Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat


rumahnahdliyyin.com - Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) baru saja menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 21-23 Februari 2018 lalu.

Acara yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo itu mengangkat tema “Memperkokoh Komitmen Islam Kebangsaan Menuju Orde Nasional”. Isu penting yang menjadi bahasan Rakernas I MDHW antara lain yaitu soal radikalisme.

Gerakan radikalisme yang berujung pada terorisme merupakan momok mengerikan. Sebab, telah membuat citra Islam lekat dengan agama teror yang menyukai jalan kekerasan. Celakanya, eskalasi gerakan ini bukan semakin surut. Namun, justru kian meningkat.

Hasil survei Wahid Institute pada 2017 lalu menyebutkan bahwa sebanyak 0,4 persen atau 600.000 penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen atau 11 juta orang berpotensi bertindak radikal.

Tak hanya itu, survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2017 pula menyebutkan bahwa ada sebanyak 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia yang terindikasi tertarik pada paham radikal. Data ini menunjukkan bahwa radikalisme merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian khusus.

Isu berikutnya adalah soal ekonomi umat. Isu ini penting. Karena jika merujuk data World Bank (2015), Indonesia merupakan negara ranking ketiga tertimpang setelah Rusia dan Thailand.

Gini rasio mencapai 0,39% dan indeks gini penguasaan tanah mencapai 0,64%. Sedangkan 1% orang terkaya menguasai 50,3% kekayaan nasional dan 0,1% pemilik rekening menguasai 55,7% simpanan uang di bank.

Fakta ini sungguh menyedihkan. Sebab, kekayaan Indonesia dimonopoli oleh segelintir orang yang menguasai lahan, jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan ataupun obligasi pemerintah. Tentu persoalan ketimpangan bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan nasional.

Islam Kebangsaan

Karena itu, dalam konteks mengatasi gerakan radikalisme, pemahaman ihwal pentingnya memperkokoh komitmen Islam kebangsaan perlu dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Islam kebangsaan merupakan Islam yang memiliki semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Sejarah mencatat, Islam kebangsaan telah menjadi kekuatan fundamental dalam upaya melawan kolonialisme. Islam kebangsaan mempererat tali persaudaraan sebangsa (ukhuwah wathoniyah).

Dalam bahasa Prof. DR. (HC.) KH. Ma’ruf Amin, Islam kebangsaan adalah Islam yang menerima kemajemukan. Bingkai kemajemukan yang dimaksud di sini harus bersifat politis-yuridis dan teologis.
Bingkai politis-yuridis adalah kebijakan tentang bentuk negara Indonesia. Yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila sebagai falsafah bangsa, dan UUD 1945 sebagai konstitusi negaranya. Ini berarti, keputusan politik para pendiri bangsa merupakan konsensus nasional.

Sedangkan bingkai teologis adalah untuk mewujudkan integrasi nasional yang kokoh. Bingkai teologis ini menjadi perekat sekaligus pemahaman kepada seluruh elemen masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga integrasi bangsa ini secara bersama-sama dalam upaya menjaga keutuhan dan kesatuan nasional. Baik kaitannya dengan NKRI maupun Pancasila.

Ekonomi Umat

Sementara itu, dalam konteks memperkuat ekonomi umat, kita perlu mendorong umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia tidak hanya menjadi penonton dan konsumen. Namun, harus mampu bergeser menjadi aktor utama dan produsen dalam setiap jengkal denyut nadi perekonomian Indonesia.

Karena itu, perlu misalnya dilakukan penataan aktivitas perekonomian secara bottom up. Atau yang oleh pemerintah dikenal dengan istilah ultra-mikro.

Pasalnya, ketimpangan ekonomi akan makin tajam bila tak ada upaya serius untuk mengatasinya. Di saat yang sama, persoalan lapangan pekerjaan juga akan menjadi bom waktu bila tak segera diantisipasi.

Hal ini mengingat jumlah usia produktif yang ditandai dengan bonus demografi di Indonesia makin meningkat dari tahun ke tahun. Bila tak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi tidak akan mendatangkan “berkah”, namun justru “musibah”.

Itulah mengapa dalam menancapkan visi organisasinya, MDHW memiliki empat pilar gerakan. Yaitu dzikir, halaqoh, gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.

Konsep dzikir yang dimaksud di sini tidak sekadar dzikir wirid sebagaimana umumnya. Namun, dzikir secara universal yang berangkat dari konsep dasar “Fas’aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun.” (maka, tanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui).

Sedangkan halaqoh merupakan konsep silaturrahim, konsolidasi, musyawarah, baik itu dengan para ulama' maupun elemen bangsa yang lain. Konsep halaqoh yang dimaksud yaitu sebagai jembatan mencari problem solver dari berbagai permasalahan kebangsaan yang ada.

