Di Depan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia



rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Senin, 19 Maret 2018, bertemu dengan 21 Duta Besar negara anggota Uni Eropa di Intiland Tower, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung hangat selama dua jam ini mendiskusikan berbagai isu di Indonesia. Silih berganti, para Dubes ini mengajukan pertanyaan kepada Menag. Mulai dari Dubes Belgia, Italia, Jerman, Portugal, Belanda, Rumania, Hongaria, Rusia, hingga Finlandia.

Dipimpin Vincent Guerend, silih berganti para Dubes ini menanyakan peran Kementerian Agama, Pancasila, kerukunan umat beragama, perlindungan anak dan perempuan, cadar, politik pilkada DKI, wacana pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), hingga hukum Syari'at di Propinsi Aceh.

"Saya merasa bersyukur dan terhormat menerima undangan dari Duta Besar Uni Eropa untuk bisa hadir di sini dan berdialog. Terima kasih atas kehormatan ini," kata Lukman Hakim ketika memulai pertemuan.

Baca Juga:
Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Menag juga menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang cukup unik. Indonesia bukan negara agama layaknya Saudi Arabia, Pakistan dan Vatikan, dimana antara agama dan negara menjadi satu. Namun demikian, Indonesia juga bukan negara sekuler yang secara tegas memisahkan relasi antara negara dan agama.

"Indonesia meletakan agama pada posisi yang begitu istimewa dan khusus. Karena nilai-nilai agama tidak dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia yang religius dan agamis," ujar Menag.

Ditambahkan Menag, Indonesia yang saat ini menduduki ranking keempat jumlah populasi terbesar di dunia dengan keragaman dan kemajemukannya, disatukan tidak hanya oleh nilai-nilai kebangsaan, namun juga oleh nilai agama.

Baca Juga:
Pancasila dan Piagam Jakarta Pemersatu Indonesia
Jubir HTI Bungkam

"Itulah kenapa Kementerian Agama hadir tidak sampai lima bulan sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Itu adalah untuk menjamin kemerdekaan rakyatnya memeluk agama dan menjalankan ajaran agama bagi pemeluknya. Sebab, agama menduduki posisi yang sangat penting," tegas Menag.

Menurut Menag, misi utama Kementerian Agama adalah untuk memfasilitasi dan menyediakan kebutuhan setiap warga negara dalam menjalankan ajaran agama. Sehingga, umat beragama tetap bisa hidup penuh toleransi dan kerukunan umat beragama tetap terjaga dan terpelihara.

Dialog dengan para duta besar negara Uni Eropa ini dibantu oleh Sworn Translator Mariana Warokka.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Sebelum melangkah lebih jauh tentang NU di Paniai, penulis ingin sedikit memberikan deskripsi singkat tentang kondisi geografi dan corak masyarakat di Kabupaten Paniai.

Begini, Kabupaten Paniai merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Papua yang berada di pegunungan tengah Papua. Atau, tepatnya di pedalaman Papua yang berjarak sekitar 300 km. dari daerah Nabire.

Dalam hal beragama, penduduk Kabupaten Paniai memeluk agama yang beragam, mulai dari Kristen, Katolik, Islam, Hindu dan agama yang lainnya. Begitu pula untuk suku, ras dan budaya. Ada Papua, Jawa, Buton, Batak, Bugis dan lainnya.

Adapun agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat asli Paniai sendiri adalah agama Kristen dan Katolik. Meskipun Islam merupakan agama yang minoritas di Paniai, akan tetapi sudah menjadi kewajiban umat Islam ketika berinteraksi antar agama harus mengedepankan prinsip Islam, yaitu ta'awun, tawasuth, tasamuh, tawazun dan lainnya demi kemaslahatan antar umat beragama.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Latar Belakang Berdirinya NU

Keberadaan umat Islam di Kabupaten Paniai, dari tahun ke tahun, cukup mengalami perkembangan. Menurut data Baznas, dua tahun terakhir ini, yaitu pada tahun 2016 dan 2017, jumlah pemeluk Islam ada sekitar 5.000 jiwa.

Jumlah umat Islam tersebut rata-rata berasal dari kaum pendatang. Artinya, tidak penduduk asli Papua. Dan para pendatang tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Diantaranya dari Bugis, Makassar, Buton, Maluku, Batak, Jawa dan lainnya. Dalam aktivitas kesehariannya, masyarakat muslim pendatang ini berprofesi sebagai pedagang, guru, dokter, PNS, aparat keamanan dan berbagai jenis profesi lainnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Dalam menjalankan ajaran Islam, dari jumlah data 5.000 jiwa umat Islam tersebut, ternyata 2.000 jiwa diantaranya adalah pengamal Islam Aslussunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyyah. Karena umat Islam yang ada di sini merupakan kaum pendatang dan bermacam-macam latar belakangnya, baik dari segi pendidikan maupun pengetahuan agamanya yang sangat minim sekali, maka terkadang ada umat Islam di Paniai yang tidak tahu dalil-dalil ibadah yang bertanya: "Mengapa umat Islam itu cara berfikir dan beribadahnya seperi itu?"

Di samping itu, di Paniai sendiri terkadang kedatangan kelompok Islam dengan wajah yang berbeda-beda yang kemudian sering menimbulkan pertanyaan: "Sebenarnya ajaran Islam itu yang bagaimana?"

Mengingat kuantitas umat Islam yang semakin bertambah, akan terasa ganjal apabila semua problematika umat hanya didengarkan saja tanpa diberikan solusi serta jawaban yang jelas.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari sinilah akhirnya para guru yang ada di Madrasah Diniyyah memerankan fungsinya sebagai penerang dan rujukan umat. Dari sini pula, kemudian muncul gagasan untuk mendirikan sebuah Organisasi Masyarakat yang bernama Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan adanya ormas NU ini, disamping sebagai wadah bagi umat Islam di Kabupaten Paniai, juga difungsikan sebagai jalan dakwah dan syiar Islam serta penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam yang berfaham Aswaja An-Nahdliyyah.

Sejarah Awal Berdirinya NU

Awal berdirinya NU di Kabupaten Paniai tidak bisa lepas dari campur tangan serta sentuhan para guru yang mengajar di Madrasah Diniyyah Al-Ma’arif NU yang berdiri pada Juni 2013. Para guru yang mengajar di madrasah yang sebelumnya bernama Al-Mubarok ini merupakan alumni pesantren. Dengan pertemuan setiap mengajar dan diskusi ringan serta seringnya bermusyawarah, maka muncullah ide dari para guru ini untuk mendirikan Ormas NU.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Setelah bertekad dan sepakat untuk mendirikan Jam’iyyah NU, dari forum guru sendiri mendapatkan kendala, yaitu bagaimana proses tata cara untuk mendirikan PCNU. Beberapa guru, akhirnya bertanya kepada teman-temannya yang aktif di NU di Jawa.

Setelah mendapat informasi yang cukup memadai, kemudian dikomunikasikanlah hal itu kepada para tokoh agama serta orang tua yang sudah lama tinggal di Paniai ini sekaligus memohon saran. Sebab, jangan sampai adanya PCNU ini, nanti akan berdampak perselisihan antar umat Islam.

Dan alhamduliLlâh, dari golongan orang-orang tua tersebut menyetujui dan sepakat. Dukungan pun datang dari Ketua MUI Paniai, yakni H. Joko Suprayetno serta Kemenag Paniai Seksi Pendis dan Bimas Islam, yaitu H. Dahlan Kader.

Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua

Langkah selanjutnya, pada tanggal 20 Agustus 2014, diadakanlah musyawarah di serambi Masjid Al-Mubarok, Enarotali, Paniai. Diantara yang hadir waktu itu adalah Kepala Madin (Ahmad Muslih), para guru Madin (Shodikin, Sumadi Rohmat dan Nur Khoironi) dan dari pengurus Masjid (Sabri dan Darmawan Arif). Musyawarah ini membahas tentang struktur kepengurusan dan program yang akan datang.

Dan alhamduliLlâh, pada tanggal 24 Agustus 2014, struktur kepengurusan PCNU Paniai ditetapkan. Adapun struktur PCNU masa khidmat 2014-2019 ini yaitu H. Dahlan Kader sebagai Syuriah dan Sodikin sebagai Ketua Tanfidziyyah. Sedangkan untuk sekretaris dipegang oleh Sumadi Rahmat dan Nurkhoironi. Dan untuk bendahara dipegang oleh Wahyu dan Eli Sitorus.

Dan alhamduliLlâh lagi, pada bulan Desember 2014, atau bertepatan dengan tanggal 9 Robi'ul Awwal 1439 H., struktur kepengurusan PCNU Paniai ini disahkan melalui SK oleh PBNU.


* Oleh: M. Taha, aktivis Muda NU di Paniai.
Read More

Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern


rumahnahdliyyin.com, Medan - Dihadapan 136 peserta Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) PWNU. Sumatera Utara, lebih dari dua jam Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., menyampaikan materi pendalaman. Dan diantara titik yang ditekankan oleh kiai Said adalah makna pentingnya membangun ummatan wasathon.

Ummatan wasathon, menurut kiai Pengasuh Ponpes Ats-Tsaqofah, Ciganjur ini, bukan semata umat yang moderat. Melainkan juga umat yang modern. Umat yang berdiri diatas konstitusi. Umat yang seimbang antara dua kutub ekstrem, antara kanan dan kiri.

"Nabi tidak diperintah membangun umat Islam, tapi umat modern. Ummatan wasathon, bukan ummatan Islamiyyan, bukan ummatan 'Arobiyyan," jelas kiai Said.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Apa gambaran umat modern itu? Kiai Said mengatakan bahwa umat modern itu sistem sosialnya bercirikan citizenship. Di dalamnya bisa ada Arab dan non-Arab, ada muslim dan non-muslim.

Dalam struktur kewarganegaraan, dalam model citizenship ini tidak boleh ada permusuhan, kecuali pada yang melanggar hukum.

