Adzab


muslimpribumi.com -   
قل هو القادر على ان يبعث عليكم عذابا من فوقكم أو من تحت أرجلكم أو يلبسكم شيعا ويذيق بعضكم بأس بعض؛ انظر كيف نصرف الآيات لعلهم يفقهون
(Q. 6: 65)

"Katakanlah, Dialah yang kuasa mengirim azab kepadamu, dari atas kamu, atau dari bawah kakimu atau mengacaukan kamu dalam kelompok-kelompok fanatik dan mencicipkan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Lihatlah bagaimana Kami terus mendatangkan berbagai ayat agar mereka mengerti."

Perhatikan redaksi ayat di atas. Yang digunakan ialah kata "يبعث" yang berarti "mengirim" (meski ada juga yang tetap menerjemahkannya secara bebas dengan "menurunkan").

Menurutku, "mengirim", tidaklah sekedar menurunkan. Dalam "menurunkan" siksa, hanya menerangkan azab yang (di)turun(kan). Sementara dalam "mengirim azab", kita mendapat pengertian tentang "azab kiriman" yang boleh jadi dikirim begitu saja, atau karena "diminta" oleh yang mendapat kiriman. Dengan kata lain,  ada yang 'meminta' kiriman azab.

Dari ayat di atas, kita bisa tahu bahwa azab Allah tidak hanya berupa badai, hujan batu, sambaran petir, dan bencana-bencana dari atas kita lainnya; juga tidak hanya gempa, banjir, tanah longsor, dan musibah-musibah lain yang datang dari 'bawah kaki' kita. Tapi yang tak kalah dahsyatnya adalah kekacauan antar kelompok-kelompok di antara kita manusia, dimana masing-masing kelompok menunjukkan keganasannya kepada yang lain.

Wallahu a'lam. Semoga Allah mengampuni kita dan mengampuni para pemimpin kita.

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri, Pengasuh PP. Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang.
Read More

NU Peduli Wabah Campak dan Gizi Buruk di Asmat

Anak-anak di Agats, Asmat (Ilustrasi)
muslimpribumi.com | Asmat - Wabah campak serta gizi buruk yang mendera warga Asmat dan mengakibatkan 61 anak meninggal dunia menggerakkan PBNU untuk segera memberangkatkan relawan ke Kabupaten Asmat, Papua.

Menindaklanjuti hal tersebut, LPBI NU bersama LKNU dan NU Care-LAZISNU menggelar Rapat Koordinasi Pemberangkatan Relawan NU ke Asmat, di Gedung PBNU Lantai 2, Rabu (17/01). Pada rapat sore itu diputuskan, Relawan NU untuk Asmat akan diberangkatkan pada tanggal 25 Januari 2018.

“Kita sudah ada koordinasi dengan Kemenkes dengan Pemda Asmat. Insya Alloh tanggal duapuluh lima relawan NU diberangkatkan dari Jakarta menuju Asmat,” tutur Yayah Ruhyati, Sekretaris LPBI NU.

Yayah juga menerangkan sudah sejak bulan Januari 2018 melakukan koordinasi untuk mengolah data, dan membuat rancangan pengadaan bantuan.

Sebagaimana info dari Pemda setempat, kata Yayah, tenaga medis di Asmat sangat minim. Selain itu, kegiatan Posyandu pun kurang begitu aktif.

Wakil Bendahara Lembaga Kesehatan NU (LKNU) Makki Zamzami menjelaskan bahwa keadaan yang melanda anak-anak di Asmat disebabkan oleh malnutrisi, status gizi yang buruk, dan kurangnya protein dalam tubuh.

“Jadi, bukannya masyarakat suku Asmat itu kekurangan makan. Hanya saja, gizi pada makanan yang masuk dalam tubuh itu-itu saja. Di situ kita harus melakukan edukasi. Pencegahan gizi buruk yaitu dengan memberi minimal enam bulan ASI eksklusif pada anak. Itu sebagai nutrisi yang baik bagi anak. Kemudian untuk mencegah campak bisa dilakukan vaksin. Namun, vaksin pun harus diimbangi dengan nutrisi yang baik dalam tubuh,” papar Makki.

Sementara itu, Wakil Sekretaris NU Care-LAZISNU Nur Rohman mengatakan, anak-anak Asmat harus diselamatkan dari wabah campak dan gizi buruk. NU harus membantu semaksimal mungkin.

“Kita tahu hari ini di Papua, suku Asmat sedang mengalami musibah dari Alloh SWT. Mari bersama-sama kita membantu sekuat kita,” ajak Rohman.

Sumber: nu.or.id
Read More

Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Acara Launching Angkringan GP. Ansor Rembang di Jl. Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang.

muslimpribumi.com - Di Semarang, Solo ataupun daerah lain di Jawa Tengah, termasuk pula Jogja, angkringan sangat akbrab di mata. Di pusat keramaian maupun di pinggir-pinggir jalan, ia begitu mudah bisa didapati.

Angkringan biasanya terbuat dari kayu dan papan yang berbentuk gerobak. Dengan beratapkan terpal, jenis lapak yang menjajakan makanan dan minuman ini bisa memuat enam hingga delapan orang. Dan tak jarang pula, si empunya lapak juga menyediakan tikar bila pembeli melimpah atau pembeli menginginkan duduk lesehan.

Bisa dikatakan, angkringan merupakan salah satu tempat yang merakyat. Dari mulai para mahasiswa, karyawan, bahkan pejabat, bisa nyaman menikmati suasananya.

Untuk memberdayakan ekonomi bagi para kadernya, baru-baru ini Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Rembang, meluncurkan program angkringan di tiap kecamatan. Peluncuran yang dikemas dengan acara “ngangkring bareng" santri dan warga di sepanjang Jalan Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang, pada Sabtu sore, 13 Januari kemarin ini dilanjutkan dengan menyantap nasi, lauk dan kopi ala angkringan.

“Tiap kecamatan diberi satu unit gerobak angkringan. Lengkap dengan "uborampe" yang dibutuhkan. Ini ikhtiyar kita mewujudkan visi besar Nahdlatul Ulama dan Ansor untuk meningkatkan kemandirian dan perekonomian kader,” terang Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang M. Hanies Cholil Barro.

Selain sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian perekonomian organisasi dan kader, ternyata program ini juga bertujuan supaya masyarakat bisa menjadi lebih dekat dengan Ansor. Termasuk bisa bekerjasama dalam hal yang lainnya.

“Sebelum diluncurkan, operator per-kecamatan mengikuti pelatihan singkat pengelolaan angkringan. Pelatihan tentang pelayanan prima terhadap konsumen pun diberikan,” lanjutnya kemudian.

Selain Standar Operasional Prosedur (SOP) angkringan telah diberikan, Departemen Perekonomian Ansor di level kabupaten juga sudah memberikan pedoman tentang produk yang boleh dan dilarang dijual di angkringan tersebut.

“Untuk mengendalikan mutu dan kelanjutannya, Departemen yang membidangi akan selalu melakukan kontrol per-pekannya. Dengan upaya semacam ini, diharapkan angkringan Ansor bisa berkembang dengan pesat,” tandas pria yang akrab dipanggil dengan Gus Hanis ini.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Nadhief Shidqi, menambahkan, operator angkringan di tiap kecamatan terhubung secara online dengan Departemen Perekonomian. Setiap kasus, termasuk ide-ide inspiratif akan didiskusikan tiap harinya melalui layanan grup whatsapp. Dengan demikian, harapannya, setiap persoalan dan ide segar akan secara cepat diatasi serta SOP pun dapat dipantau penerapannya secara tepat.

Sumber: mataairradio.com
Read More

Habib Luthfi: Pentingnya Ber-NU



rumahnahdliyyin.com - Nahdlatul Ulama' mempunyai kewajiban untuk mewadahi 'aqidah ahlussunnah waljama'ah yang diajarkan oleh para ulama' yang sambung hingga ke Rasulullah SAW. Demikian diantara kurang lebih pentingnya ber-NU bagi Habib Luthfi bin Yahya.

Untuk selengkapnya silakan putar videonya.
Read More

Iman Kepada Malaikat


Iman terhadap malaikat merupakan rukun iman yang kedua setelah iman kepada Allah SWT. Maksudnya iman kepada malaikat yaitu kita wajib percaya dan yakin bahwa malaikat itu ada meskipun kita tidak bisa melihatnya.

Malaikat merupakan salah satu makhluk Allah SWT. yang diciptakan-Nya dari cahaya dan bersifat lembut atau halus (fisiknya tak bisa kita lihat). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW., “khuliqotil-malaaikatu min-nuurin,” malaikat itu diciptakan dari cahaya.

Karena tercipta dari cahaya dan bersifat lembut atau halus inilah, maka malaikat tak mampu ditangkap oleh indera penglihatan kita sebagaimana ketidakmampuan kita untuk melihat udara. Kendati demikian, ketidakmampuan ini hanyalah bila malaikat dalam bentuk wujud aslinya. Apabila malaikat mewujud fisik seperti manusia, maka manusia seperti kita tetap bisa melihatnya.

Contohnya seperti Siti Maryam ketika didatangi malaikat Jibril yang memberinya kabar perihal akan lahirnya seorang anak (Nabi Isa AS.) dari rahimnya. Ketika mendatangi Siti Maryam ini, malaikat Jibril mewujud diri sebagai manusia sebagaimana firman Allah SWT. dalam Surat Maryam, ayat 17 yang berbunyi, “fa-arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fatamatstsala lahaa baysaron sawiyyan,” kemudian Allah SWT. mengutus malaikat Jibril kepada Siti Maryam. Maka malaikat Jibril menampakkan diri kepada Siti Maryam dalam wujud manusia yang sempurna.

Ada lagi bukti lainnya mengenai terlihatnya malaikat dalam bentuk wujud manusia yang oleh manusia bisa dilihat. Yaitu ketika Nabi Muhammad SAW. diberitahu atau diajari oleh malaikat Jibril tentang Iman, Islam dan Ihsan melalui metode tanya jawab.

Waktu itu Nabi Muhammad SAW. sedang bersama para sahabatnya sehingga mereka semua melihat malaikat Jibril yang tengah mewujud dalam bentuk seorang pria. Ada sahabat yang mengatakan pria itu tampan, wangi baunya dan pakaiannya tidak tersentuh oleh debu. Sahabat lain ada yang mengatakan pria itu berkulit putih dan berambut hitam. Ada juga sahabat lain yang mengatakan bahwa tidak ada bekas atau tanda pada pria itu dari telah melakukan perjalanan jauh, padahal tidak ada orang yang mengenalinya.

Dalam kitab Jawaahirul-Kalaamiyyah Fii Iidloohil-Aqiidatil-Islaamiyyah karangan Syaikh Thohir Al-Jazairi disebutkan bahwa manusia sebenarnya juga bisa melihat wujud asli malaikat. Hanya saja, hal itu dikhususkan oleh Allah SWT. bagi para Nabi. Itupun dalam rangka untuk
menyelesaikan permasalahan—permasalahan agama dan hukum-hukum syari'at.

Nabi Muhammad SAW. sendiri pernah mengalami hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Sayyidatina Siti Aisyah RA. yang kuranglebih berbunyi, “roaa Jibriila 'alaa shuurotihi marrotaini,” Nabi Muhammad SAW. melihat malaikat Jibril dalam bentuk wujudnya yang asli sebanyak dua kali.

Selain merupakan makhluk yang terbuat dari cahaya dan juga lembut atau halus yang tidak bisa dilihat oleh manusia, malaikat itu tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak nikah, tidak beranak, tidak berbapak dan tidak beribu. Juga tidaklah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Tidak pula banci.

Orang-orang Arab Jahiliyyah jaman dahulu memiliki prasangka bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah SWT. Menjawab prasangka ini, Allah SWT. kemudian berfirman dalam Al-Quran, Surat Al-Anbiyaa', Ayat 26 yang berbunyi, “subhaanahuu, bal 'ibaadun mukromuuna, laa yasbiquunahuu bil-qouli, wahum biamrihii ya'maluuna,” Maha Suci Allah SWT., sebenarnya para malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului Allah SWT. dan mereka melaksanakan perintah Allah SWT.

Selain membantah anggapan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah SWT . (karena Allah SWT. itu tidak beranak dan tidak diperanakkan), ayat di atas juga memberikan informasi kepada kita bahwa malaikat merupakan makhluk Allah SWT. yang mulia dan tidak pernah mendahului satu perkara pun dihadapan Allah SWT. Juga malaikat itu tidak pernah membangkang kepada Allah SWT. sekaligus senantiasa melaksanakan segala perintah-perintah-Nya.

Adapun makhluk Allah SWT. yang berupa malaikat ini jumlahnya sangat banyak sekali. Pada setiap tetes air hujan saja ada malaikat yang menyertainya. Namun, hanya Allah SWT. sajalah yang mengetahui persis keseluruhan jumlah totalnya.

Dan diantara mereka ini ada yang ditugaskan oleh Allah SWT. sebagai utusan-Nya untuk para Nabi dan para Rasul, yaitu malaikat Jibril. Ada yang ditugaskan sebagai pembagi rizki, yaitu malaikat Mikail. Ada yang ditugaskan sebagai peniup sangkakala besok dihari akhir, yaitu malaikat Isrofil. Ada juga yang ditugaskan sebagai pencabut nyawa, yaitu malaikat Izroil.

Selain itu, ada lagi malaikat yang tugasnya mencatat semua perilaku, baik perilaku baik oleh malaikat Roqib maupun perilaku buruk oleh malaikat Atid. Ada pula yang ditugaskan di alam kubur untuk menanyai manusia tentang apa yang sudah diperbuatnya selama masih hidup di alam dunia sebelumnya, yaitu malaikat Munkar dan malaikat Nakir. Ada lagi yang tugasnya menjaga gerbang surga, yait u malaikat Ridlwan, dan penjaga neraka, yaitu malaikat Malik.

Inilah diantara malaikat-malaikat yang diketahui nama-nama dan tugas-tugasnya. Dan masih banyak lagi malaikat-malaikat yang lainnya dengan tugas-tugas yang berbeda. Misalnya ada malaikat muqorrobun, malaikat pembawa 'arsy dan lain sebagainya.

Akhirnya, demikianlah sekelumit pemaparan kami mengenai malaikat yang wajib kita imani. Semoga bisa dimengerti, dipahami dan bermanfaat untuk kita semua. Juga, semoga Allah SWT. memberikan tambahan ni'mat kepada kita semua berupa ni'mat bisa meneladani sifat makhluk ciptaan-Nya yang bernama malaikat ini. Yaitu sifat yang tidak pernah membangkang kepada Allah SWT. dan yang senantiasa melaksanakan dan menunaikan segala titah-titah -Nya. Amin. WaLlaahu a'lam. []

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Kurwato, Sorong, Papua Barat.
Read More

Kaleng Penguat Ekonomi Umat


muslimpribumi.com - Eksistensi NU bisa dilihat dari seberapa kuat keberadaan NU di tingkat ranting atau anak ranting. Di situlah organ NU yang secara langsung menggerakkan dan bersentuhan dengan masyarakat dalam berbagai aktivitas organisasi dan sekaligus menjaga ideologi NU.

Kualitas kepengurusan ranting NU tidak cukup dengan hanya adanya struktur kepengurusan saja. Namun, harus dilihat sejauh mana aktivitas kepengurusan tersebut mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Yaitu bagaimana antara jama'ah dan jam'iyyah saling menghidupi. Jika kegiatannya hanya sekedar tahlilan saja, maka kepengurusan tersebut bisa dikatakan kurang efektif. Tahlilan atau pengajian bisa berjalan dengan sendirinya tanpa perlu diurus oleh NU secara organisatoris.

Salah satu contoh pengelolaan Ranting NU yang sukses adalah NU Ranting Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Upaya untuk menciptakan kemandirian dimulai dari kemandirian ekonomi dengan membuat Unit Pengelolaan Zakat (UPZ) ZIS NU Pacarpeluk melalui program Pacarpeluk Bersedekah. Mereka menempatkan kaleng-kaleng ke rumah warga dan menyarankan agar setiap harinya penduduk setempat menyisihkan koin senilai 500 atau 1000 rupiah ke dalam kaleng tersebut.

Kini dalam tiap bulannya kaleng-kaleng yang berjumlah 600 buah itu berhasil mengumpulkan sekitar lima juta rupiah. Terdapat lima program utama untuk pemanfaatan dana tersebut. Pertama, santunan duka, yaitu sumbangan air minum dalam kemasan kepada warga yang sedang berduka karena kematian. Air tersebut untuk minuman saat tahlilan selama tujuh hari. Kedua, jaminan pengobatan rawat jalan dengan Kartu Pacarpeluk Sehat bagi warga yang belum memiliki Kartu Indonesia Sehat atau BPJS. Ketiga, santunan persalinan bagi keluarga kurang mampu. Keempat, jenguk keluarga sakit berupa sumbangan dana bagi keluarga yang sakit. Dan yang terakhir yaitu program peduli bencana. Dalam bencana banjir di Pacitan baru-baru ini, UPZ Pacarpeluk menyumbangkan uang senilai dua juta rupiah.

Prinsip saling menghidupi antara jama'ah dan jam'iyyah serta pengelolaan yang transparan dan akuntabel benar-benar mampu dijalankan dengan baik sehingga masyarakat merasakan bahwa dana yang mereka sumbangkan bisa dimanfaatkan oleh tetangga atau keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Satu orang tidak bisa membantu semua orang, akan tetapi semua orang bisa membantu satu orang yang benar-benar membutuhkan. Disinilah NU mampu menjalankan peran sebagai lembaga yang mampu menjembatani kedua belah pihak tersebut.

Kisah sukses pengelolaan Ranting NU Pacarpeluk ini mendorong beberapa ranting NU daerah lainnya untuk belajar. Model pengelolaan kaleng koin sedekah UPZ Pacarpeluk ini juga menjadi salah satu dari 10 pemenang terbaik kompetisi Kreatifitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Jombang 2017 atas nama ketua Ranting NU Pacarpeluk Nine Adien Maulana. Di MWC. Megaluh sendiri, dari 13 ranting NU, sudah terbentuk tujuh kepengurusan UPZ LAZISNU dengan jumlah donatur mencapai 2.200 warga.

Kesadaran akan semakin pentingnya kemandirian NU kini semakin meningkat. Pola menempatkan kaleng koin banyak diadopsi di banyak daerah. Di Ranting NU Desa Kemaduh, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, dalam setiap bulannya dana yang dikumpulkan mencapai sekitar tiga juta rupiah. Capaian angka tiga juga untuk sebuah desa dengan basis ekonomi pertanian ini sesungguhnya menggambarkan besarnya potensi penggalian dana karena saat ini semakin banyak daerah, terutama yang berbasis di perkotaan yang ekonomi berbasis sektor industri dan jasa dengan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.

Di Jawa Timur terdapat 7.724 desa dan 777 kelurahan. Mengingat Jawa Timur merupakan basis utama NU, jika 70 persen dari seluruh total desa dan kelurahan terdapat ranting yang hidup dan bergerak, maka setiap bulan akan terkumpul dana sebesar 17.8 miliar jika masing-masing ranting mampu mengumpulkan dana sekitar tiga juta per bulan. Dalam satu tahun ada 214 miliar yang bisa dikumpukan dan didistribusikan. Tentu saja, angka tersebut masih merupakan hitung-hitungan diatas kertas. Realisasi di lapangan akan sepenuhnya tergantung pada para muharrik atau penggerak di tingkat ranting.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan uang sebesar tersebut. Tak semuanya harus dihabiskan seketika. Cabang NU di masing-masing daerah bisa membuat amal usaha untuk melayani warga NU dan masyarakat umum yang membutuhkan, baik dalam pemberdayaan ekonomi, pendidikan maupun kesehatan. Jika pengumpulan dana tersebut bisa berjalan dengan konsisten dalam waktu jangka panjang, maka bisa dilakukan investasi produktif untuk melayani umat. Membuat gedung atau kantor yang memadai memang penting, tetapi jangan sampai dana-dana dari masyarakat tersebut dikeluarkan untuk hal-hal yang kurang produktif atau kurang menyentuh masyarakat.

