Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel


rumahnahdliyyin.com – Rencana kuliah umum di Israel oleh KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) terpaksa dibatalkan setelah beragam kritik mengalir deras. Memangnya mendukung kemerdekaan Palestina itu caranya cuma harus gontok-gontokan dengan Israel saja?

Musim panas (sekali) 2008 di Tripoli, saya punya kesempatan ikut dengar uneg-uneg dari mahasiswa senior asal Suriah. Sebut saja namanya Abdullah. Ia cerita panjang lebar soal Palestina. Dengan amat menggebu-gebu, mirip Moammar Qadafi kalau lagi bahas revolusi. Memang ia cukup lama mengikuti konflik Israel-Palestina, ya maklum, waktu itu Suriah belum babak belur, hingga fokusnya ke Palestina masih bisa total.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dari ceritanya, saya bisa simpulkan kalau doi sebenarnya cuma fans garis kerasnya Hamas, bukan fans Palestina. Pasalnya, doi tak hanya serang Israel dalam argumennya, tapi juga “pemilik” Palestina lainnya, yaitu Fatah. Setiap langkah yang diambil Fatah untuk Palestina, ia kritisi. Sebaliknya, segala hal yang dilakukan Hamas, ia dukung. Fatah ia anggap sebagai musuh dalam selimut; bantuan-bantuan luar negeri mereka dapat banyak, tapi cuma berani pakai cara-cara pengecut, beraninya kok di meja perundingan diplomasi.

Untuk diketahui pembaca yang budiman, Fatah dan Hamas adalah dua faksi di Palestina dengan corak perjuangan yang berbeda. Fatah memang identik dengan meja-meja perundingan. Tokoh-tokohnya sibuk keliling dunia cari dukungan diplomatis. Sekilas, mereka kelihatan cuma jalan-jalan saja ke mana-mana, enggak mau ikut berdarah-darah ikut angkat senjata.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Sedangkan faksi Hamas lebih identik dengan intifada, AK-47, dan perjuangan yang berdarah-darah. Singkatnya kalau Hamas adalah Hulk, maka Fatah adalah Black Widow-nya. Tentu saja di Palestina tidak cuma ada dua faksi itu, masih ada faksi lain, termasuk faksi komunis Palestina, tapi harus diakui pengaruhnya tak sebesar Hamas dan Fatah.

Waktu mendengar penjelasan kawan saya, saya cuma membatin—bukan karena tidak berani bersuara, tapi karena kemampuan bahasa Arab saya baru sampai level bisa survive di pasar, belum sampai level debat. “Ealah, mosok ya wajah faksi Palestina harus Hamas thok?”

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Saya yakin yang punya pandangan seperti Abdullah, teman saya ini, sangat banyak di bumi Indonesia tercinta. Orang-orang yang alam pikirannya dalam soal Palestina amat hitam-putih. Kalau enggak berani melawan Israel dengan face to face, ya mending ke laut aja.

Nah itulah yang bikin kabar mengenai Kiai Yahya Cholil Staquf (Katib ‘Am PBNU) diundang untuk menghadiri kuliah umum dari The Israel Council on Foreign Relations, sebuah lembaga independen Israel, begitu ramai di media sosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Gus Yahya, biasa disapa begitu, didaulat untuk mengisi kuliah umum dengan tema besar “Pergeseran dari Konflik ke Kerja Sama”. Kabar itu pertama kali diterima publik dari jurnalis Israel, Simon Arann, melalui akun Twiternya dan sontak jadi pergunjingan umat muslim di Indonesia.

Sekilas dari tema tersebut, kita tahu bahwa gagasan yang diusung cukup bagus. “Apa iya enggak capek konflik terus? Ayo guyub rukun disengkuyung bareng!” Kira-kira begitu gagasan panitia yang Yahudi itu. Hm, baik juga bukan?

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Tapi ya begitulah, sangat disayangkan Gus Yahya memilih untuk membatalkan kuliah umum tersebut, meski tetap akan berangkat ke Israel untuk menemui beberapa tokoh di sana. Namun yang jelas, riuh-rendah suara menentang sudah mulai terdeteksi. Rata-rata tekanan yang ada adalah upaya agar Gus Yahya membatalkan kuliah umum ini.

Gus Yahya sendiri jelas merupakan sosok yang sangat dihormati bagi kalangan Nahdliyyin. Beliau menduduki posisi Syuriah, tepatnya Katib ‘Aam. Seseorang di posisi itu bukan main-main karena sudah di-“kiai”-i kan secara kultural jauh sebelum menjadi NU struktural. Tapi pembatalan kuliah umum, jujur, sedikit mengejutkan saya. Meski disisi lain tetap harus disyukuri bahwa Gus Yahya tidak membatalkan kedatangannya ke Israel untuk silaturahmi. Berbicara di forum internasional dibidang perdamaian juga bukan yang pertama bagi beliau, jadi saya yakin Gus Yahya ya enggak gagap-gagap amat-lah di depan tokoh-tokoh Israel.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Hal semacam ini sebenarnya jadi sinyal mengkhawatirkan karena segala upaya untuk mendukung Palestina harus sesuai dengan tafsiran tunggal. Upaya-upaya di luar tafsir tunggal itu pun harus siap dicap menyakiti rakyat Palestina—versi perspektif masyarakat muslim Indonesia.

