rumahnahdliyyin.com - Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji. Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT. Maka dari itu, kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara
mempeng. Ngaji itu harus benar-benar
kangelan.
Orang yang baik di dunia itu ada dua. Pertama, orang yang
mulang ngaji; yang kedua, orang yang mengaji.
Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.
Kalian adalah pilihane Allah, karena kalian mau mengaji. Jangan berkecil hati. Kalian harus mensyukuri itu dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.
Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh
Saat liburan, yang masih sekolah di sini, kalian di pondok saja, menghafalkan pelajaran yang akan datang. Supaya ringan, saat romadlon kalian menghafalkan
Imrithy,
Alfiyyah atau
Maknun sampai khatam. Nanti
Syawal sudah enak, tinggal
nglalar saja, tinggal ngaji, sudah dapat hafalannya.
Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan. Seperti mengimami
tahlilan,
barzanji,
dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.
Jika kalian memiliki ilmu yang cukup, dimanapun berada, kalian merasa enak. Makanya, yang
mempeng selagi masih di pondok.
Kalian di pondok ada ngaji, ada jama'ah, ada juga yang belajar. Kalau diluar, godaannya macam-macam. Gunakan kesempatan di pondok belajar macam- macam ilmu. Terutama situasi masyarakat, kalian pelajari. Jangan pernah buat mainan di pondok itu, daripada menyesal sendiri nantinya.
Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren Se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI
Terkadang, tujuan kita mondok 15 tahun. Akan tetapi, tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang. Kalau tidak
mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.
Jika dari pondok tidak bisa apa-apa, nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok, pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar
syari’at agama Islam.
Kalian kalau pulang dari pondok, akhlaqnya dijaga. Jangan pulang tidak memakai peci, celanaan. Yang benar kalau pulang seperti di pondok, memakai peci. Tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri. Itu merupakan
dakwah bil-hal.
Dengan menunjukkan sikap dan akhlaq yang baik, maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren Lirboyo.
Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok. Kalian mondok, harus menunjukkan
akhlaqul karimah. Memakai celana boleh, tapi yang benar. Juga pecinya, jangan
dislempitkan. Tunjukkan kalian pondok pesantren. Masyarakat biar mau memondokkan anaknya. Dimanapun, tunjukkan akhlaq yang baik.
Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri
Jangan sombong.
Tawadlu' itu tidak merasa. Meskipun kamu pintar, tidak merasa pintar. Meskipun kamu alim, tapi tidak merasa alim. Menghargai orang lain.
Tawadlu' itu bukan rendah. Akan tetapi, kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.
Dimanapun tempatnya, yang terpenting adalah akhlaq. Sepintar apapun jika tak berakhlaq, tidak ada harganya.
Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren
Mulai keluar dari pondok, yang baik. Do’a bepergian, dibaca. Karena, di jalan banyak macam-macam kendaraan. Sampai di rumah, yang pertama dilakukan
salaman kepada kedua orang tua. Meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.
Jika orang tua mengerjakan pekerjaan, kalian minta. Jangan hanya tidur saja, itu tidak baik. Orang tua sudah merawat kalian dari kandungan. Kalian dibawa kemana-mana. Kalian harus berangan-angan, kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.
Orang tua merawat anak itu dengan
rohmah. Merasa
welas supaya anaknya bisa menjadi
soleh-solehah. Kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja, pasti sudah merasa gak enak. Makanya, jangan sampai membantah orang tua. Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan. Jika kalian mampu, laksanakan. Jika belum mampu, kalian utarakan.
Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan
Dari pondok, kalian
salaman kepada orang tua. Berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok. Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal. Kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji. Kalian harus bersyukur telah dikirimi.
Birrul-walidain itu tidak membantah dan tidak mengecewakan hati orang tua. Yang sebelum mondok belum bertuturkata baik (
boso kromo) kepada orang tua, besok pulang harus bertutur kata baik (
boso kromo). Siapapun orang yang bisa
birrul-walidain, hidupnya
barokah.
Kalian di pondok dididik
akhlaqul karimah. Jadi, kalian harus bisa menerapkan
akhlaqul-karimah dimana saja.
Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri
Nanti, ketika sudah waktunya berangkat pondok, jangan telat. Jika sudah waktunya, segeralah berangkat ke pondok. Kalian disiplin mengikuti peraturan, itu sudah terlihat memuliakan para
masyayikh dengan apa yang dikehendaki
masyayikh.
Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik. Orang tua kalian ingin memiliki
waladun sholih-sholihah.
Di pondok, yang sungguh-sungguh, biar menjadi orang sholeh, menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.[]
(
Redaksi RN)
* Diambil dari
lirboyo.net dengan judul "Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan".