Politik Jangan Dibawa ke Masjid


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Syafruddin, meminta supaya masjid tidak digunakan untuk kegiatan politik. Kendati demikian, sebagaimana diberitakan oleh detik.com, dia enggan untuk mengomentari pihak-pihak tertentu yang melakukan mobilisasi massa di masjid. Dia hanya berkomentar bahwa fungsi DMI adalah fasilitator warga dalam menggunakan masjid.

"Ya, janganlah politik, jangan dibawa ke masjid," kata Syafruddin yang juga menjabat sebagai Wakapolri itu dalam acara Forum Kewirausahaan Pemuda Islam di Perpustakaan Nasional, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu, 15 April 2018.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Penggunaan tempat ibadah untuk kegiatan kampanye itu dilarang keras. Hal tersebut termaktub dalam pasal 68 ayat (1) poin j PKPU Nomor 4/2017 tentang kampanye Pilgub, Pilbup dan Pilwalkot yang berbunyi:

Pasal 68

(1) Dalam kampanye dilarang:

j. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan
.[]



(Redaksi RN).
Read More

Khotbah Bukanlah Konsumsi Pemberitaan


rumahnahdliyyin.com,
 Jakarta - Anggota Dewan Pers, Jimmy Silalahi, mengatakan bahwa isi khotbah atau ceramah keagamaan, sebaiknya tidak langsung disajikan secara mentah oleh kalangan pers sebagai berita. Sebab, hal itu bukan untuk konsumsi pemberitaan.

"Kami dari Dewan Pers tidak menganjurkan apa yang disampaikan sebagai isi khotbah, langsung dihadirkan menjadi berita oleh teman-teman pers," ujar Jimmy seperti dilansir oleh antaranews.com saat dia menjadi pembicara dalam acara Media Gathering yang diselenggarakan oleh Bawaslu RI di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 14 April 2018.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Jimmy juga menambahkan bahwa apa pun yang terjadi, kalangan pers harus dapat menghormati substansi sebuah khotbah. Dia menilai bahwa ceramah keagamaan sudah pasti bersifat privat kendati berlangsung di tempat terbuka atau ada media serta alat pengeras suara yang membuat ceramah itu terdengar ke mana-mana.

"Kecuali kalau memang itu ceramah non-keagamaan dan disampaikan di depan publik," jelas Jimmy.

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Lebih lanjut, Jimmy juga mengatakan bahwa jika kalangan pers ingin mengutip sebuah ceramah keagamaan, maka materi atau isi ceramah keagamaan yang dianggap menarik tersebut dapat diklarifikasi kepada penceramah dengan mewawancarainya selepas ceramah usai serta mencari narasumber lain sebagai pembanding atau pelengkap.

"Prinsip jurnalistik 5W+1H harus diperdalam. Yang namanya isi khotbah, tidak pernah ada unsur 5W+1H. Makanya, kami dari Dewan Pers tidak pernah menganjurkan isi khotbah bulat-bulat dijadikan berita," jelasnya.

Baca Juga: Jangan Gunakan Nama "Muslim" Untuk Sebar Hoax

Dia pun mengingatkan bahwa khotbah selalu dipenuhi dengan pesan rohani, hubungan manusia dengan Tuhan. Seandainya ada isi khotbah yang menyangkut persoalan sosial atau politik, pasti dibungkus dalam konteks keagamaan. Sementara itu, sebuah berita tidak hanya menyangkut satu orang. Melainkan juga menyangkut orang banyak.

"Kewajiban anda mengecek, mengonfirmasi dan verifikasi dari pihak lain," tandasnya.[]

(Redaksi RN)
Read More

Terjemah Al-Qur'an Bahasa Aceh Masuk Tahap Validasi


rumahnahdliyyin.com, Banda Aceh - Penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Aceh, telah memasuki tahap validasi. Kepala Puslitbang Lektur, Dr. Muhammad Zain, mengatakan bahwa proses validasi ini dilakukan oleh para ahli untuk tukar pendapat supaya terjemahan tersebut bisa sempurna.