Memangnya apa sih bentuk monopoli tafsir tunggal tersebut? Antara lain Palestina harus merdeka, Israel harus diusir. Dukung Palestina harus yang berani seperti Hamas, bukan dengan cara pengecut seperti Fatah. Maka tidak cukup ada kedubes Palestina di Indonesia. Kalau bisa bikin juga “kedubes” Hamas yang berani itu. Waw, semangat yang luwar biyasa.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, Hamas sendiri kadang menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Terowongan yang menghubungkan perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, dikomersilkan oleh salah satu elite Hamas, Abu Ibrahim. Anda bisa membaca sendiri laporan dari Spiegel Online, sebuah media di Jerman. Belum lagi laporan Forbes yang menyebut Hamas sebagai salah satu organisasi (Forbes menyebutnya cukup keras; teroris) terkaya dengan pendapatan 13 triliun tiap tahun. Gile!

Meski begitu, bukan berarti faksi Fatah lalu otomatis jadi benar-benar bersih lho ya? Tapi singkatnya begini, Akhi. Dukungan hanya pada Hamas, termasuk melalui donasi, telah lahirkan kekuatan bersenjata yang powerfull di negara konflik. Apa itu baik-baik saja? Dari kacamata upaya perdamaian, ya jelas ini ramashook! Parahnya, di saat bersamaan, upaya-upaya diplomasi yang dilakukan faksi lain masih saja dipandang sebagai solusi lemah yang tak membawa perubahan.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Padahal kita sebagai bangsa, pernah punya pengalaman yang sama dengan Palestina sebagai negeri yang terjajah. Ada yang mati-matian di medan tempur seperti Diponegoro—iya betul, ada yang seperti Pattimura di garis depan—iya betul, serta banyak lagi nama-nama lain yang mengorbankan nyawa di medan tempur. Tapi jangan lupa, kita juga punya Sutan Syahrir, Oerip Soemarmo, Mohamad Roem, hingga Bung Karno yang tidak pernah angkat senjata. Mereka ini adalah sosok yang piawai berjuang lewat jalur dialog dan diplomasi. Dan kita bisa melihat sendiri juga kan hasilnya sekarang?

Persoalan dari ketidaksepakatan terhadap undangan kuliah umum Gus Yahya di Israel adalah munculnya nuansa monopoli mengenai “cara” membela Palestina yang benar. Bentuk monopoli tafsir bela Palestina ini semacam menarasikan bahwa mendukung Palestina itu berarti tak boleh dekat-dekat dengan Israel. Apapun yang berdekatan dengan Negara Yahudi itu berarti indikasi bahwa yang bersangkutan tidak benar-benar membela Palestina.

Baca Juga: Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia

Lha kalau berdekat-dekatan ini niatnya diskusi aja gimana? Ya, enggak boleh. Kalau dengan warga Yahudi non-Pemerintah Israel? Ya pokoknya enggak boleh. Kalau di dialog itu justru lahir solusi untuk mempertegas posisi pro-Palestina? Ya, pokoknya jangan.

Maka tak heran jika Gus Yahya (saya masih khusnudhon) “terpaksa” membatalkan kuliah umum tersebut. Tekanan yang diterima beliau mengingatkan saya dengan tekanan yang diterima Gus Dur ketika masih jadi Presiden, yang saat itu tanpa tedeng aling-aling membuka hubungan bilateral pertama antara Indonesia dengan Israel.

Baca Juga: Yenny Wahid Bicara Tentang Perempuan Kampung di Forum PBB

Padahal kalau kita mau sedikit melihat di luar sana, banyak kok pihak-pihak yang mengupayakan penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan tidak melulu melihat situasinya serba hitam-putih semacam ini. Almarhum Qadafi misalnya, mengusulkan negara “Isratine” (gabungan Israel dan Palestine). Sedangkan negara-negara lain umumnya usulkan solusi dua negara.

Banyak juga negara Islam pro-Palestina merdeka yang juga tetap jalin hubungan dengan Israel dengan pelbagai dinamikanya. Turki dan Saudi, contohnya. Lalu apakah kedua negara tersebut bisa dianggap menyakiti hati umat muslim sedunia karena dekat juga dengan Israel? Enggak juga tuh.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Dari hal tersebut kita bisa berkaca, ada ragam cara untuk tuntaskan konflik panjang itu. Gus Yahya Cholil Staquf memang membatalkan kuliah umumnya, tapi tetap berniat untuk menyambung dialog dengan Israel. Apakah hasilnya nanti signifikan atau tidak, itu lain soal. Toh, ada banyak cara menuju Roma. Ada banyak cara selesaikan konflik Israel-Palestina.

