Ulama Otoriter dan Ulama Otoritatif


rumahnahdliyyin.com - Kisah ulama dan politik, bukan hal baru. Dalam sejarah Islam, para penguasa kerap menggunakan ulama sebagai stempel dalam kebijakan-kebijakan politiknya. Bahkan, madzhab-madzhab yang eksis sampai sekarang, ditengarai merupakan hasil pergulatan ulama dengan politik pada zamannya.

Imam Al-Ghazali mempunyai pandangan yang menarik tentang relasi antara agama dan kekuasaan. Agama dan kekuasaan adalah ibarat saudara kembar. Agama adalah asal-muasal, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya.

Baca Juga: Inflasi Ulama

Pandangan Al-Ghazali yang populer ini, barangkali menjadi dalil kenapa ulama kepincut dengan politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, ada sebagian ulama yang hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan malang-melintang dalam dunia politik. Ada yang menjadi “juru doa” dalam ajang perhelatan politik. Tapi, ada juga yang mempunyai tugas ganda. Disatu sisi sebagai ulama, tapi di sisi lain juga sebagai politisi.

Kenapa seorang ulama bisa tertarik pada politik? Bukankah menjadi ulama sebagai pewaris para Nabi adalah kedudukan yang mulia? Kenapa harus memainkan peran ganda sebagai ulama sekaligus politisi?

Baca Juga: Kriminalisasi Ulama Dimasa Khilafah

Belakangan, fenomena ulama menjadi politisi seolah menjadi sebuah pemandangan yang lumrah. Bahkan, ada kecenderungan sangat kuat dalam alam bawah sadar dalam sistem demokrasi yang melibatkan langsung warga, ulama menggunakan sebagai momentum untuk terlibat aktif dalam politik praktis. Biasanya, klaim dan dalih yang digunakan adalah membela agama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali diatas bahwa agama dan kekuasaan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan.

Pada poin ini, sebenarnya tidak ada yang aneh dan perlu dikritisi. Karena ulama terlibat aktif dalam politik bertujuan untuk membela agama. Siapa pun berhak untuk membela agama. Namun pertanyaannya, apa makna membela agama? Apakah membela agama harus dengan merebut kekuasaan? Apakah membela agama cukup dengan menegakkan nilai-nilai agama, seperti keadilan, kedamaian, musyawarah dan keragaman?

Baca Juga: Politiknya Kiai

Pada titik ini, kita harus kritis terhadap terma membela agama. Belajar dari pengalaman Khowarij dimasa lalu, mereka kerap menggunakan klaim “kedaulatan Tuhan” . Mereka melaksanakan misinya seolah-olah membela Tuhan. Lalu Imam Ali krw. mengkritik Khowarij dengan lugas bahwa kata-kata membela Tuhan itu seolah-olah sebuah frase kebenaran, tapi hakikatnya mempunyai makna kebatilan. Pasalnya, klaim “kedaulatan Tuhan” digunakan sebagai dalih untuk meraih kekuasaan dengan melegalkan kekerasan.

Maka dari itu, Gus Dur al-maghfurlah mempunyai kata-kata pamungkas, “Tuhan tidak perlu dibela.” Tuhan Maha Agung, karenanya tak perlu dibela. Yang harus dibela adalah mereka yang terpinggirkan dan ditindas. Mereka yang lemah karena membutuhkan uluran tangan untuk bangkit dan hidup layak.

Baca Juga: Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

Belakangan ini, bertaburan klaim membela agama dan membela ulama. Kedengarannya terlihat mulia dan luhur. Tapi dalam realitasnya, penuh hiruk-pikuk. Kata-kata itu ibarat mantra. Tapi politik tidak mereda, bahkan makin membara. Agama kehilangan auranya sebagai instrumen yang membawa pencerahan dan kesejukan. Moderasi Islam yang menjadi ciri khas Indonesia pun kian tenggelam.

Pada titik ini, keterlibatan ulama dalam pusaran politik harus mendapatkan perhatian. Bahkan, diperlukan kritik serius dalam rangka mengembalikan ulama kepada khiththohnya dan menjadikan agama sebagai sumber inspirasi, bukan disintegrasi.

Baca Juga: 

Sikap kritis Imam Ali krw. kepada Khowarij, patut digaungkan kembali. Klaim membela agama dan membela ulama sebaiknya tidak menjadi jargon politik yang hampa makna. Membela agama dan ulama, pada hakikatnya adalah meneguhkan kembali esensi agama. Dan ulama sebagai sumber pencerahan, pembebasan dan persatuan.

Maka, ulama sejatinya tidak terlibat dalam politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ulama harus menjadi teladan dan pewaris para Nabi yang membangun harmoni diantara umat, bukan justru sebaliknya mendorong disharmoni.

Baca Juga: Ciri Khowarij

Pada ranah ini, Adonis dalam bukunya, Ats-Tsabit wal-Mutahawwil, menyampaikan pandangan kritis terhadap integrasi agama dan kekuasaan sebagaimana diungkapkan Imam Al-Ghazali diatas. Islam mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan; sastra, sains dan peradaban lainnya, karena para ulama terlalu jauh masuk dalam pusaran politik. Intinya, politik kekuasaan telah memporak-porandakan peradaban Islam yang pernah jaya.

Dalam politik Islam kontemporer, kelompok-kelompok Islamis atau mereka yang mempunyai agenda Negara Islam, kerap menggunakan ulama sebagai tameng politik mereka. Bahkan, mereka dengan mudah mentransformasi seseorang yang sebenarnya bukan ulama, tetapi didaulat menjadi ulama untuk memenuhi ambisi politik. Lihat Abu Bakar Al-Baghdadi yang didaulat sebagai khalifah Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang hakikatnya bukan ulama, tetapi didaulat menjadi ulama. Pada akhirnya, kita mempunyai begitu banyak psedo-ulama yang dapat mendegradasi keluhuran martabat ulama.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Dalam hal ini, Khaled Abiou El-Fadl, dalam And God Knows the Soldiers: The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourse (2001) menyampaikan solusi menarik perihal pentingnya memahami otoritas keulamaan. Ia membagi dua model ulama: ulama otoriter dan ulama otoritatif. Ulama otoriter akan selalu menganggap pandangannya sebagai kebenaran absolut. Padahal, pandangannya menerabas prinsip-prinsip yang biasa dipedomani dalam tradisi hukum Islam. Bukan hanya itu, ulama otoriter akan mengindahkan moralitas yang menjadi fundamen dari setiap pandangan keagamaan.

Sebaliknya, ulama otoritatif akan menggunakan pandangan yang mencerminkan objektivitas, rasionalitas dan mengedepankan kemaslahatan umum. Ulama otoritatif akan sangat hati-hati dalam mengeluarkan pandangannya. Terutama pandangan keagamaan yang mempunyai dampak yang lebih besar kepada publik.

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Dalam suasana hiruk-pikuk politik, kita melihat betapa pandangan keagamaan yang mengemuka lebih terlihat sebagai pandangan yang otoriter daripada pandangan yang otoritatif. Hal ini menjadi masalah serius yang dapat menggerus martabat ulama dan kompetensi keulamaan.

Semestinya, dalam kondisi seperti ini, kita memerlukan ulama yang bisa menjaga jarak dengan kepentingan politik praktis sembari mengedepankan pandangan-pandangan keagamaan yang mencerahkan dan membebaskan.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dalam konteks kebangsaan, pandangan keulamaan yang otoritatif amat diperlukan. Terutama pandangan yang dapat memperkuat solidaritas kebangsaan. Begitu pula dalam konteks kemanusiaan, pandangan keulamaan yang otoritatif akan mendorong tegaknya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat meningkatkan toleransi dan harmoni antar sesama.

Maka dari itu, masuknya ulama dalam pusaran politik mesti terus dikritisi agar ulama menjalankan fungsinya sebagai pewaris para Nabi, mewujudkan kedamaian, dan memperkuat keindonesiaan. Kita beruntung, Indonesia masih punya ulama-ulama yang menjaga jarak dengan politik dan terus menjadi lentera bagi bangsa. KH. Ahmad Mustofa Bisri dan Buya Syafi'i Ma'arif merupakan ulama-ulama yang terus menjadi lentera bagi bangsa ini.[]



* Oleh: Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society, Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia.

** Pernah dimuat di geotimes.co.id dengan judul Ulama Dalam Pusaran Politik

*** Editor: Redaksi RN
Read More

Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas


rumahnahdliyyin.com, Rembang – Lembaga Bimbingan Belajar untuk para santri yang ingin melanjutkan studi pada jenjang pendidikan tinggi, Santriversitas, diluncurkan secara Nasional pada Selasa siang kemarin, 3 April 2018, di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Yayasan MataAir Indonesia dan Gerakan Pemuda Ansor pun tampak mendukung acara Launching Nasional Santriversitas tahun 2018 itu.

Terpantau hadir dalam acara tersebut yaitu Ketua Umum Santriversitas (Chumaedi), Ketua Yayasan MataAir Indonesia (Achmad Solechan) dan Koordinator Wilayah Jawa Tengah Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (Mujiburrachman).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selain itu, tampak hadir pula para tamu undangan. Diantaranya yaitu Bupati Rembang (Abdul Hafidz), Kapolres Rembang (AKBP. Pungky Bhuana Santoso) dan kiai Chatib Mabrur (pengasuh Pondok Pesantren Al-Abidin, Pondok Pesantren yang menjadi tempat pelaksanaan Santriversitas di Rembang).