"Validasi terjemahan ini merupakan ruang para ahli untuk melakukan tukar pendapat agar terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Aceh nantinya memperhasil yang lebih sempurna," jelasnya di Banda Aceh pada Kamis, 12 April 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Kementerian Agama menaruh perhatian yang sangat besar pada kegiatan validasi tersebut guna mendapatkan hasil yang terbaik terhadap penterjemahan tersebut.

Menurutnya, Kementerian Agama juga akan berupaya supaya Al-Qur'an terjemahan dalam bahasa daerah tersebut selain dicetak, nantinya juga akan dibuat versi android. Sehingga dapat dimaksimalkan penggunaannya oleh generasi muda di masa mendatang.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa ada dua hal yang sangat penting dalam program penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa daerah. Pertama, untuk menguatkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam diri para generasi muda bangsa ini di masa mendatang, dan kedua, untuk melestarikan bahasa Aceh.

Penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa daerah telah dilakukan sejak tahun 2011. Dan sampai saat ini, sudah dikerjakan di 16 daerah. Diantaranya yaitu bahasa Bugis, Bali, Madura, Sunda, Palembang dan Aceh, dan sebagian lagi masih dalam tahap pengerjaan.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Ketua panitia, Dr. Abdul Rani Usman, mengatakan bahwa proses penterjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Aceh ini telah selesai dilaksanakan. Saat ini masuk ke dalam tahap validasi pertama yang selanjutnya akan disempurnakan sampai dilakukan validasi kedua.

Sedangkan rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Farid Wajdi Ibrahim, mengatakan bahwa bahasa menunjukkan suatu bangsa. Melalui bahasa, dapat diketahui watak masyarakatnya.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selanjutnya, Prof. Farid juga menyebutkan bahwa karakter utama dalam bahasa Aceh yaitu disingkatnya kata-katanya. Hampir 80 persen kata-kata dalam bahasa Aceh disingkat. Misalnya, "kakak" dalam bahasa Aceh adalah "a", "air" menjadi "ie", "kelapa" adalah "u".[]

(Redaksi RN)
Read More

Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama ini


rumahnahdliyyin.com,
 Banda Aceh - Sebagai daerah yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam di masa lalu, Aceh banyak menyimpan bukti-bukti kebesaran sejarah Islam yang sangat mudah ditemukan hingga kini. Namun, tidak terurus dan bahkan ditelantarkan.

Padahal, dengan memiliki sejarah adanya kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada masa lalu, Aceh terkenal keislamannya yang kental hingga saat ini. Sehingga, berbagai benda peninggalan sejarah tersebut, harus tetap dijaga dengan baik oleh generasi sekarang.

Demikianlah antara lain yang disampaikan oleh arkeolog Aceh dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Husaini Ibrahim MA., saat mengisi pengajian rutin di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu malam, 11 April 2018.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pada pengajian yang dimoderatori oleh Badaruddin S.Pd, M.Pd. (Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh) ini, juga turut dihadiri oleh Kapolresta Banda Aceh, AKBP. Trisno Riyanto.

"Karenanya, mari selamatkan peninggalan sejarah Islam tersebut. Dan ini menjadi kewajiban kita bersama," ujar Abu Husaini Ibrahim sebagaimana diberitakan oleh antaranews.com.

Baca Juga: Menulis Sejarah Secara Cermat

Dosen FKIP Unsyiah yang kini menjabat Ketua Laboratorium Sejarah ini menjelaskan bahwa sangat banyak jejak-jejak sejarah dan peradaban Islam masa lalu. Seperti makam ulama besar, batu nisan orang-orang berilmu, bahkan Kerajaan Samudera Pasai, Peureulak, Lamuri hingga Gampong Pande. Ada pula bukti batu nisan ulama-ulama yang betahunkan 1.070 Masehi.

"Selama ini, kita terkesan tidak peduli dengan jejak-jejak Islam pada benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Bukan berarti kita menkultuskan benda, tapi itu bisa menjadi pedoman untuk dipelajari lagi oleh generasi sekarang. Bahwa Aceh dulu berjaya dengan peradaban Islam, maka untuk bisa berjaya lagi sekarang, kita bisa mengikuti jejak ulama-ulama yang berilmu tinggi dahulu. Bukan malah membuang kotoran ke makam mereka," terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Abu Husaini juga menambahkan bahwa Aceh pada masa kerajaan tempo dulu itu memegang peranan sangat penting dalam menyangga atau membentengi kawasan Nusantara dari kolonialisme penjajah Eropa. Diantaranya yaitu menghalau penjajah Portugis dan Belanda.