"Barang siapa membunuh non-muslim, nanti di akhirat berhadapan dengan saya. Barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan mencium baunya surga," demikian kiai Said mengutip sebuah hadits Bukhari.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Dengan penjelasan lain, ciri masyarakat modern, imbuhnya, adalah yang menerapkan tiga konsep persaudaraan. Yakni ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah insaniyyah, dan ukhuwwah wathoniyyah.

"Wa kadzaalika ja'alnaakum ummatan wasathon litakuunu syuhadaa'a 'alan-naasi wa yakuunur-rosuula 'alaikum syahiida. Islam wasathon, Islam yang mutamaddin. Islam yang moderat, Islam yang maju," urai kiai Said.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Pada bagian lain, kiai Said juga menjelaskan pengaruh kuat Imam Syafi'i, Imam Ghazali dan Imam Madzhahibil-'Arba'ah dalam membangun konstruksi pemikiran keagamaan Islam yang moderat. Termasuk bagaimana mempertemukan jalan pikir hakikat dan syari'at.

"Hakikat itu ibarat pondasi. Syari'at bagaikan atapnya. Tembok yang mengelilinginya bernama akhlaq," jelas kiai Said.

MKNU yang diadakan PWNU Sumatera Utara ini berlangsung dari tanggal 16 hingga 18 Maret 2018.[]

(KSF/ANW).
Read More

Ats-Tsauri: Samudera Ilmu dari Kufah


rumahnahdliyyin.com - Sufyan Ats-Tsauri adalah ulama generasi tabi’it-tabi’in yang luar biasa. Beliau lahir pada tahun 715 dan wafat pada tahun 778 Masehi—sekitar 1200 tahun yang lalu.

Beliau ini termasuk ulama yang paling komplit: dalam bidang Tasawwuf, beliau termasuk delapan waliyuLlâh yang disebut oleh Abu Nu’aim. Dalam bidang Hadits, beliau ini digelari Amirul Mukminin fil-Hadits. Dalam bidang Fiqh, beliau ini dianggap sejajar atau bahkan melebihi empat imam madzhab. Beliau memiliki mazhab sendiri, yaitu Ata-Tsauri. Sedangkan dalam bidang Tafsir, siapa saja yang membaca tafsir klasik semisal Tafsir Ath-Thobari, akan menemui banyaknya kutipan dari Sufyan Ats-Tsauri.

Baca Juga: Al-Biruni: Antropolog Pertama?

Lahir di Kufah dari keluarga ulama, semula ia belajar pada Ja’far Ash-Shadiq. Diriwayatkan pula, pada mulanya Sufyan bermadzhab Syi’ah. Namun setelah ia pindah ke kota Bashrah, ia mengikuti paham Ahlussunnah wal-Jama’ah.

Imam Ahmad bin Hanbal menyebut Sufyan sebagai ahli fiqh. Ulama lain mengatakan, Sufyan ini lebih 'alim dalam soal fiqh daripada Abu Hanifah dan lebih 'alim soal Hadits daripada Imam Malik--yang disebut terakhir ini, konon pernah berguru pada Sufyan. Tapi saya belum cek kebenaran info ini.

Dan toh meskipun begitu hebat ilmunya, Sufyan Ats-Tsauri sangat berhati-hati mengeluarkan fatwa. Tidak jarang orang menunggu berhari-hari karena Sang Imam sedang menelaah ulang catatannya sebelum mengeluarkan fatwa atau meriwayatkan hadits.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur: Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sayangnya, kitab Fiqh yang ditulisnya tidak sampai ke generasi selanjutnya. Madzhab Tsauri pun punah, tidak lagi ada pengikutnya. Kenapa? Salah satu sebabnya karena ia hidup bersembunyi dari kejaran penguasa, yaitu Khalifah Mansyur (754-775) dan Khalifah Al-Mahdi (775-785) dari Dinasti Abbasiyyah. Ulama besar ini menolak hadiah dari khalifah, karena menganggap harta khalifah itu syubhat alias tidak jelas halal-haramnya.

Khalifah Al-Mahdi pernah memanggil Sufyan dan mengangkatnya sebagai Gubernur Mekkah. Surat pengangkatan diterima Sufyan, tapi sesampainya ia di sungai Dajlah, surat itu dibuangnya dan ia melarikan diri karena tidak sudi mengabdi pada seorang tiran meski pakai embel-embel khalifah. Sampai wafatnya, ia hidup dalam pelarian. Itulah salah satu sebabnya madzhabnya tidak berkembang.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Beberapa pendapat fiqhnya, seperti diriwayatkan Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, sebagai berikut:

  1. Dalam cuaca dingin, berwudlu dengan mengusap sepatu sebagai ganti membasuh kaki hukumnya sah.
  2. Berwudlu secara tertib sesuai urutan itu hanya sunnah, bukan kewajiban. Jadi, boleh memulai wudlu dengan membasuh kepala atau tangan terlebih dahulu.
  3. Apabila ada ahli fiqh dan ada qari’ maka yang didahulukan menjadi imam adalah yang qari’.