Launching ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan MataAir Indonesia yang kemudian diserahkannya kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri yang selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan MataAir Indonesia.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Tahun ini, Santriversitas hadir di 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang meliputi Rembang, Demak, Cirebon, Sleman, Bantul, Magelang, Depok, Serang, Ambon, Jakarta Barat, Blora, Semarang dan Malang.

“Santriversitas ini untuk mengantarkan santri supaya bisa mendapatkan hak belajar ke jenjang yang lebih tinggi, universitas,” kata Ketua Umum Santriversitas, Chumaedi, sebagaimana dilansir pada laman radio lokal di Rembang, mataairradio.com

Di Rembang sendiri, Santriversitas akan digelar mulai 15 April hingga 5 Mei mendatang.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab disapa dengan Gus Mus, ketika memberikan taushiyyah selepas acara potong tumpeng, meminta kepada para pemangku di Santriversitas agar menanamkan niat secara benar.

“Saya minta pertama kali, yang harus Anda tanamkan adalah niat. Niat ini yang akan membimbing kita,” pesan Gus Mus.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Gus Mus, dahulu, santri zaman old, ketika berangkat ke pesantren itu niatnya sederhana, yakni menghilangkan kebodohan. Padahal, kebodohan itu tidak bisa hilang. Karena itu, harapannya, santri di Santriversitas meniatkan yang sama.

“Semakin pandai, Anda merasa bodoh. Anda boleh tidak sekolah, tapi tidak boleh berhenti belajar. Banyak yang berhenti belajar karena merasa pandai,” tutur Gus Mus kemudian.

Baca Juga: Gus Mus: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Gus Mus juga mengingatkan bahwa apabila yang diniatkan hanya duniawi, maka mungkin dunia didapat. Tetapi urusan akhirat, bisa keteteran.

“Orang Islam sekarang, karena niatnya salah, kalau bicara soal masa depan, selalu berhenti pada usia tua. Padahal menurut Islam, masa depan itu adalah hari akhir,” tutur Gus Mus kemudian.[]
(Redaksi RN)
Read More

Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan


rumahnahdliyyin.com - Syaikh Muhammad Mahfudz At-Turmusy adalah salah satu kejora semesta. Cahaya ilmunya sedemikian benderang nan abadi sepanjang zaman. Akhlaqnya serupa akhlaq Rasulullah Muhammad SAW., kekasihnya. Tak heran jika puja dan puji terus mengalir dari orang-orang yang mengetahui peran besarnya dalam mengentaskan umat dari lembah kebodohan dan menuntun pada keelokan akhlaq Rasulullah Muhammad SAW.

Mungkin tidak ada yang mengira jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz, yang digelari sebagai al-‘alim, al-faqih, al-ushuli, al-muhaddits, al-muqri’, adalah sosok yang lahir di Indonesia. Terlebih, orang mungkin tidak menduga jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz lahir di sebuah daerah yang cukup terpencil.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Hadlrotusy Syaikh Mahfudz lahir pada tanggal 12 Jumadal Ula 1285 H. di desa Tremas, Pacitan. Pada masa kelahirannya, Pacitan masih termasuk dalam wilayah Solo. Ketika dilahirkan, Hadlrotusy Syaikh Abdullah, ayahnya, sedang berada di Makkah Al-Mukarromah.

Pada usia enam tahun, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz diajak sang ayah untuk ke Makkah Al-Mukarromah. Di tempat kelahiran Rasulullah SAW., Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mendapatkan ragam pelajaran dari para cerdek cendekia (ulama) Hijaz dan Nusantara yang berada di Makkah. Hadlrotusy Syaikh Abdullah, sang ayah, pun merupakan ulama’ yang cukup disegani di Nusantara dan Hijaz.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Beberapa tahun berada di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Abdullah dan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun kembali lagi ke Nusantara. Di tanah kelahirannya, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz mengambil sanad keilmuan sang kakek yang merupakan salah satu tokoh besar tanah Jawa, yakni Hadlrotusy Syaikh Abdul Manan. Kecerdasan, kemuliaan pekerti, keseriusan, ketelatenan dan keuletan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz membuat sang kakek demikian menyayanginya.

Setelah sekian tahun menyerap ilmu sang kakek dan sang ayah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz tergerak untuk mengembara dan berguru pada tokoh-tokoh istimewa di Nusantara.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

“Ananda bisa berguru kepada kiai Sholeh di Darat, Semarang. Kiai Sholeh masih sahabatku semasih belajar di tanah Hijaz,” jawab Hadlrotusy Syaikh Abdullah ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mengutarakan minatnya untuk mengembara sekaligus meminta petunjuk kepada siapa dia berguru.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Hadlrotusy Syaikh Abdullah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun bersama adik-adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi, berangkat ke Semarang.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sesampai di Semarang, tiga kejora Tremas itu segera menemui Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat. Hati ulama agung Semarang itu demikian berbunga-bunga mengetahui yang datang adalah putra-putra dari sahabatnya. Dengan penuh cinta dan kasih, ketiganya di terima oleh Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat.