Sebagai penutup, saya ingin memberi pesan sederhana. Akhi, studi perdamaian itu bukan eksakta. Ia bisa dikaji dengan ragam pendekatan. Langkah-langkah menuju damai juga beragam. Satu pendekatan yang tak antum setujui, tak berarti juga bakalan menyakiti warga Palestina. Lagian, sejak kapan antum berhak mewakili Palestina?
[]



* Oleh: Miftakhur Risal, Alumni Islamic Call College Tripoli, Libya. Tulisan ini diambil dari mojok.co.
Read More

1 Syawal, Tradisi Lomba Takbir Keliling di Biak, Papua, Digelar


rumahnahdliyyin.com, Biak - Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Kamis, 14 Juni 2018 mendatang, akan menggelar lomba kendaraan hias pada saat pawai takbir keliling dalam rangka menyambut malam Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.

Koordinator lomba pawai takbir PHBI Biak Numfor, Mulyadi, pada Sabtu (09/06/2018), mengungkapkan bahwa para peserta lomba ini hanya boleh menggunakan kendaraan roda empat (mobil) dan tidak diperbolehkan memakai sepeda motor.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Selain mewajibkan para peserta untuk menghias kendaraan dengan ornamen yang bernuansa religius, dalam lomba ini para peserta juga dituntut untuk mengedepankan tema perdamaian serta kerukunan antar umat beragama.

Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan bahwa diantara syarat lomba lainnya yaitu lafadz takbir hanya boleh dilantunkan dengan suara yang diiringi dengan rebana, beduk atau sejenisnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i

Sedangkan untuk pendaftarannya, para peserta tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Karena itu, bagi para pengurus takmir masjid dan musholla, lembaga Ormas Islam serta remaja masjid yang ingin mengikuti pawai lomba takbir keliling tersebut dapat segera mendaftar di panitia.

"Untuk pendaftaran peserta pawai kendaraan hias takbir keliling Biak tidak dipungut biaya alias gratis. Ya, ini menjadi program tahunan PHBI dalam upaya memperkuat hubungan tali silaturahmi dan kerukunan antarumat beragama," terang Mulyadi.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kendati pendaftaran lomba ini gratis, bukan berarti lomba ini hanya berhadiahkan sertifat, piagam atau semacamnya saja. Lebih dari itu, selain memperoleh piagam, pemenang lomba ini juga akan memperoleh hadiah berupa uang pembinaan dan piala.

Sedangkan untuk rute kelilingnya, imbuh Mulyadi, para peserta akan dilepas dari Lapangan Hanggar Cenderawasih Lanud Manuhua dan berakhir di Jalan Pramuka atau depan Mapolsek Biak Kota.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, tengah ramai dibicarakan di Sosial Media. Kiai yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Yahya ini ramai dibicarakan lantaran adanya undangan dari Israel. Undangan yang datang dari The Israel Council on Foreign Relations ini mendaulat Gus Yahya untuk menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Dalam acara yang akan digelar pada 13 Juni mendatang ini, Gus Yahya akan membawakan materi Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation. Kendati demikian, tidak sedikit pihak-pihak yang menuduh bahwa adanya undangan tersebut menunjukkan bahwa PBNU telah menjalin kerjasama dengan Israel.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Menanggapi isu yang tak berdasar tersebut, Ketua PBNU, Robikin Emhas, dalam keterangan persnya pada Sabtu (09/06/2018) menjelaskan hal yang sebenarnya.

Inilah keterangan Robikin Emhas tersebut:
  1. Tidak ada kerja sama NU dengan Israel. Sekali lagi ditegaskan, tidak ada jalinan kerja sama program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel.
  2. Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib 'Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU.
  3. Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel, bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya.
  4. Setiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyelesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina.
  5. Konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Diperlukan semacam gagasan out of the book yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil. Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hal senada juga dikatakan dan dijelaskan oleh Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, bahwa kehadiran Gus Yahya dalam acara tersebut adalah untuk menyampaikan posisi Palestina sebagai negara yang merdeka. Selain itu, Gus Yahya akan mengatakan kepada Israel tentang persoalan konflik dengan Palestina.

"Di sana memang beliau berjuang menegaskan posisi Palestina sebagai negara berdaulat. Jadi, justru ingin mengatakan kepada Israel bahwa Palestina harus dilihat bukan semata-mata masalah agama, tapi masalah kemanusiaan. Masalah hak berdaulat atas suatu negara. Itu diplomasi yang akan disampaikan oleh Gus Yahya," ungkap Helmy sebagaimana dikutip dari detik.com.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Dari keterangan pers yang disampaikan oleh Ketua PBNU (Robikin Emhas) dan Sekjen PBNU (Helmy Faishal Zaini) inilah maka jelas sudah bahwa apa yang dibicarakan di Sosial Media yang terkesan negatif mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang memang saat ini mengemban amanah sebagai Katib 'Aam PBNU dalam memenuhi undangan ke Israel itu tidaklah benar.[]

(Redaksi RN).
Read More

Alumni Santri di Sorong Bahas Soal Zakat


rumahnahdliyyin.com, Sorong - HAPPI atau Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia mengadakan bahtsul masail sore ini (08/06/2018) di Masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Bermula dari permasalahan yang diajukan oleh salah seorang muslim di Sorong, Papua Barat, maka kumpulan para alumni santri yang tinggal di Sorong, Papua Barat, ini melaksanakan bahtsul masail untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bahtsul masail ini sebenarnya sudah dimulai sejak pekan lalu, yakni tanggal 31 Mei 2018 di Masjid Adz-Dzakirin, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Untuk yang pertama ini, masalah yang dibahas adalah soal zakat fitrah. Mulai dari waktu pelaksanaan zakat fitrah, jumlah kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan, siapa yang wajib mengeluarkan dan yang berhak menerima, siapa yang bisa menyalurkannya dan lain sebagainya.