“Tujuan Kerajaan Aceh menyerang Portugis sampai ke Melaka dan Johor adalah dalam rangka membentengi Islam di wilayah Nusantara dari kolonialisasi penjajah,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah

Disebutkan juga bahwa andai tanpa kerajaan Aceh, maka Portugis dipastikan dengan mudah dapat menguasai Nusantara pada masa itu.

"Kita tahu bahwa penjajah Barat itu mengemban misi 3G, yaitu Gold (keinginan untuk memiliki emas, hasil alam dan kekayaan), Glory (keinginan mempunyai kejayaan) dan Gospel (keinginan untuk menyebabarkan agama Nasrani). Dari semua penjajah Barat itu, Portugis adalah yang terburuk dalam mengemban misi agama,” lanjut Husaini Ibrahim.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Selain itu, peran Aceh juga sangat besar dalam upaya dakwah dan penyiaran Islam di Nusantara dan membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme.

“Barangkali, kalau Portugis sempat menguasai Aceh, maka Aceh sudah menjadi daerah non-muslim dan nama-nama orang Aceh sudah berubah menjadi Thomas dan lain-lain, serta menjadi basis pengembangan agama lain seperti Timor Timur,” katanya kemudian.

Husaini menambahkan lagi bahwa orang Aceh pada masa lampau memiliki semangat dan kekuatan jihad yang tinggi, sehingga mampu mengalahkan Portugis. Padahal, Portugis itu adalah negara hebat dan kuat.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Diterangkannya juga bahwa orang Aceh tempo dulu itu sangat serius menjalankan ajaran Islam. Dan bersatunya ulama dan umaro dalam membangun peradaban Islam, mengalami kejayaan hingga kemudian datanglah orientalis yang bernama Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dan Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang merusak peradaban Islam di Aceh.

"Dia kembangkan sekulerisme. Dia pisahkan ulama dan umaro sampai diciptakan ajaran bahwa yang mengejar dunia itu bagaikan anjing yang mengejar bangkai. Sehingga, umat Islam dan ulama tidak perlu lagi mengurus urusan dunia dan dijauhkan dari urusan politik. Ulama-ulama cukup belajar agama saja," terangnya terhadap ajaran Snouck Hurgronje.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Selain itu, lanjutnya lagi, Snouck Hurgronje yang memiliki nama Islam Abdul Ghafar itu juga menciptakan musuh-musuh dalam selimut dan pengkhianat ditengah masyarakat Aceh yang menjual Aceh kepada penjajah hingga kerajaan Aceh menjadi lemah serta melahirkan politik adu domba untuk mengacaukan kekuatan Islam yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.[]



(Redaksi RN)
Read More

Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 Dalam The Muslim 500


rumahnahdliyyin.com, Jakarta
- Survei tahunan yang mencantumkan 500 sosok tokoh muslim yang paling berpengaruh di dunia, The Muslim 500, kembali menempatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke dalamnya bersama 500 tokoh muslim lainnya sedunia.

Penyelenggara survei ini adalah The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berkedudukan di Amman, Yordania. Dalam menentukan tokoh muslim yang berpengaruh sedunia ini, digabungkan kombinasi antara matriks sosial, opini publik dan pendapat para ahli.

Baca Juga: 


Presiden Jokowi sendiri, dalam survei ini, berada diurutan ke-16. Dalam publikasinya, para editor survei ini mengutip ucapan Jokowi yang menyatakan bahwa "keberagaman selalu menjadi bagian dari DNA Indonesia. Meskipun banyak tantangan, Islam di Indonesia selalu menjadi kekuatan yang moderat".