Kepada Hadlrotusy Syaikh Sholeh bin Umar ini, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz belajar berbagai macam kitab dan mengkhatamkan beragam kitab. Ketekunan dan kecerdasan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz cukup memikat hati sang guru. Dalam pandangan Hadlrotusy Syaikh Sholeh, ada beragam keistimewaan dan pancaran keelokan yang membuatnya demikian terpukau. Selama di Darat, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz memang dikenal sebagai santri yang visioner, inspiratif dan berbudi mulia.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Mengamati perkembangan sang santri yang demikian mengagumkan, terbersit keinginan dalam hati Hadlrotusy Syaikh Sholeh untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih, dimasa lalu, antara Hadlrotusy Syaikh Sholeh dan Hadlrotusy Syaikh Abdullah sempat terbersit keinginan untuk berbesanan. Namun, entah mengapa niat itu tak segera diutarakan dan dinyatakan. Mungkin, Hadlrotusy Syaikh Sholeh menunggu saat yang tepat. Terlebih, saat itu Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sedang semangat belajar. Meski demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh demikian kentara dalam mencurahkan perhatian dan cinta kasih kepada Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pamit boyong dari Darat, Semarang, cucuran air mata Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak dapat lagi terbendung. Ada rasa kehilangan yang menusuk-nusuk qolbunya. Dengan penuh cinta dan pengharapan, dia peluk santri kinasih sekaligus santri yang digadang-gadang menjadi menantunya itu.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Sekembali dari Darat, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz kembali menyerap ilmu keluarganya. Setelah sekian lama di Tremas, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz termotivasi untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya. Tanah Hijaz adalah impiannya. Beruntung impiannya ini mendapatkan dukungan dari keluarga.

Berangkatlah Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ke Makkah Al-Mukarromah dengan iringan derai air mata keluarga. Palu godam pun seketika menghantam palung jiwa Hadlrotusy Syaikh Sholeh ketika mendengar santri kinasihnya itu berangkat ke Makkah.

“Aku semakin jauh dari calon menantuku,” bisik benak Hadlrotusy Syaikh Sholeh.

Baca Juga: Al-Biruni, Antropolog Pertama?

Pun demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak kehilangan cara untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian dan keinginan menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantu. Berbagai macam hadiah dititipkan untuk Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ketika ada orang Jawa yang melaksanakan ibadah haji atau pergi ke tanah Hijaz.

Hadiah demi hadiah yang terus diterima Hadlrotusy Syaikh Mahfudz dari sang guru, membuatnya berfikir, “Apa maksud kiai Sholeh selalu mengirimkan hadiah kepadaku ?” Sebuah kewajaran jika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz bertanya-tanya dengan curahan hadiah dari sang guru.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Namun, rasa penasaran itu tak berlangsung lama. Ghirohnya dalam belajar membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz larut dalam samudra ilmu. Hadiah demi hadiah yang dikirim Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun lebih banyak dinikmati oleh kedua adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi.

Menyadari pancingan demi pancingan tak mendapatkan respon dari Hadlrotusy Syaikh Mahfudz, mau tidak mau Hadlrotusy Syaikh Sholeh tergerak untuk mengutarakan maksudnya secara langsung. Ditulislah surat “sakti” yang berisi keinginannya menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantunya. Surat dititipkan kepada santri Hadlrotusy Syaikh Sholeh yang berangkat ke tanah Haram.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Surat yang dikirimkan Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun segera sampai ke tangan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Jiwa Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun berkecamuk merasakan ketulusan sang guru. Bulir-bulir bening air mata membasahi pipi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Baginya, permintaan guru adalah sabda yang tak bisa ditolak. Kepatuhan seorang santri pada kiai adalah sebuah keniscayaan. Sebuah cela jika santri tak patuh perintah kiai selama permintaan itu bukanlah maksiat. Permintaan yang demikian mudah bagi orang biasa itu menjadi sulit bagi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Lambaran kesulitan itu salah satunya berkait dengan keinginan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk menghabiskan sisa-sisa usianya di Makkah. Sejak kembali menginjakkan kaki di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz telah “bersumpah” untuk tinggal selamanya di tanah kelahiran Rasulullah SAW. itu.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Istikhoroh pun dilakukan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah SWT. Setelah berkali-kali istikhoroh, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mendapatkan isyarat untuk tinggal di Makkah. Kemantapan yang diperoleh melalui istikhoroh itu membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz memutar otak untuk menghindari permintaan sang guru.