PCNU atau MWCNU yang selama ini rantingnya belum aktif atau bahkan belum memiliki ranting NU di desa tertentu memiliki kewajiban untuk menggerakkan, mendampingi dan mengarahkan bagaimana basis NU ini bisa aktif. Karena sesungguhnya disitulah keberadaan NU secara nyata dirasakan oleh warga. Ranting NU yang sudah berhasil bisa menjadi tempat untuk belajar. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.

Sumber: nu.or.id
Read More

Ustadz Abdul Shomad Di Mata KH. M. Yusuf Chudlori

Foto Ustad Abdul Shomad
muslimpribumi.com - Ustadz Abdul Shomad atau yang kini sering disebut sebagai UAS memang orang 'alim, namun...

Itulah sekelumit pandangan KH. M. Yusuf Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, terhadap Ustadz Abdul Shomad atau UAS. Untuk mengetahui selengkapnya, silakan diputar videonya.
Read More

Empat Kata Penyempurna Iman


rumahnahdliyyin.com - Membenarkan merupakan arti iman secara bahasa. Sedangkan menurut syari’at Islam, iman berarti membenarkan semua hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dan pembenaran itu harus diyakini didalam hati, diikrarkan pada lisan dan seluruh anggota tubuh harus melaksanakannya sebagai cerminan atau bukti bahwa apa yang diyakini dalam hati dan diikrarkan di lisan itu adalah benar adanya.

Pertama dan yang utama yang harus diimani oleh seseorang yang mengaku sebagai orang yang beriman adalah mengimani Allah SWT. Baik mengimani secara terperinci dengan sifat-sifat wajib-Nya yang berjumlah 20, sifat jaiz-Nya yang hanya satu, dan sifat mustahil-Nya yang juga berjumlah 20, maupun mengimani secara global bahwa Allah SWT. adalah Maha Sempurna yang tiada banding.

Dalam kitab Kaasyifatus-Sajaa disebutkan bahwa barang siapa yang meninggalkan empat kata dalam mengimani Allah SWT., maka sempurnalah imannya. Empat kata tersebut yaitu “dimana”, “bagaimana”, “kapan” dan “berapa”. Maksudnya, apabila ditanyakan, “dimanakah Allah SWT.?” Maka, jawabannya adalah bahwa Allah SWT. itu Maha Suci dari tempat dan waktu.

Hal ini senada dengan perkataan salah seorang sahabat Rasulullah SAW. yang juga menantu beliau, yaitu sayyidina 'Ali bin Abi Tholib krw. bahwa Allah SWT. itu sudah ada sebelum ada tempat. Dan sekarang (setelah Allah SWT. menciptakan tempat) Allah SWT. juga ada sebagaimana dulu Dia berada.

Mengenai surat Thooha ayat lima yang berbunyi:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Allah SWT. Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘arsy," sayyidina 'Ali bin Abi Tholib krw. mengatakan bahwa sungguh Allah SWT. menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya. Bukan menjadikannya sebagai tempat untuk Dzat-Nya.

Lebih lanjut, bapak dari cucu kesayangan Rasulullah SAW. yang dijuluki oleh Nabi SAW. dengan pintunya ilmu ini mengatakan bahwa sungguh Allah SWT. yang menciptakan “tempat”, tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana Dia. Dan Allah SWT. yang menciptakan “bagaimana”, tidak boleh dikatakan bagaimana Dia.

Apabila ditanyakan, “bagaimanakah Allah SWT.?” Maka, jawabannya adalah bahwa Allah SWT. itu Maha Suci dari serupa terhadap sesuatu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya pada ayat ke sebelas dalam surat Asy-Syuuroo:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Allah SWT."