"Pembahasan zakat fitrah sudah selesai yang didasarkan pada kitab-kitab para fuqoha' yang mu'tabar dan menghasilkan dua versi. Diantara tiga imam madzhab sependapat, termasuk Imam Syafi'i, berzakat fitrah dengan beras dengan ukuran 2.5 kg. atau 2.7 kg. dan yang boleh menggunakan uang adalah madzhab Hanafi dengan takaran beras 3.8 kg.," ungkap M. Munawir Ghozali, ketua HAPPI.

Baca juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Untuk yang kedua, permasalahan yang dibahas yaitu tentang zakat mal. Pembahasan ini dilaksanakan pada malam hari setelah sholat Tarawih sebagaimana pelaksanaan bahtsul masail yang pertama. Pembahasan ini pun sudah rampung.

"Yang berhak mengeluarkan zakat mal diantaranya adalah harta kepunyaan sendiri dengan kadar mengikuti atau berpedoman pada nishob mas 85 karat murni," tambah alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu.

Baca juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk sore tadi, bertempat di masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat, bahtsul masail yang diselenggarakan oleh HAPPI ini membahasa tentang zakat profesi. Hasil yang didapat yaitu bahwa zakat profesi sama dengan zakat mal. Hanya saja, untuk zakat profesi ada dua cara yang bisa dilakukan.

"Zakat profesi bisa dilakukan dengan cara mencicil tiap bulan dan bisa langsung setahun," imbuhnya lagi.

Baca juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Kendati beberapa permasalahan sudah didapatkan hasilnya, namun bahtsul masail yang berjalan secara paralel ini belum selesai sampai di sini.

"Besok malam Ahad insya Allah akan diadakan pembahasan soal fidyah di Masjid Adz-Dzakirin," pungkas M. Munawir Ghozali yang biasa dipanggil dengan ustadz Ali itu.

Untuk peserta yang turut hadir dalam bahtsul masail ini biasanya mencapai belasan orang.[]

(Redaksi RN)
Read More

Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali


rumahnahdliyyin.com - Masjid merupakan suatu tempat sentral bagi umat Islam. Semua kegiatan kaum muslim yang berkaitan dan bersifat keagamaan, seperti menjalankan ibadah sekaligus syiar Islam, di masjid-lah tempatnya.

Di Papua, sebagaimana kita ketahui bersama, Islam bukanlah agama yang mayoritas. Sebagai agama yang minoritas, keberadaan masjid di tanah Cenderawasih ini bisa menjadi indikator bahwa di mana ada masjid, maka di situ pasti ada pemeluk Islam yang jumlahnya cukup lumayan. Karena itu, kuantitas masjid di tanah Papua merupakan salah satu tolok ukur mengenai jumlah populasi umat muslim yang berada di daerah Papua.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai, Papua

Istilah Masjid, di Papua, bagi kalangan umat Nasrani, mempunyai istilah sebutan nama yang unik dan beragam. Misalnya saja di daerah Enarotali, Kab. Paniai, Papua. Masyarakat asli Papua di daerah ini, yang notabene mayoritas pemeluk agama Nasrani, menyebut "masjid" dengan istilah “Gereja Islam”.

Entah mengapa istilah tersebut melekat diingatan umat Nasrani. Sampai saat ini, pun kebanyakan masyarakat asli yang sudah tua masih menyebut tempat ibadah umat Islam dengan sebutan “Gereja Islam”, bukan masjid.

Baca Juga: Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai, Papua

Penyebutan Istilah tersebut, bagi kalangan umat Islam sendiri, tidak menjadi masalah. Hal ini menandakan bahwa antara umat Nasrani dan Islam saling menjaga kerukunan dan penguatan tali persaudaraan antar agama yang ada di Kabupaten Paniai.

Pada zaman dahulu, konon ceritanya, istilah sebutan itu merupakan bentuk penghormatan umat Nasrani kepada umat Islam yang belum mempunyai tempat ibadah sebagaimana tempat ibadah yang dimiliki oleh umat Nasrani pada waktu itu.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU ke-92 dengan Santuni Anak Yatim

Begitu juga nama Masjid Al-Mubarok Enarotali, sejak mulai berdirinya sampai saat ini, pun tidak ada, bahkan sengaja tidak dikasih papan nama seperti kebanyakan Masjid pada umumnya. Namun belakangan, akhir-akhir ini diatas pintu gerbang masuk masjid terdapat tulisan “Masjid Al-Mubarok Enarotali“. Itupun hanya kecil dan sekedar sebagai identitas rumah ibadah bagi umat Islam saja. Itulah indahnya orang terdahulu mensikapi keberagaman pada masanya.