Tak mungkin Hadlrotusy Syaikh Mahfudz menolak keinginan sang guru tanpa alasan yang bisa diterima. Lebih menyakitkan lagi jika sampai sang guru terlukai perasaannya. Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mencari strategi terbaik agar sang guru tidak terlukai perasaannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Bersamaan dengan itu, masuklah selarik ilham untuk mengirimkan Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, sang adik, sebagai pengganti dirinya. Setelah yakin dengan keputusannya, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz segera menulis surat balasan untuk Hadlrotusy Syaikh Sholeh. Beberapa waktu berlalu, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi diminta untuk kembali ke Tremas. Terkhusus Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, ada pesan istimewa yang diamanatkan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

“Sesampai di Tremas, lekaslah engkau pergi ke Semarang. Temui kiai Sholeh. Sampaikan surat ini kepadanya. Mengabdilah kepadanya dan apa pun perintahnya, kamu harus taat dan patuh.”

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Singkat cerita, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan pun menjadi menantu Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat menggantikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.[]


* Oleh: Imam Muhtar
Read More

Taat Pada Hukum Jadi Titik Cerah Nasib Menara Masjid Al-Aqsha di Sentani


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, ustadz Saiful Islam Payage, mengatakan telah bertemu dengan sejumlah tokoh adat hingga tokoh agama guna membicarakan tuntutan dari Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura (PGGJ) yang terjadi pada pertengahan bulan lalu mengenai pembongkaran masjid Al-Aqsha di Sentani.

Kendati hasil yang disepakati belum final, ia menyebutkan ada tiga poin besar yang bisa disampaikan.

"Setelah dilakukan pertemuan, terbentuklah Tim Kecil. Ada utusan dari tokoh masyarakat, FKUB dan MUI. Dari tim kecil itu, kemarin saya sudah dapatkan, tapi masih belum final. Ada tiga poin besar yang mungkin saya bocorkan," jelas ustadz Payage di Rumah Makan Abu Nawas, Matraman, Jakarta Timur, Senin 2 April 2018, sebagaimana diberitakan oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ustadz Payage mengatakan, poin pertama yaitu menara Masjid Al-Aqsha di Sentani tidak akan diubah tingginya dan tetap pada kondisi semula. Sebab, keberadaan menara Masjid Al-Aqsha tersebut tidak melanggar hukum positif, hukum adat atau hukum agama.

Poin kedua yaitu yang terkait dengan larangan Adzan dengan keras, tidak boleh dakwah dan tidak boleh membangun masjid di instansi maupun perumahan, pihak MUI tegas menolaknya. Menurut ustadz Payage, hal itu tidak mungkin bisa dilakukan. Karena semua itu merupakan kebutuhan primer umat Islam.

"Itu sudah diterima. Artinya teman-teman Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura juga sudah terima. Karena itu jelas impossible (tidak mungkin). Saya bilang, karena itu kebutuhan primer umat Islam untuk sholat lima waktu. Tidak bisa dihindarkan," jelasnya.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk poin ketiga yaitu umat Islam mendukung penuh umat Kristiani jika ingin membangun gereja yang lebih besar dari Masjid Al-Aqsha. Dan untuk pendanaan, akan dibantu oleh Pemerintah Daerah.

"Jika masjid Al-Aqsha ini dianggap yang paling wah begitu, kenapa teman-teman gereja ini nggak membangun gereja yang lebih wah lagi. Dan kita sepakati dalam Tim Kecil itu, nanti dana itu akan didukung oleh Pemda Kabupaten Jayapura," tutur Payage.

Kendati ketiga poin itu belum final, ustadz yang pernah nyantri di Pondok Salafiyyah Syafi'iyyah Situbondo itu menegaskan bahwa umat Islam di Papua siap membantu apapun nanti yang disepakati.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya PCNU Paniai Papua

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ), Pendeta Robbi Depondoye, sebagaimana dilansir oleh viva.co.id pada Senin, 2 April 2018, mengatakan bahwa semua pihak masih menantikan tuntasnya kerja Tim Kecil yang beranggotakan enam orang itu. Sejauh ini, Tim yang dibentuk oleh Pemkab Jayapura pada 19 Maret 2018 lalu itu masih berupaya merumuskan penyelesaian masalah.

Menurut Robbi, sebenarnya pihak-pihak yang terlibat sudah sepakat untuk tidak memperuncing masalah itu. Momen perayaan Paskah yang baru saja berlalu juga senantiasa dijaga kekhidmatannya dengan tidak adanya upaya membesar-besarkan masalah itu di sana.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Selain itu, Robbi juga menyampaikan bahwa komposisi Tim Kecil yang menangani soal itu juga diyakini akan mampu meredam ego dari masing-masing pihak dan menghasilkan solusi yang menjaga perdamaian di Sentani.

"Segala bentuk egoisme ditundukkan pada hukum dan aturan yang berlaku sebagai warga negara Indonesia," ujar Robbi.[]
(Redaksi RN)
Read More

Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya


rumahnahdliyyin.com - Perjalanan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya Poros Tengah pada 1999 yang kala itu dimotori oleh mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais.