Bagaimana dengan tafsirnya? Catatan terserak Sufyan Ats-Tsauri tentang ayat Al-Qur’an, ditemukan dalam bentuk manuskrip oleh seorang ulama dari India. Dan sudah diterbitkan sejak tahun 1983 dengan judul Tafsir Sufyan Ats-Tsauri.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Kitab Tafsir ini karena hanya berupa catatan, maka tidak seperti kitab tafsir lainnya yang membahas runtut ayat per ayat. Isinya lebih fokus pada riwayat Sufyan Ats-Tsauri akan sejumlah frase atau penggalan ayat Al-Qur’an. Jadi, tidak runtut per ayat meski tetap dikelompokkan per surat.

Namun demikian, tetap saja, ini kitab tafsir yang sangat bermanfaat. Karena bukan saja memudahkan kita melacak pandangan beliau yang selama ini tercecer, kita juga harus ingat baik-baik saat membacanya bahwa ini adalah catatan dari seorang ulama yang dianggap samudera ilmu dalam bidang Tafsir, Hadits, Fiqh serta seorang waliyuLlâh.

Khazanah klasik Islam itu merupakan harta umat Islam yang amat berharga. Mereka yang alergi dengan kitab kuning itu biasanya mereka yang salah paham. Disangkanya isi kitab kuning itu tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, atau mengira para santri itu mempertuhankan para ulamanya.

Ah… yang bilang begitu, biasanya gak pernah belajar isi kitab kuning. Rugi deehhhh... Pakai alergi segala…. Saya saja yang mengajar di Australia, selalu berusaha merujuk ke kitab kuning sebagai perwujudan sikap ilmiah saya.

Tabik.


* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia--New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.


Dari: nadirhosen.net
Read More

LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya


rumahnahdliyyin.com, Pontianak - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat kembali menggelar diskusi dwi mingguan pada kemarin Jumat malam, 16 Maret 2018. Bertempat di Balai Pertemuan NU Kalbar, kali ini yang mengisi diskusi adalah Lembaga Pendidikan Al-Ma'arif Kalimantan Barat.

Lembaga Pendidikan Ma’arif (LP. Ma’arif) adalah satuan lembaga pendidikan yang dikelola maupun dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Selaku moderator dalam acara diskusi tersebut, Zulkifli Abdillah, menjelaskan bahwa peran Nahdlatul Ulama semakin diharapkan di era sekarang ini. Untuk itu, peran lembaga-lembaga NU, khususnya lembaga pendidikan, perlu dikembangkan.

Baca Juga: Rakernas dan Rakornas LP. Ma'arif NU Siapkan Generasi Emas

“Lembaga NU seperti LP. Ma’arif dituntut eksistensinya. Karena lembaga ini dapat menciptakan kader Nahdlatul Ulama yang berkualitas,” pungkasnya.

Ketua LP. Ma'arif NU Kalimantan Barat, Dr. Zainuddin MA., yang malam itu menjadi pemateri menjelaskan bahwa saat ini Pengurus Wilayah sedang berusaha mengembangkan LP. Ma’arif di wilayah Kalimantan Barat.

“Kami sedang mengembangkan lembaga ini. Strategi yang kami lakukan, seperti melalui pramuka. Kemudian strategi ekonomi dengan mewajibkan seluruh siswa Ma’arif menggunakan seragam batik khas NU. Serta mendorong Pengurus Cabang agar bergerak di setiap daerahnya,” kata pria yang juga sebagai Wakil Rektor III IAIN Pontianak ini.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Peringati Harlah NU Ke-92

Selain itu, LP. Ma’arif Kalimantan Barat juga memiliki program penelitian. Yaitu meneliti Ulama Lokal yang nantinya hasil dari penelitian tersebut bisa dijadikan buku ajar bagi para siswa tentang ke-NU-an dan Keaswajaan di Kalimantan Barat.

“Kami berharap program ini terlaksana, agar siswa-siswi nanti dapat mengenal para ulama di wilayah Kalimantan Barat," lanjutnya.

Sedangkan pemateri kedua, yaitu Ketua Sako Pramuka LP. Ma'arif Kalbar, Jono Harun S.Pd., menyatakan bahwa program unggulan LP. Ma’arif di Kalimantan Barat saat ini adalah Pramuka.

“Kami sering mengirim pasukan untuk mengikuti program Pramuka di daerah Jawa. Ketika pulang, membawa beberapa piala. Dan itu merupakan suatu kebanggaan,” jelasnya.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Ia berharap supaya Sako juga berkembang ditiap-tiap Cabang di wilayah Kalimantan Barat.

Selain Ketua LP. Ma'arif dan Ketua Sako Pramuka LP. Ma'arif, Didi Darmadi M.Lett. yang mengemban amanah sebagai Sekertaris LP. Ma'arif NU Kalbar juga menambahkan bahwa LP. Ma’arif Kalimantan Barat menempati urutan ke 10 dari 34 Provinsi yang mendapat bantuan dari pusat untuk menggerakkan struktur pusat sampai ke-kepengurusan wilayah maupun cabang.