Selanjutnya, apabila ditanyakan, “kapan Allah SWT. itu ada?” Jawabannya yaitu bahwa Allah SWT. itu tiada yang mendahului dan tiada pula yang mengakhiri. Sebab, Allah SWT. adalah Sang Konseptor sekaligus Sang Kreator kehidupan ini. Jadi, mustahil Allah SWT. itu ada yang mendahului dan ada yang lebih akhir dari-Nya.

Dan yang terakhir, apabila ditanyakan, “berapakah Allah SWT.?” Maka jawabannya adalah bahwa sungguh Allah SWT. itu Maha Esa. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Juga tidak bergantung pada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ikhlash:

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah, hai Muhammad SAW., bahwa Dia adalah Allah SWT. Yang Maha Esa."

Demikianlah cara kita sebagai orang beriman untuk mengimani Allah SWT. sebagaimana pandangan para ‘ulama ahlus-sunnah wal-jama’ah. Dalam mengimani Allah SWT., kita tidak boleh memikirkan tentang Dzat-Nya atau Sosok-Nya. Sebab, nalar kita tidak akan mampu menangkap dan mencerna.

Andai kita sebagai manusia memikirkan dan membayangkan sosok Allah SWT. seperti sosok manusia seperti kita, misalnya Allah SWT. memiliki dua tangan dan dua kaki, maka kambing yang juga makhluk ciptaan-Nya tentu akan membayangkan sosok Allah SWT. sebagaimana sosoknya yang punya empat kaki. Sungguh Allah SWT. itu Maha Suci dari penyerupaan apa pun dan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Akhirnya, semoga apa yang disampaikan ini cukup bisa dipahami, dimengerti dan bermanfaat kepada kita semua. Dan semoga kita semua dimasukkan oleh Allah SWT. kedalam golongan orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan iman yang sesungguhnya. Amin.
waLlaahu a’lam. []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktifis Muda NU di Papua.
Read More

Gus Mus - Dzikir


KH. A. Musthofa Bisri atau Gus Mus tentang Dzikir. Silakan tonton videonya

Read More

Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa


muslimpribumi.com - Madrasah Diniyyah atau yang sering di sebut Madin merupakan lembaga pendidikan keagamaan non-fomal yang sampai saat ini keberadaanya dari masa ke masa telah terbukti memberikan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Umumnya, Madrasah Diniyyah berkembang dan tersebar di pulau Jawa mulai dari desa-desa hingga kampung-kampung di pelosok Nusantara ini. Dan kebanyakan mereka yang mendirikan punya latar belakang santri dari pondok pesantren.

Berbicara mengenai problematika Madrasah Diniyyah di forum seminar, kajian serta penelitian yang memerlukan waktu dan dana yang tidak sedikit, hasilnya akan sia-sia saja dan tidak akan menemui pokok dari akar permasalahan dan menemu solusi yang jitu jikalau sekedar dibicarakan saja tanpa melihat secara langsung dan tindakan nyata.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor utama untuk menyelenggarakan pendidikan formal maupun non-formal adalah soal finansial. Kemudian tenaga pendidik atau guru, gedung, kemudian santrinya.

Memang, Madrasah Diniyyah di Indonesia mengalami permasalahan yang kompleks dan hampir di semua daerah lain juga sama, baik itu yang ada di pulau Jawa maupun di luar Jawa. Untungnya, Madrasah Diniyyah memiliki susuatu yang melekat pada pengelola dan para gurunya yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain seperti sekolah konvensional kebanyakan, yaitu keikhlasan.

Tidak ada salahnya kalau mari kita simak potret Madrasah Diniyyah di Papua. Dan sebelum melangkah lebih jauh, paling tidak kita semua sudah tahu bahwa di Papua mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen dan Katolik. Umat Islam di Papua merupakan bagian minoritas saja. Memang ada beberapa daerah di Papua yang penduduk aslinya mayoritas muslim, misalnya di Kabupaten Fakfak. Kendati demikian, pada umumnya masyarakat di Papua yang beragama Islam adalah masyarakat pendatang mulai dari pegawai, pekerja dan pedagang yang berasal dari Jawa, Bugis, Buton, Makasar dan lain lain. Ada pula masyarakat asli Papua yang beragama Islam namun sangat tidak signifikan jumlahnya.