Saat itu, pasca-reformasi, masyarakat terbelah. Sebagian menghendaki agar BJ. Habibie melanjutkan posisinya sebagai Presiden. Sementara dikubu lain, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999, menghendaki Megawati Soekarno Putri yang jadi Presiden.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dalam situasi politik yang memanas, bahkan sempat pecah menjadi bentrokan fisik yang dikenal dengan Peristiwa Semanggi antara "Laskar Merah" dan "Laskar Islam" itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.

Lewat Poros Tengah itu, Pak Amien Rais menengahi. Presidennya bukan Habibie, juga bukan Megawati. Dari sinilah kemudian muncul nama Gus Dur, yang kala itu sedang sakit, sebagai sosok tokoh yang memang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kelompok Megawati maupun oleh kalangan umat Islam, untuk diusung sebagai Presiden.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Setelah disepakati bahwa Gus Dur yang akan diusung jadi Presiden, Amien Rais kemudian meminta Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang kala itu diminta oleh Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu, untuk menemaninya ke Ciganjur menemui Gus Dur.

Sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur), saat itu Cak Imin deg-degan. Kondisi Gus Dur sakit, tapi diminta menjadi Presiden.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sedang membutuhkan tokoh yang mampu jadi penengah. Amien mengatakan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan mampu menenangkan pertentangan dan pertempuran antara sesama anak bangsa yang tengah memanas dalam menentukan pemimpin kala itu.

Gus Dur, setelah Amien Rais selesai bicara, tiba-tiba ambil posisi duduk dari posisi yang sebelumnya rebahan. Gus Dur pun lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon Presiden Indonesia.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Mendengar pernyataan Gus Dur yang bersedia menjadi calon Presiden itu, Cak Imin mengaku kaget yang bercampur haru. Namun menurutnya, Amien Rais lebih kaget lagi.

"Lhoh, rencananya, kan, Gus Dur nolak jadi calon Presiden dan menyerahkan posisi calon Presiden pada saya?" bisik Amien Rais pada Cak Imin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam perjalanan pulang, jawaban Gus Dur yang tidak sesuai dengan skenario awal itu, membuat Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega yang mendukung Amien Rais menjadi calon Presiden.

Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif yang menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan menjadi Presiden yang mewakili dari berbagai kekuatan? Menjawab cecaran pertanyaan itu, Cak Imin pun menyatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai Presiden dalam kondisi yang sakit itu.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari sinilah kemudian Gus Dur sering mengutarakan sebuah anekdot yang berbunyi: "Berpolitik tidak usah pakai biaya. Saya saja jadi Presiden tanpa Tim Sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya Pak Amien Rais."[]
(Redaksi RN)


* Tulisan ini didasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagaimana dimuat di laman tempo.co, ketika ia hadir dalam forum Kongres Ulama Nusantara di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada Minggu, 1 Maret 2018.
Read More

Inilah Rais 'Aam dan Mudir Jatman Jatim Periode 2018-2023



rumahnahdliyyin.com, Pasuruan - Salah satu hal penting dalam Musyawarah Idaroh Wustho (MUSDA) ke 4 Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Jatim, 31 Maret-1 April 2018 kemarin, adalah terpilihnya Rais Syuriah dan Mudir Idaroh Wustho periode 2018-2023.

Setelah rapat tertutup yang dilakukan oleh sembilan Mursyid Thoriqoh anggota tim formatur Ahlul Halli wal-Aqdli (AHWA), akhirnya terpilihlah Pengasuh Pondok Pesantren Thariqah Sulaiman, Madiun, KH. Ngadiyin Anwar, sebagai Rais 'Aam (Ifadliyyah) Idaroh Wustho Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Jatim untuk periode 2018-2023.

Baca Juga: Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim

Sembilan anggota Tim AHWA yang melakukan pemilihan tersebut yaitu:
  1. Dr. KH. Ali Mashudi (Sekretaris Jenderal Idaroh 'Aliyah)
  2. KH. Muh. Marta’in Karim (Rais 'Aam Demisioner)
  3. KH. M. Khusnan Ali (Ex. Karasidenan Surabaya)
  4. KH. Syamsuddin (Ex. Bojonegoro)
  5. KH. Solihin Rozin (Ex. Karasidenan Malang)
  6. KH. Robet Wahyudi (Ex. Karasidenan Kediri)
  7. KH. M. Nasruddin (Ex. Karasidenan Madiun)
  8. KH. Amin Musthofa (Ex. Karasidenan Besuki)
  9. KH. Imam Mawardi (Ex. Karasidenan Madura)

Baca Juga: Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis

Sidang pleno yang dipimpin oleh Dr. KH. Mashudi, M.Ag. itu, selain memilih Rais 'Aam, juga menetapkan Mudir (Imdlaiyyah) Idaroh Wustho Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah untuk periode yang sama. Dan yang terpilih untuk mengemban amanat pada periode kali ini yaitu KH. Adam Arifin Khon.