Sejarah awal berdirinya Masjid Al-Mubarok Enarotali di Kabupaten Paniai, Papua, yang terletak di jalan Enaro-Madi, tepatnya di kompleks pasar (kompas) lama ini, diperkirakan dibangun pada tahun 1980-an yang diprakasai oleh Bapak Munaf, seorang anggota polisi yang kebetulan bertugas di Enarotali. Bersama dengan umat muslim lainnya, beliau mendirikan sebuah bangunan kecil yang penting bisa dijadikan untuk menjalakan kewajiban agama sebagai seorang muslim.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Kemudian pada tahun 1986, bapak Munaf Yusuf berinisiatif menguatkannya dengan mensertifikatkan tanah diatas "hitam putih" dengan mengurus surat tanah dan pelepasan tanah yang disaksikan oleh kepala suku, tokoh adat dan para pendeta, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kelak dikemudian hari nanti.


Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Salah satu masyarakat muslim asli Paniai, yakni bapak H. Arif Pigome, mengatakan bahwa pada tahun 1986, pada waktu itu ia masih kecil, ia melihat sudah ada bangunan rumah kecil seperti musholla dan surau. Kemudian setelah berjalannya waktu, tahun demi tahun, dengan bertambahnya umat muslim yang datang, serta kondisi bangunan lama yang tidak bisa menampung para jama’ah, maka dengan pertimbangan tersebut, bapak Munaf Yusuf dan umat muslim bersepakat untuk memperluas bangunan tersebut. Walhasil, bangunan yang dulunya hanya sebuah bangunan rumah kecil berupa musolla, berubah menjadi sebuah bangunan Masjid.

Dalam perkembangannya, bangunan Masjid Al-Mubarok ini pun mengalami banyak perubahan. Adapun perkembangan selanjutnya, menurut ketua MUI setempat, yaitu dititik beratkan pembangunan pagar dan batas tanah milik Masjid.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana sekaligus Dakwah Umat Islam

Adapun dalam perkembangannya, bangunan Masjid ini diantaranya sebagai berikut:

Pada tahun 1990, perbaikan atap masjid. Dilanjutkan pada tahun 1995, yaitu pembuatan tempat wudlu' dan kamar mandi. Kemudian di tahun 1997, diteruskan dengan pembangunan tempat kamar imam serta kamar muadzin serta merbot. Di tahun 2000, pembangunan dilanjut dengan pembangunan serambi Masjid dan pagar gerbang Masjid, serta yang terakhir yaitu pada tahun 2017, yakni merenovasi tempat wudlu'.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Demikianlah sejarah singkat Masjid Al-Mubarok Enarotali yang berada di Kabupaten Paniai, Papua. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Salam.[]




* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kabupaten Paniai, Papua.
Read More

Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut Hingga Beliau Wafat


rumahnahdliyyin.com - Dalam kitab Kasyifatus Saja disebutkan bahwa qunut merupakan dzikir khusus yang memuat do'a-do'a dan pujian. Oleh karena itu, qunut dikatakan berhasil apabila memuat lafadz-lafadz yang mengandung dua hal tersebut.

Adapun qunut sendiri ada dua:
1. Qunut Nazilah, yaitu qunut yang dikerjakan pada saat sholat Fardlu/Maktubah ketika umat Islam tengah didera bahaya, bencana, wabah penyakit, ataupun serangan dari kaum kafir.
2. Qunut Shubuh atau Witir, yaitu qunut yang dikerjakan pada saat sholat Shubuh atau sholat Witir.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Hukum mengerjakan qunut adalah sunnah. Dalam sholat Shubuh sendiri, mengerjakan qunut termasuk sunnah ab'adl, yaitu suatu kesunnahan yang apabila tidak dikerjakan ditambal atau diganti dengan sujud Sahwi.

Banyak para sahabat Nabi Muhammad SAW. yang mensunnahkan qunut. Diantaranya yaitu Abu Bakar, Umar bin Khothob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas dan lain sebagainya.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Kesunnahan ini didasarkan pada hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. yang diantaranya yaitu yang diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berbunyi:

مازال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقنت فى الفجر حتّى فارق الدّنيا
RasuluLlah SAW. senantiasa berqunut pada waktu sholat Shubuh hingga (beliau) berpisah dengan dunia (wafat). [HR. Ahmad].

Baca Juga: Maulid

Ada memang hadits yang menyatakan bahwa RasuluLlah SAW. hanya mengerjakan qunut sebulan saja, kemudian tidak lagi. Hadits tersebut yaitu:

أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قنت شهرا يدعوا على أحياء من أحياءالعرب ثمّ تركه

Sungguh, RasuluLlah SAW. berqunut selama sebulan, mendo'akan jelek kepada suatu kelompok, kemudian meninggalkannya. [HR. Bukhari].

Baca Juga: Bid'ah

Dalam kitab Shohih Shifatu Sholatin-Nabiy, Habib Hasan bin Ali As-Saqqof memberikan catatan terhadap hadits terakhir ini dengan menukil dari kitab Sunan Kubro bahwa Imam Baihaqi telah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi yang mengomentari hadits tersebut.

