yang ingin menyisihkan penghasilannya untuk turut meluaskan dan membesarkan program pengiriman santri ke Papua, bisa lewat nomor rekening 070.00.0664.8054 Bank Mandiri a/n. Yayasan Dakwah Islam Aswaja dan mohon ditambahi angka "99" (misal. 100.099) serta konfirmasi pengiriman/transfer donasi ke nomor HP/WA 0815.2609.0074 (Ust. Dodik Ariyanto ).

Akhirnya, semoga kepedulian kita semua kepada sesama ini diberi imbalan yang lebih baik dan lebih banyak oleh Gusti Allah SWT., baik selama di dunia ini maupun di akhirat kelak. Amin.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Silaturrahim Kiai Sa'id di Ponpes Nurul Cholil Bangkalan


muslimpribumi.com | Bangkalan - Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj, melakukan kunjungan silaturrahmi ke Ponpes Nurul Cholil, Bangkalan, Madura. Selain mengisi pengajian, kedatangan beliau juga untuk memberikan penguatan NU Madura.

Sebagai tanda dimulainya acara, Musytasyar PBNU, cicit Syaichona Cholil Bangkalan, KH. Zubair Muntasor, membuka acara tersebut dengan membacakan surah Al-Fatihah. Dan mewakili tuan rumah, KH. Ahmad Faqod Zubair, menyampaikan sambutannya.

"Saya mewakili keluarga besar Nurul Cholil dan PCNU Bangkalan mengucapkan terima kasih kepada para hadirin, khususnya kepada Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj. Saya yakin, ini bukan pertemuan yang terakhir. Tapi kita akan ada pertemuan selanjutnya. Kedatangan ini memang yang pertamakalinya. Tapi akan ada pertemuan selanjutnya," katanya.

Beliau juga menyatakan bahwa PCNU Bangkalan siap menjalankan dan menerima keputusan PBNU untuk kemaslahatan Madura.

"NU Madura masih solid dan loyal pada hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang. Mendukung kepemimpinan kiai Sa'id dan kiai Ma'ruf Amin. Kami siap menerima dan mengawal keputusan PBNU," tambahnya.

"Meminta untuk sering hadir ke Madura dan kami siap mengawal dan mengamankan kehadirannya di Madura," pungkasnya

Sementara itu, usai memberikan tausiyyah  tentang Kebangsaan dan Islam Nusantara, kiai Sa'id menyampaikan kepada wartawan terkait keberadaan Madura dalam peranannya mengawal NU dan NKRI.

"Bangkalan Madura masih kita andalkan dalam membela Ahlussunah wal Jama'ah dan NKRI," kata kiai Sa'id saat diwawancarai wartawan.

"Jangan khawatir. NU Bangkalan Madura masih punya prinsip tawassuth dan tasamuh, moderat dan toleran," sambungnya.

Dalam menghadapi tahun politik dimana sebentar lagi akan ada pemilihan Gubernur Jawa Timur, kiai Sa'id berpesan supaya tetap menjaga persatuan dan jangan ada permusuhan

"Kita memasuki tahun politik. Mari kita sukseskan, baik itu pilkada, pilpres dan khususnya pilgub Jawa Timur ini. Jangan sampai kita terpecah belah. Kita jaga persatuan demi keamanan. Karena perpecahan, yang rugi adalah kita sendiri," pungkasnya. []
Read More

KH. Sa'id Aqil Kuliah Umum di Uinsa


muslimpribumi.com | Surabaya - Ketua Umum PBNU yang juga Guru Besar H.C. UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengisi kuliah umum di UIN Sunan Ampel (UINSA), Surabaya, Senin kemarin. Kuliah umum yang membahas tema "Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global" ini, dihadiri oleh ratusan mahasiswa Pasca-Sarjana UINSA.

Acara ini dibuka oleh Direktur Pasca-Sarjana UINSA, Prof. DR. H. Husein Aziz, M.AG. Pada kesempatan membuka acara tersebut, ia menjelaskan alasan pengusungan tema dalam kuliah umum kali ini.

"Tema yang kita ambil adalah Islam Nusantara, Radikalisme dan Geo Politik Global. Tema ini kita ambil karena maraknya Radikalisme," kata Prof. Husein dalam sambutannya.

"Radikalisme yang ada di kampus itu karena kehausan ideologi. Orang haus itu akan minum apa saja yang disajikan meskipun basi. Nanti baru sadar setelahnya," lanjutnya.

Karena haus ideologi inilah, lanjut Prof. Husein Aziz, radikalisme ISIS pun akan dimasuki. Oleh karena itu, Islam Nusantara perlu kita sosialisasikan.

"Dengan adanya kuliah bertema Islam Nusantara ini, saya berharap dapat membangun paradigma kita dan masyarakat," pungkasnya.

Dalam kesempatan kuliah umum ini, KH. Said Aqil memaparkan sejarah, politik, budaya Timur Tengah dan perjuangan Rasulullah SAW. dalam menyatukan umat.