“Kami berencana akan menggelar Pekan Olahraga dan Seni. Untuk itu, kami berharap agar Madrasah maupun Sekolah Umum dapat meramaikan acara ini," harapnya.[]
(Maulida)
Read More

Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon


rumahnahdliyyin.com, Pattani - Selama satu minggu ini, yaitu 11-17 Maret 2018, mahasiswa program Beasiswa Bidikmisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung melakukan Student Mobility Program (SMP) di Fatoni University (FU), Thailand. Program yang diikuti oleh 72 mahasiswa Bidikmisi angkatan 2014 dan 2015 serta sembilan orang pendamping ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman agar mengetahui sistem pendidikan di Luar Negeri dan sekaligus tradisi keilmuannya.

Kedatangan mahasiswa ini diterima langsung oleh rektor Fatoni University, yaitu Prof. Dr. Ismaillutfi Japakiya, beserta civitas akademika lainnya. Dihadapan mereka, Prof. Ismailluthfi memaparkan makalah yang ditulis dengan Arab Pegon dengan judul 15 Sifat Hayati Jannati.

Baca Juga:
Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

“Antum semua sudah menjadi orang Inggris, sehingga hampir semua menggunakan bahasa Inggris dan melupakan Arab Pegon. Mari, kita budayakan dan kembangkan kembali (Arab pegon, red.) sebagai kekayaan intelektual kita,” pesan Prof. Ismail sebagaimana dilansir di laman resmi Kemenag, Kamis, 16 Maret 2018.

Rektor yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Majlis Kerjasama Antar Agama Thailand ini merasa senang dengan kunjungan mahasiswa Indonesia.

“Saya inginkan ada diantara kalian, 3-4 orang, yang dapat melanjutkan studi program Magister di kampus ini secara cuma-cuma,” pinta Prof. Ismail.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing

Mahasiswa Fatoni University berasal dari 14 negara. Diantaranya yaitu dari Cina, Kamboja, Laos, Myanmar, Papua Nugini, Yordania, Arab Saudi dan juga Indonesia. Sedangkan untuk mahasiswa terbanyak berasal dari China dan Kamboja.

Ada sekitar 4000 mahasiswa di Universitas ini. Semuanya tersebar di empat fakultas yang ada, yaitu Fakultas Pengajian Islam dan Undang-Undang (PAI), Fakultas Sastra dan Sains Kemasyarakatan, Fakultas Sains dan Teknoligi dan Fakultas Pendidikan.

Baca Juga:
Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang
Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Ketua Jurusan (Kajur) Bahasa dan Sastra Melayu dan Indonesia, Fakultas Sastra dan Sains Kemasyarakatan di Universitas ini, Ku Ari, mengatakan bahwa sudah dua tahun terakhir ini pihaknya membuka konsentrasi Bahasa Indonesia. Bahkan, salah satu dosennya juga berasal dari Indonesia, yaitu dari Bantul, Jogjakarta.

Sedangkan Kepala Seksi Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ruchman Basori, mengatakan bahwa telah banyak juga putera-puteri Pattani yang mengambil studi melalui beasiswa di sejumlah PTKIN di Indonesia.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

Mengenal ISNU


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) merupakan organisasi Badan Otonom (banom) termuda yang berada di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebetulnya, fungsi dan keanggotaan ISNU sudah ada sejak lama. Tapi, ISNU baru berhasil dibentuk dan dilembagakan di tahun 2012 setelah "disahkan" dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar pada tahun 2010 silam.

Baca Juga: Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 PBNU

Tahun ini, ISNU memasuki usianya yang keenam. Usia yang terbilang muda bagi sebuah organisasi, tentu banyak tantangan–sekaligus peluang--yang dihadapi oleh ISNU. Baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Seperti urusan keorganisasian, kepengurusan, keanggotaan, hingga bagaimana ISNU bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat umumnya dan warga Nahdliyin pada khususnya.

Tidak bisa dipungkiri, ISNU telah memberikan "warna" tersendiri di lingkungan NU. Anggotanya terdiri dari para intelektual, cendekiawan, profesional dan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Dengan komposisi anggota yang memiliki kualitas tinggi (high quality), ISNU diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Untuk mengetahui lebih jauh kiprah, arah tujuan dan peran ISNU dalam mewujudkan kesejahteraan umat, inilah kutipan hasil wawancara Jurnalis NU Online, A. Muchlishon Rochmat, dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa, pada Kamis, 15 Maret 2018, di Jakarta, yang dimuat di laman NU Online dengan judul Mendedah Kiprah ISNU.

Berikut kutipannya:

Di usianya yang masih sangat muda ini, apa saja yang dilakukan ISNU?

Di usianya yang masih enam tahun, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, konsolidasi struktural. Saat ini, ISNU sudah terbentuk di 34 propinsi. Sementara pengurus cabang ISNU, sudah terbentuk 60 persen dari seluruh kota dan kabupaten yang ada.