Sekretaris Jenderal Idaroh 'Aliyah, Dr. KH. Mashudi, M.Ag., dalam sambutannya saat memberi ucapan selamat kepada para kiai yang terpilih, juga sekaligus mengingatkan bahwa tugas penting dari Rais 'Aam dan Mudir adalah memasyarakatkan Thoriqoh dan men-Thoriqoh-kan masyarakat. Selain itu, bagaimana supaya Thoriqoh tidak hanya menyentuh level usia lanjut saja, tetapi segala usia, juga merupakan tugas penting pula.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Jawa Timur, lanjut kiai Mashudi, dengan keberadaan 14 Thoriqoh yang berbeda, adalah kekuatan untuk membangun kerukunan, harmoni sekaligus teladan bagi daerah lain.[]
(Redaksi RN)
Read More

Sikap PCINU Tiongkok Terkait Pemberitaan Republika



rumahnahdliyyin.com - Bertanggal 1 April 2018, pukul 05.45 WIB, laman republika.co.id telah memberitakan tentang pelajar Indonesia di Cina yang ternyata dapat pelajaran ideologi Komunis. Berita dengan judul "Di Cina, Pelajar Indonesia Dapat Pelajaran Ideologi Komunis" itu disebutkan oleh republika.co.id dari ungkapan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sofyan Anif.

Sofyan Anif, sebagaimana yang dirilis oleh republika.co.id tersebut, mengetahui hal tersebut setelah Menteri Pendidikan Cina mengundang 10 rektor yang salah satunya dihadiri olehnya yang mewakili UMS di Cina. Dalam pertemuan tersebut, Sofyan mengatakan bahwa salah satu rektor perguruan tinggi di Cina mengungkapkan bahwa saat ini Cina sedang gencar-gencarnya menanamkan ideologi komunis kepada seluruh pelajar di Cina. Termasuk mahasiswa dari Indonesia.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Terhadap pemberitaan republika.co.id ini, ternyata mengundang reaksi dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok. Bernomor 010/PCINUT/IV/2018, PCINU Tiongkok melayangkan surat kepada Pimpinan Redaksi Harian Republika. Surat yang merupakan sikap PCINU Tiongkok ini berisi sebagai berikut:
  1. Berdasarkan pengalaman kami, Universitas di Tiongkok tidak mengajarkan ideologi Komunisme sebagaimana yang Saudara beritakan.
  2. Kami keberatan dengan judul maupun isi berita yang tidak didasari fakta, bersifat insinuatif dan provokatif.
  3. Meminta kepada Redaktur Republika untuk menarik pemberitaan itu karena dapat mengganggu kenyamanan puluhan ribu mahasiswa Indonesia yang sekarang tengah belajar di Tiongkok.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Di akhir surat, PCINU Tiongkok juga menuliskan bahwa surat ini sekaligus menjadi Hak Jawab mereka sebagai bagian dari mahasiswa muslim Indonesia di Tiongkok supaya dimuat di Harian Republika.[]




(Redaksi RN)
Read More

Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali


rumahnahdliyyin.com, Denpasar - Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma'ruf Amin, menitipkan Nahdlatul Ulama kepada Raja Bali, Cokorda Pemecutan XI, AA. Ngurah Manik Parasara.

Permintaan kiai Ma'ruf ini disampaikannya ketika Raja Pemecutan XI berpamitan hendak mendahului meninggalkan Halaqoh Kebangsaan dan Kemandirian Ekonomi Umat yang diselenggarakan oleh PWNU Bali pada Sabtu, 31 Maret 2018, di Aula Gedung NU Bali di Denpasar.

Baca Juga: KH. Ma'ruf Amin: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Bangsa

"Saya nitip NU di sini," ucap kiai Ma'ruf Amin dari atas podium.

"Tanpa diminta kiai, NU seperti saudara sendiri," spontan, Raja Pemecutan XI langsung menjawab.

Dari atas podium, kiai Amin juga berpesan, kalau NU salah, tolong diingatkan. Dan kalau NU butuh bantuan, tolong dibantu.

"Iya kiai, sesibuk apapun kalau NU yang mengadakan acara, saya sempatkan hadir," tegas Raja Pemecutan XI lagi.

Baca Juga: KH. Ma'ruf Amin: Jangan Gunakan Nama "Muslim" Untuk Sebar Hoax

Setelah itu, Raja Pemecutan pun menaiki panggung podium untuk bersalaman. Tepuk tangan dari para hadirin pun sontak bergemuruh.

Perlu diketahui, sosok Raja Pemecutan XI ini dikenal begitu dekat dengan kalangan muslim di Bali. Sering kali, ia tampil pada acara-acara umat Islam. Bahkan, ia pernah melindungi kampung Muslim tatkala terjadi sengketa lahan di Pulau Serangan, Denpasar.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Bagi Raja Bali, sikapnya yang demikian ini karena alasan historis hubungan Hindu-Islam di Bali yang sudah terjalin begitu lama. Sehingga, hubungan yang sudah harmonis ini harus tetap dipertahankan.