Adapun gerakan sosial menekankan bahwa kehidupan sosial (berkelompok, berbangsa, bernegara) harus dibangun atas nilai-nilai persaudaraan dan persatuan serta gotong-royong dengan mengedepankan kasih sayang (rahmah), perdamaian (salam) dan toleransi (tasamuh).

Secara konkret, gerakan ini akan merespons berbagai problem dan dinamika sosial yang ada. Mulai dari bencana alam, renovasi tempat pendidikan dan tempat ibadah atau pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu.

Sementara yang dimaksud dengan pemberdayaan ekonomi umat adalah upaya untuk mengatasi ketimpangan dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Akhirnya, Islam sebagai agama rahmat semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) harus menjadi spirit dalam berbangsa dan bernegara. Dan umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia harus menjadi pionir mewujudkan tananan nasional (orde nasional) yang lebih baik. []


Oleh: Hery Haryanto Azumi, Sekjen Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) serta Wasekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Read More

Bahaya Berjihad Demi Syahwat


muslimpribumi.com - Nafsu adalah bagian dari hiasan yang diberikan Allah SWT. kepada manusia. Ada beberapa jenis nafsu dalam diri manusia. Diantaranya yaitu ada nafsu amarah, lawwamah dan muthmainnah. Ada juga yang membagi nafsu ini menjadi tujuh jenis, bahkan ada yang 10 jenis.

Dari berbagai jenis nafsu ini, ada nafsu yang mengarahkan manusia pada tindakan jahat, merusak dan bejat yg disebut dengan nafsu amarah atau syahwat. Sedangkan nafsu pengendali yang mengarahkan manusia pada kebaikan, disebut dengan nafsu muthmainnah.

Adanya berbagai jenis nafsu ini menunjukkan bahwa dalam diri manusia sebenarnya merupakan medan pertarungan nafsu yang terjadi secara terus menerus. Jika pertarungan dimenangkan oleh nafsu amarah yang penuh syahwat, maka manusia akan menjadi jahat. Demikian sebaliknya, jika nafsu muthmainnah yang menang dan berhasil mengendalikan nafsu amarah atau syahwat, maka manusia akan menjadi baik dan beradab.

Untuk mengendalikan pertarungan antar nafsu yang ada dalam diri manusia, Allah SWT. memberikan akal pada manusia. Melalui akal ini, manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk serta mengenali berbagai nilai-nilai, etika dan norma yang ada dalam kehidupan. Melalui akal ini, manusia dipandu untuk bisa mengendalikan nafsu amarah yang penuh syahwat duniawi dan biologis.

Di dalam Al-Qur'an disebutkan, ada beberapa hal yang bisa memancing tumbuhnya nafsu syahwat, yaitu lawan jenis, anak dan harta benda. Disebutkan: dihiasi manusia dengan cinta "syahwat" terhadap perempuan (lawan jenis), anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda-kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik (QS. Ali Imran; 14).

Nabi Muhammad SAW. beberapa kali mengingatkan bahayanya nafsu syahwat. Sebab, manusia yg sudah dikuasai syahwat akan kehilangan sifat kemanusiaannya. Dia akan bersikap seperti hewan karena kehilangan akal sehat. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Ghozali: idza qaama dzakuruhu dzahabat nishfu aqluhu (ketika dzakar lelaki sudah berdiri, maka hilanglah sebagian akalnya).

Meski hanya menyebut berdirinya dzakar, namun peringatan Imam Al-Ghozali ini bisa dimaknai bahwa nafsu yang penuh dengan gejolak syahwat bisa menjebak manusia pada kehilangan akal. Sehingga, apa saja demi untuk memenuhi nafsu birahi dan syahwat, akan rela dilakukan. Jika sudah demikian, maka ajaran agama dilupakan dan larangan Tuhan diabaikan. Bahkan, Tuhanpun dipersekutukan.

Fenomena ini terlihat jelas pada orang-orang yang tega membunuh sesamanya, menebar teror dan ketakutan, mencaci maki dengan penuh kebencian, bahkan rela bunuh diri agar bisa secepatnya bertemu dengan bidadari supaya bisa segera untuk melampiaskan syahwatnya. Karena kehilangan akal, maka tanpa sadar, mereka sebenarnya telah mengabaikan Allah SWT. karena telah melalukan tindakan brutal yang merusak kehidupan demi surga dan bidadari.

Nafsu syahwat yang telah menutup akal dan nurani, membuat mereka tidak mampu menangkap cahaya kasih Allah SWT. yang penuh dengan rahmat dan welas asih pada sesama. Alih-alih menjadikan jihad sebagai upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil-'alamin, menyebarkan Islam dengan hikmah dan akhlakul karimah, mereka justru menjadikan jihad sebagai jalan pintas untuk melampiaskan hasrat biologis menikmati keindahan surga dan agar bisa secepatnya menumpahkan birahi dan syahwat mereka kepada 72 bidadari yang cantik-cantik.