Kedua, konsolidasi networking. Tidak mungkin sebuah organisasi mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Oleh karenanya, ia harus memiliki networking capacity. Dibeberapa kepengurusan ISNU, baik tingkat pusat ataupun daerah, enam diantara pengurusnya adalah pejabat eselon satu. Direksi BUMN juga ada yang menjadi pengurus ISNU. Ini bagian dari networking capacity.

Ketiga, konsolidasi program. Diantaranya adalah membuat branding terkait dengan apa saja yang mendiferensiasi ISNU dengan Banom yang lain. Oleh karenanya, kita bergerak pada empat hal saja.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Apa saja itu?

Pertama, meningkatkan capacity building dibidang sumber daya manusia. Adapun program-programnya adalah pelatihan kewirausahaan, manajerial leadership dan lainnya.

Kedua, konsolidasi program dibidang intelektualitas. ISNU adalah organisasi yang base-nya adalah intelektuality. Sehingga, intelektualitas harus bisa menjadi bagian dari branding. Diantara programnya adalah menghubungkan mereka yang ingin mendapatkan beasiswa ke S2 dan S3.

Ketiga, advokasi Undang-Undang. ISNU juga concern melakukan advokasi perundang-undangan yang ada, seperti UU Minerba, Wakaf dan lainnya.

Keempat, bidang ekonomi. Sebuah organisasi harus memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan diluar.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Apa saja program-program pemberdayaan ekonomi yang sudah dikembangkan ISNU?

Misalnya rintisan-rintisan dibidang micro finance, memperkuat jaringan, mengkonekkan para petani, mencarikan petani benih-benih yang berkualitas dan mencarikan modal dengan bunga rendah.

Ada ribuan Nahdliyin yang menempuh S2 dan S3 diluar negeri sana. Biasanya, mereka–yang kuliah di Barat--enggan kembali dan berkiprah di NU karena alasan "tidak dibutuhkan" dan "tidak ada tempat" bagi mereka. Bagaimana ISNU merangkul mereka?

Para sarjana NU, baik yang menempuh jenjang S1, S2 ataupun S3, yang secara struktural tidak masuk di NU, mereka bisa menjadi member di ISNU. ISNU juga harus memiliki program-program yang bisa merangkul mereka. Karena tidak sedikit dosen di sebuah kampus yang tidak terserap menjadi pengurus NU.

Saat ini, ada 362 Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah. Meskipun, mereka juga terdaftar di Banom yang lain. Selain itu, ada 2.900-an Doktor yang masuk di ISNU. Yang S2 dan S1, lebih banyak lagi.

Baca Juga: NU Care Lazisnu Peduli Maibo

Dulu, Gus Dur mengkritik pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) karena dianggapnya sektarian. Saat ini ada ISNU, pasti ada yang nyerang balik dan menganggap kalau ISNU lebih sektarian daripada ICMI. Tanggapan Anda?

Masyarakat Islam di Indonesia sangat majemuk. Juga memiliki latar belakang ke-Islaman yang berbeda.

Pertama, seiring dengan berkembangnya zaman, maka sudah saatnya NU harus memiliki organisasi cendekiawan sendiri, dalam hal ini ISNU. Jika ICMI menyerap cendekiawan yang bukan NU, ya, silahkan karena memiliki kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Kedua, mendirikan organisasi ke-intelektualitas-an adalah sesuatu yang sah-sah saja. Di Katolik, ada ISKA. Di Kristen, ada PIKI, FCHI. Maka dari itu, di NU dibentuk organisasi cendekiawan untuk menampung para sarjana NU.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Pemerintah akan mengizinkan beberapa kampus asing untuk beroperasi di Indonesia. Tanggapan Anda seperti apa?

Sebagai bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia tidak boleh menutup diri. Itu tantangan. Tapi, harus diukur momen yang tepat untuk liberalisasi pendidikan di Indonesia. Perguruan-Perguruan Tinggi asing yang hendak membuka cabang di Indonesia harus menunggu waktu. Jangan sekarang.

Perguruan Tinggi Indonesia, umumnya kampus negeri dan juga swasta seperti kampus NU, itu harus memiliki kualitas yang baik terlebih dahulu. Jika Perguruan Tinggi Indonesia baik, maka mahasiswa Indonesia akan membayar jauh lebih murah untuk mendapatkan sebuah ilmu yang sama, yang juga diajarkan di kampus asing itu, misalnya. Dia akan lebih memilih Perguruan Tinggi Indonesia yang akreditasinya sudah baik, minimal B.

Baca Juga: Jamaah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Jadi, kalau saat ini kampus asing diizinkan beroperasi di Indonesia kurang tepat?

Saat ini, tidak tepat mengizinkan kampus asing ada di Indonesia. Karena akan terjadi perang pasar dibidang pendidikan. Mereka memiliki kekuatan dan modal yang kuat dan besar. Ini pasti akan menggerus Perguruan-Perguruan Tinggi Indonesia. Apalagi Perguruan Tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tapi pada saatnya, mengapa tidak?

Pemerintah akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII). Padahal, sudah ada banyak Universitas Islam Negeri yang kualitasnya juga sudah baik. Bagaimana respons Anda?