"Apalagi dengan NU, gak usah ditanyakan lagi sudah saya anggap saudara sendiri dan akan kami jaga," tegas Raja Bali itu, sesaat sebelum memasuki kendaraannya sebagaimana diberitakan oleh NU Online.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : nu.or.id
Read More

Rakernas CSNU


rumahnahdliyyin.com, Probolinggo - CSNU (Computer Society of Nahdlatul Ulama), yang didirikan pada bulan April 2016, merupakan asosiasi dosen dan praktisi dibidang komputer yang berafiliasi kepada NU. Target utama CSNU adalah meningkatkan akreditasi prodi-prodi bidang informatika dan komputer di lingkungan Nahdlatul Ulama. Prodi yang tadinya C diusahakan menjadi B, yang sudah B diusahakan menjadi A.

Pertanggung jawaban pengurus lama dan pemilihan pengurus baru pada Rakernas 2018 kemarin, hari Sabtu, 31 Maret 2018, di Universitas Nurul Jadid, Paiton, alhamduliLlah telah berjalan lancar. Berbagai strategi penting telah berhasil dijalankan dan alhamduliLlah sudah banyak memberikan manfaat luar biasa. Doctoral Camp, berbagai workshop peningkatan kapasitas pendidikan tinggi NU, program Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT), penerbitan jurnal ilmiah yang bernama Nusantara Journal of Computer Applications (NJCA) dan berbagai program lainnya, alhamduliLlah telah berjalan lancar.

Baca Juga: Mengenal ISNU

Semoga lebih banyak lagi prodi-prodi bidang informatika dan komputer dari berbagai Perguruan Tinggi NU di seluruh tanah air yang dapat segera bergabung dan saling berkolaborasi.

Dan selamat atas terpilihnya Dr. Hozairi, Universitas Islam Madura, Pamekasan, sebagai Ketua CSNU. Semoga sukses membawa maju pendidikan tinggi NU di bidang informatika dan komputer.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Terima kasih kepada KH. Najiburrahman Wahid, Universitas Nurul Jadid, Paiton, selaku Ketua CSNU periode 2016-2018 dan seluruh jajaran pengurus atas segala dedikasi dan perjuangannya sejak awal berdirinya CSNU. Semoga Allah SWT. senantiasa meridloi dan menerima seluruh amal ibadah kita.

Mohon do'a juga kepada Ulama dan Masyayikh NU untuk kemajuan pendidikan tinggi di lingkungan NU.[]
Read More

Santri Kediri Ikrar Menjadi Pengawas Pilkada


rumahnahdliyyin.com, Kediri - Bertempat di Hutan Kota Joyoboyo, Jalan Ahmad Yani, Kota Kediri, ditengah guyuran hujan deras, ada sekitar lima ratus santri dan santriwati mengucapkan ikrar menjadi pengawas Pilwali dan Pilgub Jatim 2018.

Pemilihan santri sebagai bagian dari pengawas proses Pilkada di Kota Kediri ini, menurut Anggota Bawaslu, Mansur, sebagaimana dilansir oleh detik.com, karena santri merupakan bagian dari masyarakat yang sangat mudah diterima oleh masyarakat dan oleh berbagai macam kalangan.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain itu, Mansur juga mengakui bahwa mengikut sertakan santri dan santriwati pondok pesantren ini merupakan salah satu cara Bawaslu untuk mengajak masyarakat menjadi agen penyampai informasi terkait aturan maupun pelanggaran.

"Iya, memang kami sengaja mengajak santri untuk ikut mengawasi jalannya pesta demokrasi Kota Kediri dan Jawa Timur. Selain mengawasi proses kampanye, nantinya para santri juga menjadi penyampai informasi terkait pilkada," kata Mansur di lokasi acara pada Minggu dini hari, 1 April 2018.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Fungsi dan tugas mereka nantinya, jelas Mansur, melaporkan kepada Bawaslu jika menemukan adanya pelanggaran kampanye ataupun menyampaikan informasi terkait peraturan kampanye Pilwali dan Pilgub.

"Fungsi dan tugas para santri nantinya adalah mengawasi serta melaporkan kepada Bawaslu jika ada pelanggaran kampanye," imbuh Mansur.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Sementara itu, Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, mengapresiasi Bawaslu dan santri yang memiliki niat baik dan berinisiatif untuk ikut ambil bagian dalam pengawasan proses Pilkada.

"Selain Bawaslu, polisi, TNI dan KPU, masyarakat juga memiliki kewajiban ikut serta menjadi pengawas dan melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan adanya pelanggaran, dalam hal ini santri," jelas Anthon.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ikrar santri menjadi pengawas Pilkada ini diakhiri dengan Deklarasi Anti-Hoax oleh para santri dan santriwati bersama dengan anggota Bawaslu Kota Kediri, Polres Kediri Kota dan Kodim 0809 Kediri.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More