Selain terhadap lawan jenis, bahaya nafsu syahwat juga terjadi terhadap harta dan kekuasaan. Manusia yang sudah dihinggapi syahwat berkuasa dan nafsu terhadap harta, akan gelap mata dan kehilangan akal sehat. Mereka akan melakukan apa saja demi harta dan kekuasaan. Mereka tega memanipulasi ayat, mengatas namakan Tuhan, bahkan menjual agama demi kuasa dan harta.

Pengertian menjual agama disini bukan saja bersikap murtad, keluar dari Islam, setelah mendapat sembako sebagaimana yang dituduhkan terhadap orang-orang miskin. Menggunakan simbol agama dan ayat-ayat suci untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan harta, sebenarnya juga merupakan bentuk menjual agama. Dan ini, biasanya justru dilakukan oleh mereka yang berpenampilan agamis dengan meneriakkan agama yang keras dan nyaring.

Memang tidak semua yang berpenampilan agamis dan berteriak lantang adalah orang yang menggunakan agama untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan nafsu serakah. Tapi, hampir bisa dipastikan orang-orang yang punya syahwat kekuasaan dan harta, tidak segan-segan menggunakan simbol agama untuk memenuhi nafsunya dengan berpenampilan agamis dan berteriak lantang tentang agama.

Jelas disini terlihat bahayanya nafsu syahwat, baik syahwat terhadap lawan jenis (terutama perempuan cantik dan bidadari) maupun kekuasaan dan harta. Nafsu syahwat bisa merubah manusia dari makhluk religius dan beradab menjadi makhluk biadab dengan daya rusak yang tinggi. Agama yang mestinya menjadi tuntunan dalam menegakkan nilai kemanusiaan dan pentunjuk dalam mengabdi pada Tuhan, oleh orang-orang yang sudah dikuasai syahwat, justru dijadikan sebagai alat perusak untuk sekedar memenuhi syahwat bersenggama dengan bidadari atau sekedar alat untuk memperoleh kekuasaan atau menumpuk harta.

Ketika jihad sudah dipakai untuk mengejar hasrat untuk memenuhi syahwat (biologis, kekuasaan dan harta) hingga menghilangkan akal sehat, maka sebenarnya inilah pelecehan dan penistaan terhadap agama yang sebenarnya. Ini sangat berbahaya. Sebab, ini sama saja dengan menjadikan agama sebagai racun dunia.

Agama tanpa akal sehat, kepekaan nurani dan spiritualitas yang penuh kearifan, maka akan bisa menjadi alat perusak dan pembunuh. Na'udzubiLlaah.


* Oleh: Al-Zastrouw Ngatawi.
Read More

Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari Untuk NU


Dalam salah satu maqolahnya, Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa “Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta keluarganya”.

Hal ini semestinya menjadi penyemangat kaum muslimin untuk menghidupkan dan memajukan NU. Salah satu diantara ikhtiar untuk memajukan NU adalah berdo'a demi kebaikan NU kedepan.

Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari mengijazahkan do'a sebagai berikut:

 دُعَاءُ حَضْرَةِ الشَّيْخِ كِيَاهِي حَاجِي مُحَمَّدْ هَاشِمْ أَشْعَرِي رَحِمَهُ الله

اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَا
اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧٧)”. وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)

أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Artinya : “Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama' dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan. Dan tuntunlah mereka ke jalan petunjuk-Mu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah jam’iyyah kami, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendak-Mu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧) ، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم:  ٣٧٧

“Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97). “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rizqi mereka berupa buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS Ibrahim: 37). Dan karuniakanlah mereka rizqi (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedholiman, ketidak-senonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa.”

Demikianlah doa ijazah dari Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang bisa diamalkan oleh segenap kaum muslim demi kemajuan NU. Semoga bermanfa'at.

* Dari KH. Khotib Umar, dari ayahnya (KH. Umar), dari KH. As’ad Syamsul Arifin, dari Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Read More

Ma’had Aly TBS Kudus Menerima Pendaftaran Santri Baru


Ma’had Aly merupakan perguruan tinggi keislaman yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab salaf.

Kemenag RI, selama dua tahun ini, telah meresmikan puluhan Ma’had Aly di seluruh Indonesia dengan tingkat Strata Satu (S1) dari berbagai macam program studi. Lulusan Ma’had Aly yang diakui Pemerintah setara dengan lulusan lembaga pendidikan tinggi agama dan umum dalam sistem pendidikan nasional, baik dalam pengakuan maupun status.

Bersamaan diresmikannya PAUD TBS pada acara harlah TBS Kudus yang ke 92, juga akan dibuka penerimaan santri baru Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, tahun akademik 2018/ 2019.