Kita harus melihatnya dari tiga perspektif. Pertama, perspektif kompetisi. Jika dilihat dari perspektif kompetisi Perguruan Tinggi antar negara, maka pendirian UIII ada signifikansinya. Sehingga, Indonesia memiliki Perguruan Tinggi tingkat Internasional dibidang ilmu-ilmu ke-Islaman. Malaysia juga punya Universitas Islam Internasional Malaysia.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU Ke-92

Core science antara satu negara dengan yang lainnya, pasti bisa. Misalnya, tentang Islam yang rahmatan lil-'alamin atau ramah. Mereka pasti akan memilih Indonesia karena di Indonesia praktik-praktik ke-Islaman memang seperti itu.

Kedua, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka sudah sepatutnya Indonesia memiliki Universitas Islam dengan kualitas Internasional.

Ketiga, UIII harus mengembangkan ilmu-ilmu ke-Islaman agar tidak terjadi duplikasi ilmu antara UIII dengan Perguruan Tinggi Islam lainnya. Jangan mengambil ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi Islam yang lainnya.

UIII harus menjadi sisi lain yang mengisi kekosongan ilmu-ilmu ke-Islaman yang ada di Perguruan Tinggi Islam.

Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua

Mayoritas Nahdliyin adalah petani. Selain mencarikan benih sebagaimana yang disebutkan diatas, apakah ISNU memiliki program khusus dibidang pertanian?

Jumlah angkatan dan penyerapan kerja dibidang pertanian di Indonesia mencapai 40 persen. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus NU. Karena mayoritas Nahdliyin adalah petani.

Mendorong anak-anak NU untuk kuliah di fakultas pertanian adalah salah satu pilihan. ISNU dan Banom lainnya yang memiliki konsen bidang pertanian harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas petani kita.

Seluruh Banom dan Lembaga di lingkungan NU, harus memikirkan itu. Harokah NU itu ada di petani. Mimpi kami, pada saatnya nanti, Menteri Pertanian itu harus dari orang NU. Karena, itu langsung menyangkut hajat hidup orang NU. []
Read More

Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dalam Rakornas Pendidikan Islam yang digelar oleh Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama di Ancol, Jakarta, pada hari Rabu, 14 Maret 2018 kemarin, mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk mewaspadai ekstrimisme.

Ekstrimisme merupakan salah satu tantangan besar bagi dunia pendidikan. Termasuk dalam pendidikan Islam. Sebab, selain bisa merobek keberagamaan, ekstrimisme juga bisa mengancam nasionalisme. Oleh karena itu, seluruh sumber daya pendidikan Islam di Kementerian Agama harus terus menggerakkan moderasi Islam dan menguatkan kesadaran beragama dan ber-Indonesia.

Baca Juga: 
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Menag, saat ini ada kelompok tertentu yang ekstrim dalam memahami nilai Islam. Kelompok ini memahami dalil-dalil secara tekstual semata dengan mengabaikan konteks. Dengan cara seperti itu, mereka cenderung tidak menerima penafsiran dan kondisi kontekstual. Sementara itu, dikutub yang lain ada lagi kelompok yang begitu liberal. Mereka cenderung “mendewakan” nalar dan mengabaikan teks.

“Dua kutub ini dibenturkan, sehingga terjadilah konflik atas nama agama di negara ini. Untuk itulah, semua pendidik agama Islam harus menjadi agen penjaga moderasi,” tegas Menag dihadapan 700 peserta yang terdiri dari jajaran Ditjen Pendidikan Islam, pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Kepala Kankemenag Kab./Kota se-Indonesia itu.

Baca Juga:
Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Mengingat kondisi keberagaan yang demikian itu, maka Menag berpesan supaya hasil Rakornas kali ini diarahkan dalam kerangka memperkuat moderasi Islam dan kesadaran beragama dan ber-Indonesia.

Selain itu, Menag juga meminta agar ke-Indonesia-an dan keberagamaan tidak dipertentangkan. Paham keagamaan yang menghukumi haram menyanyikan lagu Indonesia Raya, hormat bendera atau Pancasila, harus diwaspadai.

Sebaliknya, sebagai muslim juga harus menolak regulasi yang secara esensial menabrak atau bertolak belakang dengan ajaran agama.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

KH. Muhammad Nur: Perintis Pondok Pesantren Langitan


rumahnahdliyyin.com - Salah satu Pondok Pesantren tertua di Indonesia, yang hingga hari ini masih bisa kita jumpai dan aktif adalah Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Bertempat di samping Bengawan Solo, Pondok Pesantren yang awalnya hanya sebuah surau kecil itu kini luasnya mencapai sekitar tujuh hektar-an dengan jumlah santri lebih dari lima ribu-an.

Muhammad Nur. Itulah nama kiai yang menggelar pengajian di surau kecil itu waktu itu. Selain menggelar pengajian, KH. Muhammad Nur juga melakukan penggemblengan supaya yang belajar kepada beliau juga bisa dan mampu untuk meneruskan perjuangan dalam usaha mengusir penjajahan Belanda (Kompeni) dari bumi Nusantara.