Selain Presiden Jokowi, ada dua nama lagi dari Indonesia yang masuk dalam Top 50. Kedua tokoh tersebut yaitu Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, diperingkat ke-22 dan Habib Luthfi bin Yahya diperingkat ke-41. Selain itu, ada nama mantan Ketua PP. Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang masuk dalam Honourable Mentions.[]



(Redaksi RN)
Read More

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Tentang Santri, Ngaji, Akhlaq dan Birrul-Walidain


rumahnahdliyyin.com - Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji. Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT. Maka dari itu, kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng. Ngaji itu harus benar-benar kangelan.

Orang yang baik di dunia itu ada dua. Pertama, orang yang mulang ngaji; yang kedua, orang yang mengaji.

Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.

Kalian adalah pilihane Allah, karena kalian mau mengaji. Jangan berkecil hati. Kalian harus mensyukuri itu dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Saat liburan, yang masih sekolah di sini, kalian di pondok saja, menghafalkan pelajaran yang akan datang. Supaya ringan, saat romadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau Maknun sampai khatam. Nanti Syawal sudah enak, tinggal nglalar saja, tinggal ngaji, sudah dapat hafalannya.

Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan. Seperti mengimami tahlilan, barzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.

Jika kalian memiliki ilmu yang cukup, dimanapun berada, kalian merasa enak. Makanya, yang mempeng selagi masih di pondok.

Kalian di pondok ada ngaji, ada jama'ah, ada juga yang belajar. Kalau diluar, godaannya macam-macam. Gunakan kesempatan di pondok belajar macam- macam ilmu. Terutama situasi masyarakat, kalian pelajari. Jangan pernah buat mainan di pondok itu, daripada menyesal sendiri nantinya.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren Se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Terkadang, tujuan kita mondok 15 tahun. Akan tetapi, tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang. Kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.

Jika dari pondok tidak bisa apa-apa, nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok, pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama Islam.

Kalian kalau pulang dari pondok, akhlaqnya dijaga. Jangan pulang tidak memakai peci, celanaan. Yang benar kalau pulang seperti di pondok, memakai peci. Tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri. Itu merupakan dakwah bil-hal.

Dengan menunjukkan sikap dan akhlaq yang baik, maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren Lirboyo.

Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok. Kalian mondok, harus menunjukkan akhlaqul karimah. Memakai celana boleh, tapi yang benar. Juga pecinya, jangan dislempitkan. Tunjukkan kalian pondok pesantren. Masyarakat biar mau memondokkan anaknya. Dimanapun, tunjukkan akhlaq yang baik.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Jangan sombong. Tawadlu' itu tidak merasa. Meskipun kamu pintar, tidak merasa pintar. Meskipun kamu alim, tapi tidak merasa alim. Menghargai orang lain.

Tawadlu' itu bukan rendah. Akan tetapi, kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.

Dimanapun tempatnya, yang terpenting adalah akhlaq. Sepintar apapun jika tak berakhlaq, tidak ada harganya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Mulai keluar dari pondok, yang baik. Do’a bepergian, dibaca. Karena, di jalan banyak macam-macam kendaraan. Sampai di rumah, yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua. Meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.

Jika orang tua mengerjakan pekerjaan, kalian minta. Jangan hanya tidur saja, itu tidak baik. Orang tua sudah merawat kalian dari kandungan. Kalian dibawa kemana-mana. Kalian harus berangan-angan, kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.

Orang tua merawat anak itu dengan rohmah. Merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh-solehah. Kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja, pasti sudah merasa gak enak. Makanya, jangan sampai membantah orang tua. Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan. Jika kalian mampu, laksanakan. Jika belum mampu, kalian utarakan.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Dari pondok, kalian salaman kepada orang tua. Berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok. Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal. Kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji. Kalian harus bersyukur telah dikirimi.

Birrul-walidain itu tidak membantah dan tidak mengecewakan hati orang tua. Yang sebelum mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua, besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo). Siapapun orang yang bisa birrul-walidain, hidupnya barokah.

Kalian di pondok dididik akhlaqul karimah. Jadi, kalian harus bisa menerapkan akhlaqul-karimah dimana saja.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Nanti, ketika sudah waktunya berangkat pondok, jangan telat. Jika sudah waktunya, segeralah berangkat ke pondok. Kalian disiplin mengikuti peraturan, itu sudah terlihat memuliakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.

Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik. Orang tua kalian ingin memiliki waladun sholih-sholihah.

Di pondok, yang sungguh-sungguh, biar menjadi orang sholeh, menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.[]

(Redaksi RN)



* Diambil dari lirboyo.net dengan judul "Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan".
Read More

Belajar Bernegara Dari Sholat Jama'ah


rumahnahdliyyin.com - Cobalah cari pemimpin yang tanpa kesalahan, kealpaan. Ada, kah? Pasti tidak ada, kecuali junjungan kita RasuluLLah yang ma'shum.

Karena al-insan mahallul-khotho' wan-nisyan, maka jangankan dalam sebuah organisasi, kepemerintahan atau bernegara, sholat jama'ah saja, kalau imam salah, ada cara untuk mengingatkan.

1. Baca subhanaLLah dengan niat dzikir saja atau niat mengingatkan imam sekaligus niat dzikir. Kalau mengingatkan saja, dapat membatalkan sholat.

Mungkin saja, aturan ini dibuat agar makmum yang ingin mengingatkan imamnya tidak berorientasi nafsu, sok tahu, tapi tetap IiLLah, hanya karena Allah.

Baca Juga: Waktu Sholat Fardlu

2. Sunnah sujud syahwi bila melakukan hal-hal yang menyebabkan seseorang harus sujud syahwi. Posisi sujud syahwi ini seperti penambal prosesi sholat yang tidak sempurna. Dan saat imam sujud syahwi, semua makmum harus ikut. Kalau tidak, maka batal-lah sholatnya.

Indahnya, dalam berjama'ah, bila imam melakukan hal yang menyebabkan ia harus sujud syahwi dan ternyata ia tidak melakukannya saat sebelum salam, maka makmum dapat melakukan sujud syahwi untuk kekeliruan imam.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Gerhana

Andai saja dalam bernegara kita mencontoh aturan ini, setiap kekeliruan atau kealpaan pemimpin kita, kita ingatkan hanya karena Allah, bukan karena nafsu kekuasaan atau syahwat belaka, dan saat imam menambal kekeliruannya kita semua ikut menambal kekeliruannya (menutupi apa yang kurang dari pemimpin kita), bahkan bila pemimpin "abai" untuk memperbaiki dan menambal kekeliruannya dalam memimpin, kita mau menambalnya, menyempurnakannya sebagai rakyat, makmum para pemimpin, mungkin hidup bernegara ini bisa menjadi begitu indah. Tak ada caci maki karena mencaci pemimpin sendiri itu seperti meludahi wajah sendiri.



* Oleh: Achmad Shampton
Read More

Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh


rumahnahdliyyin.com - Al-Qur’an merupakan kalam Allah SWT. yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. yang menjadi mukjizat dan dianjurkan untuk dibaca oleh umat Islam setiap saat. Membaca Al-Qur’an, dalam ajaran Islam, termasuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap hari. Akan tetapi, banyak diantara kalangan umat Islam Nusantara, khususunya Jawa, yang belum mengerti secara mendalam, tentang tata cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, sehingga masih banyak yang membaca Al-Qur’an secara serampangan dan tidak sesuai dengan ilmu Tajwid Al-Qur’an.

Pada zaman sekarang, ilmu Tajwid dan ilmu Qiro'at sudah jarang diminati untuk dipelajari dan diteliti secara mendalam. Ilmu Tajwid sering dianggap sebagai ilmu yang ringan, ilmu kulit dan ilmu yang hanya layak dipelajari oleh anak-anak kecil di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ). Anggapan ini, tentu saja keliru. Sebab, segala ilmu yang bersinggungan dengan Al-Qur’an, baik secara lahir maupun batin, merupakan ilmu-ilmu pokok yang harus dipelajari oleh seorang muslim.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna

Berangkat dari latar belakang bahwa (1) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, (2) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum memahami ilmu Tajwid, (3) langkanya referensi dan kajian tentang ilmu Tajwid, maka kiai Maftuh Basthul Birri, sang begawan Al-Qur’an, pengasuh Pondok Pesantren Murottilil Qur’an, Lirboyo, Kediri, tergerak hatinya untuk menulis kitab pegon tentang ilmu Tajwid dengan judul Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz Al-Qur’ân.