Ma’had Aly TBS Kudus menyelenggarakan satu Program Studi, yaitu Ilmu Falak. Sebab, Ma’had Aly di Indonesia belum ada yang menyelenggarakannya. Sementara itu, Madrasah TBS telah melahirkan maestro ilmu falak yang terkenal di Indonesia, seperti KH. Abdul Jalil, KH. Turaichan Adjhuri, KH. Noor Ahmad dan lain-lain.

Adapun Pendaftarannya, akan dibuka pada tanggal 01 Rajab–20 Syawal 1439 Hijriyah. Atau bertepatan dengan tanggal 19 Maret–04 Juli 2018 dalam penanggalan Masehi. Pendaftaran bisa dilakukan di kantor Ma’had Aly TBS, Gedung Madrasah TBS Selatan, Jl. KH. Turaichan Adjhuri, No. 23, pada jam 08.00–13.20 WIB.

Kontak person panitia penerimaan santri baru:
082324252051 (Kholilur Rohman).
087839280030 (Noor Aflah).


* Sumber: santrimenara.com
Read More

PCNU Mimika Donasi Buku di SDNU Limau Asri


muslimpribumi.com | Mimika - Derai hujan, tak mengurangi sedikitpun semangat murid-murid Sekolah Dasar NU Limau Asri, Mimika, Papua, untuk mensukseskan acara silaturrahim PCNU Mimika di sekolah mereka.

Dalam pembukaan, murid-murid melantunan Sholawat An-Nahdliyyah. Suara emas vokalis putri yang melantunkan sholawat itu, membuat suasana khidmat.

Wakil Kepala SDNU tersebut, ustadzah Waqiah, menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas kesediaan PCNU Mimika untuk mengunjungi sekolahnya.

“Semoga, ke depan, silaturrahim ini bisa istiqomah dilakukan,” harap Waqiah.

Acara yang sudah berlangsung pekan lalu itu, diawali dengan perkenalan para guru dan para pengurus PCNU yang kemudian dilanjutkan dengan informasi terkini tentang PCNU Mimika.

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, mengakui bahwa komunikasi dan silaturrahmi ini baru sekali dilakukan.

"Terus terang, ke sekolah ini ya baru sekarang ini. Namun, ini saya harap bukan yang terakhir. Tapi awal yang dilanjutkan dengan jadwal pertemuan rutinan," terangnya.

Menurutnya, saat ini orang Mimika takut menyatakan ke-NU-annya dan lebih memilih untuk tidak ber-NU-NU-an. Mereka berdalih, yang penting Islam. Namun, justru pilihan ini membuat kelompok baru yang bernama "tidak NU-NU-an".

"Sebagai manusia, jelas tidak bisa tidak berkelompok. Sadar atau tidak, namun kita pilih kelompoknya para wali. Para ulama' yang sanadnya hingga Rasulullah SAW. Dan itu ada di NU," jelasnya.

Salah seorang pengajar, ustadz Hasyim, mengajak untuk mengikuti Rasulullah SAW. agar selamat dengan melalui sahabat, tabi'in, tabiut-tabi'in, murid murid tabiut-tabi'in hingga para ulama'nya NU.

"NU itu sudah jelas siapa sopirnya. Yakni KH. Hasyim Asy'ari," ungkap ustadz Hasyim.

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan donasi buku dari PCNU Mimika untuk SDNU tersebut. Buku-buku tersebut tediri dari buku-buku keislaman, sejarah, tajwid, Al-Qur'an dan lain-lain. Selain itu, PCNU Mimika juga memberikan apresiasi kepada para guru atas dedikasinya selama ini.


* Sumber: nu.or.id
Read More

Kuota Beasiswa Santri Berprestasi Tahun 2018 Bertambah


muslimpribumi.com | Bandung - Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) tahun 2018 akan segera dibuka. Kepastian ini disampaikan Kasubdit Pendidikan Rapat Koordinasi Persiapan PBSB dengan Perguruan Tinggi Mitra di Bandung, Rabu, 28 Februari kemarin.

Menurut Basnang, Direktorat Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren (PD. Pontren) terus melakukan persiapan. Salah satunya yaitu dengan menggelar Rakor guna menyusun format seleksi. Tahun ini akan ada penambahan pilihan program studi (prodi) baru di kampus UPI Bandung. Yaitu: prodi seni musik dan desain grafis.

"PBSB rencananya akan dilaunching pada 28 Maret mendatang di kampus UGM Yogyakarta," tutur Basnang.

Basnang juga mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak UGM Yogyakarta terkait rilis PBSB tahun ini.

“Kami sudah mengirimkan permohonan kepada Bapak Menteri Agama untuk bersedia melaunching program PBSB. Kita berharap, semoga Menag bersedia dan tidak berhalangan," harapnya.

Menurut Basnang, pihak UGM Yogyakarta sudah menyampaikan kesiapannya menjadi tuan rumah peluncuran program PBSB. UGM telah menjadi mitra PBSB sejak tahun 2006. Saat ini, UGM tercatat sebagai kampus dengan mahasiswa PBSB terbanyak kedua setelah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Total mahasiswanya mencapai 519 santri.