Baca Juga: (Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari)

Dari segi nasab, KH. Muhammad Nur bukanlah orang sembarangan. Beliau masih termasuk keturunan Mbah Abdurrahman atau Pangeran Sambu, Lasem. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah seorang kiai dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Awalnya, orang-orang yang belajar kepada KH. Muhammad Nur di surau kecil itu hanyalah tetangga-tetangga dekat rumahnya saja dan para sanak keluarganya sendiri. Namun, berkat keikhlasan, keistiqomahan, ketekunan dan komitmen beliau dalam membimbing umat, akhirnya orang-orang dari luar daerah pun terpikat untuk berguru juga kepada beliau.

Karena itu, pada tahun 1852, bangunan surau kecil itu tak lagi dikenal sebagai surau. Melainkan sebagai Pondok Pesantren Langitan.

Baca Juga: (Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari)

Orang-orang yang berguru kepada KH. Muhammad Nur berasal dari berbagai daerah. Baik dari Jawa sendiri, maupun dari luar Jawa. Dan beberapa dari mereka, ternyata dikemudian hari menjadi kiai dan ulama besar.

Diantara mereka adalah yang sekarang kita kenal dengan KH. Kholil bin Abdul Lathif atau yang lebih akrab dengan sebutan Syaikhona Kholil Bangkalan. Ada lagi yaitu KH. Hasyim Asy'ari atau yang sekarang digelari dengan Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

Selama tiga tahun, KH. Hasyim Asy'ari belajar dibawah asuhan KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan ini. Beliau juga sempat menangi dan berteman dengan KH. Kholil Bangkalan selama enam bulan di Pondok Pesantren Langitan ini.

Selain dua kiai kondang diatas, para orang tua tokoh-tokoh NU juga berguru kepada KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan yang awalnya surau itu. Seperti halnya KH. Syamsul Arifin (ayah KH. As’ad Syamsul Arifin), KH. Shiddiq (ayah KH. Ahmad Shidiq) dan KH. Wahab Chasbullah (ayah KH. Abdul Wahab Chasbullah).

Baca Juga: (Syaikhona Kholil Bangkalan)

KH. Muhammad Nur sendiri, mengasuh Pondok Pesantren Langitan ini selama kurang lebih 18 tahun. Yaitu antara tahun 1852 hingga 1870 M. Cita-cita luhur dan semangat beliau dalam membidani berdirinya Pondok Pesantren Langitan ini sungguh sangat dirasakan manfa'atnya masyarakat luas hingga hari ini.

Setelah KH. Muhammad Nur wafat, yaitu pada hari Senin, 30 Jumadil Ula tahun 1297 H. yang dimakamkan di komplek Pesarehan Sunan Bejagung Lor, Tuban, tampuk pimpinan kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan pun dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu KH. Ahmad Sholeh.

Akhirnya, untuk para kiai yang namanya disebutkan diatas, terkhusus untuk KH. Muhammad Nur dan masyayikh Pondok Pesantren Langitan lainnya, lahum Al-Fatihah... []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila


rumahnahdliyyin.com, Malang - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus, meminta negara supaya tegas dalam menindak mereka yang melanggar hukum. Tidak peduli siapapun, pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum, harus ditindak.

Permintaan yang disampaikan oleh kiai yang juga budayawan asli Rembang itu, terkait dengan terungkapnya kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang melakukan aktivitas menyebarkan ujaran kebencian, hoaks serta diskriminasi SARA beberapa waktu yang lalu.

"Negara harus tegas. Harus tegas. Ada pelanggaran, harus ditindak. Siapapun yang melakukannya. Ini kan negara hukum," tegas Gus Mus, selepas acara dialog kebangsaan yang bertema "Merajut Kebersamaan dalam Kebhinekaan" di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu, juga menambahkan bahwa sekali pelanggaran hukum tidak ditindak tegas, proses hukum akan tidak dihargai lagi.

"Semua yang melanggar hukum, harus ditindak. Jangan dikasih tolerir. Kalau melanggar hukum ditolerir, akhirnya kasus hukum tidak dihargai," tekannya.

Peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017 itu enggan menduga-duga siapa dalang yang berada dibalik kelompok penyebar hoaks tersebut.

"Nah, silakan menebak-nebak. Ini kan negara teka-teki," katanya sembari tertawa.

Baca Juga:
Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya
Toilet Sebagai Jalan Keluar

Namun, ia meminta semua pihak agar tidak kehilangan akal sehatnya ditengah merebaknya kabar hoaks di media sosial akhir-akhir ini.

"Umat jangan sampai kehilangan akal sehat paringane (pemberiannya) Gusti Allah. Meskipun media sosial itu membikin orang gila, jangan ikut gila," tuturnya.

Ia pun meminta supaya kebhinekaan yang sudah berlangsung di Indonesia selama ini supaya tetap dijaga.

"Ya, harus menyadari lah, kalau Indonesia rumah kita semua. Harus kita jaga bersama-sama," pintanya.[]




(Redaksi RN)


* Sumber: kompas.com
Read More