Menurut Abdurrahman bin Mahdi, qunut yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW. dalam hadits terakhir diatas maksudnya hanyalah bacaan qunut, bukan qunutnya. Yaitu bacaan qunut Nabi Muhammad SAW. yang berupa melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok. 


Karena itu, mengenai dua hadits tentang qunut yang secara dhohir tampak tidak sinkron sebagaimana diatas, bukan berarti bahwa hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. itu saling bertentangan. Sebab, hadits yang terakhir hanyalah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW. hanya berhenti melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok ketika berqunut selama sebulan saja. Adapun diluar sebulan itu, Nabi Muhammad SAW. dalam qunutnya tidak lagi melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok.

Dengan kata lain, Nabi Muhammad SAW. senantiasa berqunut hingga beliau wafat. Hanya saja, pernah dalam satu bulan penuh Nabi Muhammad SAW. berdo'a dalam qunutnya untuk kejelekan suatu kelompok. WAllâhu a'lam.[]



Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Kurwato, Sorong, Papua Barat.
Read More

Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'


rumahnahdliyyin.com - Mbah Kiai Umar Abdul Mannan (wafat 1980), pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, dikenal luas sebagai seorang kiai yang sangat tawadlu’ (rendah hati). Hal ini tidak lepas dari cara Mbah Umar memperhatikan kitab Ta’limul Muta’allim secara kritis, yakni bukan tentang hak-haknya sebagai guru, melainkan tentang kewajiban-kewajibannya. Selain Ta'limul Muta'allim, kitab lain yang juga menjadi rujukan Mbah Umar dalam bertawadlu' adalah kitab Al-Barzanji.

Sebagai contoh, Mbah Umar sebagai guru tidak pernah berpikir bagaimana dibayari santri. Sebab, itu sama saja dengan tamak dalam hal duniawi. Bahwa seorang tholibul ‘ilmi atau santri diibaratkan seperti budak dalam hubungannya dengan guru seperti yang diungkapkan oleh Sayyidina Ali kw., Mbah Umar sebagai guru tidak menggunakan hal itu untuk memperlancar tercapainya kepentingan duniawi beliau.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Hal itu juga merupakan refleksi dari sikap tawadlu’ dan keikhlasan beliau dalam mendidik para santri. Mbah Umar adalah orang yang jujur dan tulus karena beliau memang seorang sufi yang secara istiqomah memilih hidup zuhud. Beliau tidak silau terhadap gemerlapnya dunia. Maka bisa dimengerti, apa yang disebut ndalem Mbah Umar hanyalah sebuah rumah yang sangat sederhana.

Oleh karena Mbah Umar memelihara sikap tawadlu’, maka santri-santri tetap beliau hargai dengan tidak merendahkan, apalagi menghina mereka. Mbah Umar tetap menjunjung kesantunan kepada para santri. Mbah Umar tidak pernah memberikan sesuatu kepada santri dengan menggunakan tangan kiri atau dengan cara melemparkannya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Sikap tawadlu’ Mbah Umar tersebut sebenarnya tidak hanya merupakan cerminan dari praktik tawadlu’ seperti yang dimaksudkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, tetapi juga dalam kitab Al-Barzanji yang ditulis oleh Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim.

Dalam kitab Al-Barzanji dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang pribadi yang sangat tawadlu’. Wakâna shallaLlâhu ‘alaihi wa sallama syadîdal hayâ’ wat-tawâdlu’i. Wujud nyata dari tawadlu’ beliau ﷺ antara lain yaitu mencintai fakir miskin dan mau bergaul bersama mereka.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Bentuk tawadlu’ seperti yang dicontohkan RasuluLlah SAW. tersebut diikuti oleh Mbah Umar dengan baik. Buktinya, Mbah Umar banyak berhubungan dengan wong-wong cilik yang kalau dilihat dari segi nasab biasa-biasa saja. Kepada mereka, Mbah Umar seringkali berbicara dalam bahasa Jawa Krama Hinggil, seperti kepada tukang becak, tukang bangunan, tukang pos, para santri yang belum cukup beliau kenal dan sebagainya. Semua itu merupakan bukti bahwa Mbah Umar memang orang yang sangat tawadlu’.

Terhadap orang-orang yang Mbah Umar meyakininya lebih tinggi karena lebih sepuh, misalnya, beliau senantiasa memberikan penghormatan yang disebut ta'dhim. Hal ini antara lain dapat dilihat contohnya ketika Mbah Kiai Umar menerima tamu yang notabene sahabat beliau, yakni Mbah Kiai Ali Maksum dari Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Mbah Umar mencium tangan Mbah Kiai Ali Maksum (Rais 'Aam PBNU 1980-1984) seperti dapat dilihat pada gambar.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dengan mengacu pada apa yang dipraktikkan Mbah Kiai Umar, kita dapat menyimpulkan antara lain bahwa orang tawadlu' adalah orang yang senantiasa menahan diri untuk tidak merasa lebih tinggi dari pada orang lain yang secara sosiologis sebenarnya berada dibawahnya. Sedangkan terhadap orang lain yang diyakininya lebih tinggi, orang tersebut senantiasa melakukan ta’dhim, yakni bersikap memuliakan dengan memberikan penghormatan yang tulus.[]



* Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mengungkapkan bahwa dirinya berbahagia atas kemudahan melaksanakan ibadah di Indonesia. Menurutnya, dalam tiap acara kenegaraan yang dihadirinya, pasti selalu ada jeda untuk istirahat, sholat dan makan, atau yang dikenal dengan istilah ishoma.