Pihaknya juga sudah melakukan persiapan. Bahkan, pihaknya meminta kepada mahasiswa PBSB di UGM untuk mewarnai agenda launching tersebut dengan mengenakan busana ala santri, yaitu sarungan.

Launching ini, kata Basnang, akan dimeriahkan dengan kehadiran mahasiswa PBSB UIN Yogyakarta serta pengurus Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMORA) Nasional. Akan hadir pula para pengelola PBSB Kanwil Kemenag Provinsi dan 13 Perguruan Tinggi Mitra.

“Kita akan tampilkan corak yang berbeda. Kita akan meriahkan acara launching tersebut dengan karakteristik pesantren,” sambungnya.

Basnang menambahkan, Kemenag akan memberikan bantuan PBSB tahun ini kepada 272 santri berprestasi terpilih. Mereka akan kuliah di 13 perguruan tinggi mitra, yaitu:

  1. UGM Yogyakarta.
  2. UIN Yogyakarta.
  3. ITS Surabaya.
  4. Unair Surabaya.
  5. UIN Surabaya.
  6. UIN Malang.
  7. UIN Jakarta.
  8. IPB Bogor.
  9. UIN Semarang.
  10. UIN Makassar.
  11. Univ. Cendrawasih Jayapura.
  12. UIN Bandung.
  13. UPI Bandung.
“Kita bersyukur bahwa kuota beasiswa PBSB tahun ini bertambah dari kuota tahun lalu yang hanya diberikan kepada 157 santri. Nanti akan kita matangkan kembali biaya perkuliahan pada masing-masing perguruan tinggi. Jika prodi yang biaya perkuliahannya tinggi bisa dikurangi, tentunya kuota 272 santri akan bisa bertambah lagi,” tutupnya.


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat


muslimpribumi.com | Asmat - Kegiatan Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad, malam ini berlangsung di Masjid Saiful Bukhori, Kampung Mbait-Cemenes, Distrik Agats, Kab. Asmat, Papua. Jama'ah yang terbentuknya diprakarsai oleh PCNU Kab. Asmat, dua tahun lalu ini, mengalami kemajuan.

Kalau dulu kegiatannya hanya Yasinan dan Tahlilan, kini kegiatannya juga ada materi ngajinya. Kalau dulu kegiatannya hanya berlangsung dirumah-rumah warga dengan cara bergilir tiap malam jum'atnya, kini sudah menjamah ke dalam masjid meskipun hanya sebulan sekali.

Pada kali ini, yang bertugas sebagai pengampu ngaji adalah ustadz Hafid Abdullah yang dimoderatori oleh ustadz Masruri. Adapun materi yang dibawakan yaitu bidang Fiqh dan membahas soal rukun-rukun sholat.

Dalam membawakan materi, ustadz Hafid yang juga sekretaris PCNU Kab. Asmat ini, mendasarkan apa yang disampaikannya kali ini pada kitab Fathul Qorib dan sesekali menukil hadits-hadits dari kitab Bulughul Marom.

"Saya harus menukil beberapa hadits dalam penjelasan yang saya sampaikan. Sebab, beberapa masyarakat di sini sering bertanya dalil," jelas ustadz Hafid.

Alumni pondok pesantren Darul 'Ulum, Peterongan, dan pondok pesantren Fathul 'Ulum, Pare, Kediri, ini, sesekali juga berdiri untuk mempraktekkan bagaimana caranya ruku', i'tidal, sujud dan hal-hal lainnya yang perlu untuk dipraktekkan.

Dalam kegiatan ini, juga disediakan sesi tanya-jawab selepas materi dipaparkan. Selain ustadz Hafid, beberapa hadirin juga dipersilakan untuk menambahi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Seperti H. Samsul Bahrun, ketua PKM Masjid Saiful Bukhori, yang menambahi jawaban dari pertanyaan hadirin tentang gerakan-gerakan yang membatalkan sholat.

"Kalau gerakan tangan untuk takbirotul ihrom itu, kan, gerakan sholat. Yang dimaksud dengan gerakan yang membatalkan sholat itu gerakan yang tidak termasuk dalam gerakan sholat," jelas H. Samsul.

Kemajuan ini sangat perlu dan harus diapresiasi. Selain karena program kegiatannya yang--mohon maaf--sangat luar biasa untuk ukuran di Papua, juga karena keistiqomahan para penggeraknya yang lebih harus diacungi banyak jempol.

Dengan adanya ngaji seperti ini, harapan PCNU Kab. Asmat adalah supaya bisa membumikan ajaran Aswaja An-Nahdliyyah di Asmat khususnya dan di bumi Papua pada umumnya.

"Ini merupakan salah satu strategi dari PCNU Kab. Asmat dalam membendung banyaknya aliran Islam yang tidak jelas di sini. Bisa dikatakan, inilah benteng Aswaja di Asmat," urai ustadz Hafid.