Kiai Maftuh Basthul Birri, dalam kitab tersebut dawuh (dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon, red):

كَاڤْرَاهِيْڤُونْ تِيْيَاڠْ مَاهَوسْ اَلْقُرْآنْ سَامِيْ كِيْرَاڠْ ڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ دُوْمَاتٓڠْ حُكُمْ-حُكُمْ وَاهَوْسَانْ، سَاهِيڠْڮَا مَاهَوسْ إِيْڤُونْ سَامِيْ سٓمْبٓرَانَا لَنْ كِيْرَاڠْڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ. أَمَرْڮِيْ وَونْتٓنْ كَلَانِيْڤُونْڠَاهَوسْ إِيْڤُونْ تَكْسِيهْ كِيْرَاڠْ، أُوْتَاوِيْ لَاتِيْهَانْ دِيْسِيڤْلِينْ إِيْڤُونْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ، لَاجٓڠْ اَڠْڮَامْڤِيلْ أَكٓنْ وَاهَوْسَانْ

“Kebanyakan orang membaca Al-Qur’an kurang memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum bacaan, sehingga bacaannya pun ngawur dan tidak sesuai aturan. Hal itu disebabkan, adakalanya karena jarang mengaji, atau sering mengaji namun tidak disiplin dalam menerapkan hukum-hukum bacaan sehingga menyepelekan bacaan.”

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Di dalam kitab Fathul Mannan, kiai Maftuh, yang terkenal memiliki standar tinggi dalam hal bacaan Al-Qur’an, mengupas tuntas tema-tema penting didalam ilmu Tajwid yang sesuai dengan riwayat bacaan Imam Hafsh bin Sulaiman, salah satu perawi Qiro'at Imam ‘Ashim bin Abi Najud. Pembahasan-pembahasan didalam kitab tersebut disandarkan kepada kitab-kitab ilmu Tajwid yang sudah terkenal valid dan terpercaya. Seperti kitab Al-Mandhûmah Asy-Syâthibiyyah, Al-Mandhûmah Al-Jazariyyah, Irsyâd Al-Ikhwân Syarh Mandhûmat Hidâyat Ash-Shibâan, Al-Itqôn fi ‘Ulûmil-Qur’ân, Al-Minah Al-Fikriyyah, Sirôj Al-Qâri’, Nihâyah Al-Qoul Al-Mufîd dan kitab-kitab lain yang membahas ilmu Tajwid dan Qiro'at.

Selain pembahasan yang mendetail tentang tema-tema pokok ilmu Tajwid yang ditulis dengan aksara Pegon, yang menarik dari kitab ini adalah bahwa kitab ini ditashih oleh para ulama besar ahli Al-Qur’an Nusantara, seperti: Simbah KH. Muhammad Arwani Amin Sa’id (pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, Kudus), Simbah KH. Nawawi Abdul Aziz (pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, Ngrukem Yogyakarta), Simbah KH. Ahmad Munawwir bin KH. Muhammad Munawwir (salah satu pengasuh Pondok Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta), Simbah KH. Adlan ‘Aly (pendiri Pondok Putri Walisongo, Cukir Jombang) dan Simbah KH. Abu Syuja’, Ngadiluwih, Kediri. Semua kiai-kiai yang mentashih kitab Fathul Mannan tersebut merupakan guru-guru dari Kiai Maftuh Basthul Birri.

Baca Juga: Profesor Thailand; Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Kiai Muhammad Arwani Amin, Kudus, mengomentari kitab Fathul Mannan karya kiai Maftuh tersebut dengan berkata bahwa kitab tersebut merupakan kitab ilmu Tajwid lengkap yang membahas pokok-pokok bahasan ilmu Tajwid yang sangat penting dan jarang dibahas didalam kitab-kitab Tajwid lain yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Jawa.