"Bersyukur hidup di RI. Dalam keagamaan, saya kira jauh lebih baik dari banyak orang yang bicara tentang keislaman," ujar JK di Jakarta, Kamis (31/5/2018), sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Apa yang diungkapkan JK ini lantaran ia membandingkannya dengan kondisi di sejumlah negara yang kerap tak memberi waktu jeda untuk beribadah di sela-sela acara. Bahkan, hal itu juga terjadi di negara yang mayoritas penduduknya juga pemeluk Islam, yaitu Turki. Hal itu dialami JK saat dirinya berkunjung ke negeri yang pernah dikenal sebagai kekhilafahan Ottoman itu pada awal Romadlon lalu.

Saat di Turki, lanjut JK, pertemuan dimulai pada pukul lima sore waktu setempat. Menjelang Maghrib, peserta dibagikan teh dan kurma. Masuk buka puasa, acara pun terus berlangsung. Padahal, sebelumnya JK berpikir bahwa acara akan dihentikan sementara untuk berbuka puasa dan ibadah sholat Maghrib.

"Setelah itu langsung saja bicara terus. Jangankan tarawih, maghribnya (juga tidak ada)," cerita JK.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Bagi JK, hal itu tidak masalah mengingat status dirinya sebagai seorang musafir yang bisa sholat dengan menjamak atau menggabungkan sholat Maghrib dengan Isya' yang dilanjut dengan sholat Tarowih. Namun ia heran, karena Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang beragama Islam dan bukan sebagai musafir, juga tidak menjalankan ibadah sholat Maghrib.

"Betul kalau saya musafir di sana bisa jama'. Tapi Erdogan, kan, sudah (tinggal) di Turki," tutur JK.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Pengalaman berbeda justru JK rasakan saat berkunjung ke Spanyol yang masyarakatnya mayoritas beragama non-muslim. Saat itu, juga bertepatan dengan bulan Romadlon. Begitu tiba di Madrid, Spanyol, setelah menempuh perjalanan dari Amerika Serikat yang sempat singgah di Frankfurt, Jerman, JK langsung mengajak sejumlah rombongan dan kolega di Spanyol untuk minum kopi di sebuah kafe.

Namun lantaran melihat ada sejumlah orang dari rombongan yang mengenakan peci, JK justru diingatkan oleh pelayan bahwa saat itu belum waktu buka puasa.

"Dia bilang, 'muslim ini muslim? hei, jangan ini belum'," ucap JK menirukan pelayan saat itu.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

JK pun menjelaskan pada pelayan itu bahwa dirinya boleh tidak berpuasa karena saat itu sebagai musafir usai menempuh perjalanan jauh.

"Oh, justru itu, wakil presiden harus kasih contoh. Janji besok puasa, hari ini dikasih kopi, tapi besok mesti puasa," tuturnya menirukan jawaban pelayan tersebut.

"Maka, kita bersyukur suasana luar biasa keagamaan di RI jauh lebih baik dari suasana keagamaan di banyak negara," pungkas JK.[]


(Redaksi RN)
Read More

Arwah HTI Gentayangan di Bandara Halim Jakarta


rumahnahdliyyin.com, Jakarta – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah resmi dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia. Kendati organisasi ini merupakan organisasi Islam, namun pembubaran HTI ini tidak berarti bahwa pemerintah Indonesia anti dengan Islam.

Selain terbukti sangat dekat dengan para ulama' dan kiai, pemimpin Indonesia (Presiden RI) juga merupakan seorang pemeluk Islam atau seorang muslim yang cukup taat. Jadi, mustahil kalau ada yang mengatakan bahwa bapak Presiden RI anti dengan Islam lantaran dibubarkannya HTI.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Sebagaimana diketahui bersama, HTI dibubarkan karena organisasi itu terbukti secara terang-terangan ingin menggantikan Pancasila dan membubarkan NKRI. Dengan dalih keber-Islam-an umat Islam tidak akan kaffah (sempurna) kalau masih menganut hukum yang berlaku di Indonesia saat ini, maka mereka ingin mendirikan Negara Islam di tanah NKRI ini.

Padahal, tidak ada satu tetes keringatpun yang mengucur dari mereka ketika bangsa Indonesia tengah berjuang mati-matian melawan dan mengusir penjajah waktu itu. Dan kini setelah Indonesia merdeka, tiba-tiba mereka ingin mengganti NKRI dengan khilafah yang menurut mereka adalah bagian dari Islam dan wajib ditegakkan.