Akhirnya, mari kita do'akan semoga kegiatan yang sangat baik ini senantiasa diberi kelancaran dan kemudahan oleh Allah Sang Maha Baik. []
(Asb)
Read More

UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar atas Hadits Khilafah 'ala Hizbut Tahrir


rumahnahdliyyin.com - Dalam sebuah potongan video ceramah yang beredar di media sosial, suatu ketika Ustadz Abdul Shomad (UAS) ditanya tentang adanya hadits tentang Khilafah 'ala Manhaj Nubuwwah (khilafah berdasarkan metode kenabian).

Ustadz Shomad kemudian menyitir sebuah hadits riwayat Imam Ahmad yang membagi masa Khilafah menjadi lima periode. Pertama, Khilafah Kenabian yang terjadi pada masa Nabi SAW. Kedua, masa kekhilafahan Khulafa’ur Rasyidun. Ketiga, masa Mulkan Addhan (kerajaan yang menggigit). Keempat, masa Mulkan Jabariyyah (kerajaan diktator). Dan yang terakhir, kembali ke Khilafah Kenabian.

Hadits ini cukup populer dikalangan umat muslim. Khususnya, bagi para aktivis Khilafah.

Meskipun Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah dibubarkan oleh pemerintah Indonesia, namun dalam ranah akademik, boleh tetap terus berjalan. Apalagi, meskipun organisasinya sudah bubar, namun ideologi mereka masih cukup kuat untuk menumbuhkan bibit-bibit aktivis pejuang Khilafah.

Dari sembilan kitab hadits ternama (kutubus tis’ah), hanya Imam Ahmad yang meriwayatkan adanya hadits tentang kembalinya Khilafah Kenabian ini. Seperti yang pernah dipaparkan oleh Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir), hadits-hadits yang berbau politik seperti ini harus diseleksi lebih mendalam. Karena akan besar kemungkinan hadits-hadits politik, dipengaruhi oleh unsur yang politis pula.

Dua kitab hadits utama, Shohih Bukhori dan Shohih Muslim, tidak meriwayatkan hadits ini. Dengan demikian, secara eksplisit, hadits ini bukan merupakan hadits shohih (meskipun hadits shohih bukan hanya Bukhori-Muslim saja). Paling tidak, hadits ini tidak ditemukan dalam dua kitab hadits yang paling dipercaya di muka bumi ini.

Oleh sebab itu, merupakan ketergesa-gesaan jika Hizbut Tahrir (HT) mewajibkan berdirinya Negara Khilafah (satu Negara Islam) di dunia ini. Bukan saja karena landasan aqli-nya tidak kuat, landasan naqli-nya pun tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Sebuah ironi terjadi ketika pendiri sekaligus amir HT pertama, dalam kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyyah, menyatakan untuk menolak adanya hadits yang tidak mutawatir untuk dijadikan pedoman (Ainur Rofiq Al-Amin; 2017). Padahal, satu-satunya hadits yang sering digadang-digadang oleh HT, sekaligus sebagai landasan utama normatif-nya dalam mengkampanyekan Khilafah adalah hadits Ahad atau hadis yang tidak mutawatir ini.

Dengan demikian, sedari awal, syeikh Taqiyuddin sudah tidak konsisten terhadap apa yang menjadi metode pemahaman nash dengan apa yang menjadi pilar utama adanya gerakan ini. Selain hadits riwayat Imam Ahmad tersebut tidak kuat secara sanad, ada hadits lain yang bertentangan dengan apa yang ada dalam hadits Lima masa Khilafah tersebut. Hadits ini terdapat dalam kitab Tarikh Al-Khulafa’.

Imam Jalaluddin As-Suyuti, dalam kitab tersebut meriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa masa Khilafah hanya berlangsung selama 30 tahun. Yakni pada masa Khulafa’ur Rasyidin yang terjadi pada tahun 11 Hijriah sampai 40 Hijriah.
الخلافة ثلاثون عاما ثم يكون بعد ذلك الملك 

Masa khilafah itu tiga puluh tahun. Dan sesudah itu adalah masa kerajaan.

Dilain tempat, dengan redaksi hadits yang hampir sama, Imam Tirmidzi juga meriwayatkan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda: Khilafah umatku selama tiga puluh tahun. Dan setelah itu adalah kerajaan.

Bahkan, bagian akhir hadits ini menceritakan tentang kerajaan Bani Umayyah sebagai seburuk-seburuknya kerajaan. Sangat politis, bukan? (Sunan At-Tirmidzi, vol. 4., Lihat Ainur Rofiq Al-Amin, HTI Dalam Timbangan).

Oleh sebab itu, wajib hukumnya bagi para ulama' untuk meneliti lebih mendalam terkait hadits-hadits yang berbau politik. Sebab, semenjjak Nabi SAW. wafat, keadaan politik sudah memanas terkait suksesi kepemimpinan pengganti Nabi SAW.