Kiai Nawawi, Ngrukem, Yogyakarta, mengomentari kitab Fathul Mannan dengan menyatakan bahwa kitab tersebut merupakan kitab yang sangat bagus dan cocok untuk dipelajari oleh para pemula. Bahkan, kiai Nawawi menganggap bahwa upaya yang dilakukan oleh kiai Maftuh merupakan aplikasi dari konsep hifdhul hâl atau menjaga laku, yakni laku dalam membaca Al-Qur’an supaya sesuai dengan aturan dan kaidah yang berlaku.

Didalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim disebutkan bahwa afdlolul-‘ilmi ‘ilmul-hâl wa afdlolul-‘amali hifdhul-hâl, sebaik-baik ilmu adalah ilmu laku dan sebaik-baik amal adalah menjaga laku. Membaca Al-Qur’an merupakan ‘amal al-hâliy, yakni sebuah amal atau laku yang dianjurkan untuk dilakukan setiap hari. Amal atau laku ini harus dijaga dari segala bentuk penyimpangan dan kesalahan. Dan kitab Fathul Mannan tersebut merupakan panduan untuk menjaga amal “Membaca Al-Qur’an” agar tidak terjatuh dalam kesalahan, baik yang bersifat ringan (lahn khofiy) maupun yang bersifat berat (lahn jaliy).

Baca Juga: Ats-Tsauri; Samudera Ilmu Dari Kufah

Kiai Maftuh Basthul Birri maupun guru-gurunya yang telah disebut diatas merupakan tokoh-tokoh pejuang Al-Qur’an yang sangat terkenal ketat dalam hal bacaan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an, bagi mereka tidak boleh sembarangan, tidak boleh asal bunyi dan harus sesuai dengan kaidah-kaidah Tajwid yang telah ditetapkan. Hal ini senada dengan sebuah syair yang digubah oleh Syaikh Syamsuddin Ibn Al-Jazari:

وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌ :: مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْأَنَ آثِمٌ

"Membaca Al-Qur’an dengan Tajwid merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan :: Barang siapa tidak membaca Al-Qur’an dengan Tajwid maka ia berdosa kepada Tuhan."

Sikap ketat dalam membaca Al-Qur’an yang diterapkan oleh kiai Maftuh tersebut, bisa terbaca dan bisa dirasakan melalui karya beliau Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdh Al-Qur’ân tersebut. Penjelasan mengenai bab-bab ilmu Tajwid begitu detail dan sangat mudah dipahami oleh para pemula karena ditulis dengan menggunakan Aksara Pegon.

Baca Juga: Al-Biruni; Antropolog Pertama?

Kitab Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdh Al-Qur’ân tersebut selesai ditulis oleh kiai Maftuh Basthul Birri pada bulan Robi’ul Awwal tahun 1397 H./Februari 1977 M. dan terdiri dari tiga juz yang terangkum menjadi satu dengan ketebalan 148 halaman dan dicetak oleh penerbit toko kitab Al-Ihsan Surabaya.

Turuntuk kiai Maftuh Basthul Birri dan para begawan Al-Qur’an Nusantara, Al-Fatihah...



Oleh: Sahal Japara, kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, Pemerhati Aksara Arab Pegon.

Sumber: nu.or.id
Read More

Kiai Said: Kebesaran dan Martabat Bangsa Ada Pada Budayanya


rumahnahdliyyin.com,
 Jakarta - Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, dalam peluncuran dan diskusi buku "NU Penjaga NKRI", di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa, 10 April 2018, mengatakan bahwa Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), bukan hanya menjaga keselamatan geografis NKRI. Tetapi juga menjaga keutuhan budaya.

"Jadi, silakan sekolah di Amerika, Australia dan Eropa. Tapi pulang, jangan bawa bir atau khomr. Pulanglah dengan membawa intelektual dan teknologinya," tuturnya sebagaimana dilansir oleh nu.or.id.

Baca Juga: Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern

Selain itu, kiai kelahiran Cirebon itu juga menekankan kepada siapa pun yang sekolah di Arab atau Timur Tengah untuk tidak membawa jenggot ketika pulang ke tanah air.

"Bawa pulang tafsir, hadits, bawa ilmu fiqh. Jangan bawa cadar, jangan bawa jenggot. Itu artinya, kita menjaga budaya. Sebab, budaya kita lebih mulia dari Barat dan Arab," katanya selanjutnya.