Apa mereka pikir para ulama' dan kiai yang berjuang demi kemerdekaan negara ini tidak paham Islam sehingga mereka berani-beraninya menyebut bahwa Pancasila dan UUD '45 yang telah disepakati para ulama' atau kiai yang pejuang-pejuang itu tidak sesuai dengan Islam!!?? Bahkan disebut sebagai sistem kafir!!??

Baca Juga: Menolak Ide Khilafah

Kendati secara organisasi HTI memang sudah dibubarkan, namun sangat jelas sekali arwah-arwah mereka masih bergentayangan. Ada yang berusaha mengadakan seminar. Ada yang menyebar paham mimpi khilafahnya di medsos. Dan ada pula seperti yang terjadi di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pada Jum'at, 1 Juni 2018, yakni menabur benih ideologinya lewat buletin.

Di Bandara Halim itu, buletin HTI tersebar di area Masjid Bandara. Tepatnya tergeletak diatas meja penitipan tas dan sepatu. Ketika Suwoko, salah seorang yang menyaksikan adanya buletin dari ormas terlarang itu, ia pun kemudian menyampaikan kepada petugas penitipan itu.

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

"Ini buletin HTI yang dilarang pemerintah,” kata Suwoko, sebagaimana dikutip dari arrahmahnews.com.

Entah karena tidak mengetahui kalau buletin itu adalah buletin HTI atau apa, petugas itu hanya diam saja.

“Tapi orangnya diam saja,” lanjut Suwoko.

Buletin HTI memang sebelumnya tidak bernama Kaffah. Nama Kaffah adalah nama baru dari hasil metamorfosis nama sebelumnya, yakni Al-Islam.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Mengetahui arwah-arwah atau hantu-hantu HTI yang masih gentayangan ini, harusnya aparat bisa menindaknya dengan tegas. Selain karena sudah resmi dilarang oleh pemerintah, juga karena hantu-hantu HTI itu mengandung virus ideologi yang sangat berbahaya bagi kesehatan rakyat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.[]


(Redaksi RN)
Read More

Sholawat Pancasila


rumahnahdliyyin.com - Bagi bangsa Indonesia, adanya Pancasila merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. terhadap bangsa ini. Ditengah berbagai keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia, terbukti Pancasila telah mampu mempersatukan bangsa ini.

Disaat yang sama, dimana banyak negara yang terkoyak dan terberai karena adanya perbedaan yang tak bisa disatukan lagi, bangsa Indonesia tetap kokoh bersatu. Keadaan Indonesia bisa seperti ini tidak lain berkat bangsa Indonesia yang mengamalkan falsafah Pancasila yang terdiri dari lima sila itu.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Makanya tak heran bila kemudian bangsa ini menetapkan dan memperingati Hari Kelahiran Pancasila pada tiap tahunnya. Yakni tanggal 1 Juni. Tentu saja banyak cara yang dilakukan dalam acara peringatan tersebut. Bahkan, ada yang sampai mengekspresikannya dengan cara mengarang syair-syair tentang Pancasila dengan nada dan irama Sholawat.

Inilah syair-syair tentang Pancasila yang diberi judul dengan "Sholawat Pancasila" dengan mengikuti nada dan irama Sholawat Badar.

Baca Juga: Ini Pandangan Gand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila

صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى طَهَ رَسُولِ الله
صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى يس حَبِيبِ الله

Ponco silo dasar negoro * isine cocok karo agomo
Mulo ayo podo diamalno * ben negoro iso tambah joyo

Esa kuwi maknane siji * yo iku iman marang Kang Siji
Ojo syirik ojo ngadohi * marang agomo ajaran ilahi

Nomer loro kemanungsan * ingkang adil cocok aturan
Ojo delok opo agamane * kabeh menungso podo asale

Nomor telu persatuan * ojo ra rukun podo tukaran
Agomo ngongkon kito bersatu * ngadohi khilaf lan poro padu

Nomor papat mentingno rakyat * lewat coro sing maslahat
Kebeh perkoro musyawarohno * ngono iku sing wijaksono

Kudu adil sing nomer limo * mbantu rakyat kudu sing lomo
Ojo podo mbedakke konco * ngono kuwi yo ajaran agomo

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Bangsa

Demikianlah salah satu ekspresi dalam mensyukuri lahirnya Pancasila. Sebuah ekspresi yang positif dan perlu diapresiasi serta menjadi inspirasi bagi warga Indonesia yang lainnya.

Adalah Muhammad Ni'am yang mengarang Sholawat Pancasila di atas. Ia mengaku, inspirasi untuk mengarang sholawat ini ia dapatkan ketika tengah mengikuti upacara Peringatan Hari Pancasila.

"Saya sendiri yang buat. Tadi pas upacara saya mikir, harusnya ada sholawatan Pancasila. Karena, sholawat sekarang jadi media dakwah yang dahsyat," ungkap salah satu Pengasuh PMH Alkautsar Kajen dan Kepala SMK Pesantren Cordova Pati ini kepada muslimpribumi.com via WA.[]

(Redaksi RN)
Read More