Perlu diketahui juga bahwa kondisi sosial-budaya masyarakat Papua sangatlah beragam. Baik budaya, agama, ras, maupun suku. Namun, kebanyakan penduduk asli Papua bisa menerima, wellcome dan baik-baik saja terhadap keberagaman. Kalaupun ada yang keberatan dan intoleransi serta bersifat fanatik bisa dibilang sangat sedikit.

Kemudian, apakah ada Madrasah Diniyyah di Papua? Dengan asumsi bahwa di tiap daerah di Papua pasti terdapat umat Islamnya, maka dipastikan ada Madrasah Diniyyah di daerah-daerah tersebut mengingat sangat pentingnya keberadaannya. Disamping itu, dari Pemerintah Daerah lewat Kemenag selalu mendukung dan mengapresiasi langkah dan kegiatan bagi umat Islam, baik itu pendidikan maupun kegiatan sosial keagamaan demi syi'ar Islam di tanah Papua.

Namun kenyataannya, eksistensi Madrasah Diniyah di lapangan sangatlah berbeda dan sangat memprihatinkan. Apabila di Jawa rata-rata masalahnya adalah disegi finansial, namun kebanyakan persoalan Madrasah Diniyyah di Papua tidak hanya soal uang an sich. Yang paling utama yaitu keberadaan seorang guru. Terutama di Madrasah-Madrasah Diniyyah yang mengajarkan Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyah.

Permasalahan ini bukan hanya terjadi di daerah saya saja (Kab. Paniai, Papua. red), namun menjadi kendala di semua Madrasah Diniyyah dan TPQ di Papua dan Papua Barat. Ada Madrasah Diniyyah namun tidak ada yang mengajar merupakan suatu hal yang sungguh ironis dalam dunia Islam. Ada juga yang ingin mendirikan Madrasah Diniyyah namun diurungkan karena tak ada yang mengajar. Lebih ironis lagi, ada Madrasah Diniyyah yang bubar lantaran bubarnya para pengajar.

"Mungkin karena problem Madrasah Diniyyah di Papua belum menjadi isu Nasional. Masih di taraf perorangan yang lokal," canda teman yang ada di kabupaten lain menanggapi perihal ini.

Selain itu, ada juga Madrasah Diniyyah yang tidak/belum memiliki tempat atau gedung yang memutuskan dengan menempuh jalan "nunut nebeng" di teras serambi Masjid.

Sebagaimana saya jelaskan di depan bahwa rata-rata yang ikut dalam membantu pendirian, para guru serta yang menghidupkan Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat adalah para santri-santri NU dari pesantren dan mempunyai jiwa militan, ikhlas nasyrul-'ilmi yang mengamalkan ajaran Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Semoga saudara-saudara yang mengajar dan mengabdi di Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat senantiaaa diberi kesehatan dan bisa Istiqomah melanjutkan ajaran dan cita cita Nahdlatul Ulama’.

Kemudian, harapan dari teman-teman yang mengabdi di Papua dan Papua Barat adalah memohon kepada PBNU atau organisasi lain yang berahaluan Ke-NU-an untuk mengirimkan dan menugaskan kader-kadernya di Papua dan Papua Barat. Dari PCNU Kab. Paniai kami siap menerima dan membuka pintu lebar-lebar menyambut kedatangannya. Serta insya Allah dari PCNU kami sanggup memberikan biaya transport, biaya hidup serta bisyaroh.

Dengan langkah seperti itu, umat Islam di Papua dan Papua Barat, khususnya PCNU di Papua dan Papua Barat, bisa mengambil pelajaran dan NU bisa berkembang dan maju disamping pengelolaan Madrasah Diniyyah dan TPQ diharapkan bisa berkembang dan para santri mempunyai pengetahuan dan pelajaran tentang Ke-NU-an serta Madrasah Diniyyah tidak kosong karena tidak ada gurunya dan Madrasah Diniyyah di Papua bisa berjalan dengan baik dan berkembang seperti di daerah Jawa dan daerah lainnya yang sudah mantab dan istimewa.

Salam.


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kab. Paniai, Prop. Papua.     
Read More