Di Barat, lanjut Kiai Said, seorang istri tidak pernah menjunjung tinggi tata krama atau kesopanan kepada suaminya. Di sana hidup sendiri-sendiri. Indonesia sangat tidak layak menerima budaya Barat.

Baca Juga: Kiai Said Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

"Nah, begitu juga budaya Arab, kalau kita salat di Masjidil Haram, orang Arab itu biasa melangkahi kepala kita saat sedang sujud. Saya yakin, itu bukan orang Indonesia, Malaysia, bukan Brunei. Itu jelas orang Arab," tegasnya.

Di Arab dan Barat, memanggil orang yang lebih tua tidak dengan sebutan atau gelar kehormatan. Melainkan langsung namanya saja. Jelas, berbeda dengan di Indonesia.

"Orang kita itu, kalau lagi marah saja, pasti nyebut gelarnya. Misal, Kang Durahman, jahat sekali kamu," katanya yang disambut gemuruh tawa hadirin.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Karena itu, ia mengungkapkan bahwa kebesaran dan martabat bangsa itu ada pada budayanya.

"Maka, mari sama-sama kita jaga budaya. Karena keberadaan Indonesia adalah budayanya," pungkasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More

NU Dimata Romo Benny


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Dalam acara peluncuran buku "NU Penjaga NKRI" pada Selasa, 10 April 2018, di Aula PBNU lantai 8, Jakarta, Romo Antonius Benny Susetyo yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa NU selalu hadir dimana-mana, tetapi tidak ke mana-mana.

Orang NU, menurutnya, bisa menyatu dengan segala lapisan. Dari situlah, muncul relasi yang baik. Dan karena itu pula, ada suatu kepercayaan yang bahwa masyarakat NU tidak membeda-bedakan. Dalam beriman, orang NU sudah melompat dari politik identitas karena dihayati dalam nilai kemanusiaan. Berdasar nilai kemanusiaanlah, NU tampil pada era reformasi.

"Dari kemanusiaan itulah orang tidak lagi membedakan suku, identitas," kata Romo Benny seperti yang diberitakan oleh nu.or.id.

Baca Juga: Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah

Lebih lanjut, ia pun memberikan gambaran di Sampit, Madura, yang tidak pernah muncul stigma negatif atas bantuan dari agama Katolik. Warga di sana tidak menuduh adanya kristenisasi dibalik itu. Ia juga mengungkapkan bahwa Gus Dur sebagai representasi NU selalu pasang badan dalam forum demokrasi. Gus Dur memberi pembelaan terhadap Romo Mangunwijaya ketika hendak ada yang menuduhnya PKI.

"Gus Dur menjadi pelekat dari sebuah demokratisasi," ujarnya.

Selain berperan sebagai penjaga negara, NU juga menjadi pusat peradaban. Hal itu karena mengingat peran NU yang mempertemukan Islam dan budaya yang kemudian melahirkan ajaran agama yang penuh kasih.

"NU sebenarnya menjadi pusat. Tidak hanya pusat penjaga NKRI, tetapi juga pusat peradaban," ungkap pria kelahiran Malang, 50 tahun silam itu.

Baca Juga: Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali

Ditengah kegersangan yang melanda negara ini, NU juga berdiri menjadi oase. NU menjadi penyejuk dengan merangkul semua elemen dan kalangan. Hal inilah yang meyebabkan NU sebagai pusat peradaban. Dalam hal ini, bangsa Indonesia berhutang kepada NU.

"Bangsa ini berhutang terhadap NU," terang alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, itu.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau ndonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Romo Benny juga menguraikan tiga kesetiaan NU. Pertama, NU konsisten berpandangan bahwa NKRI adalah negara kebangsaan, bukan negara yang berdasarkan agama tertentu.

Kedua, NU setia mengembalikan Pancasila kepada rel yang benar. Dari sinilah, NU selalu ada pada setiap krisis yang melanda bangsa ini yang merupakan kesetiaannya yang ketiga.

Oleh karena itu, menurut Romo Benny, NU dibutuhkan bangsa ini sebagai alat pemersatu bangsa.[]


(Redaksi RN)
Read More