"Yang namanya umat yang dimaksud Nabi Muhammad yaitu umat secara keseluruhan. Baik muslim maupun non muslim, Rasulullah mengajak bersatu, konsolidasi. Bukan membenturkan antara umat muslim dan umat non-muslim," kata KH. Said Aqil dalam kuliah umumnya.

"Rasulullah tidak pernah mendirikan negara Islam. Yang didirikan Rasulullah adalah citizenship kewarganegaraan, yaitu Negara Madinah," lanjut kiai jebolan Ummul Qurro' ini.

“Islam Nusantara bukan madzhab. Bukan aliran. Tapi tipologi, mumayyizaat, khoshois,” terangnya.

Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. Melainkan Islam yang rohmatan lil-'alamin.

“Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlaq dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara. Mari, kita jadikan budaya sebagai infrastruktur agama. Kita jadikan Indonesia jadi kiblatnya budaya," kata kiai Said Aqil.

Ia pun memberi contoh, misalnya, sarung atau baju batik sebagai bentuk budaya. Sarung digunakan untuk sholat dan beribadah.

"Jangan dibalik. Agama untuk budaya, gamis untuk demo. Itu nggak bener," ucapnya yang disambut tawa para mahasiswa dan dosen

KH. Said Aqil menutup kuliahnya dengan mengajak para mahasiswa dan para intelektual untuk lebih mengedepankan persamaan bangsa. Selain itu, juga menyebutkan tantangan bangsa Indonesia selama ini.

"Tantangan kita ada empat: kedzoliman dalam berpolitik, kedzoliman dibidang ekonomi, kedzoliman dibidang moneter dan kedzoliman dibidang Ilmu," tutupnya. []
Read More

LTN NU dan Lazisnu Lombok Tengah Terbentuk


Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lombok Tengah, resmi membentuk dua lembaga baru dibawah kepengurusan PCNU Lombok Tengah, yaitu Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Lombok Tengah dan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Lombok Tengah.

Bertempat di Kantor PCNU Lombok Tengah, pada Jum'at lalu (3 Maret 2018), PCNU memandatkan pada Ahmad Jumaili, S. Pd.I dan Lalu M. Syamsul Arifin, S. Pd.I sebagai Ketua dan Sekretaris LTN NU Lombok Tengah dan pada Hamdan El-Haq, S. Pd.I, M. P.d.I bersama Muhammad Fahmi, M. Pd sebagai Ketua dan Sekretaris Lazisnu Lombok Tengah periode Kepengurusan 2016-2021. Sedangkan untuk bendahara, LTN NU dipegang oleh Ahmad Pahrurrozi, S. Sos.I dan Lazisnu dipegang oleh Mukminah, M. Pd.

Ketua PCNU Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri, S.Ip, yang juga Wakil Bupati Lombok Tengah, berpesan supaya para pengurus yang telah dimandati untuk mengurusi kedua lembaga ini segera bekerja cepat untuk membentuk divisi-divisi yang dibutuhkan serta menyusun program kerja yang realistis dan mampu dikerjakan.

"LTN NU akan segera memprogramkan pembuatan website informasi untuk PCNU dan penerbitan-penerbitan di Lombok Tengah. Begitu juga Lazisnu, akan segera bikin perwakilan Lazisnu di masing-masing MWC. Bangun komunikasi dan koordinasi dengan ulama'-ulama' kita di masing-masing MWC. Kalian sowan ke semua tokoh NU," ungkapnya saat koordinasi dengan dua lembaga ini disela-sela Rapat Panitia Perayaan Hari Lahir (HARLAH) NU Yang ke-92 di Praya, Sabtu lalu di Praya.

Lanjutnya, kedepan, semua database warga NU Lombok Tengah bisa dikelola dengan Baik. LTN NU dan Lazisnu bisa bekerja sama untuk membuat program pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat yang lain, seperti pelatihan-pelatihan IT dan penulisan, penggalangan dana sosial bencana, kematian dan pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh di Lombok Tengah.

"Saya ingin semua warga NU punya Kartu NU (Kartanu). Dengan Kartanu ini, kita akan punya database besar yang dikelola oleh LTN sehingga pengelolaan apapun bisa kita kontrol," imbuhnya.

Dengan database seperti ini, tambahnya, setiap warga Nahdliyyin yang meninggal, akan dapat diberikan santunan kematian oleh warga NU sendiri. Begitu juga santunan yatim, tua jompo dan penyandang disabilitas.

"Setiap kematian, misalnya per-orang warga Nahdliyyin donasi atau sedekah sepuluh ribu atau lima ribu saja, dikalikan dengan jumlah Nahdliyyin yang ada di Lombok Tengah, wah, itu akan sangat dahsyat hasilnya" tandasnya.

Karenanya, Fathul sangat berharap, pengurus didua lembaga yang baru dibentuk ini, dapat bekerja secara maksimal dan ikhlas untuk perjuangan Nadlatul Ulama.

"Insya Allah, setiap perjuangan kita di Nahdlatul Ulama ini, betapapun kecilnya, akan mendapatkan berkah dari Allah. Alasannya cuma satu, karena kita mengurusi organisasi para ulama'," pungkasnya. []
Read More