Ustadz Shomad, dalam menjawab ketika ia ditanya tentang hadits Khilafah, juga menggunakan hadits ini. Namun sayang, ia tidak menjelaskan status hadits, atau makna dari hadits, atau pun bagaimana komentar para ulama' hadits mengenai hadits tersebut. Hal ini menjadi bahaya ketika orang awam menangkap hadits tersebut secara cuma-cuma dan langsung ikut-ikutan menjadi simpatisan Khilafah. Atau, bahkan bisa jadi menjadi kader gerakan pengusung Khilafah ini.

Status hadits yang lemah, bahkan hanya terdapat satu redaksi dari sembilan kitab hadits yang ada, menjadi alasan utama mengapa hadits ini harus ditolak. Jika pun diterima secara terpaksa, maka harus ada interpretasi alternatif agar hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang lain (seperti bertentangan dengan hadits Khilafah 30 tahun).

Salah satu interpretasi yang paling memungkinkan yaitu bahwa hadits ini dipahami sebagai tanda kejayaan umat Islam di akhir zaman. Yakni ketika Al-Mahdi turun ke bumi memimpin umat Islam untuk merebut kembali Al-Quds. Dan setelah Al-Quds sudah terkuasai kembali, itulah yang disebut dengan Khilafah 'ala Manhajin-Nubuwwah.

Jadi, Khilafah 'ala Manhajin-Nubuwwah (kalaupun terpaksa menerima hadits) ini, bukan Khilafah ala-ala HT yang dalam wacana sistemnya pun masih rancu meskipun mereka mengaku bahwa Khilafah yang mereka usung adalah yang paling mirip dengan Khilafah di era Nabi Muhammad SAW.

Doktrin-doktrin HT yang berjualan dengan iming-iming seperti khilafah pasti berdiri atau khilafah akan tegak kembali, cukup meyakinkan bagi orang awam yang baru berhasrat belajar Islam.

“Yang penting ada haditsnya”, kata mereka tanpa menimbang kembali melalui ranah nalar akademik tentang ke-hujjah-an hadits Khilafah tersebut. Doktrin ini cukup terbukti telah berhasil mencuci otak para remaja labil yang haus akan ilmu agama.

Saya sendiri, pernah berdebat dengan aktivis HT (HTI) tentang ke-hujjah-an hadits ini. Namun, yang didapat justru pemuda tersebut malah marah-marah setelah mengetahui bahwa kualitas hadits yang dijadikan oleh HT adalah hadits lemah yang tidak dapat dijadikan hujjah. Ia tetap saja bergeming bahwa Khilafah akan tegak. Sesuatu, yang kadang-kadang membuat saya tertawa sendiri.

Menjadikan hadits lemah sebagai landasan mewajibkan mendirikan Khilafah adalah tindakan yang tergesa-gesa--kalau enggan dikata konyol. Apalagi, mendosa-besarkan yang tidak setuju dengan gerakan Khilafah, seperti apa yang dilakukan oleh HT.

Bagi mereka, muslim yang menolak adanya Negara Khilafah, berdosa besar. Mungkin, inilah alasan mereka mengapa mereka begitu keras dalam urusan Khilafah ini. Sebab, sedari awal mereka sudah terdoktrin memandang saudara-saudara muslimnya sebagai orang-orang yang berdosa besar.

Ustadz kondang yang banyak pengikutnya, seperti ustadz Shomad, sebaiknya lebih berhati-hati dalam berceramah. Apalagi, yang berkaitan dengan fatwa. Sebab, jama’ahnya besar. Dan kemungkinan, mengikuti begitu saja apa yang menjadi petuah dari sang ustadz tanpa memilah dan mencerna; apakah petuah itu benar, atau salah.

Mengenai pandangan ustadz Shomad yang mengatakan HTI tidak salah (dalam konteks NKRI), saya tidak akan menuliskan panjang lebar di sini. Yang jelas, bagi saya, hal itu merupakan pandangan yang keliru. Sebab, ustadz yang lahir dari rahim NU itu, seyogianya mengikuti fatwa dan pendapat ulama'-ulama' sepuh NU yang telah menyatakan bahwa NKRI sudah final dan tidak dapat diganggu gugat.

Oleh sebab itu, dalam konteks ini, HTI bukan saja salah. Namun juga melanggar kesepakatan bernegara yang telah dicetuskan oleh para pendiri bangsa. Dan ini merupakan pengkhianatan.

Terakhir, untuk kader-kader HT yang merupakan saudara-saudaraku sesama muslim, mari kembali ke jalan yang benar. Mari mengikuti ulama'-ulama' yang sudah teruji ke'alimannya. Dan mari kembali kepada pangkuan ibu pertiwi.


* Oleh: Amamur Rohman, Koordinator wilayah DIY Jaringan Ulama Muda Nusantara.
Read More

MCA Memalukan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Polisi telah berhasil mengungkap jaringan penyebar hoax dan ujaran kebencian di media sosial yang tergabung dalam group WhatsApp dengan nama "Moslem Cyber Army (MCA)".

Seperti diketahui, kelompok MCA ini merupakan kelompok yang terstruktur. Setidaknya ada empat jaringan yang bekerja, yaitu menampung, merencanakan, menyebar dan menyerang kelompok lain agar hoax yang ditebar bisa berhasil menyebar kepada masyarakat.

Ketika dimintai tanggapan mengenai kelompok MCA yang telah berhasil diungkap oleh pihak kepolisian itu, Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id Aqil Siroj, menyebutkan bahwa grup tersebut memalukan.

"Oh iya, itu nggak boleh. Memalukan," ujar kiai Sa'id saat berada di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat.

Selain memalukan, kiai Sa'id juga menambahkan bahwa tindakan grup tersebut bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an. Menurutnya, janganlah sesama manusia menyebar kebencian.

"Iya, bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an. Kalau saya bacakan ayatnya, panjang," tanggap kiai Sa'id.

Meski sudah mengatakan bahwa perbuatan para penyebar hoax itu bertentangan dengan Al-Qur'an, kiai pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah itu juga manambahkan bahwa meskipun MCA mengatasnamakan dirinya dengan identitas "muslim", namun itu tetap salah.

"Bahwa itu perbuatan yang bertentangan dengan Al-Qur'an. Walaupun mereka atas nama "muslim", itu salah," tambah kiai Sa'id.

Terkait MCA ini, Bareskrim Polri sudah menangkap enam tersangka. Diantaranya yaitu ML (39) yang ditangkap di Jakarta, RS (38) yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, Yus yang ditangkap di Sumedang dan dosen UII, TAW (40) yang ditangkap di Yogyakarta.

Mereka semua dijerat dengan Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau Pasal juncto Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 33 UU ITE.


* Sumber: detik.com
Read More

Munas II Alumni Ploso Akan Digelar Pada 3-4 Maret 2018

muslimpribumi.com | Jombang - Kegiatan Musyawarah Akbar lima tahunan Ikatan Alumni Pondok Al-Falah, Ploso, Kediri (IMAP), akan digelar pada 3-4 Maret 2018 mendatang. Musyawarah Nasional untuk memilih ketua IMAP yang baru serta penetapan beberapa agenda, program dan kebijakan organisasi ini, akan dihelat di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang.

Penentuan tempat acara di kota Jombang, selain karena ada alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, yang kini menjadi salah satu pengasuh Pondok Pesantren di Jombang, yaitu KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), juga dikarenakan adanya keterkaitan sejarah antara Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, dengan Pondok-Pondok Pesantren yang ada di wilayah kota Jombang.

Sekadar untuk diketahui bahwa pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, yaitu KH. Djazuli Usman, dulu pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. KH. Djazuli Usman berguru kepada KH. Hasyim Asy'ari yang masyhur sebagai ahli dibidang Ilmu Hadits waktu itu.

Disisi lain, sistem belajar-mengajar dengan metode musyawarah antar santri  yang diilhami dari Pondok Pesantren Tebuireng, sampai sekarang tetap menjadi metode pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso. Metode pembelajaran ini mengutamakan diskusi keilmuan (syawir antar santri) pada setiap bidang keilmuan dimasing-masing jenjang kelas Madrasah Riyadhatul Uqul (MISRIU) yang setingkat MTs. dan MA itu.

Sejak Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, didirikan pada 1 Januari 1925, hingga saat ini telah ribuan santri yang mendalami ilmu agama dengan disiplin keilmuan agama Islam yang beragam 'ala Ahlissunnah wal-Jama'ah. Para santri ini datang dari seluruh penjuru pelosok negeri.

Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, telah mencetak ribuan santri yang tersebar hampir di seluruh kota di Nusantara ini. Dan pada Maret tahun ini, segenap santri/pengurus organisasi IMAP dan mutakharrijin (alumni) akan memadati Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Jombang, untuk menggelar MUNAS ke II.

Antusias dan semangat yang luar biasa dari para alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, sangat terasa. Hal ini dibuktikan dengan adanya konfirmasi kehadiran dari para delegasi dari masing-masing kota dan propinsi se-Indonesia yang hampir mencapai 500 orang yang sudah hampir 100 persen nama-namanya masuk ke panitia.

Hal ini sangat penting bagi panitia Munas. Terutama bagi tuan rumah. Dalam hal ini yaitu Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang, guna mempersiapkan tempat acara, penginapan dan akomodasi penting lainnya.

"Kami insya Allah sudah sangat siap menyambut teman-teman untuk ber-munas di sini," ujar Gus Salam, panggilan akrab KH. Abdussalam Shohib. []
Read More